Chapter 2
We do almost everything that's lovers do
and that's why it's hard
Just to be friend with you
~98˚, Why (are we still friend)~
Johanna
Johanna mengenali semua sudut jurusan Teknik Arsitektur Universitas Panem lebih baik dari ia mengenali semua sudut kampusnya sendiri di jurusan Film. Johana tau bahwa keramik baris ke 2 di tangga beton ke lantai 3 sedikit retak. Ia tau bahwa lampu ke 4 di lorong lantai 2 berwarna jingga dan bukan putih. Ia tau sisi sebelah kiri dari pintu ganda menuju studio gambar tidak bisa terbuka sejak 2 bulan belakangan. Dan Johana selalu tau dimana bisa menemukan Gale Hawthorne.
Hari senin Gale menghabiskan waktu di perpustakaan. Dia tidak suka membaca, tapi tempat itu adalah tempat paling sempurna jika Gale ingin meendapatkan nilai tertinggi untuk semua esainya. Johanna akan mampir di tengah hari sebelum menghadiri kelas Film Bisu untuk menyisipkan sekantung kue kering yang akan dimakan Gale sembunyi-sembunyi. Hari selasa Gale menghadiri pertemuan mingguan para arsitek muda di taman Fakultas Teknik. Lewat jam 4 Johanna akan duduk di sudut taman, menonton perdebatan sampai Gale menyadari keberadaannya dan memberikan cengiran khasnya karena tidak sabar menceritakan hasil seluruh diskusi pada Johanna.
Pada hari rabu Gale akan menghabiskan sepanjang hari di studio gambar. Gale menggambar dalam diam. Johanna sangat menyukai bagaimana alis Gale akan berkerut setiap kali ia membuat garis, atau bibirnya yang terangkat membentuk senyum tipis saat berhasil menghubungkan titik demi titik. Johanna akan berdiri di depan pintu sampai Gale menoleh dan mempersilakannya masuk. Seperti rabu sore ini, Johanna menyandarkan diri di bingkai pintu kayu mahogani memandang Gale yang seolah bersinar tertimpa cahaya matahari sore.
"Aku tidak tau kau akan datang lebih cepat dari biasanya." Kata Gale tanpa mengangkat wajah dari meja gambar.
Johanna tersenyum dan berjalan memasuki studio gambar yang nyaris kosong, "Prof. Cressida harus menghadiri rapat persiapan The Mockingjay Award."
Gale menengadah dan tersenyum, "5 menit lagi?"
Johanna menghempaskan diri di tempat duduk di belakang Gale, "Kau harus mentraktirku karena membuatku menunggu 5 menit."
Tepat 5 menit kemudian Gale bangkit dan membereskan barang-barangnya. Ia memasukan gulungan gambar ke tabung dan menyandang ranselnya, "Jadi, kemana kita malam ini?"
Johanna tersenyum. Rabu malam adalah malam mereka berdua. Mereka akan pergi ke tempat makan yang belum pernah mereka coba. 2 tahun terakhir ini hampir seluruh rumah makan di sekitar Universitas Panem sudah mereka coba. Johanna mencatatnya di dalam 'Buku Makan', buku sketsa buatan mereka berdua. Gale akan membuatkan sketsa kasar restoran yang mereka datangi dan Johanna akan menuliskan menu yang ada dan komentar mereka.
"Ada restoran makanan italia yang baru di buka dua blok dari sini." Gumam Johanna.
Gale mengerutkan dahi, "Makanan italia?"
"Kau bisa makan semua garlic jika kau tidak menyukai pasta." Gumam Johanna.
Gale tertawa, "Aku akan menghabiskan semua pasta mu."
Gale tidak suka terlalu banyak krim dalam makanannya sama seperti ia tidak menyukai terlalu banyak keju. Johanna tau Gale akan memesan aglio olio jika mereka pergi ke restoran italia, berbeda dengan Johanna yang selalu memesan menu baru. Tapi Johanna juga tau Gale tidak akan bisa menahan diri untuk tidak mencicipi pesanannya.
"Hm… penne nya lumayan, kau harus menulisnya di Buku Makan." Gumam Gale.
"Kita harus membeli buku baru." Johanna memperlihatkan buku sketsa mereka yang mulai kehabisan halaman.
"Aku akan membuatnya, banyak kertas tidak terpakai di studio." Kata Gale.
"Semangat daur ulang." Johanna meninju bahu Gale.
Tiba-tiba telepon genggam Gale berbunyi. Johanna tersentak kaget walau ia tau setiap pukul 8 malam telepon genggam Gale akan berbunyi. Namun tetap saja setiap saat itu tiba rasanya seperti pertama kali Johanna mendengarnya.
Telepon pukul 8. Magde.
Johanna tau Gale tidak akan mengangkat teleponnya di depannya. Ia akan bangkit dari kursinya dan mohon diri. Dan Johanna tidak mengatakan apapun saat Gale berbalik dan meninggalkannya sendirian di meja. Setiap hari selama 2 tahun terakhir, namun Johanna tetap tidak terbiasa menghadapinya. Menghadapi 5 menit paling lama dalam kesehariannya. 5 menit dari 24 jam dimana Gale bukan sahabat baiknya tapi pacar dari seorang gadis misterius bernama Madge Undersee.
"Jadi, bagaimana rencananya?" Tanya Gale saat ia kembali ke meja.
"Rencana?" Johanna balas bertanya berusaha menarik dirinya dari lamunan yang baru saja menelannya.
Alis Gale terangkat seolah Johanna baru saja menyinggungnya, "Dancing in the Moonlight, bukankah kau berencana membuat film pendek untuk mendokumentasikan tradisi agung penyambutan mahasiswa baru Universitas Panem?"
"Oh!" Johanna menepuk dahinya, "Yeah! Dancing in the Moonlight!"
Setiap tahunnya klub film Universitas Panem membuat film pendek mengenai tradisi universitas, dan tahun ini Johanna dan tim nya akan mendokumentasikan tradisi penyambutan mahasiswa baru Universitas Panem yang paling terkenal, Dancing in the Moonlight.
"Aku baru menyelesaikan storyboard nya." Gumam Johanna, "Cato membantuku menyiapkan artsnya."
"Artis? Ku kira film dokumenter tidak memerlukan artis." Gumam Gale.
"Kau tidak bisa menghidangkan gambar yang tidak bercertia, sesuatu harus terjadi bukan?" Johanna memutar bola matanya.
"Jadi Cato akan menjadi artisnya?" Tanya Gale lagi.
Johanna menggelengkan kepala, "Aku hanya memintanya untuk mencarikan mahasiswa baru yang bersedia di dokumentasikan saat Dancing in the Moonlight."
Gale tertawa mendengarnya.
"Apa yang lucu?!" Johanna melotot.
"Kau tinggal satu atap dengan 3 mahasiswi baru Universitas Panem dan kau masih membutuhkan Cato untuk mencarikan relawan untuk film mu? Kau bisa meminta Katniss melakukannya."
Johanna meninju bahu Gale, "Katniss Everdeen mu tidak bicara bahasa manusia! Dia bahkan tidak pernah bicara dengan Mags. Apa dia punya masalah dengan menjalani peran sebagai mahluk sosial?"
Gale tertawa lagi, "Katniss memang tidak banyak bicara, dan dia sulit bicara dengan orang asing. Tapi jika kau sudah mengenalnya, Katniss bisa menjadi teman yang menyenangkan. Ajaklah dia bicara sesekali. Bagaimana dengan Annie dan Glimmer?"
Johanna mengaduk pennenya dengan malas, "Annie terlalu pemalu. Aku tidak yakin dia akan bersedia berdansa dengan orang asing dan Glimmer terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Mungkin aku lebih cocok tinggal di asrama mahasiswa, akan banyak mahasisw baru untuk dimintai bantuan di sana."
"Oh kau tidak cocok tinggal di asrama mahasiswa Johanna Mason." Gumam Gale.
"Oh yeah?" Johanna menopang dagunya dan menatap Gale.
Gale menganggukan kepala, "Karena kau akan membuang uang percuma untuk membayar makanan sedangkan kau tidak pernah makan di kantin asrama."
"Hm… aku terima pendapatmu Mr. Hawthorne." Johanna menganggukan kepala.
"Aku akan membantumu." Kata Gale.
"Membantu ku untuk apa?" Johanna balas bertanya.
"Dancing in the Moonlight." Gumam Gale, "Aku akan membantumu membuat filmnya."
Johanna nyengir, "Mencari alasan untuk mendekati mahasiswi baru atau kau ini hanya ingin selalu berada di dekat ku ya Gale Hawthorne?"
"Tidak juga." Kata Gale tenang, "Hanya saja aku tidak mau kau menyesal karena berada sendirian di Quad saat itu. Karena saat itu semua orang akan berdansa."
"Aku akan bersama kamera ku." Kata Johanna pelan berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona merah muda. Dalam hati Johanna mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia dan Gale hanya teman. Hanya sebatas teman.
Notes:
Sekali lagi terimakasih untuk yang sudah review ^.^
untu Meti, rencana awalnya satu chapter multiple point of view tapi ternyata terlalu panjang jadi harus dipecah. sabar yah hehehe
