we just broke up!

.

Disclaimer: Ansatsu Kyōshitsu (暗殺教室), Yūsei Matsui

All characters owned by Yūsei Matsui-sensei, but the stories are mine!

Warning!

OOC, OOT, Typo dimana-mana, Alur membingungkan, EYD kacau..

Mengandung unsur SHONEN AI! Yang tidak suka silahkan tekan tombol back pada web browser anda!

.

.

Kalau masih nekat yaaaaaa

Happy Reading.. (^o^)/

.

.

SRAAAAAK!

"Karasuma... sensei.." Karma berteriak cukup keras.

Dua insan yang tengah berada didalam ruang guru itupun membatu seketika. Karma menatap kedua orang itu dengan tatapan malas, bagaimana tidak, Karma melihat dengan jelas wanita berdada besar dengan rambut pirangnya yang tergerai tengah duduk dengan manjanya dipangkuan sang lelaki berambut spike yang dipanggilnya Karasuma tadi.

"Ka-Karma-kun!" bentak wanita cantik itu.

"Wah.. wah.. Bitchy-sensei, pagi-pagi kau sudah meluncurkan 'serangan'mu.. benar-benar deh.. Haha.." goda Karma seraya berjalan mendekati kedua orang itu.

SRAAAK!

BRUUUUK!

Karasuma bangkit dari kursinya secara mendadak dan membuat Irina terjatuh dari pangkuannya. Ia tampak begitu waspada, bahkan ia sudah berada dalam mode siap bertarung.

"Aduh! Bakarasuma, kenapa kau berdiri mendadak?!"

"Serangan?! Kau ingin membunuhku, Irina?!"

"Hah?! Apa untungnya aku membunuhmu, bodoh! Lebih baik jika aku membunuh Gurita kuning itu kan!"

"Lalu apa maksud Karma tadi?!"

"Hahaha.."

Karma tertawa senang melihat perdebatan konyol guru-gurunya itu. Karasuma dan Irina hanya bisa menatap heran murid mereka yang bersurai merah itu.

"Eheem.. Karma, apa yang kau lakukan disini?" Karasuma berusaha bersikap tenang.

"Ah, aku sampai lupa. Karasuma-sensei, aku ingin meminjam motormu..."

"Mo.."

"Sekarang ya."

Karma menatap tajam Karasuma tepat dikedua matanya. Tiba-tiba saja Irina bangun dan berjalan mendekati Karma. Ia berbicara tepat didepan wajah Karma.

"HAH?! Apa kau pikir dia akan meminjamimu motornya?! Apa kau gila, Karma-kun?! Dia tidak mungkin meminjamkan motornya untuk anak SMP seper..."

"baiklah, akan aku pinjamkan."

"EH?! Karasuma, kau tidak salah?! Dia baru kelas 3 loooh.. kelas 3 SMP!"

"Benarkah sensei?!" Karma terdengar begitu kegirangan.

"Tapi aku yang akan mengantarmu, kau tidak keberatan kan?"

Karma mengangguk pelan, senyuman mengembang begitu lebar diwajahnya. Karasuma lantas mengambil helmnya dan berjalan begitu saja melewati Irina yang tengah mengomel tidak jelas padanya. Ia mengabaikan wanita cantik dan sexy yang telah berusaha 'menyerang'nya tadi.

"Ayo Karma, aku kan mengantarmu sekarang.."

"Haik, sensei.."

"Dan terima kasih sudah menyelamatkanku..." guman Karasuma pelan.

Karma yang mendengarnya hanya bisa terdiam, ia tidak menyangka kalau perkataannya benar-benar ditanggapi dengan sangat serius oleh lelaki berambut spike itu.

'Dia itu.. bodoh ya..' pikir Karma.

.

.

DRAP! DRAP! DRAP!

Isogai berlarian. Ia sudah mengenakan seragamnya, walau kini seragamnya tampak semakin berantakan setiap ia menapakkan kakinya untuk berlari.

"Bodohnya aku! Kenapa aku harus mandi selama itu?! Telat!"

Isogai terus berlari, ia bahkan bisa melihat halaman gedung kelasnya yang tampak sepi. Ia yakin pasti semua anak sudah masuk kedalam kelas.

'Ini semua gara-gara Karma..' gumannya dalam hati.

Ia mengingat bagaimana Karma melakukan 'ini-itu' padanya dan meninggalkan beberapa kissmark ditubuhnya serta membiarkan dirinya penuh sampai pagi. Mengingatnya saja sudah membuat Isogai pusing dan juga malu setengah mati. bahkan wajahnya memerah bila mengingat bagaimana ia memberikan tanda-tanda 'seducing' kepada Karma sepanjang malam, dan bagaimana ia sangat menikmati malamnya.

BRUUUUUUK!

Isogai menabrak sesuatu dihadapannya. Ia hampir saja terpental dan terjatuh, namun sebuah tangan hangat nan lembut berhasil menangkapnya sebelum ia sempat terjatuh.

"Isogai-kun, daijoubu desu ka?"

"Haa-haik, da-daijou.. Na-nagisa-kun?!"

"Hahaha.. Kau ini hobby sekali menabrak orang? Atau mungkin aku ya yang hobby nabrak orang.."

Nagisa masih menggenggam lengan Isogai dengan lembutnya. Ia membiarkan sang Ketua kelas berdiri dengan tegak dan benar sampai ia akhirnya benar-benar melepaskan tangannya.

"Arigatou, Nagisa-kun.. Maaf telah menabrakmu seperti tadi.."

"Hahaha.. Tidak apa kok, kau tidak salah isogai-kun."

Nagisa tersenyum dengan manisnya pada Isogai, berbeeda dengan isogai yang tampak merasa bersalah dan juga sedikit kebingungan dengan keberadaan Nagisa diluar kelas seperti saat ini.

"Umm... Nagisa-kun.." Isogai tampak sedikit ragu.

"Hmm? Ada apa Isogai-kun?"

"Kenapa kau berada di luar kelas? Bukankah ini sudah saatnya pelajaran dimulai?"

"Yah, kau benar. Kalau saja Karma tidak memasukan satu botol laxative pada makanan Koro-sensei, mungkin saja pelajaran sedang berlangsung sekarang."

"E-eh?" Isogai bingung.

Namun wajah Nagisa yang tampak begitu serius membuat Isogai hanya melongo tidak percaya.

'Karma! Apa yang telah kau lakukan?!' batin Isogai menjerit.

.

.

Motor hitam itu berhenti tepat disebuah tempat parkir yang begitu luas di depan sebuah gedung besar bercat putih. Dua insan yang tengah berboncangan itu mulai turun dari motor itu.

Si surai merah membawa sebuah rangkaian bunga ditangannya. Kedua mata merkurinya menatap lembut kearah bunga yang tengah dibawanya itu. Tentu saja, jangan lupakan sosok berambut hitam yang tengah mengantarnya. Ia hanya bisa menatap heran gedung dihadapannya.

'Ru-rumah sakit?' Karasuma tampak kebingungan.

"Ummm.. Karma-kun.."

Belum sempat Karasuma sensei mengatakan apa yang ada dipikirannya, Kedua matanya mendapati karma yang tengah tersenyum lembut kepada dirinya.

"Ayo sensei, kau tidak mungkin menunggu disini kan?"

Tanpa keraguan sedikit pun Karasuma menganggukan kepalanya dan ia mulai berjalan mengikuti muridnya yang bersurai merah itu masuk kedalam gedung rumah sakit yang didatanginya itu.

Selama mereka berjalan masuk dan semakin masuk kedalam gedung rumah sakit itu, tidak jarang para perawat menyapa Karma dengan ramahnya seolah mereka sudah kenal begitu dekat dengan Karma.

"Karma-kun! Lama tidak berjumpa, bagaimana sekolahmu?" seorang perawat berambut pendek menyapa Karma.

"Ah, Yuuki-san. Sekolahku baik. Maaf aku baru sempat datang lagi." Karma tersenyum lembut.

"Apa kau membawa bunga itu untuknya lagi?"

"Hmmm... bagaimana kondisinya?"

"Sudah mulai membaik, tapi sekarang beliau tengah tertidur akibat efek suntikan yang kami berikan."

"Syukurlah jika beliau baik-baik saja."

Karasuma masih tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh Karma dan perawat itu. Yang dapat ditangkap olehnya hanyalah 'Ada seseorang yang tengah dirawat di rumah sakit ini dan Karma sangat mengenalnya' hanya itu yang ia pikirkan.

"Bagaimana jika ku bawakan vas untuk bunga itu."

"tidak perlu Yuuki-san, aku tidak ingin merepotkanmu."

"Tidak apa, berikan saja padaku. Nanti akan kubawakan kekamar lagi." Perawat bernama Yuuki itu tersenyum simpul.

Karma membalas senyumannya sambil menyerahkan karangan bunga yang ada ditangannya. Setelah itu ia kembali berjalan menuju sebuah ruangan yang tidaklah jauh dari tempatnya berbincang tadi.

ISOGAI-SAN

Karasuma menatap papan nama yang tertera didekat pintu dihadapannya. Ia mengikuti muridnya masuk kedalam ruangan itu. Ruangan itu cukup luas, untuk sebuah ruangan yang hanya berisikan satu orang pasien.

Seorang wanita tengah terbaring damai ditempat itu. Kedua matanya menutup rapat, rambutnya yang gelap tampak tergerai bebas, beberapa selang tampak melekat dikulit putihnya. Wanita itu tampaka seperti 'Putri Tidur' dari cerita dongeng.

'Ca-cantik..' pikir Karasuma.

SRAAAAKK! BRUUUK!

"Isogai-san, bagaimana kabarmu?"

Karma menggenggam tangan wanita itu. Wajahnya yang biasanya tampak menyebalkan, kini tampak seperti anak kecil yang tengah bersedih karena sosok ibunya yang sakit.

"Maafkan aku, aku tidak bisa memenuhi janjiku, Aku telah melukai hatinya…"

Kedua mata merkuri itu tampak mulai berair. Tangannya tampak bergetar.

"Tapi..."

Karasuma-sensei hanya diam. Ini pertama kalinya bagi Karasuma melihat Karma menangis, yah walau bagaimanapun Karma hanyalah seorang bocah kelas 3 SMP. Namun kedua matanya tidak berhenti memandang paras cantik wanita yang tengah berbaring lemah diatas ranjang rumah sakit dihadapannya. Jantungnya masih berdebar tak karuan karenanya.

'kireii naa…' ia masih tidak bisa berhenti menatap wanita itu.

"…."

Tiba-tiba ia mendengar Karma menggumankan sesuatu di telinga wanita itu, lalu Karma mengecup pelan dahi wanita itu dengan senyuman tulus mengembang diwajahnya.

"Aku akan mengunjungimu lagi, Isogai-san.." Karma tersenyum penuh arti.

Karma mengusap air mata yang membasahi pipinya, ia lantas berjalan mendekati Karasuma. Ekspresinya telah kembali ke ekpresi murid menyebalkan yang biasa dikenal oleh Karasuma.

"Sensei, mari kita kembali ke kelas.. Gurita Kuning itu pasti sudah kembali ke kelas.."

"Ah.. O-oke…"

Karasuma dan Karma berjalan keluar dari ruangan itu, mereka beberapa kali menyapa atau hanya sekedar tersenyum pada para perawat yang melewati mereka.

"Karma-kun…" ujar Karasuma pelan.

Karma menoleh, ia menatap heran guru berambut spikenya yang tampak ingin bertanya padanya. Karma dengan sabar menunggu Karasuma berbicara padanya, menunggu sang sensei mengatakan padanya pada yang tengah dipikirkannya sejak tadi. Tapi Karasuma hanya terdiam sejak tadi.

"Ada apa sensei?" Karma mencoba sabar.

"Hmmm, don't mind.. mari kita kembali ke kelas.."

"Jika kau ingin tau siapa wanita tadi aku bisa saja mengatakannya padamu, sensei…"

"BENARKAH?!" Karasuma tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya.

Wajahnya bersemu merah, kedua matanya tampak berbinar. Karma hanya melongo melihat ekspresi Karasuma yang seperti itu.

'Dia benar-benar bodoh..' Pikirnya.

"Ah, maksudku… Ya, aku sedikit penasaran tentang siapa wanita itu.." Karasuma terluhat salah tingkah.

"Wanita tadi…"

.

.

Nagisa menikmati waktunya yang damai dikelas. Memang ia sedikit sedih karna Koro-sensei sama sekali belum sehat dari pengaruh laxative yang diberikan padanya oleh Karma. Namun ketidakhadiran Karma dikelas cukup memeberinya waktu untuk bersenda gurau dengan Isogai dan beberapa teman satu kelasnya.

SRAAAAAK!

Semua murid secara spontan berlarian menuju bangku mereka masing-masing, mereka mendapati sosok Karasuma-sensei yang tengah berdiri diambang pintu kelas sambil membawa sebuah helm ditangannya.

Kedua mata Nagisa langsung terbuka lebar begitu ia mendapati sosok Karma yang berjalan tepat dibelakang Karasuma-sensei dengan santainya.

"Duduklah…"

"Haik-haik…" Karma dengan nada menjengkelkannya.

"cih!"

Nagisa begitu kesal melihat kelakuan Karma yang seperti itu. Ingin sekali ia melemparkan pisau anti sensei yang ada dilacinya. Atau mungkin malah melempar sebuah pisau asli tepat kewajah Karma.

"Aku tidak akan menyerah, ular berbisa…" Bisik Karma ditelinga Nagisa.

Dengan cepat tangan Nagisa mengacungkan mulut pistolnya di dagu Karma. Tapi tangan Karma tidak kalah cepat mengarahkan pisaunya tepat dileher Nagisa.

"KYAAAAA!"

Beberapa anak gadis mulai menjerit. Semua orang bangkit dari bangku mereka masing-masing. Ya, semua orang termasuk Isogai Yuuma.

"KARMA! NAGISA! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" Karasuma-sensei berteriak dari tempatnya berdiri.

Tatapan marah Nagisa dibalas dengan tatapan kesal Karma. Keduanya saling menatap, lalu saling melemparkan seringaian. Aura kelam memenuhi sekeliling mereka, seolah sosok Leviathan dan sang Joker Psikopat tengah saling mengintimidasi satu sama lain. Mereka diam, hanya diam tanpa kata. seolah berkomunikasi satu sama lain dalam diam.

"Kau yang memulai Nagisa.."

"Yah, kurasa kau benar, Karma-kun.."

Keduanya mulai menurunkan senjata mereka. Saling menatap tajam, lalu saling menjauh dan kembali duduk dibangku mereka masing-masing, membiarkan semua orang yang masih membeku karna ketegangan yang diciptakan kedua insan gila itu.

'Aku tak akan menyerah..' Batin Karma dan Nagisa bersamaan.

.

.

Tbc

.

.