we just broke up!

.

Disclaimer :Ansatsu Kyōshitsu (暗殺教室), Yūsei Matsui

All characters owned by Yūsei Matsui-sensei, but the stories are mine!

Warning!

OOC, OOT, Typo dimana-mana, Alur membingungkan, EYD kacau..

Mengandung unsur SHONEN AI! Yang tidak suka silahkan tekan tombol back pada web browser anda!

.

.

Kalau masih nekat yaaaaaa

Happy Reading.. (^o^)/

.

.

"Baiklah anak-anak mari kita lanjutkan ke bab..."

SRAAAK!

Semua orang menatap lurus ke arah pintu kelas. Karma tengah berdiri tegak disana dengan kedua mata bengkak dan memerah. Tidak ada satupun dari mereka yang ada dikelas yang berani bertanya ataupun berkomentar. Mereka semua hanya diam, semua termasuk Koro-sensei, guru mereka.

"Ahahaha.. Kau terlambat Karma-kun.." Ujar Koro-sensei dengan nada bercanda.

"Maafkan aku, sensei."

Brrrzzz..

Seluruh kelas E terdiam. Mereka semua serasa membatu mendengar ucapan Karma barusan. Singkat namun terdengar sangat dingin dan menusuk hingga ke dalam tulang.

Karma berjalan masuk seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun. Dia berjalan melewati semua temannya dan duduk dibangku paling belakang dikelas. Semua mata mengikutinya sampai ia benar-benar duduk dibangkunya. Semua kecuali Isogai!

BRAAAAK!

Karma menendang mejanya. Semua orang langsung berbalik dan kembali menatap papan tulis yang ada didepan kelas. Mereka semua merasakan hawa hitam mencekam yang datang dari arah Karma.

'Cih! Dia bahkan tidak menatapku!' Pikir Karma.

.

.

Sepanjang jam pelajaran Karma hanya memainkan bolpoinnya. Ia tidak mau mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Koro-sensei. Walaupun Koro-sensei sendiri sudah mengancam Karma bahwa ia akan dikeluarkan dari kelas, tapi Karma malah keluar dari kelas itu dengan sendirinya.

"Aaaaaa... Tidak Karma.. Tidak.. Jangan keluar. Kau duduk saja dikelas." Koro-sensei panik.

"..."

jriiiiiiit!

Karma menatap dalam Koro-sensei. Ia bahkan tidak berkedip sedikitpun, saat menatap guru gurita itu. Tatapan mata Karma saja sudah cukup untuk membuat Koro-sensei terdiam dan berkeringat dingin cukup banyak.

"Ka-kau benar-benar bisa berada didalam kelas, Karma-kun!" Ujar Koro-sensei sambil memaksa Karma kembali duduk.

Koro-sensei berjalan meninggalkan Karma. Ia kembali menjelaskan materi matematika baru pada murid-muridnya. Karma pun kembali duduk, ia duduk bertopang dagu sambil menatap seseorang yang tidak jauh darinya. Sosok berambut hitam legam, berkulit putih mulus bak porcelain, bibirnya yang merah berkilauan, dan kedua mata indahnya yang keemasan yang kini tengah menatap lurus kearah Karma saat ini.

'I-isogai?! Di-dia menatapku!'

Deg! Deg! Deg!

Jantung Karma berdebar kencang. Tiba-tiba kedua mata Karma tertuju pada bibir Isogai yang bergerak-gerak seolah mengatakan sesuatu. Isogai bahkan menjulurkan lidahnya dengan wajah polos setelah itu.

"Ba-ka.." Ulang Karma pelan.

BRAAAAK!

Karma terjatuh dari bangkunya. Ia bahkan tertimpa buku-buku tebal yang ada dimejanya. Dahi Karma juga berdarah karena tertimpa buku-buku itu.

"KARMA-KUN!" Koro-sensei berteriak dengan nada panik.

Karma hanya terdiam. Wajahnya memerah, debaran jantungnya semakin kencang, seluruh tubuhnya bergetar. Kedua matanya masih menatap Isogai dengan tatapan tidak percaya. Ia melihatnya lagi, ia melihat Isogai yang tengah tertawa kecil dari bangkunya. Isogai yang sama dengan yang selalu menemani harinya sebagai 'kekasih'nya dulu.

'I-isogai...' Batin Karma.

.

.

Jam pelajaran cepat sekali berlalu. Bahkan Karma sendiri tidak menyadarinya sampai ia melihat sosok Isogai yang tengah mengeluarkan kotak bekalnya.

'Aah.. Dia tidak membuatkannya untukku juga.. menyedihkan..' pikir Karma sambil bertopang dagu.

"Karma-kun!"

Nagisa berjalan mendekati Karma sambil membawa dua kotak susu ditangannya. Namun apa daya, Karma sama sekali tidak menghiraukannya. Yang dilakukan Karma hanyalah menatap Isogai yang tidak jauh darinya.

"Hoi, Karma-kun?!" Nagisa menaikan nada bicaranya.

"..." Dan Karma masih terdiam tidak menjawabnya.

Sebuah persimpangan besar muncul begitu saja disudut dahi Nagisa. Ia benci mengakuinya, tapi ia bukan tipe orang yang suka diacuhkan. Apalagi diacuhkan oleh orang yang baru saja patah hati.

CROOOTT!

Nagisa menumpahkan satu kotak susu dikepala Karma. Seisi kelas langsung melongo melihat apa yang dilakukan Nagisa pada 'setan merah' kelas mereka. Tapi perbuatan Nagisa berhasil membuyarkan lamunan Karma.

"WOI! LU DENGER GAK SIH?!"

Aura hitam pekat menyelimuti Nagisa. Bahkan Karma sendiri merinding melihat tatapan 'mengintimidasi' dari kedua mata biru Nagisa.

GLUUUP!

Karma menelan ludahnya. Tubuhnya sedikit bergetar karena ketakutan. Tiba-tiba..

Tes.. Tes.. Tes...

Butiran susu coklat yang ditumpahkan Nagisa ke kepala Karma mulai berjatuhan dari helaian rambut merah Karma. Kedua mata Karma terfokus pada tetesan susu itu, entah sejak kapan aura hitam juga mulai menyelimuti Karma.

"Nagisa-kun.." ujar Karma penuh penekanan.

"Apa?"

"Lengket tau!"

DEG!

Wajah Nagisa membiru. Tubuhnya bergetar cukup hebat, ia berjalan sedikit menjauh dari Karma. Instingnya memberitahukan pada dirinya sendiri untuk segera pergi dari tempat itu.

"A-a-ahaha.. gomen ne, Karma-kun. Aku ingat aku ada urusan dengan Sugino-kun dan Maehara-kun.. jaa..."

'Eh?! Kok kita sih?!' Batin Sugino dan Maehara bersamaan.

"Hee.. Sugino and Maehara..."

Karma melirik tajam kedua orang itu, dengan cepat kedua orang itu menggeleng kencang kepala mereka masing-masing.

'Kesempatan buat kabur...' pikir Nagisa.

Ia melangkahkan kakinya dengan sangatbpelan. Berusaha menjauh dari Karma dan bersembunyi ditempat yang aman.

GREEEEP!

"Mau kemana kau?!" Karma mencengkram kuat bahu Nagisa.

"A-ahaha.." Nagisa tertawa kecil.

SRAAAAK!

Seseorang membuka pintu kelas 3-E. Tampak seorang laki-laki berambut senja tengah berdiri diambang pintu itu. Ia menoleh kekanan dan kekiri, kedua mata ungunya menelusuri setiap sudut kelas E. Untuk sesaat kedua mata ungu itu bertatapan langsung dengan kedua mata Karma. Karma bisa melihat dengan jelas laki-laki itu menyeringai padanya.

'Apa-apaan dia?!' batin Karma kesal.

"Isogai-kun! Makan siang bareng, yuk!" laki-laki itu berteriak.

DEG!

Karma sangat terkejut. Ia melihat Isogai berjalan mendekati laki-laki itu sambil membawa dua kotak bekal. Dan yang lebih tidak dipercaya olehnya adalah, Isogai memberikan salah satunya pada laki-laki bermata ungu itu.

"Ayo kita keluar.." Ujar Isogai lirih.

"Hmmm.."

Laki-laki berambut senja itu tersenyum. Ia lantas melingkarkan tangannya di bahu Isogai. Laki-laki itu menatap Karma dengan tatapan menghina. Lalu kedua orang itu pergi begitu saja meninggalkan kelas E.

'Kuso yaro!' Karma tampak geram.

Ia semakin mengencangkan cengkramannya dibahu Nagisa.

"Aaauauauau.. Itte.. itte.. itte.. Karma lepasin!" Nagisa merintih kesakitan.

Karma pun melepaskan cengkramannya. ia lantas memukul keras mejanya hingga remuk.

"Asano Gakushū! Bajingan kau!" ujar Karma geram.

.

.

.

Isogai berjalan bersama Gakushū, Asano Gakushū, sang ketua OSIS SMP Kunugigaoka. Mereka berjalan sambil bercanda satu sama lain, bahkan Gakushū juga melingkarkan tangan kanannya di pinggang Isogai.

'Sampai kapan kau mau menyentuh pinggangku, kono hentai!' Batin Isogai sambil berusaha melepaskan tangan sang ketua OSIS.

"Sampai aku ingin melepasnya." Bisik Gakushū ditelinga Isogai.

DEG!

BLUUUUSH!

Wajah Isogai memerah seketika. Disaat yang sama ia merinding ngeri mendengarnya. Bisikan Gakushū terdengar begitu dingin ditelinga Isogai. Tubuh Isogai sampai bergetar karenanya.

"..." Gakushū terdiam.

Ia menyeringai melihat reaksi Isogai. Ingin sekali ia menggoda Isogai lebih dari yang ia lakukan. Kedua mata ungunya menatap lekat Isogai, senyuman penuh arti mengembang diwajahnya yang tampan.

'Anak ini... lumayan juga.. Pantas saja dia jadi seperti itu, that devil..' batin Gakushū.

Gakushū mendekatkan wajahnya keleher mulus Isogai secara tiba-tiba. Sang empunya leher pun berhasil dibuatnya terkejut. Bahkan sampai melompat mundur dan menabrak dinding. Gakushū pun melirik kesegala arah. Ia memberikan lirikan tajam pada semua orang, seolah memerintahkan semua orang yang ada disana untuk segera meninggalkannya berduaan dengan Isogai.

BRAAAK!

Isogai menjatuhkan kotak bekalnya.

"A-a-apa yang kau lakukan?!"

"Hee.." seringaian menghiasi wajah Gakushū.

Gakushū mengunci Isogai dengan kedua tangannya. Ia tidak membiarkan Isogai berpaling darinya walau sejak. Gakushū menyentuh dagu Isogai dan membuat laki-laki berambut gelap itu menatapnya. Lagi-lagi Gakushū melemparkan seringaiannya pada Isogai, ia juga semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Isogai yang memerah. Ia mendekatkan bibirnya ke bibir tipis Isogai.

'Huuuaa...' Isogai berteriak dalam hati.

Ia bisa merasakan hembusan nafas Gakushū yang sudah berada tepat di depan mulutnya.

'Si-siapapun tolong aku!' batin Isogai yang tengah mengatupkan kedua matanya.

"YŪMA!"

DEG!

"cih!"

Gakushū berhenti bergerak. Ia melirik ke arah orang yang baru saja meneriakan nama Isogai dikejauhan. Rasa kesal memenuhi pikirannya.

"A-akabane..." Isogai tersenyum lega.

Ia merasa sangat lega melihat Karma datang diwaktu yang sangat tepat untuk menyelamatkan(?) 'bibir'nya. Isogai pun melepaskan diri dari Gakushū dan berlari mendekati Karma.

"Yūma.." Karma berlari menghampiri Isogai.

"Kar.."

Isogai merasakan tangan Gakushū mencengkram pergelangan tangannya.

"Apa kau lupa dengan janjimu, Isogai Yūma?!" guman Gakushū pelan sambil melempar senyum menyebalkannya.

"..." Isogai terdiam.

"Yūma.. Sensei memanggilmu. Cepatlah kesana!"

Isogai menatap tajam Gakushū. Ia juga menarik paksa tangannya yang dicengkram kuat oleh Gakushū.

"Aku sangat ingat, Asano-san! Kau tidak perlu mengingatkanku berkali-kali!"

Isogai pun berbalik. Ia berlari melewati Karma begitu saja, ia bahkan berlari tanpa menatap Karma sedikitpun. Isogai terus berlari, berlari meinggalkan Karma dan Gakushū dikoridor itu berduaan saja.

Drap! Drap! Drap!

Semakin lama langkah kaki Isogai semakin menjauh hingga tidak terdengar lagi. Setelah cukup lama, Karma pun menatap tajam sang Ketua OSIS SMP Kunugigaoka.

"Nee nee, Kaichou-kun.. Apa yang baru saja ingin kau lakukan pada Yūma-ku?"

Aura hitam pekat dan penih intimidasi semakin terlihat di belakang Karma. Tangannya bahkan sudah gatal ingin sekali 'menonjok' wajah Ketua OSIS bajingan dihadapannya.

"Ara-ara.. Apa kau cemburu, Karma sayang?" Gakushū mengejek.

Ia tersenyum pada Karma yang terlihat kesal dan juga jijik karena perkataannya barusan. Senyuman Gakushū bahkan semakin lebar melihat Karma mengepalkan tangannya dan bersiap memukulnya.

"Ah, aku lupa. Bukankah dia sudah bukan milikmu lagi, Karma?" Seringaian semakin mengembang lebar diwajah Ketua OSIS itu!

.

.

TBC

.

.

Waaa.. Selesai juga chapter ini!

Tunggu kelanjutan ceritanya!

Oh iya..

Jangan Lupa Reviewnya ya... xD