Halo semua, aku kembali nih
Sesuai janji aku, OC nya akan muncul banyak di chapter ini
Hope you like it!
Boboiboy ⓒ Animonsta Studio
DEAR VIOLIN ⓒ Hanako Frost
Aku melamun di dalam kamar. Memandang kosong jendela yang ada di kamarku, menampilkan suasana malam yang kelam. Sebenarnya, aku juga sedang ada konser hari ini, namun aku menolaknya mentah-mentah. Biar saja mereka membenciku, aku sama sekali tidak peduli.
Aku mulai menulis di halaman kedua diary pemberian Yaya. Menggoreskan sedikit demi sedikit tinta penaku
Dear Diary, ini pertama kalinya aku menuliskan curahan hatiku padamu. Kenapa Yaya pergi secepat itu? Kenapa? Aku menyesal tidak mengajaknya bicara lebih banyak di kafe waktu itu. Rupanya itu adalah pertemuan terakhir kita. Yaya, aku menyesal, kau bilang kau akan mengatakan sesuatu padaku. Namun, aku belum sempat mendengarnya. Yaya, kumohon kembalilah
Ying and violin
Aku tertidur setelah menulis curhat pertamaku di diary pemberian Yaya
"Hei, kenapa aku bisa ada disini? dan, kenapa aku sendirian? Kemana semua orang?"Tanyaku pada diriku sendiri. Tempat ini, tempat terakhirku bertemu Yaya, tempat terakhirku berbicara dengan Yaya. Aku meneteskan kembali air mataku, entah mengapa bila aku mendengar nama Yaya atau sesuatu yang identik dengan Yaya, aku jadi bersedih.
Perlahan, aku meihat sesosok gadis berpakaian serba putih. Dia menuju kearahku, ya, kearahku. Dia semakin mendekat. Sosok itu berkerudung, mengingatkanku kembali pada Yaya. Aku menundukkan kepalaku.
"Jangan menangis, Ying"Ucapnya lembut sambil mengusap air mataku
"Apa... "Lirihku, aku mengangkat kepalaku dan melihat dengan jelas sosok gadis itu "Yaya?"
"Jangan menangis, pikirkan masa depanmu, kesuksesanmu. Jangan seperti ini lagi, oke?"Yaya tersenyum menatapku lembut
"Baiklah."Aku mencoba untuk tersenyum, memeluk Yaya yang ada di depanku. Dia membalas pelukanku "Boleh, aku ikut denganmu?"
"Jangan, masa depanmu Ying, aku masih ingin meihat tahapan kesuksesanmu."Tolaknya lembut
Aku mendengar ucapan-ucapannya yang lembut, seolah tidak ada beban. Aku kembali tersenyum
"Berjanjilah Ying, jangan bersedih atas kepergianku, tersenyumlah."Ucap Yaya
"Ya, aku berjanji"Kataku
"Satu lagi, percayalah bahwa kau akan sukses nanti. Aku yakin"
"Ya, aku percaya padamu Yaya, sahabat sejatiku"
"Ingat, jangan menangis."
"Ya"
"Baiklah, aku harus pergi"
"Ti-tidak! jangan pergi! Yaya... hiks.. "
"Aku harus pergi Ying, jangan menangis!"
"Tapi... hiks... Boleh aku ikut?"
"Jangan! Kesuksesan sudah di depan mata! Kau hanya tinggal meraihnya, jangan menyerah begitu saja! Kau tidak boleh ikut aku"
"Aku ingin ikut Yaya... hiks..."
Dia memelukku. Sambil terus berkata 'jangan menangis' Dia menolakku untuk ikut dengannya. Demi masa depanku
"Sahabat sejatiku. Sehidup sematiku, sekali lagi berjanjilah, jangan bersedih atas kepergianku. Aku harus pergi, aku haus kembali."
Aku memejamkan mataku. Perlahan, tubuh Yaya mulai transparan dan akhirnya menghilang. Aku membuka mataku dan mendapati diriku ada di kamar pribadiku.
"Hanya mimpi rupanya..."Aku kembali bersedih mengingat mimpi tadi, dimana diriku sedang bersama Yaya
Berjanjilah Ying, jangan bersedih atas kepergianku, tersenyumlah. Aku teringat perkataan Yaya di mimpiku tadi
"Yaya, aku tak bisa tidak melakukannya, aku akan berusaha walau sangat berat rasanya."
Aku berusaha tersenyum, menerima kenyataan bahwa Yaya telah tiada. Aku melangkah menuju kamar mandi untuk menyegarkan badan.
Aku melepas kuncir yang mengikat twintail rambutku, dan mengepangnya menjadi satu dibelakang. Kupakai baju milikku yang kembar dengan Yaya. Baju milikku berwarna kuning, sedangkan Yaya berwarna merah muda. Tak lupa bando biru ku.
"Ying, boleh aku masuk?"
Aku membuka pintu kamar dengan senyuman yang mengembang di bibirku.
"Ada apa kak?"Tanyaku
"Itu, kamu dicari seseorang"Katanya. Aku bingung, siapa yang masih mencariku sedangkan aku menolak semua konser kemarin.
Aku turun dan melihat Alexa duduk di teras rumahku.
"Hei Alexa, ada apa?"Tanyaku
"Umm... Aku minta maaf udah gosipin Yaya waktu itu"Ucap Alexa
"Oh, iya."Balasku
"Mau ke taman?"Ajaknya
"Boleh!"Sahutku bersemangat.
Hari-hari liburku kini kujalani bersama Alexa. Gadis itu mampu menghilangkan semua kesedihanku atas kepergian Yaya.
Dia gadis yang baik pikirku. Aku mengambil diary pemberian Yaya dan pena di meja belajarku. Kurangkai kata-kata didalamnya
Dear diary, Aku mulai akrab dengan Alexa, kurasa dia gadis yang baik seperti Yaya. Kau tahu? berkatnya, aku perlahan sudah bisa mengikhlaskan kepergian Yaya. Aku perlahan mulai melupakannya. Oh iya, kemarin aku dan Alexa resmi bersahabat. Dan kurasa, dia bisa menggantikan posisi Yaya. Tapi, aku juga merasa ada keganjalan diantara kami. Entah apa itu.
Ying and violin
Tok tok tok tok tok
Aku beranjak dari kamarku dan bergegas membukakan pintu ruang tamu. Sudah, kuduga, pasti Alexa.
Dan benar saja, Alexa yang mengetuk pintu rumahku. Dia berjanji akan membawaku ke taman
"Sebentar ya, aku ganti baju dulu."
"Iya, jangan lama-lama ya!"
Aku menaiki tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua, aku berganti baju dan segera kembali menemui Alexa.
"Mau ke taman mana sih?"Tanyaku
"Yang pasti keluar dari pemukiman sini."Jawab Alexa
"Baiklah, oh tunggu dulu, ponselku ketinggalan"Aku berlari untuk mengambil ponselku, agar aku bisa tahu jika ada yang memintaku untuk konser dadakan. Sekaligus aku meminta izin kakakku dulu
"Kak, aku pergi sama Alexa dulu ya!"Pamitku
"Kemana?"Tanyanya
"Ke taman, tapi katanya di luar pemukiman"Kataku
"Ya, tapi jangan lama-lama"
"Kenapa? kakak khawatir ya~"Godaku
"Tentu saja, kau sudah terkenal sekarang"Jawabnya datar. Tapi aku bisa merasakan kekhawatiran dari kakakku
"Baiklah, aku pergi sekarang, nanti kalau ada konser hubungi aku ya!"
Aku kembali keluar dan menaiki mobil yang dikemudikan oleh Alexa.
Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah taman yang luas. Aku langsung menduduki salah satu kursi taman yang disediakan disana diikuti dengan Alexa.
"Ying, kau sudah makan?"Tanya Alexa. Aku menggeleng
"Ini"Alexa menyodorkan sebuah kotak yang berisi beberapa roti.
"Eh, terima kasih"
"Sama-sama"
Aku mengambil sebuah roti dan memakannya, penasaran dengan rasanya "Enak, kau buat sendiri?"
"Iya"Kulihat Alexa tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. Entah apa yang ada di pikirannya
Beberapa saat kemudian, aku merasa sangat mengantuk. Padahal menurutku, aku sudah cukup tidur tadi malam.
"Alexa, ayo pulang. Aku mengantuk nih"Ajakku
"Oke"
Aku memasuki mobil Alexa. Mataku rasanya sangat berat, aku pun tertidur di dalam mobil
~:":~
Perlahan, aku membuka mataku, sekelilingku sangat gelap, aku hanya melihat cahaya masuk melalui sela-sela bangunan
"Dimana aku?"Gumamku
Aku mencoba untuk berdiri, namun kaki dan tanganku terikat. Ponselku juga ada didekat kakiku, namun aku tidak bisa mengambilnya. Aku mencoba melepas tali tanganku terlebih dahulu. Namun, tali itu terlalu kuat, aku tidak bisa melepaskannya, aku terus mencoba, namun tali itu tak kunjung lepas
Sreekk
"Hah?"Aku ketakutan, ada seseorang mendekatiku
"S-siapa itu?!"
Orang itu semakin mendekat, kini aku dapat melihat dengan jelas tampangnya
"A-alexa?"
"Kau sudah bangun rupanya. Bagus, ini kesempatan emasku!"
"A-alexa, t-tolong lepaskan t-tali i-ni!"
"A-alexa a-apa yang kau laku—Aaahh..."Rintihku kesakitan, Alexa malah mengeratkan talinya.
"Aku... Akan MEMBUNUHMU!"
"H-hah, ke-kenapa? ja-jangan!"
"Karena... KAU TELAH MEREBUT KEBAHAGIAANKU! KAU TAHU ITU?!"Suara Alexa semakin meninggi "Dan... Agar kau bisa menyusul Yaya secepatnya, lalu aku akan mendapat kebahagiaanku lagi"
"Jika kau tidak mau, aku akan membunuh seluruh keluargamu!"Ancam Alexa
Tes
Air mataku menetes sedikit demi sedikit
"Aku bersedia, BUNUH SAJA AKU!"Aku tahu ini keputusan yang bodoh. Tapi aku sangat ingin, agar dia lega. Dan aku bisa mendapat kebahagiaanku di lain dunia nanti
Alexa mundur menjauhiku, dia mengambil pisau yang benar-benar tajam dan mengkilat. Perlahan dia mendekat, langkahnya melambat
Aku menangis sekarang, memperhatikan pisau yang dibawa Alexa
"Kau tahu Ying, akhir-akhir ini aku jarang, bahkan tidak pernah lagi diundang untuk konser. Karena sudah ada dirimu! Aku ingin menjadi sahabatmu, agar aku lebih mudah membunuhmu!"
Alexa menyeringai, menatapku tajam. Banyak kilatan amarah dalam dirinya. Rambutnya yang ia ikat ekor kuda ia urai, dirinya yang selama ini lembut dimataku kini menjadi keras, kasar. "Dan aku, iri padamu!"
"Silahkan, kau boleh membunuhku! Kau boleh, Alexa, silahkan kau bunuh aku. Kau boleh apakan saja aku. Asalkan jangan bunuh keluargaku, aku menyayanginya"Aku mengusap air mataku
"Bunuhlah aku! agar kau bisa mendapatkan kembali kebahagiaanmu. Agar kau bebas tanpaku lagi! Cepat Alexa, agar aku bisa bertemu Yaya! Aku merindukannya sebagai sahabat sejatiku!"
Alexa menunduk begitu pula aku
"Hiks... Tunggu apa lagi, cepat Alexa! Sebelum ada yang tahu! cepat!"
Alexa mengangkat kepalanya, ia kembali menyeringai
"Kau tahu siapa pembunuh Yaya?"Tanyanya
Aku menggeleng
"Akulah pembunuhnya! dan aku juga akan membunuhmu! Sekarang!"Alexa mempercepat langkahnya. Aku menutup mataku
"Selamat tinggal ayah, ibu, kak Fang. Selamat tinggal dunia ... Aku datang, Yaya aku akan bertemu denganmu ... hiks"Ucapan terakhirku. Sekarang aku hanya tinggal menunggu pisau Alexa menancap di dadaku, tapi—
BRAAAAAKKKK
Aku membuka mataku, Kulihat kak Fang dan dua orang polisi mendobrak pintu tempatku dan Alexa berdiri. Dua orang polisi tersebut segera memborgol kedua tangan Alexa dan menyita pisau yang dibawa Alexa. Sementara kak Fang melepas tali yang mengikatku. Setelah terlepas, aku menangis sejadi-jadinya, aku bersyukur telah selamat. Dan aku juga tidak memikirkan Alexa yang dibawa oleh kedua polisi ke mobil polisi.
Aku merebahkan diriku di kasur kuningku, memandang langit-langit kamarku sendu. Aku masih trauma atas kejadian tadi. Aku bangkit untuk mencurahkan isi hatiku tentang kejadian tadi di diary pemberian Yaya
Dear diary, aku baru sadar, tidak semua orang sebaik Yaya. Aku baru saja kehilangan Yaya, dan sekarang aku hampir dibunuh sahabat baruku, Alexa. Aku baru sadar, dia bukanlah gadis yang baik. Dia yang telah membunuh Yaya. Dia iri denganku, sekarang, aku berjanji tidak akan salah memilih teman. Aku akan menganggapmu sebagai Yaya, diary
Ying and violin
Setelah menulis diary, aku turun untuk makan bersama kakakku. Dia juga bisa memasak, karena semenjak ibu dan ayah dinas ke luar kota, sebelumnya ibu sempat membuat daftar menu dan resep masakan. Sebenarnya, hari ini giliranku memasak, namun, mungkin kakakku tahu jika aku masih syok.
"Kak, ternyata Alexa yang membunuh Yaya"Kataku di sela-sela makan
"Sudah, jangan diungkit-ungkit lagi, biarkan polisi yang mengurusinya"Kata kak Fang
Setelah kejadian itu, hidupku menjadi normal dan aku mulai rajin menulis diary
~(-THE END-)~
Gaje ya, maaf.
Aku lagi kehabisan stok inspirasi (?) nih, aku juga sulit bikin kata-kata yang pas gitu. (curhat?jangandisini/Nggak, akungetik :P)
Udah, mohon di review ya
