Di ruangan serba putih, terdapat seorang anak kecil yang sedang duduk di kursi yang berada di sisi ranjang rumah sakit. Iris kembarnya menatap sendu pemuda yang terbaring lemah di atas ranjang. Ia menatap makanan yang beberapa menit lalu dibawakan suster untuk sang pemuda jika telah bangun.
Anak kecil itu tetap pada posisinya hingga terdengar lenguhan khas orang yang baru sadar dari tidurnya.
"Air?"
Senyum yang teramat tipis terlihat diwajah bulat anak itu.
"Pagi, kak Fang," sapanya pelan, sembari membantu Fang untuk bangkit dari tidurnya.
"Pagi, Air," balas pemuda bernama Fang itu. Dirinya mengacak rambut hitam Air dengan lembut, setelah bangkit dari tidurnya yang dibantu Air.
Iris kembar Fang menatap makanan yang tersedia pada meja makan khusus pasien. Ia pun menatap Air yang tampak mendorong meja itu.
"Ah, makasih Air."
"Sama-sama."
Air pun memperhatikan Fang yang memulai sarapannya, tanpa diperintah. Entah kenapa, pandangan Air tak bisa lepas dari wajah Fang. "Kakak…"
Fang menghentikan makannya begitu mendengar lirihan Air. "Ya?"
Terkejut ada yang mendengar ucapannya, Air menundukkan wajahnya dalam. "Bu-bukan apa-apa. Su-sungguh."
Fang meminum air putih yang tersedia. Ia telah menghabiskan makannya. Air pun telah mengembalikan meja dorong itu ke tempat semula.
"Ada yang ingin kau katakan, Air?" tanya Fang setelah lama terdiam.
Air hanya diam. Ia pun tak tau mau mengatakan apa. Lagi pula, ia sendiri bingung kenapa Fang bertanya seperti itu padanya. Entah kenapa, dirinya seperti melihat wajah kembarannya saat melihat wajah Fang. Dan tanpa sadar, keluarlah satu kata penuh arti itu.
"Yang kau gumamkan tadi…," Fang memperhatikan gerak-gerik Air yang tampak risih.
"Hah~ kau merindukan kakakmu?"
Tepat sasaran.
Air membeku. Kegugupan tampak jelas diwajahnya.
Fang menghela nafas lelah. Ini hari kelimanya bersama anak kecil yang bernama Air. Saat dirinya sadar setelah operasi, ia mendapati wajah Air bagai mayat hidup. Tak ada sinar apa pun di matanya.
Orang tuanya mengatakan, kalau Air sebatang kara sekarang. Rumahnya terbakar, orang tuanya pun meninggal akibat perampokan. Tanpa disangka, ternyata ibunya mengenal kedua orang tua Air, yang dulunya teman SMA sang ibu. Ibunya juga berkata, kalau Air memiliki kakak kembar.
Sehari kemudian, Air masih tetap menampakkan ekspresi yang sama. Orang tua Fang pun semakin khawatir dengan keadan Air. Memang, Air tetap makan, mandi, dan tidur. Tapi, dirinya sama sekali tak mau berbicara. Menangis pun tidak. Upaya pencarian kembaran Air pun telah dilakukan. Namun, tak ada hasil yang memuaskan.
Hari ketiga setelah Fang sadar, barulah Air mengucapkan sesuatu.
"Kakak."
Itulah yang dikatakan Air. Membuat Fang harus berpikir lebih. Padahal, bisa saja dirinya berpikir kata itu ditujukan padanya. Tapi, Fang bukanlah orang yang berpikir sedangkal itu. Ia yakin, anak kecil yang telah diangkat anak oleh kedua orang tuanya, memanggil orang yang benar-benar disebut 'kakak'.
Akhirnya, setelah Fang terus berceloteh panjang lebar mengenai banyak hal, Air pun merespon.
Betapa senangnya Fang kala itu. Dan saat itu pula, Air menceritakan kejadian mengenai dirinya yang bisa berada di gang kecil saat itu. Betapa takutnya Air dengan Fang, yang dikirannya salah satu penjahat. Betapa kalutnya Air saat Fang terluka parah. Namun, satu hal yang membuat Air menangis saat menceritakan kepahitan hidupnya.
Bagaimana keadaan kembarannya? Apa dia selamat?
Dan Fang hanya bisa terdiam kala Air bertanya seperti itu. Kalau kembaran Air sendiri…
'Tampaknya tak tertolong.'
Ya, itu pikir Fang. Bagaimana tidak? Menurut penjelasan Air, kembarannya itu menghadapi salah satu penjahat yang ingin membunuh mereka. Dan sudah bisa dipastikan, kembaran Air yang bernama Gempa itu tak tertolong.
"Air, aku tau kita baru kenal lima hari lalu. Tapi, jangan terus terpuruk dalam masa lalu. Jika kau yakin kembaranmu masih hidup, yakinilah itu."
'Meski aku sendiri tak yakin,' batinnya melanjutkan.
Air menganggukkan kepalanya lemah. Biar bagaimana pun, dirinya tetaplah anak-anak. Anak mana yang tak sedih jika ditinggalkan keluarganya? Fang sendiri pasti tak sanggup membayangkan hal itu.
Menggenggam kedua tangan Air yang kecil, membuat Air menegakkan kepalanya yang menunduk. Dapat anak itu lihat senyum lembut Fang. Senyum lembut yang persis seperti kakaknya.
"Ka-kakak…"
"Ya, Air. Teruslah tegar! Kau anak yang kuat."
Sepasang iris coklat itu memanas. Air tak kuasa menahan aliran cairan asin yang hangat itu.
"Kak… Fang…"
Dan pelukan hangatlah yang dirasakan anak usia 8 tahun itu. Pelukan hangat yang membuatnya terasa berada dalam dekapan sang kakak kembar.
It's Life
.
Angst – Family – Friendship
.
BoBoiBoy milik AniMonsta. Gempa dan Air milik Nayu *dilempar ke mulut dino sama kru monsta*
.
Dedicate for #BoBoiBoyKopiPadaParfum Challenge
.
Warning : OOC, AU, Typo, DeathChara, No Pair, POV berganti TANPA PERINGATAN!, Lil bit of SUPERNATURAL, etc.
'It's Life' : Ucapan yang diingat.
"It's Life" : Suara dari telepon.
Don't Like?
DON'T READ THIS FICTION!
Happy Reading~
"Perkataan kak Fang memang benar. Jika kita meyakini suatu hal, hal itu pasti akan terwujud."
Senyum tipis terkembang diwajah Air. Pemuda itu mengusap lembut tangan pucat yang terkulai lemah. "Dan akhirnya, aku bertemu denganmu, kak."
"Tapi, kenapa kakak tak mengatakan apa pun soal kondisi kakak?" Air menggigit bibir bawahnya guna menyembunyikan suaranya yang tercekat. Iris kembarnya menatap miris keadaan sang kembaran saat ini.
Selang infus yang terpasang dipunggung tangan, wajah yang ditutupi masker oksigen, dan rambut hitam tipis. Sangat memprihatinkan.
"Dokter memang belum mendapatkan hasil yang pasti. Tapi, asma yang sudah akut..."
Menundukkan kepalanya dalam, enggan melanjutkan kalimatnya yang belum selesai. Air hanya berharap jika Gempa dapat segera bangun dan hanya mengatakan kalau ini sebuah candaan semata. Tapi, inilah kenyataannya.
"Air?"
Sedikit terkejut saat merasakan kehadiran orang lain, Air menatap sang pemanggil. Dilihatnya seorang wanita tengah tersenyum padanya. Membalas senyum lembut wanita di depannya, Air pun berdiri dari duduknya dan menyalimi tangan wanita itu.
"Kau baik-baik saja, Air? Sudah mandi? Sudah makan? Wajahmu pucat sekali. Lebih baik kau istirahat, biar I–"
"Tenanglah, Bu. Air baik-baik saja. Air juga sudah mandi dan makan tadi. Wajah Air memang begini. Percaya pada Air," jelas Air dengan senyum tipis. Namun, itu tak membuat wanita yang ia panggil 'Ibu' tenang.
"Ah, bagaimana kak Fang? Kalau Ibu di sini, siapa yang menjaganya?"
Wanita itu memperbaiki letak kacamatanya. Iris kelabunya menatap pemuda sebaya Air yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. "Tenang saja, ada Ayah di sana. Dia yang akan menjaga Fang sementara waktu. Ibu akan menemanimu menjaga Gempa di sini."
Berdiri dari tempatnya, Air mempersilahkan wanita yang dipanggil 'Ibu' itu untuk duduk. Ya, wanita itu memang ibunya, ibu angkat tepatnya.
Menuruti keinginan Air, wanita berkacamata itu duduk dengan anggun. Wajah yang tetap cantik meski usianya sudah kepala empat, menampilkan senyum khas keibuan.
"Setelah sekian lama kita mengira Gempa telah tiada, akhirnya dia kembali padamu." Air hanya terdiam. Menunggu lanjutan dari perkataan ibu angkatnya.
"Hihihi… Ibu awalnya kaget saat kau memberitakan itu. Ingin sekali Ibu dan ayah cepat-cepat balik ke KL untuk bertemu Gempa. Melihat seseorang yang berwajah persis denganmu. Sayang, pekerjaan kami di luar kota tak bisa ditinggalkan."
"Tak apa. Air paham kok, Bu," Air mengusap punggung ibu angkatnya yang mulai bergetar.
"Y-yah, sesampainya di sini kemarin, kami malah dikejutkan dengan dirimu yang berurai air mata. Iks… Ibu kira… Ibu kira terjadi sesuatu pada Fang. Ternyata… kakakmu…"
Air memeluk ibu angkatnya. Menyalurkan ketenangan pada wanita yang telah merawatnya sejak ia diselamatkan Fang.
"Tak apa. Ibu jangan nangis. Kak Gempa itu kuat. Air yakin itu!"
"Ta-tapi, iks… ibumu– Yaya, pasti sedih meli-lihat, iks… nasib kalian ya-yang seperti in-ini…"
"…"
Menit-menit selanjutnya, hanya diisi oleh isak tangis sang Ibu dan Air yang memeluk dalam diam. Pikirannya terhempas pada hari sebelumnya. Saat di mana dirinya menemukan Gempa dalam keadaan mengenaskan.
Saat itu, ia pikir akan disambut oleh senyum lembut sang kakak. Sayangnya, wajah pucat dengan darah yang menghiasi yang ia dapatkan. Dengan kepanikan yang luar biasa, dirinya memanggil suster yang lewat. Bahkan, Dokter yang sedang membawa pasien gawat darurat pun dijegatnya.
Air panik. Sangat-sangat panik.
Tubuh kakaknya yang terkulai lemah dilantai marmer dengan darah yang berasal dari mulut dan hidung, membuat otaknya dipenuhi bermacam-macam hal negatif. Ditambah botol kecil kosong dengan butiran pil obat yang tercecer tak jauh dari kakaknya, memperkuat segala spekulasi negatif yang menjalar.
Dirinya hanya bisa menunggu di depan ruang UGD. Menunggu dokter yang menangani Gempa keluar dengan membawa berita baik. Saat itu pula, orang tua angkatnya menghampiri setelah diberitahu oleh suster –yang berada di kamar rawat Fang– mengenai kejadian itu.
Air hanya bisa memeluk ibu angkatnya dengan tangisan yang memilukan. Ayah angkatnya hanya diam sembari mengelus rambut hitam Air.
"Air?"
Panggilan yang sarat akan kekhawatiran itu menyentakkan Air dari lamunannya. Dirinya melepas rengkuhannya pada ibu angkatnya. Membiarkan wanita itu menatap wajahnya yang dihiasi senyum tipis.
"Kau me-menangis?"
Langsung saja Air meraba wajahnya yang basah. 'Aku terlarut rupanya,' batinnya.
"Tidak, Bu. Air hanya… hanya…," merasa tak memiliki jawaban lain yang mendukung, Air menghela nafas pasrah. 'Aku lemah. Bisa-bisanya menangis di saat seperti ini.'
Ibu angkatnya langsung menangkup kedua pipi Air, setelah mengusap jejak air mata yang berada diwajah senjanya, "Tak perlu malu pada Ibu. Jika kau ingin menangis, menangislah. Laki-laki tak akan dianggap lemah, jika menangis untuk orang yang disayanginya."
Air sedikit membelak. Ia sekarang mengerti mengenai kalimat, 'Setiap ibu dapat mengetahui segala pikiran anaknya'. Yeah, meski dalam kasusnya, ia adalah anak angkat.
Brak!
Keduanya terlonjak mendengar bantingan pintu, yang diikuti engahan nafas dari seorang pria berbadan besar.
"Ying! Air! Fa-Fang… hah… hah… Fang telah sadar!"
[] It's Life []
"Huhuhu… Fang… A-akhirnya… iks…"
Air tersenyum tipis melihat ibu angkatnya memeluk Fang sambil menangis haru. Fang sendiri hanya tersenyum tipis, sangat tipis.
"Syukurlah, hahaha… anakku sadar!"
Jika ibu angkatnya menangis haru, ayah angkatnya lain lagi. Pria bertubuh besar dengan headband hijau itu melemparkan cengiran tanpa henti. Meski air mata bahagia terus mengalir deras.
Sedikitnya, Air merasa lega melihat kakak angkatnya telah sadar. Setidaknya, salah satu beban dalam hatinya lepas. Namun, entah kenapa, ia merasa beban hatinya bertambah dua kali lipat mengingat kembarannya tak sadarkan diri.
Masih segar diingatannya mengenai perkataan dokter di hari sebelumnya.
'Saudara Gempa mengalami asma yang sudah parah. Dugaan sementara, kemungkinan saudara Gempa pernah terjebak dalam suatu kebarkaran hingga menghirup banyak asap. Meski ada kemungkinan telah ditangani, tapi penyakit itu semakin parah setiap tahunnya. Kami akan melakukan pengecekan detailnya. Saat ini, saudara Gempa kami nyatakan dalam status 'Kritis'. Jika sampai tengah malam esok hari ia tak sadar, dengan berat hati kami menyatakan statusnya menjadi 'Koma'.'
'Kebakaran? Asap? Hahaha… kak Gempa memang mengalaminya,' batin Air terkekeh hambar. Karenanya, Air bertekad untuk mencari tahu mengenai keadaan sang kakak sebelum ini, dari seseorang yang dikenalnya dari media sosial.
'Aku harus tanya Taufan.'
Terlarut dalam pikirannya, Air sampai tak menyadari kalau Fang tengah menatap kearahnya sedari tadi.
[] It's Life []
Di suatu rumah makan, terdapat dua orang pemuda yang menikmati makan siang mereka. Merah dan biru. Itulah warna pakaian yang dipakai masing-masing pemuda itu. Kontras memang, begitu pula sikap keduanya.
"Kau tau, Hali? Gempa tidak masuk lagi. Padahal baru kemarin dia masuk. Aku jadi khawatir," pemuda dengan pakaian berwarna biru menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Sedangkan, pemuda dengan pakaian merah yang panggil Hali– Halilintar tepatnya, hanya mendengarkan tanpa merespon.
"Kau mau ikut aku ke apartemennya habis makan?" tanya pemuda biru itu, setelah menelan makanannya.
Bukannya menjawab, Halilintar malah memakan suapan terakhir nasi goreng ekstra pedasnya. Membuat pemuda biru itu memakan dengan rakus nasi goreng yang tersisa. Kesal karena tak direspon sedikit pun.
"Kenapa tak kau telpon saja kembarannya itu?" Halilintar bertanya dengan ekspresi datar, setelah menghabiskan air putihnya.
Glek!
Menelan seluruh nasi yang berada dimulutnya, pemuda biru itu langsung meneguk habis air es miliknya. "Kau benar, Hali! Akh! Kenapa tak terpikirkan olehku untuk menghubungi Air?"
"Itu karena kau bodoh, Taufan."
"Sialan, ka–"
Umpatan Taufan terhenti saat mendengar dering ponselnya, tanda telepon masuk.
"Angkat cepat! Mungkin si Gempa," titah Halilintar, kemudian meminum jus jeruknya yang belum tersentuh.
"Eh? Ini Air!" pekik Taufan yang membuat Halilintar mendesah kesal. 'Kenapa tak langsung diangkat saja? Membuat udara tercemar saja dengan pekikanmu, Fan.'
"Wa'alaikum salam, Air! Ya, ini Taufan. Kenapa?"
Dan Halilintar merasa penglihatan dan pendengarannya akan –telah– mengalami kerusakan.
[] It's Life []
"Assalamu'alaikum. Ini Taufan?" Air meremas pinggir kasur tempat Gempa berbaring. Ia telah menekadkan hati untuk mencari tahu hal yang dirahasiakan kakaknya. Karenanya, ia menelpon Taufan.
"Kak Gempa masuk rumah sakit."
"APPAAAA!?"
Dapat Air dengar pekikan heboh lawan bicaranya.
"Woi, Taufan! Berisik tau! Kau kenapa sih?"
"Gempa masuk rumah sakit! Aarrghh! Apa kubilang? Pasti terjadi sesuatu padanya!"
"Tenang, Fan. Ten–"
"Bagaimana bisa tenang?!"
'Sepertinya, Taufan tak sendirian,' batinnya begitu mendengar suara lainnya yang menyuruh Taufan untuk tenang.
"Tauf–"
"Huhuhu… ini lebih dari gawat, Hali."
Air hanya menghela nafas pasrah dan sedikit sweatdrop. Sekarang, dirinya bingung harus bagaimana menjelaskan keadaan pada Taufan. "Seharusnya aku tak mengatakan dengan blak-blak-an gini," gumam Air gusar.
"Hali! Kemarikan ponselku!"
Air mengernyitkan dahi begitu mendengar perkataan Taufan. "Halo? Air, kau masih di situ?" Air membelakkan matanya begitu menyadari ponsel Taufan diambil alih oleh Halilintar.
"Ya," balas Air singkat.
"Katakan rumah sakit mana? Kami akan ke sana."
"Rumah Sakit Besar Pulau Rintis."
"Oke. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Air menatap ponsel yang tak menyambung lagi dengan ponsel Taufan. Diremasnya ponsel itu. Melampiaskan ketakutan dalam dirinya.
[] It's Life []
"Begitu kata dokter, ya? Ya sudah, percaya aja perkataannya," celetuk Taufan begitu selesai mendengar cerita Air.
"Taufan!"
"Ya, ya, aku tau, Hali."
Air hanya menatap datar kedua pemuda seusianya yang asyik beradu kata. Kedua pemuda yang menjadi kunci dari kehidupan sang kakak yang tak diketahui– atau dirahasiakan darinya.
"Jadi," satu kata dari Air menghentikan perdebatan tak penting kedua pemuda itu. Membuat Air menjadi sorotan utama dari kedua iris yang berbeda warna itu.
"Bisa kalian katakan mengenai keadaan fisik kak Gempa sebelum ini?"
Keduanya pemuda itu saling menatap. Saling berdiskusi mengenai siapa yang akan menjelaskan kepada Air mengenai Gempa.
"Hah~"
Helaan nafas dari Taufan yang memutuskan tatapan itu. Membuat Air menatap Taufan lekat. Halilintar hanya mendengus. Pemuda merah itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap Air dengan datar.
"Taufan!"
Nada berisi perintah itu membuat Taufan lemas seketika. "Baiklah," lirihnya dengan kepala menunduk.
Cklek
"Air?"
Suara lembut itu langsung menginterupsi Taufan yang akan membuka mulutnya. Air pun menoleh dan menatap ibu angkatnya yang berada diambang pintu dengan kakak angkatnya yang duduk di kursi roda. Ekspresi mereka sangat berbeda. Jika ibu angkatnya menatapnya lembut, maka kakak angkatnya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ibu! Kak Fang!"
"Hai… Air," ucap Fang lirih dengan senyum tipis. Maklum saja, dia baru bangun dari koma. Wajar jika suaranya masih lemah. Begitulah pikir Air.
Air menghampiri ibu-anak itu, "Ada apa Ibu dan kak Fang ke sini? Mau liat kak Gempa?"
"Bukan Ibu yang mau, tapi kakakmu mau bicara denganmu. Sepertinya dia rindu. Air sih, langsung keluar ruangan begitu saja," jelas ibu –Ying– dengan senyum yang terulas manis diwajahnya.
"Nah, Ibu serahkan Fang padamu. Dokter meminta Ibu dan Ayah untuk menemuinya sekarang, mungkin menjelaskan mengenai keadaan Fang dan Gempa. Tolong jaga kakakmu, ya?" Air mengangguk, lalu mengambil alih kursi roda yang diduduki Fang.
"Err, jadi… emm, dilanjutkan atau tidak?" tanya Taufan ragu saat Taufan telah kembali duduk dengan Fang yang duduk dikursi roda, tepat disampingnya.
Kini, diruangan rawat Gempa ada empat pemuda, yang salah satunya lebih tua beberapa tahun dari tiga lainnya. Suasana hening terjalin, setelah Taufan bertanya.
Tak ada yang menjawab.
Halilintar menatap lekat Fang. Entah kenapa, ia merasa ada suatu hal yang direncanakan oleh pemuda yang lebih tua darinya itu. Salahkan saja sifat paranoidnya jika bertemu orang baru.
Taufan pun menatap Fang. Bedanya, ia menatap dengan penuh rasa enggan. Entahlah, Taufan merasa Fang itu bagai raja yang siap memberikan titah pada para prajuritnya. Sesekali, Taufan melirik Fang yang menatapnya dengan senyum tipis, namun terkesan lembut. Dan disaat yang bersamaan, ia merasa kenal dengan senyuman itu.
Beda Halilintar, beda Taufan, beda pula Air. Kembaran Gempa itu malah sibuk dengan pikirannya sendiri, tanpa mengetahui atmosfer yang berada disekelilingnya. Dalam pikirannya, banyak pertanyaan yang melayang-layang, siap untuk dilontarkan. Tapi, ada kakak angkatnya di sini. Dan kakak angkatnya itu baru saja sadar. Tak mungkin'kan dia langsung mendengar hal yang akan membuatnya khawatir? Em, itu menurut pemikiran Air.
"Air…" Air menoleh. Menatap sang pemanggil yang tersenyum padanya. "Kau sudah besar," mau tak mau Air merasa bebannya berkurang sedikit. Entah mengapa, kata-kata Fang tadi menunjukkan rasa bangga padanya, karena berhasil hidup hingga sepuluh tahun lebih sejak pemuda berkacamata itu koma.
"Ya. Ini semua demi mewujudkan impianku dulu. Dan sesuai perkataan kak Fang, akhirnya aku bertemu dengan kak Gempa," menoleh menatap sang kembaran yang terbaring dalam ranjang rumah sakit, Air kembali menatap kakak angkatnya.
Halilintar dan Taufan pun saling menatap. Mereka merasa jadi pajangan di sini. Lihat saja! Fang dan Air terus berbincang sambil sesekali melihat Gempa. Keduanya merasa tak dibutuhkan lagi. Lagi pula, awal mereka di sini untuk melihat kondisi Gempa.
"Air, kurasa lebih baik kami pergi sekar–"
"Tidak. Kalian tidak perlu pergi."
Fang memotong ucapan Taufan dengan wajah datar. Tak ada ekspresi hangat seperti saat ia berbincang dengan Air.
"Kenapa tidak?!" Halilintar menatap tajam pemuda yang lebih tua darinya itu.
"Karna, Gempa tak menginginkan kalian pergi."
Ketiga pemuda itu tersentak saat mendengar jawaban yang tak diprediksikan, akan dilontarkan oleh Fang. Ketiga pasang mata itu menatap Fang yang tengan menyilangkan tangannya dengan seringaian diwajah. 'Ah, sudah lama tak melihat ekspresi terkejut orang lain. Khekhekhe…'
"Grrhh… apa maksudmu, ha?!" desis Halilintar tak paham. Ia merasa perkataan Fang itu tak masuk akal.
"Gempa. Tak. Menginginkan. Kalian. Pergi. Apa lima kata itu tak dapat dicerna oleh kalian?" sarkas Fang.
Halilintar yang dasarnya tak suka berbasa basi pun menggerebak meja dihadapannya. Iris merahnya menatap nyalang pemuda yang baru sadar dari koma-nya.
"Oh! Jadi, kau seorang bisa liat hantu, gitu? Ha! Bualan!" hardik Halilintar sambil menunjuk Fang. Ia tak suka dipermainkan begini, begitulah pikirnya.
"Yap! Aku bisa liat hantu."
"Jangan bercanda–"
"Tenang, Hali. Tenang–"
"Oh! Kau percaya padanya, hah!? Dia itu hanya orang awam yang mengenal Gempa dari nama, Fan. Dan dengan santainya dia bilang, Gempa tak menginginkan kita pergi? Yang benar saja! Gempa kritis! Itulah faktanya sekarang!"
Jujur, Air pun sebenarnya sangat bingung dengan yang terjadi. Tapi, ia tak suka melihat pertengkaran di depannya. Apalagi ini di kamar rawat sang kakak. Ia tak ingin istirahat kakaknya terganggu.
"Kak Fang, Halilintar, Cukup! Ini rumah sakit. Apa kalian tak sadar?"
Bentakan dengan nada standar itu, sukses membuat Fang dan Halilintar berhenti dari perang urat mereka. Taufan yang sedari tadi menonton hanya terdiam. Entah kenapa, ia merasa suhu di ruangan ini semakin menurun. Sejujurnya, dia takut dengan yang namanya hantu.
Sangat takut.
"Air, aku tau kalau dia kakak angkatmu. Tapi, masa dia bilang dia bisa ngeliat hantu? Ha! Mustahil!"
"Kalau bisa kubuktikan, kau akan percaya?"
"… Ya."
"He-hei… ka-kalian berbicara so-soal ha-ha-hantu… ya?" gagap Taufan sembari menyudutkan dirinya di pinggir sofa.
Halilintar yang melihat gerak-gerik Taufan pun menepuk jidat. 'Aku lupa kalau dia takut hantu.'
"Ralat. Gempa bukan hantu. Dia masih hidup. Yang berkeliaran sekarang itu rohnya. Dan aku tidak bohong!"
Hening.
Tak ada yang membantah perkataan Fang. Bahkan, Halilintar pun termangu melihat kesungguhan pada iris kelabu Fang.
Air membeku. Ia tak menyangka kakak angkatnya dapat melihat makhluk yang tak terlihat itu. Anehnya, kenapa dulu ia tak pernah diberitahu?
Taufan sendiri malah memeluk kedua kakinya. Iris biru itu, menatap takut sekelilingnya. Takut jika ada benda yang bergerak tiba-tiba, lalu terlempar kearahnya.
Melihat ketiganya mulai percaya, Fang tersenyum tipis. "Gempa, kau bisa menunjukkan jika kau memang ada di sini."
Semenit berlalu, tak terjadi apa-apa di ruang VVIP itu. Halilintar yang merasa di permainkan pun akan membentak Fang, sebelum hawa dingin melingkui pergelangan tangannya. "A-apa ini…?"
"Gempa tak bisa menggerakkan benda-benda, karena dia bukan hantu. Jadi, jangan berpikir akan ada benda melayang, jatuh, atau semacamnya."
Taufan mendesah nafas lega. Ia pun sedikit mengendurkan pelukan pada kedua kakinya.
"Mana? Mana kak Gempa?"
Air terisak, lagi. Ia benar-benar tak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan. Entah dari mana datangnya, tapi rasa sakit itu seakan memeras jantung dan paru-parunya. Membuatnya sulit untuk bernafas. Membuat cairan asin kembali menuruni pipi putihnya.
"Air."
Air menatap Fang dengan air mata yang terus mengalir. "Sedari tadi, sejak aku masuk ke ruangan ini, Gempa berada di sampingmu. Setelah meredakan amarah Halilintar, ia juga kembali ke sampingmu. Apa kau tak merasakannya?"
Seakan membenarkan pernyataan Fang, hawa dingin melingkupi tubuh Air bagai pelukan. 'Jadi, hawa dingin ini berasal dari kak Gempa? Bukan dari pendingin ruangan yang suhunya direndahkan?'
"Iks… ka-kak Gempa…," Air memeluk tubuhnya. Mencoba membalas pelukan yang Gempa berikan, walau nyatanya hanya hawa dingin yang ia rasa
"Air, ada hal yang ingin Gempa katakan padamu."
Mendongakkan kepalanya, Air dapat melihat raut kepedihan terpancar dari wajah Fang.
Degh!
'Tidak…'
"Ia berkata, ia sangat menyayangimu. Kaulah satu-satunya harta yang ia miliki."
"Kau satu-satunya tujuanku untuk hidup, Air."
Deg Deg!
Air merasa, ada suara lain yang mengucapkan kalimat yang sama persis dengan yang Fang ucapkan. Membuat jantung kembaran Gempa itu berdetak lebih cepat.
'Kenapa… aku merasa takut?'
"Kau memiliki keluarga yang baik. Mereka sangat menyayangimu."
"Meski tak sebesar rasa sayangku padamu."
'Su-suara siapa?'
DEG! DEG! DEG!
Suara yang entah dari mana asalnya itu membuat Air gemetaran. Keringat dingin menetes dari pelipis Air. Air mata yang tadi mengalir, telah berhenti. Air memegang jantungnya yang berdetak semakin cepat.
'Apa ini? Perasaan memuakkan ini… Aku benci!'
"Jalani hidupmu dengan normal. Dengarkan apa saja yang dapat menjadi pembelajaran bagimu. Tolonglah setiap orang yang membutuhkan pertolonganmu."
"Jangan hanya berdiam diri yang akan menenggelamkanmu dalam kegelapan."
'Kak Gempa? Itu suara kakak?'
Tit… Tit… Tit…
"Hey! Air! Ada yang gak beres dengan Gempa. Woi! Kau dengar gak!"
Pandangan Air menatap Fang kosong. Fang sendiri ingin berhenti mengucapkan kalimat yang diminta Gempa, tapi jika tak ia ucapkan, Air tak akan mengetahuinya.
Tit… Tit… Tit…
Taufan panik. Air sama sekali tak mendengarkan ucapannya. Halilintar sendiri sudah melesat memanggil dokter saat mendengar suara dari alat yang menjadi bukti kalau Gempa masih hidup.
Ruangan VVIP itu sangat gaduh sekarang.
"Inginnya aku memaksamu dulu untuk tinggal bersama, tapi aku bukanlah orang yang suka memaksa. Kau tahu itu, kan?"
"Hoi, kakak ungu! Berhentilah mengatakan kata-kata aneh itu! jangan mengucapkannya lagi! Kau pikir… iks… Ge-Gempa akan pergi, HAH!?"
BRAK!
"Hah... hah… A-aku… sudah memanggil dokter. Hah… hah…"
"Bisa semuanya keluar? Pasien akan saya tangani sekarang."
Tit… Tit… Tit…
"Kau tetaplah adikku yang paling baik. Kau tak ingin meninggalkan orang lain yang menyelamatkanmu. Aku sangat menghargai niat tulusmu itu."
'Ti-tidak… aku ingin tinggal dengan kakak. Kumohon, kak. Jangan bicara begini! Aku… aku yakin kakak akan sembuh.'
"Air! Kumohon, sadarlah. Dokter menyuruh kita keluar."
"Karena, kau sudah mendapatkan keluarga yang bisa menjagamu dengan baik, aku bisa tenang sekarang."
"Hentikan perkataanmu itu! Kau juga harus keluar!"
"Ini rumah sakit. Harap menjaga suara yang anda keluarkan."
Halilintar masih bersikeras untuk menghentikan Fang yang tetap mengeluarkan kalimat-kalimat yang tak masuk akal baginya. Padahal, dapat ia lihat jelas air mata yang mengalir di pipi pucat pemuda yang lebih tua darinya itu. Tapi tetap saja, ia tak memperdulikannya.
Taufan berusaha menyadarkan Air yang pandangannya kosong. Sangat kosong. Bahkan, air mata yang terhenti tadi, telah mengalir kembali.
Lebih deras, lebih sakit.
Dokter sendiri membiarkan kegaduhan terjadi diruangan itu. Prioritasnya sekarang ialah menyelamatkan Gempa yang kondisinya tiba-tiba menurun. Tak dapat ia pungkiri, jika dirinya terganggu dengan kegaduhan itu. Suster yang bersamanya pun berusaha menyuruh Halilintar yang terus membentak Fang agar menghentikan ucapannya.
"Lebih banyaklah tersenyum, dengan begitu aku akan tersenyum pula untukmu."
Suara Fang mulai mengecil seiring suster membawanya keluar. Halilintar membantu memapah Air yang tampak seperti raga kosong tanpa jiwa.
Sedangkan Air sendiri, dapat dilihatnya sosok sang kakak yang tengah berdiri di hadapannya. Senyum lembutnya, berubah menjadi cengiran. Sosok itu semakin mengecil dan menyerupai tubuh anak umur 8 tahun.
"Tersenyumlah seperti dulu. Saat kita kecil dulu. Dan setelah itu, aku bisa tenang meninggalkanmu."
Air meraih sosok itu dalam pelukannya. Memeluk sosok kecil Gempa yang juga memeluknya erat. Tak akan ia lepaskan kali ini.
Background kamar VVIP itu, berubah menjadi padang rumput. Langit biru tanpa awan pun menjadi atapnya. Dedaunan bergoyang seiring angin menghembus.
Hanya mereka di sana.
Berdua.
Di saat terakhir.
"Jangan… pergi…"
"Aku akan pergi."
Berhadapan.
"Tetap di sini… kumohon…"
"Mungkin ragaku akan meninggalkanmu. Tapi, aku akan selalu mengawasimu…"
Tersenyum.
"Tidak… jangan, kak… iks… tidak…"
Menangis.
"Untuk selamanya…"
Seketika sosok kecil Gempa retak dan hancur bagai pecahan kaca. Suasana disekitar Air pun lenyap seiring Gempa menghilang. Menyisahkan kegelapan yang menyesakkan.
Menyesakkan bagi raga dan jiwa Air.
Membuat dirinya bagai tenggelam dalam ruang hampa yang gelap. Kegelapan tak berujung, yang menenggelamkannya dalam kesedihan. Kesedihan memuakkan.
Muak akan hidupnya yang tak berakhir bahagian.
Atau begitulah pikirnya.
TIIIIIIITTTTTT~
"Maaf, kami tak bisa menyelamatkan saudara Gempa."
BRUKH!
"AIR!"
[] It's Life []
"Air?"
Siapa… itu?
"Air, bangunlah!"
Kenapa aku harus bangun? Biarkan aku tetap seperti ini.
"Bangun!"
Tidak! Aku ingin begini. Lebih nyaman, lebih menyenangkan.
"Woi! Bangun pemalas!"
Keras kepala sekali! Aku ingin menikmati ketenangan ini. Biarlah seperti ini.
Aku menyukai tempat gelap ini.
Sret!
Brukh!
"Aduh!"
"Khekhekhe… bangun juga kau akhirnya."
"Ha?"
Terang.
Berbagai warna terperangkap dalam netraku. Tempat ini berbeda dengan kegelapan menenangkan tadi.
"'Ha?' apanya! Cepat sana mandi! Ayah dan Ibu menunggumu di bawah."
Kulihat laki-laki yang tampak lebih tua dariku itu berjalan menuju pintu. Sebenarnya, aku tak asing dengan ruangan ini. Apa ini kamarku?
Dan dia…
"Kak Fang?"
Ia menoleh. Memperlihatkan wajah jutek. "Ya, ada apa, Air?" balasnya sinis.
Ah! Aku ingat sekarang. Ini memang kamarku. Dan tadi itu…
"Mimpi rupanya," gumamu lirih. Mengabaikan perintah kak Fang yang menyuruhku untuk cepat mandi, lagi.
"Fang, Air sudah bangun?"
Terdengar suara berat yang kuyakini milik Ayah. Kak Fang pun menjelaskan mengenai betapa-susahnya-membangunkanku saat Ayah sampai di kamarku.
"Air? Kau melamun?"
"Eh? Ti-tidak kok, Yah. Air mengumpulkan nyawa."
"Kalau begitu, lekas mandi. Kau ingatkan ini hari apa? Nanti kau terlambat. Ibu sudah menata sarapan di bawah. Fang, kita biarkan Air bersiap. Ayo turun!"
"Baik, Yah."
Kak Fang dan Ayah pun turun. Meninggalkanku yang terduduk di lantai.
"Kau ingatkan ini hari apa?"
Seketika aku membelakkan mataku begitu menyadari perkataan Ayah. Segera kulihat jam dinding di kamarku.
Jam 8 kurang 3 menit.
"Gawat! Hari ini aku wisuda!"
Langsung kulesatkan diriku ke kamar mandi. Memulai ritual pagiku.
[] It's Life []
"Woho! Aku tak menyangka adik kecilku ini dapat nilai cumlaude! Hebat!"
Kak Fang membaca ijazahku terus-menerus. Padahal, saat acara wisuda berlangsung tadi, aku yakin dia juga mendengarkan dengan seksama perkataan moderator tadi.
"Ibu bangga padamu, Air."
Ibu memelukku. Aku pun balas memeluknya. Tersenyum saat ia senyum padaku. Ayah pun demikian. Ketiga orang yang merawatku sampai sekarang asyik melihat ijazahku. Aku sendiri hanya bisa menatap mereka yang mulai menjauh dariku.
Mungkin, aku bisa bersikap senang saat ini. Yeah, ini adalah hari besarku. Tak mungkin aku tak senang. Tapi, dari semua itu hanya satu yang kuinginkan.
'Andai kak Gempa ada sekarang, mungkin aku akan memamerkan nilaiku ini.'
Begitulah pikirku.
"Hoi, Air!"
Aku berhenti. Menghadap ke pemanggil dan–
Brugh!
"Ahahaha! Aku tak menyangka kau mendapat nilai tertinggi!"
Dia Api. Teman dekatku. Teman satu jurusan, juga satu fakultas.
"Biasa aja."
"Hey, hey, kau bersikap datar begitu padaku? Tega sekali kau! Dari tadi, aku lihat kau tak berhenti tersenyum tau. Ha! Aku tau! Kau pasti mau bersikap sok keren, 'kan? Mau membanggakan nilaimu itu. Cih! Kita hanya selisih sedikit aja, jika kau lupa."
Meski sudah bergelar S1, Api tetap saja masih bertingkah layaknya anak kecil. Aku sendiri tak habis pikir dengan sifatnya itu.
"Sudah selesai melamunnya?"
Aku memandang Api heran. Kenapa dia jadi lembut begini?
"Tuh, ada Halilintar dan Taufan."
"AIR! API! JADI GAK!"
"Bisa kau tidak teriak. Mereka hanya beberapa meter di depan kita."
"Hehehe… biar heboh aja."
Ah, benar juga. Aku jadi ingat mengenai kunjunganku selanjutnya.
"Bibi, paman, dan kak Fang dah ngijinin. Mereka pulang duluan, katanya. La–"
"Ayo cepat! Aku mau makan habis ini."
"Uh! Kebiasaan banget motong kata-kataku. Eh? Waa~ tumben-tumbennya Hali mau cepat-cepat makan."
"Bukan urusanmu!"
"Hahahaha… Halilin lucu ya, Fan."
"Gezz.. berhenti memaggilku begitu."
"Hey, nilai kalian bagaimana?"
"Cumlaude! Hahaha!"
"Cih, aku jadi penasaran dengan nilaiku. Jeleknya, UNPR ngadain wisuda lusa. Coba aja bertepatan dengan hari wisuda kampus kalian."
Dengan sadar, aku menaikkan sudut bibirku. Membuat senyuman tipis melihat ketiga temanku berjalan lebih dulu. Dengan berbagai topik percakapan.
Setelah kak Gempa per– kembali ke sisi Allah, hari-hari yang kulalui terasa hambar. Semuanya terlihat berlalu begitu saja bagai film yang dipercepat. Membuat hari berganti tanpa kusadari. Hingga tak terasa, sudah setahun lamanya aku dalam kondisi monoton itu.
Ya, kuakui kalau aku mengenaskan. Tak memiliki semangat hidup lagi. Menit-menit terakhir kak Gempa dalam bentuk roh, terus menghantui mimpiku. Bahkan, tempat indah yang menjadi tempat perpisahan kami, berubah menjadi lautan darah.
Entah ilusi macam apa yang otakku gunakan saat itu. Yang pasti, itu sangat menyiksa. Ilusi itu, membuatku harus menangis bagai orang teraniaya tiap kali membuka mata. Membuatku bagai penjahat yang tak mengakui kesalahannya.
Bagai orang sakit jiwa.
Greb!
"Eh?"
"Kalau kau mau mati setelah kelulusanmu, aku tak masalah. Tapi, jangan bunuh di depan kami!"
Aku baru sadar kalau sekarang ada di pinggir jalan. Ahahaha… sepertinya aku melamun.
"Kau tak apa, Air?"
Aku tersenyum pada Api, tanda aku baik-baik saja. Kulihat Taufan langsung merangkulku erat. Akh, kurasa aku akan kehabisan nafas, kalau saja rangkulan itu tak dilepaskan Hali.
"Hehehe… maafkan aku adik kecil. Nah! Sekarang jangan melamun lagi, ya? Sepanjang perjalanan kita dari aula kampus sampai pinggir jalan ini kau melamun. Untungnya, ada Hali yang mengarahkan jalanmu."
"Makasih, Hali."
"Hm."
Halilintar pun masuk ke dalam mobil hitam miliknya.
"Nah! Cepat masuk ke mobil! Nanti Hali marah lagi."
Hah~ aku merasa terlalu merepotkan mereka. Semenjak kak Gempa meninggal aku di panggil 'adik kecil' oleh Taufan. Risih pastinya, tapi aku harus bagaimana lagi?
Ah, ya. Setelah masa suramku itu, Api yang tak tahan kucueki selama setahun –karena beda kelas– terus mengajakku ngobrol saat kembali satu kelas. Dia terus mengajakku jalan, main, atau semacamnya. Dia bosan melihatku yang hanya tidur sepanjang kelas kosong. Dia juga gak suka melihat wajah suramku.
Yeah, dia sahabatku yang paling pengertian.
"Yah! Malah melamun lagi."
Aku tersentak. Langsung saja aku menyibukkan diri dengan pandangan luar jendela, tapi–
"Khe! Kita sudah sampai. Jangan sok sibuk! Sudah ketahuan, masih mengelak."
"Hehehe… maaf."
Bagus. Sekarang aku merasa malu. Ketahuan melamun lagi.
"Nah!"
Aku menerima sebuket mawar melati yang Taufan sodorkan. Kuhirup aroma melati yang menyegarkan pikiranku. "Pasti kak Gempa senang."
"Pastinya! Itukan bukan kesukaannya."
"Hei! Ayo cepat! Si Halilin dah duluan."
Aku pun menyusul langkah Halilintar, Taufan, dan Api. Mereka bertiga sangat akrab setelah bertemu dua tahun lalu. Err… pengecualian untuk Halilintar. Taufan dan Api hanya senang mengganggunya saja.
Langkah kakiku berhenti saat sampai.
"Air, ayo pimpin do'a."
Aku pun mulai membacakan surah Al-Fatihah, dilanjutkan surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Lalu, do'a lainnya.
"Ha! Kau lihat, Gempa! Bentar lagi, aku dan Hali bakal menyandang gelas sarjana. Hihihi… pasti kau iri."
Memang kata-kata Taufan sangat menyombongkan diri. Tapi, raut kesedihan terpancar diwajahnya. Begitu pula Halilintar. Ia tak berkata banyak. Mungkin, dia mengucapkan segalanya lewat batin.
"Hola, Gempa! Kita ketemu lagi. Kau baik'kan? Aku dan Air dapat ni–"
"Api! Biar Air yang ngomong."
"Ck! Ayo kita ke mobil! Tinggalkan saja Air. Aku mau tidur sebentar."
"Tadi mau cepat-cepat makan. Sekarang mau tidur," cibir Taufan yang mendapatkan jitakan dari Halilintar.
"Cepat ya, Air. Aku punya bad feeling kalau kau terlalu lama."
Mereka pergi. Meninggalkanku sendiri di depan kuburan kak Gempa.
"Assalamu'alaikum, kak Gempa."
Whoouusshh
Bagai menjawab salam dariku, tiba-tiba saja angin berhembus lembut. menyebarkan harum melati yang terletak di atas tanah kuburan kak Gempa. Tampaknya, ia senang dengan bunga bawaanku ini.
"Mungkin, kak Gempa sudah tau. Tapi, aku lulus. Nilainya cumlaude. Alhamdulillah paling tinggi."
Aku berjongkok. Mengusap batu nisan itu. Menatapnya agak lama.
"Nah, kuharap, kakak gembira di sana dengan Ibu dan Ayah. Salam dari ibu Ying dan ayah Gopal untuk mereka. Kak Fang juga nitip salam untukmu."
Ingin… ingin sekali kuucapkan banyak hal. Tapi, aku tahu kalau kak Gempa pasti melihat semuanya, tanpa kuceritakan.
"Kalau begitu, hari ini cukup segini saja. Air tak bisa lama-lama meninggalkan mereka. Bisa-bisa, pulang-pulang Air malah jalan kaki, karena mobilnya hancur."
Aku beranjak. Membersihkan bagian belakang pakaian wisudaku. Meninggalkan kuburan kak Gempa.
[] It's Life []
"Makasih bunganya. Aku sangat menyukai wanginya."
"Makasih karena telah hidup dengan normal. Aku sangat mensyukurinya."
"Makasih telah mempunyai teman yang dapat dipercaya. Aku sangat senang melihatnya."
"Makasih atas gelar sarjana yang kau dapatkan. Aku, Ibu, dan Ayah, sangat bangga padamu."
…
Hidup itu tak selamanya indah.
Hidup juga tak selamanya suram.
Ada kalanya merasakan hal pahit, ada kalanya merasakan hal yang manis.
Kematian pun tak luput dari kehidupan.
Di mana ada kematian, disitu pula ada kehidupan baru. Ada yang pergi, ada pula yang datang.
Selama roda kehidupan terus berputar, manusia akan merasakan berbagai rasa, warna, juga sisi dalam kehidupannya.
Selama ada tujuan, manusia pasti akan terus bertahan hidup demi mewujudkannya. Jika tujuan itu telah terpenuhi, ia akan mencari tujuan baru. Dengan begitu, kehidupannya akan terus berjalan.
Bagaimana jika ia tak mempunyai tujuan hidup? Bagaimana jika tujuan hidupnya lenyap tak berbekas? Bagaimana jika ia hanya pasrah pada arus kehidupan yang membawanya?
Berbagai jawaban dapat terlontar dengan adanya pertanyaan di atas. Tapi, janganlah kita membuat orang yang merasakan itu terlarut sampai ke dasar.
Bantulah ia agar mempunyai tujuan hidup. Carikanlah kegiatan untuknya, hingga bisa berpikir mengenai tujuan hidupnya.
Dengan begitu, kita pun telah memenuhi salah satu tujuan hidup kita.
Menolong sesama.
Membahas mengenai kehidupan itu tak akan ada habisnya. Karenanya, nikmatilah hidupmu. Sayangilah nyawamu. Tebarkanlah senyummu. Hiduplah dengan bangga sebagai manusia. Anggap segala kenangan pahit itu adalah warna gelap dalam kehidupan, yang akan membawamu ke puncak.
Puncak yang memberikan kebahagiaan abadi.
…
END
Oke, mengenai hal-hal tentang medis di Fict ini, Nayu hanya menganalisis dari hal yang pernah Nayu baca dan tonton dulu. Ya, dulu. Saat masa SMP. Jadi, jikalau ada Mahasiswa/i jurusan kedokteran yang membaca Fict ini, Nayu mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan selama 'Kritis' Gempa ditempatkan diruang rawat VVIP. Maunya Nayu tulis di ruang ICU. Tapi, setahu Nayu, maksimal dua orang saja yang bisa masuk.
Lagi pula, Fict ini tidak bermaksud untuk menonjolkan mengenai medis. Melainkan, menonjolkan sisi emosional dalam menghadapi suatu perihal dalam kehidupan. Hehehe… gimana? Kerasa nda Angstnya? Endingnya aneh ya?
Waktunya membalas review~
Rampaging Snow : Dah ketebak kan? Hihihi.. makasih Reviewnyaaa…
Asha : Hihihi… Asha kok lucu sekali sih~ XD Dah kejawabkan, penyakitnya Gempa? Asma itu memang bisa membunuh loh~ Asha hebat deh, nebak kalau yang buat Air teriak-teriak itu si Gempa. Hahahaha… Tau aja deh Asha kalau endingnya tak akan 'baik-baik saja' XD /entah kenapa bangga banget/
Spoiler itu bocoran chapter yang belum publish atau semacam itulah.
Publish ya? Hm, awalnya Asha harus buat akun dulu. Kalau sudah buat, Asha harus menunggu– kakak lupa berapa lama, nanti ada infonya kok. Nah, kalau mau publish, Asha klik Publish. Pilih Doc Manager, masukin deh ceritanya Asha ke situ. Setelahnya, klik New Story. Biasanya, pasti ada perintah untuk ke bagian Rules & Guidelines. Asha ke situ dulu. Setujui syaratnya, lalu kembali ke New Story. Nanti ada langkah-langkahnya kok. Tinggal Asha ikutin aja deh. Terus, Fic buatan Asha akan terpublish!
Gimana? Paham tak?
Oh, Nayu rasa sudah cukup. Nayu sangat mengharapkan review dari kalian. Ah, jika ada KriSar, Nayu akan menerimanya dengan senang hati. Iks… Makasih banyak atas review, fave, follow, yang kalian berikan pada Fict Angst kedua Nayu QwQ … Arigatou Gozaimasu! Thank you! Syukron! Makasih banyaaakkkk~~~ Maaf karna Chap ini kepanjangan, 5k+ loh~
REVIEW Please~
p.s : Nayu membutuhkan Review kalian. Sangat. Jadi, muncullah para SiDer.
Jaa na, ttebayo~
