Unforgiven Hero
.
.
.
.
.
.
Remake from "Unforgiven Hero" By Santhy Agatha
Cast : Jongin, Sehun, and others
Rate M
Warning for typos and lots of sexual content
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Chapter Seven
.
.
.
.
.
.
Preview Chapter Six
Sehun mengerang ketika merasakan rasa tidak nyaman yang menyakiti tubuhnya. Rasa sakit itu terasa, dan ketika orgasme mereka selesai mulai terasa sedikit nyeri. Jongin melepaskan dirinya, lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Sehun, dia menoleh dan menatap Sehun dengan senyuman bersalah, "Maaf. Sakit ya."
Sehun hanya menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba merasa malu. Mereka telah melakukan hal yang paling intim yang bisa dilakukan oleh sepasang suami istri, dan sekarang mereka telanjang bersama di atas ranjang. Tetapi tampaknya hal itu tidak mengganggu Jongin, lelaki itu termenung, memikirkan sesuatu.
"Aku belum pernah becinta dengan perjaka sebelumnya…" Jongin bergumam pelan, "Kau adalah perjaka pertamaku." Dan kau adalah lelaki pertamaku… Sehun menjawab dalam hati. Tiba-tiba merasakan kantuk luar biasa menyerangnya dan akhirnya jatuh terlelap di pelukan hangat Jongin.
Jongin yang merasa tidak ada respon dari Sehun, menengok ke bawah. Bibirnya langsung melengkungkan senyum lembut ketika melihat Sehun yang sudah tertidur. Dikecupnya bibir Sehun lembut, lalu dibetulkannya posisi tidur Sehun agar istrinya itu merasa nyaman. Didekapnya laki-laki itu erat, dan sekali lagi dikecupnya bibir ranum itu dengan penuh keposesifan. "Selamat malam... cintaku..."
.
.
.
Jinri baru sampai dari penerbangannya menghadiri pernikahan Jongin dan Sehun. Dia langsung menuju ke kantor. Kakaknya itu menyerahkan seluruh kendali perusahaan di tangannya selama dia pergi. Ya, Jongin mendirikan perusahaan ini dari awal, dengan kerja keras dan kejeniusannya sehingga perusahaan ini menjadi begitu besar dan menjadi tempat bergantung ratusan pegawainya. Semuanya untuk mendapatkan Sehun. Dan sekarang, setelah lelaki itu sudah mendapatkan sang pujaan hati, tentu Jongin berhak mendapatkan libur dan menikmati kebersamaannya dengan Sehun. Jinri tidak keberatan menggantikan tugas-tugas Jongin sementara waktu.
Ponsel di dalam tasnya berdering ketika dia hendak melangkah menuju ruang kerja Jongin, dia lalu berhenti di lorong dan mengangkat ponselnya. Ibunya yang menelepon dari Spanyol. "Jadi?" Sang ibu langsung saja menembak, tanpa basa-basi. "Kakakmu akhirnya menikahi Sehun?"
"Ya." Jinri mendesah, "Maafkan aku bu, aku sudah membujuknya untuk memberitahu masalah pernikahan ini pada ibu. Tetapi dia menolaknya karena takut ibu akan bergegas datang lalu menghadiri pernikahannya, dan merusak semuanya ketika Sehun akhirnya mengenali ibu."
"Aku memang sangat ingin datang ke pernikahan Jongin, tetapi aku cukup mengerti untuk tidak merusak rencananya." Suara Nyonya Kim, wanita Spanyol yang menjadi ibu Jongin dan JInri itu melembut, "Apakah dia bahagia?"
"Dia jatuh cinta kepada Sehun. Dia bahagia." Jinri tersenyum, "Semoga saja peristiwa kecelakaan di masa lalu itu tidak merusak kebahagiaan mereka," Jinri merenung. "Kalau kita bisa menyimpan kebenaran tentang kecelakaan itu agar tidak sampai di telinga Sehun, aku pikir mereka akan menjadi pasangan yang sangat cocok."
"Ibu setuju. Karena laki-laki bernama Sehun itu, dialah yang mengubah Jongin kita menjadi lebih baik." Sang ibu mendesah, "Yah. Mungkin ibu harus bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk berterimakasih kepada Sehun."
"Pasti akan ada waktunya bu, waktu telah mengubah wajah kita, aku berharap Sehun tidak ingat kalau dia pernah bertemu ibu setelah kejadian kecelakaan itu."
.
.
.
Di sudut lain lorong itu, Tao berdiri dalam kegelapan. Dia tadi hendak berjalan menuju lift ketika suara Jinri, adik Jongin, bercakap-cakap di telepon menarik perhatiannya. Tao langsung berdiri di sudut lorong, di sebelah pot tanaman berukuran besar yang cukup menutupinya sehingga tidak terlihat oleh Jinri.
Dia mendengar percakapan itu dengan cukup jelas. Jongin dan Sehun dikabarkan pergi ke Pulau Dewata untuk pertemuan bisnis. Tetapi Tao curiga ada sesuatu yang lebih, dan ternyata kecurigaannya terbukti. Dari percakapan telepon Jinri itu dia bisa menyimpulkan bahwa Jongin dan Sehun telah menikah.
Dadanya serasa diremas. Penuh oleh sakit hati. Dia benar-benar mencintai Sehun. Laki-laki itu begitu polos dan mengembalikan apa yang dulu tidak dipercayainya. Cinta. Tao dulu tidak percaya cinta dan menghabiskan hidupnya sebagai playboy yang suka berganti-ganti kekasih, dan berhubungan seks tanpa ikatan. Lagipula dia lelaki yang cukup tampan dengan penghasilan lumayan sehingga banyak yang takluk kepadanya. Tetapi baginya Sehun berbeda, kepolosan lelaki itu membuatnya merasa disadarkan.
Akan tetapi, baru saja dia ingin ke jalan yang baik, mencintai Sehun sepenuh hati. Semuanya dihancurkan begitu saja oleh sesuatu yang licik, sesuatu yang menjebaknya dan menghancurkan nama baiknya di depan Sehun.
Tao akan membuat nama baiknya kembali. Dia bertekad. Tadi dia mendengar sesuatu tentang 'kecelakaan di masa lalu' yang disebut-sebut dalam percakapan Jinri. Apapun peristiwa kecelakaan itu, sepertinya merupakan hal yang penting karena mereka seperti ketakutan kalau Sehun mengetahuinya. Dan Tao akan mencari tahu. Kalau itu bisa mengembalikan lagi Sehun kepadanya. Dia akan berusaha.
.
.
.
"Selamat pagi." Jongin menyapa lembut ketika Sehun membuka matanya, sudah hampir setengah jam yang lalu Jongin terbangun, tetapi tidak bergerak dari ranjang. Dia berbaring miring di sana, bertumpu pada sikunya dan memandang Sehun yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Jongin suka memandangi Sehun, dia bisa melakukannya berjam-jam tanpa bosan. Dan kesadaran bahwa sekarang dia bisa melakukan itu sebagai suami Sehun, membuatnya bahagia.
Sehun mengerjapkan matanya. Butuh beberapa lama sampai dia menyadari berada di mana dan apa yang terjadi. Ingatan tentang malam pertama kemarin membanjirinya, dan membuatnya merona malu. Jongin sendiri tampak tidak peduli, lelaki itu menelusurkan jemarinya ke sepanjang pinggul Sehun dengan menggoda.
"Apakah tidurmu nyenyak?" Jongin menatap Sehun dengan mesra, membuat Sehun kehabisan kata dan hanya bisa menganggukkan kepalanya. Jemari Jongin menelusur makin berani, menyentuh anal Sehun yang tersembunyi di antara lipatan bokongnya. "Di sini masih sakit?" Jongin mengusapnya lembut, penuh perasaan, membuat pipi Sehun semakin memerah.
"Ah, Sehunku yang lugu… maafkan aku karena harus menyakitimu." Napas Jongin agak terengah dan karena mereka berdua telanjang bulat, Sehun bisa melihat betapa penis Jongin telah menegang keras lagi. Tetapi lelaki itu tampak menahan diri, dia mengikuti arah pandangan Sehun dan tersenyum.
"Seperti yang selalu kubilang, aku selalu mengeras kalau bersamamu, karena kau membuatku begitu bergairah…" Jongin mengelus pipi Sehun dengan lembut, "Tapi hari ini kita akan menghormati hilangnya keperjakaanmu dengan tidak menyentuhmu dulu."
Sehun tersenyum, hatinya terasa hangat menerima kelembutan Jongin ini. Lelaki ini tampak bersungguh-sungguh dengan perkataannya, dan sejak pernikahan mereka, dia selalu diperlakukan dengan hormat dan penuh kasih. "Terima kasih, Jongin."
"Sama-sama isteriku." Jongin mengecup ujung hidung Sehun dengan lembut, "Oh ya… mengenai pulau yang diceritakan Jinri pada saat acara makan setelah pernikahan kemarin… Maafkan aku tidak membicarakan sebelumnya denganmu, sebenarnya itu akan menjadi kejutan bulan madu kita."
"Kejutan lagi." Sehun menggumam tanpa sadar menatap Jongin dengan pandangan menuduh. Jongin terkekeh, menarik Sehun ke dalam pelukannya. Tubuh mereka telanjang, hangat, bahagia, dan terpuaskan karena percintaan mereka semalam. Jongin memang ereksi tetapi dia tidak peduli. Yang utama bukanlah memuaskan hasratnya kepada Sehun, yang utama adalah berada di dekat Sehun, berdua dan bahagia.
"Pulau itu sangat indah, aku mewarisinya dari ayahku, penduduknya beberapa bekerja kepadaku… kita bisa menikmati waktu berdua di sana, saling mengenal lebih dalam." Tatapan Jongin menjadi intens, "Aku yakin, kalau kita saling mengenal lebih dalam, kita akan menyadari bahwa kita adalah pasangan yang cocok."
Pasangan yang cocok. Mungkinkah? Dia hanya lelaki biasa yang hidupnya serba biasa-biasa saja, dengan Jongin yang semua yang ada pada dirinya begitu luar biasa. Sehun melirik ke arah penis Jongin, bahkan 'itu'nya pun luar biasa. Pipi Sehun lagi-lagi memerah karena pemikiran spontannya itu.
.
.
.
Perahu boat membawa mereka mendarat ke anjungan pulau itu. Beberapa orang tampak sudah bersiap menunggu di sana. Jongin membantu Sehun turun dari kapal dan menggendongnya ketika mereka harus melalui bagian laut yang dangkal sebelum melangkah ke arah pantai berpasir yang luar biasa indahnya. Membuat Sehun tersentak kaget dan pipinya lagi-lagi merona akibat perlakuan Jongin.
Pulau itu sendiri benar-benar surga pantai tropis yang luar biasa. Warna pasirnya sedikit gelap, tetapi lembut, membuat Sehun tanpa pikir panjang melepas sepatunya dan memilih bertelanjang kaki. Udara pantai yang sejuk meniup rambutnya hingga melambai-lambai di pipinya. Beberapa orang yang sudah menunggu di sana langsung membantu meminggirkan boat dan mengangkat koper-koper mereka.
Seorang lelaki tua berpakaian resmi menyalami mereka dan tersenyum lebar, "Selamat datang Tuan Jongin, senang sekali anda akhirnya bisa berlibur dan pulang kemari." Disalaminya Jongin dengan bersemangat. Lalu tatapannya beralih ke Sehun dan dia tersenyum memuji, "Dan ini pasti Nyonya Sehun yang menawan. Selamat datang di pulau kami. Semoga anda menyukainya."
Jongin tertawa, geli ketika melihat Sehun yang ingin protes karena dipanggil dengan sebutan 'nyonya'. Dia kemudian berdeham, menepuk pundak lelaki tua itu dan tersenyum lebar ke arah Sehun, "Ini Pak Made. Dia adalah pengurus rumahku di sini."
"Rumah anda sudah disiapkan. Para pelayan sudah merapikan kamar anda hingga tampak seperti tidak pernah ditinggalkan. Dan Shin pasti sangat senang karena dia bisa memasak masakan-masakan luar biasa lagi untuk tuan dan nyonya. Mari, kita ke rumah utama." Pak Made melangkah mendahului mereka ke arah jalan setapak berbatu dengan pohon kelapa yang ditata eksotis di kiri dan kanannya.
Pemandangan rumah Jongin sangat luar biasa. Rumah itu berdiri tegak menjulang di atas bukit tertinggi di tepi pantai. Bagian belakangnya menyambung khusus ke sisi pantai tersendiri yang dipagari, sebuah pantai pribadi. Cat rumahnya putih bersih, sangat cocok dengan pemandangan birunya laut dan hijaunya pohon kelapa yang mendominasi pulau. Gordennya melambai-lambai di jendela besar bergaya barat di bagian depan rumah.
"Rumah ini peninggalan kolonial belanda jaman penjajahan dulu. Ayahku membeli sebagian tanah di pulau ini, hampir 60% tanah di sini adalah milik ayah, dipakai untuk perkebunan rempah-rempah dan area rumah ini, Sisanya adalah perumahan penduduk. Rumah ini sudah direstorasi sepenuhnya oleh ayahku. Dia memang suka dengan segala sesuatu yang berbau kuno." Jongin tersenyum kepada Sehun dan mengedipkan matanya, "Tetapi jangan khawatir, meskipun rumah ini rumah kuno, tidak akan ada hantunya… yah... mungkin kalau kau melihat penampakan wanita-wanita bergaun lebar jaman pertengahan abaikan saja…"
"Jongin." Sehun bergumam mengingatkan agar Jongin jangan menakut-nakuti dirinya dengan cerita-cerita hantu, meskipun kemudian tersenyum karena tahu Jongin sedang berusaha menggodanya. Jongin benar. Suasana rumah ini, pulau ini sangat menyenangkan. Sehun tiba-tiba saja merasa begitu ceria dan bahagia. Tidak pernah disangkanya dia akan mengalami ini semua, bersama Jongin pula.
Keharuman aroma kue yang baru dipanggang langsung menyambut mereka ketika memasuki ruang tamu luas dengan nuansa putih dan cokelat yang berpadu indah. Jongin menghirupnya dan tersenyum, "Itu pasti kue kelapa panggang buatan Paman Shin."
Jongin melirik ke arah pintu besar yang sepertinya mengarah ke lorong menuju dapur, "Paman Shin adalah koki tua setia ayah, yang ketika diajak ke sini oleh ayah, jatuh cinta dengan seorang wanita di pulau ini. Jatuh cinta dengan kehidupan di pulau ini, dan memilih menghabiskan masa pensiunnya di sini. Kau akan menyukai kue kelapa panggang yang dia buat, dan masakan-masakan lainnya yang spektakuler."
Dari aromanya saja sudah begitu menjanjikan, Sehun tersenyum. Jongin tampak berbeda, tampak begitu lepas dan bahagia di pulau ini. Dia tampak tanpa beban. Dan Sehun entah kenapa senang melihat lelaki itu tampak begitu ceria.
Dengan lembut Jongin menggandeng tangan Sehun melangkah menuju dapur. Mengenalkannya dengan Paman Shin yang sedang memanggang roti di sana. Paman Shin, lelaki paruh baya berusia enam puluh tahun tetapi masih tampak bugar, wajahnya tampak dingin. Tapi Sehun dapat melihat sinar hangat di matanya ketika memeluk Jongin dan Sehun bersamaan dengan lengannya yang besar dan mengucapkan selamat datang kepada mereka.
.
.
.
Ponsel Sehun berdering ketika dia sedang menata pakaian-pakaian mereka di lemari di sebuah kamar indah yang terletak di lantai dua rumah ini. Kamar ini memiliki balkon dengan anjungan yang menjorok ke pantai. Kalau kita berdiri di ujung balkon itu, kita akan bisa melihat pemandangan luas tanpa batas langit dan laut yang berwarna biru berpadu dipisahkan oleh garis cakrawala yang menakjubkan. Sementara di bawah ombak tampak indah bergulung-gulung, seolah-olah memanggil-manggil untuk berenang.
Sehun membiarkan pintu kaca besar yang membatasi kamar mereka dengan balkon membuka sehingga udara laut yang sejuk dan kering bisa mengaliri kamar. Dengan setengah melompat, Sehun menuju meja di samping tempat tidur besar, tempat ponselnya diletakkan. Ada nama Yuri di sana. Diangkatnya panggilan itu.
"Halo Yuri… aku harap kau sehat-sehat saja."
"Aku sehat-sehat saja Sehun." Suara Yuri terdengar ceria dan haru dari seberang sana, "Aku mau mengabarkan bahwa aku sudah melahirkan putri kecilku semalam, dia sangat sehat dan gemuk."
"Ah, selamat Yuri… maafkan aku, aku benar-benar lupa…" Semua peristiwa yang dialaminya dengan Jongin membuatnya lupa menelepon Yuri untuk menanyakan kondisi kehamilannya, "Aku ingin sekali menengok putri kecilmu itu."
"Aku mengerti Sehun sayang, tidak apa-apa kok. Dan aku menelponmu untuk mengucapkan selamat juga." Sehun bisa merasakan Yuri mengedipkan matanya nakal di sana sana. "Teman-teman kantor datang untuk menengokku di rumah sakit, dan ternyata gosip bahwa kau dinikahi oleh Presdir kita dan dibawa kabur ke pulau pribadinya menyebar cepat di sini. Benarkah itu Sehun? Wow kau bahkan tidak menunjukkan ketertarikan kepada Presdir Kim dan tiba-tiba saja 'boom' kalian saling jatuh cinta dan menikah? Lalu bagaimana dengan Tao?" Yuri langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
Sehun tertawa, lalu dengan singkat menjelaskan insiden yang dialaminya bersama Tao. Sejenak dia ragu menjelaskan alasan mengapa mereka menikah. Dan memutuskan tidak menjelaskannya kepada Yuri.
"Yah begitu saja. Aku sangat kecewa dengan Tao. Dan kebetulan Presdir Kim sangat baik… jadi tiba-tiba saja kami sudah menikah." Yuri tergelak di seberang sana, "Mungkin itulah yang disebut kemauan Tuhan. Kita sudah berencana dengan yang lain, tiba-tiba Tuhan memberikan jalan untuk bersatu dengan orang yang selama ini tidak pernah kita duga. Meskipun kabar ini masih membuatku shock, tetapi aku menyadari bahwa kalian adalah pasangan yang cocok. Semoga berbahagia Sehun, telpon aku kalau kau kesepian di pulau pribadi itu." Suara Yuri yang terdengar ceria membuat Sehun tertawa geli, "Pasti, Yuri. Dan segera setelah aku pulang nanti, aku akan langsung menengokmu dan putri kecilmu."
"Janjimu kupegang." Yuri tertawa cerita, "Selamat menikmati bulan madumu Sehun."
Sehun masih tersenyum ketika menutup ponselnya. Bulan madu. Kini dia dan Jongin pasangan pengantin baru. Jongin sedang pergi dengan Pak Made untuk menengok perkebunan, katanya dia akan kembali sebentar lagi.
.
.
.
Ketika kembali, Jongin langsung menggandeng Sehun dan mengajaknya ke pantai pribadinya. "Kau akan senang melihat bagian pantai yang ini." Jongin mengajak Sehun menuruni tangga putih melingkar yang ternyata ada di bawah balkon mereka, dan mereka pun turun di sebuah anjungan pantai pribadi yang dikelilingi tembok dan tanaman untuk menjaga privasi.
"Aku sering berbaring di pantai, dan merenung di sini sendirian, tidak ada yang bisa melihat kita dari sini. Satu-satunya akses adalah dari tangga di balkon kamar kita. Dan tidak ada yang berani kemari kalau tidak kuperintahkan." Jongin mengedipkan matanya pada Sehun, "Di sini benar-benar privasi untuk kita."
Pipi Sehun memerah menyadari arti di balik kata-kata Jongin itu. Privasi untuk mereka… apakah privasi untuk bercinta? Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran aneh di benaknya. Jongin beserta aura sensualnya sepertinya telah mempengaruhi Sehun sedemikian rupa.
Lelaki itu menggandeng Sehun ke sisi pantai yang sejuk di bawah tanaman palem dan kelapa. Tempat mereka rupanya telah disiapkan, ada sebuah gazebo kecil yang nyaman di sana, beralaskan karpet lembut berwarna cokelat muda dan bantal-bantal hitam eksotis yang berserakan di sana. Gazebo itu berhiaskan tirai-tirai putih yang menjuntai, tampak begitu indah tertiup angin pantai. Satu sisi gazebo itu terbuka, langsung mengarah ke pemandangan pantai nan luas dan indah dengan warna langit yang mulai jingga, pertanda matahari hampir tenggelam. Lampu kecil di pilar gazebo menyala dengan sinar kuning yang hangat, seakan disiapkan untuk pasangan yang akan melalui malam sambil menatap bintang-bintang di langit.
Jongin mengajak Sehun ke gazebo dan duduk di karpetnya yang empuk, bahkan makanan pun sudah disiapkan di sana, seperti magic. Kue-kue kecil yang menggiurkan tersaji di nampan perak yang berkilauan. Dan dua botol anggur disiapkan di ember perak kecil yang berisi es, serta dua gelas minuman dingin berwarna orange segar. Ini benar-benar tempat yang menyenangkan untuk duduk sambil memandang matahari tenggelam. Jongin merangkul Sehun, dan mereka termenung menatap ke arah matahari tenggelam dalam keheningan. Menyaksikan cakrawala perlahan menelan bulatan yang bersinar orange kemerahan itu. Hingga akhirnya hanya menyisakan seberkas cahaya jingga.
Suasananya begitu sakral dan intim hingga Sehun takut merusaknya. Dia melirik ke arah Jongin, dan melihat siluet lelaki itu. Jongin benar-benar tampan, dan lelaki itu adalah suaminya. Sehun merasakan perasaan hangat membanjirinya. Dia merasa begitu dekat dengan Jongin, seakan sudah mengenal lama, seakan Jongin mengerti apapun yang dia inginkan. Mungkin mereka memang ditakdirkan bersama.
"Sehun." Suara Jongin terdengar serak, dan dari jarak dekat, di bawah sorot lampu temaram, Sehun bisa melihat mata Jongin memancarkan gairah, "Kau sudah bisa…?"
Ah. Lelaki ini begitu sopan, begitu baik, dan perhatian. Bahkan dalam gairahnya Jongin sempat menanyakan kesiapan tubuh Sehun untuk bercinta. Sehun sungguh dibuat tersenyum karenanya. Dia tidak berkata apa-apa, hanya menatap Jongin penuh arti.
Jongin membalas senyum itu, lalu dengan perlahan menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Sehun lembut. Sehun membalas kecupan itu. Membiarkan Jongin merasakan kelembutan bibirnya. Lelaki itu lalu melepas ciumannya dan mereka bertatapan. Senyum Jongin malam itu tidak akan pernah Sehun lupakan, senyum itu begitu lembut, begitu penuh haru, dan entah kenapa membuat dada Sehun terasa sesak oleh suatu perasaan yang tidak dapat digambarkannya.
Jemari Sehun bergerak ragu dan menyentuh pipi Jongin, lelaki itu menempelkan pipinya di sana dan memejamkan matanya, jarinya meraih jari Sehun dan mengarahkannya ke bibirnya. Jongin lalu mengecup telapak tangan Sehun dengan lembut. Mereka bertatapan dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh satu sama lain, dan kemudian bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman lembut.
Kali ini ada yang berbeda. Kali ini ada rasa sayang dalam ciuman ini. Ada perasaan lembut yang mengembang dalam pagutan bibir mereka. Jongin melumat bibir Sehun, mencecap seluruh rasa bibirnya, seakan tidak pernah puas. Tangannya menyentuh pinggul Sehun, dengan gerakan ahli melepas celana pendek Sehun, menurunkannya, dan membiarkannya menggantung di salah satu paha Sehun. Lelaki itu lalu membuka kancing celananya dan menurunkan ristletingnya, penisnya sudah berdiri tegak, menunjukkan betapa bergairahnya dia kepada Sehun.
"Naiklah ke atasku, sayang." Suara Jongin bagaikan perintah mistis yang membuat tubuh Sehun dibanjiri oleh dorongan sensual yang aneh. Dengan hati-hati Sehun naik ke pangkuan Jongin. Lelaki itu membimbingnya untuk menyatukan tubuh mereka perlahan, karena hal ini masih baru bagi Sehun. Ketika tubuh mereka menyatu sepenuhnya, Jongin menghela napas pendek-pendek, begitupun Sehun, yang masih tidak percaya dia melakukan hal seberani ini bersama seorang lelaki.
Tangan Jongin yang kuat dan kokoh merangkum pinggulnya dengan lembut dan membimbingnya untuk bergerak, "Bergeraklah sayang, puaskan dirimu dengan tubuhku…" bisik Jongin parau.
Dan Sehun bergerak, senang mendapati bahwa setiap gerakannya membuat Jongin menggeram penuh gairah. Dia bergerak dengan sensual, didorong oleh gairah alaminya dengan bantuan Jongin.
Mereka becinta sambil berhadapan, dengan posisi setengah duduk. Sesekali penis Sehun tergesek oleh perut kekar Jongin, membuatnya mengejang dan mengerang nikmat. Sedangkan Jongin sendiri dibuat frustasi karena Sehun begitu ketat menjepitnya di dalam sana, tak membiarkannya bernapas dengan benar barang sedetik pun. Percintaan itu begitu intens karena mereka bisa menatap mata masing-masing. Melihat betapa nikmatnya gerakan mereka bagi satu sama lain. Ketika tubuh Sehun lelah, Jongin menopangnya, meletakkan kepala Sehun di pundaknya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
Dengan gerakan mulus, Jongin mendorong tubuh Sehun berbaring di karpet yang lembut tanpa melepaskan tubuh mereka yang bertaut penuh gairah. Ditindihnya Sehun dengan pelan tetapi sensual, diciumnya bibir Sehun lembut. Tubuhnya bergerak dan menggoda Sehun untuk mengikutinya terjun ke jurang kenikmatan yang dalam.
"Lingkarkan kakimu di pinggangku." Bisik Jongin serak, "Rasakan aku lebih dalam… ahh sayang, kau mencengkeramku dengan begitu kuat…"
Lelaki itu mendorong masuk semakin dalam, menggoda Sehun ketika melakukan gerakan seakan ingin melepaskan diri, tetapi kemudian mendorong lagi makin dalam tepat di titik yang membuat Sehun serasa diawang-awang. Mereka larut dalam pusaran gairah, sampai kemudian Sehun melambung tinggi ketika mencapai orgasmenya. Orgasme yang luar biasa, sambil mendongakkan kepala menatap langit penuh bintang, dalam pelukan suaminya yang luar biasa tampan. Jongin menyusul orgasmenya, dengan erangan tertahan dan semburan hangat di dalam sana.
Dengan lembut Jongin menarik diri, lalu menempatkan dirinya dengan nyaman di sebelah Sehun dan menarik tubuh Sehun terbaring di lengannya, memeluknya lembut dari belakang. Kepala Sehun ada di antara lekukan lengan dan lehernya. Jongin menundukkan kepalanya, dan membisikkan napas panasnya pelan, di telinga Sehun. "Aku mencintaimu Sehun." Suara Jongin serak dan penuh perasaan. "Aku mencintaimu."
Sehun memejamkan matanya. Mengira dia sedang berada di sebuah mimpi eksotis bersama pangeran tampan di sebuah pulau terpencil.
.
.
.
Mereka terbangun dari tidur mereka, dan Jongin mengajak Sehun masuk karena udara mulai dingin dan angin malam bertiup kencang.
"Aku ingin semalaman di sana menatap bintang. Tetapi kita akan terbangun dengan kepala pusing." Jongin tersenyum lembut kepada Sehun, dan menggandeng jemarinya, melangkah menaiki tangga putih itu. Mereka sampai di kamar, dan tiba-tiba Jongin memeluk Sehun erat-erat di tengah-tengah kamar, "Apakah kau mendengar pernyataan cintaku tadi?" bisiknya lembut.
Sehun menganggukkan kepalanya, dalam diam. Jongin mendesah dan mengecup puncak kepala Sehun, lalu melingkarkan lengannya makin erat di seluruh tubuh Sehun, "Aku bersungguh-sungguh Sehun, Pernyataan cintaku itu bukan euphoria dari orgasme yang begitu nikmatnya. Meskipun harus kuakui orgasme yang tadi luar biasa nikmatnya." Jongin tersenyum lembut, "Semoga nanti kau bisa membalas perasaanku."
Sehun pasti bisa. Kalau Jongin terus menyerangnya dengan sifat lembut dan penuh perhatiannya seperti ini. Bagaimana Sehun bisa bertahan? Dia pasti akan dengan segera jatuh ke dalam pesona Kim Jongin.
"Dan apapun yang terjadi nanti. Apapun yang akan terpapar di hadapanmu nanti, bagaimanapun buruknya nanti. Ingatlah malam ini, malam di saat aku mengatakan bahwa aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku." Apa maksud kata-kata Jongin? Sehun merenung ketika lelaki itu memeluknya erat.
.
.
.
Laki-laki itu sangat cantik bagaikan boneka Barbie. Kakinya panjang dan jenjang, dipamerkan dengan indahnya karena dia mengenakan celana super ketat, membungkus bokongnya yang bergoyang indah ketika dia sedang berjalan. Bagian atas tubuhnya lebih bagus lagi. Badannya mungil namun berisi dengan dada yang tak terlalu bidang, membuat semua lelaki yang berpapasan dengannya pasti menoleh dua kali untuk memastikan apa dia memang lelaki atau bukan. Rambutnya juga indah. Berwarna cokelat kemerahan, sedikit panjang menjuntai di bawah telinga dan tebal, hasil dari penata rambut terkenal. Jemari lentiknya menjepit batang rokok, mengarahkan ke bibir ranumnya dengan warna peach menggoda. Menghembuskan asap dengan elegan.
Laki-laki yang sedang duduk sendirian di balkon rumahnya itu adalah Xi Luhan. Seorang pengusaha mandiri, dengan beberapa anak perusahaan di bidang desain interior yang sangat sukses. Xi Luhan adalah lelaki bebas dan mandiri dengan aura yang sangat menggoda. Dan sekarang dia sedang gundah. Ditatapnya Minseok, asisten pribadinya dengan tatapan tajam. "Kau yakin informasi yang kau dapatkan itu benar?"
Minseok menganggukkan kepalanya dengan gugup. Dia telah bekerja bertahun-tahun dengan Luhan, tetapi entah kenapa aura mengintimidasi Luhan selalu membuatnya gugup. Lelaki itu mengingatkannya akan medusa, wanita cantik yang dengan tatapannya bisa mengubah siapapun yang berani membalas tatapannya menjadi batu.
"Itu info yang saya dapat dari orang di perusahaan Tuan Jongin. Mereka mengatakan Tuan Jongin menikahi asistennya, Sehun, dalam pernikahan buru-buru di Pulau Dewata, dan sekarang sedang menghabiskan bulan madunya di pulau pribadinya."
Luhan menghembuskan asap rokoknya dengan kesal. "Pernikahan buru-buru dan rahasia eh?" Senyumnya sangat sinis. "Aku ragu kalau Jongin mengingat untuk memberikan undangan kepadaku. Harus kuakui aku sedikit sakit hati mengetahui dia dengan mudahnya melupakanku dan menikahi lelaki itu. Kau dapat fotonya?"
Minseok menyerahkan foto yang dia dapat kepada Luhan. Luhan menerima foto itu, dan meletakkannya di meja. "Baiklah, kau boleh pergi Minseok."
Sepeninggal Minseok, Luhan mengambil foto itu. Sebuah foto entah darimana yang bergambarkan Jongin sedang berjalan dengan laki-laki yang kata Minseok tadi bernama Sehun. Sehun, betapa bencinya Luhan dengan nama itu. Itu adalah nama lelaki yang membuat Luhan merasa muak. Diingatnya malam-malam menyakitkan ketika dia bercinta dengan Jongin, dan Jongin memanfaatkannya dengan memanggilnya sebagai 'Sehun', membayangkan sedang bercinta dengan 'Sehun' meskipun saat itu dia sedang bercinta dengan Luhan.
Jongin tidak bersalah, Luhan memang sengaja membuat dirinya tampak tidak terlalu ingin menjalin hubungan yang mengikat. Karena dia tahu, kalau dia kelihatan ingin mengikat Jongin, kalau kelihatan setitik saja perasaannya kepada lelaki itu, maka Jongin akan langsung meninggalkannya. Lelaki itu menutup hatinya, dan akan langsung menjauhi siapapun yang memiliki perasaan lebih kepadanya. Karena itulah Luhan berpura-pura. Dan membiarkan Jongin berpikir bahwa hubungan mereka hanyalah hubungan tanpa status yang tidak membutuhkan komitmen, saling memanfaatkan, tanpa ikatan apapun satu sama lain.
Padahal Luhan mencintai Jongin, sangat mencintai lelaki itu dari lubuk hatinya yang paling dalam. Dan ketika Jongin memanggilnya sebagai Sehun, memandangnya sebagai Sehun, bercinta dengannya sambil membayangkan Sehun, perasaannya hancur lebur. Hancur, marah, dan juga terhina. Bukan kepada Jongin, dia terlalu mencintai lelaki itu. Tetapi kepada laki-laki yang entah siapa dan di mana yang bernama Sehun.
Berani-beraninya lelaki itu mengambil hati Jonginnya? Membuat Jongin menutup hatinya. Luhan ingin namanyalah yang dipanggil Jongin dengan penuh kerinduan, seperti ketika Jongin memanggil nama 'Sehun' dengan begitu lembut. Luhan sangat membenci lelaki bernama Sehun itu. Ingin membunuhnya jika perlu. Tetapi bahkan dia tak tahu laki-laki itu ada. Dan dia sempat mengira bahwa laki-laki itu hanyalah sosok khayalan Jongin.
Sampai kemudian kabar bahwa Jongin menikahi lelaki bernama Sehun itu muncul. Semula Luhan tidak percaya. Tetapi ketika Minseok menjelaskan bahwa itu benar adanya, kemarahannya menggelegak, luar biasa hingga nyaris membakar hatinya.
Luhan mengamati wajah Sehun di foto itu. Lelaki itu terlalu sederhana. Apa sih yang dilihat Jongin di sana? Dia merasa dirinya seribu kali lebih baik dari lelaki kurus yang tak bisa berdandan macam Sehun. Benarkah ini Sehun yang selalu dipanggil oleh Jongin itu? Atau dia hanyalah lelaki beruntung yang dinikahi Jongin secara impulsif karena kebetulan dia bernama Sehun?
Dengan gemas, dicolokkannya rokoknya ke wajah Sehun di foto itu. Menghancurkan wajah Sehun di foto itu dengan kejam. Siapapun lelaki itu, dia membencinya. Dan setiap orang yang dibencinya akan hancur!
Dia harus menyadarkan Jongin akan kesalahannya, sebelum terlambat. Dia harus membuat Jongin menyesal karena telah berani-beraninya meninggalkannya dan memilih laki-laki yang sangat jauh di bawah levelnya. Jemarinya meraih ponsel keemasan di mejanya, sebuah suara menyahut di sana, dan Luhan bergumam dengan suara serak dan seksinya. "Aku perlu pergi ke sebuah tempat. Kau bisa mengatur perjalananku ke sana?"
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
.
Kimoy's Note
.
.
.
.
.
.
Thanks to :
Oh Byul; Kim Sohyun; chikenbubbletea; kjinftosh; Rilakkuma8894;
elidamia98; RiRi639; stunningkai; ohxoho;
Ilysmkji; ; Kimoh1412; YunYuliHun; Icha; Haemi Wytha Kim444;
love kaihun; Lovekaihun; sehunskai;
KaihunniEXO; Sekar Amalia; Rima19exo; jiraniatriana; Intan475; RL.
.
.
.
.
.
.
Gimana gimana gimana XD jongin disini romantis banget kan sama sehun XD
saya aja yang ngeremake nya jadi melting sendiri :') jongin soalnya gentle bangeeet aww Oh btw disini luhan udah mulai muncul dan langsung saya jadiin orang ketiga dihubungan sehun sama jongin, maaf ya lu :') dan buat kalian yang kemarin review tapi ga ada namanya di daftar
terimakasih saya minta maaf lagi :'( terutama buat yang namanya udah dua kali ga saya cantumin... akun ffn saya lagi eror gatau kenapa
jadi kalo saya edit ff disana ga ke save -_- makanya saya sekarang langsung edit di word nya aja hoho sekalian berhemat kuota XD
Thanks buat yang udah review ff ini, see you in next chapter muah!
