Chapter : 1

~happy reading~

Suara riak air mengalir indah di bawah air terjun di bukit Bolero. Tebing-tebing bebatuan yang nampak curam di tumbuhi berbagai jenis tanaman indah termasuk Mandevilla, tanaman merambat yang dapat tumbuh meski di suhu yang rendah.

" Begitu melewati air terjun Sandari ini maka kita akan sampai di Dataran gersang Bigeast pangeran" Ujar Pria berjidat lebar yang kini tengah menelisik kawasan air terjun tersebut.

" Sudah ku bilang Yoochun hyung, sebut namaku saja jika kita sedang berada di luar istana" keluh pria bermata musang.

" Baiklah pang-akh maksud ku Yunho"

" Hei! Lihat!" Teriak pria berbadan tinggi di ujung lereng tebing bebatuan sambil menunjuk ke arah selatan " waaah daebak! Kerajaan yang dulunya terkenal dengan kesuburan dan kemakmurannya kini telah menjadi tanah gersang. Lihat! Bahkan tanahnya berwarna hitam pekat. Entah apa yang terjadi 6 tahun lalu" lanjutnya.

Yunho mengarahkan kuda yang di tungganginya untuk menghadap selatan.

" Saya tidak yakin disana ada lorong rahasia menuju Flower kastil seperti kata baginda Raja jika keadaanya seperti ini Yunho~ah"

Yunho tidak menyahut. Mata musangnya terus memperhatikan daratan Bigeast. Ada perasaan rindu ketika dirinya melihat puing-puing bebatuan yang dulu pernah dilihatnya ketika usianya masih 12 tahun.

" Aku heran kenapa Ayahanda menyuruh kita ke tanah tandus dan gersang seperti ini?"

Pletak

" Yak, Hyung" Sebuah kayu sukses mendarat di jidat pria yang nampak paling muda tersebut. Sedang sang pelaku hanya memutar bola matanya dengan malas.

" Ayahanda tidak pernah menyuruh mu Jung Changmin, tetapi kau dengan seenak jidat menyelinap kabur dan mengikuti kami" ujar yunho sambil memacu kudanya ke arah selatan Bolero. Melihat 'kemesraan' kakak-adik tersebut Yoochun hanya mampu menggelengkan kepalanya kemudian ikut memacu kudanya meninggalkan Pangeran kedua kerajaan Cassiopeia yang tengah mengerucutkan bibirnya tidak lucu.

.

.

.

.

.

~ Flower castle ~

" Yang Mulia ?" Teriak Junsu panik ketika melihat wajah pucat Jaejoong saat hendak mengantarkan makan siang kekamar sang Putri bermutiara rusa tersebut. " anda kenapa Yang Mulia?"

" Entahlah suie, hanya saja dadaku tiba-tiba saja berdetak kencang." Lirih Jaejoong sambil memegangi dadanya.

Brakk

Pintu berornamen bunga orcid tersebut terbuka lebar dengan paksa ketika beberapa pelayan berlari berhamburan masuk kedalamnya.

" Apa yang kalian lakukan di ruangan Putri Jaejoong?" Teriak Junsu murka ketika melihat beberapa pelayan masuk tanpa seijinnya membuat mereka tertunduk takut mendengarnya. Junsu hendak melanjutkan aksi marahnya ketika lengan putih mulus menahanya dengan lembut.

" Sudahlah tak apa" ujar Jaejoong sambil tersenyum menatap Junsu membuat amarah Junsu musnah seketika. " Ada apa kalian kesini?" Lanjutnya dengan suara selembut kapas.

" Maaf kan kami yang mulia, tapi aliran air yang mengalir disebelah utara kastil berubah menjadi keruh" ujar salah satu pelayan pria yang tengah memegang baki yang lumayan cukup besar.

" Kenapa bisa seperti itu pelayan Choi?"

" Kami juga tidak mengerti yang mulia, padahal saat fajar tadi aliran airnya masih jernih tetapi menjelang siang aliran air tersebut tiba-tiba saja menjadi keruh"

" Apakah rerumputan di sekitar tepi aliran air menjadi layu?"

" Ya, yang mulia. Bukan saja layu, tetapi daunnya berubah menjadi gelap."

" Apakah diantara kalian sudah ada yg mencoba mengambil air tersebut?" beberapa pelayan menggelengkan kepalanya.

"Tidak, yang mulia"

" Syukurlah. Perintahkan seluruh pelayan untuk tidak mengambil air di aliran air tersebut."

" Tapi... Tapi bagaimana bisa Yang mulia, aliran air tersebut adalah satu-satunya sumber air utama dikastil ini!"

" Aku sendiri tidak tahu, tetapi yang jelas air tersebut telah terkontaminasi sesuatu dan tentunya sesuatu tersebut bukanlah hal yang baik"

" Lalu kita harus minum dari mana Yang Mulia?" sejenak Jaejoong terdiam, kemudian menolehkan kepalanya ke arah jendela.

" Awan mulai menghitam, aku rasa sebentar lagi akan hujan." Dahi seluruh pelayan saling bertautan, mereka tidak mengerti maksud ucapan sang majikan.

" Kenapa Yang Mulia malah membahas hujan di saat genting seperti ini?" protes salah satu pelayan yang memakai topi jerami di kepalanya. Jaejoong tersenyum samar kemudian menatap mereka satu persatu.

" Tampung air hujan sebanyak mungkin dengan semua peralatan yang kita miliki untuk menyetok persediaan air semetara sambil menunggu aliran air kembali jernih seperti semula. Itulah maksud ku pelayan Ahn!" Pelayang Ahn yang sempat protes tadi menunduk terdiam.

" Maafkan Hamba Yang Mulia" sesal sang pelayan.

" Sudahlah, aku tidak mempermasalahkannya. Aku tahu kekhawatiran kalian semua. Maaf jika aku membuat kalian menjadi terbelengggu di kastil ini!" Ucap Jaejoong pelan dengan wajah sendunya.

" Aniyo, Yang Mulia!? Jangan berkata seperti itu. Sudah tugas kami sebagai pelayan untuk setia kepada majikannya. Kami akan melakukan apapun perintah yang anda berikan kepada kami. " Semua pelayan di ruang tersebut menunduk terdiam mendengar ucapan Junsu barusan. Mereka merasa bersalah sudah membuat putri Jaejoong bersedih.

Mereka merasakan apa yang Jaejoong rasakan. Terikat dengan Flower kastil dan tidak di perbolehkan keluar dari area kastil. Para pelayan setia Jaejoong masih merasa beruntung masih bisa beraktifitas di luar ruangan, tetapi tidak dengan Jaejoong. Entah sampai kapan sang putri berkulit selembut salju tersebut dapat bebas. Mereka hanya mampu berdoa.

.

.

.

.

.

~ Bigeast~

" Hyung Lihatlah!" Seru Changmin sambil melambaikan sesuatu di tangannya.

Yunho turun dari kuda putihnya, kemudian berjalan menghampiri sang dongsaeng di ikuti oleh Yoochun.

" Aneh, Hampir seluruh dataran Bigeast terbakar hangus, tetapi kenapa buku aneh ini masih begitu utuh meski ada sedikit sobekan di pinggir-pinggirnya?" Gumam changmin sambil membolak-balik benda yang dia temukan tadi.

" Dari mana kau dapatkan buku itu, pangeran?"

" Aku mendapatkanya di bawah sana, di bawah bebatuan berwarna hitam itu. Tadi Ace tidak sengaja menendang batu dan hampir saja aku terjatuh. Saat kulihat kebawah ternyata aku menemukan buku usang ini" jelas Changmin sambil mengusap lembut kuda berkulit coklat tua kesayangnnya.

Yunho dan Yoochun saling memandang, kemudian dengan sigap di raihnya bukur setebal 3 centi berwarna gelap tersebut dari tangan Changmin.

Tangan kekar Yunho membolak balikkan buku tersebut, dahinya mengernyit bingung menatap buku bersampul hitam yang seolah terlilit sesuatu dan terlihat seperti akar hitam. Jemari tangannya berusaha membuka lilitan-lilitan tersebut, namun seolah seperti perangko akar-akar hitam tersebut merekat erat melilit dan sulit untuk di lepas.

" Bagaimana cara membukanya? Lilitan dibuku ini begitu kuat dan sulit sekali di lepas"

" Apa mungkin ini buku sihir bangsa Troll?"

" Itu tidak mungkin Yoochun hyung, sepengetahuanku bangsa Troll tidak pernah keluar dari alam bawah tanah, mereka hidup di kelembaban jadi bagaimana mungkin buku ini bisa sampai ke dataran"

" Tapi Yunho , hanya bangsa Troll yang mampu membuat Sihir dan mengunci buku dengan kekuatan mereka"

" Sihir!?" Gumam Yunho pelan nyaris tak terdengar.

' Jika kau putar waktu terbalik, sinar penunjuk arah akan memberikan cahaya dari kegelapan'

" Suara itu lagi" desah yunho pelan.

Yoochun dan Changmin saling bertatapan kemudian melihat bingung ke arah Yunho.

" Suara apa yang Hyung maksud?"

" Ah, sudahlah nanti aku akan menceritakkannya kepada kalian. Sekarang Aku hanya penasaran maksud dari ' Jika kau putar waktu terbalik, sinar penunjuk arah akan memberikan cahaya dari kegelapan' ?"

" Apa maksud mu Yunho hyung?"

" Itu adalah sebuah cara untuk membuka buku aneh ini!"

" Bagaimana kau tahu bahwa itu caranya?"

" Seseorang membisikannya kepadaku?"

" Siapa seseorang itu? Apa kau Yoochun hyung?" Yoochun menggeleng sambil menyilangkan tangannya ketika Changmin menatap penuh tanya.

" Yak!" Teriak Yunho mengagetkan Yoomin " Kau ini cerewet dan terlalu banyak bertanya, seharusnya tadi kau kutinggalkan di Goa labirin tersesat itu Jung Changmin" murka sang pewaris Tahta cassieopeia tersebut yang di balas ringisan Changmin.

" Sebentar lagi akan hujan, saya rasa lebih baik kita mencari tempat berteduh terlebih dahulu. " Saran Yoochun sambil melirik kekanan dan kekiri mencari tempat berteduh " saya rasa kita harus bergegas, karena disini tidak ada tempat yang bisa kita gunakan untuk berteduh"

Di sekeliling mereka tidak terlihat satupun tempat yang bisa mereka singgahi untuk berteduh karena seluruh dataran Bigeast sepenuhnya rata akibat peperangan beberapa tahun lalu.

Yunho, Yoochun, dan Changmin menaiki kuda mereka masing-masing. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Bigeast untuk mencari tempat istirahat dan berteduh.

" Tetapi lorong yang di maksud dengan ayahanda tidak kita temukan. Apakah kita akan kembali kesini Yunho hyung?" Tanya Changmin sambil menoleh kekanan dan kekiri melihat hamparan lahan tandus hitam negeri Bigeast.

" Aniyo. Ayahanda bilang meski tanpa lorong tersebut kita masih bisa ketempat Flower kastil, hanya saja perjalanannya sedikit rumit dan terlalu banyak bahaya"

" Lantas, apakah kita akan memilih opsi kedua tersebut karena gagal menemukan lorong rahasia itu"

" Ya, mau tidak mau. Mungkin lorong tersebuh hancur dan tertimbun karena kekuatan dahsyat pemimpin Bangsa Elf seperti yang ayahanda ceritakan."

" lalu kenapa kau di utus ayahanda untuk pergi ketempat berbahaya tersebut?"

Yunho menghembuskan nafasnya mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari bibir Changmin. Beginilah jadinya jika mengajak seseorang berkelana tanpa tahu situasinya. Rasanya ingin sekali merobek bibir cerewet itu.

" Makanya lain kali tak perlu mengendap-endap mengikuti kami dari belakang dasar food monster, dan ingatkan aku untuk menguliti bibirmu yang penuh tanya itu begitu kita telah menyelesaikan misi ini" keluh Yunho.

TBC

Bagaimana kah kisah selanjutnya?

Tunggu kisah selanjutnya di chap depan. Hahahahahahahahahaha

Salam Ayana Jung