Chapter 3
Didn't they tell us don't rush into things?
Didn't you flash your green eyes at me?
Haven't you heard what becomes of curious minds?
~Taylor Swift, Wonderland~
Annie
Annie meletakan pulpen di atas buku tulisnya dan menarik nafas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya di bangku perpustakaan dan mengerling ke sudut ruangan dimana gadis-gadis tengah menahan tawa mereka. Annie ingin sekali bangkit dan menghampiri gadis-gadis itu, mengingatkan mereka bahwa perpustakaan bukan tempat untuk tertawa cekikikan apa lagi menguntit seseorang. Namun Annie Cresta tidak pernah melakukannya. Annie tidak menyukai konfrontasi. Biasanya ia akan memilih untuk pergi, tapi tidak saat ini. Ia membutuhkan buku-buku setebal batu bata yang menjadi bahan esainya yang harus sampai ke tangan Prof. Tringket 45 menit lagi. Annie menarik nafas panjang dan kembali menyelami karya-karya Bronte bersaudara.
Tapi Jane Eyre hanya bertahan di kepalanya selama 3 menit karena gadis-gadis di sudut mulai memekik pelan. Dengan kesal Annie menengadah, menyingkirkan tumpukan buku di depan wajahnya. Kini ia bisa melihat semuanya, alasan gadis-gadis itu terkikik seperti kesetanan. Pria itu seperti gambaran pangeran tampan dari semua literatur klasik. Berambut tebal cokelat tembaga dan mata hijau biru yang mengingatkan Annie pada lautan luas di rumahnya di distrik 4 dengan senyum lebar yang menawan dan mampu membuat gadis-gadis pingsan.
Finnic Odair.
Bahkan gadis seperti Annie mengenalnya. Dan Annie tidak ingin berurusan dengan pria seperti Finnic. Pria yang hidup di bawah lampu sorot. Sebaliknya, Annie harus segera pergi. Maka tanpa pikir panjang Annie menyambar semua buku di atas meja, memeluknya erat dan berlari ke meja peminjaman.
Annie menyukai kelas-kelasnya. Masuk ke jurusan sastra Ingris adalah impiannya sejak ia bisa membaca. Annie menghabiskan hari-harinya di sekolah dasar dengan duduk manis di perpustakaan dan membaca Little Women karya Louisa May Alcott. Saat gadis-gadis lain sibuk menjadi pemandu sorak di sekolah menengah, Annie menelan buku-buku karya Bronte bersaudara. Dan Annie sudah menamatkan semua karya Jane Austen sebelum lulus SMA. Annie juga menulis hampir sebanyak ia membaca. Puisi dan cerita pendeknya selalu menghiasi sudut majalah diding sekolah. Annie selalu yakin menjadi penulis adalah panggilan hidupnya. Namanya akan sejajar dengan penulis-penulis besar yang dikaguminya. Namun di sini lah dia, berdiri di depan meja Prof. Effie Trinket dengan lembaran kertas dengan nilai C besar.
"Aku tidak tau apa yang ingin kau sampaikan dalam tulisan ini." Kata Effie.
Annie mengerjapkan mata menahan tangis. Annie Cresta tidak pernah mendapatkan nilai dibawah A.
Effie menarik nafas panjang, "Annie, semua tulisan membutuhkan jiwa, topik permasalahan, klimaks, anti klimaks, karakterisasi. Well… mari kita mulai dari yang mudah. Bagaimana jika kau menulis ulang esai mu?"
Annie manganggukan kepala, "Terimakasih Prof. Trinket."
"Annie." Kata Effie lagi, "Saat menulis, jadilah dirimu sendiri."
Annie tersenyum, "Saya akan mengingatnya."
Annie membutuhkan tempat untuk berfikir, untuk menyelami dan menemukan apa yang harus dilakukan untuk menulis ulang esainya. Perpustakaan jelas bukan tempat yang ia inginkan. Buku-buku literatur akan membuatnya tertekan. Kamar nyamannya di The Fourth hanya akan membuat Annie mengantuk dan jatuh tertidur sebelum bisa menulis ulang satu kalimat pun. Maka satu-satunya tempat yang terlintas dalam pikirannya adalah kedai kopi di depan gerbang Universitas Panem. Beberapa minggu ini Annie sering menghabiskan waktu di sana, menikmati secangkir teh chamomile sambil menenangkan pikiran. Namun saat membuka pintu Annie harus kecewa, Finnic Odair duduk di tengah ruangan dengan selusin gadis yang tengah memujanya. Dengan kesal Annie berbalik dan menutup pintu. Bukan salah Finnic atau gadis-gadisnya jika Annie mendapat nilai C, tapi entah mengapa otak Annie rasanya tidak bisa bekerja berbarengan dengan bayangan Finnic Odair.
Dengan malas Annie berjalan menyusuri jalanan batu yang basah karena sisa hujan. Ia tidak berjalan ke arah The Fourth, ia bahkan tidak tau kemana ia melangkah. Annie berhenti karena harum kopi yang menenangkan. Ia menoleh dan menatap papan nama bertuliskan 12 Cups. Annie tidak tau ada kedai kopi lain di sekitar kampusnya. Annie memandangi kedai kopi kecil itu. Mungil dengan perapian batu, rasanya seperti masuk ke dalam salah satu buku bacaan sebelum tidur favoritnya. Tanpa pikir panjang Annie membuka pintu membuat bel kecil berdenting.
"Selamat datang!" anak lelaki bermata biru dengan rambut ikal pirang jatuh menutupi dahi menyapanya dari balik meja kasir.
Annie menganggukan kepala, matanya tertuju pada meja kayu di sudut ruangan.
"Oh, meja itu sudah di pesan." Si anak lelaki sampai di meja sebelum Annie dan memasang papan 'Dipesan', "Tapi ku rasa kau tidak akan kecewa dengan meja di lantai 2."
Annie menoleh, "Kalian punya lantai 2?"
Anak lelaki itu tertawa, "Ya tentu saja. Mari ku antarkan."
Annie menganggukan kepala dan mengikuti anak lelaki itu menaiki tangga kayu melingkar di sudut ruangan. Lantai 2 kedai kopi kecil itu jauh lebih memukau dari pada semua kedai kopi yang pernah dibayangkan Annie. Ruangan terbuka itu dipenuhi lemari buku yang menempel di dinding. Sebuah jendela besar menghiasi satu sudut ruangan menampilkan jalanan batu menuju Universitas Panem yang sepi. Beraneka macam sofa tersebar mengelilingi meja-meja kayu. Separuh atapnya berupa kaca dengan tanaman-tanaman gantung dan lampu hias yang belum menyala.
"Wow!" Annie berdecak kagum.
"Seminggu sekali klub buku Universitas Panem mengadakan pertemuan di tempat ini." Anak lelaki itu menerangkan.
"Dengan kata lain kedai kopi ini juga terkenal." Tempat yang ramai bukanlah tujuan Annie saat ini.
Anak lelaki itu berfikir sebentar, "Hanya untuk golongan orang tertentu. Kalau kau ingin mencari orang seperti Finnic Odair, kau harus kecewa karena tidak akan menemukannya di tempat ini."
"Kalau begitu tempat ini adalah tempat yang tepat untuk ku. Semua buku ini… boleh dibaca?" Tanya Annie, tangannya menyentuh buku-buku bersampul kulit di lemari kayu.
Anak lelaki itu tertawa membuat mata birunya bersinar, "Tentu saja boleh."
Annie mengambil tempat duduk di salah satu sofa, "Kau bisa membuatkan ku teh chamomile?"
"Dengan kue gandum? Atau kue madu?" Tanya si anak lelaki.
"Kue lemon jika kalian punya." Kata Annie.
"Teh chamomile dan kue lemon, segera datang." Anak itu membungkuk.
Annie tersenyum menatap jalanan sepi di bawahnya. Tempat ini sempurna. Berbagai ide mulai bermunculan di kepalanya. Annie tau ia akan terus kembali ke tempat ini bukan hanya karena perapiannya, bukan hanya karena buku-bukunya. Tapi juga karena Annie yakin Finnic Odair tidak akan pernah menginjakan kaki di tempat seperti ini.
