Disclaimer: Ansatsu Kyoushitsu/Assassination Classroom belong to Yuusei Matsui

Warning(s): OOC (mungkin), AT, typo(s), Shounen-ai, Straight, MaeIso, slight!MaeOka AsaIso

A/N: Minna-san! Scarlet kembali dengan chapter 3 nih.. XD Saya habis baca review jadi ketawa-ketawa sendiri sampe Okaa-san ngirain saya nggak waras #abaikan oh ya, buat yang tebak-tebakan kemarin ternyata ada yang bener loh, jangan-jangan bisa baca pikiran saya? ._. Trus ada yang nanya kenapa Asano kok kayak kerasukan malaikat, masa' sih? Bukannya dia emang ketua OSIS yang baik hati dan tidak sombong? :3 #mitos Dan karena ada yang nyaranin buat lebih panjang, etto, chapter depan saya usahain, soalnya chapter ini udah kelar waktu saya baca review, mau saya rombak eh ternyata Okaa-san ngajak ke Surabaya, pulangnya mampir ke Gramedia XD #curcol

Tapi semoga nggak mengecewakan deh. Happy reading!

Maehara menggulingkan tubuhnya kesana kemari diatas tempat tidur. Pikirannya dipenuhi oleh kejadian yang baru saja disaksikannya tadi. Isogai, berjalan beriringan dengan Asano Gakushuu? Arrgh! Rasanya Maehara ingin memukul sesuatu.

Berkali-kali pemuda bersurai oranye kecoklatan itu memikirkan alasan yang mungkin untuk kejadian yang telah disaksikannya, namun dia tidak menemukan jawabannya. Apakah itu acara khusus untuk pengurus kelas? Tidak mungkin, karena Megu tidak ada disana. Apakah mereka pulang bersama? Ini lebih tidak mungkin karena hari ini tidak ada rapat, lagipula Isogai tadi sempat mengajaknya untuk pulang bersama.

Mungkinkah Isogai pulang bersama Asano karena Maehara menolak ajakannya? Maehara berusaha untuk tidak menertawai pikirannya sendiri. Itu sangat tidak mungkin! Jika memang itu alasannya, tentu saja Isogai bisa mengajak orang lain yang lebih baik dari Asano untuk pulang bersama, seperti Nagisa atau Megu misalnya. Tapi, itu membuat pertanyaan Maehara kembali tidak terjawab. Apa alasannya Isogai berjalan bersama Asano? Tunggu! Jangan-jangan alasannya adalah...

Tiba-tiba ponsel Maehara berdering nyaring. Dahinya mengernyit melihat nama yang tertera di layar. Okano?

"Halo?"

"Ma—Hiroto-kun, aku ingin menanyakan sesuatu."

~SS~

BRAK!

Sebuah telapak tangan besar menggebrak meja Isogai, membuat sang pemilik meja yang sedang berpura-pura membaca buku terlonjak kaget. Sebenarnya hari ini dia ingin menutupi matanya yang sembab karena menangis semalaman dengan berpura-pura membaca buku sampai bel pulang berbunyi. Karena itulah dia menolak saat Megu mengajaknya makan siang di luar bersama yang lain.

Diliriknya pelaku penggebrakan tadi dengan marah, dan betapa tercengangnya dia saat mendapati orang itu adalah Terasaka, dengan gengnya yang berdiri tak jauh di belakang pemuda besar itu.

"Terasaka, ada apa?" tanya Isogai, sedikit kesal.

Terasaka mendecih. "Dasar kau pengkhianat! Hentikan kepura-puraanmu!"

Isogai sontak berdiri, dia terkejut. Apa maksudnya ini? Bagaimana Terasaka bisa tau dia hanya berpura-pura membaca buku? Tapi apa hubungannya dengan pengkhianatan? Isogai sama sekali tidak mengerti. "Apa maksudmu?"

Terasaka tertawa. "Sudah kubilang bukan, hentikan kepura-puraanmu! Kau pikir aku tidak tau?"

"Tidak tau apa?"

"Tentu saja soal kepura-puraanmu, bodoh! Kau pikir aku tidak tau bahwa kau kemarin berjalan bersama si brengsek Asano Gakushuu sepulang sekolah?"

Lagi-lagi Isogai dibuat terkejut. Kejadian kemarin muncul kembali dalam ingatannya. Dia yang berlari tanpa tujuan dan kemudian diselamatkan oleh Asano. Bagaimana Terasaka bisa tau soal itu? Dan juga, apa hubungannya berjalan bersama Asano dengan menjadi pengkhianat? Dia baru saja membuka mulut untuk bertanya saat Terasaka berkata lagi. "Jangan tanya bagaimana aku bisa tau, karena itu tidak penting!"

"Sebenarnya Terasaka hanya tidak ingin ketahuan kalau dia melihatmu sepulangnya dari Maid Cafe kemarin," celetuk Hazama yang dihadiahi dengan tatapan mengancam dari Terasaka.

Jika Isogai tidak sedang sakit hati karena Maehara atau bingung dengan ucapan Terasaka, mungkin dia akan tertawa, atau paling tidak, tersenyum. Tapi itu tidak dilakukannya. Dia malah bertanya dengan lantang, "Lalu apa maksudmu memanggilku pengkhianat?"

~SS~

Maehara bergerak-gerak gelisah diatas tempat duduknya. Sungguh, dia tidak tahan mendengarkan percakapan Isogai dengan Terasaka. Ingin rasanya dia berdiri dari tempat duduknya dan membela Isogai habis-habisan. Namun hal itu tak bisa dilakukannya mengingat saat ini dia sedang makan siang bersama Okano, dan dia tidak ingin menyakiti perasaan gadis yang sudah susah payah memasakkan makanan kesukaannya itu. Ya, kemarin Okano menelepon hanya untuk menanyakan hal itu.

Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, murid-murid yang tersisa di kelas hanya terdiam dengan kepala menunduk. Maehara mengumpat dalam hati. Apa-apaan mereka? Apa mereka percaya begitu saja pada kata-kata Terasaka?

Terasaka tertawa keras, membuat perhatian Maehara kembali padanya dan Isogai. "Tentu saja itu karena kau memang pengkhianat, bodoh! Kau pulang bersama dengan orang yang paling membenci dan dibenci oleh kelas 3-E, bukankah itu namanya pengkhianatan? Coba beritahu aku, apa saja rahasia kelas yang sudah kau bocorkan padanya?"

Cukup! Maehara sudah tidak tahan lagi. Dia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri mereka berdua dengan penuh kemarahan. "Hei Terasaka, kuberitahu kau, Isogai bukan orang yang seperti itu! Dia tidak mungkin membocorkan rahasia orang lain, apalagi rahasia kelas, kepada siapapun!"

"Dan bagaimana kau bisa yakin dengan hal itu? Bagaimana kau bisa yakin dia tidak akan mengkhianati kelas ini?"

"Itu karena..." akulah yang paling mengetahui bagaimana Isogai, itu karena aku menyukainya dan selalu memperhatikannya, itu karena dialah orang yang paling bisa kupercaya. "...aku percaya padanya, dan dia adalah sahabatku yang paling dekat."

"Itu tidak dapat—"

"Hentikan Terasaka! Selama ini Isogai telah menjadi ketua kelas yang bertanggung jawab, dia tidak mungkin melakukan hal yang konyol seperti itu!" terdengar suara Okano menyahuti dari belakang Maehara.

Terasaka bungkam mendengar kenyataan yang dilontarkan Okano, hingga akhirnya dia mendecih dan keluar dari kelas diikuti gengnya.

"Isogai-kun, kau tidak apa-apa?" tanya Okano khawatir.

Isogai mengangguk dan tersenyum pada kedua orang yang telah membantunya, tapi Maehara segera bisa menangkap ada sesuatu yang aneh dari senyumannya, seolah senyuman itu agak dipaksakan. Apa yang terjadi pada Isogai?

~SS~

"Aku tidak apa-apa, terima kasih telah membantu."

Okano tertawa riang. "Untunglah! Seandainya saja tadi Hiroto-kun tidak..."

Mata Isogai terbelalak lebar. Hiroto-kun? Okano memanggil Maehara dengan nama kecilnya? Sakit. Sakit. Jika saat ini dia tidak berada di sekolah, mungkin wajah tampan Isogai telah berlumur air mata. Tapi ditahannya rasa sakit itu. Tidak! Dia tidak boleh seperti ini! Dia harus membiarkan Maehara bahagia, karena dengan cara itulah dia menunjukkan rasa cintanya pada Maehara.

"Isogai!"

Pemuda bersurai hitam itu tersentak. "A-apa?"

"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Maehara khawatir.

"Sudah kubilang, aku—"

Maehara menggeleng. "Maksudku bukan soal Terasaka, tapi soal Asano."

Isogai memasang wajah bingung, jadi Maehara melanjutkan, "Aku tau, kau memang tidak mungkin membocorkan rahasia kelas pada Asano, tapi aku takut kalau kau, yah, hanya dimanfaatkan olehnya."

Diakui atau tidak, Isogai memang tidak terlalu mengenal Asano. Tapi, mengingat bagaimana pemuda bersurai oranye itu menolongnya kemarin, rasanya tidak mungkin dia memanfaatkan Isogai. "Itu tidak mungkin, Maehara. Asano-kun bukan orang yang seperti itu."

Ekspresi Maehara mengeras. "Yah, aku kan hanya mengingatkanmu saja," katanya sambil mengedikkan bahu dan berjalan kembali ke tempat duduknya bersama Okano. Ada apa dengan Maehara? Sikapnya sungguh aneh.

~SS~

Aneh. Hanya satu kata itu yang dapat diungkapkan oleh Okano melihat sikap Maehara setelah mereka menolong Isogai tadi. Entahlah, menurut Okano si surai oranye kecoklatan itu terlihat sedikit lebih pendiam daripada biasanya. Ada apa dengannya?

Yah, karena pelajaran terakhir hari ini gurunya adalah Bitch-sensei yang sedang memiliki urusan sehingga tidak bisa mengajar, Okano mungkin bisa menghabiskan waktunya untuk memikirkan apa yang aneh dengan Maehara.

"O-ka-no!" sapa seorang Nakamura Rio sambil berhenti tepat di depan tempat duduk Okano. Gadis bersurai hitam pendek itu mengalihkan pandangan dari orang yang duduk di sampingnya dengan malas. Dan dia melihat mata Nakamura yang berbinar-binar. Oh tidak, jangan-jangan..

"Kudengar tadi kau memanggil Maehara dengan sebutan 'Hiroto-kun', memangnya ada apa dengan kalian berdua?" tanya Nakamura antusias.

Okano panik, apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. "Etto, a-aku, kami, kami.."

"Saat ini aku memang sedang menjalin hubungan dengan Hinata, memangnya kenapa?" ujar Maehara tanpa beranjak dari tempat duduknya.

Nakamura terlihat seperti akan melonjak-lonjak kesenangan mendengar jawaban Maehara. "Aku tau! Aku tau sejak dulu pasti ada sesuatu diantara kalian berdua!" Kemudian dia berpaling pada Maehara. "Hei Maehara, karena sekarang kau sudah bersama Okano, jangan pernah pergi dengan gadis lain!"

Maehara tertawa, namun bagi Okano tawanya terasa seperti dipaksakan. Okano jadi merasa khawatir padanya. "Tenang saja, aku tidak mungkin melakukan hal yang seperti itu, apalagi kalau mengingat bagaimana dia marah."

Baiklah, Okano menarik kata-katanya kembali. Maehara sama sekali tidak berubah, dia tetaplah orang yang konyol dan menyebalkan.

~SS~

Isogai memasukkan semua barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Dia baru saja akan mengajak Maehara pulang bersama saat teringat bahwa kini Maehara memiliki orang yang lebih penting darinya. Rasa sakit kembali menyerang hati Isogai.

"Isogai-kun, hari ini sepertinya kau agak tidak enak badan, mau kuantar pulang?" tanya Megu. Kedua pipi Isogai merona. Seorang gadis seperti Megu menawarkan diri untuk mengantar pemuda sepertinya? Sungguh memalukan.

"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."

Megu menggelengkan kepalanya. "Baiklah, kalau begitu aku akan menemanimu sampai jalan raya."

Isogai sebenarnya ingin menolak, tapi dia tau, Megu tidak akan mendengarkannya, jadi mau tak mau dia pergi keluar kelas bersama Megu. Mereka tak banyak mengobrol di jalan, sebagian waktu mereka gunakan untuk diam dan memperhatikan jalan. Setidaknya itu yang dilakukan Megu, sedangkan Isogai bukannya memperhatikan jalan malah melamun.

Dia kembali memikirkan pertengkarannya dengan Terasaka tadi. Memangnya salah kalau dia berjalan bersama Asano Gakushuu? Pemuda itu kan sudah menyelamatkannya, jadi tak masalah kan kalau Isogai menerima ajakannya? Tidak mungkin kan kalau Asano hanya memanfaatkannya? Dan juga Maehara, sikapnya tadi sungguh aneh. Tidak biasanya pemuda itu menuduh orang lain dan bertingkah seolah-olah tidak peduli. Ada apa dengannya?

"Isogai-kun!"

Isogai tersentak dari lamunannya dan memandang Megu dengan bingung.

"Kita sudah sampai di jalan raya, tapi kau yakin kau tidak apa-apa?"

Isogai mengangguk mantap. "Aku tidak apa-apa, pulanglah dan hati-hati di jalan!"

Dan Megu pun pergi meninggalkan Isogai sendirian di tepi jalan raya. Isogai baru saja akan melangkahkan kaki untuk pulang ke rumahnya saat sebuah suara memanggilnya dari arah belakang. Pemuda itu membalikkan badannya dan terkejut melihat orang yang menyapanya.

"A-asano-kun?!"

TBC

Kyaa, OOCness everywhere! DX

Ada apa dengan saya? Kenapa di chapter ini banyak chara yang OOC? Alurnya lambat, pemotongan endingnya kurang tepat pula! Ya, apa mau dikata, nasi udah menjadi bubur. Scarlet usahain chapter depan bakal lebih baik, jadi stay tune di Act of Love ya, jangan bosen nungguin saya update :3 #dihajar

Sign,

Aikashita Scarlet