Waah terimakasih semua reviewnya. Senang rasanya ada yang baca cerita ini :D
oh ya, seting cerita ini modern AU jadi anggap saja Panem salah satu negara di dunia kita hehehe silakan menikmati lanjutannya.
Chapter 1
I think that possibly, maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you.
~Landon Pigg, Falling in Love at the Coffe Shop~
Katniss
Katniss tidak pernah menyukai keramaian. Dia tidak pernah pandai menyusun kata-kata untuk memulai percakapan. Ia tidak tau bagaimana harus menanggapi lelucon seseorang. Dan yang pasti, Katniss tidak suka penjadi pusat perhatian. Itu sebabnya Katniss selalu mengambil tempat duduk di ujung terjauh barisan depan di semua kelas-kelasnya dan menunduk saat berjalan melintasi koridor. Itu sebabnya Katniss mengambil jurusan Genetika. Ia tidak pernah pandai berhubungan dengan manusia. Satu rantai protein kompleks lebih mudah dihadapi ketimbang sapaan 'halo' dari siapapun.
Kesunyian adalah hal yang paling dinikmati Katniss dari dunia perkuliahan. Semua orang terlalu sibuk dengan diri mereka masing-masing sehingga tidak akan peduli dengan apa yang dikerjakan orang lain, sangat berbeda dari dunia sekolah. Dan karena itulah Katniss menikmati hari-harinya saat ini. Katniss menghabiskan waktu di laboratorium, meneliti perkembangbiakan sel-sel mikroba atau bereksperimen dengan struktur genetika. Ia bersyukur karena Prof. Wires tidak pernah mengusirnya dari lab. Katniss juga menyukai perpustakaan. Bukan hanya karena tempat itu sangat identik dengan ketenangan, tapi juga karena perpustakaan Universitas Panem menjadi tuan rumah dari ribuan buku mikro biologi yang menjadi makanan favoritnya sehari-hari. Lalu diantara kelas-kelas, laboratorium, perpustakaan dan The Fourth, Katniss menemukan tempat lain yang juga membuatnya nyaman karena kesunyian. Tempat itu adalah kedai kopi kecil di ujung jalan yang tidak sengaja ditemukannya.
Papan nama dari kayu dengan cat merah yang sudah terkelupas itu membedakan kedai kopi itu dari deretan rumah yang terbuat dari batu bata merah di sepanjang jalan menuju komplek Universitas Panem. 12 Cups. Kata-kata itu diukir dengan cat emas di atas papan nama. Katniss menemukan tempat itu saat terpaksa harus berlindung dari hujan tiba-tiba di suatu sore. Ia bisa saja berlari menuju laboratoriumnya di gedung Biologi, tubuhnya tidak akan kalah oleh tetesan hujan. Namun refarat tugas dari Prof. Wires tidak akan bisa bertahan menembus hujan. Jadi saat melihat kedai kopi yang nyaris kosong itu, Katniss tidak berfikir dua kali dan langsung berlari masuk.
Kedai kopi itu tidak terlalu besar. Luasnya hanya separuh dari kedai kopi populer yang letaknya tepat di depan gerbang Universitas Panem. Namun 12 Cups memiliki perapian dan aroma kopi yang memenuhinya sangat menenangkan. Katniss berjalan membelah lantai kayu, terpesona oleh dekorasi musim gugur yang memenuhi kedai kopi. Papan pengumuman menu harian berdiri di depan pintu seolah seseorang memasukannya untuk menghindarkan papan itu dari hujan. Menu hari itu adalah cokelat panas klasik sesuai dengan gambar di papan, cangkir cokelat panas dengan daun-daun maple berserakan di tepi tatakan gelas. Gambar yang sangat indah dan terasa hidup walau hanya terbuat dari arsiran kapur.
Sambil berjalan membelah ruangan, Katniss memandangi papan kayu di atas meja bar yang biasanya diisi oleh deretan menu andalan. Di atas daftar berjenis-jenis kopi dan kue, Katniss bisa membaca sebaris kalimat, "Apa kau tau yang benar-benar tengah terjadi? Jika tidak, cari tau!"
Sebuah meja kayu besar diletakan di tengah ruangan dengan bangku-bangku kayu mengelilinginya. Tempat ini pasti sering dijadikan tempat berkumpul para mahasiswa. Bangku-bangku kayu lain berjajar di tepi jendela. Mata Katniss segera tertuju ke sebuah meja di pojok ruangan. Meja kayu persegi tepat di samping jendela mungil dengan dua buah kursi kayu mengelilinginya. Pot berisi anthurium diletakan tak jauh dari meja, membuat tempat itu seolah tersembunyi. Tempat yang sempurna bagi Katniss. Dari sana ia bisa melihat seluruh kegiatan di 12 Cups tanpa ada seorang pun menyadari keberadaannya. Sejak sore hari hujan itu, 12 Cups menjadi tempat favorit Katniss.
Sore itu Katniss berlari membelah jalanan batu yang menghubungkan komplek Universitas Panem dengan 12 Cups. Ia memiliki beberapa jam kosong sebelum asistensi dengan Prof. Latier. Tas ranselnya sudah dipenuhi buku-buku yang siap dibacanya sambil menikmati cokelat panas yang menjadi menu favoritnya di 12 Cups. Namun Katniss harus merasa kecewa. Sore itu 12 Cups sama sekali tidak terlihat seperti kedai kopi favoritnya. Tempat itu terlihat ramai. Bahkan beberapa mahasiswa terlihat mengantri untuk mendapat meja.
Katniss menarik nafas panjang dan bersiap pergi namun tiba-tiba seseorang menarik tangannya, "Aku sudah mengamankan meja mu."
Katniss berbalik dan menemukan mata biru paling cemerlang yang pernah dia lihat. Katnis mengerjapkan mata dan mengerutkan dari melihat anak lelaki berambut pirang di hadapannya. Ia mengenakan kaus berkerah berwarna putih gading dan celemek merah marun yang sewarna dengan papan nama 12 Cups.
Katniss membuka mulut dan kata-kata itu melompat keluar, "Maaf?"
"Ah!" anak lelaki itu melepaskan pegangannya dari lengan Katniss, "Aku sudah mengamankan meja mu." Katanya lagi, "Meja di pojok ruangan yang selalu kau duduki setiap hari." Anak lelaki itu menjelaskan.
Katniss Everdeen tidak pernah bicara dengan orang asing. Apa lagi dengan anak lelaki yang tidak dikenalnya yang dengan ajaib bisa mengetahui tempat favoritnya.
Anak itu pasti melihat kebingungan dan ketidak nyamanan di mata Katniss sehingga ia cepat-cepat berkata, "Kalau kau masih berniat untuk minum di 12 Cups. Tapi kalau kau akan pergi, aku akan mencabut papan pemesanan tempatnya."
"Kau memasang papan pemesanan di meja ku?" Tanya Katnis tak percaya.
"Well… hanya untuk berjaga-jaga. Hari ini memang lebih ramai karena kafe populer yang lebih dekat dengan kampus sedang digunakan oleh anak-anak klub polo air." Anak lelaki itu kini terlihat gugup.
Katniss ragu sejenak, ia memandangi barisan mahasiswa yang menunggu di depan kedai kopi. Tempat favoritnya berada di sudut yang sepi, jadi tambahan beberapa pengunjung tidak akan mengganggunya.
"Aku akan ambil tempatnya." Kata Katniss akhirnya.
"Bagus kalau begitu." Kata anak lelaki itu riang. Ia membukakan pintu dan berjalan menuju meja di pojok ruangan. Dengan cekatan ia mengambil papan pemesanan tempat.
Katniss duduk dan meletakan tasnya di kursi sebrang.
"Kau mau ku buatkan cokelat panas dengan taburan bubuk kayu manis seperti biasa?" Tanya anak lelaki itu lagi.
Katniss masih bingung dengan apa yang tengah terjadi, tidak hanya tempat duduk favoritnya, namun pria misterius ini juga mengetahui pesanan minuman kesukaannya. Katniss hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Baiklah, akan segera ku antar."
Sebelum anak itu berbalik dan menghilang di balik meja bar, Katniss bisa melihat tulisan yang tertera di papan nama yang tersemat di kausnya.
Mellark.
Ternyata tidak semua orang mengabaikan keberadaannya.
