Unforgiven Hero
.
.
.
.
.
.
Remake from "Unforgiven Hero" By Santhy Agatha
Cast : Jongin, Sehun, and others
Rate M
Warning for typos and lots of sexual content
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Chapter Six
.
.
.
.
.
.
Preview Chapter Five
Tao mendengus kesal, "Hentikan Byun Baekhyun, aku tahu pasti kau tidak tertarik kepadaku. Dulu aku mengejarmu dan kau menolakku mentah-mentah." Tatapannya berubah tajam lagi, mengintimidasi, "Kenapa malam itu kau merayuku?"
Baekhyun mengerling dan tersenyum, "Mungkin karena aku sedang ingin berubah pikiran." Dia sengaja mengedipkan matanya menjengkelkan, "Kenapa Tao? Apakah kau tidak tersanjung dirayu olehku?" Tao menyipitkan matanya, "Aku mencium bau busuk. Ada sesuatu yang disembunyikan di sini, dan aku menjadi korbannya, tapi ingat Baekhyun, aku tidak akan tinggal diam, aku akan mencari tahu."
'Mencari tahu apa Tao? Kau aneh." Baekhyun tertawa, "Mungkin kau sedang patah hati ya jadi sibuk berhalusinasi."
"Patah hati? Apa maksudmu?" suara Tao menajam, waspada.
"Wah, kukira kau sudah tahu." Baekhyun mengedipkan matanya lagi, "Lelaki yang kau kejar itu, si cantik yang sederhana, dia akan menikah dengan Presdirmu." Baekhyun tersenyum, menikmati rona pucat yang langsung menguasai wajah Tao, membuat lelaki itu tertegun. "Sudah ya, aku sibuk. Lain kali kalau mau membuang waktuku, tolong lakukan untuk sesuatu yang lebih penting." Baekhyun mengibaskan tangannya, meninggalkan Tao yang seketika membatu di sana.
.
.
.
"Kau tidak akan memberitahu ibu? Dia pasti akan langsung pulang dari Spanyol dengan bahagia mendengar kabar penikahanmu." Jinri mengingatkan. Sang ibu memang baru berkunjung ke Spanyol untuk menengok adiknya yang sakit.
"Tidak. Aku tidak mau dia pulang. Sehun mungkin mengingatnya. Ketika ayahnya meninggal. Ibu dan ayah datang ke rumah mereka dan menyampaikan permintaan maaf dan uang santunan, Sehun dan ibunya menolak mentah-mentah. Bersikeras supaya semua dijalankan di jalur hukum. Entah apa yang dilakukan ayah kemudian sehingga semuanya berhenti."
"Jadi kau akan melarang ibu selamanya bertemu menantunya? Itu rencanamu?" Jinri mengernyit, "Itu sama saja mencegah matahari terbit, suatu saat semuanya juga pasti akan terkuak."
"Tetapi tidak sekarang. Tidak sampai aku sudah benar-benar berhasil memiliki Sehun." Jongin bergerak ke bar, dan menuangkan brendi untuk dirinya sendiri. Tidak dihiraukannya dengusan sinis Jinri. "Kau sepertinya menjadi sangat terobsesi kepada Sehun. Dulu kau terobsesi mencukupi semua kebutuhannya, memastikan dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri, sekarang di saat itu semua tercapai, kau terobsesi untuk memilikinya." Jinri ikut menuangkan brendi dan meminumnya lalu mengernyit, "Mungkin kau harus menemui psikiater."
"Psikiater hanya akan menemukan satu kesimpulan." Jongin tersenyum simpul sambil menatap Jinri, membuat adiknya itu mengernyit bingung, "Kesimpulan apa?"
"Bahwa aku sedang jatuh cinta."
Jinri tertegun, benar-benar tertegun. "Kau… benar-benar jatuh cinta kepada Sehun? Maksudku… semua ini bukan karena obsesi dan rasa bersalah?"
"Itu juga. Awalnya karena rasa bersalah, tetapi lambat laun, mengamatinya dalam diam, memperhatikannya, dan tanpa sadar… juga mencintainya. Karena itulah aku ingin memilikinya, dan tidak rela membiarkannya dimiliki lelaki lain."
"Kau mempertaruhkan hatimu." Jinri mengernyit, "Dia akan membuatmu hancur berkeping-keping kalau tahu siapa sebenarnya dirimu."
"Setidaknya aku sudah mencoba." Jongin mengernyit, mencoba menghilangkan apa yang sudah pasti akan terjadi di depannya nanti. Kalaupun itu terjadi nanti, semoga cintanya kepada Sehun cukup untuk mempertahankan lelaki itu. Jinri menatap sedih kakaknya, kemudian dia teringat sesuatu dan nada suaranya berubah khawatir.
"Apakah kau sudah membereskan Luhan?"
"Ada apa dengan dia?"
"Dia akan sangat marah ketika tahu kau akhirnya bersatu dengan Sehunmu."
Jongin mendesah. Dia lupa sama sekali tentang Xi Luhan, karena terlalu fokus pada Sehun. Xi Luhan atau cukup Luhan, begitu ia ingin dipanggil adalah 'pasangan tetapnya' bisa dikatakan begitu, atau kalau mau secara lugas, Luhan adalah 'partner seks'nya. Hubungan mereka bebas dan tanpa komitmen, mereka saling memanfaatkan satu sama lain. Entah apa motif Luhan, mungkin karena Jongin sangat tampan dan kaya untuk dijadikan kekasih. Tetapi motif Jongin adalah mencari pelarian ketika dia sangat menginginkan Sehun, melihatnya dari kejauhan tetapi tidak bisa menyentuhnya. Terlebih tak dapat dia pungkiri bahwa ada sedikit kemiripan antara Luhan dengan Sehun –hanya sedikit.
Jinri sendiri hanya tahu kalau Jongin menjalin hubungan tanpa komitmen dengan Luhan, dia tidak pernah tahu jika semua itu Jongin lakukan untuk melampiaskan hasratnya pada Sehun dengan menganggap Luhan sebagai lelaki itu. Bahkan pada saat mereka melakukan seks pun, Jongin melakukannya dalam kegelapan, dan memanggil Luhan, dengan nama Sehun. Sekali, Luhan bertanya mengapa, tetapi Jongin menyuruhnya diam dan tidak bertanya lagi. Sejak saat itu Luhan tidak pernah bertanya lagi, meskipun Jongin selalu memanggilnya dengan sebutan Sehun.
Sampai beberapa lama kemudian, Jongin merasakan kehampaan, bahwa dia tidak bisa menipu dirinya sendiri dengan memakai Luhan sebagai pengganti Sehun. Bahwa dia tidak bisa kalau bukan Sehun. Maka ditinggalkannya Luhan. Mengakhiri hubungan tanpa komitmen mereka baik-baik.
Seharusnya Luhan tidak akan menjadi gangguan, kecuali kalau sampai dia mendengar bahwa Jongin pada akhirnya bersatu dengan lelaki bernama Sehun. Radar ingin tahu Luhan pasti akan berbunyi, dan siapa yang bisa menebak apa yang akan dilakukannya nanti.
"Aku harap dia akan terus berada di luar negeri. Setidaknya sampai aku berhasil membawa Sehun ke dalam pernikahan."
"Sayangnya kau tidak seberuntung itu. Aku dengar dia akan pulang dalam waktu dekat. Kau harus menjauhkan Sehun darinya. Luhan memang menjalin hubungan tanpa komitmen padamu, tetapi dia selalu menganggap kau bebas dan bisa didatanginya kapan saja. Kalau dia sampai tahu kau sudah terikat, mungkin dia akan tergelitik untuk mengganggu." Dan seperti memilih waktu yang tepat, ponsel Jongin berbunyi, dia mengangkatnya ketika melihat nama Baekhyun di layar. "Ada apa."
Di seberang telepon Baekhyun menjelaskan perihal insidennya dengan Tao di butik barusan. Membuat Jongin menghela napas sekali lagi. Setelah telepon ditutup, dia menatap Jinri penuh tekad. "Pernikahan ini harus segera dilaksanakan."
.
.
.
Dan untuk melaksanakan pernikahan dengan segera, Jongin membutuhkan bantuan Yifan. Dia mendatangi Yifan di kantornya,
"Apa? Pernikahan?" Yifan sangat terkejut. Apalagi dia tidak pernah mendengar Jongin dekat dengan siapapun sebelumnya. "Jangan bilang kau jatuh dalam jebakan wanita licik yang berpura-pura hamil?" Jongin terkekeh, "Bisa dibilang akulah yang menjebak calon pengantinku. Dan lagi... dia bukan wanita." Yifan hampir tersedak air liurnya sendiri mendengar penuturan Jongin. Jadi... Jongin gay? Oke, dia bukannya risih mengetahui orientasi sahabatnya itu –karena dia juga gay, hanya saja selama ini Jongin begitu tertutup sehingga dia sedikit terkejut ketika tahu bahwa ternyata mereka sama-sama menyimpang. Jongin berdehem, ditatapnya Yifan serius, dia tahu bahwa sahabatnya itu tidak akan banyak bertanya jika dia tidak menjelaskan, "Karena itu aku butuh bantuanmu agar pelaksanaannya berjalan sempurna."
"Aku bisa mengurusnya. Kau bisa tinggal di hotelku. Dan untuk pernikahan kau bisa menghubungi nomor ini. Dialah yang dulu mengurus pernikahanku dengan Suho. Semoga dia bisa membantumu." Meski masih sedikit terkejut, Yifan menyerahkan sebuah kartu nama ke tangan Jongin. Jongin menerimanya dan tersenyum, "Terima kasih Yifan, kau tidak tahu betapa berartinya ini untukku." Yifan mengamati Jongin dengan tenang, dan menganalisa.
Ini hampir sama seperti kasus Chanyeol yang tergesa-gesa menikahi Yixing dulu. Tetapi Jongin tampaknya lebih terdesak dan panik. Seperti memegang bom yang akan meledak dalam hitungan waktu tertentu.
"Calon pengantin yang akan kau nikahi ini, apakah kau mencintainya?" Jongin tersenyum lembut membayangkan Sehun, "Ya Yifan. Tentu saja, kalau tidak untuk apa aku repot-repot menjebaknya ke dalam pernikahan ini."
"Dan mengingat kau sampai perlu menjebaknya, berarti dia tidak memiliki perasaan yang sama?"
"Mungkin saat ini tidak, tetapi aku akan membuatnya berubah pikiran."
Yifan terkekeh, "Kita yang semula merasa begitu sempurna dan bisa menaklukkan siapapun, pada akhirnya akan menyerah kepada lelaki yang membuat kita penasaran setengah mati. Membuat kita menebak-nebak, lalu tanpa disadari sudah terperosok ke dalam cinta yang begitu dalam."
"Apakah itu yang kaurasakan kepada istrimu dulu?"
"Persis seperti itu." Jawab Yifan puas. "Dan itu adalah hal paling membahagiakan dalam hidupku." Jongin mengamati Yifan dan tersenyum, "Kau beruntung." Yifan mengangguk, "Dan sepertinya kau juga, mengingat kau akan menikah dengan orang yang kau cintai."
"Yah. Aku beruntung… meskipun begitu banyak rahasia menyakitkan di masa lalu yang menghantui… aku masih berharap semuanya tidak akan berbalik kepadaku nanti dan menghancurkanku."
"Apa maksudmu Jongin." Suara Yifan berubah waspada. Jongin tertawa. "Aku tidak sedang dalam bahaya Yifan. Ini menyangkut masa lalu dan masa depanku yang berjalinan. Ceritanya panjang, dan aku akan menceritakannya kepadamu suatu saat nanti."
"Oke." Yifan menatap Jongin dan akhirnya menarik kesimpulan, "Lelaki yang akan kau nikahi ini ya, yang membuatmu begitu dingin dan tak bisa didekati selama ini." Jongin tersenyum, tidak membantah.
.
.
.
"Mungkin ini bukan ide bagus." Sehun menatap Jongin bingung, "Apakah ini harus dilakukan?" Jongin mengangguk tegas, "Ya. Aku sudah bertekad. Dan kau tidak bisa mundur Sehun, demi dirimu sendiri, demi Jinri, ingat?"
"Ta… tapi aku tidak menyangka akan secepat ini… maksudku… kau bilang kita punya kesempatan untuk saling mengenal dulu, katamu kita punya waktu untuk pertunangan yang panjang sehingga… sehingga…"
"Aku sudah memesan tiket, semua sudah disiapkan di sana. Jinri akan menyusul kita nanti. Tidak bisa dibatalkan. Dan sekarang kita sedang dalam perjalanan ke sana."
Mereka menuju pulau itu, pulau yang sangat terkenal sebagai pulau impian karena sejuta keindahannya. Tempat banyak pasangan menikah secara eksotis, dengan suasana yang eksotis pula. Dan Sehun berangkat tanpa prasangka apapun.
Tadi pagi Jongin menyuruhnya bersiap-siap karena dia ada meeting mendadak dengan klien di pulau itu, dan Sehun harus ikut. Sehun sempat memprotes karena dia tidak mempersiapkan apapun. Tetapi Jongin bilang semua sudah disiapkan, bahkan lelaki itu berbaik hati memintakan izin langsung kepada ibu asramanya ketika mengantar Sehun pulang untuk mengambil baju dan perlengkapannya. Dan baru di pesawatlah, Jongin mengatakan bahwa mereka berangkat untuk menikah. Kejutan katanya tanpa rasa bersalah. Meskipun bukan kejutan yang baik untuk Sehun. Dia panik, gemetaran, dan merasa terjebak luar biasa.
Di bawa ke sebuah pulau yang belum pernah didatanginya untuk dinikahi, tanpa rencana dan pemberitahuan sebelumnya. Ini hampir seperti dia diculik oleh Jongin. Atau jangan-jangan memang ini rencana lelaki itu?
"Kau sengaja." Tatapan Sehun menuduh. Tetapi Jongin tampak tidak terpengaruh, lelaki itu memasang muka datar. "Apanya?"
"Ini semua, kau merencanakannya, sengaja membuat aku tidak bisa mundur atau lari." Jongin tersenyum lembut, "Tidak sayang, sungguh aku tidak sengaja melakukan itu…" Tatapannya berubah menerawang, "Sebenarnya ini karena Jinri… dia yang mendesak pernikahan ini dilakukan segera, aku sudah menceritakan insiden malam pesta itu… dan dia menangis... dia teringat kejadian yang menimpa dirinya…. dan dia mendesakku untuk menjadi lelaki yang bertanggungjawab atau dia akan memusuhiku… semoga kau mengerti Sehun…" Sehun tercenung. Lalu tatapannya berubah melembut, "Oh… begitu…"
Jongin menganggukkan kepalanya, "Dia akan menyusul nanti, merayakan pernikahan kita. Semoga kalian bisa akrab nantinya." Lelaki itu menghela napas lega sambil meminta maaf dalam hati kepada Jinri, karena menggunakan nama adiknya itu lagi untuk memanipulasi Sehun.
.
.
.
Penerbangannya tidak lama, hanya dalam waktu dua setengah jam mereka sudah sampai. Jongin membimbing Sehun melalui koridor bandara, menuju pintu keluar, dan seorang supir berpakaian rapi rupanya sudah menunggu, dan membawa mereka ke mobil hitam mengkilat yang sudah disiapkan.
Perjalanannya sendiri singkat, dan mereka berhenti di hotel yang penuh dengan lampu menyala yang elegan. Membuat Sehun terpana. Meskipun dia menahan dirinya supaya tidak terlihat memalukan di depan Jongin. Lelaki itu menggandeng tangannya dengan mesra dan membawanya ke president suite di lantai paling atas hotel. Sepertinya para pegawai di hotel ini telah menunggu kedatangan mereka dan menyiapkan segalanya untuk mereka. Terima kasih untuk Yifan dalam hal ini. Hotel ini adalah salah satu hotel besar milik lelaki itu. Yifan sudah menyiapkan segalanya untuk mereka seperti janjinya.
Sehun mengernyitkan keningnya ketika mereka mendapatkan kamar yang sama. Dia menahan Jongin di depan pintu. "Kita satu kamar?" Jongin mengangkat bahunya, "Kita akan menikah besok jam sepuluh pagi. Apa bedanya?"
"Ada bedanya. Aku tidak mau sekamar denganmu sebelum menikah." Gumam Sehun keras kepala. "Kita sudah pernah melakukannya sebelumnya Sehun, tidur sekamar. Seranjang malahan." Lelaki itu tersenyum lembut melihat kecemasan di wajah Sehun yang memerah malu, "Maafkan aku, aku hanya memikirkan kepraktisan saja tanpa memperhitungkan perasaanmu. Aku berpikir bahwa besok pagi kita sudah menikah, jadi tidak ada gunanya menyewa kamar terpisah… Aku tidak sadar hal ini akan membuatmu tidak nyaman…" Dengan lembut Jongin menyentuh pipi Sehun.
"Mungkin kalau aku berjanji tidak akan berbuat tak senonoh padamu malam ini, kau bisa sedikit lebih tenang?" Sehun merasa tak yakin, "Apakah kita akan tidur seranjang?"
"Ada sofa besar di sana. Aku akan tidur di sofa jika itu maumu." Sejenak Sehun berpikir, lalu menghela napas panjang. Sepertinya janji Jongin bisa dipercaya.
"Baiklah kalau begitu." Dan mereka pun masuk ke kamar itu.
.
.
.
Ketika Jongin sedang mandi, Sehun menyempatkan diri untuk menelepon Bibi Lee. Wanita itu sudah dia anggap sebagai ibunya, dan tidak mungkin Sehun melaksanakan pernikahan tanpa mengabari sosok pengganti ibunya itu. Dijelaskannya semuanya kepada Bibi Lee, dengan suara terbata-bata bahwa dia akan menikah dengan atasannya, Presdir Kim. Sehun dengan malu akhirnya menceritakan insiden di malam pesta itu, mengakui kepada Bibi Lee bahwa dia berbohong mengatakan menginap di rumah temannya. Di luar dugaan, Bibi Lee tidak mempermasalahkannya, dengan bijaksana wanita itu menerima penjelasan Sehun.
"Ibu mengerti, kalian berdua sudah dewasa dan kalian bisa menentukan sendiri apa yang menurut kalian baik. Ibu juga salut dengan bosmu yang bertanggungjawab. Tidak semua lelaki mau menerima tanggungjawab begitu besar karena sebuah insiden yang diakibatkan oleh mabuk. Kebanyakan lelaki akan melarikan diri." Bibi Lee menghela napas panjang, "Ibu hanya bisa mendoakanmu dari sini. Ibu yakin segala sesuatu yang awalnya dilakukan untuk tujuan yang baik, akan berujung pada kebaikan pula."
Sehun menghembuskan napas lega, bersyukur karena Bibi Lee merestui pernikahan buru-burunya, "Terima kasih Ibu, semoga... semoga apa yang kuputuskan ini tidak salah..." Keraguan mewarnai suaranya. "Kau harus yakin bahwa calon suamimu adalah suami yang baik..." Ada senyum dalam suara Bibi Lee di seberang sana. "Menurut ibu dia orang baik. Lalu apa rencana kalian setelah menikah? Kalian akan langsung pulang?"
"Aku... aku masih belum tahu bu."
"Kabari ibu kalau kalian pulang ya. Ibu akan mengerti kalau kau tidak langsung pulang ke asrama nantinya. Kau akan pulang sebagai lelaki yang sudah menikah, diskusikanlah semuanya dengan suamimu." Tanpa sadar Sehun menganggukkan kepalanya, lupa kalau dia sedang berbicara di telepon, "Baik bu, terima kasih."
"Kamarmu akan tetap tersedia seperti biasanya, dan pakaian-pakaianmu masih banyak di sini kan? Kalau pulang nanti dan memutuskan akan langsung ke tempat tinggal suamimu, ibu akan menjaga kamarmu seperti kalau kau masih tinggal di sini. Kau bisa mengambil pakaian-pakaianmu dan barang-barangmu kapan saja, jangan cemaskan hal itu. Pokoknya fokuskan dirimu pada pernikahanmu dulu."
Sehun tersenyum ketika percakapan itu selesai. Hatinya terasa tenang. Pendapat Bibi Lee penting baginya, dan kalau Bibi Lee sudah setuju, hatinya lebih tenang dan mantap.
.
.
.
Jongin menepati janjinya hingga Sehun merasa tenang. Dia masih mencemaskan hari esok. Hari pernikahan yang datang begitu cepat sampai tidak bisa dipikirkannya. Membuat perutnya bergolak karena cemas.
Sehun mandi bergantian dengan Jongin, lalu menyantap makanan yang diantarkan ke kamar. Setelah itu dia berpamitan untuk tidur. Lampu dimatikan. Dan setelah berbagi selimut dan bantal dengan Jongin, Sehun naik ke ranjang untuk berbaring dan mencoba tidur. Dia sempat melirik, Jongin yang sedang menata bantal dan selimut dengan nyaman di sofa depan sambil menyalakan televisi dengan suara lirih.
Mau tak mau pikiran Sehun melayang. Besok adalah hari pernikahannya. Meskipun bisa disebut hari pernikahan yang tak wajar. Pengantin mana yang baru tahu bahwa dia akan menikah sehari sebelumnya? Tetapi kalau ditilik dari masa lalu, kehidupannya memang tidak wajar. Kalau dia hidup di keluarga yang wajar, malam ini dia pasti sudah disimpan di kamar, tidak boleh bertemu dengan calon suaminya. Kemudian seluruh keluarganya akan berkumpul di rumah. Orangtuanya ada di depan, menyalami tamu yang datang, dan berbahagia dengan persiapan pernikahan putra mereka satu-satunya esok hari, sebuah acara yang dianggap sakral.
Tetapi itu semua hanya mimpi. Sehun sebatang kara di dunia ini. Ayah dan ibunya telah meninggal. Direnggut paksa darinya. Air mata menetes dan mengalir di pipinya. Seandainya saja semua itu tidak terenggut darinya… Sehun sangat ingin memeluk orangtuanya sebelum hari pernikahannya. Amat sangat ingin… Dia merindukan mereka berdua…
Terlalu larut dalam kenangan masa lalunya, membuat Sehun merasa lelah dan terlelap dengan cepat. Tanpa disadarinya, Jongin melangkah dengan hati-hati ke arah ranjang, dan duduk di tepinya. Posisi tidur Sehun persis dengan janin yang meringkuk di dalam kandungan ibu. Ruangan itu temaram, hanya satu lampu tidur yang menyala remang. Tetapi Jongin bisa melihat. Bekas air mata kering dari sudut mata Sehun, mengalir ke pipinya.
Dengan lembut Jongin mengusapnya. Hati-hati agar Sehun tidak terbangun. "Setelah ini kau tidak akan menangis lagi Sehun. Tuhan tahu aku akan mengusahakan segala cara untuk itu..."
.
.
.
Jas putih elegan itu tiba-tiba saja sudah ada di sana, bersama Jinri yang menunggunya. Dan kemudian dia sudah didandani dengan begitu cantiknya, sehingga hampir tidak mengenali dirinya sendiri di depan cermin.
"Aku senang kita bertemu lagi akhirnya." Jinri tersenyum ramah kepada Sehun, "Tetapi sekarang keadaannya berbeda, kau akan menjadi kakak iparku." Sehun tersenyum dan menelan ludahnya dengan gugup, "Kau tahu ini mungkin terlalu cepat untukku... aku... aku merasa mual." Sehun benar-benar merasa gugup. Pernikahannya akan berlangsung sebentar lagi, dan perasaannya kacau balau, campur aduk.
Ini pernikahan?! Ya ampun. Dan Sehun akan melangsungkannya dengan orang yang bahkan tidak dia kenal dekat. Apakah dia sudah gila? Tetapi harus bagaimana lagi? Insiden di malam pesta itu membuat segalanya berbeda... dan seperti kata Jongin, Sehun sekarang sudah tidak bisa mundur lagi.
"Kau tidak apa-apa Sehun?" Jinri menyentuh pundak Sehun lembut, menyadarkan Sehun dari lamunannya. Sehun tampak begitu pucat sehingga membuat Jinri cemas. "Aku tidak apa-apa… mungkin pernikahan ini membuatku sedikit gugup…" jawab Sehun pelan. Jinri tersenyum memaklumi, siapa yang tidak gugup kalau baru tahu bahwa akan menikah sehari sebelumnya? Kakaknya memang keterlaluan, Jinri tidak bisa menyalahkan Sehun, kalau dia jadi Sehun mungkin dia sudah pingsan di tempat.
"Kakakku orang yang baik. Percayalah, ketika dia memutuskan akan menikahimu, maka dia akan menjagamu." Jinri tersenyum menenangkan dan menggandeng tangan Sehun, "Ayo, aku akan mengantarmu kepadanya."
.
.
.
Mereka sudah menikah. Sehun termenung, tiba-tiba saja mereka sudah sah sebagai suami istri. Seperti mimpi rasanya. Terjadi begitu saja. Lalu sekarang apa?
Sehun melirik ke arah Jongin yang duduk di sebelahnya, mereka sedang makan malam sederhana bersama saksi pernikahan dan beberapa teman. Lelaki yang duduk di sebelahnya ini, Kim Jongin… Sekarang adalah suaminya.
Suaminya… Sehun melafalkan kata itu berulang-ulang dalam hati. Mencoba membuat hatinya terbiasa. Tetapi rasanya terlalu cepat untuk membuat sesuatu yang berlangsung begitu tiba-tiba menjadi terbiasa untuk hatinya.
"Kau akan senang berada di sana Sehun." Suara Jinri mengagetkan Sehun dari pengamatan tersembunyinya kepada Jongin. Dia sedikit terbatuk dan berusaha kembali ke dalam percakapan. Mereka sedang membicarakan apa sekarang?
"Pulau itu, pulau pribadi milik kakakku, tempat kalian akan berbulan madu nanti, adalah pulau kecil yang sangat indah, dengan fasilitas yang lengkap tentunya. Jongin punya rumah yang indah di sana lengkap dengan para pelayannya. Pulau itu bagaikan surga kecil yang indah, aku yakin kau akan senang di sana." Jinri menyambung perkataannya dan tersenyum kepada Sehun, membuat Sehun bingung harus menanggapi apa.
Mereka akan pergi ke pulau? Jadi mereka tidak akan pulang ke kota mereka? Sehun harus menanyakan rencana ini pada Jongin, kalau tidak dia akan disibukkan dengan kejutan-kejutan yang tidak akan disangkanya.
"Kami akan berangkat nanti, setelah menghabiskan beberapa hari di sini. Aku ingin membuat Sehun terbiasa denganku dulu." Jongin setengah bergumam kepada Jinri, lalu dia menyentuh lembut jemari Sehun, yang kali ini sudah mengenakan cincin pernikahan darinya, dengan berlian yang lebih besar dan lebih indah dari cincin pertunangannya. "Kau akan menyukai pulauku Sehun, kita akan tinggal di sana untuk sementara."
Sehun tercenung. Entahlah... Dari kata-kata Jinri, pulau itu terisolasi atau memiliki akses terbatas dengan dunia luar. Sehun benar-benar merasa diculik sekarang.
.
.
.
"Sekarang kita sudah bisa tidur di ranjang yang sama." Jongin melepas dasinya lalu menyampirkannya di kursi, menatap Sehun yang gugup dengan senyuman lembut. "Kalau kau tidak keberatan."
Jongin sungguh baik mengatakan itu pada Sehun. Mungkin laki-laki lain akan langsung memaksakan mereka tidur seranjang. Karena mereka sudah suami istri, dan Sehun tidak akan bisa membantah. Tetapi Jongin masih menanyakan keberatan Sehun. Itu berarti dia menghargai pendapat Sehun.
Melihat Sehun diam saja, Jongin berdiri ragu dan menawarkan. "Mungkin aku akan tidur di sofa lagi saja, kalau kau belum siap." Lelaki itu hendak melangkah pergi, tetapi Sehun menahannya dengan menarik lengan kemejanya, "Tunggu Jongin."
Jongin berhenti seketika, melirik ke arah jemari gemetar Sehun yang mencengkeram lengan bajunya, membuat Sehun langsung melepaskan pegangannya dengan gugup. Dia mundur selangkah dan menatap Jongin malu, "Aku tidak akan mengusirmu dari ranjangmu lagi." Jongin menaikkan satu alis dengan geli, "Jadi kau yang akan tidur di sofa?"
Sehun mengerutkan alisnya dan menatap Jongin, kemudian menyadari bahwa lelaki itu sedang bercanda. Jongin terkekeh, kemudian dengan gerakan lembut menghela Sehun agar masuk ke dalam pelukannya. Lelaki itu memeluknya lembut, mengecup puncak kepalanya dan meletakkan dagunya di sana.
"Kau istriku Sehun," suara Jongin berubah serak, "Aku tidak akan menyakitimu. Janganlah merasa takut ataupun gugup kepadaku. Pernikahan ini memang terlalu cepat, kuakui aku terlalu tergesa-gesa menyeretmu dalam hal ini. Aku minta maaf."
Jongin melakukan ini semua demi adiknya, Jinri. Sehun memejamkan matanya dan menempelkan pipinya di dada Jongin, merasakan kemeja lembut Jongin menyentuh lembut pipinya, mengalirkan panas dari kulit kecoklatan di balik kemeja itu. Dan dia melihat Jinri sangat bagagia setelah pernikahan tadi. Sungguh lelaki ini adalah lelaki yang sangat menyayangi adiknya.
"Aku berkesimpulan kau tidak menolak, kalau kita sama-sama tidur di ranjang itu." Sehun mendongakkan kepalanya, langsung berhadapan dengan mata Jongin yang tajam, menatapnya dengan lembut, "Ya."
Akhirnya Sehun berani memutuskan. Pernikahan ini memang tak terduga dan tak terencanakan olehnya. Tetapi seperti kata Jinri sebelum pernikahan tadi, dia beruntung menikahi Jongin, karena lelaki ini akan menjaga istrinya. Dan Sehun memutuskan, dia akan mencoba menjadi istri Jongin, sepenuhnya.
"Kalau kita sama-sama tidur di ranjang itu, kita tidak akan hanya tidur."
"Ya. Jongin."
"Aku akan menyentuhmu… Mungkin aku sudah pernah melakukannya malam itu, kita sama-sama tidak ingat… Tapi, kalau ternyata ini yang pertama untukmu, aku berjanji akan bersikap lembut."
"Ya Jongin."
"Sehun. Sehunku. Milikku."
Jongin mengerang menahan perasaannya, lalu disentuhnya dagu Sehun lembut untuk mendongakkan kepalanya, kemudian dikecupnya bibir Sehun, mengenalkan dirinya pelan-pelan. Lidahnya mendesak masuk kemudian, terasa panas dan menggoda, tanpa permisi menjelajahi seluruh bagian mulut Sehun, mencecapnya dan menggodanya, lidah itu lalu menemukan lidah Sehun yang lembut dan berjalinan di sana. Mulut Jongin melumat seluruh bagian bibir Sehun, seakan ingin menyerap semua rasa di dalamnya. Pelukannya mengencang, jemarinya menelusuri permukaan kedua lengan Sehun, bergerak naik turun dengan menggoda.
Ketika ciuman itu terlepas, napas mereka berdua sama-sama terengah-engah. Jongin kembali mengecup lembut bibir Sehun, lalu beralih ke pipinya, diberinya hadiah kecupan-kecupan kecil, kemudian ke telinganya, menghembus lembut di sana membuat Sehun memekik kegelian.
Jongin tersenyum. "Di sana titik sensitif seseorang biasanya berada." Lelaki itu lalu mengecup lembut telinga Sehun dan lidahnya dengan nakal mencicipi di sana. "Sehun, aku sangat menginginkanmu."
Dengan lembut diangkatnya Sehun dan dibaringkannya ke atas ranjang. Jongin melumat bibir Sehun lagi dan tubuhnya bergerak dengan lembut di atas Sehun. Jemarinya menyentuh pelan, menyentuh lembut bagian depan kemeja putih Sehun, membuat laki-laki itu terkesiap. Lalu dengan lembut tetapi cekatan, Jongin membuka kancing demi kancing kemeja Sehun, begitu pelan gerakannya, seolah ingin menyiksa dirinya sendiri, seperti seorang lelaki yang membuka hadiahnya dengan penuh antisipasi dan kemudian mengintip dengan hati-hati.
Kulit Sehun yang lembut dan indah terlihat sedikit demi sedikit, Jongin membuka seluruh kancing kemeja Sehun, dan menatap istrinya itu dengan penuh gairah. Sehun begitu menggairahkan, lelaki itu kini terbaring dengan baju terbuka, menampakkan kulitnya yang begitu menggoda. Jongin lalu membantu Sehun menurunkan celananya sampai ke lutut, kemudian sambil menciumi leher Sehun dan menjilatnya lembut, lelaki itu meraba-raba dada Sehun.
Napas Sehun makin terengah ketika Jongin menyentuh putingnya sambil lalu, mengusapnya dengan gerakan seolah tak sengaja, sehingga membuat puting itu mengeras, seakan ingin disentuh lagi. Sehun mengerang merasakan sensasi panas yang membakarnya di dadanya. Jongin masih menciumi lehernya, lalu bibir yang membara itu naik, melumat bibir Sehun dan berbisik di sana.
"Di mana kau ingin aku menyentuhmu sayang? Katakan padaku." Suaranya menjadi serak dan sensual, logat Spanyolnya tiba-tiba muncul mewarnai gairahnya yang begitu pekat. "Jongin…" Sehun mengerang, lalu memejamkan mata ketika Jongin menunduk dan mengecup putingnya, kemudian bibir Jongin lewat sambil menghembuskan napas panasnya sambil lalu di sana, membuat putingnya itu mengencang dengan kerasnya. "Jongin…" suara Sehun makin keras ketika Jongin mengulangi perbuatannya berkali-kali. Lelaki itu mengecupi seluruh bagian dadanya tetapi mengabaikan putingnya yang mendamba. Yang dilakukan Jongin hanyalah menghembuskan napasnya sambil lalu, menggoda Sehun, menyiksa Sehun. "Kau ingin aku menyentuhmu di situ sayang?" Jongin berbisik di sela-sela kecupannya. Menikmati ketika jemari Sehun tanpa sadar menyentuh rambutnya, mencoba mengarahkan putingnya ke bibir Jongin.
"Iya Jongin… iya… ohh..." Sehun mengerang seolah kesulitan bernapas. Putingnya begitu tegak dan panas, karena godaan-godaan Jongin, dia ingin lebih... dia ingin bibir Jongin yang panas melumat putingnya, menghisapnya dengan lembut... dia ingin…
Dan Jongin melakukannya. Bibirnya dengan lembut mengatup di puting dada Sehun, lalu lidahnya bergerak menggoda di dalam, begitu panas dan basah, memainkan puting Sehun dengan usapan-usapan lembut di dalam mulutnya. Sensasi rasanya membuat tubuh Sehun lemas, kedua jemarinya mencengkeram rambut Jongin, membuatnya acak-acakan, lelaki itu sekarang sudah menindih Sehun sepenuhnya, tubuhnya yang tinggi besar melingkupi tubuh rapuh Sehun. Jongin bertumpu pada kedua siku dan lututnya, dan menenggelamkan kepalanya di leher Sehun yang jenjang, mencumbunya dengan lidahnya, sementara tangannya dengan ahli memainkan puting Sehun, membuat Sehun mengeluarkan erangan-erangan gelisah atas sensasi yang baru pertama kali dirasakannya.
Setelah puas. Jongin mengangkat kepalanya dan mengecup ujung hidung Sehun yang terengah-engah, napas mereka berkabut oleh gairah yang pekat. Ketika Jongin menggeser tubuhnya, Sehun dapat merasakan penis Jongin yang sudah mengeras di sana, menggesek pahanya, begitu keras dan siap.
Jemari Jongin kembali menurunkan celana Sehun, membantu Sehun mengangkat tubuhnya sehingga celana itu akhirnya lepas seluruhnya, terlempar ke lantai, membuat Sehun terbaring telanjang di bawah tubuh Jongin yang masih berpakaian lengkap, hanya dengan celana dalam sutra hitam.
"Kau begitu indah Sehun." Bibir Jongin turun ke leher Sehun, mengecup lehernya dengan penuh gairah, lalu turun menelusuri dada Sehun, memberi hadiah kecupan lembut di kedua putingnya. Lelaki itu membungkuk dan mengecupi perut Sehun, membuat Sehun merasakan sensasi panas menjalari perutnya, menuju penisnya di bawah sana.
Kemudian lelaki itu menarik celana dalam Sehun turun, refleks Sehun langsung merapatkan kakinya dan menutupi penisnya dengan kedua tangan. Wajahnya merona sekarang. Tetapi Jongin menyingkirkan tangannya, mendongakkan kepalanya dan menatap Sehun dengan matanya yang berkilau penuh gairah.
"Jangan tutup dirimu dari suamimu." Suaranya berat dan penuh dominasi, "Aku ingin melihat seluruh tubuh istriku, aku ingin mencicipi seluruh tubuh istriku…"
Kata-kata Jongin membuat Sehun gemetar penuh gairah, dan terus gemetar ketika Jongin menurunkan celana dalam itu, melalui sebelah pahanya dan melepaskannya dari kakinya. Membiarkan celana dalam itu masih menggulung di pahanya yang lain. Jongin menggerakkan jemarinya dengan lembut, dan dengan gerakan sensual menurunkan celana dalam sutra itu pelan-pelan dari paha Sehun, sambil membiarkan jemarinya meraba paha Sehun, mengirimkan sinyal-sinyal gairah yang bagaikan sengatan listrik di sana. Ketika sampai di kaki Sehun, Jongin melepaskan celana dalam itu dari tubuh Sehun, lalu menatap keseluruhan tubuh Sehun yang telanjang bulat. Sehunnya... Telanjang bulat di bawahnya, dan siap dimiliki olehnya.
Kepala Jongin pening oleh gairah dan antisipasi ketika dia menggerakkan jemarinya lagi, pelan mengalun dari lutut Sehun, dan naik ke pahanya. Sampai kemudian menyentuh penis Sehun. Hanya sepersekian detik, menyentuh di sana. Dan tubuh Sehun terkesiap, berjingkat kaget oleh sengatan aneh yang menyengatnya seketika.
Jongin tersenyum. Sehun sangat sensitif dan juga siap untuknya. Jemarinya menggenggam penis Sehun, memainkannya lembut bergantian atas dan bawah, membuat Sehun setengah bangun, bingung atas sensasi yang mengalir deras di tubuhnya, sekaligus takut. "Jongin… aku… jangan sentuh di situ…"
"Sssshh… tenanglah sayang." Jongin menghela Sehun agar terbaring lagi, "Aku akan memberimu kenikmatan dari seluruh tubuhku, dari jemariku, dari bibirku…" Lelaki itu mendunduk, lalu mengecup penis Sehun dan menyesap ujungnya lembut. Membuat Sehun tersentak, mencoba merapatkan pahanya. Kaget atas keintiman luar biasa yang ditunjukkan Jongin kepadanya. "Jongin... jangan di situ… astaga... ohh Jongin…"
"Nanti, aku akan mengajarkanmu menyentuhku juga sayang, dengan jemarimu, dengan bibirmu…" Napas Jongin bagaikan uap panas di penis Sehun, membuatnya gemetar, "Sekarang, biarkan aku memberimu kenikmatan..." Mulut Jongin lalu melingkupi penisnya, bergerak menghisapnya, memberinya kenikmatan. Lidah Jongin terasa sepanas mulutnya yang membelainya dengan ahli, dengan penuh pemujaan.
Sehun terbaring di sana dengan kepala mendongak, dengan napas terengah dan terasa melayang akibat sensasi luar biasa nikmat yang menyelimuti tubuhnya, bersumber dari penisnya. Gerakan mulut dan lidah Jongin begitu ahlinya, membuat Sehun berkali-kali mengerang ketika Jongin dengan sengaja menggerakkan lidahnya memutar di kepala penisnya lalu menyesapnya kuat. Membuat Sehun seakan dibawa ke sebuah tepi pencapaian yang tidak diketahuinya.
Sehun memejamkan matanya. Dia sudah hampir sampai ke tepi itu. Digigitnya bibirnya, merasakan sensasi panas nan nikmat melanda dan menggetarkannya… Hendak membawanya ke suatu tempat yang tidak dia ketahui sebelumnya. Napasnya tersengal, jantungnya berdetak cepat, matanya terpejam menyerap kenikmatan itu, tetapi kemudian... Jongin berhenti.
Lelaki itu menghentikan cumbuannya di penis Sehun, membuat Sehun membuka matanya setengah memprotes. Tetapi senyum Jongin begitu sensual dan penuh rahasia, membuat Sehun bergetar karena gairah yang ditularkannya.
"Jangan. Kau harus menungguku, sayang. Kita akan mencapai puncak kenikmatan itu bersama-sama." Lelaki itu lalu menegakkan tubuh dan bertumpu pada lututnya yang mengangkang di atas tubuh telanjang Sehun, membuka kemejanya, memamerkan dada bidang telanjang dengan kulit perunggu keemasan yang berkilauan. Bagaikan sutra cokelat yang halus, dan panas, membungkus otot-otot tubuhnya yang kekar dan keras. Membuat Sehun merasakan dorongan luar biasa untuk menyentuhnya.
Jongin lalu setengah berdiri dan melepaskan celananya. Seluruh pakaiannya akhirnya terlempar ke lantai. Dan sekarang Sehun menatap seorang lelaki yang berlutut telanjang di atasnya, dengan tubuh yang luar biasa indahnya, dan penis yang telah mengeras dan siap untuknya. Jongin begitu indah dalam ketelanjangannya. Dan lelaki itu suaminya.
Ingatan akan kenyataan itu membuat benak Sehun dibanjiri oleh pemikiran-pemikiran sensual yang membuat pipinya memerah, pemikiran yang selama ini tidak pernah berani dipikirkannya. Jongin tersenyum lembut, lalu meraih jemari Sehun dan mengecupnya dalam kecupan basah dan sensual. "Maukah kau menyentuhku?"
Sehun menganggukkan kepalanya, dan lelaki itu membawa jemari Sehun ke penisnya yang keras dan siap untuknya. Sehun menyentuh kekerasan yang sehalus sutra itu dan membelainya. Membuat Jongin mengeluarkan erangan sedikit keras. Mendengar erangan itu, Sehun hendak menarik jemarinya, tetapi Jongin menahannya, "Jangan." Gumam Jongin tertahan, "Teruskan sayang, kenali aku."
Jemari lembut Sehun membelai kembali penis Jongin, membuat Jongin harus menggertakkan giginya, menahan erangannya. Sehun begitu kagum, karena ternyata apa yang tampak begitu keras bisa terasa begitu halus dan lembut. Dengan penuh ingin tahu, dia mengeksplorasi tubuh Jongin, mempelajarinya, mengenalinya. Sampai kemudian Jongin menggenggam tangan Sehun dan menahan jemarinya.
"Cukup. Kurasa aku akan meledak kalau kau meneruskannya." Dengan penuh gairah Jongin kembali menindih Sehun, posisi mereka sungguh pas. Yang dominan berpadu dengan submisifnya. "Buka pahamu, sayang." Jongin setengah membantu Sehun membuka pahanya dan membiarkan penis Jongin mendesak di antara paha Sehun, mendesak celah sempit di sana, membuatnya tersengal. Jongin lalu menggesekkan penis keduanya lembut, mengirimkan getaran listrik yang membuat tubuh Sehun membara.
"Kau sudah basah dan siap untukku." Jongin menyentuh Sehun dengan penisnya, merasakan betapa Sehun sudah begitu panas dan basah di bawahnya, "Izinkan aku memilikimu, sayang."
Lelaki itu bertumpu kepada kedua sikunya, dan mendorongkan pinggulnya. Menekan tubuh Sehun dengan begitu ahli. Tetapi halangan itu cukup kuat, sehingga Jongin harus menekan beberapa kali, mencari jalan untuk menyatukan tubuhnya ke dalam tubuh Sehun, menuntaskan kenikmatan ini. Dengan lembut, Jongin menggenggam penis Sehun, memanjakannya, berusaha memberi kenyamanan pada lelaki yang dicintainya itu. Pelan dan pasti penisnya mencoba masuk sedikit demi sedikit di bawah sana, dan kemudian, ketika menemukan titik itu Jongin mendorong tanpa peringatan menekan kuat dan memasuki tubuh Sehun.
Yang dirasakan Sehun kemudian adalah rasa sakit yang luar biasa, penis Jongin mendorong masuk ke dalam tubuhnya, dan dia terkejut akan kekuatan besar yang mencoba menyatukan diri dengannya. Sehun mengerang, mencoba mendorong tubuh lelaki itu menjauh karena kesakitan yang dirasakannya.
"Jangan dorong aku sayang. Rilekslah, terima aku…" Jongin berbisik pelan di telinga Sehun, tubuhnya mendorong lagi, dan ketika akhirnya dia berhasil, Jongin menekankan dirinya dalam-dalam dan menahan dirinya untuk tidak langsung bergerak, mengangkat kepalanya dan mengecup pipi Sehun lembut. Lelaki itu kesakitan selama proses itu, dan Jongin tidak bisa membantunya. Sekarang Jongin mengecupi Sehun lembut, sementara tangan Jongin memainkan penisnya, membantu Sehun agar terlepas dari kesakitan.
"Apakah masih terasa sakit?" Jongin mengusap air mata di sudut mata Sehun. "Kau ingin aku berhenti dulu?" Sehun tersentuh atas kelembutan Jongin. Dia menggelengkan kepalanya, sedikit mengerang karena permainan lelaki itu di penisnya.
Dengan lembut Jongin mulai menggerakkan tubuhnya, agak sakit bagi Sehun pada awalnya, merasakan sesuatu yang asing menggesek bagian tubuhnya yang begitu peka. Tetapi kemudian ritmenya mulai terasa. Setiap Jongin bergerak, Sehun mulai bisa menikmati gelenyar sensual yang terkirim dari analnya ke sekujur tubuhnya, termasuk penisnya yang kini luar biasa tegang. Membuatnya mengerang, sambil berpegangan pada tubuh Jongin yang kokoh.
Tubuh mereka berdua berkeringat, di atas ranjang berseprei putih yang sekarang sudah acak-acakan itu. Jongin menggerakkan tubuhnya di dalam tubuh Sehun, semula lembut dan hati-hati. Tetapi ketika merasakan tubuh Sehun mulai merespon dengan napas terangah dan erangan pelan, Jongin bergerak dengan penuh gairah, membawa mereka menuju puncak gairah masing-masing.
Ketika puncak itu hampir tiba, Jongin membimbing Sehun, membawanya lebih dulu mencapai orgasme yang luar biasa. Dan ketika erangan Sehun dalam pencapaiannya menandai orgasmenya, Jongin merasakan anal Sehun mencengkeram penisnya kuat di dalam, membuatnya tak tahan lagi, hingga kemudian meledak di dalam tubuh Sehun.
Kenikmatan itu begitu intens dan luar biasa, sehingga membuat tubuh mereka lemas. Jongin berbaring menindih tubuh Sehun, menahan dengan siku dan lututnya supaya tidak membebankan beratnya tubuhnya pada istrinya. Penisnya masih digerakkan dengan intens di dalam tubuh Sehun, mencegah benihnya yang begitu banyak, mengalir keluar.
Napas keduanya terengah-engah. Kepala Jongin masih dipenuhi kabut kenikmatan itu. Luar biasa rasanya bercinta dengan orang yang dicintai. Orgasmenya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jongin membuka matanya dan mengecup telinga Sehun yang ada di depannya, "Apakah aku memuaskanmu?"
Sehun masih berusaha menormalkan napasnya. Apakah Jongin memuaskannya? Tentu saja. Kalau benar ledakan luar biasa yang dirasakan tubuhnya dan menerbangkannya ke tingkat ke tujuh adalah sesuatu yang orang-orang sebut sebagai orgasme, berarti Jongin telah memberikan orgasme yang paling nikmat kepadanya. Sehun memang tidak punya perbandingan. Tetapi tubuhnya yang begitu terpuaskan itu tahu.
"Ya, Jongin…" Jongin tersenyum mesra dan mengecup Sehun lagi. Lalu mengangkat kepalanya, dan menarik tubuhnya yang masih tenggelam di dalam tubuh Sehun dengan hati-hati.
Sehun mengerang ketika merasakan rasa tidak nyaman yang menyakiti tubuhnya. Rasa sakit itu terasa, dan ketika orgasme mereka selesai mulai terasa sedikit nyeri. Jongin melepaskan dirinya, lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Sehun, dia menoleh dan menatap Sehun dengan senyuman bersalah, "Maaf. Sakit ya."
Sehun hanya menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba merasa malu. Mereka telah melakukan hal yang paling intim yang bisa dilakukan oleh sepasang suami istri, dan sekarang mereka telanjang bersama di atas ranjang. Tetapi tampaknya hal itu tidak mengganggu Jongin, lelaki itu termenung, memikirkan sesuatu.
"Aku belum pernah becinta dengan perjaka sebelumnya…" Jongin bergumam pelan, "Kau adalah perjaka pertamaku." Dan kau adalah lelaki pertamaku… Sehun menjawab dalam hati. Tiba-tiba merasakan kantuk luar biasa menyerangnya dan akhirnya jatuh terlelap di pelukan hangat Jongin.
Jongin yang merasa tidak ada respon dari Sehun, menengok ke bawah. Bibirnya langsung melengkungkan senyum lembut ketika melihat Sehun yang sudah tertidur. Dikecupnya bibir Sehun lembut, lalu dibetulkannya posisi tidur Sehun agar istrinya itu merasa nyaman. Didekapnya laki-laki itu erat, dan sekali lagi dikecupnya bibir ranum itu dengan penuh keposesifan. "Selamat malam... cintaku..."
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
.
Kimoy's Note
.
.
.
.
.
.
Thanks to :
mamasehun1214; Rilakkuma8894; Kim Sekyung; KaiHunnieEXO;
ohxoho; sayakanoicinoe; Kim Sohyun; RiRi639; chikenbubbletea; ;
rytyatriaa; kjinftosh; ; Kimoh1412; Icha; sehunskai; Lovekaihun;
Lauren Choi; jiraniatriana; GGel; love kaihun.
.
.
.
.
.
.
NC muncul NC muncul XD gimana? di sini udah banyak belum momen kaihun nya XD di chapter kemarin
banyak yang bilang momen kaihun nya kurang tapi sekarang udah puas kan? Ditambah lagi sekarang mereka
udah married dan melaksanakan malam pertama/? Huehuehue akhirnya penantian jongin untuk mengikat sehun/? berakhir XD Di sini akhirnya
jongin menikah sama sehun terus sehunnya udah mau mulai buka hati sama dia ughhh so sweet... :')
Tapi masih nyesek gimana gitu soalnya jongin masih belum jujur sama sehun... :'(
Nahh, gara-gara ini banyak yang sebel sama jongin :'( Tenang jong ntar kita bikin readers terpesona
sama kamu di chapter depan XD Buat... maaf karena di chapter kemarin nama kamu ga saya cantumin di daftar terima kasih :(
maafkan saya yang terburu-buru jadi ga ngecek ulang dan langsung update :')
Pokoknya thaaaanks a lot buat yang udah review^^ untuk chapter depan saya akan usahakan update cepet
biar kalian ga penasaran hohoho okay... see you in next chapter!
