Before After
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, Mushi cuma numpang minjem
Rated T semi M
Genre : Romance
Pair : NaruHina
Warning : Canon! Typos, OOC and many more.
OoOoOoOoOoOoOO
For Celebrate "1st NaruHina Canoniversary"
Prompt : Spring
FluffTimeProject#40#
OoOoOoOoOoOoooOOoOoOoOoO
Drabble Three : Jealousy and Lovely Calling~
Hinata pikir setelah dia menikah dengan Naruto, semua penggemar pemuda pirang itu perlahan-lahan akan menghilang. Ya dia memang sempat berpikiran seperti itu, mengingat dulu ia pernah di landa cemburu karena melihat gadis-gadis cantik di desa mendekati sang Uzumaki.
Entah apa yang ada di pikirannya dulu sampai-sampai ia berani sekali merasa cemburu seperti itu. Tapi bagaimana pun juga mungkin sudah sewajarnya bagi sang gadis indigo merasa cemburu dengan pemuda yang sejak kecil ia cintai, benar kan? Tidak ada yang salah kan dengan dirinya, saat pertumbuhannya makin meningkat beberapa tahun, jadi perasaan sekecil itu bisa saja ada di benaknya.
Hinata tahu, dia memang bukanlah gadis sebaik itu.
Dan kali ini, perkiraannya bahwa semua gadis penggemar Naruto menyerah-
Sepertinya salah besar-
OoOoOoOoOoOoooOOooO
Beberapa hari setelah pernikahan mereka, Naruto tiba-tiba mendapat misi untuk pergi ke desa selama tiga hari. Karena misi ini cukup penting dan hanya orang-orang kepercayaan Konoha saja yang diijinkan pergi, jadi Naruto, Sai, dan Shikamaru mungkin menjadi orang yang tepat untuk mengambil misi ini.
Hinata tentu saja tidak melarang, jika menyangkut hal-hal tentang kepentingan desa. Dan melihat Naruto meminta ijin padanya, itu sudah cukup.
Dan sudah tiga hari berlalu-
Hari ini kepulangan Naruto dan Hinata ingin membuatkan masakan kesukaan sang Uzumaki, selain Ramen pastinya. Gadis itu segera pergi dari rumah dan membeli bahan-bahan memasak saat sore hari.
.
.
.
.
.
"Ah, Hinata!"
Sosok yang tengah berjalan menenteng barang belanjaannya terhenti seketika, mengerjap singkat sebelum akhirnya berbalik cepat begitu ia mengenali suara siapa itu.
"Sakura-chan~" tersenyum kecil melihat gadis berambut merah muda di sana tengah melambai ke arahnya, dan berlari kecil. Sepertinya dia juga tengah berbelanja, dan mereka kebetulan bertemu.
"Hh, kau membeli apa sore hari seperti ini?" saat Sakura kini berdiri di hadapannya, gadis itu segera bertanya.
"Oh, ini, aku membeli bahan masakan untuk malam ini, Kalau Sakura-chan?" dirinya bertanya balik.
Memperhatikan gadis cantik itu tengah kikuk sekarang, dengan senyuman dan menggaruk pipinya yang tak gatal. "A..ah, hari ini rencana aku ingin belajar memasak bersama ibuku, ahaha~"
'Sakura-chan belajar memasak?' mengedip sekilas, Hinata ingat sekali kalau Naruto pernah menceritakan tentang bagaimana rasa masakan Sakura. Sosok pirang yang mendadak pucat dan menjulurkan lidahnya, berkali-kali mengatakan masakan sahabatnya hampir semua di campur dengan beberapa obat-obatan pahit.
Hinata reflek tertawa kecil, menatap sosok Sakura yang masih kikuk, ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa Sakura-chan belajar memasak untuk Sasuke-kun?"
Dan seperti tepat sasaran, gadis itu langsung terbatuk-batuk, "Uhuk! Uhuk! A..apa yang kau katakan Hinata, ahaha, te..tentu saja tidak hanya itu, a..aku juga harus belajar memasak..ka..karena aku juga perempuan kan?!" wajahnya memerah sempurna, membuat Hinata semakin ingin mengerjai sahabatnya.
"Eh? Tidak hanya itu?" tersenyum penuh arti.
"Ah! Bu..bukan!" Sakura menggeleng keras, tertawa kikuk dan mencoba membalikkan keadaan dengan mencari topic pembicaraan baru.
"Ngo..Ngomong-ngomong bagaimana kehidupanmu bersama Naruto beberapa hari ini?"
"…."
Hinata mematung, dan sekarang giliran gadis itu yang memerah. Mengingat hari-hari mereka berdua, sepertinya sudah cukup membuat sang indigo malu. Bisa di lihat dari tundukan kepala dan kedua jemari yang tanpa sadar saling bertautan memegang barang belanjaannya.
"I…itu, se..semuanya berjalan lancar Sakura-chan, a..aku senang sekali." hanya itu yang bisa ia katakan.
"Oh, benarkah? Kukira kau sedikit terganggu dengan sifat berisik Naruto~" sedikit meledek sahabatnya membuat Hinata terkikik.
"A..aku sudah terbiasa melihat tingkah Naruto-kun seperti itu, jadi aku tidak terganggu sama sekali~" tersenyum kecil pada Sakura.
Sang Haruno reflek terharu, gadis itu menggeleng kecil, dan langsung memeluk sahabatnya.
"Ah~ si Baka itu benar-benar harus bersyukur karena memilikimu sebagai istrinya. Coba saja aku ini laki-laki, pasti aku sudah mengincarmu sejak dulu~" menepuk puncak kepala Hinata.
"Ahaha, kau ini bisa saja Sakura-chan~"
Masih memeluk sahabatnya dan berjalan pelan, "Oh, iya satu lagi Hinata." Seperti mengingat sesuatu. Sang Haruno melepas pelukannya dan tiba-tiba saja berdiri di hadapan Hinata.
"I..iya?"
Dengan tampang serius, dan menilik-
"Hm, untuk masalah pribadi kalian berdua mungkin aku tidak akan bertanya. Tapi untuk masalah ini, aku harus tahu."
"Eh? Ma..masalah apa Sakura-chan?" makin tidak mengerti ucapan sahabatnya. Sakura mendekatkan bibirnya tepat di telinga Hinata.
Berbisik pelan-
"Kalian sudah punya panggilan sayang masing-masing kan?"
Krik-
Tubuh Hinata membeku,
Kedua Lavendernya mengerjap tanpa sadar, saat Sakura menjauhkan diri dengan pandangan bertanya.
Dengan kedua tangan berkacak pinggang dan menunggu jawaban.
"Pa..panggilan sayang? Ma..maksudnya Naruto-kun?"
Gadis merah muda itu menggeleng kencang, "Buu, salah~ bukan hanya panggilan itu saja, tapi yang lebih dalam. Seperti Darling, Honey, atau semacamnya~"
Darling-
Honey-
Blush!
Wajahnya memerah, Hinata menggeleng cepat. Mana bisa ia mengatakan hal itu pada Naruto?! Mereka baru saja menikah kan, ja..jadi tentu saja dia ragu untuk mengatakan panggilan sayang seperti itu, di tambah lagi bagaimana nanti reaksi Naruto? Pasti sang Uzumaki merasa dirinya aneh.
"Ti..tidak mungkin Sakura-chan," menyangkal ucapan Sakura,
"Hee, jangan malu seperti itu. Naruto pasti senang kau memanggilnya 'Darling'~" tersenyum menggoda, sekarang gilirannya di perlakukan seperti ini.
"Bi..bisa saja Naruto-kun malah marah." Dirinya menunduk pelan,
Sedangkan Sakura sudah berdecak kecil, "Hh, kau ini benar-benar polos dan negative thinking terus~"
"…" tidak berani merespon.
"Tapi cobalah untuk mengatakan sesekali," berniat untuk melanjutkan perjalanan mereka, dengan Hinata yang masih menunduk, dan Sakura yang-
Mengerjapkan maniknya tanpa sadar saat melihat pemandangan tak jauh dari posisi mereka.
Gadis itu reflek meneguk ludah, melirik ke arah Hinata.
'Gawat!'
Kedua Emeraldnya melihat jelas bagaimana sosok Naruto yang baru saja pulang dari misinya, kini tengah di kerumuni oleh-
Penggemar-penggemarnya.
Oh, sial!
Kenapa situasi mereka pas sekali!
Dia pikir penggemar pemuda Uzumaki itu pasti menyerah ketika tahu idola mereka sudah menikah. Eh ternyata perkiraannya salah besar.
Suara teriakan kecil perlahan terdengar, Sakura takut kalau pasangan baru ini bertengkar, di tambah lagi ia sudah pernah melihat bagaimana tingkah Hinata saat melihat Naruto di dekati penggemarnya.
Gadis itu cemburu tentu saja!
Dan sekarang gadis-gadis di sana lagi-lagi mendekati Naruto? Astaga~
"Ma..maaf Sakura-chan, aku-" seolah tidak mendengar ucapan Hinata, Sakura langsung saja memotong perkataan sang empunya.
"A..ah, sepertinya aku kelupaan membeli sesuatu, Hinata ayo antarkan aku!" berusaha membalikkan tubuh sahabatnya.
Tapi yang ada-
"Ada apa Sakura-chan? Kau lupa membeli apa?" Hinata mengadahkan wajahnya, menatap Sakura,
"Ah! Iya, ayo!"
Masih tidak mengerti ucapan Sakura, Hinata hanya bisa mengangguk kecil, mencoba mengikuti langkah kaki sahabatnya.
Sebelum-
"Selamat datang Naruto-senpai~"
"Kau pasti lelah sekali, Senpai~"
Tubuh mungil itu menegang, alisnya berkerut heran. Beriringan dengan Sakura yang mendecih kesal. Ck, suara cempreng mereka bisa sampai ke sini, sial!
"Tu..tunggu dulu, Sakura-chan. Sepertinya aku mendengar ada gadis-gadis memanggil nama Naruto-kun." berniat untuk berbalik.
"Uwa, tadi..tadi pasti hanya imajinasimu saja!"
Seolah tidak setuju, Hinata menggeleng kecil, "Um, aku mendengarnya jelas. Coba aku lihat sebentar ya," masih dengan senyuman, Hinata segera membalikkan tubuhnya.
Sakura menepuk kening-
Ah, ketahuan-
"…."
Kaget-
Kedua Lavender itu membulat-
Dan seperti yang kita baca di paragraph awal, seperti itulah keadaan Hinata sekarang.
"Naruto-kun,"
.
.
.
.
.
.
.
.
Perkiraannya salah besar-
Melihat sosok suaminya kini sudah fix di kerumuni oleh gadis-gadis yang memanggil pemuda itu dengan sebutan 'Senpai' seperti biasanya.
Dengan wajah memerah, tatapan memuja, dan teriakan cempreng-
Sakura sedikit takut melihat Hinata yang hanya bisa diam saja, atau lebih tepatnya masih mencoba mencerna kejadian di hadapannya.
Naruto tengah kebingungan dan mencoba meladeni seluruh gadis itu dengan tulus, tertawa kikuk.
"…."
"A..ano, Hinata, jangan di pikirkan. Kalian kan sudah menikah, jadi gadis-gadis itu pasti paham,"
Perkataan Sakura bagai angin lalu di otaknya, pikirannya sudah tertuju jelas pada Naruto kali ini. bagaimana jantungnya yang berdetak lebih cepat di banding biasanya.
Antara senang Naruto sudah kembali dengan selamat dari misinya, dan-
Kesal melihat kedekatan sang Uzumaki dengan penggemarnya. Dia memang tidak dewasa, kalau kalian boleh tahu. Dia hanya gadis yang bisa cemburu kapanpun melihat suaminya di kerubungi oleh penggemarnya yang tidak kenal lelah.
"…"
Mengerucutkan bibirnya tanpa sadar, Sakura terkejut melihatnya-
"Hinata?"
Pandangan tidak suka terlihat-
Detak jantung yang tidak teratur,
Dan reflek langkah kaki yang dilakukan oleh Hinata. Sakura kaget-
"Eh!"
Sosok gadis indigo itu tiba-tiba berjalan mendekati kerumunan di sana.
Apa Hinata ingin memukul Naruto?! Atau penggemarnya?! Oh atau gadis itu ingin menyueki sang Uzumaki dan menangis pulang begitu saja seperti dulu?!
Dia hanya bisa menunggu gugup-
Menatap khawatir sosok gadis cantik itu.
Tap-
Tap-
Langkah kaki Hinata semakin mendekati Naruto-
Beberapa orang di sana mulai melihat kedatangan istri sang Uzumaki dan entah kenapa ikutan gugup.
Tap-
Tap-
Kerumunan gadis di sana masih tidak sadar-
Naruto juga-
Tap-
Tap-
Semakin dekat,
Tap-
Tap-
Tangan mungil itu tiba-tiba saja menyibak kerumunan gadis yang berhasil ia dekati, masih dengan kerucutan bibir, tanpa mengucapkan permisi, dan kedua Lavender yang hanya tertuju pada Naruto.
"Hi..Hinata?!" Naruto kaget, dirinya ikut kikuk.
"….." tidak ada respon, semua gadis di sana perlahan merasa tidak enak, ada pula yang merasa tidak suka. Membiarkan sosok indigo itu membelah kerumunan dan memberinya jalan untuk mendekati Naruto.
Sampai akhirnya-
"Ja..jangan salah paham dulu, Hinata, ini bukan-"
Sret-
"Eh?" sang Uzumaki sudah kaget terlebih dahulu sebelum menyelesaikan kalimatnya, saat melihat tangan mungil itu menarik pakaiannya pelan.
"…."
Wajah manis yang perlahan mengadah dengan semburat merah, dan raut wajah menekuk.
Bibir yang berbisik mulai terdengar di telinganya, mengucapkan kalimat singkat yang tidak pernah ia kira-
"O…Okaeri, A..nata."
"…."
"…"
"…."
Semua orang di sana reflek bungkam-
"…."
Naruto lebih parah, pemuda itu menegang, plus bungkam, kedua Saphirenya mengerjap tak percaya.
Bahkan setelah Hinata sadar dengan ucapannya sendiri, sang indigo sudah menarik gugup Naruto keluar dari kerumunan. Membuang jauh-jauh rasa malunya, wajah memerah itu sudah tidak bisa ia tahan lagi.
"….."
Dan Sakura melihatnya-
Beberapa menit lalu ia memberi nasehat pada Hinata dan gadis itu sudah melakukannya?!
"Khaha, kau memang berani Hinata~" dirinya mendengus geli, melangkahkan kaki mendekati gadis-gadis yang masih berdiri mematung di sana.
Menatap kepergian sepasang suami istri itu-
"Kalian masih ingin menggoda pasangan itu~" mengeluarkan ejekan, dan sukses membuat semua orang di sana memerah malu.
"Huh," mereka reflek berlari pergi, meninggalkan tempat itu.
Membiarkan Sakura tertawa kecil, dan merasa puas dengan tindakan berani Hinata.
"Good job Hinata~" Siapa yang tahu kalau jurus panggilan sayang yang ia ajarkan pada Hinata sangat efektif untuk penggemar setia sang Uzumaki?
.
.
.
.
.
.
Naruto tersadar-
Pemuda itu mengerjap beberapa kali-
Melirik tak percaya ke arah istrinya yang masih menggenggam tangannya sampai saat ini. "Hinata tadi kau bilang apa padaku?" bertanya cepat.
"Ti..tidak akan kuulangi!" kaget melihat Hinata menggelengkan kepalanya dan menunduk malu. Wajahnya memerah sempurna.
"Ulangi sekali lagi?" Naruto meminta.
"Tidak!" Hinata menolak, mana bisa ia mengatakan hal memalukan itu sekali lagi!
Mengerutkan keningnya tak suka, bibir Naruto mengerucut, "Katakan sekali lagi,"
"Tidak, sudah cukup tadi, Naruto-kun!"
"Belum cukup, aku tidak mendengarnya dengan jelas!"
"Tapi kan!"
Mengadahkan wajahnya cepat, Hinata melihat kembungan pipi tak terima di wajah Naruto. Bak anak kecil yang memberontak, sang Uzumaki reflek menghentikan langkah kakinya.
"Eh!" Hinata tidak bisa melanjutkan perjalanannya.
"Katakan sekali lagi, baru kita pulang." Tidak mau menatapnya.
"Ta..tapi,"
"Atau aku kembali saja ke sana,"
Apa? Naruto mau kembali lagi ke sana, di kerumuni oleh gadis-gadis itu?!
Hinata tidak mau-
Gadis itu mengembungkan pipi kesal, menatap Naruto yang masih keras kepala.
"Katakan sekali lagi."
"…"
"….."
Tidak bisa menang darinya-
Ia menghela napas panjang, benar-benar tidak ada pilihan lain lagi. Pipi itu merona, mencoba mengulang kembali ucapannya tadi-
Dengan pelan-
"O..Okaeri, Anata, su..sudah kan?"
Kali ini sang Uzumaki sukses menatapnya balik-
Dengan senyuman semangat, "Sekali lagi!"
"Okaeri A..Anata!"
"Satu kalimat terakhir saja~"
Semakin memerah, Hinata tidak mau menatap suaminya, "A…Anata,"
"Dan sekarang sambil menatapku~"
Ragu-ragu, wajah itu mengadah pelan, dengan rona pipi dan kembungan kecilnya-
"Anata~" Hinata sukses mengucapkan kalimat itu dengan lancar.
Jlebb!
Jleb!
Jantung Naruto serasa di tusuk oleh panah cinta ribuan kali, ah dia pasti sedang bermimpi sekarang. Istrinya yang pemalu tiba-tiba mengucapkan panggilan sayang seperti itu, apa ini kejutan dari Kami-sama padanya?
Dia senang sekali, astaga!
Bak orang gila, Naruto tersenyum lebar, menggenggam tangan Hinata erat, "Aku ingin mendengar panggilan itu sampai kita pulang ya, Hinata."
Dan Hinata kaget-
"Eh?! Ta..tapi satu kali saja sudah cukup kan?!"
"Tidak cukup, ayolah Hinata anggap saja ini hadiahku setelah pulang dari misi yang melelahkan~" dengan pandangan bak anak anjing yang terbuang.
Fix Hinata kalah-
Dia benar-benar harus membuang urat malunya kali ini-
"A..Anata,"
"Sekali lagi, Hinata sayang~"
Blush!
Hinata hampir pingsan-
"A..Anata,"
"Mo Ichido~"
"Anata!"
"Sekali lagi!"
Dan begitulah mereka pulang, Hinata yang mengucapkan kalimat sayang dengan wajah memerah dan Naruto yang sepertinya puas sekali mendengarnya.
Hah, sepertinya perlahan-lahan pasangan manis ini mulai mengalami perubahan, dan untuk beberapa hari lagi. Berharap saja mereka bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
You Know What I Mean, Right?
THE END
A/N :
Huwaa, gomen untuk fic ini Mushi ingin tamatkan sekarang. Karena entah kenapa stok romance NaruHina Mushi mendadak habis, rencana empat drabble fic terpaksa di batalkan. Karena kalau Mushi lanjutkan takutnya fic ini akan menjurus ke rate yang lebih tinggi, jadi sampai di sini dulu ya ceritanya :)
Arigatou buat yang sudah mau riview, fav, dan follow cerita ini :D
Happy NaruHina 1st Canoniversary Minna~
Untuk akhir Kata, Mushi nggak akan capek-capek bilang~
SILAKAN RIVIEW~ \^0^/\^V^7
JAA~
