Unforgiven Hero
.
.
.
.
.
.
Remake from "Unforgiven Hero" By Santhy Agatha
Cast : Jongin, Sehun, and others
Rate M
Warning for typos and lots of sexual content
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Chapter Five
.
.
.
.
.
.
Preview Chapter Four
Sehun membaringkan tubuhnya di ranjang dengan mata nyalang menatap langit-langit. Dia telah berganti pakaian dengan pakaian rumahan, jas yang semalam dikenakannya saat pesta tersampir di punggung kursi seolah-olah menuduhnya.
Bagaimana mungkin semua bisa berubah secepat ini? Semalam bahkan Sehun masih yakin bahwa dia dan Tao akan menjadi sepasang kekasih. Sehun berencana menjawab 'ya' kepada Tao seusai pesta. Tetapi kenyataan kemudian berkata lain. Tao ternyata lelaki yang tidak bisa menahan nafsu dengan pergaulan yang begitu bebas, yang tidak bisa diterima Sehun.
Tetapi dia sendiri juga melakukannya bersama Presdir Kim –meskipun dia belum yakin, dan mereka dalam kondisi mabuk –tetap saja itu tidak bisa dibenarkan. Sehun merasa mengkhianati semua norma yang selama ini selalu dipegangnya dengan teguh. Tanpa sadar air matanya menetes lagi, air mata kebingungan, dan tak tahu harus mengungkapkannya kepada siapa...
.
.
.
Ponselnya berdering terus menerus, membuatnya terbangun. Sehun rupanya sudah tertidur pulas tanpa sadar ketika menangis di kamarnya tadi. Dengan mata perih dia melihat ke arah ponselnya yang masih berkedip dengan nada dering yang berbunyi makin nyaring, seolah tidak mau menyerah sebelum Sehun mengangkatnya.
Sehun menggapai dan meraih ponsel itu. Nama 'Tao' tertera di sana. Seketika membuat jantungnya berdenyut, sakit. Dipegangnya ponsel itu tanpa niat mengangkatnya. Lama HP itu berdering seolah Tao tidak mau menyerah di seberang sana. Sampai kemudian deringannya mati, membuat Sehun menghela napasnya lega.
Tetapi kemudian ponselnya berbunyi pelan, sebagai tanda sebuah pesan masuk. Sehun mengintipnya. Dari Tao. Dibacanya pesannya.
– Aku akan tiba di Asrama sebentar lagi. Kita harus bicara langsung – Tao
Sehun mendesah, dia sungguh-sungguh tidak siap bertemu Tao sekarang ini. Tetapi lelaki itu sungguh memaksa, dan Sehun tau Tao sangat gigih, lelaki itu tidak akan menyerah sebelum Sehun menemuinya.
.
.
.
Tao benar-benar datang sore itu, tampak sangat tampan dengan sweater hijau tuanya dan celana hitam yang membungkus ketat kaki panjangnya. Tetapi Sehun tidak bisa merasa tertarik lagi. Bayangan Tao bercumbu dengan penuh gairah dengan lelaki itu membuatnya merasa mual. Karena itulah dia berdiri agak jauh dari Tao di teras asrama, menatap Tao dengan dingin, "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." gumamnya pelan, berusaha tenang.
Tao di sisi lain menatap Sehun dengan pandangan penuh penyesalan. "Aku minta maaf Sehun. Aku tahu mungkin kau merasa jijik dan muak kepadaku. Di awal malam aku memintamu menjadi kekasihku dan mengatakan mencintaimu, tetapi kemudian kau menemukanku sedang berbuat mesum dengan laki-laki lain." Tao mengacak rambutnya dengan frustasi, "Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku, aku juga jijik dan muak kepada diriku sendiri."
Sehun hanya diam. Tidak bergeming, bahkan melihat Tao tampak begitu menyesal dan frustasi tidak membuat rasa ibanya muncul, entah kenapa. Dia seperti sudah mati rasa kepada lelaki itu. Perasaan berbunga-bunga yang kerap kali dirasakannya dulu, kini hilang entah kemana.
"Aku ingin kau mempertimbangkanku kembali, kemarin aku khilaf dan aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Byun Baekhyun, dia memang lelaki murahan yang suka merayu laki-laki manapun yang dia mau. Entah kenapa malam itu aku menjadi targetnya, aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa menolak, mungkin karena aku sedikit mabuk. Mungkin juga karena hal lainnya, entahlah Sehun, yang pasti aku tidak pernah sengaja berniat mengkhianatimu. Aku mencintaimu Sehun. Kuharap kau mengerti bahwa itu hanya kekhilafan dan aku tidak akan melakukannya lagi."
Bagaimana dia bisa yakin bahwa Tao tidak akan melakukannya lagi? Beberapa saat kemudian lelaki itu mengatakan mencintainya, tetapi beberapa saat yang lain dia mencumbu laki-laki lain. Sehun tidak bisa menerima Tao lagi, dengan alasan apapun. Perasaan apapun yang pernah ada di dalam hatinya kepada Tao sekarang sudah mati.
"Maafkan aku Tao." Sehun menatap Tao dengan sedih, "Aku sungguh tidak bisa."
"Bahkan kalau aku berlutut di kakimu dan memohon satu kesempatan lagi?" Tao menatap Sehun penuh harap. "Jangan lakukan, itu tidak akan berhasil…" Sehun menghela napas panjang, "Perasaanku sudah mati." Tao menatap Sehun dengan tajam, "Apakah karena Presdir Kim?" Sehun terperanjat, tak menduga akan menerima pertanyaan seperti itu dari Tao, "Apa maksudmu?"
"Presdir Kim." Suara Tao menjadi tajam. "Aku kemari semalam, dan menungguimu sampai pagi di mobil, di depan asrama, tetapi kau tidak pulang. Apakah kau bermalam dengannya Sehun? Apakah dia berhasil merayumu dan membuatmu tidak bisa menerimaku lagi?"
"Kau bicara apa Tao?"
"Aku tahu ada yang aneh dari ini semua. Baekhyun adalah sahabat Presdir Kim, dia sebelumnya tidak pernah melirikku, meski dia terkenal dengan reputasinya mempermainkan laki-laki, tetapi tiba-tiba dia merayuku dengan panasnya di pesta. Dan kebetulan juga kau dan Presdir Kim yang menemukan kami. Lalu kau tiba-tiba bermalam dengan dia juga." Tao tiba-tiba mendekat, lalu mencengkeram tangan Sehun dan membawanya ke depan wajahnya, "Dan kau mengenakan cincin ini! Apakah ini dari Presdir Kim, Sehun?! Benarkah Sehun?!"
'Lepaskan Tao! Sakit!" Sehun meringis, berusaha melepaskan cengkeraman Tao di tangannya, Cengkeraman itu begitu kuat sehingga membuatnya nyeri. Tetapi Tao rupanya terlalu terbawa emosinya…
"Lepaskan dia." Suara yang tegas dan berwibawa itu membuat Tao tersadar dan melepaskan tangan Sehun. Mereka menoleh bersamaan dan mendapati Bibi Lee berdiri di sana, wanita itu rupanya sudah pulang dari berbelanja.
"Saya harap anda bersikap sopan ketika bertamu di asrama ini. Kalau tidak anda tidak diterima di sini." Bibi Lee melewati Tao yang masih tertegun, lalu menghela tubuh Sehun ke pintu, "Ayo masuk Sehun." Bibi Lee membawa Sehun masuk dan menutup pintunya dari dalam, meninggalkan Tao sendirian di luar. Lelaki itu masih berdiri di sana beberapa saat, lalu menyerah dan melangkah pergi. Sejenak kemudian terdengar suara mobilnya pergi meninggalkan halaman asrama, membuat Sehun menghela napasnya.
"Kau tidak apa-apa Sehun?" suara Bibi Lee terdengar di belakangnya. Sehun bahkan hampir lupa kalau sang ibu asrama masih berdiri di belakangnya.
"Eh… aku tidak apa-apa bu."
"Syukurlah aku datang pada saat yang tepat, tidak kusangka Tao yang tampaknya baik bisa berlaku kasar kepadamu." Bibi Lee menatapnya ragu, "Kalau ada yang perlu kau ceritakan agar hatimu lebih lega."
Sehun menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa bu, aku hanya ingin menenangkan diri." Bibi Lee menganggukkan kepalanya dan tersenyum penuh pengertian, lalu melangkah meninggalkan Sehun sendiri.
Sehun berdiri diam dan memegang tangannya yang sakit, perbuatan kasar Tao tadi telah membuat kulitnya sedikit memar. Sehun menggosoknya untuk menghilangkan rasa nyerinya. Pandangannya tersapu kepada cincin berlian indah di jari manisnya, yang tadi dipasangkan Presdir Kim dengan mantap di sana.
Tao mungkin terlalu terbawa emosi sehingga menghubungkan semuanya dalam pikiran negatifnya dan bahkan mengkambinghitamkan Presdir Kim sebagai dalang atas semuanya. Sungguh pemikiran yang bodoh. Bagaimana mungkin Presdir Kim yang menyuruh Baekhyun merayu Tao? Tidak ada untungnya sama sekali untuk Presdir Kim. Lagipula, jika apa yang diduga Tao itu benar, untuk apa Presdir Kim menyuruh Baekhyun merayu Tao? Sehun menatap ke halaman dengan cemas… Apa yang harus dia lakukan sekarang?
.
.
.
Presdir Kim menatap Sehun yang berdiri di depannya dengan mantap. Baru beberapa menit yang lalu Sehun melangkah masuk ke ruangannya, melepas cincin itu dari jemarinya, dan meletakkannya di meja, di depannya.
"Aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini, Presdir."
Jongin menatap Sehun dalam-dalam. Ada ketegasan yang dalam di balik sikap rapuh Sehun. Ketegasan yang sama yang dirasakan Jongin bertahun lalu ketika lelaki itu mengusirnya dengan kasar dari rumahnya, mengetuk nuraninya sampai terasa sakit. Dia tidak boleh gegabah menghadapi Sehun, kalau dia gegabah, laki-laki itu akan lari.
"Aku pikir kita kemarin sudah mencapai kesepakatan, Sehun..." gumam Jongin tenang. Menolak untuk menatap cincin yang diletakkan Sehun di depannya, dan memundurkan tubuhnya, bersandar di kursinya.
"Kemarin aku masih bingung." Sehun memeluk dirinya sendiri, seakan berusaha melindungi dirinya. "Aku sudah memikirkannya semalaman dan kupikir semua ini adalah kesalahan. Aku tidak bisa menerima pertunangan ini karena sebuah kecelakaan semalam. Tidak. Tidak bisa."
"Kenapa kau tidak bisa?"
"Kenapa pula kau bisa?" Sehun setengah menjerit, setengah frustasi dengan ketenangan datar yang ditampakkan Presdirnya ini... Apakah bagi lelaki itu, masalah ini serupa dengan masalah bisnis yang harus diselesaikan dengan sikap datar dan tanpa perasaan? "Ini pertunangan yang akan mengarah kepada pernikahan. Pernikahan adalah hal yang sakral dan serius, tidak bisa dilakukan begitu saja, mungkin kau bisa melakukannya, tetapi aku tidak."
"Jadi kau pikir aku tidak serius dalam mengajukan pertunangan dan pernikahan ini." Dengan elegan Jongin berdiri, mengitari meja dan bersandar di sana, "Aku sungguh serius, dan aku bertanggungjawab atas perbuatan yang mungkin kulakukan padamu malam itu. Baru kali ini mungkin aku menemukan seseorang sepertimu yang menolak lelaki yang ingin bertanggungjawab kepadanya."
"Tetapi kita tidak saling mencintai."
"Pernikahan yang didasarkan oleh cinta yang terlalu menggebu-gebu biasanya adalah pernikahan yang paling cepat berakhir." Jongin tersenyum dingin, "Percayalah, aku cukup berpengalaman dengan teman-temanku. Mereka menikah karena cinta, karena tergila-gila satu sama lain. Seolah tidak bisa dipisahkan. Tetapi beberapa saat kemudian, ketika cinta itu pudar, mereka tidak punya apa-apa lagi." Mata Jongin semakin menggelap. "Pernikahan yang ideal adalah pernikahan yang dilakukan atas dasar saling pengertian, kesepakatan, saling menghormati dan… ketertarikan seksual yang dalam."
"Apa?"
"Kurasa kau sudah mendengar kalimat terakhirku tadi Sehun." Senyum Jongin berubah dalam dan sensual, "Mengenai ketertarikan sensual aku tidak bisa membantahnya." Lelaki itu menyingkap jasnya, dan menunjukkan penisnya yang menegang di balik celananya, "Ini selalu bergairah setiap aku bersamamu."
"Kau sungguh menjijikkan!" Sehun berteriak frustasi, frustasi karena sikap Presdir Kim telah membangkitkan sesuatu dalam dirinya, gelenyar panas yang mengalir pelan tapi pasti. Dia memundurkan langkahnya dan berusaha pergi dari ruangan itu secepat mungkin. Tetapi Jongin bergerak cepat, menarik lengannya dan memeluknya erat. Mendekapnya dengan kencang seakan tidak mau melepaskannya. Sehun meronta tetapi Jongin lebih kuat, lelaki itu mengetatkan lengannya, mencoba meredam gerakan Sehun.
Ketika Sehun tidak berhenti meronta, Jongin menarik punggung Sehun ke arahnya dan mencium bibirnya, tidak tanggung-tanggung langsung melumatnya. Dan langkahnya berhasil karena rontaan Sehun melemah. Ciuman Jongin berhasil membuat Sehun lemah dan tak berdaya. Lelaki itu lalu melepaskan bibirnya, tetapi belum melepaskan pelukannya. Napasnya terasa panas dan terengah di bibir Sehun, dahi mereka saling menempel, dan mereka begitu dekat sampai Sehun merasa terperangkap dalam tatapan Presdirnya yang begitu tajam.
"Maafkan aku Sehun. Maafkan aku." Jongin berbisik lembut mencoba menenangkan, "Aku tidak ingin menyakitimu."
Kata-kata Jongin membuat Sehun berkedip dan merasa ragu. dia menatap laki-laki itu dengan bingung. Tadi Presdir Kim tampak begitu sensual dan mengancam, menciumnya tanpa permisi. Sekarang lelaki ini berubah menjadi begitu lembut dan menyentuh hati. Apa sebenarnya yang ada di benak laki-laki ini?
"Aku ingin kau mendengarkan aku dulu." Lelaki itu mengangkat bahu ketika penisnya yang keras menyentuh Sehun, membuat Sehun langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Jongin dengan pandangan menuduh. "Aku tidak bisa mengendalikannya." Jongin tersenyum. "Maafkan aku. Aku akan melepasmu kalau kau berjanji tidak akan pergi sebelum aku menyelesaikan kata-kataku. Kuharap kau mengerti dan bisa memahami."
Sehun masih menatap Presdir Kim dengan waspada, tetapi kemudian menemukan kesungguhan di mata laki-laki itu. Akhirnya dia menyerah dan mengangguk. Dengan lembut lelaki itu lalu melepaskannya dan mengedikkan bahunya ke arah sofa. "Duduklah."
Sehun duduk dan Jongin menyusul duduk di depannya. Menatapnya dengan lembut. "Dari semua alasan yang kupaparkan nanti, aku pikir kita pasangan yang cocok, Sehun. Aku akan sangat senang memiliki isteri sepertimu, yang kau tahu sendiri… sangat menggugah gairahku." Lelaki itu kembali tersenyum meminta maaf, "Dan aku pikir aku tidak terlalu buruk untuk seleramu."
Terlalu tampan. Terlalu sempurna. Terlalu segalanya hingga terasa menakutkan. Sehun membatin.
"Aku merasa bertanggungjawab ketika menidurimu malam itu. Memang itu perbuatan yang sama-sama tidak kita sadari. Tetapi aku tidak pernah merusak laki-laki lugu sebelumnya, aku sudah pernah mengatakannya bukan? Dan aku… aku merasa berdosa kepada adikku kalau sampai aku tidak bertanggungjawab dan menikahimu."
"Merasa berdosa kepada adikmu?"
"Ya. Kau ingat Jinri? HR Manager di perusahaan ini?"
Sehun sudah tentu ingat. Dia tidak akan melupakan wanita cantik dan berwibawa yang memberikan kesan luar biasa kepadanya itu. Jadi wanita itu adalah adik Presdir Kim? Pantas, mereka berdua sama-sama menyimpan keanggunan yang misterius di balik kulit keemasan dan rambut gelap yang eksotis... Tetapi apa hubungan Jinri dengan semua ini? "Jinri pernah berhubungan dengan kekasihnya saat remaja. Hubungan mereka berjalan terlalu jauh sampai dia hamil. Tetapi kekasihnya meninggalkannya. Dia… dia hancur, berkali-kali mencoba bunuh diri dan kehilangan semangat. Untung kami bisa membangkitkannya lagi hingga dia menjadi wanita tegar seperti sekarang. Tetapi sejak saat itu aku berjanji bahwa aku tidak akan menyakiti wanita atau laki-laki lugu manapun dan menghancurkannya, seperti yang dilakukan lelaki itu pada adikku."
Jongin memajukan tubuhnya dan meraih tangan Sehun dari seberang meja dan menggenggamnya lembut, "Menikahlah denganku Sehun. Aku yakin ini semua akan berakhir baik."
.
.
.
"Hebat. Kau menjadikan aku wanita yang pernah ditipu kekasihku di masa remaja lalu menggugurkan kandungan dan mencoba bunuh diri berkali-kali?" Jinri berkacak pinggang di depan Jongin, "Hebat kak. Dan setelah ini, Sehun akan memandangku dengan tatapan iba sembunyi-sembunyi."
Jongin tersenyum melihat kemarahan adiknya, lalu menatap Jinri lembut sambil tersenyum, adiknya itu tidak pernah bisa marah terlalu lama padanya kalau dia menatapnya seperti itu. "Maafkan aku Jinie, harus mengarang cerita bohong seperti itu. Tapi aku kehabisan ide. Dan hanya itu yang terpikirkan. Aku tahu Sehun mempunyai rasa empati yang besar, dan dia akan menerimaku kalau hal itu aku lakukan demi adikku."
"Kau memang hebat dalam berbohong dalam waktu sempit." Jinri menyipitkan matanya, masih belum memaafkan kakaknya karena mengarang cerita tentang dirinya untuk melelehkan hati Sehun, "Dan aku duga kau berhasil?" Jongin tersenyum, "Dia menerima cincin itu lagi dan mempertimbangkan lamaran pernikahanku."
Jinri menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan obsesi kakaknya terhadap lelaki bernama Sehun itu. "Aku tak bisa menahan kemauanmu. Tapi aku harap kau tidak menyakiti dirimu sendiri nanti." Jinri menatap Jongin dengan hati-hati, "Malam itu kau tidak menyentuhnya bukan?"
"Tidak." Jongin bergumam tak jelas, "Aku hanya membuatnya berpikir bahwa kemungkinan besar aku telah merusaknya."
"Oke. Sepertinya tujuanmu tercapai. Kau akan memiliki Sehun, bahkan mungkin menikahinya. Tetapi semua ini didasarkan oleh kebohongan, sadarkah kau? Apakah kau tidak takut kalau nanti semua kebohongan itu terungkap? Kalau nanti Sehun tahu yang sebenarnya?"
Jongin terdiam, lama.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti." Suaranya berubah pelan, ditelan oleh kepahitan, "Yang terjadi, biarkanlah terjadi…"
.
.
.
Perputaran dunia sungguh tidak dapat diduga. Begitupun perjalanan hidup manusia. Sehun melirik cincin berlian elegan yang berkilau di jari manisnya. Dia datang ke perusahaan ini karena sebuah panggilan keberuntungan yang datang tak diduga. Dan hanya karena satu kejadian di malam pesta itu, tiba-tiba dia menjadi tunangan pemilik perusahaan ini. Siapa yang bisa mengira? Bahkan di dalam imajinasinya yang paling liar pun Sehun tidak pernah menduganya.
Semua ini terjadi terlalu cepat… terlalu tiba-tiba. Dia bahkan tidak mengenal jauh Presdir Kim… Sehun membatin dalam hati, tanpa sadar mengernyitkan dahinya. Yang dia ketahui tentang Presdir Kim hanyalah info dari majalah bisnis yang dibacanya ketika mencari tahu tentang perusahaan yang memanggilnya untuk wawancara itu, dan beberapa info dari Yuri, yang sekarang sudah mengambil cuti hamilnya. Yuri akan sangat terkejut kalau saja dia ada di kantor untuk menyaksikan semua drama ini. Sehun tahu bahwa Presdir Kim adalah pendiri perusahaan yang jenius, berdarah Spanyol dari ibunya, dan mempunyai adik perempuan dengan masa lalu yang sungguh menimbulkan empati.
Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu alasan utama Sehun menerima pertunangan ini adalah karena empatinya kepada Jinri, dan kekagumannya akan rasa bertanggungjawab Presdir Kim karena begitu memikirkan kesedihan yang pernah dialami Jinri. Presdir Kim pasti sangat menyayangi adiknya. Sehun tidak pernah punya saudara kandung, dia anak tunggal, yang pada akhirnya harus berakhir sebatang kara. Karena tragedi itu... Tragedi yang sudah dilupakannya dan dikuburkannya dalam-dalam. Karena setiap dia mengingatnya akan muncul rasa marah terpendam, membuatnya ingin berteriak atas ketidakadilan hidup. Ingatan tentang kemarahan itu menjadi samar-samar seiring berjalannya waktu. Sehun belajar menyimpannya jauh-jauh. Tidak sepenuhnya melupakan. Tidak sepenuhnya memaafkan.
Sehun mengerjapkan mata ketika mobil hitam yang elegan itu meluncur dengan mulus dan berhenti tepat di depannya. Presdir Kim sendiri yang menyetir mobilnya. Dengan sopan, dia turun dari mobil dan membukakan pintu penumpang di sebelahnya untuk Sehun, "Maafkan aku, aku sedikit tertahan di lobi tadi. Aku harap kau tidak menunggu lama."
"Tidak. Aku baru beberapa menit di sini." Sehun melangkah masuk ke mobil dan lelaki itu menutupnya, lalu kembali ke balik kemudi dan menjalankan mobilnya. Tiba-tiba sebuah pemikiran melintas di benak Sehun, bahwa dia bahkan masih tidak tahu nama lengkap lelaki ini.
"Bagaimana mungkin kita melanjutkan semua ini, kalau kita bahkan tidak saling mengenal sama sekali?" tanpa sadar Sehun menyuarakan pemikirannya. Jongin melirik sedikit ke arah Sehun dan tersenyum, "Masih banyak waktu, dan dengan senang hati aku akan membuka diri sehingga kau bisa lebih dalam mengenalku." Suaranya merendah lembut, "Dan aku harap kau juga membiarkanku mengenalmu lebih dalam."
Sehun menghela napas. Kenapa kata-kata Presdir Kim yang biasa saja bisa terdengar begitu sensual di telinganya? Apakah itu memang nyata atau dia selalu berkonotasi mesum sejak kejadian malam itu? Dengan tak kentara Sehun menggelengkan kepalanya, mencoba berkonsentrasi kepada sesuatu yang logis.
"Siapa nama lengkapmu?"
Jongin mengerem dengan mendadak. Hampir membuat ban mobil berdecit dan tubuh Sehun terdorong ke depan, untunglah mereka sedang berada di jalanan yang sepi. Sehun menoleh ke arah Presdir Kim dan menatap bingung. Lelaki itu tampak kaget… karena pertanyaannya, ataukah karena sesuatu di jalan?
Tetapi Jongin dengan cepat menguasai diri, dia menatap Sehun dan meminta maaf, "Maafkan aku, tadi ada kucing menyeberang." gumamnya cepat sambil mengalihkan pandangan kembali ke arah jalan. Apakah hanya perasaan Sehun saja… atau Presdirnya ini memang sedang mencengkeram kemudinya erat-erat?
Sehun mengalihkan pandangannya ke jalan dan akhirnya tersenyum, "Kucing memang sering menyeberang tiba-tiba, kadang kita baru melihat ketika mereka sudah di seberang mata, membuat kita kaget setengah mati."
"Yah. Dan aku memang kaget setengah mati." Lelaki itu melirik Sehun, "Tadi kau bertanya apa?"
"Nama lengkapmu?"
"Oh… nama lengkapku ya..." Jongin pura-pura tersenyum misterius, meski dalam hati jantungnya berdegup tak karuan. Mungkin ini adalah saatnya mengambil resiko. Kalau Sehun tidak bereaksi apapun atas nama lengkapnya, berarti Jongin bisa melangkah ke rencana selanjutnya dengan aman. Karena bagaimanapun, kalau mereka menikah nanti, Sehun harus tahu nama lengkapnya. Dia menghela napas sekali lagi, seakan hendak melepas sumbu granat, "Nama lengkapku tidak istimewa, Kim Jongin."
Jongin mencoba tenang meskipun jauh di dalam hatinya dia ketakutan setengah mati. Selama ini dia menganggap nama itu tabu, karena takut akan membuat Sehun langsung teringat kepada siapa dia sebenarnya. Dan sekarang setelah melepaskan nama itu. Rasanya seperti menanti sesuatu yang akan meledak, membuatnya berdebar.
Tetapi apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Sehun memang sedikit mengernyitkan dahi dan tampak kaget, tapi laki-laki itu hanya mengangkat bahunya, "Nama lengkapku Oh Sehun."
"Oh Sehun. Nama yang cantik," Jongin mencoba bercanda, menutupi rasa lega luar biasanya ketika menyadari Sehun tidak menghubungkannya dengan pemuda yang telah membunuh ayahnya bertahun lalu. Tentu saja penampilan Jongin yang dulu dan sekarang berbeda. Jongin yang dulu kurus karena memakai obat dan minuman keras, perokok berat, ugal-ugalan dengan tindik telinga dan rambut yang di cat merah menyala. Secara fisik sangat sulit menghubungkan dirinya yang sekarang dengan pemuda tak bertanggung jawab di masa lalu itu. Mungkin saat ini Sehun hanya bingung, kenapa nama yang tidak ada istimewanya sama sekali seperti 'Kim Jongin' harus dirahasiakan?
Tetapi Jongin memutuskan mengambil resiko sekali lagi, untuk melihat reaksi Sehun, dengan hati-hati dia berucap, "Kau bisa memanggilku Jongin kalau kau mau… keluargaku memanggilku begitu…"
"Tidak." Jawaban Sehun begitu cepat, hanya sepersekian detik dari perkataan Jongin, "Maksudku, aku belum siap memanggil namamu langsung jika kau tidak keberatan."
Tubuh Sehun begitu tegang. Jongin membatin, lalu menarik napas dengan pedih, Sehun masih mengingat jelas nama lelaki yang membunuh ayahnya. Dan menilik dari sikapnya yang menolak memanggil siapapun dengan nama 'Jongin', laki-laki itu jelas masih menyimpan kebencian kepada lelaki yang membunuh ayahnya. Jongin harus bisa membuat Sehun melupakan 'Jongin pembunuh ayahnya' dan terbiasa mengasosiasikan nama 'Jongin' dengan lelaki baik yang akan menjadi suaminya.
"Aku keberatan." Jongin tersenyum lembut, dan mengarahkan pandangannya kembali ke jalan. Sehun harus belajar memanggilnya dengan nama 'Jongin'. Dengan begitu, mungkin saja dia bisa melunturkan kebenciannya kepada 'Jongin' di masa lalunya. "Sudah kubilang, keluargaku selalu memanggilku dengan nama 'Jongin' dan kau akan menjadi keluarga terdekatku."
"Tapi aku…"
"Cobalah Sehun." Panggil namaku. Jongin menahan erangan dalam hati. Ah, betapa inginnya dia mendengarnya, betapa inginnya dia mendengar namanya diucapkan oleh suara merdu dari bibir Sehun…
Sehun menghela nafas, dan sejenak Jongin merasakan bahwa Sehun ingin membantah, tetapi kemudian lelaki itu memutuskan untuk tidak melakukannya. "Jongin..." Nama itu akhirnya terucapkan dari bibir Sehun, dengan enggan, pendek, dan sederhana. Tetapi terdengar luar biasa di telinga Jongin, bagaikan alunan merdu menghembus telinganya. Mimpinya. Mimpinya selama ini telah terwujud. Jongin memejamkan matanya sekejap, berusaha menahan senyum lebarnya.
.
.
.
Baekhyun sedang berjalan santai menelusuri butik itu ketika sebuah tangan keras mencengkeram lengannya, dia setengah memekik dan menatap marah kepada pencengkeram lengannya, Tao yang sedang berdiri di dekatnya. "Lepaskan aku Tao, kau kasar sekali." Baekhyun tersenyum berusaha tampak tenang.
Tao lama menatap Baekhyun dengan tajam, lalu akhirnya melepaskan pegangan tangannya. Dengan sinis Baekhyun mengusap-usap lengannya yang memerah bekas cengkeraman Tao. "Ini akan memar. Apa yang membuatmu mendatangiku dan tiba-tiba bertingkah sekasar ini?" Tatapannya berubah menggoda, "Apakah kau ingin melanjutkan yang tertunda waktu itu?"
Tao mendengus kesal, "Hentikan Byun Baekhyun, aku tahu pasti kau tidak tertarik kepadaku. Dulu aku mengejarmu dan kau menolakku mentah-mentah." Tatapannya berubah tajam lagi, mengintimidasi, "Kenapa malam itu kau merayuku?"
Baekhyun mengerling dan tersenyum, "Mungkin karena aku sedang ingin berubah pikiran." Dia sengaja mengedipkan matanya menjengkelkan, "Kenapa Tao? Apakah kau tidak tersanjung dirayu olehku?" Tao menyipitkan matanya, "Aku mencium bau busuk. Ada sesuatu yang disembunyikan di sini, dan aku menjadi korbannya, tapi ingat Baekhyun, aku tidak akan tinggal diam, aku akan mencari tahu."
'Mencari tahu apa Tao? Kau aneh." Baekhyun tertawa, "Mungkin kau sedang patah hati ya jadi sibuk berhalusinasi."
"Patah hati? Apa maksudmu?" suara Tao menajam, waspada.
"Wah, kukira kau sudah tahu." Baekhyun mengedipkan matanya lagi, "Lelaki yang kau kejar itu, si cantik yang sederhana, dia akan menikah dengan Presdirmu." Baekhyun tersenyum, menikmati rona pucat yang langsung menguasai wajah Tao, membuat lelaki itu tertegun. "Sudah ya, aku sibuk. Lain kali kalau mau membuang waktuku, tolong lakukan untuk sesuatu yang lebih penting." Baekhyun mengibaskan tangannya, meninggalkan Tao yang seketika membatu di sana.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
.
Kimoy's Note
.
.
.
.
.
.
Thanks to :
kjinftosh; MinnieWW; Kim Yuta; ohxoho; Kim Sohyun;
mamasehun1214; chikenbubbletea; KaiHunnieEXO; exogzb; Baby Hanna;Rilakkuma8894; Yehet; Sekar Amalia; Kimoh1412;
YunYuliHun; Icha; hunkaisoo69; jiraniatriana; sehunskai; Guest;
Ilysmkji; RiRi639;
.
.
.
.
.
.
Annyeeeooong! Haduh-haduh akhirnya bisa update juga huhu T_T Banyak yang review katanya chapter kemarin terlalu nanggung
di bagian 'ehem'nya terus nanya kapan ada adegan NC nya hohoho XD saya kasih sedikit bocoran mungkin di
chapter enam apa tujuh NC nya bakal muncul XD ada juga yang bilang jongin terlalu terburu-buru buat dapetin sehun dan jalan cerita ff ini kecepetan/?
Well, saya udah pernah bilang (kalo ga salah di chapter dua) saya hanya mengubah beberapa bagian (karena cerita ini aslinya straight
dan harus saya ubah menjadi yaoi), alurnya sama sekali ga saya otak-atik, kalian bisa baca sendiri di cerita aslinya...
And... btw ff ini akan mengandung unsur Mpreg, buat yang ga suka dan merasa imajinasi saya kurang keren haha karena 'masa cowok bisa hamil?' silahkan berhenti membaca ff ini... :)
Thanks a lot buat yang udah review... nyemangatin saya buat ngelanjutin ff ini... bahkan ada yang nyemangatin saya buat ujian kemarin :') review
kalian sangat berarti buat saya^^ So... see you in next chapter!
