"Kalau begitu, apa tujuan hidup yang belum sempat kau capai?" Karma bertanya kepada Gakushuu yang masih membungkuk di hadapannya.

Gakushuu kembali menegakkan badannya. Kemudian sepasang manik violetnya menatap lurus ke manik merkuri milik Karma.

"Itulah masalahnya."

"Eh?" Karma merasa ada yang salah dengan indra pendengarannya.

"Aku tidak tahu tujuan hidup apa yang ingin kucapai sesaat sebelum kematianku," jawab lelaki bermarga Asano tersebut.

Sang pendengar hanya mengerjapkan matanya. Apa dia serius?

Kemudian, Karma mendengus kesal. "Dasar bodoh! Bagaimana bisa aku membantumu jika kau sendiri tidak tau tujuan hidupmu yang belum tercapai?! Coba kau ingat-ingat."

Gakushuu menempelkan beberapa jarinya di dagu– membentuk gestur seperti orang yang sedang berpikir.

"Sepertinya.. aku ingin mengalahkan ayah."

Karma bergidik ngeri mendengar jawaban lelaki tersebut. Bagaimana bisa ia mengalahkan sang ketua dewan yang hebat itu?

"Ah, sepertinya bukan itu. Kurasa, aku ingin menguasai dunia."

"Hei, hei, tujuan hidup macam apa itu?"

"Bermimpilah yang tinggi. Apakah kau tidak pernah diajarkan mengenai hal itu, Akabane?"

Bola mata Karma berotasi malas. "Sudahlah, ingat-ingat saja apa yang kau inginkan saat menjelang kematianmu."

Mata Gakushuu terpejam. Memori mengenai kematiannya tersebut terputar di dalam otaknya. Apa yang ia katakan, apa yang orang lain katakan, apa yang dilakukannya– semuanya kembali terputar ulang dalam kepalanya.

"–Aku harus mendapat peringkat pertama–"

Kelopak mata tersebut tiba-tiba saja terbuka, menampilkan sepasang iris violet. Kemudian, ia memekik, "Aku ingat!"

Tubuh Karma yang sebelumnya bersandar pada tembok di sampingnya, seketika itu kembali tegak. Ia menunggu kelanjutan dari kalimat yang dilontarkan oleh Gakushuu.

"Saat menjelang kematianku, aku ingin mengikuti ujian dan mendapat peringkat pertama," jawab sang lelaki jingga dengan semangat. Ia menunjukkan senyum penuh kepuasan karena berhasil menjawab masalahnya.

Karma memiringkan kepalanya. Ia kebingungan.

Mengikuti ujian..? Mendapat peringkat pertama..? Sungguh?

Demi apapun, saat ini Karma sedang mati-matian untuk menahan tawanya.

Assassination Classroom – Yuusei Matsui

.

WARNING : OOC, typo(s), bahasa suka-suka, alur menstrim, dan lain sebagainya.

.

Mohon maaf bila ada kesamaan cerita. Cerita ini murni imajinasi saya, tidak ada niatan untuk meniru ataupun menjiplak.

.

Enjoy!

.

Sang surya telah kembali ke peraduannya. Langit telah menghitam. Lampu-lampu jalan dinyakan, menerangi dua lelaki yang tengah jalan berdua– dimana yang salah satunya telah menjadi makhluk tak kasat mata.

"–BWAHAHA.." tawa Karma menggelegar di udara. "Mendapat peringkat satu? Itu tujuan hidupmu? Apakah segitunya kau ingin menjadi yang nomor satu, sampai-sampai tujuan hidupmu adalah itu? Hahahaha..."

Orang-orang yang berada di sekitar Karma hanya menatap lelaki tersebut dengan tatapan aneh. Mereka menyimpulkan bahwa saat ini Karma sedang tertawa dan berbicara sendiri.

Gakushuu hanya menghela nafas kesal sebelum berkata, "Hentikan tawa menyebalkanmu itu, Akabane. Orang-orang akan berpikir bahwa kau sudah gila."

Mulut lelaki berambut merah tersebut segera tertutup, tidak melanjutkan tawanya. Ia lupa akan fakta tersebut. Fakta yang mengatakan bahwa ia sedang berbicara dengan jiwa orang yang telah mati; bahwa ia sedang berbicara dengan hantu.

"Apakah kau yakin itu adalah tujuan hidupmu, Asano?" tanya Karma dengan suara yang begitu pelan, nyaris tak terdengar.

"Maksudmu?"

"Maksudku, apakah kau tidak merasa bahwa kau memang ditakdirkan untuk berada di dunia ini selamanya? Menjadi arwah gentayangan untuk selamanya, mungkin?"

Manik violet berotasi perlahan. "Apa maksudmu? Bukankah sebelumnya kau berkata bahwa hantu itu tidak ada? Mana mungkin ada yang namanya 'arwah gentayangan'! Mereka semua murni imajinasi manusia!"

Karma menyipitkan matanya kepada Gakushuu yang berusaha membela pendapatnya seraya menghembuskan nafasnya dengan sedikit perasaan kesal. Lalu, kau ini apa?

Kedua lelaki tersebut memutuskan untuk terus berjalan di bawah terangnya lampu jalan. Hening. Tidak ada yang membuka suara.

Mereka terus berjalan, hingga tak terasa sudah sampai pada belokan terakhir menuju rumah Karma. Lelaki bersurai merah tersebut tiba-tiba saja tersentak, ia baru saja menyadari sesuatu yang janggal.

"Sampai kapan kau terus mengikutiku, Asano?" Karma menatap sepasang manik violet dengan tajam.

"Hah? Apa yang kau bicarakan, Akabane?" alis Gakushuu bertautan. Ekspresinya menunjukkan kebingungan.

Sang lelaki bersurai merah menghembuskan nafasnya sedikit keras. "Kumohon, Asano. Jangan berlagak bodoh." Karma memijat pelipisnya. "Sedari tadi, kau terus berjalan bersamaku. Sampai kapan kau terus mengikutiku, hmm?"

"Tentu saja aku mengikutimu. Aku harus mengawasimu agar kau tidak melupakan janjimu."

Mulut Karma membulat. Ia baru saja memahami sesuatu.

"Kau tidak perlu mengawasiku. Aku tidak pernah melanggar janji yang sudah kubuat, kau tahu. Jadi, jangan mengikutiku terus. Rasanya sedikit risih– seperti diikuti oleh seorang penguntit."

Raut wajah putra direktur sekolah berubah. "T-Tapi–"

"Kembalilah ke rumahmu, Asano. Kembalilah ke Ketua Dewan." Karma berbalik, meninggalkan Gakushuu yang terlihat kebingungan di tempatnya. Mulut lelaki tersebut membuka, lalu menutup lagi– terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.

"Tu-Tunggu dulu, Aka–"

"SEBENARNYA APA MAUMU, ASANO?!" Lelaki bermarga Akabane tersebut tanpa sengaja membentak Gakushuu. Ia sedikit emosi melihat perilaku sang Asano muda tersebut– yang seolah menyembunyikan sesuatu.

Gakushuu terdiam. Ia tidak mengerti harus menjawab dengan apa. Dia memutuskan untuk tetap terdiam.

"Maaf sudah merepotkanmu. Aku akan pergi," ucap Gakushuu pelan seraya membalikkan badannya. Namun, lengannya ditahan oleh Karma.

"Jawab pertanyaanku dulu, Asano Gakushuu." Suara Karma terdengar begitu dingin dan menusuk.

Yang ditanyai justru memalingkan wajahnya. Ia masih enggan untuk menjawab.

Karma semakin emosi saja. Ia ingin menghajar lelaki di hadapannya sekarang juga. Namun, ia memutuskan untuk menahan hasratnya tersebut.

"Sebenarnya, apa yang kau sembunyikan dariku?"

Gakushuu masih enggan menatap sepasang manik merkuri. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

"He~ Kau masih tidak ingin mengakatakannya? Sebegitu tingginya, kah, harga dirimu itu, yang terhormat Asano Gakushuu?"

Lengan dalam genggaman Karma bergerak tidak nyaman– mungkin bisa dianggap bahwa tebakan Karma sebelumnya memang benar.

Lelaki berhelai scarlet tersebut tertawa penuh kemenangan dalam hati. Dasar tsundere!

"Jadi, apa yang kau sembunyikan, Asano?" Karma mengulang pertanyaan yang sama.

Lelaki bersurai jingga tersebut berbalik, sehingga posisinya saat ini berhadapan dengan Karma. Keputusannya sudah bulat. Ia akan memberitahukan alasannya kepada Karma.

"Pertama–" Gakushuu kemudian berdeham pelan. "–Aku tidak bisa kembali ke rumahku ataupun ke Ketua Dewan."

Berbagai pertanyaan muncul di dalam benak Karma. Lelaki tersebut pun memutuskan untuk terus melanjutkan mendengar penjelasan dari si kepala jingga.

"Ketua Dewan tidak bisa melihatku. Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah mengeceknya terlebih dahulu. Aku menyimpulkannya setelah melihat respon dari Ketua Dewan. Beliau memang menatap ke arahku, namun tatapannya seperti menembus kepalaku– tatapannya kosong." Penjelasan Gakushuu dihentikan sejenak untuk menarik nafas barang sejenak. "Sejauh ini, hanya kau yang bisa melihat dan berkomunikasi denganku."

Karma mengernyit heran. Sungguh, ia tidak habis pikir, mengapa Asano Gakuhou– yang notabene adalah ayah atau anggota keluarga Asano– tidak bisa melihat kehadiran Gakushuu, sedangkan dirinya– yang notabene hanya berstatus sebagai teman sekelas– justru bisa melihat dan berkomunikasi dengan Gakushuu? Karma benar-benar tidak dapat menemukan jawaban dari permasalahan tersebut.

Atau.. jangan-jangan, kehadiran seorang Asano Gakushuu di hadapan Karma hanyalah halusinasi belaka?

Tidak. Karma sangat yakin bahwa jawabannya adalah tidak.

Lalu, mengapa..?

"Alasan yang kedua, aku–" Gakushuu mengangkat kepalanya hingga menatap langit hitam kelam dengan tatapan kosong. Tersirat sedikit kesedihan dalam tatapannya.

"Aku?"

"–Aku takut kesepian, karena hanya kaulah yang bisa berkomunikasi denganku, aku ingin bersamamu."

Asano Gakushuu– sang tuan serba sempurna– baru saja mengatakan bahwa dirinya takut akan kesepian; takut akan kesendirian.

Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, seorang Akabane Karma merasa iba dengan Asano Gakushuu– yang notabene adalah rival dan musuh bebuuyutannya.

.

.

To be continued..

A/N:

Chapter ini sangatlah–

–Ah, sudahlah.

Alurnya kecepetan, gak? Ada yang aneh, gak? Mohon diberitahu di kotak review, yha (^^)b

.

.

Mind to Review?