we just broke up!
.
Disclaimer :Ansatsu Kyōshitsu (暗殺教室), Yūsei Matsui
All characters owned by Yūsei Matsui-sensei, but the stories are mine!
Warning!
OOC, OOT, Typo dimana-mana, Alur membingungkan, EYD kacau..
Mengandung unsur SHONEN AI! Yang tidak suka silahkan tekan tombol back pada web browser anda!
.
.
Kalau masih nekat yaaaaaa
Happy Reading.. (^o^)/
.
.
"Bwahahaha..."
Isogai tertawa sangat keras sambil memegangi perutnya, bahkan air mata keluar dari kedua sudut matanya. Karma hanya terus menguyah makanannya dengan wajah merah padam. Ia tidak menyangka Isogai akan mentertawakannya seperti itu setelah ia menceritakan semuanya.
"Te-te-tertawalah sesukamu.."
"Pfff.. Warui, warui.. Habisnya lucu banget sih.."
"Urgh.."
"Tapi Karma, apa kau yakin Nagisa yang menghajarmu sampai seperti ini? Dia tidak terlihat jago berkelahi.."
"Dengar ya, Yuuma. Kekuatan Nagisa berantem itu berdasarkan 'mood'nya."
"Mood?"
"Yap! Saat dia senang atau marah dia akan sangat kuat. Berbeda jika dia sedang biasa saja, kekuatannya akan normal.."
Karma dan Isogai sangat menikmati acara makan siang berdua mereka. Mereka seolah melupakan kenyataan bahwa mereka tidak lagi 'berikatan' seperti dulu, melupakan segala hal buruk yang telah terjadi diantara mereka.
Ting! Tong!
Mereka berdua berhenti tertawa. Mereka saling memandang satu sama lain. Karma menyengritkan alisnya, namun Isogai hanya mengangkat bahunya sebagai respon.
"Kau tunggu sini.."
"..." Isogai mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Karma berjalan mendekati pintu rumahnya. Ia mengintip dari lubang kunci dipintunya. Karma melompat mundur. Ia sangat terkejut mendapati sosok besar dan bulat yang sangat dikenalnya.
'Koro-sensei?!' Pekik Karma dalam hati.
Karma langsung berlari menuju Isogai, ia langsung membereskan piring yang digunakan oleh Isogai. Isogai hanya bisa bengong menatap Karma yang tampak panik seperti itu. Belum lagi Karma tiba-tiba saja menarik tangannya dan membawa dirinya menuju kamar.
"Sembunyilah didalam kamar, Koro-sensei ada disini." Bisik Karma.
"Eh?!"
"Chuu~"
Karma mengecup pelan dahi Isogai. Ia tersenyum simpul melihat Isogai menyentuh dahinya dengan wajah bengong yang memerah.
"Ssstt!" Karma berjalan meninggalkan Isogai sendirian didalam kamarnya.
.
.
Ting! Tong!
"Karma-kun! Sensei tahu kau ada didalam."
Koro-sensei terus menerus menekan bel rumah Karma. Beliau bahkan berdiri sangat dekat dengan pintu rumah Karma. Tiba-tiba..
BRAAAK!
DUAAK!
Karma membuka pintu rumahnya dengan sangat kencang. Bahkan pintu rumah itu menghantam wajah sang sensei yang tengah berdiri dekat pintu itu.
"Uhuuk.. Uhuuk.. Siapa ya?"
Karma berpura-pura batuk, bahkan rasa puas yang luar biasa benar-benar tidak bisa disembunyikan olehnya dari wajah tampannya itu.
"Karma-kun, kau sengaja ya?!"
Koro-sensei berteriak dengan sangat keras didepan wajah Karma. Warna wajah beliau kembali kuning, hidung palsu Koro-sensei juga menghilang entah kemana.
"..." Tubuh Karma bergetar karena menahan tawa.
"KARMA-KUN!" Koro-sensei berteriak dengan penuh keringat.
"Bwahahaha! Gomen nee, sensei.."
"Jangan tertawa! Kau berusaha membunuh senseimu ini ya?! Padahal sensei sudah jauh-jauh ingin memberikan kunjungan!"
Koro-sensei membawa begitu banyak barang ditentakelnya. Karma bahkan tidak bisa berkata-kata menanggapi apa yang dibawa oleh 'guru gurita kuning aneh'nya itu.
"Sensei, untuk apa semua itu?"
"Ah, ini! Aku senang kau bertanya, Karma-kun.. Fufufu.."
"Hentikan tawa aneh itu. Masuklah.."
Karma membuka lebar pintu rumahnya. Ia bahkan berjalan mendahului sang guru dan duduk di sofanya yang empuk. Karma menunjuk kursi disebelahnya dan mempersilahkan Koro-sensei duduk.
JIIIIIT..
Koro-sensei hanya menatap sofa itu. Wajahnya menjadi sangat datar. Bahkan karma tidak dapat melihat kedua mata guru gurita kuning itu yang hanya sebesar titik.
"Sensei, sampai kapan kau akan berdiri?"
"Kau tidak memasang apapun kan disana? Untuk membunuhku?" Koro-sensei bertanya dengan wajah datarnya.
"Hah.."
Karma mendesah keras. Ia sangat mengerti Koro-sensei takut jika ia memasang jebakan disana. Dengan cepat Karma menarik sesuatu dari sakunya.
SHUUUT!
Karma melempar sebuah 'pisau anti sensei' tepat ke wajah sang guru gurita.
"Whaaaa! Karma-kun!"
"Nah, sensei. Jika aku memang ingin membunuhmu pasti sudah kulakukan sejak dipintu masuk tadi, kan.."
"..."
Bruuuk!
Koro-sensei pun sukses duduk tanpa tanpa berkata apapun lagi.
.
.
SRAAAK!
Pintu kelas E terbuka lebar. Lagi-lagi anak laki-laki berambut senja tengah membuka pintu itu. Tampak begitu banyak luka dan lebam diwajah dan tubuhnya, kedua mata ungunya menelusuri setiap sudut ruangan.
'Dia tidak ada..' Gumannya pelan.
"Kau mencari siapa, Asano Gakushuu-kun?!"
Deg!
Gakushuu terdiam. Tubuhnya bergetar, ia teringat pada suara orang yang tengah menghampirinya itu. Seorang anak lelaki berambut biru muda dengan kedua mata birunya yang menatap tajam Gakushuu.
"Ka-kau!"
"Kau mencari siapa? Jika yang kau cari Isogai-kun dia tidak masuk hari ini."
"Kenapa dia tidak masuk?!"
"Itu bukan urusanmu. Kembalilah ke kelasmu di gedung utama."
Nagisa memberikan tekanan penuh pada saat bicara. Bahkan aura didalam kelas E berubah menjadi sangat dingin dan mencekam. Petir menyambar-nyambar dibelakang Nagisa, bagaikan badai besar akan mengamuk didalam kelas E.
Gluup!
'Dia berbahaya. Aku harus kembali.' Pikir Asano.
"Cih!"
Ia pun pergi meninggalkan kelas Nagisa secepat yang ia inginkan. Nagisa hanya menatap tajam sosok Ketua OSIS sekolahnya tercinta ini.
Pluuk!
Seseorang menyentuh pundak Nagisa. Nagisa menoleh untuk melihat siapakah gerangan orang yang berani mengganggunya.
"Ka-ka-kayano-chan.." Pekik Nagisa.
Seorang gadis berambut hijau berdiri tepat dibelakang Nagisa. Ia tersenyum cukup lebar sambil mencengkram kuat bahu Nagisa.
'E-eh?' Nagisa kebingungan.
"Sepertinya kau melupakan sesuatu, makanya kau uring-uringan terus kan?"
"Melupakan sesuatu?"
"Itu.."
Kayano menunjuk rambut Nagisa yang berantakan. Nagisa sendiri semakin tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan Kayano. Yang ia tahu, ia memang sengaja membiarkan rambutnya berantakan.
"Eh? Apa yang kau maksudkan, Kayano-chan?"
"Haaah.. Kau lupa menguncir rambutmu kan, makanya kau uring-uringan. Atau jangan-jangan kau lagi PMS, Nagisa-kun?!"
"PMS? Apa itu?"
"Pre-Menstruation Syndrom! Ya ampun Nagisa, walaupun kamu tomboy sebagai seorang gadis kau harusnya kan sudah tahu!"
Jleeeeb!
Nagisa merasa puluhan pedang menghunus jantungnya. Ia memang memiliki wajah cantik, tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau ada yang mengira dirinya seorang gadis.
"Ka-kayano-chan.."
"Hmmm.. Nande?"
"Aku ini cowok.." Tutur Nagisa pelan.
"Eh?"
Kayano menatap Nagisa dengan tatapan tidak percaya. Ia menatap Nagisa dari ujung kaki sampai ujung kepala berkali-kali sambil menunjuknya. Tidak hanya itu, semua anak perempuan di kelas E juga menatap Nagisa dengan tatapan yang sama dengan Kayano.
"HEEEEEEE!"
Suara teriakan Kayano dan para gadis lainnya berhasil mengguncangkan seluruh kelas.
.
.
Tap! Tap! Tap!
Karma melangkahkan kedua kakinya dengan berat. Ia merasa sangat lelah setelah meladeni guru guritanya yang tidak ada hentinya mengkhawatirkan dirinya. Ia terus berjalan menuju kamarnya, dimana ia menyembunyikan Isogai disana.
"Yuuma, sensei sudah pulang.."
Karma terdiam, ia melihat Isogai tengah tertidur sambil memeluk sebuah koper besar didepan lemari pakaiannya.
"Yuuma.." Bisik Karma pelan.
Karma menyibak poni Isogai yang menutupi wajah manisnya itu. Kedua pipi Isogai masih terlihat merah karena demamnya. Wajahnya tampak begitu damai, tenang, dan menggemaskan.
"Yuuma, demammu bisa semakin parah jika kau tidur disini.."
"Hmmm.. Karma.. Sensei sudah pulang? Nnnmm.."
Isogai mengosok kedua matanya sendiri dengan lembutnya. Ia bangun dan berdiri tepat disamping koper yang ia peluk tadi. Kedua mata birunya berkedip-kedip menatap wajah Karma yang memandang lembut dirinya.
"Karma..." Isogai membuka bibirnya.
"Hmmm? Nani?"
"Aku ingin pindah.."
"Eh?!"
Karma terdiam. Ia terkejut mendengar apa yang terucap dari bibir Isogai. Ia tidak mengerti dengan 'pindah' yang dimaksud oleh Isogai barusan.
"Pi-pindah? Pi-pindah kemana? Da-dari mana?" Karma tergagap.
"Dari rumah ini, kembali ke rumahku sendiri.. Aku sudah bukan kekasihmu lagi.. Bagaimana jika kau punya kekasih lagi, aku tidak bisa tetap be..rada disini.."
BRUUUK!
Karma mendorong tubuh Isogai hingga tubuhnya menabrak lemari yang ada dibelakangnya. Kedua mata merkurinya menatap marah lelaki imut yang ada didepannya. Kedua tangan Karma menahan kuat tangan lembut Isogai, kedua tangan Isogai dicengkram kuat olehnya.
"APA MAKSUD UCAPANMU BARUSAN, YUUMA!"
"Ka-karma.. Sa-sakit.." Isoga tampak sangat ketakutan.
"KAU PIKIR KAU BISA MELAKUKAN HAL SEPERTI INI PADAKU?!"
"Ta-tapi Karma, ini tidaklah benar jika kita masih bersama.. Kita sudah putus.."
Deg!
Karma terdiam, ia menunduk dalam. Tangannya semakin mencengkram semakin kuat pergelangan tangan Isogai, dan membuat empunya kesakitan.
"Kau tidak akan kemana-mana.."
"Kar.. ma.."
"Aku sudah berjanji pada seseorang.." Ujar Karma lirih.
'Eh?! Jan-janji?!' Batin Isogai.
Tiba-tiba saja Karma mendekatkan wajahnya ke wajah Isogai. Karma membuka mulutnya lebar-lebar dan sedikit menjulurkan lidahnya.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Isogai berdebar kencang, wajahnya memerah. Ia merasa begitu panas, belum lagi ia dapat merasakan hembusan nafas Karma yang menerpa wajahnya. Tanpa sadar Isogai sudah membuka mulutnya dan menjulurkan lidahnya juga, ia bersiap menerima Karma yang sudah jelas akan menciumnya. Dengan cepat Karma memasukan lidahnya kedalam mulut Isogai, lidahnya mulai bergelut dengan lidah Isogai, bahkan sesekali ia menggigit pelan lidah dan bibir Isogai.
"Haaah.. haaah... haaah..." nafas Isogai begitu berat.
Seluruh tubuh Isogai bergetar hebat, kedua kakinya terasa begitu lemas hingga ia tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Melihat Isogai seperti itu membuat Karma mengangkat tubuh Isogai dan merebahkannya keatas ranjang. Ia menatap Isogai yang terbaring lemas diatas ranjang, lelaki berambut gelap itu tampak semakin panas dengan wajah memerah dan kedua mata birunya yang berair.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini, Yuuma.." guman Karma seraya melepaskan kaosnya.
Karma langsung mendekatkan wajahnya kembali ke Isogai, tapi kali ini bukan ke wajahnya, melainkan langsung mendekati leher mulus Isogai. Karma menggosokan ujung hidungnya disepanjang leher Isogai dengan lembutnya, sesekali ia mengecup pelan leher itu hingga membuat empunya mendesah pelan.
"uunnn... Kar-Karma.. yamette yo.. hhmmm.." desah Isogai.
"Yuuma, aku akan melakukannya sekali lagi..." Karma menggigit pelan leher Isogai.
"aaah... Kar-karma..."
"Bukan sebagai kekasihmu lagi, tapi sebagai mantan kekasihmu.."
Karma membuka pakaian yang dipakai Isogai. Ia bisa melihat dengan jelas seluk beluk tubuh Isogai, bahkan ia dapat melihat tubuh Isogai yang bergetar dan basah karena keringat.
"Aku tidak akan membiarkanmu jauh dariku.." guman Karma.
.
tbc
.
