.

.

Wuuuuusssshhh~~~

"HWAAA!"

"Sejak kapan?"

Len kedip-kedip, tubuhnya tertarik gravitasi dengan kencang, seperti terjun payung namun tanpa parasut dengan ketinggian yang tak main-main, sekitar 10.000 m. Dan ia bingung bagaimana cara menjelaskan perasaannya yang bergejolak saat ini antara takut, sedih, tegang, senang, greget, atau bahagia ?

"Tuan-tuan punya rencana." Satu pertanyaan dari Len, si pirang yang sibuk mengamati pemandangan indah dari atas itu menengok, memperhatikan raut wajah kedua temannya yang menampakkan wajah ceria mereka masing-masing. Ia bukannya mau memasang suatu pikiran yang tak baik-ia selalu berfikir yang baik tentang temannya-namun ia tak yakin untuk sekarang kedua temannya masih waras.

"Enggak." Len sudah mengetahui jawabannya. Kedua temannya memang tidak bisa di andalkan.

"Jadi mau tetep terjun bebas sampe nyium tanah. Mati bareng baru tau rasa!"

Sesungguh hal mulia itu bukan sesuatu yang di inginkan, kedua orang yang dimaksud senyum-senyum tak bersalah, seblum akhirnya si ocean angkat tangan dengan sebuah cengiran.

"Gimana klo kurangi kecepatan dengan beberapa tekanan yah setidaknya seperti landasan."

Len menaikkan alis bingung, "Maksudnya."

"Dengan menghantam sebuah prisai es setidaknya itu mampu menurunkan kecepatan." Si Kaito tersenyum bangga dengan idenya, bahkan sebelum teman-temannya mengiyakan ide tersebut tangannya sudah berada di depan dada dengan sebuah bisikan kecil ia mulai 'merapal' jurus ampuhnya, "Ice technique: Archshield."

Sementara Kaito menyiapkan jurusnya Len bahkan IAN sedikit berfikir, Shield milik Kaito? Setauku hanya ada satu shield yang ia punya dan shield itu…ja-jangan bilang!?.

"Tu-tunggu Kaito jangan bilang shield yang 'itu'" IAN Berteriak. Yang dimaksud malah senyum smirk.

"Ya, itu tentukan, soalnya itu satu-satunya shield milik gue. Tapi tenang akan gue tipisin jadi bisa di tembus." Walaupun Kaito berkata seperti itu-

Crrkk!

-mereka berdua berpandangan. Sebuah suara crrk.. kreek…dan sebagainya membuat bulu kudu sedikit meremang dan berdiri, suara seperti es yang mulai terbentuk dan berada beberapa ratus meter di bawah sana membuat mata mereka membolak kaget.

(Idiot, ini keajaiban atau mereka yang mulai tak waras mampu mendengar suara yang beberapa ratus meter jauhnya dari mereka. Entahlah mereka mulai tak peduli.)

'Mampus!'

Shield-nya sudah terbentuk berbentuk octagon, dengan diameter yang tak terlalu kecil, 50 m diameter yang luar biasa, ketebalannya tidak di pungkiri lagi, ketebalan yang cukup membuat kepala sedikit pusing kalau sampai bertabrakan dengan sang shield, Namun satu hal yang Kaito lupa… shield-nya punya beberapa titik 'tajam' yang berbahaya buat keselamatan jiwa mereka jika mereka bersentuhan dengan si shield.

"Kaito lu idiot! Bagian tajamnya belum di bersihin!"

Yang di bilangin cuma naikin alis, melihat sebentar kearah shield-nya sendiri dan dengan tanpa bersalah tersenyum idiot, "Kayaknya iya deh!"

"WHAAAA! IDIOT!" IAN dan Len berteriak mengumpat kepada Kaito. Mereka mulai mendekati shield, hanya menunggu beberapa detik dan mereka akan mencium bagaimana bagian tajam bagian shield-nya KAito.

"Geh! 'Wind Technique : Sharping Rifkh"

BOOM~~

Suara dentumannya terdengar keras, asap tebal menyelimuti tempat tersebut, entah bagaimana nasib mereka namun untuk beberapa puluh detik setelah dentuman dari kejadian tabrak shield tersebut suara dentuman yang tak kalah kerasnya kembali terdengar, suara yang mampu membuat para burung berterbangan menjauh.

Disclaimer : Vocaloid ©Crypton FM and yamaha

Story © Mirai and Mi

Warning! some mistake in EYD, any typo, Idonesia slank language , and the other mistake.

Collab with Mirai-chan © Yami No Kagi

Chapter 3: Free fall!


Fiveteen minute before the crasher.

[ Unknowplace ]

Dua orang gadis, duduk menikmati waktu milik mereka pada kebuh bunga di sebelah sebuah rumah kaca beberapa puluh meter jauhnya dari kastil gaya timur tengah di sana. Terik matahati diatas sana seperti sebuah hal yang tak mengganggu sedikit pun waktu luang mereka itu.

Seorang dari mereka memiliki rambut pink pastel yang begitu lembut, mengelus seekor kucing putih dengan 2 ekor yang bergerak-gerak menikmati usapan dari sang pemilik, gadis itu tersenyum senang.

"Ne, nee-chan," Gadis bermata biru itu mengarahkan pandangan kepada gadis di hadapannya, seorang gadis honey blond yang sibuk dengan beberapa flower crown-nya.

"Apa IA?"

Sebuah helaan nafas terdengar dari bibir sang gadis, ia menjatuhkan dirinya pada padang bunga di hadapannya sambil mengangkat kucingnya dihadapannya dia memeluk kucing tersebut dengan sebuah gelak tawa yang terdengar hanya karena bulu-bulu kucing yang lembut tersebut menyentuh wajahnya. Gadis tersebut kembali mengelus kucingnya.

"Katanya suratnya sudah di kirim."

Gadis pirang tersebut menghentikan kegiatannya, pandangannya kini teralihkan kepada IA gadis yang sibuk mengelus kucingnya disana, sebuah helaan nafas yang cukup panjang terdengar dari bibirnya sebelum senyuman yang manis terbentuk sempurna pada bibir peach itu.

"Ya, dan aku harap orang yang menemukan surat tersebut, adalah orang 'benar' yang terpilih."

IA memperhatikan kakaknya tersebut dan ikut tersenyum senang, kakaknya benar, ia juga mengharapkan seseorang yang mendapat surat agung dari kakaknya itu adalah orang-orang yang benar-benar terpilih dan mampu membantu mereka menghadapi berbagai masalah yang saat ini menimpa mereka.

Seandainya pun tidak, ialah yang harus ikut campur meniadakan mereka. IA menatap dengan tatapan sedikit suram, 'Bagaimana jika ternyata yang terpilih adalah orang yang salah..'

'…orang yang salah.'

'…salah.'

'…apa yang akan terjadi?' Ia membatin, pikirannya kembali memutar berbagai pikiran yang menghantuinya untuk beberapa saat yang lalu, ia menggigit bibirnya takut.

"Nee-chan, bagaimana jika ternyata mereka bukan yang kita harapkan, apa kita benar-benar harus 'meniadakan' mereka?"

Suatu pertanyaan yang mampu membungkam mulut dari sang kakak. Gadis itu memejamkan matanya sedikit berfikir. Ia juga pernah menanyakan hal yang sama dengan adiknya bagaimana jika para 'pahlawan' yang diharapkan hanya sebuah bumerang yang berbalik menghancurkan mereka, apa mereka benar-benar harus meniadakan mereka, dengan berbagai macam hal yang harus di pertaruhkan jika hal itu sampai terjadi.

"Emm.. kau tak perlu khawatir IA." Sebuah senyuman pasti menghiasi bibir gadis honey blond tersebut, "Aku yakin orang yang mendapat surat tersebut adalah orang yang benar-benar terpilih. Karena surat itu terhubung denganku-dengan kekuatanku-dan benda itu mampu memilih hati jernih yang kita cari."

IA tertawa dan tersenyum, "Luar biasa, onee-chan memang hebat," gadis honey blonde tersebut tersenyum, "Tentu saja aku adalah calon ratu kerajaan ini maka aku harus hebat seperti mama."

Gadis ini sedikit tertawa kecil dalam perkataannya, membuat adiknya ikut tertawa.

"Ojou-sama." Sebuah suara mengagetkan mereka, seorang gadis berrambut teal panjang yang diikat twintail datang menghampiri mereka membawa beberapa makanan cemilan dan minuman diatas nampannya, sebuah senyum tersungging di bibirnya. Tangannya melambai-lambai menandakan ia mencari perhatian dari kedua gadis yang di sebut ojou-sama tersebut.

"Miku-chan."Mereka berdua berdiri menghampiri si gadis twintail.

"Tuan putri ini makanan anda, mau beristirahat sebentar dan menikmatinya di taman dalam rumah kaca." Dua gadis tersebut saling berpandangan sebelum mengangguk senang, sang pelayan ikut tersenyum.

"Tapi kami mau Miku-chan juga ikut makan." IA menarik tangan sang pelayang yang bebas dan merangkulnya pelan, kucing miliknya melingkar pada lehernya beristirahat disana seperti mantel miliknya. Sang pelayan yang merasa geli dengan bulu-bulu kucing tersebut sedikit tertawa, "Baiklah, tuan putri namun bisakah anda menurunkan IAN, ia begitu geli."

IA tertawa melepas rangkulannya dan mengendong mahluk tersebut dalam dekapannya, "Sudah." Sang gadis honey blonde tersenyum, "Baiklah Miku ayo kita pergi sebelum waktu istirahat kita habis dan sensei gila itu datang menagih tumpukan tugas dan latihan-latihan yang kita ting-

BOOM~~

IA berteriak kaget, kedua gadis lainnya-honey blonde dan teal-itu diam saat suara benturan keras tadi terdengar dan untuk beberapa puluh detik kemudian suara serupa yang lebih keras terdengar membuat para burung berterbangan. Mereka saling berhadapan.

"Apa itu?" IA bertanya khawatir.

"Ja-jangan bilang itu…..'mereka'"
Dan tampa menunggu apapun gadis teal itu menaruh nampan yang dipegangnya tadi pada meja kayu yang berada di dekatnya-entah bagaimana meja itu ada di sana ia bahkan tak menyadarinya- dan segera berlari bersama sang putri mencari asal suara keras tersebut.

.

.

.

In the same time…

"Cih!"

Laki-laki berrambut ungu berdecih kesal.

Ting!

Suara pedangnya yang beradu dengan pedang milik gadis berrambut pink dihadapannya itu membuatnya sedikit kesal. Sang lawan yang sedikit tersenyum senang di tempatnya, seperti mengejek permainan pedang milik laki-laki ini yang bahkan cukup seimbang dengan permainan pedangnya, padahal kedudukan sang lelaki lebih tinggi darinya dalam urusan pedang-memedang.

"Ada apa Gakupo, merasa takut denganku?"

Sang laki-laki tersenyum, pandangannya langsung menatap sang gadis tajam, "Tidak mungkin, Luka-sama. Bagaimana pun cintaku padamu dan badan sexy mu aku tak akan menyerah dalam sebuah pertandingan." Laki-laki itu berucap dengan sebuah semburan merah yang mengiasi wajahnya apa lagi dengan pandangannya yang mulai menjalan ke mana-mana, seperti mengarah ke arah ehmcoretdadanyacoretehm.

Ting!

Laki-laki tersebut membuat pertahan milik sang gadis sedikit terbuka, sambil mengayunkan pedang menangkis serangan yang mengarah kearahnya sang gadis menambah kekuatan membuat perang milik sang laki-laki terayun keatas, Ia segera melombat salto beberapa langkah ke belakang membuat jarak beberapa meter dari si rambut ungu.

"He-hentai!"Luka menutup ehmcoretdadanyaehmcoret memandang Gakupo dengan pandangan penuh murka, "Sepertinya pikiranmu perlu di bersihkan. Dasar terong busuk!"

Gadis itu memasang kuda-kudanya sama seperti sang lelaki, menunggu beberapa detik dan mereka mulai menerjang satu sama lain.

"HYAAA-"

BOOM~~

Mereka diam menghentikan gerak mereka, suara dentuman tadi membuat konsentrasi mereka berdua pecah, dan menghentikan pertarungan mereka.

"Apa itu tadi. Suaranya begitu keras."

BOOM~~

Suara kedua masih menyita perhatian si perempuan, namun tidak untuk sang laki-laki suara tadi menjadi sebuah peluang untuknya.

Buk!

Ia menerjang gadis berrambut pink tersebut, membuat sebuah posisi cukup mainstream namun begitu 'menjanjikan'.

"Luka-sama jangan lupa konsentrasi adalah hal yang terpenting saat kau bertarung."Tangan laki-laki berrambut ungu tersebut mengunci pergerakan sang gadis membuat gadis itu berdecih sebelum memberikan sebuah senyuman sinis kepada laki-laki di hadapannya ini.

"Tapi andaikan kau tau pertahanan juga terpenting."

Baru saja gadis itu mau memberikan hadiah bersahabat untuk sang laki-laki, sebuah teriakan membuat mereka menoleh bersama. Seorang laki-laki berrambut sewarna lumut dan wajah yang memerah sempurna menatap mereka dengan tawa garing. Papan di dekapannya sudah terjatuh dengan sebuah slow motion yang begitu greget.

"Luka-san, Gakupo-san klo mau ngelakuin 'itu' jangan di sini!" Sepertinya ada yang salah paham disini.

Gadis yang dipanggil Luka tersebut diam, mukanya mulai memerah, merah padam. Hingga tangannya terayun dengan refleks.

"Khyaa..!"

PLACK!

.

.

.

[ In a big hole ]

"Mampus, tulang gue rasanya patah semua."

IAN mengerang kesakitan terutama saat ia tau ialah yang menjadi korban pertama yang menabrak tanah walau sebelum menabrak tanah ia sudah memberikan beberapa pelindung pertahanan jiwanya biar tidak terlalu sakit dengan hantaman yang akan terjadi namun tetap saja, tubuhnya terasa sakit.

"Gue pikir gue bakalan nyebrangi sungai sanzu, nyusul nenek gue yang lagi naik sampan di sono sambil lambai-lambai tangan gaje." Kaito meracau tak jelas, posisinya temkurap mukanya nyium pasir sehingga suaranya tak terlalu jelas terdengar. Len yang berada di sebelah laki-laki ocean tersebut hanya bisa tertawa dengan raut wajah yang begitu suram.

"Hahahha.. tadi gue lagi jalan di lorong hitam mendekati cahaya." Bahkan laki-laki pirang ini ikut meracau tak jelas mengikuti Kaito.

Inilah yang terjadi setelah dentuman itu. Setelah selamat, sehat, dan 'utuh' melewati shield gaje milik Kaito akhirnya mereka berakhir dengan menghantam tanah walau tak terlalu keras namun hal itu cukup membuat tulang mereka terasa cenat-cenut.

Dan untuk beberapa alasan IAN dan Len memiliki suatu niat untuk membunuh Kaito saat ini juga akibat bantuan shield-nya yang hampir merenggut nyawa mereka.

"Ugh," Laki-laki pirang itu menemukan dirinya dalam sebuah lubang dalam dikelilingi pasir dan terasa begitu panas.

"Ini dimana?" Pertanyaan bagus, IAN yang ikut bangun dari posisinya mengamati sekeliling. Pasir. Pasir. Pasir. Ini seperti dalam anime kesukaan adik kecilnya yang penuh dengan pasir, apa judulnya Magoi..Megi..Negi...Nehi... Magi.. Ah entah lah, kenapa juga ia harus peduli judul anime saat ini?

"Sepertinya ini bukan di Vocaloid city. Bahkan bukan di City Garden." Kaito berbisik berucap dengan tak jelas, "PUAH…! PASIRNYA AJA PANAS BANGET WAJAH TAMVAN GUE RASANYA KEBAKAR!" Kaito langsung duduk kipas-kipas wajahnya yang terasa panas. Sedangkan dua temannya hanya bisa sweat drop.

'Tentu aja geblek, gue aja yang dari tadi duduk ngerasa pantat gue mulai panas.' Entah bagaimana IAN dan Len mampu membatin dengan pikiran yang sama.

"Wah.. lubang yang sangat besar.."Sebuah suara membuat mereka menoleh.

Dibibir lubang itu tiga orang gadis berdiri melihat mereka dengan tatapan kaget. Salah seorang dari para gadis tersebut menatap mereka berkedip untuk beberapa kali sebelum bertanya dengan nada ragu,

"Kalian… siapa?"

.

.

.

.

TBC

A/N :

Mirai: Mirai-chan desu! Hellow minna-san how are youuuuu~~~ *TeriakPakeToaLoveiswar* Gimana sama chapter ini saya harap kali ini chapternya tidak terlalu alay _ , ekhm , *Bungkuk* dalem-dalem saya mau minta maaf, dan amvun sebesar-besarnya mungkin dalam scennya Luka/Gaku (Masih aja sempetnya nyempilin ni pasangan) itu agak sedikit hahahaha! *Plack!

Mi: Di chapter ini juga mungkin agak garing (Hey!) Mirai-nee memang agak sedikit garing orangnya.. (Mirai : JLEB!) aneh, alay… (Mirai : JLEB!) dan pervert (Mirai : JLEB ! JLEB ! JLEB!) But, I wish you want give some word in review about this is fanfict, remind to RnR?

RnR?