Disclaimer: Ansatsu Kyoushitsu/Assassination Classroom belong to Yuusei Matsui
Warning(s): OOC (mungkin), AT, typo(s), Shounen-ai, Straight, MaeIso, slight!MaeOka AsaIso
A/N: Doumo minna-san! Scarlet kembali dengan membawa chapter 2 dari Act of Love. Buat yang udah baca, review, follow dan fav di chepter 1 Scarlet berterimakasih banget, karena itu bikin saya jadi lebih semangat nulis. Dan special thanks buat Ratu Obeng yang udah mau ngomelin saya karena nanyain kelayakan fict ini, karena seperti kata kamu, kita bikin fanfiction itu buat have fun, bukan buat kompetisi. So, I proundly present "Act of Love" 2nd chapter for you guys! Happy reading!
Tut. Tut. Tut. Cklek!
"Halo?"
"Ah Maehara-kun, tumben kau menelepon, ada apa?" sahut suara seorang gadis dengan ceria di seberang telepon.
"Maaf, tapi kupikir hubungan kita harus berakhir sampai disini."
"T-tunggu Maehara-kun! Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba—"
"Maaf, tapi aku sedang banyak masalah sekarang dan aku harus melakukan hal ini. Selamat tinggal."
Maehara memutus sambungan teleponnya sebelum mantan pacarnya itu mengatakan sesuatu lagi. Hanya itulah satu-satunya cara yang terpikir oleh Maehara untuk mengakhiri hubungannya dengan gadis cerewet itu. Biasanya hal ini dilakukannya karena dia mendapatkan seorang gadis yang lebih baik dari sebelumnya, namun tidak kali ini.
~SS~
Okano Hinata berjalan dengan kepala tertunduk menuju kelasnya. Dia merasakan kedua pipinya memanas mengingat kejadian kemarin. Bagaimana kalau ada yang melihatnya? Bisa-bisa aku akan jadi bahan tertawaan sampai lulus dari sini! Tapi, yang paling penting, bagaimana aku menghadapi Maehara setelah kejadian memalukan itu?
"Arrgh! Dasar Hinata bodoh!" cacinya sambil memukui kepalanya sendiri.
"Ohayou, Okano-san!"
Okano menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati Nagisa sedang berjalan bersama dengan Kayano menuju kelas. Dan dia mendapat sebuah ide.
"Kayanocchi, Nagisa-kun, kalian sudah mengerjakan tugas matematika dari Koro-sensei kemarin? Aku sedikit bingung dengan soal nomor 4, apakah kalian bisa?" tanya Okano, mendadak antusias.
"Ah, itu mudah Okano-san!" jawab Kayano. "Kau tinggal mengubah persamaan disana menjadi perkalian dua persamaan, lalu..." Okano tidak mendengarkan perkataan selanjutnya. Tidak, karena dia sudah mengetahui bagaimana cara menyelesaikan soal itu. Dia hanya ingin agar Kayano berbicara padanya sampai di kelas. Dia hanya ingin bisa menghindari Maehara sampai waktunya tiba, yaitu saat pulang sekolah.
Dan ada seseorang yang menyadari hal itu.
~SS~
"Hei Maehara, kudengar kau baru saja putus dengan pacarmu ya?" tanya Okajima antusias.
Isogai yang kebetulan mendengarnya memasang telinga baik-baik. Maehara putus dengan pacarnya memang bukan hal baru, tapi mengingat bahwa Okano menyatakan perasaan pada Maehara kemarin...
"Begitulah," jawab Maehara terkesan tidak peduli.
Dada Isogai terasa sakit. Jadi benar, Maehara menyukai Okano, dia bahkan memutuskan pacarnya demi gadis itu.
"Kalau begitu, bolehkah dia untukku?"
Maehara tertawa. "Ambil saja, itu kalau dia mau dengan lelaki mesum sepertimu." Murid-murid lainnya ikut tertawa. Tapi, tidak dengan Isogai, dadanya terlalu sakit untuk bisa tertawa. Diliriknya sekilas Okano yang duduk disampingnya. Gadis itu tidak ikut tertawa dan kedua pipinya bersemu merah.
"Maehara," kali ini Nakamura yang bersuara. "biasanya kalau kau sudah memutuskan pacarmu seperti ini, kau menemukan gadis yang lebih baik, kan? Jadi, siapa gadis itu?" godanya.
Isogai kembali mendengarkan. Dia penasaran dengan jawaban Maehara. Apa dia akan mengatakan dengan lantang bahwa Okano-lah gadis itu? Atau, yang diharapkan Isogai, Maehara akan mengatakan nama seorang gadis dari sekolah lain yang tidak dianggap serius oleh Maehara.
Maehara tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya, kepalanya tertunduk dan ekspresinya tidak terbaca. Kemudian dia melangkah menuju pintu kelas sambil berkata, "Itu bukan urusan kalian."
~SS~
Maehara menendang kerikil di jalan yang dilewatinya. Pemuda itu kesal, kenapa di dunia ini ada orang seperti Okajima dan Nakamura yang suka ikut campur urusan orang lain? Yang paling membuatnya kesal adalah pertanyaan yang ditanyakan Nakamura tadi, "...siapa gadis itu?"
Ada dua alasan kenapa Maehara tidak mau menjawab pertanyaan itu. Pertama, karena Nakamura salah. Maehara tidak memutuskan pacarnya karena menemukan gadis yang lebih baik. Ya, Okano memang jauh lebih baik daripada pacarnya itu, tapi tetap saja, hatinya milik orang lain. Dan yang kedua, pertanyaan Nakamura membuatnya kembali teringat kata-kata Isogai kemarin untuk mencoba menerima Okano. Jujur saja, sampai saat ini Maehara tidak yakin dia harus menolak atau membalas perasaan gadis itu. Namun waktu terus berjalan, dan Maehara tidak bisa menunda-nunda hal itu lebih dari beberapa jam lagi karena bel istirahat makan siang berakhir baru saja berbunyi nyaring.
~SS~
Okano melirik jam dinding kelas dengan gelisah. Beberapa menit lagi pelajaran akan berakhir, dan dia tidak bisa menghindar lebih lama lagi. Sungguh, Okano menyesal telah mengatakan hal yang gegabah. Kalau saja kemarin dia tidak mengatakan hal itu, pasti hari ini dia tidak perlu merasa malu dan terus menghindari Maehara. Tapi, kalau kemarin dia tidak menyatakan perasaannya, dia mungkin tidak akan pernah tau bagaimana perasaan Maehara padanya. Dan mengingat kenyataan bahwa Maehara baru saja memutuskan pacarnya membuat Okano sedikit berharap. Mungkinkah Maehara memutuskan pacarnya demi aku?
Bunyi bel tanda pelajaran berakhir terdengar nyaring. Semua murid kelas 3-E segera mengemasi barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Senjata mereka adalah satu-satunya barang yang tidak dimasukkan ke dalam tas.
"Baiklah minna-san, pelajaran hari ini cukup sampai disini," kata Koro-sensei, "hati-hati di jalan dan pastikan kalian langsung pulang ke rumah." Sebuah peluru BB melesat ke arahnya, namun Koro-sensei dengan cepat bisa menghindar. Dia melirik ke arah Chiba yang membawa sniper. "Nurufufufufu, rupanya kalian masih bersemangat untuk membunuhku, sayangnya aku harus menonton konser di Amerika, jadi selamat tinggal!" Dan sekejap kemudian Koro-sensei pun menghilang. Sekali lagi murid kelas 3-E gagal untuk membunuhnya.
Satu per satu murid mulai meninggalkan kelas, hingga disana hanya tersisa tiga murid dengan tempat duduk berdampingan.
"Maehara, kau tidak pulang?" pemuda bersurai hitam bersuara.
Maehara tersenyum tipis. "Maaf Isogai, kau pulang duluan saja, aku masih ada urusan dengan Okano."
Dada Okano berdegup lebih cepat dari biasanya. Maehara mengingat apa yang dia katakan kemarin. Harapan Okano naik satu tingkat lebih tinggi. Mungkinkah Maehara akan menerimanya?
"Kalau begitu baiklah, aku akan pulang duluan," jawab Isogai dengan senyum manis tersungging di wajahnya. Kemudian dia pergi keluar dari kelas, meninggalkan Maehara dan Okano saja di dalam kelas.
~SS~
Isogai bersembunyi di samping pintu kelas. Sebisa mungkin pemuda bersurai hitam itu menahan nafasnya agar tidak ketahuan. Karena meskipun Maehara terkadang tidak peka, dia tetap anggota kelas 3-E yang tengah dilatih untuk membunuh Koro-sensei. Sungguh, Isogai sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini, tapi dia tidak bisa menahan rasa penasarannya. Itu sebabnya dia mengambil resiko akan kemungkinan dia ketahuan dan resiko sakit hati apabila Maehara menerima Okano. Tapi tentu saja resiko itu sebanding apabila ternyata Maehara menolak Okano.
"Kelihatannya kita sudah benar-benar sendirian sekarang," terdengar suara Maehara dari dalam kelas.
"Jadi... soal perasaanmu kemarin.. sebenarnya aku tidak begitu yakin soal ini, tapi.."
Jantung Isogai berdetak lebih kencang.
"aku menerimanya."
Dan hati Isogai terasa seperti pecah berkeping-keping. Dadanya terasa amat sakit dan air matanya mendesak untuk keluar. Dia berjalan menjauhi kelas dengan langkah terseok-seok. Ketika telah sampai di jalan raya, dia mulai berlari tanpa tujuan.
Kedua matanya telah buram karena tertutup air mata. Makian orang-orang yang ditabraknya sama sekali tidak dipedulikannya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah kenyataan pahit bahwa Maehara menerima Okano.
GRAB!
Isogai merasa seseorang mencengkram pergelangan tangan kanannya. Betapa terkejutnya dia saat menoleh dan mendapati orang itu adalah sang ketua OSIS SMP Kunugigaoka.
"Asano Gakushuu!" pekiknya, segera menarik tangannya dan menggunakan lengan kemeja untuk menghapus air mata di wajahnya.
Pemuda beriris violet itu tersenyum."Kau Isogai Yuuma dari kelas 3-E bukan? Kenapa kau berlari-lari seperti itu? Tidak sadarkah kau kalau dirimu hampir saja terancam maut?"
Isogai mengerjap bingung. Namun saat menoleh ke depan dia paham, lampu lalu lintas untuk pejalan kaki menunjukkan warna merah, dan banyak sekali kendaraan yang melintas, Dia benar-benar beruntung Asano menyelamatkannya.
"Terima kasih karena telah menolongku, sekarang aku permisi." Isogai baru saja akan melangkah menjauhinya saat pemuda itu berkata, "Sepertinya kau sedang ada masalah dan pikiranmu sedang kalut, bagaimana kalau kau tenangkan dirimu dulu?"
Isogai mengernyitkan dahi, otaknya mulai bisa berpikir jernih. Asano Gakushuu bukan orang yang terlalu dikenalnya, mereka hanya bertemu saat rapat ketua kelas saja, jadi tidak salah kan kalau dia menolak ajakannya?
"Maaf, tapi aku harus pulang sekarang."
"Tapi kau terlihat sangat kalut, sepertinya kau butuh coklat panas, tenang saja aku akan mentraktrimu. Tidak ada salahnya bukan kau menenangkan dirimu sebentar?"
Kata-kata Asano memang benar. Dia sedang kalut dan perlu menenangkan diri. Yah, mungkin memang tidak ada salahnya menerima ajakan dari Asano.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih Asano-kun."
Asano hanya tersenyum sebagai respon. Kemudian mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan area penyebrangan tanpa menyadari ada dua pasang mata dari tempat yang berbeda menatap mereka dengan ekspresi yang sama, yaitu marah.
Tidak Isogai, kau salah. Menerima ajakan dari Asano hanya akan menimbulkan masalah.
TBC
Gimana menurut kalian chapter 2 ini? Ada kritikan kah? Omong-omong saya waktu nulis bagian Isogai broken heart itu rasanya agak nyesek loh #curcol Oh ya, ada yang tau nggak siapa dua orang yang lihat Isogai sama Asano? Yang satu jelas ketebak sih, tapi yang satunya...mungkin susah ditebak. Yah, tunggu saja di chapter 3 nanti identitas mereka akan terbongkar. Nurufufufufu #ketawaalakoro-sensei
Sign,
Aikashita Scarlet
