Disclaimer: Ansatsu Kyoushitsu/Assassination Classroom belong to Yuusei Matsui
Warning(s): OOC (mungkin), AT, typo(s), Shounen-ai, Straight, MaeIso, slight!MaeOka AsaIso
A/N: Yo minna! Chapter 4 nih! Akhirnya fict ini udah sampe klimaks. Kayaknya chapter depan bakalan jadi chapter terakhir deh. Oh ya, gomen ne, ternyata Scarlet emang nggak bisa ngetik fict lebih panjang soalnya nanti kalo lebih panjang pemotongan endingnya jadi kurang pas u,u
Tapi semoga chapter ini nggak mengecewakan. Happy reading! ^^
"...Asano-kun bukan orang yang seperti itu."
Lagi-lagi ucapan Isogai terngiang di kepala Maehara. Apa maksudnya mengatakan hal seperti itu?
"Hiroto-kun!"
Memangnya seberapa jauh Isogai mengenal Asano?
"Hiroto-kun!"
Tidak ingatkah dia apa saja hal buruk yang telah dilakukan Asano pada mereka?
Sebuah pukulan yang cukup sakit mengenai kepala Maehara. Diliriknya gadis yang sedang berjalan bersamanya dengan tatapan kesal. "Kenapa kau memukulku?"
"Aku memanggilmu berkali-kali, tapi kau sama sekali tidak menyahut! Apa sih yang sedang kau pikirkan?"
Maehara berusaha tertawa, tapi tawa itu terdengar dipaksakan bahkan bagi telinganya sendiri. "Aku hanya..." Dan kemudian dia melihatnya. Pemandangan yang sama dengan apa yang dilihatnya kemarin. Ekspresinya mengeras. Perasaan marah, cemburu, khawatir dan penasaran bercampur aduk dalam dirinya. Kenapa Isogai lagi-lagi bersama dengan orang itu? Dia harus tau alasannya! Dan yang paling penting, dia harus melindungi Isogai agar tidak sampai dimanfaatkan oleh Ketua OSIS licik itu!
~SS~
"Okano, pulanglah duluan. Aku ada urusan," kata Maehara tanpa mengalihkan pemandangan dari dua orang yang kini telah melangkah menjauhi mereka.
Okano tersentak. Maehara kembali memanggilnya dengan marganya? Padahal baru saja tadi dia memanggil gadis itu dengan nama kecilnya! Apa itu karena dia memukul kepala Maehara lagi? Tapi apa-apaan Maehara itu! Dia berbicara—memerintah—Okano tanpa melihatnya, tidak sopan sekali! Tapi setelah Okano mengikuti arah pandangan pemuda itu dia akhirnya mengerti.
"Kau mau mengikuti mereka? Aku ikut!"
Maehara menoleh, wajahnya terlihat terkejut sekaligus marah. "Ini bukan urusanmu, lebih baik kau pulang saja!"
Okano menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tau Isogai adalah sahabatmu, dan kau khawatir padanya, tapi dia juga ketua kelas 3-E, dan bisa jadi ini adalah urusan kelas. Dan satu lagi, aku lebih pintar menyamar dan lebih lincah daripada kau, jadi akan lebih baik kalau aku ikut. Sekarang ayo, sebelum kita kehilangan jejak mereka!" Dan dengan itu, Okano menarik pergelangan tangan Maehara ke arah Isogai dan Asano terakhir terlihat.
~SS~
"Jadi Asano-kun, kita mau kemana?"
Asano hanya tersenyum. "Kau akan tau sendiri nanti."
Bukan itu jawaban yang diharapkan Isogai. Dia berharap Asano akan menjelaskan kemana tujuan mereka, dia berharap tempat tujuan mereka tidak terlalu jauh. Karena selain Isogai tidak mempunyai banyak uang, dia juga tidak begitu mempercayai Asano. Dia memenuhi ajakan pemuda itu hanya untuk membalas jasanya kemarin. Hanya itu dan tidak lebih.
Kalau begitu kenapa tadi dia bisa mengatakan dengan yakin pada Maehara bahwa Asano tidak akan memanfaatkannya? Entahlah, dia sendiri tak bisa menjawab pertanyaan itu. Kemarin otaknya sedang tidak berfungsi dengan baik. Tapi sekarang setelah dia bisa kembali berpikir jernih, kata-kata Maehara terasa mungkin. Tapi jika Asano mengajaknya ke tempat yang berbahaya atau melakukan sesuatu yang buruk padanya, dia bisa mengatasinya sendirian, kan?
"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membawamu ke tempat yang jauh atau berbahaya, jika itu yang kaupikirkan."
Isogai menunduk, kedua pipi Isogai memerah. Sungguh, dia malu telah memikirkan sesuatu yang buruk seperti itu, dan lebih malu lagi saat Asano ternyata mengetahuinya.
"Nah, kita sampai."
Sudah sampai? Cepat sekali! pikir Isogai. Dia mendongakkan kepalanya dan terkesiap. "I-ini..."
~SS~
Maehara dan Okano berhenti agak jauh di belakang Asano dan Isogai. Keduanya sama terkejutnya dengan Isogai. Apa maksudnya si kepala oranye itu mengajak Isogai ke taman bermain seperti ini? Tidak mungkin kalau dia hanya ingin bersenang-senang bersama Isogai. Lagipula kenapa harus Isogai? Asano Gakushuu bisa mengajak siapapun untuk ke taman ria bersamanya, tapi kenapa dia memilih Isogai? Pasti ada alasan khusus dibalik ini semua.
"Hei lihat, mereka masuk! Ayo sebaiknya kita juga!"
Lagi-lagi gadis itu menarik pergelangan tangan Maehara. Mereka membeli tiket masuk dan kembali mengikuti Asano dan Isogai dengan jarak yang aman, berusaha tidak tampak oleh mereka namun tetap terlihat tidak mencurigakan. Pandangan Maehara terfokus pada Isogai. Si surai gelap itu ;ebih banyak diam, namun terkadang tersenyum atau mengatakan sesuatu yang singkat namun di luar jangkauan telinga Maehara. Sungguh, saat ini tidak ada yang lebih diinginkan Maehara selain membuat kedua orang itu berpisah. Dengan perasaan masih bercampur aduk, dia berkata, "Okano, kita ubah rencana."
Okano mengerjapkan matanya bingung. "Apa maksudmu?"
"Kita tidak lagi membuntuti mereka, kita harus berusaha memisahkan mereka!"
"Tapi mereka—" Kemudian Okano merasakannya. Sebuah perasaan yang tidak pernah ditunjukkan Maehara pada siapaun sebelumnya, perasaan cemburu. Dan perasaan itu terasa sangat kuat sehingga membuat gadis itu hanya bisa tersenyum miris.
"Baiklah, ayo kita coba."
~SS~
"Adakah wahana yang ingin kaucoba?"
Isogai menundukkan kepalanya. Sejujurnya dia sangat jarang pergi ke taman bermain seperti ini sejak kecil, bahkan mungkin hanya satu kali. Kini setelah dia berada disini, dia ingin mencoba semuanya. Tapi dia tidak cukup mempercayai Asano untuk mengatakannya. Yang keluar dari mulutnya adalah, "Aku ingin mencoba roller coaster."
Asano mengangguk dan mereka pun mengambil tempat dalam antrian pelanggan yang ingin menaiki roller coaster. Mereka terlalu sibuk dengan apa yang ada di pikiran mereka masing-masing sehingga tidak memperhatikan dua orang yang segera menganti di belakang mereka. Dua orang yang hanya mereka anggap sebagai pasangan berisik.
~SS~
"Sekarang bagaimana?" tanya Okano. "Mereka naik roller coaster, dan kita tidak mungkin bisa memisahkan mereka tanpa ketahuan atau menimbulkan kecurigaan."
Maehara terdiam. Otaknya bekerja memikirkan sebuah cara untuk memisahkan Asano dan Isogai, tapi hasilnya nol. Okano benar, tidak mungkin memisahkan mereka tanpa ketahuan atau membuat mereka curiga.
"Kalau begitu kita awasi saja mereka, jika si kepala oranye itu melakukan sesuatu yang mencurigakan, aku akan bertindak."
"Bertindak? Apa maksudmu? Kuharap kau tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan dirimu terkena masalah!"
Tapi Maehara tidak menjawab. Kepalanya dipenuhi dengan pikiran soal Isogai, Isogai, dan hanya Isogai hingga tak tersisa sedikit saja tempat untuk memikirkan ucapan Okano.
Ketika kesempatan mereka menaiki roller coaster tiba, Maehara segera mengambil tempat tepat di belakang Asano dan Isogai, yang menurut Okano sedikit nekat. Tapi gadis itu tidak berkata apa-apa, dia hanya diam dan duduk di samping Maehara. Melihat pacarnya senekat itu demi orang lain membuat hatinya terasa sakit. Sangat sakit, karena dia tau, perilaku yang ditunjukkan Maehara pada Isogai bukanlah perilaku yang biasa ditunjukkan seseorang pada sahabatnya.
~SS~
Maehara berjalan dengan pandangan terfokus pada punggung Isogai. Dia dan Okano telah mengikuti dan berusaha memisahkan Asano dan Isogai selama hampir tiga jam. Dan itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Orang yang mereka ikuti hanya mencoba menaiki wahana ini dan itu tanpa sekalipun membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kelas 3-E. Bahkan bisa dibilang mereka tidak begitu sering bicara. Maehara sedikit senang dengan kenyataan itu, tapi firasatnya bahwa Asano mungkin memanfaatkan Isogai masih ada.
Kemudian dilihatnya mereka berbelok menuju wahana bianglala raksaksa. Akhirnya Maehara mengerti. Kalau Asano dan Isogai menaiki bianglala bersama, mereka bebas mengatakan apapun tanpa perlu khawatir akan didengar oleh orang lain. Pasti saat itulah yang telah ditunggu-tunggu Asano. Saat itu mungkin dia akan mengancam Isogai untuk membocorkan rahasia kelas 3-E padanya. Dan Maehara tidak akan membiarkannya.
"Okano, pisahkan mereka sekarang!"
Okano tersentak. "Tapi, bagaimana caranya? Kita tidak mungkin tiba-tiba menarik Isogai menjauhi Asano, kan?"
"Telepon dia, pura-pura bertanya soal tugas yang diberikan Koro-sensei atau apapun, terserah!"
Maehara terlihat begitu marah dan khawatir di saat yang bersamaan. Okano tidak sanggup melihatnya, itu terlalu menyakitkan. Jadi dia menjauh dan menuruti perkataan Maehara untuk menelepon Isogai, dengan air mata yang mulai menetes perlahan.
Sementara itu, Maehara masih memperhatikan Asano dan Isogai dalam jarak aman. Dalam hati dia berharap agar Okano dengan cepat melaksanakan permintaan—perintah—nya. Begitu melihat Isogai menatap layar ponsel dan berjalan menjauh dari Asano, perasaan lega membanjiri dirinya. Kini yang harus dilakukannya adalah membuat Isogai menyadari bahwa hari telah larut dan dia harus pulang. Namun saat pandangan Maehara tak sengaja menangkap sosok Asano yang juga sedang berkutat dengan ponselnya, kecurigaannya kembali timbul. Dan pemuda itu pun mengikuti Asano.
~SS~
"Halo?"
"Apa? Aku tak bisa mendengarmu! Aku sedang berada di taman bermain sekarang."
Dilihat dari percakapannya, sepertinya orang yang menelepon Asano adalah salah satu dari Five Virtuosos. Mungkin Seo? Sakakibara Ren? Siapapun itu tidak penting. Yang terpenting adalah apa yang mereka bicarakan.
Asano menyunggingkan senyum. "Memang, kau tidak perlu khawatir. Aku punya rencana tersendiri."
"Kau tau soal ungkapan 'impress him, then press him'? Itulah yang sedang kulakukan."
Impress him, then press him? Ungkapan apa itu? Impress, kesan, mengesankan. Press...tekanan, pemaksaan. Jadi, arti ungkapan itu adalah kesankan dia lalu paksa dia! Dasar brengsek!
Maehara sudah tidak bisa menehan emosinya lebih lama lagi. Asano Gakushuu, orang itu benar-benar brengsek di matanya. Dia keluar dari tempat persembunyiannya dan melayangkan kepalan tinjunya dengan keras tepat di pipi kanan Asano bahkan sebelum orang itu menyadari keberadaannya. Alhasil Asano jatuh tersungkur dan ponselnya terlempar tak jauh darinya.
Asano memandang sosok yang menyerangnya dengan sorot terkejut dan sedikit ketakutan. Namun begitu dia mengenali siapa sebenarnya sosok itu, sorot itu hilang, digantikan oleh pandangan meremehkan. Sebuah senyum licik tersungging di wajahnya.
"Halo Maehara Hiroto dari kelas 3-E. Apa yang sedang kaulakukan disini? Bukankah seharusnya saat kau sedang belajar dengan keras di rumah agar bisa keluar dari kelas E?" katanya, tanpa sedikit pun berusaha untuk bangkit.
"Hentikan omong kosongmu! Aku tau selama ini kau hanya memanfaatkan Isogai."
"Dan bagaimana kau mengetahuinya? Apakah kau punya bukti?"
"Ya! Aku mendengar percakapanmu di telepon tadi."
"Ah percakapan itu. Jadi, apakah tadi kau mendengar aku berkata bahwa aku memanfaatkan Isogai Yuuma?"
Tidak. Tentu saja Maehara tidak mendengarnya karena Asano memang tidak pernah mengatakan hal itu. Dialah yang mengambil kesimpulan itu, dan parahnya, tanpa disertai bukti yang kuat. Sial! Maehara sudah terjatuh dalam perangkapnya!
"Asano-kun!" terdengar suara Isogai dari belakang Maehara, membuat pemuda itu menoleh. "Maehara! Apa yang..." Kata-katanya menghilang begitu saja saat melihat Asano dan Maehara bergantian. Isogai terkesiap. Sahabatnya yang bodoh itu benar-benar akan mendapatkan masalah, masalah yang sangat besar.
TBC
Yosh! Chapter 4 finished! Gimana menurut kalian?Tulis pendapat, kritik dan saran kalian di kolom review ya! Oh ya, karena sebentar lagi mau lebaran, Scarlet mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan! Minal Aidzin wal Fa'idzin, Scarlet mohon maaf kalo banyak kekurangan dan kesalahan ^^
Sign,
Aikashita Scarlet
