we just broke up!

.

Disclaimer :Ansatsu Kyōshitsu (暗殺教室), Yūsei Matsui

All characters owned by Yūsei Matsui-sensei, but the stories are mine!

Warning!

OOC, OOT, Typo dimana-mana, Alur membingungkan, EYD kacau..

Mengandung unsur SHONEN AI! Yang tidak suka silahkan tekan tombol back pada web browser anda!

.

.

Kalau masih nekat yaaaaaa

Happy Reading.. (^o^)/

.

.

BRUUUK!

Karma merebahkan Isogai diatas kasur 'king size'nya perlahan. Ia menatap wajah polos Isogai yang tengah tertidur diatas ranjangnya. Wajah Isogai yang putih dengan rona merah yang menghiasi kedua pipinya. Bibir tipisnya yang berkilauan.

'Manisnya...' Batin Karma.

"ūnnmm.."

Isogai membuka kedua matanya perlahan. Sesekali ia mengosok-gosok kelopak matanya dengan tangannya. Ia mendapati Karma tengah duduk disampingnya sambil tersenyum.

'Ah, Karma... Hmmm, ini pasti mimpi..' Pikir Isogai yang masih mengantuk.

Isogai mengulurkan kedua tangannya, ia berusaha untuk meraih Karma. Kedua tangannya berhasil meraih leher Karma, ia lantas menarik dirinya mendekati sosok Karma yang disentuhnya.

'Nyamannya...' Isogai memeluk erat Karma.

Deg! Deg! Deg!

Jantung Karma berdebar begitu kencang. Ia tidak menyangka Isogai akan memeluknya seperti ini. Bahkan kedua tangan Isogai memeluknya sangat erat, seperti tidak ingin melepaskan dirinya.

'Ah! Gawat! He makes me exited!' Batin Karma dengan wajah semerah tomat matang.

"Yū-yūma.."

Karma terbata-bata, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Karena Isogai tengah mendekatkan bibir tipisnya ke bibir Karma. Bahkan laki-laki bermata keemasan itu sesekali menggigiti bibir bawahnya sendiri.

Chuu~~

Isogai berhasil mendaratkan bibirnya tepat dibibir Karma. Wajah Karma merah seketika, ia bisa merasakan bibir lembut Isogai yang menempel dibibirnya! Dan juga ia bisa merasakan wajah Isogai yang begitu panas.

'Eh?! Di-dia panas sekali?!'

Karma pun segera melepaskan Isogai dari dirinya. Ia merasa ada yang aneh dengan Isogai saat ini, wajahnya begitu merah, nafasnya tersengal, tubuhnya begitu panas!

"Yūma, jangan-jangan kamu!"

Karma pun menempelkan dahinya di dahi Isogai. Karma segera membaringkan Isogai kembali kekasurnya.

"Akan kuambilkan kompres dan termometer, kau istirahat saja." Karma tampak panik.

Set!

Isogai menggenggam pergelangan tangan Karma. Karma menoleh, ia menatap wajah Isogai yang memerah. Dibelainya pipi Isogai yang merah dengan lembutnya.

"Kau istirahat saja, aku yang akan merawatmu." Karma seraya mengecup pelan dahi Isogai.

Ia lalu berjalan keluar dari kamar dan meninggalkan Isogai dikamar itu sendirian. Karma bersandar dibalik pintu kamarnya, tiba-tiba saja seluruh wajahnya memerah. Ia meremas dadanya sendiri, tangannya tampak bergetar.

'Apa yang telah kulakukan?!' Batinnya.

.

.

Mentari pagi mulai menampakan wujudnya. Ia bersinar terang untuk memulai hari yang cerah.

"HOAAHMM..."

Nagisa menguap cukup lebar. Sesekali ia mengusap matanya yang masih mengantuk, ia berjalan dengan malasnya menuju SMP Kunugigaoka, sekolahnya tercinta. Nagisa sama sekali tida menguncir rambutnya hari ini, ia membiarkan rambutnya berantakan. Di kedua pipinya juga tampak dua plester besar melekat kuat.

'Sial! Masih sakit. Hah mereka berdua itu memang minta dihajar!' Pikir Nagisa sambil mengusap pelan pipinya.

DRRRR! DRRRR! DRRR!

Nagisa merasakan ponselnya bergetar. Ia segera mengeluarkan benda kotak bernama ponsel itu dari sakunya. Seseorang tengah menelponnya sekarang.

"Moshi-moshi, Nagisa-kun.. Uhuuk.. Uhuuk.."

"Ah, Isogai-kun. Ada apa?"

"Maafkan aku, bisakah kau gantikan tugasku sebagai ketua kelas hari ini? Uhuuk.. Uhuuk.. Aku sedang demam.." Nagisa dapat mendengar dengan jelas suara Isogai yang sedikit serak.

"Baiklah. Tapi, Isogai-kun, kau tidak apa kan? Apa aku perlu ketempatmu sekarang?"

Nagisa tampak begitu khawatir.

"Tidak, tidak perlu Nagisa-kun.. Uhuuk.. Uhuuk.. Kau tidak perlu kemari.."

"Haaah.. Baiklah, tapi hubungi aku atau Koro-sensei jika kau butuh apa-apa.."

"Haik.. Arigatou, Nagisa-kun.. Jaa naa.."

"Jaa.."

Tuuut! Tuuut! Tuuut!

Isogai menutup telponnya, Nagisa pun kembali memasukan ponselnya kedalam saku celananya. Nagisa pun menghela nafas panjang, entah kenapa ia sudah merasa sangat lelah.

'Menggantikan Isogai, berurusan dengan duo wanko itu. Benar-benar melelahkan!'

BRUUUK!

Nagisa menabrak seseorang! Ia merintih kesakitan sambil menggosok hidungnya yang menabrak punggung seseorang didepannya.

"Woi, kalo jalan hati-ha...ti.."

Nagisa mendongak, ia sangat terkejut mendapati Maehara dan Sugino yang tengah berdiri didepannya. Wajah Nagisa langsung membiru, ia teringat bagaimana kedua orang itu berlarian 'membabi buta' mengejarnya kemarin.

'Damn! Kenapa mereka sepagi ini?!' Batin Nagisa.

"Na-na-nagisa!" Kedua orang itu bersamaan.

Wajah keduanya langsung memucat begitu melihat wajah Nagisa. Keringat bercucuran dari tubuh mereka berdua. Bayangan akan Nagisa yang berdiri tegak setelah menghancurkan taman dan juga 'dua iblis tampan' sekolah muncul begitu saja dalam benak Sugino dan Maehara.

"Etto.. Su-sugino-kun.. Ma-maehara-kun.." Nagisa tergagap.

"Ka-ka-kami pergi dulu, na-na-nagisa.." Sugino tampak panik, dia bergetar cukup hebat.

"I-i-iya nagisa, ka-kami a-ada urusan.."

Maehara juga terlihat panik dan bergetar. Mereka tidak sanggup menatap wajah Nagisa. Keduanya bergetar, mereka ketakutan. Saat Nagisa hendak mendekati mereka berdua, Maehara dab Sugino langsung melarikan diri dari Nagisa.

"Ke-ke-kenapa mereka..." Guman Nagisa kebingungan.

.

.

"Huuh.. Nyenyak sekali dia.."

Isogai membelai pelan kepala Karma. Karma tengah tertidur ditepi kasur yang digunakannya saat ini. Isogai tersenyum senang, ia melihat pakaiannya sudah diganti, kompres yang ada didahinya tadi, juga ember berisi air yang sudah dingin sekarang.

"Uuunnn.." Karma mengguman pelan.

Ia masih tertidur. Kedua mata merkurinya masih tertutup dengan sempurna. Wajahnya yang penuh luka menghadap tepat ke arah Isogai.

"Aah! Karma! Apa yang terjadi padamu?!"

Isogai mengangkat kepala Karma, ia memeriksa setiap lebam dan juga luka yang ada diwajah Karma. Isogai begitu panik dan cemas. Namun, Karma hanya melepaskan tangan Isogai darinya dan kembali tidur.

"Uunn.. 5 menit lagi, Yūma.. Hhmm.. Aku lelah.." Gerutu Karma.

"Hoi Karma! Jangan tidur lagi, lukamu! Kau bertarung lagi dengan Asano kemarin?!"

"Tidak... Aku tidak sempat memukul bajingan itu..." Ujar Karma yang masih belum sadar.

"Lalu luka-lukamu ini?"

"Nagisa.. Dia, dia yang menghajarku dan As-aho Gakushū kemarin.."

"Eh? Na-nagisa-kun?"

Isogai begitu terkejut mendengar Nagisa yang melakukannya. Belum lagi ia melihat banyak sekali luka dan lebam ditubuh Karma, ia jadi semakin tidak percaya kalau Nagisa bisa melakukan hal seperti ini.

"Aku mau tidur lagi.." Guman Karma yang melanjutkan tidur damainya.

Isogai tersenyum ringan. Ia senang, ia masih bisa melihat wajah Karma untuk pertama kalinya dipagi hari. Isogai pun kembali membelai pelan kepala Karma.

"Setidaknya jangan tidur disini..."

Karma langsung bangun, ia lalu merebahkan dirinya diatas kasur tepat disamping Isogai. Karma pun kembali mengatupkan kedua mata merkurinya dan kembali tidur.

"Kalau begitu aku disini saja.."

"Nanti kau bisa ketularan demanku.. Baka.."

"Bukan masalah untukku.. Zzz.."

"Kalau begitu aku yang pindah.."

Isogai sudah beriap beranjak dari kasurnya, namun tangan Karma dengan cepat menarik Isogai kedalam pelukannya. Kedua mata merkuri Karma masih tertutup rapat, ia memeluk erat Isogai seolah ia tidak ingin melepasnya lagi.

BLUUUSH!

"Ka-karma.." Wajah Isogai memerah.

"Jangan pergi.. Setidaknya biarkan aku istirahat seperti ini.. Zzz.." Karma berbisik dengan lembutnya ditelinga Isogai.

Deg!

Isogai tersenyum, ia lalu kembali membenamkan wajahnya kedalam dada Karma. Kini ia berbaring tepat didalam pelukan Karma, ia berbaring sambil memeluk erat tubuh Karma yang begitu hangat dan nyaman.

.

.

"Ohayou gozaimasu! Mari kita absen sekarang.."

DOOR! DOOR!

Terdengar suara puluhan, bahkan ratusan suara tembakan peluru didalam kelas E. Koro-sensei berdiri tepat didepan ruang kelas sambil membawa daftar absen. Beliau bergerak sangat cepat menghindari setiap peluru yang ditembakkan padanya.

"Loh? Mana Isogai-kun dan Karma-kun?"

"Absen sensei!" Teriak Nagisa yang masih terus menembaki Koro-sensei.

"Nani?!" Koro-sensei berhenti bergerak, ia terkejut mendengar kabar absennya Isogai dan Karma saat ini.

TAR! TAR! TAR!

Beberapa lengan Koro-sensei meledak. Beliau langsung kembali bergerak dengan kecepatan 20machnya. Bahkan wajah Koro-sensei juga terlihat begitu panik dan berkeringat.

"Huuuaaa! Kalian curang! Kalian menembak saat 'time out'!" Koro-sensei berteriak panik.

"Hahaha, sensei.. Kita gak curang kok, salah sensei sendiri gak bilang kalo minta 'time out'.." Kaede tertawa senang.

"Kalian sengaja membuat sensei lengah kan?!"

"Sensei! Jangan salahkan kami dong, kami kan hanya melakukan ritual kami sebelum pelajaran dimulai." Rio menambahkan.

"Hiiii! Baiklah, absen selesai! Letakkan senjata kalian, kita mulai belajarnya!"

Koro-sensei berteriak untuk terakhir kalinya. Tidak hanya itu beliau bahkan membuat seluruh siswa menjatuhkan senjata mereka secara paksa dengan kecepatan 20mach yang dimilikinya.

"Kau curang sensei!"

"Iya kau curang!"

"Fufufufu... Seseorang terkadang harus melakukan sesuatu untuk hidupnya.. Fufufu..." Wajah Koro-sensei berubah menjadi bergaris hijau-kuning.

Semua anak kembali mengambil senjata mereka, kemudian mereka memasukkan kembali senjata mereka kedalam laci. Mereka mulai mengeluarkan buku pelajaran mereka, Koro-sensei pun mulai menerangkan materi sains baru pada para siswanya.

"Hnnn, Nagisa-kun." Koro-sensei mendekati Nagisa perlahan.

"I-iya sensei.."

"Apa kau tahu kenapa Isogai-kun dan Karma-kun tidak datang?"

"Oh, Isogai-kun menghubungiku pagi ini. Dia sedang demam."

"Bagaimana dengan Karma-kun?"

"Dia tidak memberiku kabar apapun sensei.."

"Hmmm, mungkinkah aku harus..." Guman Koro-sensei seraya meninggalkan bangku Nagisa.

"..."

Nagisa hanya terdiam melihat Koro-sensei yang berguman tidak jelas setelah meninggalkannya. Sekilas Nagisa dapat melihat senyum licik dari wajah kuning bergaris hijau guru guritanya itu.

'Dia merencanakan sesuatu..' Pikir Nagisa.

Kedua mata biru Nagisa tertuju pada Sugino dan Maehara yang tengah menatapnya. Entah kenapa mereka berdua langsung mengalihkan pandangannya dari Nagisa saat Nagisa menatap kedua orang itu.

'Ada apa dengan dua orang itu.. Aneh..' Guman Nagisa.

Set! Set! Set!

Nagisa berhenti menorehkan tintanya diatas buku catatannya. Dalam pikirannya terus terbayang wajah Isogai yang menangis kemarin. Tangannya bergetar setiap mengingat sensasi lembut bagai menyentuh kembang gula saat ia menyentuh pipi Isogai.

BLUUUSH!

'Lembut.. Seperti kembang gula..' Pikir Nagisa dengan wajah memerah.

.

tbc

.

don't forget give me a review..

Sankyuu..