Before After
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, Mushi cuma numpang minjem
Rated T semi M
Genre : Romance
Pair : NaruHina
Warning : Canon! Typos, OOC and many more.
OoOoOoOoOoOoOO
For Celebrate "1th NaruHina Canonniversary"
Prompt : Spring
FluffTimeProject#39#
OoOoOoOoOoOoooOOoOoOoOoO
Drabble Two : Wake Up and Talking About Baby?
Pagi ini tepatnya pukul 7, sinar matahari perlahan mulai masuk melalui celah jendela yang berada tepat di sebuah kamar pengantin baru kita, ruangan yang sejak kemarin malam telah di penuhi dengan hiasan serta pernak-pernik.
Sinar yang tepat menyinari perlahan ruangan yang tadinya gelap, sukses membuat seorang gadis yang tengah terlelap di tempat tidurnya menggeliat kecil.
Dengan pikiran masih di melayang entah kemana, sosok itu menguap pelan, mencoba menggerakkan tubuhnya pelan.
"Ungh~" mengerang, kedua tangan bergerak perlahan, hendak menggeserkan posisi. Otak yang masih berpikir bahwa saat ini ia berada di kamar miliknya. Tempat tidur yang besar dan hanya dirinya lah yang ada di sana.
Tapi semuanya tidak berjalan lama, tepat saat-
Pluk-
Gerakan tangan itu terhenti, ketika tak sengaja menyentuh sesuatu di hadapannya. Dengan posisi tidur menyamping, merasakan keanehan. Perlahan namun masih tak sadar, gadis itu menggerakan tangannya.
Mencoba mengecek sekali lagi benda apa yang ada di hadapannya, beriringan dengan kedua mata yang terbuka.
Keras-
Tapi yang pasti bukan batu,
Lho?
Bergelombang? Dirinya seperti menyentuh belahan otot seorang laki-laki, dan apalagi ini kenyal-kenyal-
"…."
Tunggu!
Apa yang tadi dia pikirkan?!
Menunggu waktu tiga detik,
"…"
Kedua Lavender itu akhirnya terbuka sempurna, dengan keringat dingin mengucur di kening, dan tangan yang sepertinya masih berada di posisi tadi. Mematung kaget-
Bagaimana ia melihat sosok pemuda berambut pirang tengah tertidur lelap di sampingnya, wajah yang tenang tanpa dosa, dan di tambah lagi-
"A..aa," perlahan kantuknya menghilang saat ia merasakan dengan jelas salah satu tangan kekar sang empunya kini mengukung tubuhnya.
Kami-sama-
Jangan bilang dia lupa-
Blush-
Wajah sang gadis indigo memerah sempurna, gugup itu kembali keluar, ah betapa inginnya dia menepuk keningnya sendiri sekarang.
Kenapa dia bisa lupa kalau kemarin ia sudah resmi menjadi istri dari seorang Uzumaki Naruto.
"Ke..kenapa aku bisa lupa," dia benar-benar tidak percaya.
OoOooOoOoOoOoOoO
Duduk di pinggir tempat tidur, setelah berhasil menenangkan hatinya, dan berhasil keluar dari kukungan lengan Naruto, Hinata menatap tak percaya ke arah sang Uzumaki.
"…"
Gadis yang kini bermarga Uzumaki itu menepuk pipinya pelan, ia kira hari-hari kemarin itu hanya mimpi belaka. Tapi ternyata, semuanya benar-benar kenyataan.
Sebuah senyum kecil terbentuk, hatinya yang lega, dan debar yang tak pernah ia rasakan sebelumnya membuat Hinata bahagia. Sedikit tertawa dalam hati, kenapa dia bisa lupa dengan kejadian kemarin. Saat dirinya menghabiskan waktu semalaman bersama Naruto-
Tertawa, saling berbincang, berpelukan dan akhirnya tertidur lelap.
"Naruto-kun," berbisik memanggil nama pemuda yang menjadi suaminya itu.
Entah kenapa rasa semangat tiba-tiba terpompa ketika melihat wajah tanpa dosa itu tidur dengan lelap. Menetralkan detak jantungnya, sang Hyuuga mencoba melirik ke arah jam dinding di dekat ruangan,
"Pukul 7," mengerjap singkat, karena lelah dengan segala pesta kemarin ia sampai bangun siang.
Bangkit dari tempat tidur, gadis itu segera mengikat pony tail rambutnya, merapikan pakaian dan menyelimuti tubuh Naruto dengan selimut kembali.
"Aku harus membuat sarapan," mengawali hari barunya dengan membuat sarapan mungkin ide yang baik. Siapa tahu kalau Naruto lapar saat bangun nanti. Untung saja ia sempat mengecek isi kulkas di rumah mereka yang baru ini kemarin.
Rumah yang sengaja Naruto siapkan untuk mereka berdua.
Hah, memikirkan hal itu saja sudah membuat pipinya memerah.
"Fo..fokus Hinata," menepuk kembali pipinya,
Gadis itu segera melangkahkan kakinya keluar kamar, tentu saja tanpa membuat suara berisik yang dapat mengganggu tidur Naruto.
.
.
.
.
.
.
Itu untuk keadaan Hinata, saat bangun dan mendapati dirinya lupa kalau sudah menikah dengan Naruto.
Nah, kalau untuk sang Uzumaki pirang sendiri?
OoOoOoOoOoOoO
Pukul setengah sembilan pagi-
Trak-trak-trak-
Suara berisik di lantai bawah sukses membangunkan pemuda itu, mengernyit singkat tubuh sang pirang menggeliat. Malas untuk bangun, dia lebih memilih untuk membuka matanya perlahan.
Mengerjap dan mengecap bibirnya sebentar-
"Hoahm~" menguap lebar, tanpa ia sadari kepalanya kini sudah melirik ke seluruh ruangan, pikiran yang masih di awang-awang. Seingatnya hari ini ia ada urusan kecil dengan teman-temannya.
Jadi dengan enggan sang Uzumaki bangkit,
"Hh," menghela napas panjang, menggaruk kepalanya singkat. Telinganya masih mendengar suara berisik di bawah, alisnya mengernyit bingung.
Siapa yang ada di sana? Sasuke? Sai? Atau Sakura? Tidak biasanya mereka datang ke rumahnya.
Pikiran itu terhenti saat perutnya tiba-tiba berbunyi, "Aku lapar~" menguap sekali lagi, tubuh itu perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Perasaan malas masih menghantuinya, di tambah lagi mengingat hari ini dia harus makan sesuatu instan lagi untuk sarapannya. Hah, bisa-bisa semua teman-temannya protes dengan cara makannya ini.
Melangkahkan kaki malas, pemuda pirang itu akhirnya keluar dari ruangannya. Tanpa melihat atau mengecek sama sekali kondisi di dalam sana. Dengan pikiran yang masih ada di dunia khayalnya berjalan gontai menuju dapur.
.
.
.
.
.
Aneh-
Kenapa tiba-tiba rumahnya mengeluarkan aroma masakan yang enak dari dapur? Setahunya tidak ada yang berjanji datang ke rumahnya kan?!
Mempercepatkan langkahnya turun dari tangga, suara seseorang menggoreng sesuatu, memotong, dan mencuci piring terdengar makin jelas.
Lho?
Dia makin penasaran-
Tadi pagi saat ia bangun juga kenapa Naruto merasa ada yang hilang di tempat tidurnya tapi dirinya masih belum sadar juga.
Berjalan mendekati dapur-
Dengan wajah waspada-
Dan tanpa aba-aba-
"Siapa?!" berujar cepat, dan melongokan kepalanya.
"…"
"…"
Saphire mengerjap polos-
Melihat sosok gadis yang kini berbalik kaget mengetahui kedatangannya.
Sosok indigo yang nampak malu mencoba tersenyum kecil ke arahnya, mengenakan celemek memasak, "A..ah, Ohayou Naruto-kun." dan tak lupa memberinya ucapan selamat pagi.
"….."
Dia membeku sejenak, membiarkan gadis di sana menatapnya bingung dan mencoba menghampirinya.
"Ka..kau tidak apa-apa Naruto-kun?" bertanya khawatir saat melihat suaminya hanya diam membeku di dekat pintu masuk,
"Hi..Hinata? Kau kenapa?" otak pagi Naruto sepertinya masih mencoba mengingat flashback harinya kemarin.
Sampai akhirnya Hinata mengerti sendiri, gadis itu terkikik geli, menatap ke arah Naruto, "Se..sepertinya Naruto-kun juga masih tidak sadar ya?"
"Ah, apa? Aku? Tidak sadar," mengerjap singkat, saat kesadarannya kembali pulih sempurna. Kedua Saphire itu menatap lekat sosok gadis di hadapannya. Hinata yang sepertinya menunggu ia untuk sadar, dengan senyuman geli di wajahnya.
"…."
"….."
Plok-
Naruto sukses menepuk keningnya sendiri, rona merah perlahan muncul di pipi tannya. Sang Uzumaki mendesah lega,
"Ah, aku benar-benar bodoh~" pelan-pelan membalas senyuman Hinata, dan terkekeh.
"Ohayou Hinata~" barulah ucapan selamat pagi bisa ia ucapkan dengan benar pada istrinya.
Ya, istri-
Hah, kenapa dia bisa lupa, gadis cantik ini telah resmi menjadi pendamping hidupnya sejak kemarin.
.
.
.
.
.
.
"Gomen, tadi kesadaranku belum pulih sepenuhnya, Hinata~"
"Ahaha, tidak apa-apa Naruto-kun, ta..tadi saat aku bangun juga, sikapku seperti itu~"
Kedua pasangan itu tertawa, setelah selesai dengan acara lupa-lupaan mereka. Hinata segera mengajak Naruto untuk sarapan pagi,
Dengan bahan-bahan yang ada di kulkas, akhirnya ia berhasil membuat Tamagoyaki, nasi goreng, dan sayur hijau. Tapi tetap saja gadis itu tidak yakin apa Naruto akan suka masakannya?
Jadi saat melihat sosok di hadapannya sedikit mematung menatap masakannya. Ia khawatir sendiri-
"A..aku hanya membuat itu saja Naruto-kun, a..apa tidak masalah?" sang indigo reflek bertanya.
Naruto mengerjap kaget, "Apa maksudnya?"
"A..aa, itu a..apa kau tidak suka dengan masakanku? Ka..kalau tidak suka, a..aku bisa membelikannya di luar, ja..jadi-" sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya, kedua Lavendernya melihat dengan semangat Naruto mengambil nasi goreng, Tamagoyaki dan sayur hijau buatannya.
Pemuda itu menyantap makanan itu dengan lahap-
Tersenyum lebar ke arahnya, "Arigatou Hinata! Mana mungkin aku tidak suka dengan masakan seenak ini!"
"….." mengangguk kecil, syukurlah sarapannya bisa di terima oleh Naruto.
OooOoOoOoOoOoOOoO
Suasana hening masih terasa selama beberapa menit, dengan Hinata yang fokus dengan makanannya sambil sesekali ia melihat-lihat ruangan dapur, jujur gadis ini suka dengan rumah yang sekarang ia tinggali, sangat nyaman.
Naruto yang menyadari gerak-gerik sang istri mencoba mengikuti seluruh pandangan Hinata, melirik rumah yang berhasil ia dapatkan.
Apa Hinata tidak suka dengan rumah ini?
"…."
Menghentikan kegiatannya, menatap balik gadis itu-
"Nee, Hinata." Memanggil sang empunya.
Dan bak tertangkap basah, Hinata tersentak kaget, "A..ah! I..iya, Naruto-kun?!" menjawab gugup, melihat sosok pemuda di hadapannya kini menatapnya khawatir.
"Apa kau suka dengan rumah ini?" tiba-tiba bertanya.
Hinata mengerjap polos, tanpa basa-basi ia mengangguk semangat, "Um, a..aku suka, saat pertama kali datang ke rumah ini, aku merasa nyaman sekali. Wa..walaupun ukurannya masih tergolong besar untuk kita berdua, tapi tidak apa-apa." Reflek mengeluarkan pendapatnya.
"Terlalu besar?" membeokan ucapan istrinya.
Sang gadis indigo yang sadar langsung memerah, menunduk malu, "I..iya, kita hanya tidur di satu kamar, dan tadi aku melihat ada sekitar dua kamar tidur lagi di sini, ja..jadi menurutku terlalu besar."
Jii~
Naruto menatap Hinata tanpa mengedip-
"A..ah! Bu..bukan berarti aku tidak suka Naruto-kun, aku..aku suka sekali dengan rumah ini. Ta..tadi itu hanya sedikit pendapat kecilku saja!" segera mengoreksi perkataannya. Apa dia terlalu jujur?
Tidak ada tanggapan selama beberapa detik, sampai-
"Kh, ahaha kau lupa ya Hinata~" suara tawa sang Uzumaki memenuhi seluruh ruangan.
"Eh? A..aku lupa apa?" mengerjap polos, apa dia memang kelupaan sesuatu? Kenapa suaminya tertawa keras seperti itu?
Menopang wajahnya dengan salah satu tangan, kedua Saphire itu menatapnya geli-
"Aku sudah memikirkan hal ini matang-matang, dan alasanku memilih rumah yang besar seperti ini. Karena nanti tidak hanya kita saja yang tinggal di sini kan?"
Tidak hanya mereka?
"…"
Oh-
Sepertinya dia sedikit lupa-
"A..ah, iya,"
Anak-anak itulah yang sempat terlewat di otaknya, dan memikirkannya sekali lagi perlahan rona merah kembali muncul di pipinya.
Dia-
Dan Naruto-kun-
Anak-anak mereka berdua-
Blush-
Eh, tapi tunggu dulu. Tadi ia bilang kalau dirinya melihat ada dua kamar tidur kan? Apa..apa itu artinya mereka-
'Ti..tidak mungkin Naruto-kun memikirkan sampai ke sana,' menggeleng pelan, mencoba menatap sosok di hadapannya kikuk.
"A..apa maksud Naruto-kun, salah satu kamar itu akan menjadi kamar a..a..anak kita? A..ahaha aku tidak berpikir sampai ke sana," entah kenapa susah sekali ia mengucapkan kalimat 'anak' sejak tadi.
Naruto diam, menatapnya seolah bingung-
Apa dia salah bicara?"
Kembali menjelaskan lebih detil, "I…itu berarti sisa kamar yang tak terpakai itu untuk tamu yang misalnya menginap ke sini, be..begitu kan?" tertawa kikuk.
"Tamu?" Naruto malah balik bertanya.
"I..iya,"
Lama tak merespon kata-katanya, sampai kekehan geli sang Uzumaki kembali terdengar.
Hinata makin gagal paham-
"Ahaha, iya juga, aku tidak berpikiran sampai ke sana. Kedua kamar itu sama sekali tidak kurancang untuk tamu kok."
"Eh? Bu…bukan? La..lalu untuk apa?"
Entah memang otaknya yang rada polos atau dia yang keceplosan bicara, Naruto malah dengan santai menjawab perkataan Hinata.
"Tentu saja untuk anak-anak kita berdua,"
"….."
"…"
Hinata membulat-
Otaknya mendadak blank-
Ja..jadi Naruto sudah memikirkan sampai ke sana?
Anak-anak mereka? Di tambah lagi dua?!
Blush-
Blush-
Memerah sempurna, tak bisa menahan malunya Hinata reflek menunduk dalam, ia harus tahan agar tidak pingsan di sini. Mencoba untuk tetap tenang tapi tidak bisa. Yang dia hanya bisa menjawab dengan gugup-
"Be..be..begitu ya," tidak mampu bicara lagi.
Lho?
Naruto bingung, sikap Hinata mendadak berubah lagi. Gadis itu kenapa menunduk, dan lagi sepertinya dia malu sekali.
Memangnya dia salah apa?
"….."
Dia kan hanya bicara tentang anak-
"…."
Mereka-
Oh, shit!
Oke, Naruto sadar sepenuhnya, pemuda pirang itu reflek menutup bibirnya dengan salah satu tangan. Wajahnya memerah, dan kedua matanya tidak mau memandang Hinata.
"A..ah! Ja..jangan di pikirkan kata-kataku tadi! Tadi aku benar-benar tidak sengaja Hinata!" menjelaskan dengan lantang.
"U..um," melihat Hinata tidak mau memandangnya, Naruto makin panik.
"A..aku benar-benar tidak sengaja! Tadi aku bicara seperti itu bukan berarti aku memaksamu untuk melakukannya sekarang, atau apapun itu. Kalau kau memang berencana ingin memakai kamar itu untuk tamu juga tidak apa-apa, aha…ahaha~" mencoba tertawa.
Hinata yang masih menunduk tanpa sadar mendengar kalimat terakhir Naruto-
"Gomen, sifat mesum guruku jadi menular seperti ini padaku."
Tubuhnya menegang, perasaan bersalah seketika menyeruak masuk, kenapa Naruto malah minta maaf?
Mengadah pelan,
Melihat dengan jelas sosok di hadapannya memerah malu, menoleh ke arah lain namun sesekali melirik kepadanya.
Sangat manis, tentu saja, baru kali ini ia melihat wajah memerah Naruto dengan jelas. Meski perasaannya masih gugup seperti tadi. Ia tidak ingin membuat suaminya salah paham,
Pikirannya mencoba mencari topic pembicaraan lagi, rona merah di pipinya makin terlihat. Bibirnya bergetar saat ingin mengatakan kalimatnya-
Sedikit menatap ke arah Naruto-
"Ka..kalau Naruto-kun,"
Sedikit kaget mendengar suara Hinata, Naruto menatap balik sang istri. Menormalkan detak jantungnya saat melihat kondisi gadis itu terlihat sangat manis di matanya.
"Ya?"
"I..itu, me..memangnya Naruto-kun ingin..a..anak kita nanti..perempuan atau..la..laki-laki?" sebuah pertanyaan sangat berani Hinata lontarkan tanpa sadar. Niatnya mencari topic pembicaraan malah membuat-
Sang Uzumaki membeku, apa tadi dia salah dengar?
Memberinya pertanyaan seberani itu dengan wajah polos dan malu-malu-
"…."
Fix-
Brug!
"Na..Naruto-kun?!"
Naruto tidak tahan lagi, pemuda pirang itu reflek membenturkan keningnya ke meja, menelungkupkan wajahnya, mencoba menyembunyikan wajah memerah dan gelora nafsunya yang kian membuncah.
Shit!
Dia harus tahan!
Sedangkan Hinata-
Menatap khawatir sang suami, ia nyari bangun dari posisinya sebelum sosok pirang itu menyembulkan wajahnya di balik telungkupan lengannya.
"Jangan ke sini Hinata," dengan suara yang entah kenapa berubah serak seperti itu, semakin membuatnya cemas.
Gerakan Hinata terhenti, wajah Naruto terlihat memerah.
"E..eh tapi," memotong ucapan Hinata, Naruto segera saja menjawab pertanyaan istrinya tadi.
"Aku ingin anak laki-laki,"
Gadis indigo itu kaget sebentar-
"Supaya nanti kalau aku menjadi Hokage dan sibuk dengan pekerjaanku, ada dia yang menjagamu."
Deg, deg, jantung Hinata berdebar keras. Gadis itu memerah seiring dengan senyuman kecil tercetak di wajahnya. Alasan yang di keluarkan Naruto-
Sangat membuatnya tersentuh-
"….."
Eh tapi tunggu dulu-
Oke, otak Hinata kembali menjadi polos, gadis itu berpikir cepat, dan kembali bertanya pada suaminya.
"Ta..tapi kalau nanti anak kita perempuan bagaimana Naruto-kun?"
Bruk-
Naruto kembali membenturkan kepalanya ke meja-
Tahan! Tahan!
Sedikit gemas dengan tingkah Hinata yang tiba-tiba polos begini, ia memberanikan mengangkat wajahnya. Kerutan alis kecil terlihat, dan mengeluarkan nada tegas, "Akan kupastikan dia laki-laki, kalaupun perempuan dia harus anak kedua."
"Bagaimana caranya? A..apa Naruto-kun belajar bagaimana cara mendapat anak laki-laki?"
"…."
Wajah polos, manik mengerjap tidak mengerti-
Damn, dia harus segera pergi dari sini. Naruto bisa hilang kendali. Menenangkan hatinya kembali, pemuda itu langsung saja berdiri.
Grek- kursi berderit kecil.
Menatap sebentar ke arah Hinata-
Menggaruk pipinya yang tak gatal, dan melihat gemas ke arah Hinata, "Bisa kukatakan seperti itu, tenang saja nanti kau juga akan kuajari Hinata."
"Hee, dimana? Sekarang?"
Tolong siapa saja sadarkan sikap polos istrinya.
Menghela napas panjang, melangkahkan kakinya mendekati Hinata. Mengacak rambut indigo di hadapannya.
Wajah sang istri yang memerah dan manis terpampang jelas,
"Na..Naruto-kun,"
Semakin mendekat, dan menundukkan wajah, mendekatkan bibirnya tepat ke arah cuping telinga Hinata.
Dan-
Dengan bisikan lembut-
Naruto memberitahu istrinya-
"Di ranjang tentu saja."
Tubuh Hinata membeku-
Darah di tubuhnya seakan mendidih, kerjapan manik polos itu berubah panik, bibirnya terbuka tertutup beberapa kali, seiring kedua Lavendernya menatap ke arah Naruto yang menatapnya dengan senyuman geli-
Kenapa dia baru sadar dengan pertanyaannya sendiri-
"Hu-" bibir gemetar,
Hinata reflek-
Buagh!
"Huaa Naruto-kun mesum!" mendorong tubuh kekar suaminya sampai terjungkal di lantai.
"Ittai!"
Next Drabble?
Drabble Three : Jealousy and Lovely Calling~
Saat Hinata melihat Naruto kembali di kerumuni penggemarnya. Akhirnya ia menggunakan jurus pamungkas ajaran Sakura. Membuat semua penggemarnya kalah seketika.
OoOoOoOoOooO
A/N :
Arigatou buat respon kemarin, :') Mushi seneng banget, tapi buat yang minta rate cerita ini di naikin sepertinya tidak bisa karena ini cerita Mushi buat untuk event dan tidak di perbolehkan sampai ke sana. Mushi juga nggak pengalaman nulis begituan, jadi sampai semi- M aja ya, kalau nanti ada waktu dan hati ini sudah siap, akan Mushi usahakan buat sequel terpisah fic ini :)
Want Next?
Untuk akhir Kata, Mushi nggak akan capek-capek bilang~
SILAKAN RIVIEW~ \^0^/\^V^7
JAA~
