Yifan tidak tahu apa yang menghantui dirinya. Tapi ini pertama kalinya ia menyakiti perempuan secara fisik maupun psikis. Entahlah sesuatu dalam tubuhnya bergejolak dan memerintah tangannya seolah-olah Luhan memang pantas mendapatkannya. Kakinya lemas ketika Luhan tak lagi di dekatnya, gadis itu sudah pergi ke tempat yang Yifan tak peduli di belahan bumi mana. Setengah jiwanya masih kesal dengan perilaku teledor Luhan tapi setengahnya lagi, kalian bisa tebak sendiri.

"Kurasa semua sudah berakhir," dengan berani Sehun membuka mulut setelah menyaksikan sendiri adegan panas tersebut sedangkan Jongin melonggarkan dasinya sambil berpikir sebentar lagi Sehun akan jadi sasaran empuk Yifan.

"Semua sudah berakhir," Yifan membeo ucapan Sehun kemudian menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas sofa melirik sekilas ke arah istrinya dan memijat tulang hidungnya.

Sehun mendekatinya dan menepuk punggungnya pelan berusaha menenangkan sepupunya ini. "Karena semua sudah berakhir. Aku akan memberi tahukanmu sesuatu yang sangat rahasia."

Yifan melirik Sehun dengan penasaran, Jongin juga. "Apakah ini hanya di antara kalian berdua?"

Sehun kemudian mengangguk dan Jongin memberenggut kesal lalu pergi dari ruangan itu untuk memberikan Sehun dan Yifan waktu berbicara untuk sesuatu yang sangat rahasia itu.

.

.

Oxytocin adalah sejenis hormon sering disebut sebagai hormon cinta. Mampu mempengaruhi efek psikologis wanita maupun pria.

Title: Oxytocin

Author: Chocoji

Main Cast: Luhan , Wu Yifan , Oh Sehun

Rated: PG 15

Length: Chaptered

(Bagian keempat: Si Pemain Cadangan)

.

.

"Nak Sehun, tumben datang di jam seperti ini."

Sehun hanya membalas ucapan Bibi Kim dengan senyuman ketika ia mendapat sambutan saat pertama kali memijakan kaki ke kedai ini. Sehun terdiam cukup lama memandangi beberapa pelanggan yang sedang menikmati kudapan malam itu sedangkan Yifan mengikuti gerakan Sehun tanpa mengerti kenapa Sehun harus memberi tahukannya sebuah rahasia di tempat yang seperti ini.

"Gadis itu mungkin akan datang beberapa menit lagi, kenapa kau tidak duduk saja menunggunya?"

Perempuan paruh baya itu memang hebat, ia tahu kalau Sehun kemari mencari seorang gadis mabuk. Tapi ternyata ia belum datang. Mengikuti saran Bibi Kim, Sehun segera duduk dipojokan yang diekori oleh Yifan.

"Kau sudah sering ke tempat ini?" akhirnya Yifan buka suara juga.

Sehun memangku tangannya di dagu sambil memperhatikan sekeliling, "Memangnya kau sudah lupa dengan tempat ini?"

"Memangnya aku pernah ke sini?"

"Ya Tuhan Wu Yifan. Aku jadi tidak heran jika dulu kau pernah mendapat peringkat ke-99."

"Diamlah setidaknya peringkatku lebih tinggi dari kau."

"Waktu itu aku sedang sakit cacar jadi kau jangan besar kepala."

"Berhenti mengelak Oh Sehun dan beritahu aku tentang kedai ini."

"Ingatanmu benar-benar buruk ya, memangnya kau tidak ingat kalau kedai ini adalah kedai yang sering kau kunjungi bersama Luhan saat SMA dulu. Terkadang kalian mengajakku atau Jongin dan Baekhyun ke sini."

Yifan terdiam sesaat. Ketika Sehun menyebut nama Luhan tubuhnya mengejang hebat seolah kosakata itu memiliki tegangan listrik yang mampu menyengat jiwanya. Sepersekian detik kemudian ia merasa mengalami kilas balik luar biasa yang membuatnya semakin merasa bersalahan pada Luhan.

"Tapi dari mana kau tahu kalau Luhan dan aku sering mengunjungi kedai ini."

"Luhan sering menceritakannya."

"Luhan? Sejak kapan kalian akrab?"

"Itu tidak penting, karena aku hanya pemain cadangan dalam kisah ini," Sehun terkekeh di akhir kalimatnya sambil menegak beer dalam kalengan. Beruntung Yifan sudah terhanyut dalam dunianya sendiri sehingga ia tak begitu memperhatikan ucapan Sehun setidaknya Sehun tidak perlu repot-repot menjawab pertanyaan Yifan.

.

.

.

"Ya Tuhan Luhan! Berapa gelas lagi yang akan kau minum!" Baekhyun memekik histeris ketika melihat sahabatnya sudah teler di atas meja kafe milik Kyungsoo.

"Dia sudah meminum sepuluh gelas sambil menangis," Kyungsoo datang sambil membawakan air putih.

"Sekarang dia terlihat seperti orang yang mabuk," dengus Baekhyun sambil mengecek kondisi Luhan yang tak bisa dibilang Baik.

"Maksudmu mabuk Bubble Tea?" Kyungsoo yang khawatir ikut-ikutan mengecek kondisi Luhan tanpa menyadari kehadiran Jongin yang menahan tawa di balik punggung Kyungsoo

"Benar-benar konyol. Mana ada orang yang mabuk hanya karena meminum lima gelas Bubble Tea." Kini tawa Jongin meledak ketika melihat kondisi Luhan yang seperti habis meminum sepuluh botol soju. Mungkin Jongin sudah lupa kenapa Luhan bisa jadi seperti ini.

"Kim Jongin, berhenti menertawakan Luhan. Kau lupa dia sahabatmu." Baekhyun menatap Jongin garang tapi Jongin tak bisa berhenti tertawa jika bukan Kyungsoo yang mengingatkan mungkin ia bisa kehabisan oksigen karena terus tertawa.

"Lebih baik kau bantu Baekhyun mengangkat Luhan ke mobilnya. Aku akan membereskan kekacauan ini." Baekhyun langsung mengacungkan jempol ke hadapan Kyungsoo kemudian Jongin segera melaksanakan titah tunangannya itu.

"Untunglah kali ini dia tak pergi ke kedai untuk minum-minum. Terkadang aku heran mengapa ia selalu bisa pulang selamat setelah minum-minum sendirian," Baekhyun menghela nafas ketika melihat Luhan yang mulai dibantu diberdiri oleh Jongin.

"Mungkin ada malaikat yang menolongnya." Kyungsoo menyeletuk yang hanya dibalas Baekhyun dengan kekehan kecil.

.

.

.

"Mengapa dia tak kunjung datang." Sehun bergumam sambil dengan gugup memutar sumpitnya di atas jajangmyeon yang tinggal beberapa kali suap.

Sudah beberapa jam mereka duduk di sini dan Sehun sudah kehabisan topik untuk menahan Yifan yang tidak sabaran. Ya, Sehun memang mempunyai rencana untuk membuka perasaan Luhan pada Yifan. Ia ingin Yifan tahu betapa menderitanya Luhan selama ini demi mempertahankan persahabatan mereka yang kini dirusak oleh Yifan sendiri. Ia ingin Yifan mendengar ucapan-ucapan jujur dari Luhan yang sedang mabuk sehingga ia tahu betapa beruntungnya Yifan dicintai oleh Luhan dengan tulus.

Di antara waktu yang panjang itu. Sehun juga terus berpikir. Haruskah ia melakukan hal ini? Terkadang ia berpikir untuk mundur dan lari tapi ketika ia tahu alasan mengapa ia melakukan hal ini ia tak bisa lari lagi. Alasan yang membuatnya tak bisa berhenti untuk melangkah adalah, ia ingin melihat Luhan bahagia. Sesederhana itu.

"Jadi apa yang kau ingin bicarakan Oh Sehun? Kau tahukan aku ini seorang suami dan tidak bisa hanya membuang waktuku duduk di atas kedai ini memakan jajangmyeon?" Yifan mulai kehabisan kesabarannya dan ia mulai berdiri membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar won dari sana.

"Tidak bisakah kau menunggu sebentar lagi?"

"Maaf tapi aku harus menjaga istriku dia pasti mencariku, kau bisa memberitahuku lain kali." Setelah meletakkan beberapa ribu won di atas meja Yifan benar-benar pergi.

Sehun tidak mencegahnya. Ia hanya terdiam karena kalimat Yifan sebelumnya menyadarkannya kalau mereka bukan lagi anak SMA. Ia lupa kalau mereka sudah dewasa dan Yifan sudah memiliki seorang Istri juga calon bayi. Ia tak bisa menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini, nyaris saja ia merusak rumah tangga orang lain. Merusak sebuah keluarga kecil yang bahagia.

Lagipula ia seharusnya tidak ikut campur urusan orang lain. Luhan dan Yifan sudah dewasa mereka pasti bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara mereka sendiri. Biarlah ia cukup menonton kebahagiaan Luhan dari jauh, ia juga hanya pemain cadangan dan harus bertingkah seperti pemain cadangan yang akan turun kelapangan jika dibutuhkan.

.

.

.

Menurut Baekhyun, Luhan itu kena flu cinta. Soalnya sejak pagi sampai siang yang Luhan lakukan hanyalah tidur di atas sofa panjang berbalutkan selimut hello kitty yang sudah basah di ujung atasnya tidak lupa sambil menonton acara musik yang menampilkan boy grup idola Luhan.

"Ya Tuhan Luhan!" Suara cempreng Baekhyun memang tidak tanggung-tanggung, bisa membuat orang yang beresiko mengidap kelainan jantung langsung dibawa ke unit gawat darurat karenanya. Luhan bisa mendengar langkah cepat Baekhyun lalu ia bisa merasakan telapak tangan Baekhyun menyentuh keningnya.

"Kupikir kau hanya bercanda mengatakannya di telepon ternyata kau benar-benar terkena flu cinta," Baekhyun berdecak sebal karena harus memunguti tisu-tisu yang berserakan.

"Aku tidak terkena flu cinta ini hanya demam biasa!"

"Diamlah yang kau butuhkan saat ini hanya bubur yang dimasak dengan cinta oleh Byun Baekhyun." Baekhyun membuat suara imut dan Luhan hampir muntah dibuatnya.

"Kau menjijikkan. Omong-omong kau mau apa di dapurku?" Luhan waspada melihat Baekhyun yang menuangkan air ke dalam panci alumunium mengingat Baekhyun pernah hampir membakar flat apartementnya.

"Memasak bubur cinta, bukankah sudah kukatakan barusan?"

"Maksudmu membakar seluruh dapurku?"

"Memasak bubur cinta, Luhanku sayang."

"Maksudmu menghanguskan seluruh gedung apartement ini?"

"Diamlah aku sedang berkonsentrasi. Jangan remehkan Byun Baekhyun yang sekarang, kemarin aku sudah mengambil kursus memasak bersama Kyungsoo."

"Kalau Kyungsoo sih aku percaya. Omong-omong kau tidak siaran hari ini Reporter Byun?"

"Ti—Ya Tuhan! Lu aku lupa!" Baekhyun menepuk jidatnya lalu berlari melewati Luhan dan mengambil ponsel dari dalam tas tangannya. Mengacak rambutnya frustasi lalu mengumpat sambil menyebut nama kaptennya. Luhan menggelengkan kepalanya menanggapi perilaku ceroboh sahabatnya.

Luhan tahu setelah Baekhyun menaruh kembali ponselnya ia akan segera pergi. Benar kata Luhan, sehabis memakai sneakersnya dan mengucapkan selamat tinggal dengan sebuah pelukan hangat Baekhyun benar-benar pergi dengan tergopoh-gopoh. Kemudian setelahnya Luhan muntah-muntah di wastafel, setelah kepergian Baekhyun ia merasa semakin tidak enak badan.

"Kurasa aku harus membeli obat."

.

.

.

"Kau terlihat tidak baik Oh."

"Apakah begitu terlihat?" Sehun memijat pelipisnya sambil sesekali membaca beberapa kalimat di atas kertas dokumen yang diserahkan Jongin barusan.

Tadi pagi ia harus bangun karena mual dan baru saja ia muntah sebelum Jongin datang mengganggu sesi muntahnya. Kemudian Sehun baru ingat semalam ia minum terlalu banyak, bersyukur ia bukan tipikal orang yang kehilangan kesadaran ketika minum hanya saja ia akan mual parah di pagi hari.

"Kau minum semalam?"

Sehun tidak membalas, ia hanya fokus membaca kertas dokumen sedangkan Jongin sibuk memperhatikannya.

"Ini aneh, kau tidak biasanya minum. Kau punya masalah?"

Sehun masih diam, kali ini ia membubuhkan tanda tangan di kertas itu.

"Ingin bercerita denganku? Kalau soal wanita kurasa aku bisa memberikanmu solusi"

Sehun mengangkat wajahnya dan memandang Jongin tajam dan hal tersebut cukup membuat laki-laki berkulit tan itu bungkam.

"Kurasa tidak. Mungkin lain kali."

"Aku sudah menyetujui kerja samanya sekarang kau bisa kembali Kim."

Jongin bangkit lalu membenarkan jasnya, "Baiklah. Kurasa kau harus membeli beberapa obat atau vitamin. Kau terlihat sangat buruk."

"Kurasa begitu."

.

.

.

Hujan cukup deras ketika Sehun memutuskan untuk keluar dan membeli beberapa obat demi rasa mualnya. Lagipula ia butuh beberapa udara segar setelah seharian mengendap di dalam ruang kerja. Tapi sekarang ia menyesal soalnya sebuah pohon tumbang membuat jalanan macet dan ia terpaksa harus duduk bersabar menikmati siaran radio di dalam mobil sementara petugas memperbaiki keadaaan.

"Orang gila mana yang hujan-hujanan seperti itu." Oh Sehun yang merasa bosan mulai mengomentari pejalan kaki yang tidak memakai apapun selain setelan piyama serta jaket hitam dan sandal jepit. Ia menunduk sehingga menabrak pengguna jalan lainnya. Sudah gila, ceroboh pula.

Baru beberapa detika ia mengatai orang lain gila kini giliran Sehun yang menjadi gila. Laki-laki itu dengan cepat keluar dari mobilnya dan berlari ke arah trotoar di mana pejalan kaki gila itu berada. Kemeja mahal dan celana kainnya basah kuyup tapi Sehun sama sekali tidak peduli karena yang berputar di kepalanya hanya satu. Pejalan kaki gila yang jatuh tersungkur karena tidak lihat-lihat lalu menabrak pengguna jalan lain.

"Maaf."

"Lain kali kau harus memperhatikan sekitarmu," wanita paruh baya itu mendecak sebal soalnya tas gucci keluaran terbarunya terpaksa terkena air hujan. Tidak memperdulikan pejalan kaki gila yang masih tersungkur di tengah hujan deras, dengan langkah angkuh ia pergi meninggalkan lokasi kejadian.

"Aku minta maaf." Ia masih berdiri di tengah hujan, beberapa orang menoleh iba padanya namun sebagian besar hanya menatapnya tak peduli. Diantara seluruh tatapan itu hanya sepasang mata yang mampu melihatnya menangis dengan begitu menyedihkan.

"Aku minta maaf Yifan. Ini semua salahku."

"Bangunlah Luhan, kau terlihat begitu buruk." Sehun berjongkok di hadapan Luhan si pejalan kaki gila yang menangis di tengah trotoar. Jemari besarnya menghapus air mata yang hendak turun membasahi pipi lembabnya. Setelahnya tangan kekar laki-laki itu menarik Luhan untuk berdiri.

"Ini semua salahku, harusnya aku tidak ceroboh. Harusnya aku tidak meninggalkan istri Yifan sendirian."

"Kau tidak salah, semuanya hanya kecelakaan Luhan." Dengan hati-hati Sehun menarik punggung Luhan dan mendekap tubuh Luhan dalam pelukannya. Laki-laki itu menepuk punggung sempit Luhan berulang kali sedangkan gadis itu menangis di dada Sehun. Sehun yakin Luhan tidak tahu kalau yang dipeluk olehnya adalah Sehun.

"Badanmu panas, aku akan mengantarmu pulang." Sehun memecah keheningan ketika merasakan tubuh panas gadis itu.

Luhan melepas pelukan tersebut lalu tersenyum menggeleng, matanya mengatakan bahwa kapan saja ia bisa pingsan di tengah jalan, "Tidak usah. Aku bisa naik bus sendiri. Terimakasih tuan penolong walaupun aku tidak mengenalmu."

Sehun tersenyum kecut sembari menduga kalau Luhan itu gadis yang akan kehilangan kewarasannya jika sudah sakit atau mabuk.

"Jangan keras kepala aku akan mengantarmu pulang. Katakan dimana alamatmu." Sehun menarik tangan Luhan tapi gadis itu melepas tarikan tersebut dengan halus. Bibir putih pucat itu bergetar berusaha mengucapkan kalimat terimakasih dan sampai jumpa. Yang benar saja, gadis ini benar-benar keras kepala.

Luhan sudah berbalik dan Sehun hanya menatap punggung itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi tak sampai satu meter Luhan melangkah gadis itu sudah terperosok jatuh dan Sehun lagi-lagi menjadi orang pertama yang menolongnya.

"Berjalan satu meter saja tidak bisa sudah sok-sokan menolak ajakanku," sungut Sehun marah-marah sambil memapah Luhan berdiri. Luhan tidak sanggup membalas ucapan laki-laki tersebut, gadis itu hanya menatap Sehun sendu seolah-olah ia ingin mengucapkan sesuatu. Namun belum sempat Sehun menanyakan masalah gadis itu, Luhan sudah terlebih dahulu memberikan masalahnya pada Sehun.

'HOEEK'

"Ya Tuhan, kemejaku yang mahal habis sudah."

.

.

.

Luhan merasakan pening yang luar biasa ketika pertama kali ia membuka kelopak matanya. Cahaya lampu itu terlalu terang. Ia merasakan tubuhnya masih demam. Luhan jadi mengingat seharusnya ia membeli obat di apotek yang tak jauh dari flat apartementnya. Seharusnya ia sedang dalam perjalanan tapi kenapa sekarang ia berada di kamar.

Mungkin Luhan sudah membeli obat atau bahkan meminumnya sehingga ia menjadi tidak sadarkan diri. Tapi setelah agak sadar dan melihat-lihat interior kamar yang didominasi warna hitam dan putih Luhan sadar kalau tempat ini bukan kamarnya. Kasur yang ia tiduri juga bukan kasurnya, kasurnya tidak sebesar ini. Yang lebih penting adalah piyama yang sedang ia kenakan bukan piyama miliknya, piyama ini terlalu besar dan longgar di tubuhnya sehingga Luhan bisa merasakan pundaknya sedikit terbuka.

"Ya Tuhan, jangan-jangan aku sedang diculik."

Otak Luhan mulai memproses yang tidak-tidak. Tapi siapa yang tidak panik jika berada dalam posisi Luhan, terbangun di sebuah kamar misterius.

"Aku harus segera kabur sebelum sang penjahat datang." Luhan mulai membayangkan sebuh adegan film dimana sang penjahat sedang pergi entah kemana dan meninggalkan tahanannya sendiri. Dengan bergegas Luhan menyingkap selimut yang membungkus tubuh mungilnya dan terburu-buru berlari menuju pintu kayu di ujung kamar.

'BRUUK'

"Ya Tuhan jangan-jangan ini jebakan dari sang penculik."

Luhan itu terlalu berlebihan kalau sedang panik buktinya jatuh karena tersandung lipatan karpet bulu saja ia sebut jebakan padahal itu semua karena kecerobohannya sendiri yang tidak lihat-lihat. Memang sih keadaan Luhan yang tidak sehat membuat rasa sakitnya seratus kali lebih sakit dari biasanya sehingga ia sampai tidak sanggup berdiri. Luhan menganggap kakinya mengalami patah tulang.

"Tolong! Tolong aku!"

"Siapapun di luar sana. Tolong aku!"

Mata Luhan yang berkaca-kaca dan suasana hatinya yang sedang kaca balau ditambah dengan panik karena ditempatkan di sebuah kondisi yang rumit membuat Luhan tanpa sadar meneriakkan kalimat minta tolong yang menyayat hati. Bibir putih pucat itu bergetar meneriakkan kalimat minta tolong berharap ada superhero yang mendobrak pintu kayu tersebut lalu menggendongnya keluar.

'BRAAK'

Itu memang suara dobrakan pintu tapi bukan dari pintu yang Luhan inginkan. Refleks Luhan langsung menoleh ke arah sumber bunyi dari pintu lain di kamar tersebut dan langsung menemukan sosok Oh Sehun yang berdiri tegap dengan rambut hitamnya yang basah, tetesan air dari rambutnya berjatuhan membasahi pundak tegap serta dada bidangnya yang telanjang. Wajah Luhan langsung memerah parah soalnya Sehun yang berdiri di hadapannya hanya memakai handuk kecil di pinggangnya.

"Sesuatu terjadi Luhan?"

Suara berat Sehun tidak membantu sama sekali, suara itu semakin membentuk fantasi-fantasi Luhan tentang Oh Sehun menjadi liar. Ya Tuhan Luhan, kembali kekesadaranmu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" dengan gugup Luhan berusaha mengucapkan kalimat itu tapi hanya bisa menghasilkan cicitan kecil. Luhan bahkan tak yakin jika Sehun mendengarnya.

"Ini apartementku," jawabnya enteng kemudian bergerak satu langkah menuju tempat Luhan tersungkur.

Bola mata Luhan sukses membola, otaknya memproses sejenak kemudian belahan bibirnya mengeluarkan sebuah kalimat yang membuat Oh Sehun kebingungan parah. "Jadi kau yang menculikku ya?"

Luhan tidak tahu darimana keberanian itu berasal tapi Luhan jelas menyelasi perbuatannya yang membuat Oh Sehun setengah telanjang itu mendekat ke arahnya. Luhan kan takut setengah mati pada Sehun.

"Beginikah balasanmu pada orang yang menolongmu?"

"Menolongku? Kau menolongku dari apa?"

"Kau pingsan di tengah jalan dan kebetulan saja aku melintas di sana."

Kemudian Luhan terdiam sekelebat memori berputar di kepalanya seperti potongan-potongan filem yang rusak. Ia bisa mengingat ketika ia terjatuh karena menabrak perempuan paruh baya yang marah-marah karena tas guccinya kemudian ia menangis di bawah hujan sambil memanggil nama Yifan. Tapi ia tak yakin kalau seseorang yang menghampirinya itu adalah Oh Sehun, laki-laki berwajah dingin itu karena yang berputar di kepalanya saat itu adalah Yifan dan hanya Yifan.

"Kau seharusnya tidak melakukan semua ini."

"Kenapa?"

"Kita tidak saling mengenal Oh Sehun."

Sehun menautkan alisnya, di satu sisi hatinya terluka parah entah mengapa. Seolah-olah kalimat Luhan barusan berubah menjadi pisau dapur yang baru diasah kemudian mencincang habis hatinya. "Aku mengenalmu. Kau sahabat sepupuku."

Luhan terdiam beberapa saat, ia tidak menemukan balasan yang bisa menolak fakta tersebut. Kemudian Luhan membungkuk hormat dihadapan Sehun. "Aku ingin pulang. Terimakasih sudah merawatku."

"Kau tidak bisa pulang. Di luar sedang hujan badai dan dilihat dari kondisimu saat ini mungkin kau tidak bisa selamat." Sehun berjalan mendekati Luhan dan Luhan berjalan menjauhi Sehun.

"Tidak bisa, tetanggamu akan membicarakan yang tidak-tidak jika mengetahui aku lebih lama tinggal." Keadaan semakin gawat ketika punggung Luhan sudah menabrak tembok sedangkan Sehun tinggal selangkah lagi untuk menghapus jarak di antara mereka.

Sehun sudah memenjarakan Luhan, diantara tangan-tangan kekarnya di sana Luhan berdiri ketakutan menghimpit tembok dan dihadapkan oleh dada telanjang Sehun. Harum shampoo dan sabun Sehun yang menguar membuat Luhan mabuk sesaat.

"Mereka tidak akan tahu jika kau tidak memberitahukannya," Sehun berbisik tepat di daun telinga Luhan membuat sang empunya bergidik geli ketika ujung hidung Sehun bergesekan dengan telinganya.

"Aku juga tidak keberatan jika kau mau menginap untuk satu malam." Sambung Sehun kemudian yang dihadiahi gelengan cepat oleh Luhan.

"Terimakasih atas tawarannya tapi aku harus segera pulang. Ini tidak benar, kita bahkan tidak begitu dekat untuk saling berbagi atap." Luhan melepaskan diri dari kungkungan Sehun dan berusaha meraih gagang pintu untuk segera keluar namun gerakan itu tak begitu cepat untuk menghindar dari gerakan Sehun yang menarik tangannya sehingga membuat Luhan menabrak dada bidang Sehun dengan cukup keras.

Sehun merundukkan pandangannya dan menatap tajam Luhan yang menundukkan wajahnya. "Luhan, mengapa kau selalu menghindariku seolah-olah aku ini monster yang menyeramkan."

Kemudian laki-laki itu menarik dagu Luhan sehingga ia dapat melihat ke dalam mata rusa milik Luhan yang begitu ketakutan menatapnya. Tapi Sehun terlalu terhanyut ke dalam mata yang jernih itu sehingga tanpa sadar ia mengucapkan kalimat yang ia sendiri tak ingin mendengarnya.

"Tidak bisakah kau menatapku sekali saja? Hanya aku Luhan."

"Oh Sehun?"

(TBC ya ^_^v)

Yoyoyo halo readers-nim yang tercinta, huhu maafkan diriku ini karena lama banget updatenya karena satu dan dua hal yang tidak bisa dihindari terus aku minta maaf kalau chapter ini mungkin rada gaje T^T aku berusaha keras buat ngetiknya. Terimakasih banyaaaakkkkkkk buat semua yang udah nungguin,yang udah ngereview, follow serta likenya terimakasih banyakk banget muaach dan maafkan aku sampai sekarang belum bisa ngebales satu persatu tapi aku udah baca kok semuanya dan pengen banget ngebalesnya tapi belum ada kesempatan *soksibukbanget* T^T. Terakhir aku minta reviewnya boleh ya boleh ^^ hehe kritik dan saran sangat aku terima dengan tangan terbuka, jadi aku makin semangat buat update chapter selanjutnya dan aku usahain untuk update dengan cepat huhuhu. Hoho kayaknya aku kebanyakan ngomong, byebye see you in next chapter ^^

Salam hangat,

Chocoji 3