Unforgiven Hero
.
.
.
.
.
.
Remake from "Unforgiven Hero" By Santhy Agatha
Cast : Jongin, Sehun, and others
Rate M
Warning for typos and lots of sexual content
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Chapter Three
.
.
.
.
.
.
Preview Chapter Two
"Lelaki setampan itu... dan kau tidak boleh jatuh cinta kepadanya Sehun, daripada kau nanti patah hati seperti yang dialami beberapa karyawan di sini yang berani memendam perasaan kepada Presdir Kim. Mereka semua berujung patah hati, karena Presdir Kim sedikitpun tidak akan melirik mereka."
Aku tidak akan jatuh cinta kepada 'Presdir Kim' itu. Sehun tersenyum dikulum, berpikir dalam hati, dari ceritanya, lelaki itu terdengar terlalu sempurna. Sempurna dan pemurung, ralatnya.
Sekalipun ia juga memiliki orientasi seksual yang sama, Presdir Kim yang diceritakan oleh Yuri jelas sama sekali bukan tipe lelaki idaman Sehun. Karena kekasih yang diimpikannya adalah lelaki biasa, yang ceria dan bisa membuatnya tertawa setiap saat.
Dan lelaki itu bukan Presdir Kim, aku tidak akan pernah jatuh cinta kepadanya. Sehun merasa yakin. Meskipun keyakinan manusia kadangkala bisa bertentangan dengan kehendak Tuhan…
.
.
.
Dia ada disini.
Jongin menelan ludahnya, merasa konyol karena kegugupannya. Astaga! dia yang selama ini menghadapi begitu banyak orang dengan percaya diri sekarang merasa gugup hanya karena seorang lelaki biasa yang bahkan tidak akan mengenalinya.
Jongin berdehem menenangkan diri.
Tetapi lelaki ini bukan lelaki biasa, lelaki inilah yang entah sadar atau tidak, telah mengubah seluruh kehidupannya, telah mengubah seluruh cara pandangnya terhadap kehidupan. Lelaki inilah yang sekarang telah menjadi tujuan hidup Jongin. Kebahagiaannya adalah tujuan hidup Jongin.
Setelah menarik napas panjang, Jongin melangkah masuk ke ruangan kantor staff direksi. Kyungsoo yang sedang berdiri di dekat pintu dan langsung mengangguk kepadanya.
"Selamat pagi, Presdir Kim." sapanya hormat.
Jongin mengangguk tak kentara, matanya berputar ke sekeliling ruangan, di mana Sehun? Seharusnya dia mulai bekerja hari ini kan?
Kyungsoo sepertinya menyadari apa yang dicari oleh Jongin, dia termasuk segelintir orang kepercayaan Jongin yang mengetahui rencana bosnya itu ketika memasukkan Sehun ke perusahaan ini. "Dia sedang di kamar mandi, Presdir."
Jongin mengangguk, merasa sedikit malu karena wakil direksinya ini menyadari apa yang dicarinya. "Suruh dia menghadap ke ruanganku nanti," gumamnya setelah berdehem dan melangkah masuk ke dalam ruangannya.
Di dalam ruangannya, Jongin merasa begitu susah berkonsentrasi, berkali-kali dia melemparkan pandangan ke pintu dengan gelisah. Kenapa Sehun lama sekali?
Jongin merasa bahwa detik pertemuan inilah nanti yang akan menentukan langkahnya ke depan. Jongin harus memastikan bahwa Sehun tidak akan mengenalinya meski tetap –dia harus menghadapi resiko bahwa suatu saat nanti laki-laki itu akan sadar dan tahu siapa dirinya sebenarnya.
Siapa yang bisa mengukur kekuatan ingatan seseorang? Apalagi ingatan tentang kejadian buruk biasanya akan lebih kuat melekat. Dan jika Sehun mengenalinya, maka selesailah sudah semuanya.
Jongin merasakan jantungnya berdenyut, dia tidak akan siap. Dia tidak akan siap jika Sehun mengenalinya dan kemudian membencinya dengan kebencian yang sama seperti yang ditunjukkan di pertemuan pertama mereka di masa lalu.
Semoga Sehun tidak mengenalinya. Jongin masih merapalkan doa singkat itu berulang-ulang bagai mantra, ketika sebuah ketukan pelan di pintu mengalihkan perhatiannya. "Masuk," gumamnya penuh antisipasi.
.
.
.
Dia memang tampan. Sangat tampan. Sayang terlalu tampan, bukan tipeku. Sehun langsung memutuskan pada tatapan pertama mereka. Lelaki berdarah Spanyol dengan kulit emas tembaga dan rambut sedikit ikal berwarna hitam legam serta mata yang dalam itu tampak terlalu berbahaya untuk dijadikan tipenya.
Sementara itu bos barunya itu hanya menatapnya dengan tatapan menilai, menimbang-nimbang. Sehingga hening cukup lama dan Sehun tak juga dipersilahkan duduk.
"Duduklah." Presdir Kim tampak tersenyum kecil, seperti puas karena telah memutuskan sesuatu, "Kau tahu siapa aku?"
Pertanyaan apa itu? Batin Sehun tanpa sadar mengernyit. Tentu saja dia tahu.
Presdir Kim tersenyum lagi, seperti menyadari retorika dalam pertanyaannya, "Ah, maaf aku sedikit gugup." Sekali lagi Sehun mengernyit, gugup? karena bertemu dengannya? Tidak mungkin. Pasti bosnya ini sedang gugup karena sesuatu yang lain.
"Kita belum berkenalan." Lelaki itu lalu mengulurkan jemarinya yang ramping namun kokoh ke arah Sehun dan mau tak mau Sehun menyambut uluran tangan itu.
"Kita langsung bersikap informal saja ya, mengingat aku dan kau akan sering sekali berhubungan. Apalagi saat Yuri memulai periode cuti hamilnya, kau bisa memanggilku Presdir Kim saja." gumam lelaki itu setelah melepaskan genggaman tangannya yang kuat pada Sehun.
'Saja'. Sehun kadang-kadang merasa geli dengan ketajamannya menganalisa kata-kata, tetapi itu memang tidak bisa ditahannya. Kenapa lelaki di hadapannya ini harus menggunakan kata 'saja' di akhir kalimatnya? Seolah-olah dia memiliki nama lain, oh well dia memang memiliki nama lain –lebih tepatnya nama lengkapnya yang sampai saat ini masih menjadi misteri bagi semua orang, termasuk Sehun. Entahlah, mungkin dia hanya tidak ingin orang-orang mengetahui namanya?
Lelaki itu berdehem dan membuat Sehun sedikit terkejut. Buru-buru dienyahkannya pemikiran tidak masuk akal tadi dan kembali bersikap formal.
"Mungkin kau bertanya-tanya kenapa kau dipanggil masuk ke perusahaan ini. Aku mempunyai referensi dari universitasmu bahwa kau adalah lulusan terbaik disana, dan aku sangat senang memberikan pengalaman dan ruang untuk lulusan-lulusan baru sepertimu agar bisa mengeksploitasi kecerdasan dan kemampuan kalian. Aku senang mempekerjakan lulusan-lulusan baru," Presdir Kim tersenyum dan Sehun sedikit bergetar ketika menyadari, bahwa senyuman lelaki itu tampak luar biasa tampan, "Karena lulusan baru biasanya lebih mudah diajari cara-cara modern, mereka mudah menyerap ilmu dan yang pasti mereka sangat bersemangat."
Presdir Kim berhenti sejenak untuk melihat apakah Sehun mendengarkan kata-katanya, lalu melanjutkan, "Itu juga yang kuharapkan darimu, kemampuan untuk menyerap ilmu baru dengan cepat dan semangat yang luar biasa tinggi, bisakah?"
"Bisa," Sehun menjawab dengan cepat dan mantap. Dia yakin bisa, dia sangat bersemangat untuk mempelajari hal-hal baru di sini. Dunia kerja adalah hal baru baginya dan dia yakin dia memiliki kemampuan untuk belajar secara cepat.
"Bagus," Presdir Kim mengangguk puas, "Melihat dari nilai-nilai akademismu, aku yakin kau juga akan bagus pada prakteknya. Kalau begitu, selamat datang di perusahaan ini Oh Sehun, semoga kerjasama kita baik sampai ke depannya," lelaki itu mengulurkan tangannya lagi, dan tersenyum sangat manis, "Aku sangat mengharapkanmu Sehun."
Sehun menerima uluran tangan itu dengan formal. "Baik, saya akan berusaha sebaik mungkin," kemudian dia berdiri dan berpamitan kembali ke ruangannya.
"Ah. Sehun?"
Sehun yang sudah di depan pintu dan bersiap membukanya menoleh ke arah Presdir Kim yang masih duduk tegak di kursinya, "Aku dengar kau menggunakan transportasi umum kemari?"
Sehun mengangguk. "Benar, saya menggunakan bis," jawabnya mengernyit dan bertanya-tanya, bukankah informasi seperti ini sepertinya kurang penting untuk diketahui oleh seorang big boss?
"Dan aku tahu lokasi rumahmu cukup jauh," Presdir Kim tampak merenung, berpikir, lalu menatap Sehun dengan tegas, "Aku akan mengusahakan kendaraan operasional untukmu. Kami memiliki fasilitas antar jemput karyawan, khusus untuk karyawan yang lokasi tempat tinggalnya jauh. Mungkin kau bisa bertanya kepada Yuri untuk mendaftar."
"Itu bagus sekali," mata Sehun berbinar tanpa dapat ditahan, fasilitas antar jemput karyawan ini akan sangat membantunya. Sehun bisa mengirit biaya pulang pergi ke kantor yang memerlukan berganti bis tiga kali dalam satu periode perjalanan, dia akan bisa menabung. "Terima kasih Presdir, saya akan bertanya kepada Yuri." Presdir Kim mengangguk, dan Sehun pun melangkah keluar dari ruangan itu.
.
.
.
Dia tidak mengenaliku. Tanpa sadar Jongin menarik napas panjang, merasa lega. Dengan pelan diusapnya wajahnya. Bersyukur bahwa Sehun tidak menyadari betapa gugupnya dia tadi. Betapa dia berjuang menampilkan sosok tegas yang berwibawa. Karena sosok seperti itulah yang bisa menutupinya dari kecurigaan Sehun.
Aku bukan lagi manusia yang tidak punya harga diri seperti dulu, Sehun. Kau pernah mengatakan kepadaku untuk datang padamu ketika aku sudah punya harga diri lagi. Sekarang aku punya, harga diri beserta semua atributnya, kedewasaan, kebijaksanaan, kebaikan hati. Tetapi entah kenapa, aku masih merasa tak pantas menemuimu. Aku ini, manusia yang tak termaafkan.
Jongin mendesah pelan dan menyandarkan kepalanya di kursinya.
Sampai kapan dia harus begini? Tidak bisa mengakui dirinya yang sebenarnya di depan satu-satunya lelaki yang menjadi tujuan hidupnya? Sampai kapan dia harus begini? Bersembunyi? Malu mengakui diri?
Jongin tidak punya jawaban, dia hanya merasa saat ini lebih baik dia memilih jalan pengecut, bersembunyi di balik bayang-bayang sosok 'Presdir Kim'.
Bukankah dengan begini kau bisa lebih bebas menjaganya? Suara hatinya berbisik dan Jongin menganggukkan kepalanya tanpa sadar. Ya, keputusannya tepat. Akan lebih baik jika Sehun tidak pernah mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya. Luka hati lelaki itu sudah sembuh, sangatlah tidak tepat kalau dia merusaknya dengan pertemuan dari masa lalu yang pasti akan membuka luka lama itu.
.
.
.
"Presdir Kim," panggilan itu membuat Jongin yang sedang menekuri perjanjian kontrak terbaru mereka dengan sebuah perusahaan properti mengangkat kepalanya.
Jongin sebenarnya tidak begitu suka dengan panggilan itu –terlalu formal, dia lebih nyaman jika dipanggil dengan namanya langsung. Akan tetapi di perusahaan ini dia harus dipanggil dengan sebutan 'Presdir Kim', karena dia menginginkan Sehun bekerja disini. Kalau namanya sampai diketahui, kemungkinan besar hal itu akan membuat Sehun curiga dan kalau Sehun sampai tahu semuanya hal itu akan menggagalkan rencananya.
Sekretaris Jongin, muncul di pintu, tampak gugup, "Itu…Presdir Wu ingin bertemu."
Jongin mengernyitkan kening, Presdir Wu atau Wu Yifan adalah CEO –untuk perwakilan Cina dari perusahaan asing yang menjalin kerjasama dan menanamkan modal di perusahaan ini.
Mengingat betapa dingin dan sinisnya penampilan Yifan, pantaslah kalau sekretarisnya menjadi begitu gugup.
"Persilahkan dia masuk."
"Aku sudah masuk tanpa kau persilahkan." Yifan melangkah masuk tanpa peduli, dan menggangguk kepada sekretaris Jongin untuk membuatnya pergi dan langsung duduk di sofa ruang tamu Jongin.
"Kau membuatnya takut." gumam Jongin sambil melirik pintu yang ditutup sekretarisnya dengan pelan. Dia melangkah ke arah bar pribadi di pojok ruangannya dan menuangkan brendi untuk Yifan, dan kopi untuk dirinya sendiri.
Yifan melirik pintu dan mengangkat bahu, sambil menerima gelas brendi dari tangan Jongin, "Kau harus sedikit lebih keras kepada bawahanmu kalau ingin dihormati," Yifan menatap Jongin tajam, berubah serius, "Aku ada dua undangan pesta makan malam di rumah Park Chanyeol dan aku mengira kau mungkin bisa datang ke sana juga dan berkenalan dengannya." Kopi yang ditelan Jongin tersedak di tenggorokannya. "Apa?" Jongin butuh mendengar ulang lagi, merasa tak percaya dengan indera pendengarannya, "Park Chanyeol?"
"Ya, berkenalan dengan Park Chanyeol," Yifan tersenyum tipis melihat ketidakpercayaan di mata Jongin, "Kenapa kau tampak begitu terkejut? Kau tahu kan aku menjalin hubungan bisnis dengannya?"
"Aku tahu kau menjalin hubungan bisnis dengannya, tapi aku tidak menyangka kau berteman dengannya sampai-sampai menghadiri persta di luar urusan bisnismu." Jongin bersungut-sungut, dan duduk di sofa, di hadapan Yifan.
Yifan menggeleng, masih tersenyum. Dan menurut Jongin, lelaki itu sudah lebih banyak tersenyum dari yang biasa ditampilkannya. Sepertinya pernikahannya dengan Suho telah membuatnya menjadi orang yang murah senyum.
"Aku tahu kau tidak menyukai Park Chanyeol." itu pernyataan bukan pertanyaan.
"Ya. Aku tidak suka. Aku memang tidak berhak menghakimi seseorang dari gosip yang kudengar, tetapi reputasi akan watak Park Chanyeol memang sangat menakutkan. Aku bahkan mendengar bahwa dia dijuluki 'Sang Iblis' dan aku tidak suka tipikal pengusaha kejam semacam itu."
"Mereka berlebihan, dia tidak sejahat itu," Yifan terkekeh, "Lagipula isteriku bersahabat dengan istri Chanyeol."
"Istri Chanyeol?" Jongin membelalakkan matanya, "Ah ya, laki-laki yang menimbulkan gosip heboh beberapa waktu lalu karena Chanyeol menculiknya ya? Mungkin laki-laki itu memang bisa menaklukkan Chanyeol, aku dengar ia menjadi 'jinak' setelah isterinya itu melahirkan seorang putra untuknya." Yifan terkekeh. "Chanyeol sudah menemukan keberuntungannya, dia jatuh cinta kepada istrinya."
"Dan dari senyummu yang aneh itu, pasti kau hendak mengatakan kalau Chanyeol bernasib sama denganmu, sama-sama takluk karena cinta kepada istri kalian."
"Memang," tak ada bantahan dari Yifan, lelaki itu tampak bangga mengakuinya. Dia lalu meletakkan amplop undangan berwarna keemasan itu di meja kopi, "Ini undangannya, dan datanglah dengan membawa pasanganmu," mata Yifan berkilat geli, "Entah kau pandai merahasiakan pasanganmu atau memang kau tidak tertarik. Kau tidak pernah terlihat menjalin hubungan dengan siapapun dan itu membuat kami bertanya-tanya."
Jongin langsung terbahak, "Aku menunggu yang terbaik." Yifan mengganggukkan kepalanya. "Well menurut pengalamanku, kita memang akan menyerah kepada yang terbaik, semoga yang terbaikmu itu segera datang." Jongin merenung, lalu membayangkan Sehun. 'Yang terbaiknya' memang sudah datang.
.
.
.
Jongin memarkir mobilnya di tempat biasa, di sebuah sudut, tertutup bayang-bayang sebuah pohon besar yang teduh. Matanya menatap ke arah bangunan asrama tua itu. Tempat yang sangat dihafalnya dan mungkin merupakan satu-satunya tempat yang paling sering dikunjunginya secara berkala.
Lalu Sehun melangkah keluar dari sana, Jongin melihat jamnya. Selalu tepat jam sembilan di hari minggu, Sehun akan pergi berbelanja kebutuhan asrama. Lelaki itu tampak ceria dan sehat. Syukurlah, Jongin mendesah dalam hati.
Matanya mengikuti Sehun dengan waspada ketika lelaki itu menyebrangi jalan menuju halte, menunggu bis untuk mengantarkannya berbelanja, dan Jongin mengernyit ketika sebuah bis yang penuh sesak berhenti di depan Sehun dan laki-laki itu masuk ke dalamnya.
Dia tidak boleh naik bis lagi. Putusnya dalam hati, Jongin harus mengusahakan sesuatu. Setelah yakin bahwa Sehun sudah benar-benar pergi, Jongin segera mengangkat ponselnya.
"Aku sudah menunggu disini," gumamnya tenang. Tak lama kemudian, sosok Bibi Lee keluar dengan hati-hati dari asrama, dan melangkah ke tempat parkir Jongin yang biasa. Dengan sopan Jongin membukakan pintu dan Bibi Lee pun melangkah masuk.
"Dia sangat senang karena diterima di perusahaan itu," Bibi Lee memulai percakapan sambil tersenyum. Mau tak mau membuat Jongin juga ikut tersenyum, membayangkan Sehun bahagia membuatnya tak bisa menahan senyum lebarnya.
"Aku senang, apakah dia merasa curiga?" Jongin menatap Bibi Lee dengan sopan. Wanita di depannya ini adalah mantan asisten ibunya yang sudah pensiun dan kemudian karena tidak mempunyai sanak keluarga, mengajukan diri untuk menunggui asrama putri tersebut.
Asrama ini sebenarnya adalah salah satu dari asrama milik yayasan sosial yang dikelola oleh ibu Jongin. Dan ketika ibu Jongin menceritakan semua rencana Jongin, Bibi Lee menawarkan diri dengan senang hati untuk membantu. Dan Jongin sangat menghormati wanita ini, hampir seperti dia menghormati ibunya sendiri.
"Dia sempat curiga." Bibi Lee tersenyum melihat kecemasan di mata Jongin, "Tapi aku sudah berusaha menghilangkan kecurigaannya itu, lagipula nilai-nilai ijazahnya memang sangat bagus jadi tidak menutup kemungkinan perusahaan-perusahaan besar bersaing memperebutkannya."
Jongin menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkirnya semula di bawah pohon besar itu dengan tenang, mengarahkan mobilnya menuju rumahnya. Karena setiap minggu, Bibi Lee akan berkunjung ke rumahnya untuk bertemu dengan ibunya. Setiap minggu itulah Jongin akan memanfaatkan waktu itu untuk mengevaluasi dan memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dari Bibi Lee tentang Sehun.
"Mungkin memang aku terlalu berlebihan, seharusnya aku menempatkannya sebagai staff biasa dulu, tapi aku tidak tahan, aku lelah melihatnya secara sembunyi-sembunyi seperti ini. Aku ingin bisa berinteraksi langsung dengannya."
"Aku mengerti," Bibi Lee tersenyum penuh kelembutan, "Tetapi tidak adakah ketakutan di dalam hatimu kalau-kalau nanti lama-kelamaan Sehun akan menyadari siapa dirimu sebenarnya?"
Pandangan Jongin menerawang ke depan. "Aku tidak tahu... aku menganggap ini semua seperti pertaruhan yang melibatkan hidup dan matiku... Bibi tahu kan betapa aku sangat menginginkan pertemuan ini, bisa bertatapan langsung dengan Sehun, bisa berbicara langsung dengannya. Aku sangat menginginkan pertemuan ini... sekaligus takut... sebab jika Sehun sampai mengenaliku... maka selesailah sudah semuanya."
Dengan penuh rasa keibuan, Bibi Lee mengamati sosok disampingnya itu. Jongin sedang berkonsentrasi menyetir, pandangannya lurus ke depan dan tidak menyadari kalau wajahnya diamati. Bibi Lee sudah mengenal Jongin sejak lama, karena dia sudah menjadi asisten ibu Jongin sejak Jongin masih kecil.
Dia sendiri yang menjadi saksi betapa nakal dan pemberontaknya Jongin di masa mudanya, dia juga yang menjadi saksi ketika kecelakaan itu telah mengubah Jongin 180 derajat. Dari seorang pemuda ugal-ugalan yang sombong dan hanya mengandalkan nama ayahnya, menjadi pengusaha yang berjuang dengan kekuatannya sendiri seperti sekarang.
Tidak. Bibi Lee memutuskan, Sehun tidak akan mengenali Jongin yang sekarang. Jongin yang sekarang jauh berbeda dengan Jongin yang dulu.
Kebandelan masa remajanya sudah berubah menjadi sikap dewasa yang penuh wibawa. Fisiknya sudah berubah menjadi matang pula, dan aura kesombongan dan keangkuhannya telah berubah menjadi kebijaksanaan yang tenang. Bibi Lee yakin, Sehun tidak akan bisa mengenali Jongin yang sekarang sebagai pemuda kaya yang dulu telah merenggut nyawa ayahnya.
"Aku sangat tahu perasaanmu Jongin, dan aku akan mendoakan yang terbaik, untukmu dan untuk Sehun. Dia anak yang baik, anak yang baik luar dan dalam. Hatinya sangat lembut, dan aku yakin, suatu saat nanti akan datang waktu di mana Sehun akhirnya akan memaafkanmu anakku."
Jongin tersenyum sedih mendengar kata-kata Bibi Lee, dimaafkan? Itu terdengar terlalu mewah baginya. Dia tidak pernah sedikitpun berani memohon agar dimaafkan, karena dia tahu permohonan itu akan terlalu muluk untuknya. Dia bersalah, dan dia tak termaafkan, sesederhana itu.
Yang dia butuhkan sekarang hanyalah agar Sehun bahagia. Kebahagiaan Sehun entah sejak kapan, telah menjadi obsesi kehidupannya.
.
.
.
Sehun memasuki lift dengan tergesa-gesa sambil membawa map berisi berkas-berkas yang kemarin diserahkan Yuri kepadanya. Malangnya, karena kurang berhati-hati, map itu terlepas dari tangan Sehun dan berhamburan di lantai lift. Membuat Sehun dengan gugup langsung berjongkok dan memunguti kertas-kertas itu di lantai. Sampai kemudian dia sadar ada sepasang kaki dengan sepatu mahal dan terbungkus celana panjang hitam dari bahan khasmir yang mahal pula sedang berdiri di hadapannya.
Sehun mendongakkan kepalanya dan bertatapan langsung dengan Presdir Kim, bos barunya. Lelaki itu berdiri dengan elegan dan menatap Sehun yang berjongkok di bawahnya dengan sinar geli di matanya, "Butuh bantuan?"
Sehun langsung merenggut seluruh kertas-kertas yang berhamburan di lantai itu secepatnya, "Eh tidak Presdir… maaf, saya ceroboh…"
Tiba-tiba Presdir Kim sudah berjongkok di depannya, tangannya yang kuat tetapi berjemari ramping itu membantu Sehun memunguti kertas-kertas yang berserakan, lalu tanpa kata menyerahkannya kepada Sehun.
"Eh… te… terima kasih." gumam Sehun gugup sambil memasukkan kertas-kertas itu kembali ke dalam map.
"Lain kali tidak perlu terburu-buru, tidak akan ada yang memarahimu." Presdir Kim meluncur berdiri dengan anggun bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Lelaki itu lalu melangkah pergi, meninggalkan Sehun yang masih berjongkok di dalam lift.
.
.
.
"Selamat pagi."
Suara itu menyapa ramah dan Sehun menoleh, menatap seorang laki-laki yang lumayan tampan sedang berdiri di sebelah mejanya. Lelaki itu tersenyum ramah.
"Selamat pagi juga," Sehun balas tersenyum, berusaha mengingat-ingat, sepagian ini Yuri telah membawanya ke berbagai ruangan di perusahaan ini, memperkenalkannya sebagai anak baru, tetapi sepertinya dia tidak ingat pernah diperkenalkan dengan lelaki ini.
Lelaki di depannya, meskipun berpakaian rapi dan berdasi tampak urakan dan santai, senyumnya juga seperti anak nakal di dalam tubuh dewasa.
Lelaki itu mengangkat alis, tampak sadar dengan pengamatan Sehun, lalu tertawa dan mengulurkan tangannya. "Hai, kenalkan, tadi aku sedang keluar kantor jadi tidak sempat berkenalan, aku Huang Zitao –tapi kau dapat memanggilku Tao, IT Manager di sini. Aku tadi mendengar ada anak baru yang cantik jadi buru-buru ke sini untuk mengajak berkenalan," katanya dalam canda.
Pipi Sehun memerah mendengar candaan lelaki itu, tetapi dia menyambut uluran tangan Tao dengan senyum juga. "Aku Sehun –Oh Sehun."
Tao meremas tangan Sehun sambil tersenyum lucu sebelum melepaskannya, lalu mengedipkan sebelah matanya. "Aku tahu tempat makan siang yang enak, mungkin kita bisa…"
"Tao."
Suara dalam yang dingin itu menyela percakapan mereka. Tao langsung menoleh ke arah suara dan tersenyum. "Oh Presdir, selamat pagi."
Jongin sedang berdiri di pintu ruangannya, ekspresinya datar dan tidak terbaca. "Kebetulan kau ada di sini, tolong ke ruanganku sebentar, ada beberapa hal tentang usulan program baru untuk data intregrated kemarin yang harus kutanyakan kepadamu."
Tao memutar bola matanya lucu ketika menatap Sehun, lalu menganggukkan kepalanya dan mengikuti Jongin masuk ke ruangannya. Sementara itu Sehun tersenyum geli sambil menatap punggung Tao. Meskipun tampak urakan dan tidak serius, lelaki itu tampaknya lelaki yang baik dan menyenangkan.
.
.
.
Sehun merapikan berkas-berkasnya sambil melirik jam dinding, sudah jam delapan malam. Besok hari yang sibuk untuk Presdir Kim dan syukurlah akhirnya Sehun sudah selesai menyiapkan semuanya, meskipun akhirnya dia harus ketinggalan bis karyawan.
Suara di pintu membuat Sehun mendongakkan wajahnya dengan waspada. Presdir Kim berdiri di sana, sepertinya baru pulang dari pertemuan bisnisnya di luar. Lelaki itu mengerutkan mata melihatnya, "Kenapa kau masih ada di sini?"
Mata itu sungguh tajam, Sehun membatin, "Eh, saya menyelesaikan berkas-berkas ini dulu, untuk besok."
Jongin menatap tidak suka, "Lain kali tinggalkan saja pekerjaan itu dan lanjutkan besok," dia melirik jam tangannya, "Ini sudah terlalu malam untuk bekerja, seharusnya kau sudah di rumah dan beristirahat. Aku akan menyuruh supir mengantarmu pulang." Sehun menggelengkan kepalanya panik, "Tidak perlu, saya bisa naik bis..."
"Ikuti perintah atasanmu, lagipula aku tidak yakin selarut ini masih ada bis yang beroperasi," Jongin menatap tajam membuat Sehun menelan ludahnya, "Sebelum itu, aku ingin bicara di ruanganku. Kau tidak keberatan membuatkan kopi untuk kita berdua?"
.
.
.
Kopi itu mengepul panas dan menguarkan aroma nikmat ke seluruh penjuru ruangan. Sehun meletakkannya di atas meja di depan sofa tempat Presdir Kim duduk dan menunggunya, lalu dengan gugup dia duduk di depan Jongin, menunggu.
Lelaki itu tercenung, seolah bingung mau bicara apa. Tetapi itu tidak mungkin bukan? Orang sekelas Presdir Kim tidak mungkin bingung harus bicara apa.
"Kau sudah tiga bulan di sini," Jongin memulai, "Bagaimana perasaanmu?" Sehun tersenyum, "Saya senang. Banyak hal yang bisa saya pelajari."
"Apakah rekan-rekan kerja menciptakan suasana yang kondusif untukmu?" Sehun mengangguk, "Mereka sangat baik dan membantu." Kali ini kening Jongin berkerut cukup dalam, "Kudengar kau dekat dengan IT Manager ku?"
Pipi Sehun memerah. Astaga. Darimana Presdirnya itu bisa mendapat informasi macam itu? Dan kenapa pula orang sekaliber Presdir Kim harus peduli dengan gosip percintaan karyawannya?
Tao. Nama itu menguar di benak Sehun. Ya. Mereka dekat. Itu karena Tao sangat gigih mendekatinya. Dia mengajak makan siang bersama, kadangkala dia menghampiri Sehun dan mengajak mengobrol tentang berbagai hal. Ya. Sehun nyaman bersama Tao, cukup nyaman sampai membiarkan Tao mengantarnya pulang ke asrama beberapa hari lalu. Lelaki itu berkenalan juga dengan Bibi Lee. Tetapi, entah kenapa Bibi Lee tampak tidak suka dengannya, padahal Tao begitu baik...
"Sehun?" Jongin bertanya lagi, mengembalikan Sehun ke dunia nyata.
Sehun mengerjapkan matanya, menatap Presdir Kim dan sadar bahwa dia belum menjawab pertanyaan lelaki itu. "Ya... Kami cukup dekat, hubungan kami cukup baik."
"Begitu," Presdir Kim tercenung, "Aku cenderung tidak menyetujui hubungan dekat dengan rekan sekerja. Karena berdasarkan pengalaman, ketika hubungan itu memburuk, performa di tempat kerja ikut memburuk." Sehun menghela napas, "Hubungan kami belum sejauh itu untuk..."
"Ya. Aku mengerti. Kalian dekat, tapi belum menyentuh konteks asmara. Tetapi tidak menutup kemungkinan itu akan terjadi bukan?" Jongin menatap Sehun tajam, seolah menembus hatinya.
Sehun menganggukkan kepalanya, "Saya tidak bisa membantah kemungkinan itu, meskipun saya tidak bisa memastikan. Tetapi kalaupun itu terjadi, saya berjanji akan berusaha untuk tidak mencampurkannya dengan profesionalisme pekerjaan saya."
Jongin terdiam dan Sehun menanti. Hening lagi, kali ini lama, dan entah mengapa terasa menegangkan bagi Sehun, lalu Jongin tersenyum samar. "Oke. Kita lihat saja nanti," tatapan mata lelaki itu begitu misterius, "Pulanglah. Aku sudah menyuruh supirku menunggumu di depan. Dia akan mengantarmu pulang."
.
.
.
Ketika Sehun pergi, Jongin masih tercenung di ruangan kerjanya. Tao dan Sehun hampir menjadi sepasang kekasih, itu yang dilaporkan oleh Kyungsoo kepadanya. Jongin memang meminta Kyungsoo mengawasi Sehun di tempat kerjanya. Seminggu yang lalu Bibi Lee juga meneleponnya dari asrama, memberitahunya bahwa Sehun membiarkan Tao mengantarkannya pulang ke asrama. Dan beberapa hari kemudian Tao mulai rutin datang, bahkan di hari minggu.
Jongin tidak pernah memikirkan kemungkinan ini sebelumnya. Tidak pernah menyangka bahwa mungkin Sehun akan bertemu lelaki yang dia sukai di tempat kerjanya. Seharusnya dia tahu, Jongin mendesah, Sehun terlalu cantik. Seharusnya dia memperkirakan bahwa akan ada beberapa orang yang tertarik untuk mendekatinya. Dan itu mengganggu Jongin, dia harus menghentikan ini semua sebelum terlalu jauh.
Mata Jongin terpaku pada cangkir kopi Sehun. Ada bekas bibir Sehun di sana. Lalu, karena didorong oleh luapan gairah dan perasaannya, Jongin mengambil cangkir itu, mengecup lembut bekas bibir Sehun di sana.
"Kau akan menjadi milikku Sehun, seperti yang seharusnya terjadi, karena hanya aku-lah yang berhak menjagamu."
.
.
.
Seperti seorang pengintai yang mengawasi dari jauh...
Jongin membatin, setengah benci kepada dirinya sendiri yang berlaku seperti pengintai, mengawasi Sehun dan Tao. Mereka berdua sedang berkencan, tentu saja. Dan Jongin di sini, mengawasi mereka.
Jalanan ini memang dikondisikan bagi pejalan kaki yang ingin menikmati berjalan-jalan sambil berbelanja. Café-café yang cozy bertebaran dengan nuansa ala barat, berpayung eksotis di pinggir-pinggir jalan, menawarkan suasana makan yang berbeda. Ada juga penjual bunga di sana, dan beberapa penjual cinderamata lainnya. Jongin terus mengawasi ketika Tao mengajak Sehun berhenti di depan penjual bunga, lalu memberikannya setangkai mawar putih.
Perbuatan sederhana yang membuat pipi lelaki itu merona merah.
Dada Jongin terasa panas. Kurang ajar Tao. Lelaki itu merusak semua rencananya dengan mendekati Sehun. Jongin jadi semakin mantap untuk menyingkirkan lelaki itu, dengan langkah yang cukup elegan tentu saja.
Suara tawa pelan membuat Jongin mengalihkan perhatian dari pasangan yang sedang berbahagia itu. Jongin menoleh ke arah Baekhyun yang duduk di dalam mobil di sebelahnya. "Kenapa kau tertawa?"
Bibir Baekhyun yang berwarna merah muda mencebik, "Karena tatapanmu itu, kau seolah-olah ingin membunuh laki-laki itu."
"Memang." Baekhyun mengkerutkan alisnya, "Jadi dia yang harus kuincar? Dia tampak jatuh cinta kepada Sehunmu itu, kau yakin dia bisa tergoda olehku?"
"Semua laki-laki gay akan tergoda olehmu kalau kau memutuskan merayu, Baekhyun. Karena itu aku meminta tolong kepadamu," gumam Jongin tenang. Baekhyun tertawa lagi, "Tapi kau tidak tergoda olehku, apakah ada sebab khusus atau memang kau sudah menjadi lurus sekarang?"
"Ada sebab khusus," Jongin menjawab cepat, langsung menutup diri, "Kau sudah setuju untuk membantuku dan tidak bertanya-tanya Byun Baekhyun."
"Oke, aku tidak akan mengganggumu dengan pertanyaan-pertanyaanku," Baekhyun tersenyum menggoda, "Apakah sebab khususmu itu adalah dia?" tunjuknya pada Sehun. "Baekhyun," nada suara Jongin penuh peringatan. Membuat Baekhyun mengangkat bahunya dan menyerah, tidak bertanya lagi. Lelaki ini memang tidak bisa diajak bercanda, batinnya dalam hati.
"Jadi kapan aku harus melaksanakan rencanamu itu?"
"Akhir pekan ini, aku akan mengadakan pesta akhir tahun, mengundang beberapa kenalan dan karyawanku di rumahku. Kau dekati Tao saat itu."
"Oke, Jongin. As You Wish."
.
.
.
"Pesta tahunan yang diadakan oleh Presdir Kim selalu meriah," Yuri tersenyum sambil duduk di depan meja Sehun. Dia sudah tampak kepayahan membawa perutnya yang semakin membesar, cuti hamilnya tinggal beberapa hari lagi, tetapi dia tampak bersemangat. "Makanannya benar-benar kelas tinggi, Presdir benar-benar tidak pelit kepada kami, para karyawannya. Kau tidak boleh melewatkannya."
Sehun tertawa dan memainkan pena di tangannya, "Apakah semua karyawan diundang?"
"Tentu saja. Dan sebagian besar tidak akan melewatkannya. Pesta akhir tahun di rumah Presdir Kim merupakan salah satu hal yang ditunggu-tunggu, kau akan datang kan Sehun?" Tao sudah mengajaknya untuk datang bersama. Sehun membatin dalam hati, tiba-tiba merasa hatinya hangat. Dia belum lama kenal dengan Tao, tetapi entah kenapa semua terasa pas. Mereka bisa mengobrol berjam-jam tanpa merasa bosan. Bahkan Sehun sadar bahwa hubungan mereka bisa berjalan lebih jauh.
"Pipimu memerah," Yuri tertawa, "Kau akan datang dengan Tao ya?" Pipi Sehun makin memerah, dia menatap Yuri hati-hati, "Apakah sejelas itu?" tanyanya berbisik.
"Apanya?"
"Tentang hubungan kami," Sehun sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Yuri, lalu berbisik pelan di telinga wanita itu, "Bahkan Presdir sempat menanyakannya kepadaku." Yuri mengernyitkan keningnya, "Presdir Kim menanyakannya kepadamu? Wah itu tidak pernah terjadi sebelumnya, setahuku beliau tidak pernah mempedulikan gosip percintaan karyawannya, kalau sampai Presdir bertanya, mungkin gosipnya sudah meledak sedemikian rupa," Yuri terkekeh, "Tapi tidak ada ruginya, kalian pasangan yang cocok, dan Tao akhirnya berlabuh juga." Sehun gantian mengernyitkan keningnya, "Akhirnya berlabuh juga? Apa maksudmu?"
"Ups," Yuri seolah merasa bersalah telah kelepasan bicara, "Aku tidak bermaksud membuka keburukan Tao. Tetapi sepertinya sejak bertemu denganmu dia sudah berubah. Dulu Tao terkenal playboy. Yah, dia suka bergonta-ganti kekasih dengan status yang tidak jelas. Tapi manusia kan bisa berubah dan kuharap kehadiranmu merubah Tao menjadi lebih baik."
Sehun merenung. Benarkah Tao dulunya playboy? Tetapi lelaki itu sangat sopan, sangat menghormatinya, sangat baik. Mungkin benar kata Yuri, Tao sudah berubah lebih baik. Sehun sangat berharap begitu.
.
.
.
Malam pesta itu, Tao menjemputnya meskipun agak terlambat. Lelaki itu tampak rapi dan elegan dengan kemeja dan jas santai warna biru tuanya.
"Maafkan aku datang terlambat," Tao menatap Sehun menyesal setelah dia menjalankan mobilnya, "Tadi ban mobilku kempes di jalan." Sehun menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "Tidak apa-apa, Tao."
Tao menatap Sehun lama dengan pandangan penuh arti, membuat Sehun bingung. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Tidak kenapa-kenapa," lelaki itu mengalihkan pandangannya dengan senyum dikulum, "Hanya saja kau sangat berbeda dengan laki-laki lain yang pernah dekat denganku. Mereka pasti akan merajuk dan marah jika aku telat menjemput, meski dengan alasan apapun. Tetapi kau berbeda, kau menerima alasanku dengan penuh pengertian."
Sehun hanya tersenyum menanggapi pernyataan Tao, tetapi kemudian Tao menggenggam sebelah tangannya dengan lembut. "Perasaanku kepadamu juga berbeda Sehun. Kuharap kau merasakan hal yang sama."
Apakah itu pernyataan cinta? Sehun bertanya-tanya dalam hati, menatap Tao, mencari jawaban. "Maukah kau menjadi kekasihku Sehun? Aku mencintaimu, dan aku berjanji akan menjadi kekasih yang baik."
Sehun menatap Tao dalam senyum, lalu terkekeh, "Jawabannya nanti saja ya setelah pesta," katanya geli. Tao membalas senyum Sehun, lalu ikut terkekeh, "Dasar, kau sengaja ya, mau menyiksaku sepanjang pesta, harap-harap cemas akan jawabanmu?"
Mereka lalu tertawa bersama.
.
.
.
Benar kata Yuri kemarin, Presdir Kim benar-benar tidak pelit kepada para karyawannya. Pesta yang diadakannya di rumahnya sangat elegan dengan menu makanan yang mewah dan luar biasa. Para pelayan berdiri hilir mudik menawarkan makanan kecil dan minuman di nampan. Sementara di meja prasmanan, makanan tampak tidak ada habis-habisnya. "Ramai sekali di sini," Tao menggenggam lengan Sehun dengan lembut, "Mungkin kita harus minggir supaya tidak tertabrak."
Mereka terlambat datang ke pesta itu. Karena Tao terlambat menjemputnya tadi, mereka ketinggalan acara pembuka, sambutan oleh Presdir Kim sebelum acara makan-makan dimulai. Sekarang semua tamu sudah membaur dan saling bercakap-cakap satu sama lain, menikmati hidangan.
Pesta ini diadakan di kebun di halaman belakang rumah Presdir Kim yang sangat indah. Rumah itu bergaya western dengan cat putih mendominasi keseluruhan bangunannya. Dan warna lain yang dominan adalah hijau. Warna itu memenuhi hamparan rumput luas yang tertata rapi, dengan lampu-lampu kuning yang temaram, menambah keeksotisan suasana pesta. Sementara itu, meja prasmanan dihidangkan di gazebo yang luas, di tepi kolam renang.
Pemilik pesta itu sendiri, Presdir Kim tampak tidak ada. Sehun membatin, entah kenapa dia mencari-cari sosok itu. Matanya sudah mencari kemana-mana, tetapi tetap saja Presdirnya itu tidak ada di antara kerumunan. Tanpa sadar Sehun mendesah.
"Aku akan mengambilkanmu minum," Tao bergumam lembut, "Tunggu di sini oke." Sehun menganggukkan kepalanya dan tersenyum, lalu membiarkan Tao menembus kerumunan orang yang lalu lalang, mencari minuman.
Sehun berusaha mencari-cari orang yang dikenalnya, tetapi tidak menemukannya, Yuri bilang dia tidak mungkin datang dengan kandungannya yang sudah sebesar itu, meskipun sebenarnya dia sangat ingin. Sehun berdiri di tempat itu selama beberapa saat, melayani beberapa teman yang menyapanya. Tetapi lama kemudian dia mengernyit karena Tao tak kunjung datang.
"Kau datang sendirian ke sini?" suara itu sangat familiar, membuat Sehun menoleh dengan terkejut sekaligus tegang. Dan benar saja. Presdir Kim yang berdiri di sana, dengan segelas minuman di tangannya, menatapnya dengan pandangan yang tidak terbaca.
"Eh tidak," Sehun menoleh ke belakang, mencari sosok Tao yang tak kunjung datang, "Saya datang bersama Tao."
"Lalu di mana dia?" Presdir Kim mengernyitkan keningnya, tampak tidak suka.
"Dia… Katanya dia sedang mengambilkan minuman."
"Oh," Jongin menatap ke arah pandang Sehun, "Dia bodoh membiarkan pasangannya sendirian di sini, bisa-bisa pasangannya dicuri orang," Matanya yang tajam melembut dan Sehun bisa melihatnya, ternyata Presdir Kim menyimpan kelembutan di dalam dirinya, dibalik sikap dingin yang selalu ditampilkannya. Entah mengapa hal itu membuat jantung Sehun berdebar tanpa sebab.
"Kau mau kutemani masuk dan mencari kekasihmu? Mungkin dia tersesat di dalam sana," Jongin mengedikkan bahunya ke arah bagian dalam rumah. "Eh, tidak… mungkin saya akan menunggu di sini."
"Kita akan mencarinya, lagipula aku butuh Tao, ada beberapa hal tentang pekerjaan yang ingin kubicarakan dengannya," dengan lembut Jongin menghela Sehun supaya melangkah bersamanya, memasuki pintu kaca besar yang menjadi pembatas antara taman kolam renang dengan bagian dalam rumah.
Beberapa orang tampak duduk di bagian dalam rumah, asyik bercakap-cakap di semua sudut. Sehun memandang ke sekeliling, juga ke bar yang menyediakan minuman, tetapi Tao tidak ada di sana.
"Mungkin dia ada di atas," Jongin mengedikkan bahunya ke arah tangga menuju lantai dua yang tampak temaram. "Apakah lantai atas juga dibuka untuk pesta?" Sehun menatap Presdir Kim ingin tahu. Lelaki itu tersenyum miring menanggapi.
"Tidak. Tapi di sana ada kamar mandi. Mungkin Tao memutuskan memakai kamar mandi di lantai atas. Ayo," sekali lagi Jongin menghela Sehun, dan mengajaknya menaiki tangga.
.
.
.
Sepertinya tidak ada tamu yang naik ke lantai dua, mungkin sudah menjadi peraturan umum bahwa lantai dua adalah area pribadi pemilik rumah dan bukan area pesta. Presdir Kim mungkin salah, Sehun melirik ragu kepada laki-laki yang sedang berjalan di sebelahnya, Tao tidak mungkin berani naik ke lantai dua rumah Presdir Kim tanpa izin.
"Kamar mandi di lantai dua ada di ujung lorong," Jongin menunjuk, "Biasanya ada beberapa tamu yang ingin tahu tersesat di sini," mereka terus berjalan menuju ke area kamar mandi di ujung lorong, sampai sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.
Suara itu sudah pasti adalah desahan seorang lelaki, sebuah desahan yang menyiratkan arti yang tak terbantahkan. Pipi Sehun memerah, itu suara lelaki yang sedang bercinta. Meskipun tidak berpengalaman setidaknya Sehun bisa membedakan suara desahan seperti itu. Diliriknya Presdir Kim yang berdiri di sebelahnya, apa yang akan dilakukan Presdir Kim mengetahui ada orang yang bercinta di salah satu kamar di rumahnya? Apakah yang sedang bercinta itu tamu di rumah ini?
Jongin hanya melirik ke arah Sehun dan mengangkat bahu sambil tersenyum miris. "Rupanya ada yang sedikit lupa diri di pestaku ini. Tunggu sebentar, aku akan mengingatkan mereka agar mencari kamar di motel terdekat dan tidak mencemari salah satu kamar tamuku."
Masih sambil tersenyum, Jongin membuka pintu kamar itu lebar-lebar. Sehun menatap dan langsung mundur selangkah dengan kaget. Pemandangan di depannya membuat jantungnya serasa mau lepas.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
.
Kimoy's Note
.
.
.
.
.
.
Thanks to :
Kim Sohyun; HilmaExotics; kjinftosh; ohhanniehunnie; exobabyyhun;
MinnieWW; ThatXX94; Rofa575; chikenbubbletea; rytyatriaa; KaiHunnieEXO; Rilakkuma8894;
exolweareone9400; ohxoho; mamasehun1214; Jongin's Grape;
sehunskai; Kimoh1412; Namekaihun; KaiHunyehet;Vitaminexo; Sekar Amalia; asdindas; Icha; alv;
MaknaEXO; jiraniatriana.
.
.
.
.
.
.
Test, test, Kimoy's here hahah! Okayyy, mengenai chapter kemarin saya bener-bener minta maaf karna banyak kesalahan
dalam editing :( terutama dalam pergantian adegan/? di situ saya lupa ngecek ulang makanya ngga ada jarak
antara satu adegan sama adegan lainnya, terus saya juga salah nulis nama tokoh,
harusnya Kyungsoo saya tulis Baekhyun lol. Untuk chapter ini saya udah berusaha edit seteliti mungkin dan ceritanya
saya panjangin /huraaay
And thanks a lot buat kalian yg udah review bahkan PM saya^^
Tapi maaf belum bisa saya bales sekarang mungkin nanti secepatnya :(
See you in next chapter guys^^
