Akabane Karma menatap lawan bicaranya dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.

Seorang Asano Gakushuu takut akan kesepian?

Karma memang tahu betul bahwa setiap orang pasti memiliki kelemahan masing-masing. Tidak terkecuali manusia semacam Gakushuu. Manusia yang dielu-elukan sempurna, tidak memiliki kelemahan sedikit pun.

Namun, menghubungkan kata 'takut dengan kesepian' dengan nama 'Asano Gakushuu' sama sekali tidak cocok. Terasa begitu aneh.

Lelaki bersurai merah tersebut memutar otaknya, berusaha mengingat sesuatu yang berkaitan dengan sang putra ketua dewan.

Bukankah Asano selalu sendiri selama ini? Lalu, mengapa ia baru merasakan kesepian saat ini? Karma berusaha mencari jawaban dari teka-teki yang tiba-tiba saja muncul di otak jeniusnya.

Atau, ia memang menyembunyikan sesuatu?

"Baiklah," Karma tiba-tiba saja berujar.

"Apanya yang baiklah?" tanya Gakushuu kebingungan.

"Kau boleh tinggal bersamaku, di rumahku."

Ekspresi Gakushuu sedikit berubah. Tampak gurat kesenangan di dalamnya. "Sungguh? Apa kau serius, Akabane?"

Oh, lihatlah ekspresi yang kau tunjukkan, Asano.

Bola mata Karma berotasi malas. "Kau pikir aku sedang bercanda, huh?"

Katakan padaku

"Kurasa tidak. Dan.. Hei! Sampai kapan kita berdiri di luar seperti ini?"

Sebenarnya apa yang kau sembunyikan, wahai Asano Gakushuu?

"Hh.. Baiklah. Tunggu sebentar, aku ambil kuncinya."

Karma tersenyum pahit. Beri tahukan semuanya. Semua hal yang kau sembunyikan! Apapun yang ada di dalam pikiranmu, Asano!


Assassination Classroom – Yuusei Matsui

.

WARNING : OOC, typo(s), bahasa suka-suka, alur menstrim, dan lain sebagainya.

.

Mohon maaf bila ada kesamaan cerita. Cerita ini murni imajinasi saya, tidak ada niatan untuk meniru ataupun menjiplak.

.

Enjoy!

.


"Ini benar-benar kamarmu, Akabane? Kau tidak sedang bercanda, bukan?" Gakushuu menatap Karma tidak percaya. "Aku tidak percaya bahwa kamar berandalan semacam dirimu akan serapi ini. Ini masih sulit untuk dipercaya!"

Karma memutuskan untuk tidak menanggapi ejekan– atau mungkin pujian– rivalnya tersebut. Kemudian, ia duduk di pinggiran kasurnya. Sementara itu, Gakushuu berjalan menuju meja belajar sang pemilik kamar dan duduk di kursi di depan meja tersebut.

Keheningan merajai keduanya. Tidak ada yang berbicara– bahkan, sekedar membuka mulut pun enggan. Keduanya sibuk dengan kesibukan masing-masing.

"Mm.. Akabane?" si Jingga memutuskan untuk memulai percakapan. Kepalanya menoleh, menatap lurus si surai merah. Karma hanya bergumam tidak jelas sebagai jawaban. "Kau tidak belajar?"

"He.. kau tidak yakin dengan kemampuanku?" Karma melirik tidak suka ke arah Gakushuu secara terang-terangan.

"Sejujurnya, aku memang tidak yakin dengan kemampuanmu," Gakushuu menjawab dengan suara yang sedikit dipelankan.

"Hah?"

"Maksudku–" Gakushuu kembali menjelaskan, "Akhir-akhir ini, kau terlihat sedikit berbeda."

Masih dengan tatapan tidak suka, si surai merah menajawab, "Apa yang kau tahu tentangku, Asano? Jangan sembarangan menyimpulkan jika kau tidak tahu apapun."

"Aku selalu mengawasimu, Akabane. Sebagai seorang rival."

Mengawasiku, huh? Karma sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran putra Ketua Dewan Kunugigaoka tersebut. Jika bisa, Karma ingin sekali memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang di hadapannya tersebut sekarang juga.

"Aku terlihat berbeda? Aku tidak merasa seperti itu. Dari dulu, aku tetap seperti ini dan akan selalu seperti ini. Mungkin hanya perasaanmu saja, Asano." Karma memasang senyuman terbaiknya untuk meyakinkan Gakushuu.

Mendengar rentetan kalimat yang baru saj dilontarkan oleh Akabane Karma, Gakushuu berpikir sejenak. "Entahlah… Aku juga tidak begitu yakin mengenai perubahan pada dirimu."

Si surai merah tersenyum puas. Ia tidak pernah menduga bahwa membohongi mantan Ketua OSIS SMP Kunugigaoka akan semudah ini. Sejujurnya, Karma tahu bahwa ada yang berubah dengan dirinya sendiri. Namun, akan lebih baik jika tidak membiarkan rivalnya tersebut mengetahuinya, bukan? Akan lebih baik jika hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya, bukan?

"Aku hanya merasa bahwa kau– emm.. bagaimana mengatakannya? Sedikit lebih tidak bersemangat dari biasanya? Ah, bukan. Kurasa, lebih seperti tidak antusias? Tidak antusias terhadap semua hal yang kau kerjakan?"

Senyum yang terpatri di wajah rupawan Akabane Karma berangsur-angsur menghilang, menyisakan ekspresi wajah datar nan dingin.

Pemikirannya sebelumnya ternyata salah. Salah besar. Pengamatan Asano Gakushuu rupanya sangat baik– tidak jauh berbeda dengan kemampuan untuk mengamati milik sahabatnya, Shiota Nagisa.

Karma menundukkan kepalanya dalam, menatap kosong lantai di bawahnya. "Menurutmu, apa yang berubah dariku? Maksudku, yang lebih spesifik lagi."

Yang ditanyai melirik sekilas, kemudian sepasang iris violet tersebut beralih ke langit-langit kamar milik Karma. Jeda sesaat. Lelaki tersebut sedang berpikir keras– Nampak jelas dari ekspresi yang ditunjukkan.

"Kau… tampak tidak terlalu antusias dengan ujian yang berlangsung beberapa hari yang lalu."

Wow! Benar-benar seperti yang diharapkan dari putra Ketua Dewan Kunugigaoka, benar-benar memiliki pengamatan yang bagus.

Gakushuu berjalan mendekat ke arah si surai merah. "Kau ada masalah? Bila perlu, kau bisa curhat kepadaku. Mulutku akan terkunci rapat. Yah, lagipula aku memang tidak bisa memberi tahukan curhatanmu kepada siapapun." Gakushuu tertawa hambar.

Karma masih diam seribu bahasa. Rupanya, ia lebih memilih untuk bungkam dan membiarkannya menjadi salah satu misteri tak terpecahkan ketimbang curhat kepada musuh bebuyutannya tersebut.

"Lebih memilih untuk tidak menjawab, heh?" Gakushuu tersenyum mengejek. "Bagaimana jika aku yang menebaknya, tuan Akabane?"

Karma balik senyum mengejek. "He… memangnya kau bisa apa, Asano? Coba saja, itupun jika kau berhasil melakukannya."

Ibu jari dan telunjuk ditempelkan ke ujung dagu– membuat gestur sedang berpikir keras. Mata dipejamkan, menambah kesan 'berpikir keras' di wajah Asano Gakushuu. Tak lama kemudian, pejaman mata tersebut kembali terbuka. Sepasang manik violet tersebut menatap tajam sepasang manik merkuri di hadapannya.

"Kau… kehilangan semangat belajarmu, bukan?"

Wow. Sekali lagi, wow. Asano Gakushuu memang hebat. Bukan pertama kalinya Karma mengetahui fakta mengenai kemampuan pengamatan sang surai jingga. Namun, rasa takjub masih saja menghinggapi dirinya. Nyaris saja Karma bertepuk tangan takjub seperti orang idiot di hadapan rivalnya tersebut.

Senyuman lebar merekah di wajah Asano Gakushuu. "Melihat ekspresimu yang terlihat seperti orang bodoh– mulut menganga dan pandangan tak percaya– membuatku menarik kesimpulan bahwa tebakanku sebelumnya tidak salah, bukan begitu, Akabane?"

Reflek, Karma segera mengatupkan mulutnya.

Melihat respon Karma, Gakushuu tertawa mengejek dengan begitu keras. Sialan.

Setelah tawa mulai mereda, Gakushuu kembali berkata, "Ada apa sebenarnya? Apa ini masih ada hubungannya dengan guru kelas E dulu? Apa semangat belajarmu menghilang bersama dengan perginya gurumu tersebut?"

Sepasang iris merkuri tersebut memicing tajam. "Jangan ikut campur lebih dalam, Asano."

"Aku tidak keberatan jika kau menceritakan semuanya kepadaku. Bisa dibilang, aku adalah pendengar yang baik."

"Justru aku yang keberatan, Asano." Kumohon, jangan bertanya lebih jauh lagi.

"Kenapa? Kau sedang tersesat dan butuh pencerahan dari orang yang ahli untuk saat ini. Memang, aku bukanlah 'orang ahli' yang kumaksud sebelumnya. Tapi, aku masih bisa memberikan beberapa masukan kepadamu."

Kumohon, Asano. Berhentilah bertanya. Aku tidak ingin teringat dengan kejadian di malam sebelum kelulusan. Kumohon

Gakushuu tersenyum hangat. "Mumpung aku lagi baik-baiknya, nih. Kau bisa menceritakan–"

"KUMOHON, ASANO GAKUSHUU! BERHENTILAH BERTANYA!" kesabaran Karma sudah habis. "Aku juga memiliki privasi! PRIVASI! BERHENTILAH MENCAMPURI URUSAN ORANG LAIN!"

Asano Gakushuu bungkam seribu bahasa– ia tidak berani menyahut satu kata pun. Seumur hidup, ia tidak pernah melihat seorang Akabane Karma sebegitu marahnya– bahkan lebih terlihat seperti sedang lepas kendali.

"M-maaf." Gakushuu bergumam pelan. Kepalanya ditundukkan dalam. Sorot matanya menunjukkan perasaan bersalah. "Kurasa kehadiranku di sini mengganggumu. Kalau begitu, akan lebih baik jika aku tidak berada di sini; di dekatmu. Aku pergi dulu, sampai jumpa Akabane Karma." Gakushuu berbalik dan berjalan menuju pintu.

Lidah Karma terlalu kelu untuk sekedar memberi penjelasan atas apa yang sebelumnya ia katakan. Kakinya terlalu kaku untuk sekedar mengejar Asano Gakushuu yang tengah berjalan menuju pintu kamar milik lelaki bermarga Akabane tersebut. Anggota alat gerak atasnya tidak dapat digerakkan, bahkan hanya untuk meraih pemuda bersurai jingga di hadapannya.

Pada akhirnya, Akabane Karma hanya bisa menatap nanar kepergian Asano Gakushuu dari balik pintu kamarnya.


Karma menatap kalender yang tergantung di dinding kamarnya. Hari ini akan dilangsungkan ujian di SMA Kunugigaoka.

Semenjak kepergian Asano Gakushuu yang entah kemana, Karma selalu dihantui perasaan bersalah terhadap lelaki tersebut. Atas dasar tersebut, Karma mulai kembali belajar untuk ujian. Semangat dalam menghadapi ujian sudah kembali ke diri Karma.

Bisa dikatakan bahwa alasannya berantusias menghadapi ujian adalah Asano Gakushuu. Yah, walaupun terdengar salah, namun begitulah adanya– itulah kenyataannya.

Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Karma segera bersiap dan berangkat menuju sekolah.

.

.

Karma berjalan menuju bangkunya. Tepat sesaat setelah bagian bawahnya menyentuh kursi, terdengar beberapa murid yang sedang berkumpul dan saling berbisik. Bergosip– begitu kiranya.

"Ujian lagi, ujian lagi."

"Yah… setidaknya saingan kita sudah berkurang satu, bukan? Beban kita sudah berkurang, walaupun hanya sedikit."

Saingan..? Karma bergerak mendekat dan mempertajam pendengarannya. Ia berniat untuk mencuri dengar kata-kata yang diucapkan murid-murid tersebut.

"Oh, iya. Bukankah Asano Gakushuu sudah meninggal? Dengan begitu, kemungkinan untuk mendapat peringkat pertama akan meningkat. Mungkin terdengar sedikit buruk, namun kita seharusnya bersyukur atas kematiannya."

Besyukur atas kematian Asano? Apa mereka sedang bercanda?

Meja terdekat segera dipukul keras-keras oleh Karma. Tidak peduli jika meja tersebut rusak– Karma sama sekali tidak peduli. Saat ini, ia hanya ingin meluapkan emosinya– yang tidak jelas asal-usul datangnya amarah tersebut.

"Jaga omongan kalian!" Karma berteriak sambil memukul-mukul meja. "Bersyukur atas kematian seseorang? HAH, YANG BENAR SAJA! Kalian pikir, kematian itu apa? Mainan? Hal yang tidak penting?"

Semuanya tertunduk, diam dan memikirkan baik-baik apa yang dikatakan oleh si surai merah.

Kemudian, Karma kembali melanjutkan, "Bagaimana jika orang yang kalian bicarakan; yang kalian syukuri kematiannya bisa mendengar apa yang kalian katakan?" kepala merah ikut-ikutan menunduk. "… apakah kalian tidak memikirkan bagaimana perasaannya?"

Nyatanya, orang yang sedari tadi mereka bicarakan, Asano Gakushuu, sedang berdiri di ambang pintu seraya menatap sedih ke arah teman-teman sekelasnya.

Masih dengan kepala yang tertunduk, Karma segera berjalan keluar kelas. Gakushuu yang sedang berdiri di dekat pintu hanya dilewati; sama sekali tidak dipedulikan.

"Hei, Akabane!" Gakushuu memanggil dari kejauhan. Yang dipanggil tidak bergeming, hanya terdiam tak memberi respon apapun.

"Kau tidak perlu membelaku sampai seperti itu. Aku mengerti bahwa banyak orang yang membenciku," lanjut Gakushuu kemudian. Suaranya terdengar sedikit lirih, namun masih sampai ke pendengaran Karma.

Masih dengan posisi yang sama, si surai merah menjawab, "Tidak masalah. Ucapan 'terima kasih' sudah lebih dari cukup bagiku."

"Kalau begitu, terima kasih."

"Ya, terima kasih kembali. Aku hanya melakukan hal yang ingin kulakukan."

Setelah menyelesaikan pembicaraan, kedua lelaki tersebut saling membelakangi dan berjalan ke arah yang berlawanan– seolah tak kenal satu sama lain.


To be continued…


A/N:

Sedikit lebih panjang dari chapter sebelumnya. Di chapter ini juga aku ngerasa ada yang janggal, tapi gak tau apa :") #GIMANA. Maaf, pikiranku agak kacau akhir-akhir ini.

Aduuuh… maaf update-nya lama banget. Tugas numpuk. Waktu nyoba nyelanjutin fic ini, otak keburu blank duluan. Maafkan #sungkem

Maaf jika ada typo dkk. Kapan-kapan diedit. Yha, suatu hari nanti #nataplangit

Yah, baruuu aja mau bernafas lega gara-gara salah satu tugas sudah kelar, guruku malah ngasih tugas baru. Oke, rip liburanku D"x Mana sebentar lagi mau mid-semester-an pula. Lelah saia :"((

Ada kemungkinan fic ini gak bakal kelar sebelum aku hiatus. Tapi diusahain fast update, kok! ;)

oke,

Mind to Review?