Unforgiven Hero
.
.
.
.
.
.
Remake from "Unforgiven Hero" By Santhy Agatha
Cast : Jongin, Sehun, and others
Rate M
Warning for typos and lots of sexual content
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Chapter Four
.
.
.
.
.
.
Preview Chapter Three
"Kamar mandi di lantai dua ada di ujung lorong," Jongin menunjuk, "Biasanya ada beberapa tamu yang ingin tahu tersesat di sini," mereka terus berjalan menuju ke area kamar mandi di ujung lorong, sampai sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.
Suara itu sudah pasti adalah desahan seorang lelaki, sebuah desahan yang menyiratkan arti yang tak terbantahkan. Pipi Sehun memerah, itu suara lelaki yang sedang bercinta. Meskipun tidak berpengalaman setidaknya Sehun bisa membedakan suara desahan seperti itu. Diliriknya Presdir Kim yang berdiri di sebelahnya, apa yang akan dilakukan Presdir Kim mengetahui ada orang yang bercinta di salah satu kamar di rumahnya? Apakah yang sedang bercinta itu tamu di rumah ini?
Jongin hanya melirik ke arah Sehun dan mengangkat bahu sambil tersenyum miris. "Rupanya ada yang sedikit lupa diri di pestaku ini. Tunggu sebentar, aku akan mengingatkan mereka agar mencari kamar di motel terdekat dan tidak mencemari salah satu kamar tamuku."
Masih sambil tersenyum, Jongin membuka pintu kamar itu lebar-lebar. Sehun menatap dan langsung mundur selangkah dengan kaget. Pemandangan di depannya membuat jantungnya serasa mau lepas.
.
.
.
Yang ada di depan mata Sehun sungguh tak terduga. Sama sekali tidak terduga. Tangannya gemetar, menutup mulutnya yang mengeluarkan suara terkesiap karena kaget. Di depannya, tampak Tao, setengah duduk dengan kepala bersandar di kepala ranjang, rambut Tao acak-acakan, jasnya juga sudah terlepas entah dimana, kemejanya terbuka kancingnya, menampakkan kulit dadanya yang kecoklatan.
Dan… seorang lelaki cantik berwajah menggoda sedang duduk mengangkangi pinggangnya, lelaki itu setengah telanjang, dengan tubuhnya yang hanya mengenakan kemeja putih sementara bagian bawahnya tak terbaluti apapun. Dua insan itu sedang berciuman dengan begitu panas, pinggul si lelaki cantik menggesek-gesek selangkangan Tao dengan begitu bergairah. Mereka tampak lupa diri.
Jongin melirik sekilas ke arah Sehun yang pucat pasi, lalu dia bergumam sedikit keras. "Aku rasa kalian harus mencari hotel, dan meninggalkan rumahku."
Suara Jongin tenang, namun tak terduga bagi pasangan yang sebelumnya terlalu larut dalam nafsu. Tao yang tersadar pertama kali. Dia menoleh ke arah Jongin, lalu berseru kaget ketika melihat Sehun. Dan dengan gerakan reflek langsung mendorong lelaki yang mengangkanginya itu menjauh dari tubuhnya.
Ekspresi keduanya tampak berseberangan. Tao tampak pucat pasi dan penuh rasa bersalah, sedangkan lelaki yang satu lagi, meskipun tadi terdorong oleh Tao sampai hampir jatuh, tampak begitu tenang, berdiri dengan elegan sambil merapikan kemejanya yang hanya dapat menutupi seperempat pahanya, lalu tersenyum manis.
"Well, tak kusangka kita tertangkap basah di sini sayang," bisiknya sambil melempar lirikan mesra nan sensual kepada Tao, "Mungkin benar kata sang tuan rumah, kita harus pindah ke hotel."
"Diam kau Byun Baekhyun!" Tao menyusul berdiri sambil berusaha merapikan pakaiannya, dia lalu menatap Sehun dengan cemas, "Sehun, aku bisa menjelaskan, semua ini hanyalah salah paham."
Salah paham? Sehun mengigit bibirnya untuk menahan perasaan. Bagaimana mungkin ini salah paham, di depan matanya sendiri dia melihat Tao sedang bercumbu dengan begitu panasnya. Padahal beberapa jam sebelumnya lelaki itu menyatakan cinta dan memintanya sebagai kekasihnya. Bagaimana mungkin ini bisa dikatakan salah paham? Pemandangan di depannya jelas-jelas merupakan bukti bahwa Tao ternyata masih lelaki yang sama, playboy seperti yang dikatakan oleh Yuri. Mungkin dia memang sedang mengincar Sehun sebagai korbannya. Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang playboy selain mendapatkan seorang lelaki yang masih lugu dan mudah ditipu.
Dan bodohnya... Sehun mempercayai Tao, dia bahkan memiliki perasaan indah yang ditumbuhkannya dengan begitu bodoh kepada lelaki itu. Hatinya terasa sakit, sakit dan sesak yang membuatnya tak mampu berkata-kata. Dikepalkannya kedua tangannya, dia bahkan tak mampu menatap Tao, dipalingkannya kepalanya dengan mata yang terasa panas membasah.
"Sehun…" Tao mengerang melihat mata Sehun yang mulai berkaca-kaca, "Sungguh aku tidak melakukannya dengan sengaja, aku terlalu banyak minum dan Baekhyun menggodaku dan aku…"
"Aku menggodamu?" Baekhyun melipat lengannya dengan senyum simpul, "Kau yang menyeretku ke kamar terdekat karena tidak bisa menahan gairah."
"Diam Baekhyun!" sekali lagi Tao membentak lelaki bernama Baekhyun itu. Dia lalu berusaha mendekat ke arah Sehun, "Sehun, aku…"
"Menjauhlah dari Sehun." Jongin melangkah ke depan Sehun, menghalangi Tao, "Aku harap kalian segera meninggalkan tempat ini." Tao terpaku, menatap ke arah Sehun, menyadari bahwa lelaki itu bahkan tidak mau menatap ke arahnya. Dia menghembuskan nafas dan menatap Sehun penuh harap, "Aku harap kita bisa berbicara nanti," lelaki itu menyerah dan melangkah pergi meninggalkan kamar.
"Well aku rasa aku harus pergi juga," lelaki bernama Baekhyun itu tampak ceria, sama sekali tidak terpengaruh dan merasa malu karena terpergok bercumbu dengan seseorang di kamar orang lain pula. Baekhyun sekali lagi merapikan kemejanya dan memungut bawahannya yang berserak di lantai, memakainya di depan Jongin dan Sehun tanpa tahu malu, lalu merapikan rambutnya dengan genit.
Baekhyun melangkah melewati keduanya, tak lupa juga melemparkan senyum sensualnya pada Jongin, membuat Sehun tanpa sadar mengepalkan tangannya semakin erat. Dalam kilatan satu detik, yang tentu saja tidak dilihat oleh Sehun, Baekhyun mengedipkan matanya pada Jongin.
.
.
.
"Kau mau minum?"
Pesta sudah usai. Para tamu sudah pulang. Hanya Sehun yang masih duduk di dapur modern milik Jongin. Setelah kejadian tadi Jongin mengantarnya ke sana dan menyuruhnya duduk menenangkan diri, menyuruh pelayan menyediakan cokelat hangat untuknya, lalu meninggalkannya untuk menemui para tamunya, dan berjanji akan mengantarkannya pulang nanti.
Selama ditinggalkan sendirian Sehun terus merenungkan kejadian tadi berulang-ulang di benaknya. Dan sangat tidak disangkanya. Begitu bebaskah kehidupan Tao sehingga dia bisa bercumbu begitu saja dengan sembarang lelaki yang ditemuinya di pesta? Rasa sakit menusuk dada Sehun, membuatnya menghela nafas berkali-kali.
Setidaknya Sehun belum jatuh cinta terlalu dalam kepada Tao, setidaknya dia belum menumbuhkan perasaannya terlalu jauh…
Rupanya lama sekali Sehun berkutat dengan pikirannya, karena pesta pada akhirnya usai. Presdir Kim datang menemuinya, dan duduk bersamanya di dapur, melihat cangkir cokelat hangatnya yang hampir kosong dan menawarkan minuman lagi.
Sehun menggeleng menjawab pertanyaan Jongin. Tidak. Dia tidak ingin minum apapun. Dia hanya ingin pulang dan mungkin menangis sendirian di kamarnya.
"Saya hanya ingin pulang…" gumam Sehun akhirnya, melirik jam di dinding dapur yang sudah semakin malam. Jongin mengikuti arah lirikan Sehun dan tersenyum lembut, "Aku akan mengantarkanmu pulang, jangan cemas… Apakah kau baik-baik saja Sehun?" Pipi Sehun memerah.
Tidak. Dia tidak baik-baik saja. Dia patah hati dan merasa dikhianati, dan juga malu. Malu kepada Presdir Kim yang menatapnya dengan penuh perhatian saat ini. Malu mengingat percakapan mereka beberapa malam yang lalu tentang hubungannya dengan Tao. Presdir Kim pasti menertawakan kebodohan dan kepolosannya dalam hati karena dia begitu mudah ditipu.
"Tidak semua laki-laki seperti Tao," Jongin membalikkan badan, melangkah menuju bar yang ada di samping dapur. Dan menuang minuman, lalu meletakkan salah satu gelasnya di depan Sehun, "Ini minumlah."
"Ini apa?" Sehun mengernyit, menatap ke arah gelas minuman di depannya. Cairan itu berwarna bening dan keemasan. "Itu champagne. Rasanya manis dan tidak begitu keras. Mungkin bisa sedikit menenangkanmu."
Sehun menatap gelas itu dengan ragu. Menimbang-nimbang. Seumur hidupnya dia tidak pernah meminum minuman beralkohol dan tidak yakin akan reaksinya setelah meminum itu. Apakah dia akan mabuk dan menari-nari seperti orang gila nantinya?
Jongin mengamati Sehun yang tercenung sambil menatap gelasnya dan tersenyum. "Satu gelas tidak akan membuatmu mabuk. Kau bisa menyesapnya pelan-pelan. Kalau kau merasa tidak mampu, kau bisa berhenti tanpa menghabiskannya."
Sehun menghela napas panjang. Oke. Dia merasa layak meminum segelas champagne mahal setelah apa yang dialaminya tadi. Dengan cepat dia meneguknya. Rasa manis langsung menyebar di rongga mulutnya diikuti rasa hangat yang pekat. Dan kemudian ia terbatuk-batuk.
Jongin mengernyitkan alis melihat cara Sehun meminum champagne-nya lalu tertawa. "Aku bilang disesap sayang, jangan diteguk sampai habis, kau akan kehilangan aromanya kalau begitu," lelaki itu mendekati Sehun yang terbatuk-batuk lalu mengusap punggungnya dengan lembut, "Kau tidak apa-apa?"
Sehun menganggukkan kepalanya, tiba-tiba menyadari kedekatan Jongin yang terasa panas di belakangnya.
"Saya rasa, saya harus pulang sekarang," Sehun meletakkan gelasnya dan mencoba berdiri, dia agak terhuyung, sehingga Jongin harus memegang lengannya. "Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang. Ini sudah terlalu malam," dengan lembut Jongin menggandeng lengan Sehun dan membawanya keluar. Ketika melangkah, tiba-tiba Sehun terjatuh, membuat Jongin harus menangkapnya lagi. Kali ini setengah memeluknya begitu dekat.
Jongin menatap wajah Sehun yang tampak sangat menggoda saat ini, yang begitu dekat dengannya, bibir itu… Astaga, bibir itu begitu ranum dan lembut, pasti terasa manis ketika disesap, mengalahkan rasa champagne yang paling mahal sekalipun. Jongin lupa diri, dan kemudian, tanpa peringatan, ditariknya Sehun ke dalam pelukannya dan dikecupnya bibirnya lembut.
Sehun terkejut, luar biasa terkejut ketika lelaki ini, atasannya, tiba-tiba memeluknya dengan begitu erat dan mengecup bibirnya. Tetapi kecupan itu tidak dimaksudkan sebagai paksaan. Presdir Kim menciumnya dengan lembut, lelaki itu seolah memberi kesempatan bagi Sehun untuk menolak kalau dia tidak mau.
Dan Sehun, tidak punya tenaga untuk menolak. Aroma jantan itu, parfum bercampur harumnya anggur memenuhi seluruh inderanya, membuatnya tertarik tanpa daya. Dia tidak pernah sedekat ini dengan lelaki lain sebelumnya, sehingga rasa ingin tahu memenuhi dirinya. Mungkin ketika dia mendapatkan akal sehatnya nanti dia akan menyalahkan anggur yang diminumnya. Tetapi sekarang Sehun hanya ingin merasakan ciuman itu, merasakannya lebih jauh lagi.
Jongin memperdalam kecupannya menjadi lumatan-lumatan bergairah, bibirnya membuka dan melumat bibir manis Sehun, menjilatnya lembut lalu menyesapnya dengan penuh gairah, darah Jongin menggelegak, gairahnya yang begitu lama tidak tersalurkan tiba-tiba semakin naik, membuatnya mempererat pelukannya, dan memperdalam lumatannya. Ciuman itu yang semula hanya dilakukan untuk mencicipi, berubah menjadi kebutuhan untuk memiliki, merasakan keseluruhannya.
"Sehun," Jongin mengerang penuh gairah, suaranya dalam dan tersiksa, "Oh ya ampun, setiap saat aku selalu membayangkanmu. Membayangkan bisa menyentuhmu seperti ini, menyiksa diriku hingga seluruh tubuhku terasa sakit karena merindukanmu. Aku pikir aku pantas menerima itu, itu sebuah hukuman untukku… Tetapi sekarang, sekarang kau ada dalam pelukanku, dan aku tidak tahu harus bagaimana," lelaki itu berucap pendek-pendek dengan nafasnya yang tersengal, dengan bibir yang begitu dekat dengan bibir Sehun sehingga membagi panas nafasnya.
Sehun mendengarkan ucapan Jongin itu, tetapi pikirannya terlalu berkabut untuk mencernanya. Dia hanya menangkap bahwa Jongin membayangkannya. Membayangkannya? Benarkah?
Tetapi kemudian seluruh pertanyaan di benaknya lenyap ketika lelaki itu melumat bibirnya lagi. Kali ini tanpa batasan apapun, bibir lelaki itu panas, dan terbuka dan melumat keseluruhan bibirnya seolah ingin melahapnya.
Sehun tidak pernah menduga sama sekali, Presdir Kim yang begitu dingin dan seolah tidak berperasaan bisa menjadi lelaki yang begitu penuh gairah dalam berciuman. Ciuman itu membuatnya lemas, sehingga harus bergantung pada tubuh Presdirnya. Kedua lengan Sehun melingkari tubuhnya dan atasannya itu seolah tidak keberatan. Presdir Kim membungkukkan tubuhnya lalu setengah mengangkat tubuh Sehun, seolah ingin menghapus batasan tinggi badan di antara mereka, dan melumat Sehun dengan menggila, sepenuh gairahnya.
"Kau sangat menikmati ciumanku rupanya, sayang," bibir Jongin menggoda, menjilat lembut, lidahnya menelusup pelan sebelum kemudian mencium Sehun lagi dengan bergairah, "Aku juga."
Jongin menatap Sehun, lelaki itu sepertinya sudah takluk ke dalam cumbuannya. Apakah karena pengaruh anggur? Jongin tidak mau Sehun takluk kepadanya karena anggur, dengan lembut digodanya lagi Sehun hingga laki-laki itu mengerang, kebingungan dengan gairah aneh yang baru pertama dirasakannya.
"Sehun yang begitu polos dan suci… kau tidak tahu betapa inginnya aku menjadi orang pertama yang merusakmu…"
Bibir mereka masih bertautan dalam kecupan dan pagutan-pagutan yang panas. Kemudian jemari Jongin mulai menelusuri lengan Sehun, naik turun di sepanjang lengannya dengan panas dan penuh gairah.
Sehun merasakan sekujur tubuhnya panas. Entah karena pengaruh anggur yang diteguknya tadi, entah karena elusan Presdir Kim. Mungkin satu gelas anggur yang diteguknya langsung di saat perdananya mencicipi champagne terlalu berlebihan baginya. Kepalanya mulai berkunang-kunang, tetapi walaupun begitu seluruh inderanya masih hidup. Dipenuhi oleh jutaan sensasi aneh yang menyelimutinya.
Jongin sendiri masih sibuk melumat bibir Sehun, bibir yang dirindukannya sejak lama, bibir yang hanya bisa dibayangkannya di malam-malamnya yang sepi. Lelaki itu mulai lupa diri, diangkatnya tubuh Sehun yang setengah mabuk dan di bawanya ke kamarnya.
.
.
.
Dengan lembut tetapi bergairah dibaringkannya tubuh Sehun. Lelaki itu sudah pasrah dalam pelukannya, dan Jongin amat sangat tergoda untuk memilikinya, seketika itu juga. Tubuhnya menindih tubuh Sehun, jemarinya menyibakkan celana Sehun ke bawah, menelusuri pahanya dengan lembut, semakin ke atas, sampai kemudian menyentuh penisnya. Jemari Jongin memainkannya dengan lembut, tahu bahwa 'benda' itu tidak pernah tersentuh sebelumnya dan sangat sensitif.
Sehun mengejang merasakan sensasi aneh yang menyengat di pusatnya ketika jemari Jongin bermain di sana. Tempat yang tidak pernah tersentuh sebelumnya. Jongin begitu ahli, mengetahui titiknya yang paling sensitif, lalu menggerakkan jemarinya ke atas dan ke bawah di sana membuat Sehun merasakan kenikmatan aneh yang tidak pernah berani dia bayangkan sebelumnya.
Sementara itu Jongin merespon gerakan Sehun dengan bergairah, penisnya telah begitu mengeras, mendesak celananya. Ingin segera merasakan tubuh Sehun dan menenggelamkan diri di dalamnya tanpa pembatas apapun.
"Kau menginginkannya sayang? Jawab aku." Suara Jongin begitu parau penuh gairah. "Aku tidak ingin memaksamu, aku ingin kau menyerah karena kau mau." Penisnya yang mengeras menggantikan jemarinya, mendesak di sana, di penis Sehun yang kini telah ikut menegang.
Jongin menunggu, menunggu Sehun menjawab, dia membutuhkan persetujuan Sehun, entah dalam bentuk kata-kata, entah dalam geliatan respon tubuhnya yang menunjukkan bahwa lelaki itu setuju. Tetapi suasana berubah menjadi hening, Sehun bahkan tidak bergerak di bawah tindihannya.
"Sehun?" Jongin menundukkan kepalanya, wajahnya sangat dekat dengan wajah Sehun, napasnya masih memburu, menunjukkan gairahnya. Tetapi kemudian dia menyadari napas Sehun yang teratur.
Lelaki itu... tertidur...
Jongin menahan dirinya untuk tidak mengumpat. Tubuhnya yang sakit karena gairah tak tersalurkan mendorongnya untuk menumpahkannya dalam kata-kata. Tetapi Jongin berhasil menahan diri. Dia menghela napas dalam-dalam, sambil menggertakkan gigi karena penisnya tanpa sengaja menggesek tubuh Sehun. Jongin memundurkan tubuhnya dengan hati-hati hingga duduk di atas ranjang. Menatap Sehun yang sepertinya sudah tenggelam dalam tidur pulasnya.
Oh ya ampun, akhirnya dia bisa membawa Sehun dengan penuh gairah ke atas ranjangnya. Hal yang tidak pernah dilakukannya kepada laki-laki lain, dan Sehun bisa-bisanya tertidur?! Dengan pulas pula. Mungkin tadi tidak seharusnya dia membiarkan Sehun meminum anggurnya. Satu gelas anggur rupanya terlalu berlebihan untuk lelaki yang tidak berpengalaman seperti Sehun.
Jongin tersenyum ironis memikirkan semua kejadian tadi. Disentuhnya pipi Sehun dengan lembut. Tidak bisa menahan dirinya. Lelaki itu lalu mengecup bibir Sehun dengan hati-hati, kemudian dengan gerakan cekatan dan tak kalah hati-hatinya, dilepaskannya sisa pakaian Sehun yang masih melekat di tubuhnya. Pelan-pelan, hingga lelaki itu telanjang sepenuhnya.
Tubuh Sehun terasa begitu menggoda. Sama seperti mimpi-mimpi Jongin di malam sepinya ketika merindukan lelaki itu, bahkan pemandangan di depannya ini jauh lebih baik. Tubuh ini nyata, hangat, dan mengundang, seakan mengajaknya untuk membenamkan dirinya dalam kelembutannya.
"Maafkan aku sayang." Jongin menatap sejenak tubuh Sehun, lalu memalingkan muka. Nuraninya seakan menghantamnya karena dia akan membuat lelaki ini benar-benar mengalami kejutan buruk di pagi hari ketika dia terbangun nanti.
Sejenak Jongin ragu, lalu dia menghela napas panjang. Dia tidak boleh mundur. Ini adalah satu-satunya cara untuk membuat Sehun terikat dengannya. Dengan tenang dia lalu melepas kemejanya, kemudian celananya, dan yang terakhir, semuanya. Hingga dia berdiri telanjang bulat di tepi ranjang, tubuhnya begitu kokoh, berwarna perunggu keemasan. Warisan darah Spanyolnya membuat warna kulitnya begitu indah dipandang. Lalu Jongin naik ke atas ranjang, memeluk Sehun. Gesekan tubuh telanjang Sehun yang lembut, membuat penisnya mengeras lagi, keras dan siap.
Jongin menggertakkan gigi untuk menahan dirinya. Tidak. Belum. Dia tidak akan merenggut Sehun begitu saja, tidak di saat lelaki itu tidak siap dan tidak rela menyerahkan dirinya. Saat ini yang dia perlukan hanyalah tidur dan memeluk Sehun dalam kondisi telanjang bulat. Memastikan apa yang terjadi esok hari sesuai dengan rencananya.
.
.
.
Yang dirasakan Sehun ketika pagi hari membuka matanya adalah pening yang luar biasa. Kepalanya terasa berat dan seakan ada suara berdentam-dentam di telinganya. Cahaya redup Matahari yang menyelinap di balik gorden terasa begitu menyilaukan, menyakitkan mata dan membuatnya semakin pusing.
Sehun mengerang, lalu mencoba duduk sambil memegangi kepalanya yang pening, untuk kemudian merasakan hawa dingin menyergapnya... karena selimutnya melorot sampai ke pinggang. Sehun menunduk, hendak menaikkan selimutnya, hanya untuk menyadari bahwa dia telanjang bulat di balik selimutnya.
Tunggu dulu… Telanjang bulat?
Mata Sehun tiba-tiba tertuju kepada lengan kekar yang melingkarinya dengan posesif. Lengan itu melingkarinya tepat di perutnya yang telanjang. Dengan panik dia menoleh ke arah pemilik tangan itu dan menyadari bahwa itu milik seorang lelaki yang sekarang sedang tidur satu selimut dengannya. Dan menilik kulit kecoklatannya yang terpampang jelas di depan matanya, lelaki itu telanjang sama sepertinya!
Astaga, apa yang terjadi semalam? Sehun memutar ingatannya dengan cepat, tetapi apa yang dia ingat hanyalah percakapan samar sebelum minum anggur, dan ciuman itu… lalu dia tidak ingat apa-apa lagi. Apakah dia telah berbuat terlalu jauh dengan atasannya ini? Oh ya ampun!
Gerakan Sehun membuat Jongin terjaga dari tidurnya, bahkan cara bangunnya pun begitu elegan. Sehun memandang terpana untuk kemudian mengutuk dirinya karena bukannya panik, malah sempat-sempatnya mengagumi cara Presdir Kim terbangun.
Bulu mata gelap Presdir Kim yang tebal bergerak-gerak, untuk kemudian mata tajamnya terbuka, dan langsung menatap Sehun. Presdirnya ini rupanya jenis orang yang langsung terjaga ketika bangun tidur. Mereka bertatapan dalam keheningan. Lama.
Sampai kemudian ada kesadaran di mata Presdir Kim, yang membuat lelaki itu tersenyum simpul. "Selamat pagi." Gumamnya parau, "Kuharap tidurmu menyenangkan semalam." Nada sensual tersemat jelas di sana. Membuat Sehun semakin panik. Sapaan itu. Jelas-jelas ditujukan untuk kekasih yang habis bercinta semalaman. Jadi benarkah mereka berdua telah berbuat sesuatu yang lebih semalam?
Jongin bergerak duduk mengikuti Sehun. Selimut ikut turun sampai ke pinggangnya, sampai ke batas dimana penisnya yang telanjang hampir mengintip di sana. Penis lelaki itu mengalami ereksi. Sehun mengerang dalam hati. Astaga, kenapa dia langsung melirik ke sana? Tetapi bagaimanapun juga dia sangat ingin tahu. Sehun tahu bahwa penis lelaki akan menjadi keras ketika dia bergairah –tentu saja karena dia juga seorang lelaki. Tetapi dia tidak pernah melihat penis milik laki-laki lain selain miliknya sendiri. Dan melihat sesuatu yang menonjol dengan tegak dan tampak keras di balik selimut yang menutupi pinggang dan selangkangan Presdir Kim, membuat Sehun risih sekaligus malu karena tau laki-laki itu sedang ereksi.
Jongin mengikuti arah pandangan Sehun, dan menyadari bahwa ketegangan di selangkangannya yang membuat Sehun tampak segan dan waspada. Dia lalu mengangkat bahu dan tersenyum meminta maaf. "Maaf, begitulah yang sering terjadi kepadaku ketika bangun di pagi hari, dia keras dengan sendirinya." Dengan gerakan menggoda Jongin menarik selimutnya menuruni pinggangnya seolah-olah akan menunjukkan penisnya yang tersembunyi di sana.
"Jangan!" Sehun memekik, menutup kedua matanya dengan jemarinya, pipinya terasa memanas. Dan ketika mendengar Jongin terkekeh dia langsung membuka jemarinya dan menatap lelaki itu malu.
"Kau begitu berbeda di pagi hari. Begitu pemalu." Jongin dengan lembut mendekatkan bibirnya ke dahi Sehun dan mengecupnya, "Kau pasti pusing. Mandilah, akan kubuatkan kopi untukmu."
Lelaki itu lalu turun dari ranjang, telanjang bulat, dan seolah-olah tidak malu memamerkan tubuh telanjangnya di depan Sehun. Kemudian melangkah pergi keluar kamar, meninggalkan Sehun sendirian.
.
.
.
Sehun membiarkan seluruh tubuhnya terguyur oleh shower air panas di kamar mandi. Merasa bingung. Kepalanya masih berdenyut-denyut , tetapi setidaknya pikirannya sudah mulai fokus. Dia telanjang bulat bersama Presdir Kim, di atas ranjang di kamar pribadi lelaki itu. Apakah mereka sudah bercinta?
Kalau begitu, kenapa Sehun tidak merasakan perbedaan? Sehun tidak pernah bercinta dengan lelaki lain sebelumnya, jadi dia tidak tahu. Tetapi dari apa yang dia dengar, saat pertama adalah saat yang menyakitkan. Dan sakit itu akan terasa hingga beberapa saat. Tetapi saat ini dia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada perbedaan di tubuhnya, tidak ada rasa nyeri yang katanya akan terasa di bokongnya. Sehun ragu. Apakah semalam dia benar-benar tidur dengan Presdir Kim?
Batinnya berharap bahwa kejadian itu tidak benar-benar terjadi, mungkin saja mereka hanya tertidur bersama dan tidak berbuat terlalu jauh bukan? Tetapi… sikap Presdir Kim tadi begitu mesra dan sensual, menyiratkan kalau mereka sudah menjadi sepasang kekasih… Air mata menetes di mata Sehun, air mata bingung dan frustrasi. Apa yang harus dia lakukan kalau dia benar-benar telah menyerahkan keperjakaannya kepada Presdir Kim? Apa yang harus dia lakukan?
Sehun mengusap air matanya dengan tangan gemetar. Dia akan menanyakannya langsung kepada Presdir Kim, mungkin saja – tidak seperti dirinya – lelaki itu ingat apa yang terjadi semalam.
.
.
.
"Aku baru tahu ada orang yang bisa mabuk hanya dengan meminum segelas anggur." Lelaki itu sudah tampil elegan dan tampan, dengan rambut basahnya yang disisir ke belakang. Mungkin dia mandi di kamar mandi lain. Dia menyodorkan secangkir kopi yang mengepul panas ke depan Sehun, "Minumlah mungkin ini akan menghilangkan rasa pusingmu."
Sehun, yang memakai kembali pakaiannya semalam meraih cangkir kopi itu dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. Suasana sangat canggung baginya meskipun Presdir Kim tampak bersikap santai kepadanya.
Sehun merasa sangat murahan saat ini, memakai kembali pakaian yang dipakainya semalam. Seperti seseorang dengan gaya hidup bebas yang tidak keberatan bercinta tanpa ikatan hanya untuk kesenangan semalam.
"Apakah… semalam kita melakukan itu?" Suara Sehun lirih dan ragu, membuat Jongin yang sedang menuangkan kopi untuk dirinya sendiri menghentikan gerakannya dan menoleh, menatap ke arah Sehun.
"Mungkin. Aku tidak ingat." Jongin sejenak merasa kasihan kepada Sehun, lelaki itu begitu pucat dan seperti Jongin duga merasa tidak suka dengan kejutan di pagi hari ini. "Tapi kemungkinan besar kita melakukannya." Bagaimanapun juga Jongin tidak bisa mundur, dia sudah melangkah sejauh ini untuk memiliki Sehun.
"Tetapi saya tidak berdarah, dan tidak ada rasa sakit…" Sehun menelan ludahnya ketika suaranya hilang di tenggorokan, "Mungkin saja kita tidak melakukannya."
"Tolong jangan gunakan 'saya' dan 'anda' ketika kita bercakap-cakap. Mengingat apa yang mungkin terjadi semalam, penggunaan kata itu sudah terlalu formal untuk kita berdua." Jongin membawa cangkir kopinya dan meletakkannya di meja di depan Sehun. Dia lalu menyusul duduk di hadapan Sehun, menatap lelaki itu dengan mata elangnya yang tajam.
"Aku tidak pernah bercinta dengan perjaka sebelumnya Sehun, jadi aku tidak bisa memberikan penjelasan kepadamu." Jongin tidak bohong mengenai tidak pernah bercinta dengan virgin sebelumnya, dia selalu memilih kekasih yang sudah berpengalaman, yang bisa memuaskan hasratnya tanpa perasaan dan tanpa ikatan. "Tetapi dari yang aku tahu, tidak semua lelaki merasakan rasa sakit dan berdarah di saat pertamanya."
"Kalau begitu? Apakah kita sudah bercinta?" wajah Sehun tampak pucat pasi. Jongin mengangkat bahunya, "Aku tidak bisa memastikannya untukmu sayang, sepertinya aku terlalu mabuk semalam dan tidak ingat semuanya, sama sepertimu." Itu bohong, Jongin bahkan ingat semuanya, setiap detiknya. "Kurasa kita harus membicarakan hubungan kita ke depannya."
"Hubungan kita ke depannya?"
"Ya. Mengingat kemungkinan aku sudah menodaimu, yang pasti akan menjadi permasalahan yang sangat besar bagi lelaki baik-baik sepertimu. Aku akan bertanggung jawab. Kita bisa membicarakan tentang pernikahan."
"Pernikahan?!" Sehun merasakan dirinya bagai burung beo, hanya bisa menirukan kalimat-kalimat Presdir Kim. Apakah atasannya ini sedang bercanda? Membicarakan pernikahan dengan begitu mudahnya? Pernikahan adalah hal yang penting dan sakral bagi Sehun. Dan itu membuatnya langsung menolak mentah-mentah tawaran Presdirnya itu, "Aku tidak bisa menikah denganmu begitu saja….."
"Kau mungkin saja sudah mengandung anakku." Gumam Jongin tenang, "Tidak terpikirkan olehmu kan Sehun?"
Sehun tertegun. Mengandung anak Presdir Kim? Tetapi bukankah itu terjadi kalau mereka benar-benar berhubungan intim semalam? Sedangkan sekarang mereka sama-sama tidak bisa memastikan apakah hal itu benar-benar terjadi atau tidak.
"Aku akan menemui dokter."
"Dan mengatakan apa?" Jongin tersenyum sinis, "Bahwa kau tidak ingat sudah bercinta atau belum lalu ingin mengecek keperjakaanmu?" Sehun menelan ludahnya, tentu saja dia tidak bisa melakukan itu, dia akan mati karena malu sebelum melakukannya. Denyutan di kepalanya semakin terasa, antara bingung dan frustrasi, membuatnya meringis kesakitan. Jongin melihatnya dan mendorong cangkir kopi Sehun mendekat.
"Minum kopimu. Percayalah itu akan membuatmu sedikit lebih baik." gumamnya lembut sembari menyesap kopinya sendiri.
Sehun menurutinya. Menyesap kopi itu dan merasakan rasa pahit yang kental memenuhi rongga mulutnya, mengembalikan kesadarannya. Mereka duduk dalam keheningan, saling berhadapan di meja makan kecil di dapur itu, sampai kemudian Jongin menghela napas dan memulai pembicaraan.
"Aku tidak akan memaksamu Sehun, yang perlu kau tahu aku bersedia bertanggung jawab. Kau perlu tahu aku tidak pernah merusak laki-laki yang lugu sebelumnya, dan kemungkinan kau sudah mengandung anakku…" Lelaki itu menatap Sehun, mencoba berkompromi karena kasihan melihat wajah Sehun yang semakin pucat saja, "Mungkin kita bisa bertunangan dulu sampai ada kepastian apa tindakan kita selanjutnya."
Sehun hanya terdiam, masih bingung dengan apa yang harus dilakukannya. "Pertunangan tidak akan merugikanmu. Kita tidak akan mengumumkannya. Hanya antara aku dan kau dan mungkin beberapa orang terdekat kita. Kita bisa membatalkannya kapan saja kalau ternyata tidak ada kesepakatan di antara kita." Jongin mengutuk dirinya sendiri karena menawarkan pertunangan yang longgar. Seharusnya dia langsung menikahi Sehun, memastikan bahwa laki-laki itu tidak akan bisa lari darinya. Tetapi Jongin tidak bisa tergesa-gesa. Karena ketergesa-gesaan hanya akan membuat Sehun semakin menjaga jarak kepadanya. Dia harus membuat Sehun merasa nyaman dengannya, sebelum kemudian, lelaki itu akan menyerahkan diri kepadanya secara sukarela.
Sehun terdiam meresapi kata-kata Presdir Kim. Lelaki ini pasti sangat jago bernegosiasi, karena dia bisa merangkai kata-katanya dengan begitu membujuk. Sehun merasa dirinya terbujuk. Di mana lagi dia bisa menemukan seorang lelaki yang begitu bertanggung jawab kepadanya, mengingat kalau mereka memang melakukan hubungan intim itu, tidak ada cinta di dalamnya.
"Aku akan memikirkannya."
"Kau harus menerimanya Sehun." Jongin setengah memaksa, tidak mau memberi kesempatan Sehun berpaling lalu lepas darinya, "Kau akan bertunangan denganku dan kita akan membicarakan pernikahan." Dengan tegas lelaki itu berdiri dan menatap Sehun dengan tatapan tak terbantahkan, "Tunggu sebentar. Aku akan kembali." Gumamnya tegas, lalu meninggalkan Sehun
Tak lama kemudian, Jongin kembali. Membawa sebuah kotak yang jika Sehun tak salah duga berisi sebuah cincin. Wajah Sehun langsung memucat begitu memahami keseriusan dari perkataan Jongin tadi.
"Tunggu sebentar Presdir Kim…"
"Jangan menolak Sehun." Jongin tersenyum, meski dalam hatinya ia meringis mendengar panggilan Sehun kepadanya. Nanti akan tiba saatnya ketika Sehun akan memanggil namanya yang sesungguhnya, sekarang dia harus cukup puas dipanggil dengan sebutan 'Presdir Kim' oleh Sehun. "Aku ingin memakaikan cincin ini di jarimu, tanda kesepakatan pertunangan pribadi kita."
"Tapi… aku tidak bisa melakukannya begitu saja. Oh astaga, kau juga tidak bisa melakukannya begitu saja."
"Aku dan kau bisa." Suara Jongin begitu tenang meskipun jantungnya berdegup kencang ketika meraih jemari Sehun, dan memakaikan cincin berlian mungil yang indah itu di jarinya, " Ini adalah cincin warisan dari keluarga ayahku, yang harusnya diberikan kepada tunanganku. Lihat, pas sekali di jemarimu. Nah, sekarang kita sudah bertunangan."
Sehun menatap jemarinya yang sudah dilingkari cincin itu dan merasakan serangan panik melandanya, membuatnya kebingungan.
.
.
.
Ketika Jongin mengantarkannya pulang, Sehun meminta lelaki itu menurunkannya di ujung jalan. Dia tidak siap menghadapi pertanyaan Bibi Lee nanti ketika melihat dia diantarkan lelaki, atasannya pula, dalam keadaan dia tidak pulang semalaman. Sehun tidak pernah menginap di rumah siapapun sebelumnya, apalagi menginap tanpa pamit. Bibi Lee pasti menunggunya dengan panik dan mencemaskannya semalaman. Pemikiran itu membuatnya merasa bersalah. Bagaimana dia akan menjelaskan kejadian ini kepada Bibi Lee? Apakah dia harus memberikan kebohongan demi kebohongan lagi?
Mobil Jongin berhenti di ujung jalan, dia menatap Sehun lembut, "Kau benar-benar tidak ingin diantar sampai ke rumah?" Sehun langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak, terima kasih. Aku akan mencoba menjelaskannya sendiri kepada ibu asramaku."
"Kau tinggal di asrama?" Jongin tentu saja bersandiwara, dia hanya harus menanyakan itu, kalau tidak akan terlihat aneh bagi Sehun, "Di mana keluargamu?" Sejenak suasana hening. Keheningan yang pahit bagi Sehun, tetapi meresap ke dalam benak Jongin, membuatnya dipenuhi rasa bersalah.
"Tidak ada. Aku sebatang kara di dunia ini." Sehun menjawab pelan, lalu membuka pintu mobil, "Terima kasih sudah mengantarkanku pulang." gumamnya sebelum menutup pintu dan melangkah pergi. Jongin masih menatap Sehun yang melangkah menjauh sampai menghilang di tikungan, sebelum kemudian tersadar dan menekan sebuah nomor di ponselnya.
Suara Bibi Lee yang cemas langsung terdengar di seberang sana, "Jongin, syukurlah. Sehun tidak pulang semalaman, aku tidak bisa menghubungi ponselnya, dan ponselmu juga tidak diangkat… "
"Bibi... Sehun bersamaku semalam."
Hening. Lalu suara di seberang sana menyahut hati-hati. "Apakah kau melakukan sesuatu di luar yang seharusnya?" Jongin menghela napas, "Tidak bibi, percayalah. Aku tidak merusak Sehun kalau itu yang bibi maksud. Aku hanya membuat Sehun percaya bahwa kami sudah melakukannya."
"Oh…" Bibi Lee meghela napas panjang di seberang sana, "Aku mengerti."
.
.
.
Syukurlah Bibi Lee bisa mengerti penjelasan Sehun, meskipun dengan terbata-bata dia berbohong bahwa dia menginap di rumah teman kantornya semalam. Sehun tidak terbiasa berbohong sebelumnya sehingga kebohongannya pasti terlihat jelas di matanya yang panik. Tetapi rupanya Bibi Lee tidak menyadarinya, wanita itu rupanya sudah cukup senang karena Sehun sudah pulang dengan selamat.
Sehun melangkah masuk ke kamarnya dan melirik ke arah jam tangannya. Hari ini hari minggu dan sudah pukul tiga sore. Perjalanan dari rumah Presdir Kim ke asramanya cukup jauh dan harus menembus kemacetan. Biasanya di hari minggu Sehun akan menemani Bibi Lee berbelanja untuk keperluan makan malam anak-anak asrama. Tetapi dengan berat hati dia tidak ikut hari ini dan membiarkan Bibi Lee ditemani oleh anak asrama yang lain.
Sehun membaringkan tubuhnya di ranjang dengan mata nyalang menatap langit-langit. Dia telah berganti pakaian dengan pakaian rumahan, jas yang semalam dikenakannya saat pesta tersampir di punggung kursi seolah-olah menuduhnya.
Bagaimana mungkin semua bisa berubah secepat ini? Semalam bahkan Sehun masih yakin bahwa dia dan Tao akan menjadi sepasang kekasih. Sehun berencana menjawab 'ya' kepada Tao seusai pesta. Tetapi kenyataan kemudian berkata lain. Tao ternyata lelaki yang tidak bisa menahan nafsu dengan pergaulan yang begitu bebas, yang tidak bisa diterima Sehun.
Tetapi dia sendiri juga melakukannya bersama Presdir Kim –meskipun dia belum yakin, dan mereka dalam kondisi mabuk –tetap saja itu tidak bisa dibenarkan. Sehun merasa mengkhianati semua norma yang selama ini selalu dipegangnya dengan teguh. Tanpa sadar air matanya menetes lagi, air mata kebingungan, dan tak tahu harus mengungkapkannya kepada siapa...
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
.
Kimoy's Note
.
.
.
.
.
.
Thanks to :
kjinftosh; Kim Sohyun; MaknaEXO; Rilakkuma8894; Ilysmkji;
HilmaExotics; chikenbubbletea; exolweareone9400; sehunskai; ;
ohxoho; Baby Hanna; tinkaibell; KaiHunyehet;
rytyatriaa; Sekar Amalia; Icha; jjonghun; Lovrkaihun; Kimoh1412;
YunYuliHun; KaiHunnieEXO; jiraniatriana;
Gyeoul; zetx4; RiRi639
.
.
.
.
.
.
Berhubung saya lagi sibuk buat ujian makanya update ff ini mungkin bakal agak telat nantinya :( belum lagi tugas dari guru numpuk -_-
Padahal saya sendiri udah bikin ff ini sampe chapter sembilan :( tapi kesempatan updatenya itu lho :(
Anyway buat yg mau ngobrol sama saya untuk saat ini kalian tinggal PM saya aja yaa ^^
See you in next chapter everyone!
