we just broke up!
.
Disclaimer :Ansatsu Kyōshitsu (暗殺教室), Yūsei Matsui
All characters owned by Yūsei Matsui-sensei, but the stories are mine!
Warning!
OOC, OOT, Typo dimana-mana, Alur membingungkan, EYD kacau..
Mengandung unsur SHONEN AI! Yang tidak suka silahkan tekan tombol back pada web browser anda!
.
.
Kalau masih nekat yaaaaaa
Happy Reading.. (^o^)/
.
.
Sesekali Karma menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Setelah itu ia akan kembali memasukkan kedua ibu jarinya kedalam saku celananya. Seragamnya yang tadinya bersih, kini tampak basah, lusuh dan berantakan, kau juga bisa melihat beberapa bercak darah dipakaiannya. Wajah tampannya tampak kotor karena lumpur, luka lebam mulai bermunculan di tubuh dan juga wajah Karma. Tampak luka yang masih mengalirkan darah disudut bibirnya.
"Jadi, bisakah masing-masing dari kalian menjelaskan padaku apa yang terjadi?"
Seorang pria dengan setelan rapi tampak duduk sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya. Kedua matanya menatap tajam Karma dan juga seorang anak lelaki yang tampak sama berantakannya(?) dengan Karma. Anak lelaki itu bahkan tidak menatap pria bersetelan rapi itu. Mata ungunya hanya menatap lurus ke lantai. Ya, anak lelaki itu adalah Gakushū, Asano Gakushū.
"..." Pria bersetelan rapi itu masih menunggu.
Ia menunggu jawaban akan pertanyaan yang ia lontarkan pada Karma dan Gakushū.
1 menit..
2 menit..
5 menit..
Bahkan sampai 15 menit kemudian pun, kedua anak itu sama sekali tidak memberikan jawaban apapun.
Tuk! Tuk! Tuk!
Pria bersetelan rapi itu mulai mengetuk-ketukan jemarinya di meja. Bosan, ia merasa sangat bosan. Karma dan juga Gakushū sama-sama tidak memberikan jawaban apapun padanya.
"Kalian tidak ada yang mau memberitahuku?"
"..." Karma dan Gakushū masih terdiam.
"Baiklah. Kalau begitu, Nagisa-kun." Ujar pria itu dengan nada cukup tinggi.
"I-i-iya!" Nagisa tergagap.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi diantara 'kedua orang barbar' ini?! Bahkan kau sendiri sampai menjadi 'korban' mereka."
Nagisa hanya melirik kearah Karma dan juga Gakushū. Bila diingat-ingat lagi olehnya, kedua orang itu benar-benar 'barbar' seperti yang dikatakan oleh Direktur SMP Kunugigaoka, Asano Gakuhō. Bahkan kedua pipi Nagisa jadi korban bogeman kedua orang itu.
'Mengingatnya saja sudah membuatku kesal!' Batin Nagisa seraya menggosok pelan kedua pipinya.
"Nagisa-kun?"
"I-iya pak.. Sebenarnya saya tidak tahu apa yang terjadi. Saat saya datang mereka berdua bahkan sudah saling beradu pukulan, dan mereka juga sudah berantakan seperti itu." Jawab Nagisa singkat.
'Walau aku tahu sih apa yang sebenarnya terjadi..' Batin Nagisa dengan perasaan bersalah.
.
.
45 menit yang lalu
.
.
SRAAAK!
Gakushū membuka pintu kelas E, kedua mata ungunya menelusuri setiap sudut ruangan. Sesaat, Gakushū menatap kedua mata merkuri Karma. Seringaian terpampang jelas di wajahnya.
"Isogai-kun! Makan siang bareng, yuk!" Teriaknya.
Isogai pun berlari mendekati Gakushū sambil membawa dua kotak bekal. Ia memberikan salah satunya pada Gakushū. Sesaat Gakushū tersenyum, ia kemudian melingkarkan tangannya dipundak Isogai. Mereka pun berjalan keluar dan menjauh dari ruang kelas E.
GREEEEP!
Karma semakin mencengkram kuat bahu Nagisa hingga membuat Nagisa merintih kesakitan. Karma bahkan baru melepaskan cengkramannya setelah Nagisa berteriak dan sedikit memukul tangannya. Ia lantas memukul mejanya sendiri hingga remuk.
"Asano Gakushū! Bajingan kau!" Ujar Karma geram.
Nagisa dapat melihat dengan jelas tangan Karma yang mengepal kuat. Ia merasakan hawa tidak menyenangkan yang muncul dari arah Karma.
"Wo-woi, Karma! Kamu gak bakalan macem-macem kan?!" Nagisa seraya menarik lengan seragam Karma.
"…"
Karma hanya melirik Nagisa. Ia lalu berjalan keluar dari kelasnya dan meninggalkan Nagisa begitu saja. Nagisa sendiri sampai tidak dapat bergerak dari tempatnya, ia merasakan hawa ingin membunuh yang begitu kuat dari arah Karma.
PUK!
Tiba-tiba saja seseorang menyentuh pundak Nagisa. Saat Nagisa menoleh ia mendapati Maehara dan Sugino sudah berada dibelakangnya. Mereka berdua juga tengah menatap tajam Nagisa.
"Su-sugino-kun.. Ma-maehara-kun.. hallo.. hehe…"
"NA-GI-SAAAA!" bentak keduanya bersamaan.
"Go-go-gomenasai!"
Nagisa berlari meninggalkan kelasnya. Ia berlari tidak tentu arah, dan…
BRUUUUUK!
Nagisa terjatuh! Ia bahkan sempat terlempar, dan jatuh dengan posisi duduk. Nagisa merasakan sakit dipantatnya yang menghantam lantai. Dia juga menggosok-gosok pantatnya yang kesakitan itu. Kedua mata Nagisa terkejut mendapati sebuah tangan terulur padanya.
"Na-nagisa-kun.. warui, aku gak lihat-lihat tadi.." terdengar suara panik yang begitu lembut.
Nagisa mendongak, ia ingin tahu siapa orang yang telah menabraknya hingga terpental. Betapa terkejutnya Nagisa melihat sosok berkulit putih, dengan kedua mata keemasan yang bercucuran air mata. Pipi dan juga hidungnya yang memerah. Rambut hitam legam dengan dua antena dikepalanya yang bergerak-gerak karna tiupan angin.
"I-isogai-kun?"
"Kau baik-baik saja kan? Aku benar-benar minta maaf."
Nagisa hanya diam. Ia mengamati wajah Isogai yang 'seperti' orang menangis dihadapannya. Tanpa sadar Nagisa mengulurkan tangannya, ia mengusap air mata yang membasahi wajah Isogai.
"Na-na-nagisa-kun..." Guman Isogai dengan wajah semakin memerah.
DEG!
'Ka-kawaii..'
Itulah yang ada dipikiran Nagisa saat itu. Jari jemari Nagisa masih membelai lembut wajah Isogai. Ia merasakan pipi empuk Isogai yang seperti kembang gula.
"NAGISAAAA!"
Deg!
Nagisa melepaskan tangannya dari wajah Isogai. Seluruh tubuhnya bergetar, ia memutar badannya perlahan untuk memastikan kalau orang yang meneriakan namanya bukanlah dua orang yang tadi mengejarnya.
"NAGISA! JANGAN KABUR LU!" Maehara dan Sugino tengah berlari mendekati Nagisa.
Kedua pasang mata mereka bahkan tampak seperti binatang buas yang hendak menyantapnya!
"Isogai-kun, a-aku pergi dulu ya.."
WUUUUSH!
Nagisa kabur dengan sangat cepat! Bahkan saking cepatnya Nagisa berlari, Maehara, Sugino dan Isogai pun melongo melihatnya.
'Cepet banget..' Batin mereka bertiga bersamaan.
.
.
Nagisa berlari sepanjang koridor. Ia berlari sambil menutup kedua matanya. Yang ia pikirkan hanyalah pergi sejauh mungkin dari Hiroto dan juga Tomohito.
"DIAM KAU, BAJINGAN!"
Deg!
Nagisa berhenti berlari. Ia mendengar seseorang tengah berteriak tidak jauh darinya. Ia sangat mengenali suara itu. Suara yang selalu 'beradu mulut' dengannya.
'Karma!' Pekik Nagisa.
Ia pun berlari mendekati jendela yang tidak jauh darinya. Dari ambang jendela itu Nagisa bisa melihat dengan jelas Karma dan juga Gakushū tengah berhadap-hadapan satu sama lain. Mereka berhadapan di atas rerumputan hijau di taman belakang sekolah. Mereka saling menatap, saling mengintimidasi, dan saling mengepalkan tangan.
GLUUUUP!
Nagisa menelan ludahnya. Ia merasa ia tengah melihat 'medan pertempuran' dihadapannya. Nagisa menoleh kekanan dan kekiri, namun tidak ada satu orang pun disana, sepertinya semua orang memilih kabur daripada harus terlibat dalam pertengkaran 'dua iblis tampan' SMP Kunugigaoka itu.
'Ini gawat..' Desah Nagisa pelan.
Ia pun melompat keluar melewati jendela dihadapannya. Ia berjalan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Perasaannya terombang-ambing 'bagai air didaun talas'(?), antara yakin dan tidak yakin. Ia berdo'a agar tidak sampai terjadi apa-apa padanya.
"Karma! Gakushū! Kalian ini, sudahlah.. Hentika..."
Nagisa terkejut melihat kedua orang temannya tengah bersiap mengayunkan pukulan mereka. Tanpa berpikir panjang, Nagisa langsung berllari dengan sangat cepat men dekati kedua orang itu. Ia ingin menghentikan mereka berdua sebelum 'perang dunia ketiga' terjadi ditempat itu.
"BERHENT..."
DUAAAK!
Nagisa terlempar cukup jauh. Kedua pipinya mendapatkan pukulan keras dari Karma dan juga Gakushū. Niat baiknya menghentikan pertengkaran kedua temannya hanya membuatnya mendapatkan bogeman tepat diwajahnya.
Karma dan Gakushū hanya ternganga melihat pukulan mereka mengenai sasaran yang salah. Wajah keduanya membiru melihat Nagisa yang terlempar dan terkapar tidak jauh dari mereka.
"Ho-ho-hoi, dia baik-baik saja?" Tanya Gakushū pelan.
"Ja-ja-jangan tanya aku.."
Deg!
Keduanya terkejut. Nagisa sudah kembali bangkit dari tidurnya(?) Yang menyakiti kedua pipinya. Aura hitam yang begitu besar muncul begitu saja dibelakang Nagisa. Tidak hanya itu, Karma dan Gakushū juga dapat melihat dengan jelas persimpangan besar dikepala Nagisa. Nagisa menatap Karma dan Gakushū seperti ular besar yang siap menyantap mereka.
"KARMA! GAKUSHū!"
Tampak ratusan kilat menyambar-nyambar dibelakang Nagisa. Nagisa berdiri dan berjalan mendekati Karma dan Gakushū sambil meremas tangannya sendiri. Karma dan Gakushū bergetar, ini semua tidak seperti yang mereka harapkan awalnya. Seringaian menghiasi wajah Nagisa.
"Bersiaplah kalian berdua!"
.
.
"Woi, dimana sih itu anak?! Cepet banget larinya.." Sugino menarik dasinya.
"Mana aku tahu?! Lagian buat apa sih kita ngejar itu anak?!" Maehara mengibas-ngibaskan tangannya.
Mereka berdua tampak basah kuyub karena keringat. Mereka berdua baru saja berlarian kesana kemari hanya untuk mencari Nagisa.
BRAAAAK!
DUAAK!
Maehara dan Sugino mendengar suara gaduh dari luar jendela. Mereka saling menatap lalu mereka berjalan mendekati jendela. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya diluar sana, apa lagi diluar sana masih hujan cukup lebat.
PRAAANG!
Betapa terkejutnya mereka berdua, sebuah balok kayu yang cukup besar melayang begitu saja mengenai kaca jendela didekat mereka.
"Su-sugino, bu-bukannya itu bangku kayu ditaman.."
"I-iya, ka-kau benar.."
"Bukannya itu nancep ditanah ya?"
Sugino mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Maehara.
Deg! Deg! Deg!
Jantung mereka berdua berdebar kencang, wajah mereka berdua membiru, dengan tubuh bergetar hebat mereka berusaha untuk menoleh keluar dan melihat siapa orang yang telah melempar 'benda yang tampak berat' itu dengan sangat mudahnya.
"Ti-tidak mungkin.." Maehara terbata-bata.
"Bo-bohongkan.."
Keduanya tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Dua orang 'iblis tampan' sekolah mereka tengah terkapar ditempat yang berbeda. Taman sekolah tampak hancur berantakan. Dan satu-satunya yang masih tampak berdiri hanyalah Nagisa, Shiota Nagisa seorang! Kedua matanya menatap marah kearah Karma dan Gakushū.
'NAGISA!' Pekik mereka berdua dalam hati.
.
.
Kembali ke saat ini
.
.
'Aku tidak mungkin mengatakan kalau akulah orang barbarnya disini.' Batin Nagisa.
"Baiklah, kalau tidak ada satupun dari kalian yang berbicara. Maka aku akan langsung memberi kalian hukuman."
Pak Direktur penatap tajam ketiga muridnya yang kotor dan basah kuyub dihadapannya.
"Berhubung ini sudah tahun terakhir kalian, aku tidak akan memberikan hukuman suspensi pada kalian."
'Ah, syukurlah..' Batin Karma lega.
"Kalian berdua akan membersihkan taman sekolah dan juga mengurus ternak sekolah setiap hari minggu sampai kelulusan. Dan kau, Nagisa-kun. Kau akan mengawasi mereka berdua." Gakuhō berbicara tanpa basa-basi, beliau terdengar begitu serius.
"APA?!"
Nagisa, Karma dan Gakushū bersamaan. Mereka lalu menatap satu sama lain secara bergantian.
'Kenapa Aku harus dengan Asano sialan ini?!' Pikir Karma sambil memandang rendah Gakushū.
'Aku?! Dengan Akabane?! Apa-apaan itu?!' Gakushū menatap kesal Karma.
'Mereka lagi?! Oh, tidak! Aku bisa gila!' Nagisa tampak begitu depresi sekarang, dia bahkan membayangkan apa yang akan dilakukan dua pembuat onar itu.
"Baiklah, kalian boleh keluar sekarang." Ujar Gakuhō singkat.
Namun mereka bertiga sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Mereka mengacuhkan bapak Direktur sekolah mereka yang tengah menatap datar mereka bertiga. Mereka bertiga bahkan tidak mendengarkan apa yang barusaja dikatakan oleh Gakuhō.
BRAAAAK!
Gakuhō memukul keras mejanya, persimpangan besar menghiasi beberapa sudut kepalanya. Beliau benar-benar kesal sekarang.
"Kalian bisa keluar..." Beliau tersenyum.
Senyumannya tampak begitu menakutkan dimata Karma, Nagisa dan Gakushū. Hawa menusuk juga terasa dari tatapan tajam direktur Gakuhō.
"Sekarang." Tambahnya dengan penuh penekanan.
Karma, Gakushū dan Nagisa membungkuk. Mereka lalu berbalik dan bersiap meninggalkan neraka(?) kecil itu. Tiba-tiba..
"Kau tetap disini, Asano Gakushū."
Deg!
Gakushū berhenti bergerak. Ia pun kembali berdiri tegap menghadap sang Direktur. Dia terdiam dan menunduk dalam, ia sama sekali tidak berani menatap kedua mata sang Direktur yang menatap tajam dirinya.
"Lainnya silahkan kembali ke kelas kalian."
Nagisa dan Karma membungkuk lalu keluar dari ruangan itu. Mereka meninggalkan bapak-anak Asano itu di dalam ruangan bak 'neraka' itu berdua saja.
CKLEECK!
Suara pintu yang ditutup perlahan itu mengawali keheningan diantara bapak-anak Asano itu. Hening, keduanya terdiam. Yang terdengar hanyalah suara rintik hujan yang terdengar dari luar jendela.
Tuk! Tuk! Tuk!
Asano Gakuhō mengetuk-ketuk mejanya dengan jemarinya. Suara itu memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
"Jadi Asano Gakushū, apa yang sebenarnya kau lakukan diluar sana?"
Suara Direktur Gakuhō terdengar begitu dingin dan menusuk sampai kedalam tulang. Gakushū gemetaran, ia tidak berani mengucapkan sepatah katapun. Bahkan dengan bibir yang terluka itu, ia hanya bisa mengatupkannya rapat-rapat.
"..."
Gakushū masih terdiam.
"Baiklah jika kau tidak mau mengatakannya padaku, tapi.."
"..."
"Jika kau ingin mengalahkan musuhmu pakailah cara lain. Jangan gunakan cara 'orang-orang barbar' seperti itu."
"!"
Gakushū terkejut mendengar ucapan ayahnya. Ia bahkan sudah mengangkat kepalanya dan menatap lurus tepat pada sang ayah.
"Ketua OSIS SMP kunugigaoka sangat tidak pantas terlihat lusuh dan penuh lumpur seperti itu."
"Di-direktur..."
"Dia musuhmu kan? Akabane Karma?!"
Seringaian menghiasi wajah direktur Gakuhō. Ia menyandarkan punggungnya dikursi, lalu berbalik menatap rintik air hujan yang berjatuhan semakin deras dan lebat.
.
.
"Kyaaa! Lihat deh, keren banget!"
"Iya.. Eh, tapi bukannya itu seragam olahraga SMP?"
"Eh?! SMP? Padahal tinggi gitu.."
"..."
Karma hanya terdiam. Ia bahkan tidak melirik sedikitpun gadis-gadis yang tengah membicarakannya. Sebenarnya ia merasa sangat malu sekarang. Bagaimana tidak? Ia pulang dengan menggunakan seragam olahraganya. Seragamnya kotor dan basah karena 'serangan habis-habisan' dari Nagisa tadi.
'Sialan si Nagisa itu! Bikin malu aja! Argh!' Gerutu Karma kesal.
Ia berjalan menelusuri jalanan kota yang ramai, langit juga sudah tampak semakin gelap. Tangannya menggenggam payung merah yang dipakainya pagi tadi. Wajahnya yang terluka juga sudah diobatinya tadi. Ia terus berjalan menelusuri jalan itu menuju rumahnya.
'Tapi, aku sama sekali tidak melihat Yūma sejak aku kembali ke kelas tadi.' Batin Karma.
Jika diingatnya lagi, bangku Isogai memang kosong sejak ia kembali ke kelas. Tas dan semua barang-barangnya sudah tidak ada dikelas juga. Bahkan walau Koro-sensei sudah mencarinya dengan kecepatan 20machnya, guru gurita itu juga tidak dapat menemukan Isogai dimana pun.
'Kemana kau sebenarnya, Yūma?'
Kekhawatiran terpancar begitu jelas dikedua mata merkuri Karma. Ia berjalan sambil menunduk dan memikirkan Isogai sepanjang jalan.
'Apa mungkin kau kerumahku dan mengambil semua barang-barangmu lalu kembali kerumahmu.' Pikiran itu menghantui Karma sepanjang jalan.
Duk!
Bahu Karma menubruk bahu seseorang. Karma bahkan sudah tidak peduli lagi dengan apa pun yang ada disekitarnya.
"Hoi bocah! Lu nabrak gua, minta maaf gak?!"
Karma tidak mempedulikan teriakan orang yang ditabraknya. Orang yang ditabraknya merasa kesal, persimpangan muncul disudut dahinya. Ia lalu mencengkram bahu Karma dan menghentikan Karma untuk berjalan lebih jauh.
"Hoi denger gak sih lu?! Minta maaf, cepat!" Bentaknya lagi.
Karma menoleh, ia menatap tajam orang yang ditabraknya tadi dan juga 3 orang yang bersama orang itu. Dari pakaiannya saja, Karma sudah tahu mereka adalah murid SMA.
"Kenapa aku harus minta maaf ke orang-orang seperti kalian?!"
"Bajingan, berani juga lu bocah!"
Siswa SMA itu mulai menarik kerah kaos olahraga Karma. Ia bahkan mengangkat badan Karma hanya dengan satu tangannya yang mencengkram kerah kaos Karma itu.
"Hee.. Kalian ngajak berantem rupanya, senpai.." Guman Karma dengan seringaian menghiasi wajahnya.
Deg!
Murid-murid SMA itu sedikit bergetar. Mereka merasakan tatapan mengintimidasi yang begitu kuat dari arah Karma. Bukan hanya tatapan mengintimidasi, bahkan lebih dari itu. Itu lebih seperti tatapan ingin membunuh.
"Kebetulan, senpai.. Aku sedang kesal sekarang, bolehkah aku menghajar kalian."
Karma menatap tajam keempat orang itu. Bahkan ia juga tersenyum, ia tersenyum penuh dengan rasa percaya diri. Dan juga tersenyum meremehkan lawannya..
.
.
Langit semakin gelap. Matahari sudah kembali bersembunyi, ia telah digantikan oleh sang bulan dan bintang-bintang untuk menerangi langit malam. Awan-awan mendung bahkan sudah pergi jauh meninggalkan kota.
Tap! Tap!
Karma berjalan menuju rumahnya. Lebih tepatnya apartemennya, ia masuk kedalam lift dan menuju lantai tertinggi dimana ia tinggal.
"Haaaah.. Capek banget.. Semoga aja kakak-kakak tadi bisa jalan kerumah mereka masing masing.." Guman Karma pelan sambil tertawa senang.
Ia sangat ingat dengan apa yang dilakukannya tadi. Ia telah menghajar habis-habisan murid-murid SMA yang ditabraknya tadi.
"Hahaha.. Mereka itu bodoh sekali.."
Ting!
Karma melangkahkan kakinya keluar lift, ia segera berjalan menuju rumahnya. Ia ingin segera kembali ke kasurnya yang empuk, nyaman dan hangat.
Tangan kanan Karma sudah bersiap membuka pintu, tiba-tiba ia teringat akan Isogai yang selalu mengucapkan 'selamat datang' padanya jika ia pulang terlambat.
'Mungkin aku harus membiasakan diri, dia pasti sudah kembali ke rumahnya.' Batin Karma.
Ckleek!
"Aku pul...ang.."
Karma membatu. Ia tidak mampu bergerak taupun berbicara. Kedua matanya terbuka lebar, sesuatu yang tidak disangkanya kini ada didepan kedua mata merkurinya.
'Yūma...' Gumannya.
Ia melihat sosok Isogai yang tengah tertidur sambil menggenggam ponselnya. Ia tertidur tepat disebelah meja. Wajahnya tampak begitu polos saat tertidur.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Karma berdebar begitu kencang. Ia tidak menyangka apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Isogai, ia masih berada didalam rumah Karma. Dan dia tengah menunggu kepulangan Karma.
"Geez.. Kurasa aku memang tidak bisa melepaskanmu.." Karma tersenyum simpul.
Karma pun berjalan masuk kedalam rumahnya, tidak lupa ia mengunci pintu rumah kesayangannya itu. Diletakkanlah olehnya payung merah yang tadi digunakannya kembali ketempatnya.
"Yūma, aku pulang.."
Karma tersenyum senang, namun ia hanya berbisik begitu pelan hingga Isogai tidak terbangun karenanya. Karma pun mendekati Isogai, ia mulai mengangkat tubuh Isogai. Karma menggendong Isogai selayaknya ia menggendong mempelai wanitanya.
"Hnnn..." Guman Isogai pelan.
"Aku akan membawamu ke kamar, kau bisa demam jika tidur disini."
"Hnnnn..." Isogai membenamkan wajahnya didada Karma.
Ia menatap wajah Isogai yang tengah berada dalam gendongannya. Isogai masih begitu dekat dengannya.
'Kurasa, hari ini tidak buruk juga..' Batin Karma senang.
.
tbc
.
Fuih...
Untung masih sempet update, masih punya waktu luang sih Yumi..
Ah, don't forget give me a review..
