Arigatou Ratu obeng-san, baru sadar kalau Yumi typo.. karena kepikiran Kuroko (habis nonton KnB soalnya, kan dia mirip juga ama Nagisa) semua warna berubah jadi biru._.
Yosh.. Yumi bakalan hati-hati sekarang..
Arigatou gozaimasu! :D
.
.
we just broke up!
.
Disclaimer : Ansatsu Kyōshitsu (暗殺教室), Yūsei Matsui
All characters owned by Yūsei Matsui-sensei, but the stories are mine!
Warning!
OOC, OOT, Typo dimana-mana, Alur membingungkan, EYD kacau..
Mengandung unsur SHONEN AI! Yang tidak suka silahkan tekan tombol back pada web browser anda!
.
.
Kalau masih nekat yaaaaaa
Happy Reading.. (^o^)/
.
.
Kamar yang berantakan, dengan beberapa lembar pakaian yang berserakan dilantai. Tidak hanya itu, kasur king size itu juga tampak sangat berantakan.
"Uuunn.."
Seorang lelaki bersurai gelap tampak bergerak-gerak dibalik sebuah selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Ia mulai membuka kedua matanya yang keemasan.
"Hhmmm.. Kar.. ma.."
Kedua matanya menatap kesekelilingnya. Ia mencari sosok Karma yang bersamanya semalaman, namun Karma sama sekali tidak ada diruangan itu. Ia pun berusaha bangun, namun ia merasa sakit dibagian bawah tubuhnya.
BLUUUUSH!
Wajah Isogai memerah seketika. Ia teringat bagaimana ia dan Karma melakukan 'ini dan itu' semalaman. Ia juga teringat bagaimana dirinya yang juga memohon agar Karma 'menusuk'nya lebih cepat dan lebih dalam.
'Apa yang telah kulakukan semalam..' Batin Isogai, seraya membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
Betapa terkejutnya ia mendapati banyak sekali 'kissmark' yang ditinggalkan Karma ditubuhnya. Ia pun segera turun dari ranjangnya dan berjalan mendekati sebuah cermin besar yang ada dikamar Karma. Ia dapat melihat dengan jelas pantulan bayangan dirinya di cermin itu. Ia menyentuh setiap kissmark yang membekas kulit mulusnya.
'Karma..'
Tanpa sadar Isogai tersenyum dengan wajah memerah. Ia teringat bagaimana Karma meninggalkan begitu banyak tanda itu ditubuhnya.
Tes! Tes! Tes!
Suatu cairan mengalir begitu saja dari 'lubang' Isogai. Ia langsung merasakan perasaan begitu penuh dibawah sana.
'Uurrgh.. Karma, kau melakukannya lagi..' Desah Isogai sambil menggigit bibir bawahnya.
Tiba-tiba saja kedua mata keemasannya tertuju pada selembar kertas yang ada dimeja dekat cermin itu. Sebuah kertas dengan coretan tangan yang ia kenali sebagai tulisan tangan Karma.
"Yuuma, aku sudah siapkan seragammu. Jika kau sudah merasa enakan, kau bisa berangkat sekolah. Aku juga sudah siapkan sarapan dan juga bekalmu, aku berangkat duluan. Jaa..
Note. Aku tidak akan membiarkanmu pindah dari rumah ini, akan kujelaskan alasanku nanti malam.."
Isogai menatap sebuah seragam yang tergantung begitu rapi didinding. Ia hanya bisa tersenyum menanggapi memo yang ditinggalkan oleh Karma untuknya.
"Kau ini.."
Tes!
Air mata mengalir dari kedua mata Isogai dan membasahi memo yang ditulis Karma untuk Isogai. Dada Isogai terasa begitu sakit dan sesak. Apa yang ia dapat tidaklah sebanding dengan apa yang dilakukannya.
"Ba-baka.. Kalau kau seperti ini... Hiks.. Bagaimana bisa aku.. Meninggalkanmu.. Hiks.. Karma.."
Isogai membiarkan dirinya menangis. Menangis didalam kamar itu seorang diri.
.
.
Jalanan masih tampak begitu sepi. Sesekali Karma menatap arlojinya yang ia terima dari Isogai saat ulang tahunnya.
"Haaah.. 6.15 a.m. Aku pasti sudah gila.." Gumannya pelan.
Ia berjalan begitu santai menuju tempat yang ia sebut 'sekolah'. Walau pada dasarnya, ia hanya menganggap tempat itu sebagai 'neraka' sekarang.
"Hoi! Karma-kun!"
Kedua mata merkuri Karma menatap tajam kearah orang yang memanggilnya tadi. Ia bisa melihat dengan jelas Nakamura Rio dan Kayano Kaede, mereka berdua tengah berdiri didepan gedung sekolahnya sambil melambaikan tangan pada Karma.
"Kalian berdua sedang apa?" Tanya Karma dengan malasnya.
"Ini semua salah gurita kuning itu!" Kayano tampak kesal.
"Gurita kuning? Ah, maksudmu Koro-sensei?"
"Kau tahu Karma, tadi pagi Koro-sensei datang kerumah kami. Beliau meminta kami untuk membagikan tugas ini karena beliau tidak masuk hari ini.."
"Menyusahkan sekali, dasar Koro-sensei!"
Rio tampak begitu kesal, belum lagi tangannya mulai meremas kuat lembaran tugas yang diberikan oleh Koro-sensei padanya tadi.
"Hmmm.. Beliau tidak masuk ya.. Fufufu.." Guman Karma pelan.
Rio dan Kaede merasakan hawa tidak enak dari arah Karma, belum lagi mereka mendengar tawa licik Karma.
"Me-me-memangnya ke-kenapa Karma?" Rio bergerak mundur.
"Eh? Apa?"
"Kenapa kau tertawa aneh seperti itu?" Kaede berusaha tenang.
"Oh, mungkin Koro-sensei tidak masuk karena kemarin..."
Karma tersenyum penuh arti. Rio dan Kayano dapat melihat dengan jelas bayangan ungu mengelilingi Karma, juga sepasang tanduk iblis beserta ekor yang menempel di Karma.
'Apa yang dilakukannya kemari?!' Pikir keduanya.
"Ternyata kita tidak boleh meminumnya satu botol penuh ya, Laxative."
'DIA IBLIS!'
Kedua gadis itu dapat membayangkan bagaimana Karma mencampur Laxative (obat pencuci perut) kedalam minuman atau makanan Koro-sensei hingga membuatnya buang air besar terus-menerus seperti tadi. Bahkan Koro-sensei hanya menemui mereka berdua selama kurang dari 3menit.
"Karma-kun apa yang dilakukan sensei sampai kau seperti itu padanya?"
"Oh, dia berusaha memaksaku masuk dan istirahat dikamarku."
"He?"
"Koro-sensei melakukan kunjungan kerumahku. Dia memaksaku istirahat.."
Karma bicara dengan santainya sambil melempar-lemparkan botol Laxative yang dipegangnya sedari tadi.
"Memangnya kenapa kau tidak mau kekamar?"
"Aku menyembunyikan seseorang disana, dikamarku."
"APA?!"
"Kenapa? Memang tidak boleh?"
Karma pun berjalan memasuki gedung sekolahnya. Senyuman tidak lepas dari wajahnya yang tampan. Ia bahkan membuat setiap orang yang dilewatinya terbengong-bengong, terpesona akan senyuman Karma.
"..."
Rio dan Kayano hanya bisa terdiam dan membatu melihat kelakuan 'setan merah kelas E' itu.
"Nee.. Nee.. Kayano-chan.."
"Hmm?"
"Aku jadi kasihan sama orang yang disembunyikan Karma itu.. Orang itu pasti pacarnya.."
"Malang sekali nasib gadis itu..." Guman Kayano pelan.
.
.
'Jadi, sekarang apa yang akan kulakukan...'
Karma berdiam diri dalam kelas. Ia hanya duduk dibangkunya sambil menaikan kedua kakinya diatas mejanya. Ia merasa begitu bosan.
Tap! Tap! Tap!
Kedua mata Karma tertuju pada sosok pria berambut spike yang tengah berjalan didepan kelasnya sambil membawa sebuah helm. Kedua mata merkurinya terus menatap sosok itu sampai sosok itu menghilang dari pandangannya.
"Mungkin aku bisa pinjam sebentar.."
Karma tersenyum penuh arti, ia lantas menurunkan kedua kakinya dan mulai melangkahkan kedua kakinya mengikuti pria berambut spike itu.
"Karma-kun!"
Seseorang memanggilnya, Karma pun menoleh untuk melihat siapa gerangan orang yang memanggilnya barusan.
"Nagisa.."
"Karma-kun, tumben kau sudah datang sepagi ini? Ada apa?"
"..."
Karma hanya terdiam, ia menatap plester yang nempel wajah Nagisa. Ia sedikit kesal mengingat Nagisa telah 'menghajar' dirinya sebelumnya.
"Karena aku ingin.. Memangnya gak boleh?"
"Cih! Kau bersikap menyebalkan lagi, Karma! Pantas saja Isogai-kun meninggalkanmu!" Cibir Nagisa.
Karma merasa kesal mendengar perkataan Nagisa. Ia bahkan menatap tajam Nagisa sambil mengangkat sebelah alisnya, sebuah persimpangan besar juga tampak menghiasi dahi sang 'iblis merah kelas E'.
BRAAAK!
Karma mencengkram kerah seragam Nagisa, ia mendorong kuat tubuh Nagisa hingga menghantam dinding. Nagisa merasakan sakit yang luar biasa di punggunggnya, ia bahkan berani membalas tatapan tajam dari kedua mata merkuri dihadapannya.
"Hah?! Kenapa Karma-kun?! Aku benar, kan?!"
"Tahu apa kau soal aku dan Yuuma?! Jangan bicara seolah kau tahu apapun!"
"Dia memutuskanmu kan?! Setelah itu dia mulai dekat dengan Asano. Aku sangat yakin dengan hal itu hanya dengan melihatmu yang uring-uringan setiap melihat Asano sialan itu!"
DUUAAAK!
Karma melayangkan pukulannya tepat ke dinding di sebelah kepala Nagisa. Ia merasa semakin kesal mendengar apa pun yang keluar dari mulut Nagisa.
"Tapi... Aku sangat yakin dengan satu hal.."
Nagisa kembali berbicara, ia bahkan tetap menatap tajam Karma yang sudah hampir memukul wajahnya tadi.
DUUAAAAK!
BRUUUUK!
Karma terhempas, ia menabrak dinding yang ada dibelakangnya. Karma berusaha bangkit sambil menahan sakit yang ia rasakan diperutnya. Nagisa telah meluncurkan tendangannya tepat diperut Karma.
"Isogai bukanlah milik siapa-siapa saat ini.. Itu artinya, siapa pun bisa memilikinya.." Nagisa menyeringai.
"Uhuuk! Uhuuk! A-a-apa maksudmu, Nagisa?!"
"Heh.. Kau akan tahu sendiri nanti.."
Nagisa berjalan meninggalkan Karma seorang diri. Ia tersenyum dengan penuh percaya diri.
'Aku pasti bisa.. Aku tidak akan kalah dari Karma ataupun Asano..' Pikir Nagisa.
Karma menatap punggung Nagisa, ia bisa merasakan kesungguhan dari aura yang mengelilingi Nagisa.
'Cih! Sial! Bertambah lagi sainganku!'
Karma tampak geram. Ia bahkan memukul keras tembok kayu dibelakangnya.
Tiba-tiba saja ia teringat akan tujuannya keluar dari kelas, ia lantas kembali berjalan menuju ruang guru dimana laki-laki berambut spike tadi pergi.
'Yuuma, sampai kapan kau akan membuat banyak pria mengincarmu?!' Desah Karma pelan.
.
tbc
.
Review kalian sangat berarti bagi 'inspirasi' Yumi.. :D
Arigatou!
