Disclaimer: Ansatsu Kyoushitsu/Assassination Classroom belong to Yuusei Matsui
Warning(s): OOC (mungkin), AT, typo(s), Shounen-ai, Straight, MaeIso, slight!MaeOka AsaIso
A/N: Doumo minna-san! Scarlet datang dengan chapter 5 nih. Dan ternyata Act of Love nggak jadi tamat di chapter ini, yey! Karena terlalu panjang untuk jadi satu chapter, kujadiin 2 chapter deh :3
Semoga nggak mengecewakan. Happy reading! ^^
"Maehara! Apa yang telah kaulakukan pada Asano-kun?! Ayo minta maaflah!" bentak Isogai saat telah berada di samping Asano. Matanya berkaca-kaca memikirkan masalah apa yang mungkin akan menimpa orang yang disukainya itu.
"T-tapi orang itu telah memanfaatkanmu, Isogai! Aku tidak berbohong, percayalah padaku!"
Isogai menggelengkan kepalanya lemas. Tentu, dia mempercayai perkataan Maehara. Sangat mempercayainya bahkan. Tapi tak bisakah pemuda bersurai oranye kecoklatan itu menuruti permintaannya sekali saja tanpa membantah? Tak tahukah dia bahwa disini Isogai sedang berusaha menyelamatkannya dari kemungkinan terlibat masalah besar? Tak tahukah dia bahwa saat ini Isogai sedang sangat mengkhawatirkannya?
Perlahan air mata mulai membasahi kedua pipi Isogai. "Minta maaflah. Minta maaflah padanya Maehara, kumohon..."
Kedua mata Maehara yang semula dipenuhi oleh emosi melunak drastis begitu melihat Isogai menangis. Ingin rasanya dia mendekap tubuh itu dan menenangkannya. Tapi, alih-alih melakukan itu, Maehara berkata pelan, "Aku minta maaf Asano..."
Hening sesaat. Dalam hati Isogai berharap agar permintaan maaf itu dapat meringankan hukuman yang mungkin akan diterima Maehara. Meski rasanya hal itu mustahil, tapi tidak ada salahnya berharap bukan? Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari belakang Maehara. Betapa terkejutnya Isogai saat mendapati suara langkah kaki itu adalah milik Okano. Bukankah barusan Okano meneleponnya? Kenapa dia berada disini? Mungkinkah dia dan Maehara...
"Arrgh!" terdengar erangan dari arah Asano. Isogai buru-buru melupakan kecurigaannya dan menolong Asano berdiri. "Kau tidak apa-apa Asano-kun?"
"Tentu, aku bisa berdiri sendiri," jawab Asano sambil bangkit, membuktikan perkataannya. Kemudian dia berjalan menjauhi Maehara dan Okano, sementara Isogai mengikutinya.
"Aku benar-benar minta maaf atas kelakuan Maehara."
"Aku tau, dan aku juga sudah mendengar permintaan maafnya..."
Isogai membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, namun kembali menutupnya saat Asano melanjutkan perkataannya.
"...tapi itu tidak akan mengubah apa yang akan menimpanya, kupikir kau tau itu."
Tentu saja Isogai tau akan hal itu. Dia hanya berharap bahwa hal itu bisa berubah. Dan setelah mendengarnya langsung dari Asano, harapan kecilnya itu hancur lebur. "Aku tau itu, Asano-kun."
~SS~
Pandangan Maehara tidak lepas dari punggung Asano dan Isogai yang semakin menjauh darinya. Kenapa Isogai begitu peduli dengan Asano? Padahal selama ini Asano hanya memanfaatkan pemuda itu, tapi kenapa Isogai masih peduli padanya? Dia bahkan memarahi dan menyuruh Maehara meminta maaf hanya karena memukul Asano, padahal si kepala oranye itu pantas mendapatkan hal yang lebih buruk daripada sekedar pukulan di sebelah pipi.
"Maehara!"
Maehara menoleh ke belakang dan melihat Okano berdiri disana dengan raut muka marah. Oke, itu bukan pertanda yang baik.
"Kau itu bodoh sekali ya!" teriak Okano.
"Tapi dia—"
"Aku tau, dia hanya memanfaatkan Isogai kan? Tapi tidak seharusnya kau membiarkan emosimu lepas kendali seperti itu! Kau-kau bisa saja..." dan kata-katanya hilang, digantikan oleh isakan.
Maehara memandangnya iba. Entah kenapa hari ini sepertinya banyak orang yang menangis. Tadi Isogai, sekarang Okano. Sungguh, Maehara tidak ingin melihat siapapun menangis, apalagi untuknya. Tanpa pikir panjang, Maehara menarik tubuh Okano dalam dekapannya dan berbisik, "Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja."
Itu bohong, tentu saja. Semuanya pasti tidak akan baik-baik saja, Maehara tau itu. Dia hanya ingin menenangkan Okano, karena rasanya hal itu harus dilakukan, apalagi setelah dia tak bisa menenangkan Isogai tadi. Satu alasan lagi, dia tidak mau pulang dengan gadis yang mengomel sambil memarahinya sepanjang perjalanan, dan dia tidak mungkin meninggalkannya di taman bermain.
~SS~
Esoknya kelas 3-E diributkan dengan kemunculan Kepala Sekolah SMP Kunugigaoka secara tiba-tiba di kelas mereka. Banyak murid yang bertanya-tanya apa yang mungkin jadi penyebabnya, namun tidak dengan Maehara, Isogai dan Okano. Mereka bertiga tau dengan pasti mengapa orang itu berada disana.
"Aku disini untuk menyampaikan sebuah pengumuman yang sangat penting," mulai Asano Gakuhou. "Kemarin, aku mendapat laporan bahwa ada salah satu dari kalian yang menyerang seorang murid dari kelas A di tempat umum dengan masih mengenakan seragam..."
Maehara menundukkan kepalanya.
"...orang itu adalah Maehara Hiroto."
Maehara menundukkan kepalanya semakin dalam dan menutup matanya rapat-rapat. Dia tidak ingin melihat pandangan iba atau marah yang mungkin tertuju padanya. Dalam hati dia berharap agar hukumannya tak terlalu berat.
"Karena itu, dia akan..."
Mungkin membersihkan toilet di gedung utama selama seminggu? Atau mencabuti rumput liar di taman? Dan paling buruk mungkin dia akan diskors selama sebulan.
"...dikeluarkan. Hari ini adalah hari terakhirnya berada di kelas ini."
Mata Maehara terbelalak. Dikeluarkan? Tidak mungkin! Suasana kelas mendadak ramai, banyak murid melontarkan protes disana-sini. Tapi ada satu suara yang menarik perhatian Maehara.
"Maaf Kepala Sekolah, tapi bukankah itu berlebihan?"
Itu suara Isogai! Isogai membelanya? Maehara menolehkan kepalanya dan melihat sahabatnya itu berdiri berhadap-hadapan dengan sang Kepala Sekolah. Kepala Sekolah memandang Isogai dengan senyumnya yang biasa. "Bisa kau jelaskan berlebihan di bagian mananya?"
"Maehara hanya memukul pipi Asano, dan pukulan itu bahkan tidak begitu keras. Bukankah skors selama sebulan saja sudah cukup?" lanjut Isogai.
Seruan "Benar!" terdengar dari segala penjuru. Namun Asano Gakuhou tetap tenang seperti biasanya.
"Tentu, seharusnya hukuman itu memang cukup, tapi tidakkah kau ingat dia pernah mencoba menyerang seorang murid yang lain sebelum ini?"
Apa yang dia maksud kejadian dengan Seo sepulang sekolah itu? Saat itu Maehara bahkan tidak melakukan apa-apa! Dia sangat ingin mengatakan hal itu, tapi setelah dipikir-pikir lagi mungkin diam lebih baik, dia tidak ingin menambah masalah.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi," kata Kepala Sekolah sambil keluar dari kelas.
~SS~
Bel pulang sekolah berdering nyaring. Isogai bergegas mengemasi barang-barangnya dan berjalan dengan cepat keluar kelas. Dia masih tidak terima dengan keputusan Kepala Sekolah soal Maehara. Kemarin dia memikirkan bahwa Maehara akan diskors cukup lama, dan pikiran itu sudah membuatnya sangat bersedih. Apalagi jika sekarang ternyata sahabatnya itu akan dikeluarkan! Sungguh Isogai tidak terima. Dan dia akan berusaha membuat Kepala Sekolah mengubah keputusan itu, bagaimanapun caranya!
"Isogai-kun!"
Isogai menoleh dan mendapati Nagisa berlari-lari kecil mengejarnya. Setelah pemuda bersurai biru langit itu berhasil menyusulnya, Isogai berkata, "Ada apa Nagisa? Maaf tapi aku sedang ada urusan."
"Kau mau memprotes hukuman yang dijatuhkan pada Maehara-kun bukan?"
Bagaimana dia..? Ah ya, Nagisa adalah pengamat terbaik di kelas
"Ya, kau benar."
"Kalau begitu aku ikut," kata Nagisa mantap.
Lagi-lagi Isogai dibuat terkejut. "Kenapa..?"
"Menurutku keputusan itu tidak adil. Disamping itu, aku, dan semua murid kelas 3-E lainnya juga tidak mau Maehara-kun dikeluarkan. Dia adalah salah satu ahli pisau yang hebat di kelas, tanpanya, membunuh Koro-sensei akan semakin sulit."
Seharusnya Isogai bisa menebaknya. Namun karena alasannya jauh berbeda dengan alasan Nagisa, dia sama sekali tidak memikirkan hal itu.
"Baiklah, ayo Nagisa!"
~SS~
Okano duduk sendirian di dalam kelas. Gadis itu merasa tidak ingin pulang sebelum mengetahui kepastian tentang hukuman Maehara yang saat ini sedang berusaha dirubah oleh Isogai dan Nagisa.
Semua orang telah pulang, termasuk Maehara. Bahkan pemuda itu langsung melesat keluar kelas begitu mendengar bel pulang berbunyi, tepat di setelah Isogai dan Nagisa keluar. Padahal Okano ingin berbicara dengannya, menghiburnya, dan mengatakan bahwa dia juga tidak ingin Maehara dikeluarkan. Okano tidak bisa bertindak seperti Isogai, karena dia pasti akan mendahulukan emosinya. Itulah sebabnya Okano ingin menghibur Maehara, seperti saat pemuda itu menghibur Okano kemarin.
Kedua pipi Okano mendadak memerah mengingat kejadian itu. Kemarin Maehara memeluknya, berusaha menenangkan gadis itu saat menangis. Okano tau, mungkin pemuda itu telah melakukan hal yang sama pada mantan-mantan pacarnya. Tapi tetap saja Okano senang karena kejadian itu. Bagi Okano, kejadian itu adalah bukti bahwa setidaknya Maehara memiliki sedikit perasaan padanya.
~SS~
Isogai dan Nagisa sampai di gerbang Gedung Utama yang telah sepi karena hampir semua orang pasti sudah pulang, kecuali Kepala Sekolah, kalau mereka beruntung. Mereka mendengar beberapa pasang langkah kaki dari dalam gedung dan suara orang bercakap-cakap.
"Tentu saja, dia memang tidak—ah coba lihat apa yang kita temukan disini," kata Seo Tomoya yang tiba-tiba muncul bersama anggota Five Virtuosos lainnya di hadapan Isogai dan Nagisa.
"Murid kelas 3-E kah? Kudengar salah satu anggota kelas kalian dikeluarkan hari ini," timpal Araki.
Isogai berusaha untuk tidak menanggapi perkataan itu. Dia tidak ingin terlibat suatu masalah. Setidaknya tidak jika dia belum mencapai tujuannya.
"Isogai-kun, ada apa kau kemari?" kali ini yang bersuara adalah Asano, sebelah pipinya terdapat bekas lebam hasil pukulan Maehara kemarin.
Isogai mendadak mendapatkan ide yang patut untuk dicoba. "Aku ingin berbicara denganmu, Asano-kun."
"Bicaralah."
Isogai melirik anggota Five Virtuosos yang berada di belakang Asano dengan ragu. Asano melihatnya dan mengerti. "Kalian pergilah duluan, aku akan segera menyusul."
Tanpa membantah, mereka berjalan pergi sambil melanjutkan pembicaraan yang sempat terpotong tadi. Sementara itu, Isogai melirik Nagisa yang sejak tadi hanya diam. Pemuda bersurai biru langit itu terlihat agak bingung, tapi sepertinya dia bisa mengikuti ide Isogai.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"
"Ini tentang hukuman Maehara."
"Sudah kuduga. Kemarin aku sudah memberitahumu kan, permintaan maaf itu tidak akan mengubah apapun," kata Asano malas.
"Aku tau itu. Tapi, bisakah kau negosiasikan hal itu dengan Kepala Sekolah? Bagaimanapun kau adalah anaknya," Isogai bersikeras.
Asano menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa. Keputusan Kepala Sekolah tidak bisa diubah meskipun aku memintanya."
"Kau tidak akan tau sebelum mencoba."
Asano terdiam sesaat sebelum menjawab, "Apa yang akan kudapat untuk mencoba hal yang meragukan seperti itu?"
"Eh?" Isogai terkejut. Dia tidak memikirkan itu.
"Jika kau melakukannya, kami akan sangat berterimakasih padamu, Asano-kun," kata Nagisa tiba-tiba.
"Dan apa bagusnya hal itu untukku? Kurasa tidak ada, jadi maaf, aku harus pergi sekarang." Asano mulai berbalik dan meninggalkan kedua murid kelas 3-E itu saat tiba-tiba terdengar Isogai bersuara, "Aku mau melakukan apa saja, asalkan Maehara tidak dikeluarkan."
"Tunggu Isogai-kun! Tidakkah itu terlalu berlebihan?" tanya Nagisa panik, tapi Isogai hanya memandangnya sambil tersenyum menenangkan.
Asano menghentikan langkahnya dan memandang Isogai sambil tersenyum manis. "Apa saja?"
Isogai mengangguk mantap. "Apa saja!"
Asano meletakkan jari telunjuknya di dagu, memasang ekspresi seolah-olah sedang berpikir keras. "Bahkan jika, katakanlah, aku ingin kau menjadi pelayanku selama sebulan, apa kau juga akan melakukannya?"
"Isogai-kun, kurasa lebih baik kau memikirkan—"
"Ya, aku akan melakukannya asalkan Maehara tidak dikeluarkan!"
Senyum di wajah Asano semakin lebar mendengarnya. "Menarik. Akan kupertimbangkan." Dan dengan kata-kata itu, Asano berjalan menjauh meninggalkan Isogai dan Nagisa.
TBC
Kyaa, chapter ini bikin saya...kyaaa XD #abaikan
So, how's this chapter? Ada kritik atau saran? Kalau ada, tulis di kolom review aja, biar fict ini bisa lebih baik lagi. ^^ Oh ya, gomen Scarlet baru update, soalnya akhir-akhir ini rumah rame banget, jadi nggak bisa konsen buat ngetik, alhasil ngetiknya jadi malem-malem deh.. u,u #curcol Nggak banyak omong deh, see you next chapter! ^^/
Sign,
Aikashita Scarlet
