Sehun tidak bisa lama-lama di dalam swalayan itu walau ia ingin sekali menyeduh ramyun hangat. Ia tidak bisa meninggalkan gadis itu sendirian dalam keadaan mabuk. Pernah suatu ketika Sehun melakukannya, gadis itu sudah hilang dan tahu-tahu ia sudah berdiri di atas pagar pembatas jembatan sambil berteriak frustasi.
Setelah dengan cepat melakukan transaksi pembayaran ia segera berjongkok di hadapan Luhan yang entah sejak kapan bernyanyi dalam bahasa ibunya. Dibukanya sepatu hak tinggi gadis itu kemudian meringis seketika mendapati luka yang cukup parah sambil membayangkan bagaimana cara gadis itu menahannya selama berjam-jam.
Luhan, Sehun tidak akrab dengan Luhan. Tapi entah bagaimana selalu ia yang menolong Luhan ketika gadis itu mabuk. Luhan mungkin tidak tahu atau tidak akan pernah tahu karena yang dipikirannyakan hanya Wu Yifan, sahabatnya atau sepupu Sehun yang kini sudah memiliki istri. Sehun tentu tidak bodoh untuk mengetahui isi hati Luhan, ia tahu betapa Luhan menahan diri untuk hanya mencintai Yifan tapi tidak memiliki sepupunya itu.
"Ya Yifan, aku ingin mengatakan kalau aku—."
Seperti saat ini, ketika jarak mereka hanya kening bertemu kening. Ia bisa merasakan nafas bau alkohol Luhan. Sehun yakin ribuan persen, gadis ini pasti menyangka ia adalah Yifan, dari segi wajah mungkin Sehun agak mirip dengan Yifan. Tapi tentunya sisi ketampanan mereka berbeda.
"Mencintaimu."
Luhan menyatakan cintanya pada Yifan di hadapan Sehun. Sehun bisa melihat genangan air di sudut mata gadis itu ketika Luhan menciumnya. Garis bawahi, mencium Oh Sehun. Demi Tuhan entah ini dosa atau berkah untuk Sehun dicium oleh gadis manis seperti Luhan tentu sebuah kesempatan yang langka, Sehun tidak bisa membuangnya begitu saja. Ia balas menyesap lembut bibir gadis itu kemudian menautkan jari-jemari mereka.
Sehun tidak pernah berharap setelah sadar Luhan akan mengingat setiap detik yang mereka lakukan. Ia ingin Luhan tetap seperti itu, takut padanya. Karena entah sejak kapan Sehun sudah memposisikan dirinya sebagai sosok yang akan terus menjaga Luhan.
.
.
Oxytocin adalah sejenis hormon sering disebut sebagai hormon cinta. Mampu mempengaruhi efek psikologis wanita maupun pria.
Title: Oxytocin
Author: Chocoji
Main Cast: Luhan , Wu Yifan , Oh Sehun
Rated: PG 15
Length: Chaptered
(Bagian ketiga: Akhir dari segalanya?)
.
.
Waktu berlalu begitu cepat. Istri Yifan sudah hamil. Jongin juga sudah bertunangan. Baekhyun masih asik bermain-main dengan hati para lelaki. Luhan masih sibuk melajang, maksudnya ia sibuk bekerja sebagai wartawan tabloid remaja dan melupakan soal status lajangnya.
Hari ini ia tidak ada liputan apapun. Paginya ia sibuk tertidur dan sorenya ia sedikit bermain-main dengan saran Jongin untuk mengikuti kencan buta. Sebenarnya ia tak ada niatan namun kata-kata Jongin menohok kejiwaannya secara sempurna. Bagaimanapun umurnya akan terus bertambah walau sekarang ia masih berumur dua puluh tiga tahun.
Laki-laki ini kenalan Jongin di kantornya. Lalu kedai kopi sederhana ini adalah milik tunangan Jongin yang cantik. Mereka duduk berhadapan, yang satu sibuk menghidu harum kopi sedangkan yang satunya menggigit sepotong panekuk hangat dengan sirup maple.
"Siapa tadi namamu?" laki-laki berlesung pipi ini sudah Luhan nobatkan sebagai dewanya manusia-manusia pikun. Rasanya baru sedetik yang lalu ia memperkenalkan namanya (lagi) tapi laki-laki ini sudah lupa (lagi). Luhan jadi berpikir ulang bagaimana ia bisa menjadi manajer sebuah perusahaan besar dengan kemapuan memorinya ini.
"Luhan," Luhan berkata lambat-lambat berharap laki-laki itu tidak akan lupa lagi.
Luhan sudah cukup bosan walaupun wajah laki-laki ini cukup manis dan di atas rata-rata cowok korea. Maksudnya pria yang tinggal di korea dan sendirian. Karena satu hal yang Luhan tahu dia berasal dari Cina dan baru dipindah tugaskan dua tahun yang lalu. Omong-omong kebosanan Luhan itu karena laki-laki ini suka mengulang cerita-cerita menariknya mengira bahwa ia belum menceritakan bagian yang itu. Demi kesopanan Luhan tidak menyela dan membiarkan pria itu berceloteh panjang lebar sedangkan dia sudah memakan dua potong kue red velvet.
"Kurasa aku harus mengangkat ini dulu." Ketika lagu band kesayangan Luhan berbunyi cukup keras dan nama 'Wu Yifan' terpampang sebagai ID pemanggil. Ia harus berterimakasih nanti pada Yifan yang memanggilnya di saat yang tepat mungkin satu kotak macaroon berbagai rasa cukup.
"Kupikir kau tak akan meneleponku lagi." Gadis itu berdiri dekat pintu sambil sesekali melirik ke arah Yixing yang juga sibuk dengan tablet miliknya. Terdengar suara desahan berat di seberang seolah-olah telah terjadi hujan komet di sana.
"Kau bercanda. Kau satu-satunya orang tersibuk di Korea yang sudi mengangkat teleponku," suara Wu Yifan di sana terdengar lelah. Luhan bisa bayangkan kantung matanya yang sudah mencapai hidung.
Luhan tertawa menanggapinya, "Jadi kali ini apa?" seolah-olah bukan pertama kalinya Yifan menelepon dengan keadaan seperti ini. Luhan sudah tahu sahabatnya itu sedang dalam kondisi darurat dan butuh pertolongan.
"Istriku ingin melihat Santa Klaus yang datang lewat jendela."
"Lalu?" Luhan memberenggut membayangkan jalan ceritanya.
"Kau maukan melakukannya."
"Kalau aku melakukannya aku pasti sudah gila."
"Kau memang sudah gila."
"Aku benar-benar tidak akan melakukannya, aku akan mematikan sambungan!"
"Kumohon, aku harus memasak kue untuknya dan kau satu-satunya yang bisa dimintai tolong," Luhan bisa membayangkan wajah menjijikan Yifan yang tidak cocok di seberang sana. "Aku tahu kau sahabatku yang terbaik."
"Aku paling benci hal ini. Kau menjijikkan Wu Yifan," Luhan mendengus lalu segera mematikan sambungan, samar ia mendengar suara ceria Yifan. Ia menatap Yixing yang mengaduk kopi dinginnya dan menatap tak minat ke arah cangkir itu. Mungkin saja Luhan sudah membunuh waktu seseorang yang sangat sibuk seperti Yixing.
"Sesuatu terjadi?" setelah ia duduk di depan Yixing dan mengulas senyum bersalah.
Luhan memainkan jemarinya dan menatap Yixing lagi-lagi dengan tatapan bersalahnya lalu mengangguk membenarkan ucapan Yixing, "Mungkin aku harus pergi." Kemudian ia menegaskan lagi. "Sekarang."
Setelah mengucapkan beberapa kalimat maaf dan perpisahan juga sampai jumpa yang berarti mereka tidak akan pernah berjumpa lagi Luhan pergi menjauh sambil menempelkan ponselnya di telinga. Ia ingat salah satu kerabatnya memiliki satu set pakaian santa klaus. Setelah mengakhiri telepon itu, ia sadar kalau ia benar-benar gila.
Satu hal lagi yang ia sadari selain sudah menjadi gila adalah ia akan terus melajang karena Yifan tak bisa berhenti meminta tolong padanya bahkan ketika ia sudah punya seorang wanita yang bisa direpotkan.
.
.
"Ibu lihat ada Tuan Santa Klaus!"
Luhan mungkin menjadi pejalan kaki paling bodoh saat ini. Memakai kostum santa klaus lengkap di musim panas. Demi apapun ia sedang kepanasan saat ini dan sialnya ia meninggalkan dompet serta tasnya di rumah kerabatnya. Tidak mungkin juga ia kembali ke rumah Yifan lalu merusak momen romantis suami istri itu.
Setelah berperan sebagai santa klaus untuk menuntaskan rasa ngidam istri Yifan ia terpaksa pamit secara tidak terhormat pasalnya setelah rasa ngidam itu tuntas Yifan dan istrinya malah asik bermesraan dan melupakan Luhan yang kepanasan. Pada akhirnya Luhan memutuskan untuk duduk di kursi dengan payung warna-warni salah satu kedai es krim, sekedar mengistirahatkan kakinya sambil berdoa seseorang berbaik hati membelikannya satu.
"Aku pikir orang konyol mana yang memakai pakaian santa klaus di musim panas. Ternyata kau."
Luhan mendongak dan hampir marah namun tidak jadi begitu mengetahui siapa orang yang sedang berbicara dengannya ini. Oh Sehun, laki-laki albino yang Luhan takuti ini entah datangnya darimana.
"Memangnya kenapa kalau aku?" Luhan membalas dengan gugup namun berusaha tetap normal. Lalu Sehun duduk di sebelahnya dengan santai namun tetap dengan ekspresi datarnya yang sangat Luhan takuti.
"Aku jadi tak heran jika orang itu kau," Sehun berujar dengan begitu datar, nada bicaranya itu membuat bulu kuduk Luhan meremang. Jika orang lain mengatainya begitu pastilah Luhan sudah marah besar tapi kalau Oh Sehun yang mengejeknya ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali menggerutu dalam hati.
Hening beberapa saat membuat Luhan ketakutan. Sehun tak melakukan apa-apa, laki-laki itu hanya terdiam dengan wajah datarnya tampak memikirkan sesuatu. Sedangkan Luhan sedang keringatan parah, ada dua hal yang membuatnya keringatan saat ini, pertama karena ia memang kepanasan dan kedua karena Oh Sehun.
Setelah Sehun menjelaskan tentang kemunculannya tiba-tiba ini karena pendingin ruangan di kantornya yang tiba-tiba saja rusak lalu karena tidak ingin mati kepanasan di dalam ruangan ia memilih berjalan-jalan. Kemudian ia bertemu Luhan dan tidak punya pilihan lain kecuali menyapa gadis berpakaian konyol itu. Tentunya ia tidak bisa melewatkan kesempatan mengejek Luhan, sekalipun mereka tidak benar-benar dekat sehingga bisa melempar ejekan satu sama lain.
"Luhan." Luhan merinding mendengar laki-laki albino itu memanggil namanya. Gadis itu mendongak menatap kedua bola mata hazel Sehun yang redup.
"Ya, sunbaenim?" takut-takut Luhan membalasnya dengan cicitan pelan.
"Kau mau makan es krim bersama?"
"Eh?"
.
.
.
Hari itu Luhan sudah marah-marah belasan kali. Memarahi pintu karena menjepit ujung sepatunya. Memarahi mobilnya karena tidak bisa memarkir dengan benar. Memarahi komputernya karena gangguan di saat yang tidak tepat. Dan hampir saja memarahi atasannya. Bisa dipecat dia jika seperti itu. Ini semua karena tamu dari bulan yang datang.
Tapi sejak menerima tamu hanya satu orang yang tak bisa ia marahi. Siapa lagi kalau bukan Wu Yifan, sahabat satu popoknya maksudnya sejak mereka memakai popok. Ia bahkan rela jam makan siangnya yang berharga diluangkan untuk menemani istri Yifan periksa ke dokter kandungan. Yifan sedang rapat direksi dan hanya dia satu-satunya orang sibuk di Korea yang bisa dimintai tolong. Jongin dan Baekhyun memang tidak bisa diandalkan
"Maaf, Yifan sudah banyak merepotkanmu," wanita yang lebih tua ini tersenyum tipis ketika mereka sedang berada di ruang tunggu. Melihat lipatan matanya yang berbentuk bulan sabit dan tangannya mengelus perutnya yang belum begitu membesar membuat bara api kemarahan Luhan padam seketika.
"Yifan memang sudah sering seperti itu jadi aku tak masalah lagi," Luhan mengingat-ingat memori menyusahkannya menjadi sahabat satu-satunya Yifan. "Aku bahkan kagum padamu karena bisa menerima Yifan yang seperti itu."
Wanita itu terkekeh pelan, ia tahu seperti apa yang Luhan maksudkan. Yifan memang orang yang tidak bisa ditebak dan susah dikendalikan ia juga bingung mengapa mereka bisa disatukan dalam ikatan yang begitu suci ini.
"Aku malah kagum padamu kau sudah belasan tahun bersamanya tapi masih normal."
"Aku hampir gila, jika kau mau tahu."
"Tapi persahabatan kalian memang hebat. Biasanya persahabatan laki-laki dan perempuan akan berujung cinta," wanita itu mulai membicarakan hal yang paling Luhan benci. Ia merasa menjadi orang paling bodoh sedunia jika seseorang harus menyinggung masalah ini. Jika tidak mengingat mereka sedang berada di mana mungkin Luhan sudah meninggalkan wanita yang menyandang predikat sebagai istri sahabatnya ini.
"Aku mungkin lebih baik mati ketimbang harus menjalin hubungan yang lebih dengannya. Karena itu aku salut padamu," Luhan berusaha tersenyum yang ia yakini sangat aneh. Jika Luhan sedang berbicara dengan pakar mikroekspresi ia pasti langsung dinobatkan sebagai pembual yang payah.
"Begitukah, aku pikir kau takut karena persahabatan kalian akan hancur jika hubungan tidak berjalan baik."
Luhan menggeram pelan, mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih dan berusaha tertawa menanggapinya padahal jelas-jelas ia ingin memuntahkan seluruh amarahnya. Sudah banyak yang pernah menyinggung hal itu semasa SMA dan sudah banyak kali juga Luhan merasa terpuruk karena hal itu. Tapi kali ini situasinya berbeda, Luhan sudah dewasa dan kalimat itu diucapkan oleh istri dari sahabatnya, orang yang ia sukai selama bertahun-tahun.
.
.
.
Setelah selesai periksa Luhan menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang bersebrangan dengan minimarket. Wanita itu ingin membeli sesuatu katanya dan Luhan membiarkannya pergi, toh ia hanya perlu mengawasi lewat kaca mobil.
Sambil mendengarkan lagu dari grup musik kesayangannya ia tiba-tiba membelalak dan langsung membuka pintu mobilnya. Berlari sampai tubuhnya diserempet oleh pengendara motor karena tidak lihat-lihat. Ia tidak peduli pada luka di kaki dan sikunya soalnya yang ada dipikirannya hanya istrinya Yifan. Istrinya Yifan yang sedang hamil pingsan karena hampir saja tertabrak mobil sedan. Garis bawahi hampir.
Ambulans segera datang, mereka masuk berdua. Luhan terus-terusan menangis di dalam sedangkan suster melakukan perawatan pada lukanya yang cukup membuatnya berjalan terpincang-pincang. Istrinya Yifan masing terbaring dengan selang oksigen di hidungnya. Untungnya tidak ada luka-luka pada tubuh wanita itu hanya saja ia terlalu shock sehingga membuatnya pingsan.
Semua terjadi begitu cepat ketika Yifan yang disusul Jongin dan Sehun datang dengan terburu-buru ke rumah sakit. Yifan tidak bisa berhenti panik walau dokter sudah menjelaskan bahwa kandungannya selamat. Ia tidak akan bisa tenang karena istrinya belum terbangun dari pingsannya ia hampir menonjok dokter tersebut karena tidak bisa membuat istrinya terbangun. Sedangkan Luhan hanya membeku di sudut kamar, menyaksikan adegan heroik seorang calon Ayah yang panik sampai mau mati.
"Maafkan aku…" Luhan memecahkan suasana beku karena Yifan masih gelisah. Ia menggantungkan kalimatnya karena tidak tahu harus memulai darimana. Yifan menatapnya dengan sinis. Sinis, yang membuat Luhan hampir mati. Sungguh Yifan tak pernah menatapnya seperti itu bahkan ketika mereka bertengkar di beberapa waktu.
"Maaf? Kau tahu apa yang terjadi jika saja mobil itu kelepasan? Mungkin saja aku sudah menjadi duda yang paling menyedihkan!" Yifan membentak Luhan dan ini pertama kalinya."Kau hampir membuatku kehilangan istri dan anakku karena kecerobohanmu! Apa yang sudah kau lakukan sih? Bukannya aku sudah menitipkannya padamu dan mempercayaimu dan kau merusaknya."
"Yifan—ah," Jongin tampak khawatir di sudut sana.
Yifan kelepasan memarahinya padahal ia tak biasanya temperamental dan Luhan sedang dalam kondisi tak baik. Kemudian inilah yang akan terjadi.
"Apa yang sudah kulakukan? Lalu apa yang sudah kau lakukan Wu Yifan! Membiarkan istrimu pergi ke dokter kandungan tanpa suaminya? Disaat kau harus menjaganya!"
"Jangan bicara soal menjaga kau bahkan tak bisa menjaganya saat aku memintamu."
Luhan tertawa sinis lalu menatap Yifan dalam dan menuding-nuding kea rah hidung lancipnya, "Kau memang seperti itu sejak dulu. Selalu menyalahkan orang lain padahal dirimu sendirilah yang bersalah. Jika seperti ini kau tidak pantas menjadi seorang Ayah."
'PLAK'
Luhan merasakannya. Panas. Ini pertama kalinya Yifan menamparnya. Ia pikir tamparan itu sudah mengakhiri semuanya. Persahabatan yang telah ia jaga dengan mengorbankan segalanya mungkin sudah berakhir.
"Kau tidak tahu apa-apa Luhan." Saat suara dingin Yifan menusuk indra pendengarannya semua terasa final.
Menaikkan dagunya, Luhan menatap Yifan getir. Ia takut setelah kalimat ini keluar ia tak bisa lagi berada di sisi Yifan, tapi ia masih punya urat malu. Pasti tidak ada tempat lagi baginya.
"Aku memang tidak tahu apa-apa Oh Yifan. Bahkan sampai saat ini aku tidak tahu soal perasaanku sendiri."
Ketika Luhan berbalik dengan terseok dan membuka gagang pintu. Luhan tahu bahwa ia tidak bisa bertemu Yifan lagi. Semuanya akan berakhir dengan konyol. Jika saja salah satu dari mereka mau mengalah mungkin akhirnya tak seperti ini. Tapi Luhan juga sudah berpikir untuk pergi dan mencari kebahagiaannya sendiri.
TBC
Wuaah pendek banget ya T^T Duh maaf buat readers-nim sekalian ngecewain banget. Baru selesai dari padatnya aktivitas sekolah dan mengerjakan ini dengan sangat cepat. Terimakasih buat yang masih bersedia nungguin dan ngebaca ff nista ini. Masih banyak banget kekurangannya dan aku berusaha untuk memperbaiki hal itu. Karena itu aku butuh review-an kalian. ^^ Pamit undur diri dulu ya, chu~
