Sejak kecil, Karma tidak pernah mempercayai hal-hal gaib; semacam hantu, iblis, dan sebagainya. Hal-hal tersebut tidak masuk akal. Yah, itu mungkin juga karena Karma tidak pernah merasakan pengalaman spiritual. Ia tidak pernah melihat hantu sebelumnya.

Namun, bagaimana jika orang sudah meninggal, yang seharusnya sudah pergi ke alam sana, justru berada di depannya, tengah menatapnya, saat ini?

Kemunculan Gakushuu di hadapan Karma benar-benar membuat pemikirannya yang dulu hancur.

Inilah pengalaman spiritual yang pertama kali dialami oleh sang pemilik surai merah. Ia baru saja bertemu hantu.

"Akabane? Kau.. bisa melihatku?" tanya Gakushuu kebingungan. Ia tidak kalah kaget dengan si surai merah.

Karma mengerjapkan matanya. Ekspresinya masih menyiratkan kekagetan akan hal yang baru saja dialaminya.

"Heh? K-kau benar-benar Asano?" tanya Karma. "B-b-bukannya kamu s-sudah–"

"Ya, aku tahu. Justru itulah masalahnya."

Eh?


Assassination Classroom – Yuusei Matsui

.

WARNING : OOC, typo(s), bahasa suka-suka, alur menstrim, dan lain sebagainya.

.

Mohon maaf bila ada kesamaan cerita. Cerita ini murni imajinasi saya, tidak ada niatan untuk meniru ataupun menjiplak.

.

Enjoy!

.


Karma menggaruk-garuk belakang telinganya, merasa bahwa ada yang salah dengan indra pendengarannya.

"Maksudmu?" Karma menanyakan kebingungan yang dirasakannya.

Gakushuu mendengus pelan sebelum menjawab, "Aku benar-benar tahu bahwa diriku sudah meninggal tadi pagi." Jeda sesaat sebelum kembali melanjutkan, "Tapi, seperti yang kau lihat, aku sedang berdiri di hadapanmu sekarang. Lalu, menurutmu, Akabane, apa yang terjadi?"

Pertanyaan dijawab pertanyaan– benar-benar menyebalkan. Karma menjadi kesal mendengarnya. Manik merkuri miliknya berotasi malas. "Jawab saja pertanyaanku, Asano."

"Huh? Kau tidak mengetahuinya? Memangnya kau tidak pernah menonton film hantu, Akabane?"

"Kenapa kau menanyakan itu? Film-film semacam film hantu benar-benar tidak masuk akal. Hantu itu tidak ada. Mereka tidak nyata. Aku jadi tidak suka menontonnya."

Sang pemilik surai jingga lagi-lagi mendengus kesal. "Kau tahu? Karena aku tidak pergi ke alam sana, sepertinya jiwaku tidak tenang."

"Maksudmu a–"

"Bisakah kau bersabar sebentar saja, Akabane? Aku akan menjelaskan padamu–"

Karma memotong kata-kata lelaki di depannya dengan cepat. "Huh? Kau akan menjelaskan apa?"

Gakushuu mengacak rambut di kepalanya dengan kesal. Untung saja kesabarannya belum habis dalam menghadapi makhluk langka semacam Karma tersebut.

"Mau apalagi? Tentu saja masalah ketidak tenangnya jiwaku!" jawab Gakushuu dengan nada bicara yang sudah kelewat ketus. "Sepertinya, alasan jiwaku tidak tenang adalah karena–"

.

Gakushuu duduk di kursi makan, tepat di seberang sang ketua dewan– ayahnya. Sarapan pagi itu begitu hening. Memang benar, tidak baik bila berbicara saat makan. Namun, tidak seharusnya acara makan bersama antara ayah dan anak akan sehening itu.

"Kudengar, kau ada ujian hari ini, Asano-kun," Asano senior memilih untuk membuka pembicaraan. "Apakah kau sudah mempersiapkan ujianmu?" tanyanya kemudian.

"Tentu saja, ayah," jawab sang anak seraya memotong sarapan paginya.

"Benarkah? Kau sudah mempersiapkan untuk mengalahkan saingan-sainganmu dan tetap menjadi nomor satu?" tanya Gakuhou dengan nada yang meremehkan. Seulas senyum meremehkan tak lupa disungginkannya.

Gakushuu merengut mendengar pertanyaan ayahnya, yang seharusnya tidak perlu ditanyakan– karena jawabannya sudah benar-benar jelas.

"Tentu saja!" Asano junior berdiri dari kursi makannya, memasang posisi untuk pergi. "Aku akan mengalahkanmu tahun ini, ayah."

Gakuhou kembali menunjukkan senyum meremehkan kepada anaknya. "Kau tidak akan bisa melampauiku, Asano-kun. Tidak untuk sekarang. Kau bahkan masih kalah dengan musuh yang seumur denganmu."

Lelaki bersurai jingga tersebut memilih untuk terdiam, tidak membalas ejekan dari sang ayah. Manik violetnya menatap tajam yang lebih tua. Kemudian, ia mengambil tasnya dan berbalik.

"Aku sudah kenyang. Aku berangkat sekolah dulu, ayah."

"Oh? Kalau begitu, kerjakan soal ujiannya dengan baik, ya, Asano-kun."

"Jangan sampai kalah lagi dengan Akabane Karma-kun," ejek Gakuhou. Nada bicaranya masih tetap meremehkan lawan bicaranya.

Gakushuu hanya mendengus kesal. Ia segera berjalan keluar dari kediaman keluarga Asano, meninggalkan ayahnya yang tengah menatap kepergiannya dengan tatapan meremehkan.

.

.

Asano Gakuhou tidak akan pernah tahu, bahwa itulah saat terakhir dimana ia bisa mengejek putra semata wayangnya. Dan juga, itulah saat terakhir ia bisa bertemu dengan putranya.

.

.

Gakushuu berjalan menuju sekolah seraya membaca buku rumus matematika di genggamannya. Ia memang sudah hafal di luar kepala rumus-rumus yang tertulis rapi di dalam bukunya. Ia hanya membacanya untuk berjaga-jaga. Siapa tahu saja, tiba-tiba ia lupa ingatan mengenai rumus-rumus tersebut. Bersiap untuk kemungkinan terburuk– begitu menurutnya.

Di saat sedang enak-enaknya menghafal rumus yang sebelumnya sudah dihafalnya, anak dari ketua dewan Kunugigaoka tersebut tiba-tiba saja teringat dengan perkataan ayahnya yang mengungkit-ungkit masa lalunya. Saat ia pertama kalinya berada di peringkat kedua, dikalahkan oleh salah satu murid kelas E, Akabane Karma.

Ah, sial. Kenapa harus ingat kejadian itu sekarang? rutuk Gakushuu dalam hati.

Oh, ya. Ngomong-ngomong soal Akabane Karma, Gakushuu merasakan ada yang berubah dengan rival merahnya semenjak mereka memasuki SMA Kunugigaoka. Ia seperti–

–kehilangan semangat belajar?

Gakushuu merasa bahwa Karma sudah tidak terlalu berminat untuk bersaing dengannya.

Apakah karena guru yang mengajar di kelas E? Koro-sensei, bukan? Apakah karena gurunya tersebut meninggalkannya, sehingga ia kehilangan semangat belajar?

Sudahlah. Mengapa aku harus peduli padanya?

Gakushuu kembali memfokuskan dirinya pada rumus-rumus matematika.

"Yang penting, aku harus mendapatkan peringkat pertama, dan setelah itu–"

Pandangannya beralih menuju langit biru di atasnya.

"–aku akan menyampaikan apa yang selama ini ingin kukatakan padanya."

.

.

Namun, sebuah truk pengangkut barang dengan kecepatan tinggi mengarah ke terotoar jalan, tempat dimana Asano Gakushuu sedang berjalan. Suara teriakan para pejalan kaki terdengar begitu melengking. Truk tersebut semakin mendekat dan mendekat. Gakushuu gagal menyelamatkan diri. Dan, kemudian–

–Kegelapan pun mengambil alih dunianya.

.

"Sepertinya, alasan jiwaku tidak tenang adalah karena–"

Manik violet Gakushuu menatap tajam manik merkuri.

"–Ada tujuan hidupku yang belum tercapai."

Kemudian hening menyelimuti keduanya. Karma tidak memberi respon apapun atas perkataan lawan bicaranya saat ini.

"Oi, Akabane! Kau sejak tadi mendengarkan perkataanku atau tidak, sih?" tanya Gakushuu sebal karena tidak mendapat respon dari Karma.

Karma menatap datar rivalnya tersebut. "Lalu, setelah kau mengatakannya, aku harus apa?"

"Eh?"

"Lalu, setelah kau mengatakannya, aku harus apa?" Karma mengulang pertanyaannya.

Kepala Gakushuu langsung tertunduk. "Ma-mau apalagi," ia memberi jeda sesaat untuk menahan rasa malunya. "A-aku ingin ka-kau membantuku me-mewujudkan tujuan hidupku yang belum tercapai!"

Seringaian muncul di wajah sang surai merah. "Hee.. meminta bantuan, kah? Aku merasa kau tidak mengatakannya sebelumnya, Asano.."

"Jika kau ingin meminta bantuan, kau seharusnya memintanya dengan benar, dong.." goda Karma.

Mantan ketua OSIS SMP Kunugigaoka tersebut tersenyum kecut. Dengan gerakan patah-patah, ia membungkukkan badannya di depan sang rival yang hendak di mintai bantuan. "A-aku mohon, Akabane. Bantulah a-aku untuk mewujudkan tujuan hi-hidupku yang belum tercapai."

"Yah.. tergantung dengan permintaanmu, sih.. jika masih bisa kusanggupi, aku akan membantumu."

Sialan, umpat Gakushuu dalam hati setelah mendengar perkataan Karma.

"Kalau begitu, apa tujuan hidup yang belum sempat kau capai?"

Tubuh sang pemilik surai jingga kembali tegak. Pandangannya lurus ke arah lawan bicaranya.

"Itulah masalahnya."

"Eh?"

"Aku tidak tahu tujuan hidup apa yang ingin kucapai sesaat sebelum kematianku."

Karma mengerjapkan matanya. Apa dia serius?


A/N:

Lagi males ngerangkai kata-kata, jadinya bener-bener bahasa suka-suka author :"v

OOC? Pendek? au ah, bodo amat. Udah capek-capek buat juga #mayakdia

.

.

Mind to Review?;)