Do You Believe Reincarnation?
Pair: LenxRin Kagamine! -not incest-
Rated: T
Disclaimer: VOCALOID bukan punya saya... Tapi punya Yamaha sama Crypton. (Baca: cuma minjam karakternya doang *ditabok)
Summary: Mineka Rin, seorang wanita yang berusia 20 tahun, tak percaya dengan yang namanya 'reinkarnasi'. Apakah setelah mengetahui kondisi Len, dan menerima novel. Apakah ia dapat mempercayai hal itu yang sulit diterima dengan logika tersebut?
Warn: AU, OOC, typo(s), alur terlalu cepat/lambat.
Berlaku DLDR!
Previous chapter:
"Eh!? Kenapa begitu!?" Len terkejut dengan perkataan Rin. "Bukankah kau lebih suka kalau jalan-jalan di luar sana!?" Ucap Len, sambil menunjuk ke arah luar jendela.
Rin menghela napasnya. "Tidak juga ah.. Aku 'kan harus melihat situasi dan keadaan dulu, bakaa! Karena-"
"?"
"Kau adalah segalanya bagiku.."
Happy reading, Minna-san..
Wajah Len langsung memerah tak karuan. Rin yang menyadari perkataannya, langsung menutup mulut dengan kedua tangannya dengan cepat. Malu sekali. Baru kali ini ia berbicara seperti itu kepada seorang laki-laki.
"Ehhhh! Kau jangan salah sangka duluuuu... I-Ituuu-"
Len menyeringai senang, ia langsung cengar-cengir, dan mengedipkan matanya kepada Rin. "Hehe.. Aku tahu apa yang-" Wanita berambut honey blonde itu semakin gugup. Dan-
BAG.. BUG.. BUGG!
Len berteriak dengan kencangnya. Pasti kita sudah tahu, kalau lagi-lagi Len dipukul Rin dengan kerasnya.
"ITAIII! HUEEEEEEE!" Pekik Len kesakitan. Rin pun menghela napasnya, dan menyeringai sadis ke arah Len. Len yang merasa dirinya disakiti, langsung berbicara dengan lebaynya.
"RINN-CHAN! Katanya kau itu mengganggapku segalanya bagimu, kenapa kamu memukulku?! Kenapa!? KENAPAAA!" Len berteriak seperti sinetron TV di rumahnya, Rin hanya menutup telinganya. Sakit. Mendengar suara cempreng Len yang begitu membahana.
"Hoiii, berisik tahu! Apa kalian berdua tidak bisa menjaga ketenangan di rumah sakit!?" Teriak salah satu seoarang pasien yang merasa terganggu.
"Maaf! Kami tak akan mengulanginya lagi," Len langsung meminta maaf. Melihat Rin yang juga tak ikut membungkuk, Len langsung memegang pundak Rin, lalu mendorongnya untuk membungkukkan badan Rin. "E-Eh! Iya..." Ujar Rin yang sadar, dan menggembungkan pipi chubbynya itu.
.
.
.
"Kau sih, Lenny!"
"Kau juga! Kenapa kau memukulku, hm? Sakit tahu!"
Adu mulut di antara keduanya terjadi lagi. Walau sudah dimarahi, tetap saja berlanjut.
"Ah! Salahmu sendiri! Kenapa menggodaku mulu!?"
"Eh!? Siapa yang menggodamu! Kau saja yang sensi.."
Tak ada yang mau mengalah dalam pembicaraan mereka. Selalu ada ejekan, dan hinaan yang dilontarkan keduanya.
"Cih, baka shota!"
"Hm, dasar maniak jeruk."
"Daripada kau, maniak pisang!" Ujar Rin tak mau kalah.
"Vitamin C mulu, pantas saja mukamu sering banget berubah-ubah!" Kata Len sambil menyindir.
"Daripada pisang mulu, gak sehat juga.. Karena-"
"Sudah hentikan pembicaraan konyol kalian," Ujar salah dokter berambut biru. Shion Kaito. Rin yang merasa perkataannya disela begitu saja, memanyunkan bibirnya.
"Hm.. Jadi kau dokternya ya?" Tanya Len tak sopannya, menunjuk Kaito dengan telunjuknya. Rin yang melihatnya, langsung..
"Hei, ngapain kau nunjuk-nunjuk dokter Kaito!? Sungguh tak sopan!" Kata Rin dengan ketusnya. Len pun tak menanggapi perkataan Rin.
"Hmm, iya. Aku dokter yang akan menangani penyakitmu." Ujar Kaito dengan santainya. Len hanya menatap tajam dokter itu. "Untuk apa kau susah-susah menangani penyakitku, hm? Percuma saja..."
"Kenapa kau berbicara seperti itu Len!?" Tanya Rin yang tak percaya perkataan Len barusan.
"Yah, 'kan aku sudah bilang Rinny, percuma saja.. Ujung-ujungnya aku akan ma-"
PLAKK!
Tes...
"Jadi kau mau mati ya? Kau sungguh tak berperasaan. Padahal-"
"-Aku ingin sekali kau hidup!"
Air mata Rin menetes dengan deras. Sedih seperti menusuk jantungnya. Ia tak menyangka, kalau seharusnya Len tak berbicara seperti itu.
Kaito yang merasa suasana tak mengenakkan baginya, langsung memecah suasana yang agak tegang itu.
"Sudahlah Rin-san. Lebih baik, saya memeriksa keadaan Len-san. Silakan anda tunggu di luar sebentar." Ujar Kaito sambil menepuk pundak Rin.
Sambil mengusap air matanya, Rin keluar dari ruangan Len dirawat. Ia langsung menuju toilet, untuk membersihkan wajahnya.
Di Toilet, pukul 20.00 malam.
Rin membersihkan wajahnya dengan air yang mengucur dari keran air. Matanya membengkak, karena terlalu banyak menangis. Aku terlalu buruk, untuk dipandang orang lain, pikir Rin.
"Hiks... Kenapa Lenny harus berbicara seperti itu? Berarti semua yang kulakukan ini sia-sia saja!" Ujar Rin kesal, sekaligus sedih memikirkan perkataan Len barusan.
Walaupun Rin dari tampak luar, selalu aktif, mengeluarkan kata-kata sarkastiknya, judes, selalu 'berpura-pura' kuat, tetapi sebenarnya ia sangat rapuh. Ia tak mau, kalau orang lain mengetahui kelemahannya, sekaligus di depan orang yang ia cintai sekali pun.
"Hmmm, lebih baik setelah ini aku pulang ke rumah dulu." Gumam Rin, sambil beranjak pergi dari toilet.
Rin langsung melangkahkan kakinya lebih cepat ke ruangan Len. Dan ternyata, pada saat yang tepat, dokter Kaito, keluar dari ruangan Len.
"Eh!? Dokter! Chotto matte!"
Dokter itu langsung menolehkan kepalanya ke asal suara. "Hm? Ada apa Rin-san? Saya kira anda sudah pulang.." Ujar dokter itu.
"Saya ingin tanya, apa ada yang membahayakan dari kondisi Len saat ini?" Tanya Rin.
Dokter itu hanya diam terpaku. Ia tak tahu harus berbicara apa. "Eh? Kenapa tak menjawab pertanyaan saya, dok?"
"Bisakah kita jangan berbicara di sini?" Tanya dokter kepada Rin, tak memperdulikan pertanyaan yang dilontarkan Rin barusan.
Rin hanya bisa menggangggukkan kepalanya, tanpa mengucapkan sepatah kata.
.
.
.
Di ruang dokter, pukul 21.00
"Hmm, jadi apakah anda bisa beritahu saya?" Tanya Rin kepada dokter berambut biru itu. Dokter itu langsung mengambil sesuatu dari mejanya. Sebuah map berwarna coklat.
Dokter Kaito langsung mengeluarkan isi map itu, Rin yang menatap map itu mempunyai firasat yang tak enak.
"Hmm, isi apa itu dok?" Tanya Rin balik, khawatir tentunya. Dokter Kaito hanya menjawab, "Silahkan anda baca sendiri,"
Rin langsung mengambil dan membaca kertas itu, dan ternyata...
"Ini pasti tidak mungkin!" Ucap Rin tak percaya. "Maaf, itulah hasil cek darah, yang kami lakukan tadi." Dokter Kaito memijit keningnya yang sedikit pusing.
"..."
"Jadi, perkembangan sel kanker dalam tubuh Len-san sangat cepat. Saya juga baru menyadarinya, dan menurut saya perkiraan tentang 3 bulan, salah besar."
Rin terpaku mendengar 'tentang 3 bulan, salah besar.' Daripada bingung, Rin langsung bertanya, "Apa maksudnya dok? Bisa anda perjelas lagi? Maksudku langsung ke inti saja.."
Dokter Kaito berdehem sebentar, lalu menjawab, "Intinya adalah kita bisa memperkirakan, kalau 2 minggu ini kanker dalam tubuh Len-san masih bisa terkendali.
Tetapi, kalau sudah lebih dari 2 minggu, kita harus melakukan kemoterapi sesering mungkin, karena pada saat itu, sel kanker dalam tubuh Len-san membelah diri semakin cepat, dan semakin ganas." Jelas dokter Kaito dengan panjang lebarnya. Dan reaksi Rin...
Tertegun. Bingung. Sedih. Campur aduk semuanya. Ah, penderitaan apalagi yang akan dihadapi oleh keka- Bukan.. Tetapi sahabatnya.
"Hm, apa yang harus kulakukan!?" Gumam Rin yang dapat terdengar jelas oleh dokter Kaito. "Mungkin anda harus membuat Len-san selalu bahagia, menjalani penyakitnya. Habiskanlah waktu sesering mungkin bersama Len-san."
Rin menundukkan kepalanya. Di sisi lain, ia sangat ingin menghabiskan waktu bersama Len. Tetapi, bagaimana dengan perusahaan Len yang sedang diurusnya? Ia-Rin- harus mencari biaya untuk pengobatan Len. Di dunia ini tak ada yang gratis.
Rin tersenyum miris kepada dokter berambut biru itu. Dengan lesunya, ia berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. "Arigatou nee, atas sarannya.. Dokter.." Ucap Rin sambil meninggalkan dokter itu yang masih terduduk di tempat duduknya.
.
.
.
Di Rumah Rin, pukul 22.00
BYURR..
"Hahh.. Segarnyaaa akuuu..." Bunyi cipratan air dari arah kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya dengan air hangat. Ingat, air hangat, bukan air panas. Ototnya pun kembali rileks, tak seperti yang tadi, sungguh pegal, capek, dan lain-lain.
Ia pun langsung mengeringkan badannya dengan handuk berwarna sama dengan rambutnya. Dan sesudah itu..
BRUKK!
Rin langsung menjatuhkan dirinya ke kasur ukuran queen sizenya itu. Sungguh empuknya, gumam Rin dengan senyuman tipis yang terpatri di bibirnya itu.
'Sepertinya aku melupakan sesuatu, tapi apa ya?' Batin Rin yang ingat akan suatu hal yang penting. Tiba-tiba dengan efek dramatisir yang ada di kartun kesayangannya, muncul sebuah bohlam lampu yang terang benderang di atas kepalanya.
TRINGG!
"AH YA! NOVEL ITUUU!" Rin akhirnya ingat, apa yang tadi ia lupakan. Dengan cepat, ia ke arah ruang tamunya, dan langsung mengambil novel yang diberikan Len kepadanya.
"Gotcha! There you're!" Ucap Rin yang bermonolog pada dirinya sendiri, dengan bahasa Inggrisnya tersebut, sambil menuju ke arah kamar tercintanya.
Sesampainya di kamar, Rin langsung membuka novel itu dan melanjutkan membaca halaman yang belum sempat dibacanya tadi.
SRETT...
Halaman 51
"Aku juga ingin, kalau kita dilahirkan kembali. Dan sekarang, aku semakin percaya tentang reinkarnasi.." Ujar kekasihku sambil menutup mata dan menghela napas. Akhirnya saat yang kutunggu, telah tiba.
Aku sangat senang, karena ia mempercayai hal yang sulit diterima dengan logika tersebut. Walaupun itu mustahil, aku ingin sekali Kami-sama mengabulkan permintaanku, jika diizinkan.
"Haha.. Akhirnya kau percaya ya! Dasar maniak jeruk..." Godaku pada kekasihku. Ia yang mendengarnya hanya memanyunkan bibirnya. Sungguh menggemasakan. Biasanya ia menjitak dahiku dengan pukulan mautnya, tapi karena mungkin ia tahu, penyakitku dapat membunuhku kapan saja, lebih baik ia manahan pukulannya kepadaku.
"Cih, dasar maniak pisang! Hmm, Baka shootttaaaaaa!" Ejeknya kepadaku. Aku sudah terbiasa dengan ejekkannya. Tetapi yang membuatku berniat mengejeknya itu, karena raut wajahnya yang sering berubah-ubah, membuatku semakin gemar mengejeknya.
"Hm, maniak jeruk.."
"Baka Shottaaa!"
"Kepala jeruk"
"Masih mending, daripada kepala pisang!" Ejek kekasihku menjulurkan lidahnya. "Weekkk!"
"Haha.. Wajahmu seperti tidak pernah disetrika.. Sungguh lecek seperti bajuku! Haha," godaku sambil tertawa.
Dan..
"ITAIIII!"
Bukan pukulan yang ia layangkan kepadaku, tetapi sebuah cubitan yang amat keras di tanganku. Seketika itu juga tanganku membengkak, seperti digigit tawon.
"Haha! Rasakan itu, BAKAAA!"
"Hueeee.. Orenjiii jahat sekaliii.. Kau tak takut aku mati seketika?" Tanyaku dengan mendramatisir keadaan. Ia-kekasihku- hanya menanggapi dengan jawaban 'tsundere'nya itu. "Cih, orenjiii! Kau sepertinya tak pernah memanggilku dengan namaku ya!? Biarkan saja, kau mati, aku tak peduli.."
"W-WHATT! Jadi Orenjiii, tak sayang padakuuuu... HUEEEEE..." Tangisku yang amat lebay pun menjadi tatapan mematikan dari pasien-pasien lainnya. Kekasihku, langsung cepat-cepat menyeretku ke ruanganku dengan gesitnya. "Dasar Baka Shootttaaa! Runnn awaaayyyy!" Teriaknya mengejek sambil menyeretku pergi.
"Hmm, aku merasa aneh dengan novel ini, kenapa sifat Orenjii ini mirip sama aku ya?" Tanya Rin kepada dirinya sendiri. Bingung adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan saat ini.
Ia langsung membaca ke halaman selanjutnya. Ia sebenarnya bisa saja langsung membaca ke bagian endingnya, tetapi kalau ia baca endingnya dahulu, pasti ia sudah akan bosan dengan pertengahan novel ini nanti.
Halaman 52
"Oren-channnn... Jangan terlalu cepat berlari, hosh.. Hosh.." Keringatku terus mengalir dari dahiku, hah! Demi apa aku bisa capek berlari?! Padahal waktu dulu ia adalah juara lomba lari.. Dulu.. Sekarang?! 300 meter saja, aku sudah kelelahan.
"Hahaha! Akhirnya aku bisa mengalahkanmu, dalam hal berlari!" Ujar kekasihku dengan bangganya. Hahh, sungguh menyebalkan. Dan saat yang paling menyebalkan telah tiba...
Ruang kemoterapi, pukul 13.00 siang
"Huaaa.. Ini adalah saat yang paling kubenci, seumur hidupkuuu.." Ucapku dengan takut, sampai keringat dingin pun jatuh dari pelipis pipinya. Sungguh menakutkan, batinku dalam hati.
"Eh?! Kemoterapi ya? Hmm, mirip sekali seperti Lenny.. Hmm.."
Wusshhh!
Angin malam berderu dengan kencangnya, tanpa Rin sadari.
"Ouiiii! Aku lupa menutup jendelaaa! Hiiiii, dinginnn.." Ucap Rin kelabakan, ia lupa menutup jendela kamarnya. Karena terlalu keasikkan membaca novel. Hahh, sungguh dinginnya angin malam.
TIN... TIN... TIN...
Alarm ponsel Rin berdering dengan nyaringnya, membuat Rin yang sehabis menutup jendela kamarnya, langsung menuju ke tempat ia menaruh ponselnya.
'Tugas kantor Rin+Len'
"Matiiiii akuuuuuuuu!" Teriak Rin membahana sampai membuat lampu tetangga menyala, karena suara Rin yang menggema.
"Oiiii! Berisik! Ini sudah malam!"
"Ah! Gomen nasaiiii.." Ucap Rin meminta maaf.
Memijit kepalanya yang pening, Rin pun langsung membuat kopi, dan membuka laptop kesayangannya. Dan-
"Oh tidakkk... Besok aku ada presentasi dan kerja sama lagi di perusahaanku dan Lenny!" Gerutu Rin kesal, seharusnya ia menyelesaikan tugasnya tadi siang. Dan sekarang waktu sudah mau menjelang 12 malam. Poor you, Rin..
.
.
.
.
.
Pagi harinya, pukul 06.00
KRINGGGG!
Alarm jam weker Rin, berbunyi dengan kencangnya. Membuat Rin yang baru tertidur pulas di mejanya pun, terbangun dengan mata membulat sempurna.
"TIDAKKK! Kussooooo.. Aku saja baru tidurrr! Argh.. Kusooo..." Serapah-serapahan pun ke luar dari mulut Rin tanpa henti. Ia sudah tak peduli, dengan ocehan tetangga yang mungkin membicarakan dirinya.
"Jam 7 aku harus berada di kantor.. Hmm, apa boleh buat, aku tak tidur deh.." Dengan gontainya, Rin mengambil handuk dan ke arah mandi.
.
.
.
.
.
Selesai mandi, Rin langsung ber-make up, untuk menutupi 'mata panda' nya. Lalu, ia lansung melihat jadwal yang akan dilakukannya hari ini.
Jam 7.30: Meeting
Jam 11.30: Presentasi
Jam 14.30: Kerja sama dengan perusahaan lain
Jam 15.00: -
"Hah! Aku gunakan untuk menjenguk Lenny saja!" Ucap Rin yang senang, kalau ia mempunyai waktu untuk menjenguk keka- ups, sahabatnya.
Ia langsung mengambil barang-barangnya, dan langsung melesat ke arah mobilnya. Dan..
BRUMM...
Seperti biasanya, Rin mengendarai mobilnya dengan brutal. Ia terlalu dan sangat senang untuk menjenguk Len nanti sore. Ia sudah bertekad untuk mengumpulkan uang yang banyak dan sering menjenguk Len.
VocaLand Hospital.. 08.00 pagi
"HUEEEKKK.."
Len pun muntah setelah menjalani kemoterapinya. Sungguh menyakitkan. Harus mengalami mual, pusing, dan rasa sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Perutnya seperti dililitkan dengan tali rafia, kepalanya seperti ditimpa palu, serta juga seperti ditusuk menggunakan pisau.
"Ughhhh..." Len pun memegang perutnya dengan kencang. Suster berambut hijau tosca itu memandangnya dengan khawatir. "Apa saya perlu-" Belum sempat menyelesaikan pertanyaan yang dilontarkan suster berambut hijau tosca itu, Len memandangnya penuh intimidasi.
"Keluar dari ruangan ini. . ," ujar Len dengan sarkastik, membuat suster itu menciut dengan seketika. Tanpa banyak bicara, suster itu langsung keluar dengan cepat.
"Hahh, apa aku sudah selemah ini!? Ini sangat menyakitkan!" Len langsung berjalan ke arah tempat tidurnya dengan lesu dan rasa sakit yang ada di tubuhnya itu.
BRUKKK..
Len menjatuhkan dirinya di atas kasur itu. Dengan mata tertutup, Len pun berkata, "Rinny... Aku sangat rindu padamu, kenapa Kami-sama selalu memberikan takdir ini kepada kita berdua?!"
"Padahal aku sangat ingin kita bersama! Hah, jika aku diberikan kesempatan ketiga kalinya, aku akan berharap pada Kami-sama, untuk merubah takdir kita," ucap Len yang tanpa disadari, didengar oleh seseorang.
'Hmm, kalau begitu, ini kehidupan keduanya ya?' Batin seseorang yang tanpa sengaja mendengar ucapan Len.
"Sungguh aneh, tapi nya-"
"Siapa di luar!?" Tanya Len yang sudah mengetahui keberadaan seorang itu, yang mengupin ucapannya. Dengan cepat, Len langsung membuka pintu kamar itu.
SRETT..
"KAU!"
.
.
.
.
TBC..
A/N: Akhirnya Chapter 2 jadiiii! Kyaaaaa! Aku senang bangetttt! #kayak_cheerleaders #plak
:3 Dan terimakasih atas dukungan kalian semua, sudah mau baca, review+fave+follows! Astaga, benar-benar di luar dugaankuuuuuuu... :3
Oya, yang punya facebook, ada yang mau ke grup Vocaloid Fanfictions Indonesia? XD #plak
Okelah, daripada lama-lama menunggu curcolan gak jelas, ini balasan reviewnya!
Kurotori Rei: :) terimakasih karena udah review fic ini, Len menyembunyikan ini semua, karena- xD tunggu di chapter selanjutnya ya! Soalnya pertanyaan itu adalah bagian rahasia dari fic ini.
XD nah, di chapter selanjutnya mungkin aku bakal menjadikan Rin sebagai orang yang peka.. :) Nah, jangan lupa untuk mereview, dan keluarkan semua uneg-unegnya ya! #woy
Minamika Runa: Chottooo matte! Eh?! Bagus?! Menurutku fic ini jauh dari kata sempurna terimakasih kalau udah bilang fic ini bagus, dan silahkan mereview ch 2 ini... :)
Kiriko Alicia: xD wah, pertanyaan yang sama tadi kayak Kurotori Rei, dan itu menjadi bagian rahasia dari fic ini lhooo... #woy
XD eh!? Aku salah ya? Maklum bahasa inggrisku sedang :v Dan coba aku hapus 'a' nya... XD terimakasih untuk koreksiannya! #bow
Silahkan mereview chapter ini! :)
Shinseina Hana: :3 terimakasih atas pujiannya, tetapi fic ini masih jauh dari kata sempurna :). XD tenang aja, ini juga rencanaku(?) #woy sebelumnya :) tetapi pukulannya gak sering-sering amat kok. XD :D
:) terimakasih atas fave+follow :3
Silahkan mereview chapter ini! :)
Shiki Sato: :D terimakasih atas reviewnya! Hmmm, okelah, maaf kalau kebanyakan bold.. Apa mungkin aku italic aja? #sama_aja_nak
XD tak apa kita 'kan sama-sama belajar :3 aku pun juga belajar dari author lain. :)
:3 tenang aja akan kulanjutkan :) dan ini chapter 2 nya! Semoga makin penasaran! :D #hush
Silahkan mereview chapter ini! :)
Martinachristy54: xD :) tenang aja kok, nanti kubuat Rin peka, yah, walaupun author satu ini ngaco akan jalan cerita(?) Tapi bakalan aku usahakan! :)
#dor
XD malahan aku sendiri sebenarnya juga gak terlalu percaya :v #plak yah, untuk mengatasi kekacauan hati(?) Terlahirlah fic ini! #prok_prok
Kyaaa! Arigatou udah fave+follow!
Silahkan mereview chapter ini! Apa seru? Bikin penasaran? Kalau enggak, aku bakal pikir jalan cerita untuk ch 3! XD
Kei-T Masoharu: iya, aku author baru di sini! #prok_prok #ditendang what!? Bagus!? Arigatou, tetapi diksi yang aku pelajari juga masih dan sangat parah habis. :D itu sudah rencana author #plak #dibakar :3 terimakasih untuk reviewnya!
Silahkan review ya! Apa chapter ini seru? Atau bikin pusing? Silahkan ke dokter mata #plak #woy
Kurayami Nea: xD yah, padahal aku pengen bikin angst sih, tapi karena gak kesampaian jadilah fic ngaco, dengan genre campuk habis :D #dibuang oke, ini sudah lanjut! Silahkan di review! :3
Kagamine 02 Story: Haiiii! Ketemu lagi, diacara bukan sepulu- #plak oke, abaikan. XD fic ini jauh dari kata sempurna nak#plak tapi kita 'kan sama-sama belajar! XD ini sudah lanjut, tenang aja Len palingan cuma benjol doang #dideathglare_Rin
Silahkan review di chapter ini!
Guest: Hmm, kalau itu mungkin terjadi..waduh, kalau misalnya rin reinkarnasi jadi lily/lenka, nanti pairnya berubah dong? xD soalnya kalau aku ubah alur ceritanya, nanti agak aneh. Jadinya endingnya gak 'sreg' seharusnya LenxRin, jadi LenxLily atau LenxLenka..
Tapi aku hargai sarannya. :) terimakasih mau memberi saran. Bagaimana pendapat anda tentang chapter ini? Ada yang aneh? Maaf kalau aneh. Dan silakan review!
Nah, itu balasan reviewnya!
Sama seperti biasanya, review yang lebih dari 4, membuatku semangat melanjutkan ch3! Haha! #plak
Mind to RnR? Don't a silent reader!
:)
Best regards,
Chen.
