"Apa ?" Laki-laki pirang tersebut melirik, panggilan dari seorang mahluk dengan rambut ocean tersebut membuatnya membuka matanya yang beberapa saat tadi terpejam dan menikmati angin yang menerpa rambut pirangnya saat dirinya sedang sibuk bobok siang di pinggiran city river, sungai kecil dalam City Garden, Taman terluas dan termodern yang pernah ada dengan berbagai season yang disuguhkan dan fasilitas taman bermain yang cocok untuk para pasangan dan-Cukup! Kenapa kita jadi membahas City Garden!

"Dicariin sama si IAN," Dia terlihat menunjuk kepada seseorang, duduk manis di bawah pohon disana dengan view yang begitu epic seperti ada tambahan silau dari editing shotoshop, si laki-laki pirang cuma menatap gak minat. Buka maksudnya untuk mencibir namun view-nya terasa aneh dengan adanya IAN yang ada di sana. Dengan kata lain merusak suasana.

"Woy, apaan lu manggil gue?" IAN berbalik laki-laki pink pucat tersebut tersenyum senang di tempat duduknya, tangannya ia gerakan mengisyaratkan Len untuk mendekat.

"Gue punya hal menarik di sini," Ia terlihat tersenyum senang. Bahkan wajahnya seperti dikelilingi bunga bunga yang bermekaran dengan indahnya. Len menatapnya aneh sambil bergerak ke tempat IAN ia menaikkan alis bingung.

Buk!

Saat Len ada di dekatnya, IAN merangkul Len hingga laki-laki tersebut berlutut di samping IAN, "Apa sih lu!?" IAN cengir-cengir aneh telunjuknya ia naikkan menunjuk pada satu tempat di sebrang tempat duduknya.

"Liat deh," IAN berbisik pelan, disana, di pinggiran sungai beberapa puluh meter dari mereka, seorang perempuan sedang di ganggu oleh beberapa preman mungkin atau mereka adalah berandalan sekolah-mereka mengenakan seragam sebuah sekolah, namun Len tak terlalu kenal dengan seragam tersebut. Gadis itu menjerit tak suka walau sudah mengayunkan tas memberontak, namun tangannya ditahan oleh seorang dari mereka, sepertinya gadis tersebut mau di-PING!- [1] oleh para berandalan tersebut.

"IAN gak enak ganggu kesenangan orang lain." Len terdengar menasehati dan menangkis tangan IAN pelan tak berniat dengan apa yang di lihatnya tadi.

IAN berdecih, "Emang setan lu Len," Ia mencibir, bagaimana bisa laki-laki itu tak peduli dengan orang lain, Oh, ia mulai ingat Len adalah iblis sekolah mana mungkin ia mau memperdulikan orang lain selain dirinya sendiri. Sebuah helaan nafas keluar dari bibir IAN, "Klo gitu gimana klo gue ubah, mau tanding."IAN menaikkan alis menantang, Suatu hal yang menggiurkan untuk Len jika ia di tantang satu hal oleh orang lain. Mata birunya terlihat melirik tertarik, IAN tersenyum bangga, sudah ia duga pancingannya akan mempan.

"Apa?" IAN kembali menunjuk gadis disana yang sudah kewalahan menanggapi para brandalan hanya menunggu waktu sebelum ia di –PING-. Laki-laki ini tersenyum.

"Dari kita siapa yang mampu membuat para brandal tersebut babak belur," Ia menghentikan sebentar ucapannya hanya untuk menghitung berapa banyak brandalan disana sebelum sebuah senyuman-bukan smirk senang menghiasi bibir tersebut.

"Ada 3 orang yang dapet paling banyak yang menang," Ia kemudian menatap Kaito yang tidur di bawah pohon tersebut dengan nikmatnya, "Kai, lu mau ikut kagak."

Kaito melambaikan tangan tak berminat, "Gak lu berdua lanjut aja." IAN berdecih, seakan mengisaratkan 'gak-seru-lu.'

Laki-laki itu kembali mengalihkan pandangannya kepada Len, "Jadi lu siap Len." IAN bertanya. sebuah senyuman iblis sudah terbentuk di bibir Len. "Kapanpun lu siap."

IAN ikut tersenyum mereka berdua terlihat seperti iblis yang mulai sebuah pertarungan adaikan saja ditambah effect dua character anime yang bertarung di belakang mereka mungkin ini akan menjadi pertarungan yang cukup epic.

"Klo gitu…. mulai!"

Kaito tau mereka berdua sudah mulai berlari pergi apalagi dengan angin kencang yang menghembuskan rambut ocean-nya tadi Kaito cukup yakin kedua temannya itu sudah tak ada lagi di dekatnya, "Semoga beruntung." Laki-laki ini bergumam tak jelas sebelum kembali pada kesibukannya, tidur manis dibawah pohon rindangnya.

Disclaimer : Vocaloid ©Crypton FM and yamaha

Story © Mirai and Mi

Warning! some mistake in EYD, any typo and the other mistake.

Collab with Mirai-chan © Yami No Kagi

Chapter 2 : A surprise !


BUK!

Laki-laki itu mengayunkan sebuah pukulan telak ke wajah sang korban, senyum senang menghiasi wajahnya. Sedangkan di sisi lain sebuah decihan terdengar dari temannya disusul suara buk! yang sama. Sebelum mereka menyadarinya semua brandalan di sebrang sungai sudah terjatuh semua seperti mayat yang bergelimpangan di dekat mereka, dengan sang gadis yang entah sudah lari kemana dan mereka berdua yang berdiri angkuh diantara tubuh-tubuh kekar yang roboh disana.

Si pirang yang tadi mendengar sebuah suara yang penuh dengan dendam tersebut mengalihkan pandangannya pada teman berrambut pink pucat tersebut, dengan sebuah senyum setan yang mulai menghiasi bibirnya.

"Kenapa lu IAN, muka ketekuk kayak gitu gak rela lu klo gue menang, heh.."Len mengejek. Senyumnya terlihat begitu menyebalkan bagi IAN. Laki-laki itu berdecih, sebenarnya bukan karena pertarungan mereka yang sudah berakhir dengan Len sebagai pemenang-skor 2-1, IAN mendapatkan 1 orang dan Len yang menghajar 2 orang-yang membuat IAN menekut muka tak suka namun gara-gara start tadi.

"Mati lu –PING-PING-"Dengan senang hati IAN mengumpat kepada Len, jari tengah telah naik, dengan decihan penuh kebencian yang terdengar dari bibir IAN, "-curi-curi kesempatan waktu start!"

IAN memang benar Len memulai start-nya lebih dulu bahkan belum sempat dia mengakhiri ucapan star-nya, "Lah, siapa suruh lu bilang start sempet aja wajah hadap si Kaito, ya gue dahuluin lah,"Len memang juga tak salah juga untuk bagian yang itu, mungkin.

"Ngeles lu!" IAN tak mau kalah matanya menyipit kesal, itulah yang Len suka saat temannya ini sudah benar-benar dongkol padanya, enak di kerjain, batinnya tersenyum senang. Dia memang benar-benar seorang iblis.

"Terserah lu deh IAN yang pasti gue hari ini maennya bersih, sebersih hati gue." IAN tertawa sinis, "Sejak kapan hati lo bersih, udah busuk kotor juga itu hati."

Dan IAN tau Len memukulnya dengan keras tepat di ulu hati, membuatnya meringis kesakitan, sang pelaku memandangnya dengan aura suram, "Mulut emang, selanjutnya mau di pukul bagian mana lu, kepala, pipi, bahu, pinggang atau langsung ke yang inti-bagian bawah." IAN geleng-geleng tak setuju.

"G-gak, semuanya, Kh!" IAN mengelus dadanya yang tadi dipukuli Len dengan tak manusiawi. Ada sebuah umpatan kecil yang kembali keluar dari bibirnya.

Len tertawa, "Harusnya-"

DEG!

DEG!

Mereka berdua terdiam, tawa dan semua umpatan itu menghilang begitu saja di gantikan dengan sebuah perasaan aneh, dengan saling melirik mereka seakan mengirimkan kode siaga, hawanya terasa berbeda, tiba-tiba terasa begitu berat dan aneh. Ini tekanan. Namun, bukan sebuah tekanan yang biasa ini sebuah tekanan dari sebuah kekuatan besar yang beradal dari diri para manusia, manusia dengan kekuatan super.

'I-ini,'

"Ugh! Bocah -PING- !" Mereka berbalik seorang dari para brandalan yang tadi telah bangkit dari tidur 'pendeknya' tadi, wajahnya yang babak belur terlihat mengerikan dengan senyuman dan aura hitam pekat yang tak mengenakan, Len dan IAN kedip-kedip bingung sebelum dengan muka bodohnya mereka tepuk tangan membuat sebuah tanda kesal terbentuk pada kepala sang brandalan, "Ngece lu ya!"

Wuushhh~~

Tiba-tiba sebuah api entah dari mana terbentuk di tangan laki-laki tersebut, Ia tersenyum dan dengan cepat melempar api berbentuk bola tersebut kearah IAN dan Len.

BOOM~~

Asap terbentuk, mengitari sekitar pinggiran sungai tersebut, gelak tawa dari sang pelaku pelemparan terdengar nyaring memenuhi udara. Dia terdengar senang seakan sudah mampu merobohkan sang lawan, "Rasakan itu anak ingusan!"

Perlahan asap yang mengepul mulai menghilang tergantikan dengan udara bersih dan pemandangan tanah yang 'sedikit' berlubang, tapi, tak satu pun terlihat tubuh yang tergeletak, "Hah? Kemana mereka pergi," Sang brandalan celingak-celinguk mencari keberadaan dua orang shota tadi yang kini menghilang entah kemana.

"Bang, atas sini."

Dengan sigap sang berandalan menghadap keatas melihat dua mahluk tadi masih 'mengambang' di udara dengan slomotion yang begitu lama-"Hah!?"-cukup lama hingga sebuah sweatdrop menghiasi kepala sang brandalan.

"Kalian manusia atau setan sih ngambang lama banget," Sang brandalan mulai OOT, yang di tanya malah ikut sweat drop, "Tanyain author sana (Authors, "Tehe~~"), mana ini kaki dah kram kelamaan ngambang." Jawaban IAN bahkan lebih OOT. Len Cuma geleng-geleng gak ngerti, kenapa juga ia harus ngerti pasti jika di tanya alasan kenapa mereka ngambang-mengambang ini kepada sang author, ia tau jawabannya bakalan lebih aneh lagi.

"Alah, mas-ah~ baik kalian segera di musnahkan saja!"

Si brandalan berteriak kesal, namun 2 orang tersebut malah memandangnya dengan tatapan aneh, "Kimochowarui. Dasar Hentai!"

"Brengsek! Kenapa lu malah ngatain bocah!" Si brandalan tak terima dikatain hentai sama ni dua anak ingusan-walaupun kenyataannya, iya-namun, ia tak terima dari lubuk kokoro-nya yang terdalam.

"Ya, siapa suruh diantara kalimatnya di selipin kata yang menjijikkan kayak gitu!"

"Ya, salahin si author yang nulis! Lagian itu kayaknya lebih baik dari kalian berdua yang dari tadi ngambang gak napak-napak!"

"Ini gara gara efek slowmotion yang overload!"

"Ngeles lu!"

"Alah, abang juga ngeles!"

"Abang-abang lu kira gue apaan cah, tukang bakso!"

"Urusai!"

Mahluk yang tadi teriak-teriak gaje tersebut menghentikan acara saling semprot mereka, suara mereka berubah menjadi suara nafas yang terengah-engah. Terutama IAN yang sudah terengah-engah lelah karena ialah pelaku peneriakan kepada abang yang dikatakannya hentai di depannya ini, sedangkan sang abang, menatap kesal. Bola api kembali terbentuk di kedua tangannya tepat saat dua mahluk tersebut akhirnya napak di tanah dengan epic-nya.

( Jujur saja, entah kenapa terdengar tepuk tangan yang meriah saat mereka menapaki tanah.)

"Rasain nih, 'Fire Technique: Giant Fire Ball'."

Sebuah bola raksasa terbentuk saat dua bola yang dilemparkan sang brandalan-yang sekarang dikenal dengan nama abang-bergabung dan membentuk bola api raksasa, sesuatu yang cukup untuk menyerang mereka berdua. IAN dan Len melompat kesamping secara spontan meninggalkan suara dentuman keras dan bekas gosong pada tempat mereka berdiri tadi.

IAN tersenyum ditempatnya sama seperti halnya Len yang mulai menampakkan senyum iblisnya disana, "Abang, ternyata abang seorang esper-ya gak nyangka."

"Cih,"Sang abang berdecih, "Gak nyadar lu dari tadi."Sebuah senyuman menghiasi bibirnya merendahkan orang yang dia ajak bicara,"Lu takut."

IAN memejamkan mata, berdecak kesal mendengar ucapan si abang, "Ck,ck,ck…Abang gak baik loh ngeremehin orang."Kemudian dia memperhatikan laki-laki tersebut.

'Sebuah bola api besar dalam waktu 5 detik sebuah kekuatan yang bagus, Fire technique-nya hampir sempurna namun dalam kecepatan itu tak sesempurna lvl 4, dengan kata lain dia seorang esper api-Fire dengan level yang memungkinkan, level 3.'IAN mengalihkan pandangannya menatap Len yang dari tadi diam beberapa meter di samping kanannya.

"Jadi, Len. Kau atau aku yang bakalan beresin si abang?"Senyuman licik terbentuk. Len menghela nafas menggerakkan tangan kurang minat ngelawan si abang-entah mengapa. "Gue serahin ke lu aja sekarang lu jadi pemeran utamannya, gue mau istirahat."Len bergerak pergi menjauhi IAN kembali menuju tempat Kaito dimana si ocean tersebut masih menikmati bobok siang manisnya.

Si abang menaikkan alis bingung, sementara IAN kembali serius sebuah senyuman menghiasi wajahnya, "Jadi cukup becandanya, bisa kita ."

Si brandalan berdecih sebelum berlari mendekat si IAN dengan beringasnya, "Fire technipue: Hitting fire."

IAN tersenyum, tangannya ia satu kan dan berbisik dengan senyuman senang, " Wind technique: Death Shindig Strom."

DUAR~~BOOM~~

Dua kekuaran beradu kuat sebuah badai topan horizontal yang menghantam si Abang dengan keras membuat debu-debu berterbaran menyisakan suara terengah-engah entah dari siapa, yang jelan diantara mereka ada yang berlutut sebelum dalam bayang-bayang debu tersebut ia jatuh tersungkur.

.

.

.

5 minute later~~

"Woy, dua mahluk bangun lu pada!." IAN berteriak kencang sambil melempar tas yang entah kapan di pegangnya mengakibatkan dua suara 'Ugh!' yang hampir bersamaan dari korban pelemparan tas oleh IAN. Si ocean berdecih bangkit dari posisinya dan duduk memandang IAN dengan mata yang sedikit tertutup ia yakin ruhnya masih berjalan-jalan entah kemana.

"Woles bro,"Ia menggaruk-garuk tengkuknya sebelum membuka mata sepenuhnya memandang wajah IAN, dan-

"Pff. Bwahaha." –tertawa, ' !' IAN mengumpat dalam hati merasa tersindir dengan tawa milik Kaito. Matanya menatap tajam namun itu bukan sebuah hal yang mampu membuat Kaito menutup mulutnya itu. Ia mendengus.

"Kenapa muka lu, abis nyium bemper mobil." Kaito tertawa dengan hati yang bahagia melihat wajah IAN yang sedikit agak biru di bagian bawah matanya.

"Ini gara-gara-"

[ Flash Back… ]

"Wind technique : Echenced Strom."

WUSSS~~ BOOM~~

IAN tau suara dentuman itu pertanda kemenangannya, apalagi dengan sebuah bayangan dalam debu tersebut yang berlutut dan nafas yang terengah-engah, sebelum beberapa detik kemudian jatuh dengan begitu alaynya IAN tersenyum penuh kesombongan.

"Makanya jangan sombong nantangin tuan IAN ini esper level li-"

BUK!

IAN meringis sebuah batu gaje entah kenapa mampang ngasi bekas kiss bye di bawah matanya, sambil mengumpat kesal laki-laki ini kedip-kedip mencari pelaku yang dengan beraninya melempar sebuah batu disaat ia merayakan kemenangannya.

Namun nihil tidak ada orang yang berada di sekitarnya, bahkan di sekelilingnya. Sambil menghela nafas ia menyatakan…

"-batu sialan yang tiba-tiba datang dan kasi tanda 'cantik' ini di muka gue. Mungkin batunya kehempas gara-gara pertarungan-tapi kenapa juga tu batu datangnya telat." IAN mengakhiri cerita tragis miliknya ditemani suara gelak tawa dan ini bukan hanya berasal dari Kaito tapi Len juga ikut menertawakan kejadian tersebut.

"Ngenes idup lu." Kaito mengejek, IAN berdecih, "Sialan lu!"

Len yang tadinya pose bobok nyaman akhirnya berdiri membersihkan pakaiannya dari sedikit debu yang menempel dan mengambil tasnya yang tadi di lempat IAN.

"Udah, kalian mau pulang gak."Len bertanya kedua orang tersebut yang berbalik kearahnya, sebelum ia menghela nafas.

"Okey," Kaito bangkit dan ikut membersihkan celannya yang dirasanya sedikit kotor, "Yok, sebelum sore, ice cream di toko deket perempatan biasanya cepet habis klo udah sore."

Len geleng-geleng, dan mulai melangkah, namun suara IAN menghentikannya membuatnya berbalik, "Apa?"

"Tadi di atas tas lu ada ni surat." Len menengok melihat surat tersebut hanya beberapa detik sebelum pandangannya teralihkan dengan ucapan ohh yang keluar dari dalam bibirnya, "Itu surat yang tadi, isinya kosong."

"Lu yakin," Sebuah anggukan menjawab ucapan IAN, laki-laki itu memandang aneh.

"Tapi tadi waktu gue buka ada isinya."

Len berbalik menaikkan alis bingung dengan kerutan sempurna pada alisnya, "Kapan?"

"Tadi, iseng aja sih, tapi gara-gara isinya bahasa Inggris dan gue gak ngerti yaudah."

Len mendekat menyambar surat tersebut dan membacanya cepat.

'The heroes from another world, with a powers in the light we invite you all into the war.'

Laki-laki ini merasa aneh ia yakin dengan penglihatannya di sekolah tadi.

"Gue kira-" Ia menatap kedua temannya tersebut, "-tadinya ini kosong."

Sedetik kemudian Len merasa tanah yang di pijakinya bergerat seperti terputar. Dalam sebuah kedipan cepat ia merasa sebuah angin kencang juga menerpanya hingga tatapannya terasa tertutup dan sulit melihat.

"Gue ngerasa jatuh dari ketinggian." Racauannya memang bukan sebuah racauan yang gila, atau pun hanya sebuah igauan setelah bangun dari mimpi indahnya, apalagi dengan sebuah teriakan setuju dari IAN yang entah dimana. Ia yakin ini kenyataan.

"Buka mata lo nyet! Kita emang lagi jatuh!"

Barulah Len sadari kakinya tidak lagi berpijak di tanah.

Wuusshh~~

"WHAAAA!"

.

.

.

TBC

A/N:

[ 1] PING : Ini tanda sensor, di dalam fanfic ini, jadi hati-hati dengan tanda serupa dengan tanda di bbm itu …

.

Mirai: Hai.. hai Mirai-chan desu! Author yang lagi 'minggat' dari akun sendiri *Plack! Ini akibat wabah WB di akun sendiri dan banyaknya ide-ide menggiurkan (halah) yang membuat Mirai meminta Mi dengan sedikit 'hard' a.k.a maksa Mi buat collab :3

Mi : …. Hai'….

Mirai: Okey, disini Mirai sadar bahwa pada chapter ini ceritanya agak alay (Jiah!) ngapain coba bahas abang-abang, atau terlalu ke sinetron-sinetron yang begitu lebay, tapi Mirai ketahuilah wahai minna-san, Mirai harap Minna-san mau me RnR, Kay~~ *Gaplocked!

RnR?