Hai Readers...
Setahun tidak jumpa ya...! [Dilempar..]
Gomen [#take a bow] author fokus karena kemarin kelas 9 SMP, jadinya sibuk.
Tapi sekarang musim libur/? makanya author update. Maka dari itu author menyempatkan diri melanjutkan
Fic yang tertinggal ini.
Happy Reading ^^
.
.
.
Chapter 4 (sebelumya)
"Meski nyawanya dalam bahaya, tidak mungkin dia sendirian yang ikut bukan, pikirkan juga itu"kata pria yang satunya lagi yang berambut kuning.
"Aku setuju denganmu, bagaimana bila kita menyuruhnya mengajak temannya yang berpotensi dan dapat di andalkan?"setuju pria yang berambut orange sepundak
"Semua usul kalian benar, tapi semua keputusan kita kembalikan ke master lagi. Jadi bagaimana master?"ucap seorang wanita yang berkacamata
"Bailklah demi keselamatannya dan kebaikan sekolah, besok kalian persiapkan diri kalian karena besok kita akan mengajaknya dan menyuruhnya juga mengajak temannya. Jadi aku harap kalian tidak memasang wajah garang kalian dan mau mengajari mereka dengan baik"perintah seorang kakek pendek yang dipanggil sebagai master
"Hai... kami akan siap"sahut semuanya
Disclaimer : Hiro Mashima sensei
Story : by Author (Chavyn/ Haru.C.23)
[(OOC, Typo bersebaran)]
The Secret and The Promise
Chapter 5
Lucy POV
Di jalan yg teduh dan dipenuhi semilir angin akhir musim semi. Benar, sebentar lagi akan menjadi musim gugur. Namun aku harus terus menyembunyikan identitasku yang asli, ini semua demi Natsu. Aku juga tahu, cepat atau lambat Natsu pasti mengetahui diriku yang sebenarnya.
Aku menatapnya yang terlihat tenang sambil menikmati angin yang menyapu wajahnya dengan lembut. Jujur, aku bahkan iri dengan angin yang dapat menyentuh wajahnya. Tapi akau juga harus sadar dan tak bokeh memaksakan egoku sendiri.
"Hoi Luce!" dia memanggilku namun tak menoleh kepadaku. Dapat terlihat semburat merah tipis secara samar-samar dari wajahnya "tak perlu melihatku sampai begitu, rasanya aneh."
Oh ternyata dia masih sama seperti dulu. Masih suka bebas, sok jagoan namun kalau kalian mengenalnya lebih dekat, sebenarnya Natsu ini pemalu.
"Ah.. Gomen, aku tidak bermaksud." aku meminta maaf padanya.
"Hn? Lupakan.." ia terus berjalan sehingga aku berada sedikit dibelakanganya. Itu pasti karena ia tak ingin terlihat pemalu.
Kami terus berjalan menyusuri lorong-lorong. Dan sampailah di rumahku. "Natsu, ini rumahku."
Natsu berhenti tiba-tiba dan aku menabrak punggungnya. 'Dasar Natsu..' batinku.
"Gomen.." Natsu berbalik dan menghadapku. "Kau tidak apa-apa Luce?" tanyanya. 'Tentu saja sakit bodoh..'
"Tak apa-apa." mata kami menatap objek yang sama dimana seorang pemuda tengah sibuk memencet tombol bel rumah namun tak seorang pun keluar dari rumah. Seorang pemuda yang cukup tampan. Matanya bila dilihat secara jelas berwarna lavender dan tak memiliki pupil. Bajunya berwarna putih, rambutnya yang panjang dikuncit rendah menampakkan kharismanya.
"Sudah sore, sana masuk." Natsu berdiri di depanku dan membuyarkan pandanganku pada pemuda itu.
"Huh? Ya sudah, hati-hati di jalan Natsu..,"
"Aku tak akan pulang sebelum kau masuk." Natsu memotong perkataanku.
"Baiklah, aku masuk. Jaa Natsu." aku berjalan masuk dan melihat natsu pergi melalui jendela.
Jujur, aku merindukanmu Natsu. Merindukanmu yang selalalu ceria, sedikit bodoh, selalu mengkhaeatirkanku, dan selalu melindungku. Aku ingin waktu berputar kembali dan mengembalikan semua yang dulu pernah aku miliki.
Lucy POV end
.
.
.
.
Natsu POV
'Apa yang kau lakukan Natsu, apa kau ini bodoh? Kau bukan siapa-siapanya Luce dan kau merasa cemburu dia melihat orang lain? Kau sungguh bodoh Natsu' aku terus menyalahkan dirku sendiri.
Aku memandangi langit yang jingga dan tenang. 'Aku merindukanmu Natsu'. Aku terkejut, siapa yang mengatakan itu. Tidak ada seoarang pun disini dan suara tadi mirip seperti suara Luce sahabatku.
"Aku juga nerindukanmu Luce, sangat merindukan." gumamku kecil.
Aku berjalan lurus menuju rumahku yang tidak terlalu jauh dengan rumah Luce. Tiba-tiba dua buah mobil cellica hitam melintas cepat didepanku dan berhenti di sebuah rumah. Tunggu... Itu adalah rumah Luce. Dengan cepat aku menuju rumah Luce dan mengendap-endap masuk dari halaman belakangnya.
Tampak dua orang keluar dari dalam mobil. Yang satunya berambut kuning, berkacamata, berjaket hijau dan memakai celana hitam panjang. Dan yang satunya lagi memakai baju serba hitam dan berkepala botak. Benar-benar mencurigakan. Si rambut kuning tampak menelepon seseorang lalu memberikan kode untuk semua rombongannya keluar dari mobil. Semuanya memakai baju serba hitam dan berkepala botak serta salah satu dari mereka memakai kacamata. Orang yang memakai kacamata membawa tali ditangannya.
Melihat semua itu, aku langsung masuk ke rumah Luce mengendap-endap agar tidak terlihat oleh gerombolan orang itu.
"Luce...Luce.." aku mencarinya ke seluruh ruangan.
"Natsu! Apa yang kau lakukan di rumahku." ia tampak kaget. Sepertinya ia baru saja berganti pakaian. Ia memakai kaus putih dengan kardigan cokelat serta rok pink selutut.
"Kemarilah." aku menariknya mendekati jendela yang bertirai dan membukanya sedikit sehingga memberi celah untuk kami melihat keluar. "Kau mengenal mereka?" tunjukku kepada gerombolan aneh di luar.
Luce menggeleng pelan "aku tidak mengenal mereka. Kenapa mereka bisa ada disini?" aku juga berpikir seperti itu, tapi aku akan tampak bodoh bila menanyakan hal yang sama.
"Aku juga tidak tahu." jawabku singkat.
Tampak semua gerombolan mulai masuk ke halaman depan rumah. Dengan sigap aku menarik tangan Luce sehingga ia sekarang berdiri di depanku.
"Tak perlu menunggu lagi. Meski kita tidak tahu siapa mereka dan apa tujuan mereka, yang kutahu ini semua buruk," aku memegang pundaknya "maka dari itu, jangan terlalu jauh dari sisiku. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi."
Luce tampak tak setuju denganku, terlihat dari matanya yang sedikit membesar namun mengurungkan perkataannya.
"Tak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja." hanya itu yang dapat aku katakan untuk menenangkannya. Dan Luce pun tampak lebih tenang dari sebelumnya. Setidaknya itu tak akan menjadi penghambat lagi.
Aku mencoba berpikir dari mana kami akan keluar. Tak mungkin aku membawa Luce meloncat lewat pagar belakang. Aku hanya akan menyusahkannya. Cara terbaik adalah melawan mereka dan lari dari pintu depan.
Aku menarik tangannya Luce sehingga ia berada di belakangku. Aku mengambil dua pemukul bisbol yang terletak di sudut ruangan dan memberikan salah satunya pada Luce.
"Bila ada yang mendekatimu, pukul saja pakai itu. Meski aku tak tahu kau pernah ikut eskul karate atau judo, kuharap kau bisa memukul dengan keras."
"Berani-beraninya kau menghinaku...!" Luce meninju kepalaku kurasa kepalaku sudah benjol sekarang "kalau soal pukul-memukul, serahkan saja padaku." ucapnya.
Baiklah setidaknya pukulan tadi menjadi bukti bahwa ia tidak akan segan-segan membunuh orang melalui pukulannya. Kami kembali berjalan dan melihat seorang berambut kuning. Aku menghentikan Luce dan bersembunyi di balik dinding.
Aku menunggu waktu yang tepat untuk memukulnya. Saat ia sudah satu langkah melewati batas dinding, aku memukulnya dengan telak dan membuatnya jatuh tersungkur.
Dia menatap kami lalu berteriak "itu dia, tangkap mereka! Jangan biarkan seorang pun lolos!" dasar pria bermulut besar. Sepertinya aku kurang kuat memukulnya sehingga ia masih bisa berteriak. Aku mencoba untuk menarik tangan Luce disebelahku yang tadi sempat terlepas.
Aku merasa tidak ada seorang pun berdiri disampingku. Aku melihat ke arah pria berambut pirang dan di sebelahnya ada Luce yang memukul pria itu terus menerus. Aku ingin melihat adegan ini lebih lama, tapi kalau aku membiarkan egoku maka kami akan kondisi yang lebih berbahaya.
Aku menarik Luce dan memberikan kode agar kami terus menuju pintu keluar dan menemukan tempat aman. Lalu kami menuruni tangga dan memukul 4 orang berkepala botak samapai babak belur. Kalau tidak salah, ada 6 orang yang keluar dari mobil. Sementara total yang kami hajar baru 5 orang. Kemana yang satunya lagi?
Punggungku terasa sakit, seseorang telah memukulku memakai kayu dari belakang. Dan aku tersungkur ke lantai. Badanku begitu lemas dan tak bisa digerakkan. Dapat kulihat Luce yang tengah melawan si pembawa tali tak cukup kuat untuk melawannya. Luce jatuh ke lantai dan dia diikat oleh pria botak pembawa tali lalu mebgendongnya menuju mobil.
Aku menyesal tak dapat melindunginya. Aku mendengar suara benda jatuh dari luar dan melihat seorang pemuda tengah melawan si pembawa tali. Dan dapat kulihat pula seorang perempuan tengah membuka ikatan tali di tubuh Luce. Pria botak itu terjatuh dengan lunglai ke tanah.
Luce dan kedua orang itu datang mendekatiku. Dari jarak yang dekat ini aku dapat melihat dua orang yang telah menolong kami. Yang perempuan bercepol dua mirip panda, dan yang laki-laki berambut panjang. Kalau tidak salah, orang ini adalah orang yang menekan bel rumah seberang tadi. Mereka membantuku berdiri dan membawaku keluar. Saat kami keluar, tanpa sengaja pisau yang digunakan untuk melepas tali ikatan Luce terjatuh dari tangan perempuan bercepol itu tepat di jantung pria jahat itu. Anehnya seharusnya pisau itu tidak langsung tertancap, ini peristiwa yang langka. Kami tetap melanjutkan perjalanan ke luar rumah Luce dan masuk ke rumah seberang yang sebelumnya di tekan bel terus-menerus oleh pemuda itu.
"Terima kasih telah menolong kami. Kami berhutang pada kalian." Ucapku.
"Tak perlu begitu. Bukankah kita harus menolong sesama?" Ucap pemuda itu.
Perempuan bercepol dua datang mendekatiku membawa kotak P3K. "Sini biar aku obati punggungmu."
Aku membalikkan badan sehingga ia dapat mengobatiku. "Terima kasih."
"Sungguh,,aku bahkan baru pertama kali ini mengalami kejadian ini." Luce bergumam. Ini adalah perkataan pertama yang baru keluar dari mulutnya sedari tadi.
"Apa ada sesuatu yang membuat mereka melakukan itu?" Tanya wanita yang bercepol dua. Dia benar-benar mirip panda.
"Huh/?" Luce tampak sedikit terkejut lalu nengalihkan pandangan "aku tidak tahu alasannya."
"Tapi kau tidak terluka kan Luce?" Tanyaku dan Luce menggeleng pelan.
"Untuk saat ini kalian harus mencari tempat yang aman. Tidak menutup kemungkinan bila mereka masih mengincar kalian." Pemuda itu memberi saran. Aku juga memikirkan hal yang sama tapi dimana tempat yang aman itu?
"Iya benar, kalau kalian mau kalian bisa menginap di rumahku ini untuk sementara waktu. Dan..," si panda menghentikan perkataannya sebentar "aku rasa yang diincar bukanlah kalian berdua. Tapi hanya Luce seorang. Tapi karena mereka telah melihatmu yang menolongnya pasti kau juga ikut diincar."
Benar, kenapa aku tidak memikirkannya. [Author: kau kan memang bodoh Natsu.. wkkwk~~]
"Aku tidak ingin merepotkan kalian. Bagaimana kalau aku menetap di rumahmu untuk sementara waktu Natsu. Kurasa itu akan lebih baik karena tidak terlalu dekat dengan rumahku." Itu ide yang bagus Luce.
"Ya, benar. Lagipula kita juga masih harus bersekolah." Aku berdiri dan merapikan bajuku. "Maaf sudah merepotkan kalian. Terima kasih atas bantuannya."
Luce ikut berdiri dan sedikit menundukkan badannya. "Sekali lagi terima kasih."
"Ah sudahlah... tak perlu terlalu bersikap seperti itu." Ujar si panda.
"Kalau kalian perlu bantuan lagi, kalian boleh datang kepada kami." Timpal pemuda itu.
Setelah kedua mobil pergi dari rumah Luce, aku dan Luce meninggalkan rumah si panda ini. Kami masuk ke rumah Luce. Selagi Luce mengemas barang-barang yang akan dia bawa, aku merapikan tempat yang berantakan agar semuanya terlihat kembali normal.
Aku membersihkan berkas darah di luar dimana sempat seorang dari mereka mati karena ketidaksengajaan si panda menjatuhkan pisau tepat kejantungnya. Aku menunggu Luce di gerbang rumah. Setelah beberapa menit, Luce keluar membawa sebuah tas ransel dan koper berukuran sedang.
Setelah memastikan semua pintu terkunci, aku menutup pagar. Aku membawa koper Luce dan ia membawa ranselnya. Kami pergi menuju rumahku yang tak terlalu jauh. Aku tidak pernah tahu kalau hal ini akan terjadi. Tapi mengetahui Luce akan tinggal di rumahku, kuharap ia tidak terkejut saat melihat rumahku yang berantakan.
Natsu POV End
.
.
.
.
Lucy POV
Aku tak tahu kalau Natsu begitu ingin melindungiku, bahkan hingga ia sendiri terluka. Aku tak tahu lagi bagaimana caraku berterima kasih. sudah banyak yang Natsu lakukan untukku. Tapi kurasa Natsu akan melakukan hal yang sama dengan orang lain seperti yang dia lakukan tadi. Buktinya dia nelakukan hal itu terhadapku dengan rupaku yang asli ini.
Lucu memang, tapi setidaknya aku tahu kalau Natsu masih tetap sama seperti dulu yang begitu care dan perhatian dengan semua orang. Tapi cepat atau lambat, penyamaran ini akan diketahui oleh Natsu.
Aku mengikutinya dari belakang. Kami berjalan menuju rumah Natsu. Dia membawa koperku yang berat meski terlihat tidak terlalu besar. Aku melihat pundak Natsu dari belakang, pundaknya yang masih sama seperti dulu dimana aku sering digendongnya, dan juga syal yang selalu dia bawa dan aku selalu menariknya saat dia menggendongku. Tanpa kusadari senyumku mengembang diwajahku.
Tuhan, tolong hentikanlah waktu. Kumohon. Percuma saja, waktu akan terus berputar hingga akhir nanti. Sekuntum bunga sakura melayang didepanku, aku meraihnya di tangan kananku. Aku melihatnya sebentar sebelum aku berlari kecil menuju Natsu dan dan menunjukkan bunga itu didepannya.
Langkahnya terhenti dan melihat kearahku. "Itu bunga yang indah Luce. Sepertinya kau orang yang beruntung karena kau orang pertama yang melihat bunga sakura jatuh untuk pertama kalinya di pohon ini."
"Benarkah? Hebat... aku takjub kau masih percaya dengan segala cerita yang sangat lama." Meski telah berkali-kali aku mendengar ucapan itu darinya tapi aku juga masih suka tentang dongeng yang telah lama sejak kecil.
Natsu menepuk-nepuk kepalaku pelan dan mengacak rambutku. Aku juga merindukan tangan itu, tangan yang tulus oleh seorang sahabat.
Mata Natsu sedikit melebar "maaf, aku refleks. Aku hanya teringat sahabatku dulu."
"Tak apa Natsu, kau boleh menganggapku seperti sahabatmu itu. Aku tidak keberatan."
Natsu tersenyum kearahku, "baiklah, tapi jangan berjalan di belakang atau pun didepanku. Lebih baik berjalan disampingku dengan begitu akan lebih mudah bagiku membantumu."
"Maaf sudah merepotkanmu Natsu." Aku menunduk pelan.
"Hei! Kau tidak merepotkanku sama sekali. Jangan bersikap begitu, kau tidak memiliki suatu hal yang harus kau khawatirkan sekarang." Ujarnya.
Iya, kau benar Natsu. Setidaknya aku aman sekarang, tapi tidak nanti.
Kami kembali melanjutkan perjalanan kami, aku mengingat kejadian dulu yang pernah kualami bersama Natsu.
Flashback
Aku berlari dengan cepat menuju sahabatku yang telah berjalan sedikit jauh didepanku. Aku baru saja mendapatkan sekuntum bunga sakura di hari terakhir musim semi. Setiap aku mendapatkan suatu hal baru dia akan selalu memujiku. Dia memiliki wawasan yang luas, selalu memberikan nasihat dan memujiku tidak habis-habisnya.
Karena aku berlari begitu cepat, aku sampai tidak melihat ada batu di depanku dan aku tersandung hingga terjatuh. Aku tetap menjaga bunga sakura itu agar tidak rusak sedikitpun. Aku senang bunga itu tidak rusak sedikitpun.
"Luce! Kau tidak apa-apa kan?" Ternyata Natsu telah berdiri di depanku.
"Tidak apa-apa" aku duduk dari posisiku yang tertelungkup tadi dan menunjukkan padanya bunga tadi "ini.., lihatlah aku mendapatkannya saat bunga itu terbang didepanku. Cantik bukan?"
"Iya..," dia ikut jongkok di sampingku "kau tahu? Kau orang yang beruntung karena kau orang pertama yang melihat bunga sakura jatuh untuk pertama kalinya dari pohon ini. sebelum musim gugur." Dia mengacak rambutku yang dikucir dua.
"Ah mou Natsu.. kau membuatku tampak jelek sekarang." Aku mengembungkan pipiku.
"Tidak," dia melepas kedua kuncitanku dan menguncit satu rambutku kebelakang "nah sekarang kau masih akan tetap terlihat cantik jika begitu."
Aku kagum dengan Natsu, dia sahabatku tapi dia juga kuanggap seberti big brother ku. "Arigatou Natsu"
Natsu berdiri "nah ayo kita pulang, sudah malam."
Ketika aku mau berdiri kurasakan kakiku sakit. Lebih tepatnya di lututku, rasanya perih. Melihat aku yang masih terduduk dan tidak berdiri sama sekali.
"Kau tidak apa-apa kan Luce? Apa kau terluka?" Dia melihat kearahku dengan cemas.
"Lututku sakit..kau pulang saja duluan Natsu." Ucapku.
"Tidak, kalau kau tetap disini maka aku akan disini. Tapi kita akan pulang malam ini, dan aku akan nengantarmu." Dia membantuku untuk berdiri lalu berjongkok didepanku.
"Kau kenapa Natsu?" Aku yang masih kecil bingung dengan sikap Natsu.
Natsu menoleh padaku "Naiklah kepundakku, aku akan menggendongmu."
Aku naik kepundaknya dan dia berdiri dengan aku dipundaknya. Aku telah banyak merepotkan Natsu, aku tak ingin lebih banyak lagi merepotkannya. Aku menarik syalnya dan berpegangan disitu. Natsu terbatuk kecil.
"Luce, kau mau mencekikku?" Aku tidak sadar telah melakukan itu.
"Maaf, aku tidak tahu mau berpegangan di mana." Ucapku pelan.
"Lingkarkan kedua tanganmu di leherku agar tidak jatuh." Aku menurutinya. "Luce" panggilnya lagi.
"Apa aku berbuat kesalahan lagi?"
Natsu menggeleng pelan "tidak.., tapi tanganmu terluka. Apa kau begitu menjaga bunga sakura ini meski kau terluka?"
"Iya, begitulah. Aku tidak menyesal melindungi bunga itu, karena aku orang yang beruntung sekarang." Natsu tersenyum mendengar perkataanku.
Aku menyelipkan bunga itu ke samping telinga Natsu "Natsu.. lihatlah, kau tampak cantik sekarang."
Dia tidak menolak perbuatanku saat aku melakukan itu. "Terima kasih Luce, sekarang kita sama-sama cantik. Aku akan menyimpan bunga ini untuk selamanya."
Aku semakin senang mendengar itu. Aku mengencangkan lingkaran tanganku dan aku menidurkan kepalaku dipundaknya. Aku juga mendekatkan diriku ke syalnya yang hangat hingga tertidur.
Flashback off
Kami akhirnya tiba di depan rumah Natsu. Masih tampak sama seperti yang dulu. Pohon besar rindang di sebelah kiri dan kolam ikan dengan ukiran air terjun di sebelah kanan. Aku sudah lama tidak kesini, bahkan aku tidak tahu kapan aku bisa berkunjung lagi kesini. Tapi sekarang aku bisa kembali, dan itu membuatku senang.
Aku melangkahkan kaki dan ingin membuka kenop pintu sampai tanganku di tarik oleh Natsu.
"Biar aku saja" cegahnya.
"Memangnya kenapa? Apa ada sesuatu?" Tanyaku.
"Eng... itu... ti..tidak." dia menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Kubuka pintu rumah Natsu yang tidak terkunci. Dan sekarang... apa yang kulihat ini? Semuanya... tiba-tiba pandangaku gelap dan seketika aku pingsan.
Lucy POV End.
.
.
.
.
.
.
To Be contiunue
Hai Minna ^^ udah setahun Fic ini di tinggal, dan author menghilang ditelan bumi [dilempar readers]
sesuai janji, review chap sebelumnya bakalan di balas di chapter ini. Dan yang akan membalas review kalian khusus author kali ini dan bukan NaLu...hohohoh...
Review dari Chapter 3 :
yang pertama dari Erine28 : bagus? Arigatou Erine-san [Natsu dkk : Arigatou Erine-san, nan baik] ~,~ ini ficnya udah lanjut, baca yak..
yang kedua dari sepupuku Lyra yang memakai accountku : kok nggak bilang dulu sih? dasar... tapi makasih , buat JerZanya haru nggak bisa jamin bisa banyakin loh..
Next from karinalu : kenapa? karena itu sudah menjadi... Gomen Karin-san, itu masih secret, wkwkkw 0
Last from Clover 4 Leaves : Masa? Makasih banyak loh... Lupa? Author ga lupa kok, jawabannya ada di chapter 4. Dan kini author udah update lagi, review lagi yak..
Review dari chapter 4 :
yang pertama dari Azalya Dragnell : Hohoho... [author ngefly] kamu nggak banyak bacot kok, kamu hanya terlalu cerewet seperti oka-san mu... Pastinya Natsu bakalan tahu kalau Lucy menyamar, tpi kayaknya bakalan ada di chapter 7. Di Fic ini Natsunya pintar jadi bakalan tahu, selama ini dia kan bodoh [di pukul Natsu].
Selanjutnya dari angel : Mulai kerasa? kerasa apa nih? Asin, asam, pedas, nano-nano? iya ini udah update lagi author kelamaan ngepost karena sibuk, lagian ada acara situs terblok lagi... selamat membaca ^^
Yang ketiga dari Lyra : ini juga sama, rasa nano-nano? iya ini udah update happy reading ^^
Next from Lucy Heartfilia-Chibi : ini udah lumayan banyak dari chapter sebelumnya. 2k loh... [Natsu dkk : ih... author 2k aja bangga, author : biarin]. Thank's for review.
yang terakhir dari Nola Heartfilia : sekarang author udah on lagi nih.., mumpung libur *-*. soal lama atau nggaknya, author nggak janji ya..
Nah Minna... Arigatou buat RnRnya kalau bisa diterusin ya sesudah melihat ini,
Jangan sungkan untuk menghubungi author, via sms, via bbm, Gmail, yahoo mail, eskimi, twitter, instagram, dll.
Kalau mau Pin bbm silahkan mereview untuk memintanya... [Lucy : You do it on a purpose, right?, Author : yes, wkwkwkwk]
Sekali lagi terima kasih, mohon RnRnya. Gomen juga karena uploadnya lama... Ja~~~~
