"... Mi! Kunimi!"

Hah... A-Apaan ini-.

Perlahan pandangan seorang remaja menangkap sesosok pria tua yang sedang berdiri persis di samping kirinya. Dengan memegangi buku standar mata pelajaran Matematika pada tangan kirinya, pria berpakaian wol berwarna hijau yang menyelimuti kemeja panjang putihnya ini lalu menginterogasinya dengan nada kesal, "Akira Kunimi. Sudah berapa kali saya peringatkan kau? Jangan tertidur di jam pelajaran Bapak, atau kau akan mengulang lagi mata pelajaran Matematika ini."

... Guru...? Oh iya, iya...!

"Maafkan saya, Pak. Saya mau cuci-."

"Selesaikan dulu soal yang akan Bapak berikan." tahannya.

Bah... Tapi karena takut situasi ini takkan baik... Apa boleh buat dulu.

Kunimi lalu kembali duduk dengan manis. Dengan semena-mena Bapak lalu memberikan pertanyaan panjang nan luar biasa mumetnya, "Akira Kunimi, selesaikan soal yang Bapak sebutkan. Nomor lima; Pak Gamou akan menjual berasnya sebanyak 60 karung dengan berat per karung 70 kg. Ia akan menjualnya melalui seorang komisioner bernama Pak Fukuzawa dengan kesepakatan 3%, rofaksi 10%, dan komisi 15%. Beras dijual Yen 4000,00 per kg. Tentukan : a) Hasil komisi yang diterima Pak Fukuzawa. b) Hasil penjualan yang diterima Pak Gamou. Sekarang."

Begitu guru tersebut selesai menyebutkan nomor lima soal matematika pada textbook standar anak SMA tersebut, ia dengan malas berdiri. Sembari menghela napas, ia lalu berjalan dengan santai menuju papan tulisan. Jemari mungilnya lalu meraba kapur pada kotaknya, dan kemudian menulis dengan cekatan. Yang membuat seluruh siswa kelas itu menganga syok, ia menulis jawabannya dengan sangat mendetail (bahkan ia sengaja menambah beberapa trivia pada salah satu penyelesaiannya). Guru Matematikanya sampai tak sadar kacamatanya melorot hingga dagu dan bukunya terjatuh dengan nistanya pada lantai.

Dengan seringaian puas, Kunimi lalu berbalik dan berkacak pinggang pada salah satu tangannya, "Sudah selesai, Bapak. Aku jamin jawabannya pasti sama dengan yang ada di buku Bapak."

Murid yang duduk persis di sebelah Kunimi lalu membungkukkan badannya ke buku malang itu; dan ternyata catatan jawaban soal itu memang sama persis!

A-Apa-apaan dia...?!

"... Errr, um... Y-Ya, kau boleh cu-cuci muka..." Tanpa mampu berkata-kata, guru itu hanya bisa mempersilakannya.

"Makasih, Pak." Tanpa tedeng aling-aling, ia lalu keluar dari pintu depan, hendak ke toilet untuk mencuci muka.

Tanpa Kunimi itu sadari, segenap siswa di kelasnya seketika menggosip tentang perubahan pada diri Kunimi. Ya iyalah, masa anak yang bahkan untuk bangun ditengah kelasnya saja susah minta ampun, mendadak menjadi seperti cowok badass di komik shoujo? Belum-belum dia bahkan menyelesaikannya kurang dari semenit dan dari wajahnya saja dia bahkan sudah senang hati mengejek habis seluruh murid tersebut, seperti orang utan.

Itu Kunimi kesambet apa gusti...?!

.

.

.

Joker Game ~ Switch On!

© Himomo Senohara (is now Sakurasakakihara-P)

Disclaimer : I own nOTHING OK? Eh plot punyaku deng lol

Warning : Sekarang beralih ke rada serius *dipenyet*. Garing kriuk. Amnesia (?). Absurd pasti. OOC? Iye. AU? Udah pasti. Gatel? Iya. O(-(

A/N : Heyya heyya *kissu* btw aku jadi pengin ikutan tuker Oink2 sama Kmng atau ga Myosh :( *dipenyet lagi*

.

.

.

"Hah? Masa siiih!? Kau nggak canda ye?!"

"Iya, suer! Pak Honnou-sensei aja tadi pasang muka kayak gitu terus! Eh, lihat, itu orangnya!"

Seketika koridor kelas 1-6 riuh ramai usai pelajaran Matematika barusan. Siapa sangka, Pak Honnou, guru Matematika galak yang mengajar di kelas 1-6 barusan, tahu-tahu keluar dengan wajah loyo. Mukanya seolah kehilangan cahaya dan baru saja dirasuki setan bernama apathetic. Punggungnya membungkuk, dan ya kalian tahulah. Seakan belum puas, semua murid kelas tersebut juga keluar dengan aura yang sebelas-duabelas dengan guru barusan; hanya karena satu kejadian tak biasa tersebut.

Dan benar saja, rumor akan 'perubahan radikal' keadaan Kunimi seketika menyebar luas hingga seantero sekolah. Masalahnya, Kunimi ini dari dulu memang tak terlalu populer, baik secara akademik maupun kehidupan sosialnya. Namun siapa sangka, Kunimi yang menyindir dengan papan yang penuh dengan trivia dan penyelesaian jawabannya telah menggegerkan sekolah Aobajousai tersebut. Mau tidak mau, ia akhirnya menjadi buah bibir yang mengejutkan.

Hanya satu saja yang patut disayangkan, tapinya.

Kunimi yang satu ini... Sebenarnya bukan Kunimi yang asli.

"Hoahm..." Eh, pucuk diundang ulam, akhirnya Kunimi yang satu ini, muncul.

Kindaichi, sang sobat terbaik 'Kunimi' itu, lalu melirik anak-anak yang kedapatan menatap Kunimi dengan lirikan khawatir. Ia kemudian berbisik dengan suara pelan di sampingnya, "Kau terlalu menyolok, 'Kunimi'-san... Yah, aku tahu sih, kalau Kunimi memang suka tidur, tetapi nggak sampai menyindir guru seperti itu. Kurangi sedikit, kek, kepintaranmu. Mereka pasti menaruh kecurigaan padamu nantinya...!"

Si om, eh, 'remaja' berambut belah tengah ini lalu tersenyum padanya, "Ah, kamu ini. Anak-anak jaman ini agaknya perlu kugembleng sedikit lebih keras..."

"Ja-Jangan! Po-Pokoknya, kau punya aturan di dunia ini; kau jadi 'Akira Kunimi' sampai kita benar-benar bisa menemukan cara untuk menukarmu kembali...!" Kindaichi seketika menahan kemauan mengerikan 'Kunimi' itu.

"Iya, iya, Kindaichi-kun." Kunimi cemberut mendengar omelan Kindaichi.

"Ya... Eh, kau sudah terbiasakah?" tanya Kindaichi sesekali melirik para murid yang menatap heran 'sahabat'nya tersebut.

'Kunimi' ini lalu menoleh ke Kindaichi sesaat, dan kemudian berpikir; mencoba untuk merangkai penjelasannya. Ia lalu menjawabnya begitu mereka mulai menuruni tangga menuju kantin, "Bagaimana menjelaskannya, ya. Dunia ini terlalu hebat, menurutku. Banyak sekali hal-hal yang baru pertama kalinya aku lihat... Dan bahkan ini masih Jepang... Sudah dimodernisasi sedemikian hebatnya, sampai-sampai aku harus banyak belajar..."

Kindaichi tentu saja ingat kejadian kemarin malam; yang membuat 'Kunimi' ini mengusutkan wajah sedemikian seriusnya...

.

.

.

Flashback

"Mumpung kau masih belum terbiasa dengan keadaanmu ini, menginaplah."

Seluruh anggota klub voli itu terhenyak sesaat begitu sang kapten memberinya titah. Si kapten lalu memberikan penjelasannya selagi meminum minuman isotonik, "Besar dugaan kau mungkin akan kena trauma atau terkena kejadian yang tak diinginkan, belum lagi tubuhmu yang menyusut, akan menimbulkan keributan yang dahsyat besoknya. Biar aku dan Iwaizumi yang memberi keterangan kepada Ibu dan Ayahmu. Iwaizumi, rumahmu cukup dekat dari sekolah ini 'kan?"

Iwaizumi lalu menggangguk singkat, "Iya, tetapi aku nggak yakin apa rumahku bakalan cukup untuk menampung satu orang sih. Rumahku ngepas orang soalnya."

Si kapten lalu menghela napas, dan mengode sisanya.

"Aku bisa." Tiba-tiba Yahaba, si setter Aobajousai, menawarkan dirinya.

"Oke, kita mampir dulu ke rumah Yahaba-chan. Kau tentu saja tak apa-apa kan, Kun... Eh, Shimano-san?" tanya Oikawa melirik Shimano.

Shimano, si 'Kunimi' yang nyasar, lalu menggangguk pelan dengan seragam SMA Aobajousai yang sudah disesuaikan oleh manajer mereka. Dengan menatap heran dan sedikit rasa horor pada seragamnya, Shimano lalu bertanya-tanya, "Kalian hebat ya, bajunya sudah keren seperti ini. Longgar, enak, cocok untukku. Belum lagi sweater putih yang bagus ini. Oh, simbol ini... Simbol sekolah Aobajousai... Simbolnya bagus juga."

Ini anak betul-betul amnesia atau apa...? Baik si kapten maupun semua anak klub itu, mengernyit heran.

Si 'remaja' ini lalu menoleh kepada mereka; memperlihatkan rasa penasarannya, "Anooo... Oikawa, tadi kau melihat sesuatu di tanganmu ketika kutanya tanggal hari ini 'kan? Apa itu? Kok tipis dan aneh begitu?

"Oh ini?" Oikawa lalu menunjukkan smartphone yang dikeluarkan dari saku celana panjang berwarna putih miliknya, dan melanjutkan seraya mengutak-atik smartphonenya, "Ini smartphone. Fungsinya bisa menelepon, lalu SMS, atau macam-macam lah! Bisa internetan lho! Merek iPhone lhooo~~"

Lah, berasa salesman nih anak... Anak-anak klub itu mau tidak mau, ber-sweatdrop berjamaah.

Shimano lalu mendekati si kapten klub tersebut, dan kemudian ikut mengintip smartphonenya. Sesekali ia ikut mencoba, dan berakhir ia malah seperti kucing garong yang habis digertak saking takutnya. Setelah beberapa kali adaptasi terhadap gadget termasyhur tersebut, ia sudah lebih bisa menngutak-atiknya tanpa kesalahan apapun. Sesekali ia memekik pelan ketika smartphone itu menderingkan nada panggil dan lagu.

("Ini smartphone praktis sekali. All-in-one... Bahkan kalkulator ada di sana, terus radio juga bisa. Download? Ini darimana ya downloadnya... OH?! INTERNET?!" Begitu saja cuitan Shimano hingga telinga semua anggota budek mendengarnya.)

Oikawa lalu menyodorkan earphonenya seraya menjelaskan, "Ini earphone. Pakai kedua ini pada telingamu, ujung yang satu ini namanya port; harus dicolok ke sini. Bentar, aku coba putar dulu lagunya... Mmm... Double Reason? Ada saran?"

"Namae wa Yobu aja." usul Yahaba. Diam-diam dia otaku, dih.

"Boleh juga... Bentar, bentar, ini!" Si kapten ini lalu mengeset urutan lagunya.

"Wah... Suara siapa ini? Enak benar." komentar Shimano terpaku.

"Ya kan~." Mendadak hidungnya terbang tuh. Lagunya juga bukan, duh!

Yahaba lalu menginterupsinya, "Ngomong-ngomong, di rumahku banyak loh lagu-lagu yang ngehits. Bisa dipilih-pilih, sekalian sama CD nya. Oh ya, sekalian nih. Ada yang mau nebeng di rumahku? Lumayan, ada banyak game yang ingin kutamatkan sekaligus, jika ada."

Seketika semua tangan teracung begitu Yahaba mengundangnya hadir, diikuti dengan kasak-kusuk menanti rencana bulusnya mengerjai si setter yang satu ini. Pasti ujung-ujungnya ribut di rumah nantinya.

Dan cengiran Oikawa makin memekar, kemudian mengomandoi geng volinya dengan satu cengiran nistanya, "Oke! Malam ini kita begadang di rumah Yahaba-chan yuk! Sekalian kita didik anak ini~~ eh eh, Yahaba-chan, kau udah namatin berapa game? Kali aja ada judul game yang menarik~!"

"Sip! Gue ada F*nal F*ntasy terbaru! Terus masih banyak lagi! Ero juga-."

"NGGAK! AKU NGGAK PENGIN ITU!"

"Yahaba mesum aaah~."

"Yaelah, terserah."

Iwaizumi; si wakil kapten klub voli itu, lalu mencuri pandang sesekali kepada Shimano. Lalu ia mendekatinya dan bertanya selagi Shimano masih dibiarkan menjelajahi dunia baru dari gadget itu, "Kau benar-benar sudah tidak apa-apa 'kan, kalau dibawa ke rumah Yahaba-san? Mereka ini memang seenaknya sih, tetapi mengertilah, ini juga demi persiapan darurat. Kita saja tidak menduga kau akan seperti ini... Jadi yaaa..."

Shimano, diluar dugaan, menggangguk manis, "Ya, saya mengerti kok, Iwaizumi-dono. Saya tidak masalah kok, lagian saya penasaran dengan dunia ini."

"Eh, jadi Shimano sudah fix?! YAAAAY! Malam ini, kita pesta di rumah Yahaba-chaaaan!"

"AAAAAAAAAAAAY!"

Sore hari yang tak biasa itu, ditutup dengan suasana heboh; satu geng voli Aobajousai terlalu hiper akan niat (nista) mereka untuk mengenalkan dunia itu pada om-coret-bocah itu. Iwaizumi hanya bisa memijat pelipisnya; lelah dengan tingkah autis nyaris semua anggota tim voli sableng ini; begitu juga dengan Kindaichi. Mereka berdua hanya satu dari sangat sedikit orang waras yang masih bertahan di klub itu; entah merekanya yang terlalu cinta voli atau tahan banting terhadap tingkat kesablengan kelas elitnya klub ini.

Aku benar-benar berharap ini anak masih bisa mempertahankan kewarasan dan... Errr... Ingatannya bisa balik deh... Iwaizumi hanya bisa berharap demikian; jika tidak, mereka betul-betul akan menghadapi badai masalah esok harinya...

[xXx]

Sekarang, kantor agensi; tidak, kantin kantor itu tampak begitu kikuk.

Luar biasa kikuk dengan adanya makhluk berambut belah tengah serta jangkung, yang sedang duduk menontoni permainan poker yang dimainkan oleh para om-om tersebut. Kaminaga tampak grogi menatap meja itu; sedangkan Miyoshi memilin-milin rambut, Jitsui sesekali melirik si terjangkung itu, Tazaki dengan antengnya bermain dengan burung merpati kesayangannya, Odagiri duduk di dekat si jangkung itu (dan tampaknya tidak terlalu terpengaruh dengan keberadaannya), Fukumoto tampak memasak sesuatu, Amari masih bersiul-siul dengan girang.

Sakuma sendiri masih keluar; ia tampaknya sedang memenuhi keperluannya di luar sana.

Si terjangkung itu sendiri, masih sedikit-sedikit menahan bau sumpek; ia tak terbiasa dengan suasana di lingkungan barunya. Belum-belum ia harus mengenakan piyama putih agak kekecilan milik si kepala agensi itu; tampaknya ukuran para om-om itu sedikit banyak, kekecilan dibanding ukuran tubuhnya yang memang luar biasa 'titan' itu.

Aduh... Aku masih belum terbiasa dengan suasana seperti ini... Mau tidak mau, bocah titan ini mengeluh segenap hatinya; di dalam kalbunya.

Merutuki dirinya yang bisa-bisanya terantuk pada benda keras dan... Tiba-tiba sudah muncul di lingkungan serba asing seperti sekarang ini.

"... Uh, Kunimi?" Tiba-tiba seseorang memanggilnya.

"Y-Yeah?!" Dan auto berdiri dengan memasang pose kuda-kuda.

Odagiri tanpak terhenyak kaget melihat pose kuda-kuda Kunimi; mau tidak mau ia harus memberinya pujian karena bisa mengeluarkan jurus tersebut. Dengan satu buku terapit pada jemari tangan kanannya, ossan pendiam ini menawarinya sesuatu, "Mau air putih? Atau... Kau mau makan sesuatu? Fukumoto-san bisa membuatkan sesuatu untukmu; tenanglah."

"E-Err... Kebetulan aku sedang lapar; mau minta makan dong. Oh ya, bukakan jendela itu; aku tak biasa disuguhi aspa rokok, kau tahu." Dengan malu-malu, Kunimi, si titan kelas 185 senti ini, melirik Fukumoto yang tampak membersihkan piringnya.

"Katakan saja, Kunimi-dono." ujar Fukumoto masih sibuk bebersih piring.

("Aaauww... Ya sudahlah, Kunimi-dono. Aku yang buka saja ya." Lalu diikuti dengan Tazaki yang membuka dua jendela; tak rela makhluk itu diracuni dengan asap rokok yang biasa mereka hirup sepanjang hidupnya.)

"... Ngg... Nasi dengan ayam yang digoreng di atasnya... Katsudon?"

"Wah, tak biasanya. Oke, tunggu sebentar."

Miyoshi lalu menyembur Kunimi selagi masih bermain poker, "Memangnya di eramu su-sudah biasa ya, makan makanan semewah itu...?"

Kunimi lalu menggangguk seraya menggoyang-goyangkan kursi reyotnya, "Iya. Semuanya serba ada sih... Bahkan sudah ada masakan internasional sih. Ada spaghetti, apa lagi ya... Oh ya, ada nasi goreng dari In*onesia. Enak banget, sampai-sampai aku ketagihan. Terus, karamel asin, aku juga suka sekali. Pasta, pizza, masih banyak lagi. Kebab juga ada, lumayan suka sih."

Waduh... Itu semua bisa didapatkan di sini?! Semua ossan seketika terperangah mendengar jawaban Kunimi; betapa mereka terlalu ngeri membayangkan semua masakan di dunia bisa ada dan didapatkan di satu tempat, yaitu Jepang!

"... Terus, minumannya?" tanya Kaminaga yang perlahan menutup semua kartunya di meja; yang langsung diprotes oleh Amari.

("Oi! Ini belum kelar! Buka!" protes Amari memaksakan posisi Kaminaga untuk siap mengeluarkan kartunya. Dan sedikit-sedikit ditinju pada pipinya oleh yang bersangkutan.)

"Oh, itu." Kunimi lalu bersandar pada sandaran kursinya dengan malas; salah satu kakinya lalu diangkat pada dudukannya, "Radikal sekali. Banyak minuman berkaleng yang beredar di masa depan. Bayangkan... Umm... Kaleng ikan, tetapi tingginya lebih tinggi dan diameternya kira-kira segini. Lalu diatasnya ada semacam alat untuk membengkokkan besi itu, dan tadah. Lubang sudah dibuat, dan diminum, deh. Oh ya, makanan banyak juga yang dikemas dalam bentuk kaleng... Cuma ya, bahannya beda. Sterofoam, gitu."

... APA SIH YANG DIA KATAKAN YA LORD-.

Otak para ossan seketika ngehang mendengar penjelasan Kunimi. Kalau disajikan lewat kaleng macam ikan sarden, kek, kaleng, mereka bisa paham. Tetapi minuman? Diisi dalam kaleng seperti ikan sarden, hanya saja ukurannya beda?! Lalu jika dibiarkan lama bagaimana jadinya nanti...?! Membusuk? Bisa jadi! Terus, itu gimana bikin lubang di atas kaleng minuman?! Katanya ada alat untuk membengkokkan tutup atasnya... Jangan ngomong itu semacam alat cungkil yang biasa dipakai untuk nyopet di rumah orang...!

Jangan-jangan sepaket sama alat cungkil itu...?!

("Kalian ini bodoh atau apa? Mana ada cerita alat cungkil dipakai untuk membuka kaleng minuman." kritik Kunimi bete. Dan Kaminaga serta Miyoshi auto menghapus bayang-bayang nistanya; yang berakhir dicengengesin satu geng dalam ruang itu. Duo nista ini mau tak mau berakhir mengutuki mereka yang meledek imajinasi absurdnya.)

TRAK.

"Sudah jadi. Memang tidak terlalu jago bikin begini, tetapi makanlah." Fukumoto seketika memecah rasa horor dan nano-nano di sekitar para ossan ini, dengan menaruh katsudon diatas piringnya, persis di konter itu.

Kunimi langsung berdiri dengan antusias; mengabaikan otak para ossan yang dibiarkan sedikit nge-hang, "Wah, kelihatannya enak! Itadakimasu...!"

Ia lalu mampir ke konter tempat Fukumoto menyajikan makanan pesanannya, dan memakannya dengan tenang. Sesekali kunyahannya ditemani dengan pujian; betapa ia tak menyangka bahwa masakan om yang satu ini enaknya sudah melebihi chef kelas profesional. Miyoshi lalu menyengir kecil melihat si terjangkung ini makan dengan lahap, dan menyindirnya, "Perut anak muda biasanya dua atau tiga biji ya? Napsu makannya besar gitu~"

"Nghak kok. Bhasyahnya bhegni kok." Dengan dipadu suara lahapan makanan, Kunimi melirik si ossan narsis yang satu ini dari konter.

"Makan dulu woi, Kunimi-dono." protes Jitsui melihat dirinya berlaku demikian. Aih, meski kau setan sekali, baik sekali ya memperhatikan anak yang satu ini.

"Okheeeh."

Ossan narsis ini lalu mengkode keras ke empat partisipannya; memutuskan untuk mengganti topik selama permainan Joker. Si lucky-go ini lalu menggangguk antusias; sedari kemarin ia tak bisa berhenti memikirkan segala hal tentang bocah titan itu. Barangkali rasa berdosanya berkurang setelah disodorin macam-macam cerita oleh 'Hatano' nyasar ini. Asal tahu saja nih, ini ossan kemarin malam sempat samperin itu anak dan didengarkan bermacam ceritanya; alhasil lihatlah... Dia jadi sumringaaaah begitu!

Si lucky-go ini lalu membuka topik barunya selagi memasang koinnya, "Ngomong-ngomong, Kunimi-dono hebat ya... Bahkan tahu sedikit-sedikit tentang sejarah sekarang! Dan udah gitu dikasih ramalan gratis tentang masa depan Jepang~"

Tazaki yang dari tadi bercumbu dengan merpati kesayangannya, lalu menyelanya, "Oh itu ya? Sebenarnya sudah kuduga sih, kalau Jepang bakalan begitu..."

"Memangnya kenapa, Tazaki?" tanya si lucky-go menoleh padanya yang duduk persis di belakangnya.

Dengan mengedikkan kedua bahunya sesekali, Tazaki menjawabnya, "Tempo lalu sempat mengintip informasi jaringan militer Jepang ketika masih mengerjakan tugasku. Kenyataannya, banyak perwira kelas atas yang masih ragu untuk menggunakan informasi yang ditawarkan oleh agensi ini. Hei Odagiri, kau juga tentunya mendengar hal ini kan?"

"Ah? Iya, Tazaki-san. Kapasitas kekuatan militer sebenarnya juga kurang memadai." Padat, jelas, dan lalu balik baca buku lagi deh.

"Woah... Lalu kita disuruh wajib militer? Ogah aaah~" Miyoshi lalu bercuih dengan elegannya.

"Wajhib milthieir?" Kunimi masih dengan seenak jidatnya bertanya selagi mengunyah suapan terakhirnya.

"Telan dulu tuh makanannya. Oh, kau nggak tahu ya? Semacam pelatihan untuk bertempur. Biasanya hanya langkah darurat ketika nggak ada lagi stok prajurit." Bagai ayah dan anak (?), Jitsui memperingatkannya sambil mengambil selembar kartunya.

Kunimi lalu menelannya, dan membalikkan posisi sehingga ia dapat dengan mudah menontoni permainan yang dikiranya poker itu. Jitsui yang menyengir kecil dengan mengode keras ke si chef, lalu menunjukkan deretan kartu pamungkasnya. Lalu di-counter oleh si ossan narsis, dan kemudian berujung si lucky-go yang memiliki nilai deret kartu paling tinggi. Para partisipan seketika bercuih dengan tak sudinya memberikan taruhannya kepada ossan ganteng itu.

Asli, aku nggak mengerti dimana asiknya bermain ini... Kunimi mau tak mau menggerutu; ia sama sekali tidak mengerti dimana eloknya permainan picisan (?) itu.

Kartu... Koin... Tunggu, kok nggak ada duit? Otak Kunimi berputar ketika menyadari kejanggalan poker itu.

Biasanya poker juga paling ngejudi... Ini kok... Mmm...

"Hei, Miyoshi-san, permainan ini..." interupsi Kunimi mendekat ke sisi Miyoshi.

"Ada apa?"

Dengan telunjuk kanannya yang menyentuh meja kayu berbentuk bundar itu, Kunimi melanjutkannya, "Permainan ini aneh. Kalian nggak bertaruh pakai duit kan? Lalu pakai apa?"

Tiba-tiba cengiran datang dari si ossan daddy alias Amari; lalu ia menjawabnya sembari mengambil lembar kartu selanjutnya, "Pft. Boleh juga kecermatanmu, Kunimi-dono. Iya, kami nggak pakai duit untuk berjudi di sini kok. Hei, Kunimi-dono, pernah dengar yang namanya Joker? Mau coba?"

"Hm? Itu kartu?" Kunimi malah balik bertanya.

"Yep. Coba kemari deh!"

Terpancing oleh umpan manis si daddy ossan ini, Kunimi lalu berjalan mendekati Amari yang duduk persis membelakangi Odagiri. Amari lalu menggeser sedikit posisi duduknya, membiarkan Kunimi melihat decknya; ada kartu dewa di sana; Joker. Lalu ossan ini menunjuk tumpukan kartu di depannya dan menjelaskannya, "Ini seperti campuran Poker dan Remi. Kita menggunakan ranking deret kartu dari Poker, tetapi menggunakan cara main seperti Remi. Tetapi yang membedakannya adalah adanya kartu Joker pada permainan Remi."

Kunimi lalu menggangguk pelan, "Oooh, pernah dengar permainan macam ini. Ayahku sesekali pergi ke kasino untuk judi, seringnya tipe begini."

"Dan yang kita pertaruhkan di sini bukan duit; melainkan seperti permainan otak." Miyoshi menambahkan seraya menggumamkan call.

"Seperti?"

Seulas senyum penuh racun mengembang dari bibir ossan narsis ini, menjawabnya seraya mematikan sumbu api puntung rokoknya yang sudah habis, "Keputusan dalam suatu operasi. Kemarin kan sudah dibahas dalam penjelasan oleh Yuuki-san, lho?"

Oh, itu dia yaaa.

Kunimi tentu saja tahu menahu kasus ini; betapa ia langsung terkena sport jantung mengetahui bahwa tempat dimana ia terdampar ternyata adalah kantor agensi. Bukan apa-apa; Kunimi sudah curiga sedari awal, kantor macam apa yang anggota tetapnya sangat sedikit, mengingat ketika mengintip dari luar, tampaknya kantor itu cukup terkenal. Apalagi Jitsui yang dimarahi habis-habisan ketika tanpa sadar membocorkan satu pertanyaan menohok itu; codename-nya.

("... Jitsui. Aku kecewa denganmu." ujar Yuuki ketika mendengar kronologinya. Jitsui lalu berniat lompat dari lantai empat kantor itu, saking malunya; untung saja keinginan nistanya ditahan oleh Kaminaga dan Tazaki.)

("Oh come on lah! Jangan bunuh diri-." Teriakan itu makin mempermalukan seisi ruang kantor kepala agensi itu; bonus Kunimi yang sekarang memandang trio itu sebagai trio nano-nano. Bayangkan, Kaminaga sampai harus menyentuh bagian vitalnya; anu-nya, untuk melemahkan kekuatan dahsyat dan tenaga kudanya Jitsui. Skandal memalukan itu baru selesai sekitar dua puluh menit, dengan Kaminaga dan Tazaki terpaksa menggotong keluar Jitsui yang sudah terkena delusi mabok lantaran anu-nya dicolek habis oleh si lucky-go itu.)

Kunimi lalu memasang pose berpikir, tangan kirinya menopang dagunya serta siku tangan yang sama lalu ditopang dengan telapak tangan kanan. Lalu jemarinya mengambil tumpukan kartu yang rapi, dan kemudian memasukkannya pada deck milik Amari; tanpa disangka kartu yang diambilnya barusan ternyata melengkapi apa yang dibutuhkannya; kartu Queen. Dengan bekgrun Luci*er, Amari lalu memperlihatkan kartunya seraya tertawa setan, "Closed caaaaall~ lihat! Sudah dapat Royal Flush yaaay!"

PIK.

Curang! Dia pakai Kunimi buat menarik keuntungannya! Dasar!

"... Call." Tiba-tiba Miyoshi menutup deret kartunya. Auranya seketika berubah menjadi ular; lihat, betapa ia menjadi ganas dalam sekejap, mengincar posisinya.

"Aye-aye, Sir." Dengan nistanya malah diikuti dengan dua partisipan; Kaminaga dan Jitsui. Mana tak lupa mereka ikut menutup kartu dan auto mode sadis. Duh, kalian. (lalu pasang emot begini : -_-)

"Mari kita lihat seberapa tahan dia dengan serum." ... Tunggu, Kaminaga, apa itu di tanganmu?!

Amari lalu pasang pose defensif; melindungi Kunimi persis di belakang laksana pangeran melindungi Cinderella-nya dari mimpi buruk. Lalu ia cengar-cengir nista, "Salah apa aku ke kalian?! Lah, ini anak aku ajak masa kalian nggak mau?! Lihat, ini anak kayaknya bisa kumanfaatin deh!"

"SERBU SI BANGKE AMALIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING-."

Kantor agensi itu berakhir rusuh; terdengar suara debum dan kaca pecah. Tak lupa juga beberapa barang pecah belah yang seketika terbang begitu saja ke luar kantor itu dari lantai tiga. Bahkan juga dicurigai ada percobaan pembunuhan; lihat saja Amaling, eh, Amari yang tahu-tahu muncul di jendela dengan kaca pecah plus dua terduga percobaan pembunuhannya alias si lucky-go Kaminaga dan si sadis Jitsui. Bonusnya, mereka mengikat dan mencoba memutar daddy ossan malang ini di luar sana.

Dan berakhir ngenes, turun berita bahwa kantor D-Agensi sedang bermasalah, dan Yuuki mau tidak mau harus melakukan jumpa pers untuk menyikapi kebodohan duo nano-nano itu.

Yuuki, oh Yuuki, anakmu sungguh autis semua...

.

.

.

[Cannot say to be co without to be coo coo. *wink wonk*]