Hai! Namaku Gempa. Hehe… mungkin kalian sudah mengetahuinya.

Baiklah, saat ini aku sedang mengetik di depan laptop. Mengetik kisah hidupku yang penuh dengan warna. Warna bagaikan pelangi yang muncul saat hujan reda, juga bagaikan langit cerah siang hari dan langit gelap malam hari

Ahahaha… puitis, ya? Atau hiperbolis? Terserah bagaimana kalian mendeskripsikannya.

Oke, kembali ke topik. Mungkin, kisah ini seperti drama yang tayang di TV. Tapi, kuusahakan agar tidak terlalu drama. Aku menuliskan kisah ini, karena ingin kuabadikan dalam bentuk tulisan. Perilah publikasi, aku tak ada niat. Tapi, jika sampai ketahuan sama Fang dan Yaya… entahlah~

Jadi, mau mulai dari mana?

Dari aku yang masih berusia 5 tahun?

Umm, kurasa tidak. Pada usia itu, tidak semua hal yang bisa kuingat. Wajarkan, memori saat masih kecil biasanya tersembunyi dibalik pintu ingatan dalam otak kecil setiap manusia.

Pada masa sekolah dasar?

Hah~ masa-masa itu sih, kurang lebih seperti anak sekolah dasar pada umumnya. Yang spesial paling kalau diajak jalan-jalan sekeluarga.

SMP?

Hmm, memang ada beberapa kejadian yang agak tidak biasa. Menurutku sih, itu wajar. Semakin naik tingkat, pergaulan juga semakin luas, bukan? Apalagi itu masanya remaja labil.

Ah! Bagaimana kalau setelah lulus SMP? Ya! Kurasa itu masa yang tepat. Tapi, dibagian mana aku harus memulai?

Okelah! Setelah kupikir-pikir, aku akan memulai kisahku saat dalam perjalanan menuju Pulau Rintis. Kampung halaman kedua orang tuaku, juga tempat kelahiranku.

::::::::::

My Story

.

Seluruh Chara Cartoon BoBoiBoy milik AniMonsta. Hanya cerita ini beserta alurnya yang menjadi milik saya.

.

Drama – Family – Hurt/Comfort

.

Warning : AU, OOC, OC, Typo, Elemental Siblings, Humor nyempil nan garing, Inspirasi dari kehidupan nyata yang diubah sedemikian rupa, POV berganti secara tiba-tiba, etc

'My Story' (center) : Suara hati Gempa saat mengetik cerita.

Don't Like?

DON'T READ THIS FANFICTION!

Happy Reading~

Chapter 2 : Beginning of Story

JEEZZZ JEEZZZ

JEEZZZ JEEZZZ

Suara laju kereta api terdengar jelas ditelinga para penumpang. Meski begitu, mereka mengabaikannya dan menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing.

Ada yang makan. Ada yang minum. Ada yang baca buku, koran, komik, dan sejenisnya. Ada yang saling mengobrol dengan teman seperjalanan. Ada juga anak-anak yang saling kejar-mengejar. Dan ada pula yang hanya menatap luar jendela dengan pandangan kosong.

Brugh

"UWAAAA~"

Suara jatuh diikuti jerit tangis khas anak kecil, membuat seseorang yang menatap luar jendela tadi kembali ke alam nyata. Ia menoleh ke segala arah, mencari sumber suara.

"YA ALLAH! API!" Serunya dan langsung menghampiri anak kecil yang jatuh terlungkup.

"Api?"

"Di mana api?"

"Huwaaa… apa ada kebakaran?!"

Akibat seruan orang tadi –yang ternyata seorang pemuda–, membuat beberapa orang yang mendengar langsung kelimpungan. Pemuda tadi pun sadar kalau ucapannya membuat orang salah paham.

Dengan cepat, ia menggendong anak kecil yang jatuh tadi sambil menggenggam tangan anak kecil lainnya –yang tadi hanya diam– dengan wajah cemas.

"Maaf," ucapnya sedikit lantang. Tapi sayang, orang-orang itu masih kelabakan di dalam kereta hingga tak mendengarkan permintamaafan sang pemuda. Karena kegaduhan itu, membuat seorang petugas kereta menghampiri dengan nafas tersenggal.

"Ada apa ini? Kenapa heboh begini?" Tanya petugas itu melihat beberapa penumpang yang berlarian tak menentu, meski ada beberapa yang tetap duduk santai, bahkan ada pula yang sambil mendengarkan lagu lewat earphone.

"Be-begini–"

"Kenapa kalian heboh sekali?! Memangnya ada api benaran?!"

Orang-orang yang tadi heboh, terdiam mendengar ucapan kesal seorang remaja tanggung yang sedari tadi duduk sambil mendengarkan earphonenya.

Remaja itu pun menghampiri pemuda yang membawa dua anak kecil.

"Api tidak apa-apa 'kan, kak?" Tanya remaja itu sambil melihat tubuh anak yang bernama Api dalam gendongan sang pemuda, yang masih terisak.

"Alhamdulillah, tampaknya tidak ada yang serius," jawab pemuda itu dengan senyum lembut pada remaja yang ternyata adalah adiknya.

Remaja itu beralih pada anak kecil lainnya dalam gandengan sang pemuda. Ia pun merunduk guna melihat wajah anak kecil yang hanya diam, namun menampakkan ketakutan dalam iris coklat bulatnya.

"Air tidak apa-apa?" Kembali remaja itu bertanya, namun pada objek yang berbeda.

"A-alhamdulillah, Air… baik-baik saja, kak," jawab anak itu dengan pelan, kemudian menunduk menatap sepatunya.

Mendengarnya, sang remaja tersenyum cerah. Ia pun berjalan melewati sang kakak. "Kak Gempa, bawa Api dan Air ke tempat kita. Di sini, biar aku yang urus."

Tanpa berlama-lama, pemuda yang bernama Gempa itu langsung berjalan membawa kedua adik kecilnya menuju tempat mereka duduk tadi.

"Ikss… cakit kak~" Api masih terisak kecil saat didudukkan Gempa.

"Sshh… iya, Api. Katakan, yang mana yang sakit?"

Sayangnya, Api malah menaikkan isakannya menjadi tangisan. Air yang melihat anak –yang berwajah persis dengannya– itu terus menangis pun mulai berkaca-kaca. "Iks… Huweee~"

"Eh? Loh? Kok Air juga nangis?" Gempa mulai panik. Tanpa sadar ia memegang kepalanya dengan kedua mata yang menjelajah sekitar. Mencari sesuatu yang –mungkin saja– dapat mendiamkan kedua adik kembarnya.

"Aduuhh… apa ya? Apa…?" Gumamnya berulang-ulang kali. Dan tanpa ia sadari, Api dan Air telah berhenti terisak. Kedua anak kembar itu menatap bingung kakaknya yang masih menampakkan raut panik disertai gumaman kecil.

Keduanya saling memandang. Saling menatap iris coklat bulat yang sangat menggemaskan jika diperhatikan. Yang selanjutnya terjadi…

"Hihihi~"

"Hehehe~"

…keduanya terkikik lucu.

Merasa aneh karena mendengar kikikan bukannya tangisan, Gempa mendongakkan kepalanya yang merunduk.

Wajah kedua adik kembarnya yang tertawa geli tanpa air mata sangat menyejukkan hatinya. Tanpa sadar, ia pun ikut tertawa. Dan adik-adiknya pun tertawa lebih kencang.

"Hahahaha… kalian ya~ beraninya ngerjain kakak, hm~? Awas~ Hiyaaaa… rasakan jurus pamungkas! Gelitikan supeerr!" Gempa pun menerjang kedua adiknya, lalu menggelitiki perut si kembar.

"Huwaa… hahaha… kak Gem-phahahaha… aduhh.."

"Geli~ gelii~ gyahhahaha… sudah kak, sud-dhahahaha…"

"Hohoho… apa? Lagi? Baiklah tuan muda~"

Ketiganya tertawa riang.

Terlihat sangat bahagia, bukan?

"Hooo… begini ya? Di saat aku menenangkan orang-orang yang salah paham itu, kalian tertawa tanpa aku?! Bagus sekali! Kejam kalian!"

Ketiganya pun menoleh menatap sang objek yang bersua.

Melihat wajah kakaknya yang ngambek, Api tersenyum lebar namun ganjil. "Loh? Kak Taupan udah celecai? Kenapa balik, cih? Cana! Jangan ganggu Api, Ail, dan kak Gempa!" Ketus Api yang tampak disengaja dengan nada cadel.

Pelipis Taufan berkedut. Wajahnya pun memerah. "Kali–eh? Uwaa…. bwahahaha…. He-henti-khaannn… gyahahaha…"

Baru saja Taufan ingin berseru lantang karna kesal, Gempa langsung menariknya dan mendudukkannya diantara Api dan Air. Setelahnya, kedua anak kembar itu menggelitik perut Taufan.

"Lacakan! Juluch pamungkach dali Apiii!"

"Rasakan jurus gelitikan super Air!"

"GYAHAHAHA… tolhong-ngahahaha…"

Dan Gempa hanya menonton adegan penyiksaan (baca : gelitikan) itu, dengan kikikan geli.

::::::::::

Sangat menyenangkan melihat adik-adikmu tertawa bersama. Hahaha… itulah salah satu kenangan menyenangkan yang selalu kuingat.

Mereka terus seperti itu sampai ditegur oleh penumpang lain yang terganggu. Aku hanya bisa meminta maaf. Sedangkan Taufan, dia malah melanjutkan aksi balas dendam pada Api dan Air.

Hah~ tak terasa perjalanan yang memakan waktu hampir empat jam itu berakhir. Kereta yang kami tumpangi pun sampai di stasiun Kereta Pulau Rintis.

::::::::::

"Gyahahaha… campai~ kita campai~ Ayo, Ail! Cepat! Cepat!"

Api berseru senang saat turun dari kereta. Ia berlarian ke sana ke mari. Air hanya menatap bosan kakak kembarnya. Staminanya telah habis untuk tertawa tadi. Tidur selama 3 jam belum cukup untuk mengembalikan tenaganya. Saat ini pun, adik kembar Api itu digendong oleh Gempa.

"Api! Jangan lari-lari! Nanti nabrak orang yang berlalu-lalang," teguran Gempa pun diabaikan Api. Ia terlampau senang. Apalagi saat masih dikereta tadi. Dia yang mendengar pemberitahuan kalau kereta sebentar lagi sampai, langsung membelakkan mata yang hampir terpejam.

Dan beginilah jadinya, Api berkeliaran dan Air tidur. Api memang termasuk aktif untuk anak seusianya. Air malah kebalikannya. Tapi, ada saat dimana Air seantusias Api. Sayangnya, hanya pada hal-hal tertentu saja.

"A–"

"Biar aku saja yang mengejarnya, kak," potong Taufan saat Gempa akan kembali berseru memanggil Api yang mulai menjauh.

Gempa menghela nafas. Pasrah dengan tingkah aktif adiknya yang menurun dari Taufan. Ia menatap Air yang setengah terpejam. "Tidurlah jika kau masih ngantuk, Air." Air hanya mengangguk sebagai balasan.

Kembali pemuda berusia berusia 15 tahun itu melangkahkan kakinya. Menyusuri jalan yang dilewati Api dan Taufan, sambil menggendong Air dengan satu tangan. Tangan lainnya, ia pakai untuk menenteng tas ransel warna coklat miliknya.

'Ugh, mereka di mana? Bahuku...,' batinnya meringis. Dipercepatnya langkah kaki agar cepat menemukan kedua adiknya yang entah berada di mana. Hanya insting seorang kakak-lah yang ia andalkan saat ini.

Air yang merasa guncangan pada tubuhnya semakin terasa, membuka matanya. Ia menatap wajah kakaknya yang berkeringat. 'Apa kak Gempa kelelahan karna menggendongku, ya?' batinnya polos.

"Kak Gempa…," Air berkata pelan. Meski begitu, Gempa tetap mendengarnya. Langkahnya pun ia pelankan guna mendengar perkataan lanjutan Air. "Kalau kakak lelah, turunkan Air saja," pinta Air dengan wajah sendu. Anak berusia 4 tahun itu tak sanggup melihat wajah kelelahan sang kakak.

Gempa berhenti.

Ia menatap adik bungsunya lembut. Dalam hati, ia sangat bersyukur adiknya ini memahami kondisinya. Yeah, meski yang si kecil ini tau hanya 'lelah' saja.

"Kak Gempa!"

Gempa mengangkat wajahnya. Kedua iris coklatnya melihat tiga orang yang berdiri beberapa puluh meter di depannya, sambil melambaikan tangan.

"Kak, turunin Air aja. Kakak pasti capek," kembali Air mengucapkan permintaannya.

Gempa menurunkan Air setelah menganggukkan kepalanya. Air yang langsung bersembunyi di belakangnya membuat ia menggeleng kepala. Beginilah Air. Ia akan malu untuk berhadapan dengan orang baru. Jika tak ada ia, Taufan, atau Api di dekatnya, anak itu hanya akan diam tanpa menanggapi orang yang mengajaknya berbicara.

"Sini tasnya."

Sebuah uluran tangan terlihat oleh Gempa. Ia mengalihkan pandangannya dari Air ke pemilik tangan yang ia kenali. "Tak perlu. Kakak bisa sendiri, Taufan," ucap Gempa dengan senyum lembut.

"Uuhh!" Taufan menggembungkan pipinya pertanda ia kesal. "Cepat sini! Nanti… khukhukhu~ Taufan 'lenyapkan' koleksi kakak mau?" nada yang dimainkan Taufan membuat Gempa bergidik, takut jika komik koleksinya dilenyapkan. Segera saja ia memberikan tas ranselnya pada sang adik yang hanya nyengir puas.

"Oh, Gempa. Cucu Atok!" kakek itu langsung memeluk Gempa erat. Gempa hanya tersenyum dan membalas pelukan itu.

"Eh? Itu Air ya? Ayo sini sama Atok!"

Air ragu. Ia menatap Gempa dengan pandangan takut. "Tenanglah, dia Tok Aba. Tok Aba ini, orang tuanya Ayah, Air. Tok Aba juga kakeknya Air."

"Benel kata kak Gempa! Ayo, Ail kenalan ama Atok! Katanya, Atok buatin kita kue di lumahnya," Api menarik tangan Air untuk mendekati Tok Aba.

Perlahan, Air memberanikan dirinya untuk melangkah. Meski begitu, kepalanya masih tertunduk. Topi biru mudanya menutup wajahnya yang tengah malu.

Tok Aba yang melihat salah satu cucunya perlahan mendekat –dengan dorongan dari Api– menyentuhkan lututnya di lantai semen stasiun, mencoba menyetarakan tingginya dengan sang cucu.

"Nah! Tok, ini Ail! Ail, ini Tok Aba," Api menyengir sambil merangkul Air. dirinya sangat senang karna akhirnya dapat bertemu dengan sang kakek.

"A-assalamu'alaikum… Tok," sapa Air pelan dan sedikit gagap.

Tok Aba tersenyum mendengar suara Air. Mengikuti insting seorang kakek, tangan kanannya mengusap lembut kepala Air yang tertutupi topi. "Wa'alaium salam, Air."

Gempa tersenyum melihat adegan di depannya. Ia pun meliri Taufan yang menyengir kepadanya. Tak tahan, dirinya terkekeh geli melihat adik-adiknya ini. Dan juga… kakek yang ia rindukan.

::::::::::

_MY STORY_

::::::::::

Dalam perjalanan ke rumah Tok Aba, aku hanya memperhatikan Api dan Taufan yang asik bercerita dengan Tok Aba. Mereka bersenda gurau dengan ejekan yang sesekali dilontarkan Taufan untuk Api. Terkadang, aku pun ikut bersua jika topiknya mengarah padaku atau pun Air.

Bicara soal Air, dia sedang tidur di pangkuanku. Makanya Taufan duduk di jok samping pengemudi dengan Api di pangkuannya. Tanganku mengusap rambut hitamnya lembut, enggan membangunkan. Topi yang ia gunakan tadi sudah kulepaskan sebelumnya dan kuletakkan di dalam tasnya.

"Gempa, kau ingin satu sekolah dengan Hali atau masuk sekolah lain?"

Deg!

Entah kenapa, perasaanku sedikit tak enak mendengar pertanyaan itu.

Aku menatap tok Aba yang melihatku dari kaca di tengah mobil. "Terserah Atok saja. Gempa sih tak masalah satu sekolah dengan kak Lintar atau tidak," jawabku setelah semenit terdiam. Namun, itu bukanlah jawaban yang ingin kuucapkan.

"Satu sekolah dengan kak Hali aja, kak Gempa. Kan, bisa pulang bareng. Terus, kak Gempa juga satu sekolah denganku nanti."

Taufan, kau terlihat santai, heh?

Tapi, benar juga yang Taufan bilang. SMP yang akan dimasuki Taufan nanti satu gedung dengan SMA yang kak Lintar tempati. Dengan begitu, aku bisa mengawasi Taufan, lalu mencegah hal buruk terjadi. Ya! Itu benar!

"Baiklah, satu sekolah dengan kak Lintar saja, Tok," putusku.

Kulihat Atok tersenyum lembut, namun ada suatu hal lain dari senyumnya. "Baiklah, seminggu lagi pendaftaran di buka. Kau minta Hali membantumu untuk mendaftar. Soalnya, dia juga mengurusi pendaftaran siswa baru. Sekalian sama Taufan nanti. Atok harus jaga kedai."

Taufan bersorak riang mendengar ucapan atok. Aku sendiri hanya tersenyum dan mengatakan 'iya'. Sungguh, aku sendiri bingung harus bersikap seperti apa. Dan lagi…

'Dengan kak Lintar? Apa dia mau? Aku tak yakin.'

Ya, pikiranku memang agak pesimis. Tapi, aku sudah lama tak bertemu dengan kak Lintar. Terakhir sekitar lima tahun lalu. Dan kurasa, sikapnya mungkin –pasti– berubah dari sewaktu kami masih SD. Ya, pasti sangat berubah.

"Kak Gempa!"

Aku tersentak mendengar teriakan Api. Kutolehan kepala ke kiri dan melihat dirinya telah disampingku dengan pintu mobil yang terbuka.

"Kakak jangan bengong! Tuh, ci Ail aja cudah bangun. Kita dah campe kak. Kakak tidak mau tulun?"

Ah, sudah sampai ternyata. Hahaha… kurasa, aku harus mengurangi hobi melamunku.

::::::::::

_MY STORY_

::::::::::

Kelimanya telah sampai di rumah tingkat milik Tok Aba. Di rumah inilah nanti keempat saudara itu tinggal. Terdapat halaman depan yang lumayan luas, juga ada pohon apel dan mangga. Api hampir memanjatnya jika tidak ditahan Gempa.

"Nah, ayo masuk! Ada yang menunggu kalian di dalam loh~"

"Menunggu? Siapa?"

"Nanti kau tau sendiri," jawab Tok Aba dengan kedipan sebelah matanya.

Tok Aba membuka pintu rumah, lalu masuk kedalamnya. Api yang terlampau senang bisa kerumah sang kakek, berlari masuk menyusul Tok Aba dan menggandeng tangan sang kakek.

"Ayo, kak Gempa!" Taufan pun ikut masuk sambil menggandeng tangan Air. Entah kenapa Air memilih bersama Taufan saat ini. Padahal, sedari tadi dengan Gempa.

Terdiam dan berdiri. Itulah yang Gempa lakukan. Inginnya ikut masuk, tapi ia merasa sedikit takut. Entah karna apa.

"Tenang, Gempa. Jangan buat Atok cemas, oke? Kau pasti bisa!" gumamnya menyemangati.

"Gempa? Kenapa masih diluar? Ayo masuk!"

"Eh? Ah, iya, Tok," mengangguk, ia pun memasuki rumah sang kakek. "Assalamu'alaikum," salamnya ketika masuk.

"Wa'alaikum salam!"

Deg!

"Ya-Yaya?"

"Hihihi… kenapa? Terkejut aku di sini?"

Gempa menatap gadis sebaya di depannya, Yaya. Gadis itu mengenakan setelan serba merah muda. Senyum lembut pun dilayangkan gadis itu untuk Gempa.

"Ya, tak nyangka aja yang menunggu kami itu dirimu."

"Terus? Kau beharap siapa lagi? Kak Hali?"

Sontak Yaya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia memohon maaf pada Gempa yang dibalas kekehan geli.

"Hahaha… tak masalah kok, kak Yaya."

"Uh! Sudah kukatakan jangan memanggilku begitu! Kita hanya beda beberapa bulan saja, sepupu."

"Hihihi…," Gempa terkikik melihat wajah cemberut Yaya. Memang, Yaya adalah sepupunya dari keluarga ibunya. Dan kebetulan, Yaya juga menjadi tetangga rumahnya.

"Huh! Giliran kak Gempa aja disenyumin. Lah, aku? Malah ditabok," cibir Taufan –yang duduk di sofa sambil menyuapkan kue bolu ke dalam mulutnya– saat melihat keduanya masuk ke ruang keluarga.

"Heh! Ralat ya! Aku memelukmu, loh! Siapa juga yang nabok?"

"Lah? Kak Yaya lupa ingatan ya? Aduhhh… nih! Lenganku masih nyut-nyutan tau!" Taufan menunjuk lengan kirinya yang terlapisi kain berwarna biru muda, lengan bajunya.

"Dipukul pelan gitu aja dah sakit. Kapan jadi jagoannya?" seringaian terlihat diwajah Yaya. Dan itu membuat Gempa menggeleng-gelengkan kepalanya.

'Hehehe… Yaya tak berubah juga kalau sudah bertemu Taufan,' kekeh Gempa dalam hati.

Gempa pun mendudukkan dirinya di antara Air dan Api yang menatap perseteruan Taufan dan Yaya, sambil memakan kue bolu. Sesekali Api tertawa saat melihat Taufan mendapatkan jitakan dari Yaya. Air sendiri memeluk tubuh Gempa, saat kue ditangannya habis. Ia takut melihat pertengkaran Yaya dan Taufan, yang hanya sebagai gurauan saja.

Mengusap lembut punggung kecil adiknya, Gempa pun membuka mulut, "Air, mereka berdua memang selalu begitu. Jangan takut, ya?" Gempa merasakan anggukan di perutnya. Ia tahu, adiknya yang paling kecil ini cinta damai. Makanya, ia selalu berusaha agar tidak ada pertengkaran dalam persaudaraan mereka.

'Sekarang sih, sepertinya tidak bisa dihindari,' batinnya sweatdrop.

Iris coklatnya melihat bagaimana Api begitu semangat membela Yaya ataupun Taufan. Yeah, meski hanya Yaya yang aktif dalam hal pemukulan.

"Dasar nenek lampir! Ingat umur dong! Sudah mau SMA aja belagu."

"Khe? Itu bagus. Dari pada bocah bau kencur sepertimu yang masih ngompol?"

"Aku tidak ngompol lagi!"

"He? Masa sih!" Yaya mengeluarkan ekspresi terkejut yang berlebih. Dan itu membuat Api semakin terbahak melihatnya.

"Hahaha… lucu. Hihihi… kak Yaya lucu. Ahahaha… kak Taupan maca kalah cih~ ahaahha…"

"Gezzz… adik durhaka! Kepada siapa kau memihak, hah?!"

Merasa sudah cukup lama perdebatan ini berlangsung, Gempa beranjak dari sofa sambil menggendong Air yang telah tertidur. Ia tak ingin Api mendengar lebih banyak umpatan yang dilontarkan Taufan dan Yaya.

"Bisakah kalian diam? Air sedari tadi takut melihat pertengkaran kalian yang lumayan ekstrim. Untung saja dia sudah tidur. Ah! Apa kalian tak malu Api mendengar perkataan kalian yang luar biasa itu?"

Setelah mengucapkan itu, Gempa meninggalkan ketiganya yang hanya diam saling bertatapan. Ia tak memperdulikan apa yang menjadi pikiran ketiganya. Meski dalam hati kecilnya, ia tak tega berkata dingin begitu. 'Hah~ rasa bersalah muncul dalam hatiku, lagi.'

"Tok?" panggi Gempa saat melewati dapur.

"Oh, kau rupanya, Gempa. Ada apa?" Tok Aba hanya melirik Gempa, lalu melanjutkan membuat minuman.

"Air tidur. Bisa Gempa tau di mana kamarnya?"

"He? Di tidur? Aduhai, sepertinya Air memang suka tidur, ya? Sepanjang perjalanan tadi pun dia tidur. Apa kau membuatnya begadang semalaman? Apa kau tak mengatur jadwal tidur yang baik untuknya?"

Gempa hanya tersenyum kaku mendengar sederet pertanyaan yang dilontarkan sang kakek. Ingin menjawab, ia merasa tak sopan. Tapi, jika tak menjawab, takutnya kakeknya merasa diabaikan. Gempa dilema. Pada akhirnya, ia menguatkan tekad.

"Air memang sering tidur, Tok. Walau tak begadang pun, tidurnya lebih lama dari kami bertiga. Jadwal tidurnya dalam sehari, bisa sampai 14 jam."

Tok Aba menatap tajam Gempa. Ia merasa sangsi dengan alasan yang dilontarkan Gempa. "Kau tak bohong?"

"Be-benar, Tok," gagap Gempa dengan mata yang ia usahakan untuk menatap kakeknya. Yah, menurut analisisnya, seseorang yang curiga biasanya menatap mata lawan bicaranya agar mengetahui kebohongan yang tersimpan. Karna dirinya tak berbohong, buat apa takut untuk menatap mata yang kakek?

"Baiklah, Atok percaya." Gempa mengembangkan senyumnya.

"Kau ingat kamarmu dan Taufan dulu?" Gempa mengangguk.

"Nah, itu kamar Api dan Air sekarang. Atok sudah bersihkan dan ditata ulang."

Gempa langsung saja menuju ke kamar yang akan ditempati Api dan Air, setelah mengucapkan 'Terima kasih' pada sang kakek.

Cklek

Dengan satu tangannya yang bebas, Gempa membuka pintu kamar. Dapat dilihatnya suasana kamar adik kembarnya yang sangat nyaman. Dua tempat tidur single bed yang masing-masing berada di sudut kamar, permadani biru-jingga yang memenuhi tengah ruangan, sebuah nakas di sisi masing-masing tempat tidur, lemari besar dengan tiga pintu di samping pintu kamar, meja bundar di atas permadani dengan bantal duduk yang mengelilingi, juga jendela yang berhadapan dengan pintu masuk kamar ini. Ah, dan jangan lupakan sebuah kipas angin besar yang berada dilangit-langit kamar.

"Mereka pasti senang," gumam Gempa setelah menidurkan Air di kasur sebelah kanan.

Disibaknya gorden yang menutupi jendela, membuat kamar itu menjadi lebih terang dari sebelumnya. Angin sepoi-sepoi pun berhembus lembut kala Gempa membuka jendela dengan lebar.

Menatap Air yang tampak sangat pulas, Gempa pun memutuskan untuk keluar kamar.

Sunyi.

Entah kenapa suasanya sangat sunyi setelah dirinya menginjakkan diri dilantai satu.

"Ada apa ini?"

Mengikuti instingnya untuk segera ke ruang tamu, kedua matanya membelak melihat seorang pemuda dengan topi hitam berhiaskan merah menyala, menatap tajam Taufan. Perasaannya semakin tak enak sekarang. Tak ingin ada perdebatan serius, Gempa buru-buru menghampiri adiknya itu.

"A-ah, ada kak Lintar rupanya."

"Hee? Jadi, kakak celam ini kak Hali yang celing kak Gempa celitakan, ya?" Gempa hanya mengangguk mendengar celetukan Api, namun segera itu pula ia meralat, "Kak Lintar tidak seram, Api. Kak Lintar itu baik," melemparkan senyum lembut pada Halilintar, namun diabaikan.

Dapat Gempa lihat pandangan tajam Halilintar berpindah ke Api. Api yang sebenarnya penasaran dengan sosok kakak sepupunya pun malah mendekat. Membuat jantung Gempa berdetak kencang. 'Semoga tak terjadi apa-apa,' batinnya sambil mengekor di belakang Api.

"Siapa yang seram, bocah?"

"Huwaaa! Cuala kakak juga tak kalah celam. Tapi, kelen!" Api malah berbinar mendengar suara berat khas remaja puber Halilintar. Sekarang, kembaran dari Air itu malah memeluk kaki Halilintar. Membuat sang empunya kaki menggeram kesal.

'Kenapa dengan bocah ini? Aarrghh! Pasti dia salah satu dari anak kembar paman Boboiboy.'

Gempa yang melihat Halilintar menunduk dengan aura berat yang menguar, segera membawa Api dalam pelukannya. "A-Api… lebih baik istirahat di kamar ya? Air sudah tidur, loh."

"Hee? Tapi, Api macih mau cama kak Hali! Api mau dengel cuala kelennya, kak Hali. Capa tau Api bica ikutin~"

"Yaya, tolong bawa Api ke atas ya?" pinta Gempa pada Yaya, mengabaikan rengekan Api. Yaya pun mengangguk dan segera mengambil Api dari gendongan Gempa. Membawa bocah jingga itu menuju lantai atas. Gadis itu pun tau jika ini hal serius yang tak seharusnya dilihat anak kecil. Dalam hatinya, ia mengkhawatirkan Gempa. Terlebih Taufan.

Taufan sendiri hanya mematung dengan wajah pucat. Padahal ia sudah menguatkan hatinya jika bertemu dengan kakak sepupunya itu, tapi ternyata tak semudah itu.

"Taufan? Kau baik-baik saja?"

Tersentak mendengar suara sang kakek, Taufan tersenyum kaku setelahnya. "I-iya, Tok. Hehehe… Hai, kak Hali! La-lama tak berjumpa."

Alih-alih membalas sapaan canggung Taufan, Halilintar malah melemparkan tatapan tajam pada remaja biru itu. "Bukannya kalian datang besok? Kenapa hari ini?"

"I-itu–"

"Memang apa salahnya sih, Hali? Sudahlah, adik-adikmu ini masih lelah dengan perjalanan jauh. Biarkan mereka istirahat dulu."

"Cih! Aku sebenarnya gak sudi tinggal serumah dengan seorang pembunuh!"

"HALI!"

"Terserah Atok sajalah."

Setelah mengucapkan itu, Halilintar masuk kesalah satu ruangan di samping tangga. Tampaknya itu kamar miliknya.

Taufan hanya memandang heran Gempa yang menutup telinganya erat, setelah dirinya menyapa sang sepupu. "Ka-kak Gempa?" Taufan membelakkan mata begitu melihat wajah penuh kesakitan kakaknya.

"Kak Gempa kenapa? Tadi kak Hali bilang apa? Kenapa kakak menutup telinga Taufan?"

Bisa Gempa lihat wajah khawatir dan panik Taufan. Dirinya hanya tersenyum tipis. Kakeknya pun menatapnya khawatir. "Hehehe… tenang, kakak baik-baik saja kok, Taufan. Atok jangan khawatir gitu deh."

"Tapi, wajahmu pucat, Gempa."

"Eh? Masa, Tok!" Gempa meraba wajahnya yang dikatakan pucat.

"Kakak! Jawab perta–"

"Sudahlah, Taufan. Sekarang, kau istirahatlah. Kakak akan bantu Atok masak untuk makan siang," usir Gempa halus sambil mendorong Taufan menuju tangga.

"Ta-tapi–"

"Dengarkanlah perintah kakakmu, Taufan."

Menghela nafas pasrah, Taufan pun menaiki tiap anak tangga dengan wajah mengkerut. Otaknya masih memikirkan mengenai perkataan Halilintar yang tak didengarnya sedikit pun, setelah menyapa. Sungguh! Dirinya tak suka dengan sikap kakaknya tadi. Ia lebih memilih mendengar setiap lontaran kasar Halilintar untuknya, dari pada harus melihat wajah penuh kesakitan dari sang kakak yang mendengar langsung.

Memastikan adiknya telah menghilang dari hadapannya, Gempa pun berjalan dengan terhuyung menuju sofa. Dihempaskan tubuhnya dengan kasar. Mengabaikan tatapan khawatir sang kakek.

"Kau yakin tidak apa-apa?"

Menarik nafas panjang, Gempa pun menghembuskannya dengan perlahan. Kelopak mata yang tadinya tertutup pun terbuka. Memperlihatkan kedua iris coklat yang memandang Tok Aba lembut.

"Tenang, Tok. Gempa baik-baik saja. Nah! Ayo kita masak! Atok belum masak, kan?"

Memutar matanya jengah, Tok Aba pun berjalan menuju dapur. "Tau sajalah kau." Gempa terkikik mendengar ucapan kakeknya. Dirinya pun memasuki dapur dan memulai acara masak-memasak dengan sang kakek.

"Tok?"

"Hm?"

Tok Aba terkejut melihat aliran air mata diwajah Gempa yang tersenyum. Senyum miris tepatnya.

"Ge-Gempa? Kau baik-baik saja?" memegang kedua bahu cucunya, Tok Aba langsung membawa Gempa ke dalam pelukan. Kakek itu tau, kalau cucunya ini bukanlah anak yang tahan banting. Tapi, ia mengakui ketegaran Gempa dihadapan semua orang. Hanya di depan orang tertentu saja Gempa bisa bersikap lemah begini.

"Hahaha… Gempa masih cengeng ya, Tok?"

"Tidak, Gempa. Kau tidak cengeng," mengusap punggung cucunya lembut. Tok Aba berusaha menenangkan kegelisahan hati sang cucu.

Merasa tak ada gunanya menangis begini, Gempa langsung saja melepaskan pelukan Tok Aba. Membuat sang kakek sedikit terkejut dengan gerakan tiba-tiba Gempa.

"Jangan katakan ini pada siapa pun ya, Tok?" Tok Aba hanya bisa mengangguk, menyetujui.

::::::::::

To be Continues

::::::::::

OMAKE

Merenggangkan kedua tangannya yang pegal, diikuti bagian tubuh lainnya, pemuda dengan kemeja kuning gading dengan bawahan coklat itu beranjak dari kursinya. Ia menatap laptop yang masih menyala. Menampilkan sebuah aplikasi MS. Word dengan ribuan kalimat yang tertulis.

"Hah~ entah kenapa aku lelah sekali."

Menatap langit-langit kamarnya, tak lama matanya memberat. Tanda kantuk menyerang.

Dirinya berusaha untuk bangkit. Setidaknya, pakaiannya haruslah nyaman saat dirinya tidur. Namun, tubuhnya terasa sangat berat. Ia merasa tak bisa lagi mengerahkan saraf motoriknya.

'Setidaknya sudah ku-save,' batinnya sebelum terlelap.

Mengarungi mimpi yang tak dapat dijelaskan bagaimana ceritanya.

OMAKE END

Yosh! Ada yang masih mengingat Fic ini? Hahaha… Nayu aja baru nyadar kalau hampir tiga bulan nunggak! XD Hihihi… maunya Updet sekalian dengan tamatnya The Death. Tapi, Nayu musti rombak ulang karna terlalu aneh aja kalau menggunakan scene yang sebelumnya.

Hihihi… gimana? Apa sudah ada yang tahu mengenai konflik pertama? Atau ada yang mengetahui alur Fic ini?

Ah~ maafkan Nayu yang membuat Gempa terlihat cengeng. Yeah, menurut Nayu Gempa memang memiliki sifat itu. Sayangnya, ia tak mau membuat orang lain khawatir. Jangan mengira hanya perempuan saja ya, yang memiliki sifat cengeng. Banyak kok laki-laki yang memiliki sifat itu.

Terus, yang lainnya… HUUWEEEE~~ KENAPA ADA YANG MENYANGKA NAYU ITU COWOK!? Q^Q

Huhuhu… memang sih, di RW Nayu selalu diragukan mengenai Gender. Itu karena sikap Nayu yang absurd. Tapi, karena Nayu seorang muslimah yang berjilbab, hanya diejek 'Cewek jejadian' dan itu dah lumrah. Nayu terima aja. Tapi, ini…? Katanya setelah baca Chapter satu, tau kalau Nayu cowok. Pertanyaannya, bagian mana dari chap sebelumnya yang mengatakan Nayu cowok?

Nayu sudah menanyakan hal itu pada reader yang membaca Fict ini. Dan katanya, tak ada yang menjelaskan kalau Nayu cowok. Dan karnanya, Nayu hanya berpikir kalau dia itu sedang salah fokus. *ngarep* Habis, PM Nayu tak dibalas. T3T

Ah! Satu hal yang perlu Nayu tekankan. Meski Gempa dalam Fict ini menjadi penulis dari Problem. Bukan berarti Gempa menjadi Nayu. Memang, ada beberapa hal yang terjadi dalam kehidupan Nayu, yang Nayu masukkan dalam Fict ini. Tapi, bukan berarti Gempa itu Nayu, meski sangat ingin Nayu miripkan. Sayangnya, tak bisa. Sikap, sifat, dan karakter Nayu yang mirip Gempa kurang lebih 20%. Sisanya, mirip Hali, Air, Taufan, dan Api. Hahahaha….

Hali : Woi! Sampai kapan curhatnya?

Eh? Iya ya. Yosh! Saatnya membalas review bagi yang tidak login.

Lily : Hihihi.. Makasih pujian dan reviewnya, Lily-san~

Asha : Hahaha… sesuai penjelasan. Bisa dibilang Gempa meranin kakak, tapi gak sepenuhnya meranin. Khukhukhu~ gimana dengan Hali di Chap ini? Makasih review dan pujiannya, Asha~

Yosh! Sekian dari Nayu. Dan sepertinya, Nayu bakal lama updet lagi nih. Banyak tugas bertumpukan.

Makasih banyak buat yang sudah membaca, memfollow, mem-fave, mereview Fict ini. Peluk sayang buat kalian semua~

Review Minna~