Always
-Sekuel-
.
.
KookV fanfiction by shiina
.
.
.
.
Jeon Jungkook baru saja membuka pintu kaca studio saat pemandangan yang seketika dapat menaikkan amarahnya tertangkap di kedua bola matanya.
Disana, Kim Taehyung berdiri dengan masing-masing lengannya yang diampit oleh dua orang wanita. Tidak masalah sih kalau hanya diampit, tetapi masalahnya dua wanita—sialan itu mendaratkan masing-masing bibirnya di kedua sisi pipi kekasihnya dengan pose yang begitu intim. Sesaat Jungkook bisa merasakan kedua telapak tangannya yang mengepal erat.
Tertangkap dalam pandangannya Taehyung yang terkesiap kaget karena kedatangannya yang tiba-tiba—surprise seharusnya. Pemuda itu melebarkan kedua matanya dengan pandangan tak percaya melihatnya yang masih berdiri di ambang pintu.
Jungkook tidak terlalu ingat apa saja yang ia lakukan saat itu. Yang jelas, saat ia hendak berjalan menuju tempat pemotretan untuk mengacaukan sesi pemotretan, atau—tidak, minimal melayangkan satu pukulan tangannya untuk sang photographer yang sangat dikenalnya sialan itu, Min Yoongi ada disana untuk mencengkal tangannya, memberi isyarat untuk ia tidak melakukan hal bodoh apapun dengan kedua sorot matanya yang tajam.
Jungkook mendengus kasar. Beralih untuk melayangkan tatapan tajam pada Taehyung yang balik menatapnya memelas di tengah sorot lampu pemotretan. Pemuda itu seperti hendak kabur dari cekalan tangan dua wanita di lengannya—yang jelas tidak mungkin dilakukannya karena puluhan pasang mata sedang tertuju padanya. Jadi pemuda itu hanya memberinya isyarat untuk duduk di kursi tunggu yang ada di sudut ruangan dengan pandangan super memelas seperti kucing di buang.
Jungkook hanya menggeritkan giginya membalas tatapan itu. Dengan sedikit kesal menyentak tangan Yoongi yang masih mencekal lengannya dan berjalan keluar studio dengan pintu yang terbanting kasar.
.
.
Jungkook sempat berpikir pergi ke bar langganannya untuk mendapat beberapa botol vodka atau wine jika ia tidak segera teringat dengan meeting-nya yang sangat penting besok pagi. Ia tidak boleh hangover. Karena itu, masih dengan perasaan jengkel luar biasa, ia menutup pintu mobilnya dengan bantingan kasar.
Berjalan dengan langkah yang menghentak dan membuka pintu kaca pembatas basement dan gedung apartemen dengan sekali sentak. Ia bahkan menunggu lift yang ditumpanginya naik dengan muka tertekuk suram. Ia tidak mempedulikan sapaan tetangga apartemennya (yang entah kenapa menjadi sangat cerewet malam ini) dan menutup pintu apartemennya begitu saja tanpa membalas perkataan Lee Jihoon—tetangganya yang masih melongo di depan pintu apartemen miliknya.
Tanpa menyalakan satupun penerangan di apartemennya, Jungkook membuka jas armani miliknya dan membuangnya asal ke lantai. Melonggarkan kaitan dasi biru dongkernya (yang juga segera mengikuti jejak jasnya dengan terbuang di lantai). Ia berjalan ke arah lemari es side by side-nya untuk mengambil beberapa kaleng cola dari sana yang segera diteguknya hingga kandas sebelum berjalan menuju kamarnya.
Jungkook sempat melirik notification ponselnya; 23 missed call, 8 unread message. Sebelum melempar smartphone itu sembarangan ke atas ranjang dan membanting tubuhnya untuk berbaring menelungkup di sana.
Beberapa puluh menit dalam keheningan, ia melirik jam digital di atas nakas yang menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh menit saat ia mendengar suara tombol password pintu apartemennya ditekan. Beberapa saat kemudian apartemennya yang gelap berubah menjadi terang benderang karena seseorang menekan saklar lampu.
Suara derap langkah kaki yang mendekat ke arah kamarnya membuat Jungkook kembali mendengus kesal dan meraih selimut tebal di bawah kakinya untuk menutupi tubuhnya.
.
.
Taehyung meletakkan beberapa kantong plastik berisi makan malam di atas meja makan. Ia menghela napas melihat keadaan apartemen kekasihnya yang kacau dengan jas dan dasi berserakan di atas lantai dan beberapa kaleng cola kosong di atas meja. Ia mengambil kaleng-kaleng itu untuk dibuangnya ke tempat sampah yang berada di samping kitchen set dan membungkuk untuk mengambil jas dan dasi yang lalu disampirkannya di armrest sofa.
Ia lalu berjalan ke arah pintu kamar kekasihnya yang tertutup rapat. Mengetuknya beberapa kali sebelum memutuskan untuk membukanya perlahan.
"Jungkook-ah?"
Taehyung menghela napas menatap selimut tebal yang menggunung tinggi—yang ia kenali sebagai Jungkook di atas ranjang. Ia berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang.
"Jungkook-ah?" Panggilnya.
Jungkook yang tidak bergeming membuat Taehyung dengan sedikit paksaan menarik selimut itu turun. Ia sempat kesulitan karena Jungkook yang tidak ingin pertahanannya dibuka memberi perlawanan. Beberapa detik kemudian wajah Jungkook yang tertekuk sebal menatapnya tajam terlihat setelah ia berhasil menanggalkan selimut itu dan membuangnya ke lantai.
Taehyung tertawa. Hendak mengusap pipi kekasihnya yang segera ditampik kasar oleh pemiliknya.
"Ya ampun, berapa umurmu? Kenapa masih merajuk seperti bayi?"
Jungkook menggerang kesal. Berbalik memunggungi Taehyung.
"Masih marah?" Suara Taehyung berbisik pelan.
"Jungkook-ah, jawab aku."
Dengusan Jungkook kembali terdengar. Pemuda itu hanya mengendikkan bahunya malas.
Taehyung mengurut pelipisnya lelah. Jungkook yang sedang merajuk karena cemburu bisa jauh lebih menyebalkan mengalahkan balita lima tahun yang menangis karena mainannya direbut.
"Jungkook, serius, itu hanya pemotretan. Tidak lebih. Ada puluhan mata yang melihat."
Masih tidak ada jawaban.
"Seharusnya aku tidak perlu menghentikan pemotretan sepihak dan berlari kemari hanya untuk kau abaikan."
Jungkook tetap tidak bergeming.
Taehyung menghela napas; mulai menyerah. "Dan harusnya aku mengikuti saran Mingyu-hyung untuk menyelsaikan beberapa scene terlebih dahulu."
Berhasil.
Jungkook memberikan respon dengan berbalik perlahan dan menatap tajam Taehyung. "Lalu aku benar-benar akan menghajar Kim Mungyu—photographer sialan yang selalu memintamu untuk mencoba tema dewasa itu, huh? Kau pikir aku tidak tahu?"
Taehyung tertawa. "Namanya Kim Mingyu, bukan Kim Mungyu, Jeon." Koreksinya.
"Terserah." Jawab Jungkook jengkel.
Taehyung mengangkat jemarinya untuk menyeka surai hitam kelam kekasihnya. "Jeon Jungkook tidak akan melakukannya. Aku tahu."
"Ingin mencobanya?"
"Itu ide buruk kurasa."
"Itu ide cemerlang."
"Lalu keesokan harinya kau akan mendapati artikel; Presdir Jeon Jungkook membuat photographer terkenal babak belur karena sesuatu hal yang tidak beralasan, menjadi headline?" Taehyung tertawa tanpa suara. "Lucu sekali."
Jungkook menautkan kedua alisnya. Memberi aba-aba agar Taehyung menyingkirkan tangannya. "Aku tidak main-main, Kim Taehyung."
"Aku juga tidak main-main, sayang." Taehyung terkekeh. Mengangkat jemarinya dari rambut Jungkook. "Sudah tidak marah?"
Jungkook beranjak bangkit perlahan. Duduk tegap di hadapan Taehyung lalu menangkup kedua pipi kekasihnya. "Tergantung."
"Apanya?"
Jungkook mendekatkan wajahnya perlahan. Mengecupi pipi Taehyung berkali-kali tepat di atas dua yeoja sialan tadi mendaratkan bibirnya. "Sial. Aku benar-benar marah kau tahu?"
"Jungkook—"
"Kau selalu begini." Jungkook menyela cepat. "membuat kesalahan berulangkali, tidak pernah mendengarkan ucapanku, lalu seenaknya datang meminta maaf padaku. Dan kenapa juga aku selalu memaafkanmu?" Gumamnya frustasi di atas pipi Taehyung yang tak berhenti ia kecup berkali-kali.
"Mungkin karena kau terlalu mencintaiku?"
"Benar. Karena aku mencintaimu—sangat mencintaimu." Ia mengangkat wajahnya sejenak untuk menatap Taehyung dalam selama beberapa detik sebelum kembali mendekatkan wajahnya perlahan. "Tidak bisakah kau menuruti perkataanku?"
Taehyung terkesiap saat wajah Jungkook semakin mendekat padanya hampir tanpa jarak. Dan semakin menipis saat bibir Jungkook yang terbuka bermain-main di atas pipinya—meninggalkan jejak saliva yang tercetak jelas di sana.
Ia memejamkan matanya erat. Nyaris terlena dengan gerakan menggoda bibir Jungkook di atas pipinya. Ia sedikit kesulitan saat menjauhkan tubuh itu dan berbisik lirih, "Tentang apa?"
Jungkook menarik bibirnya untuk mengecup bibir Taehyung kilat dan beralih menggenggam jari-jari lentik kekasihnya erat. "Tentang kau milikku—hanya milikku." Intonasi suaranya berubah tajam. "Dan kau tahu dengan jelas aku tidak suka berbagi apa yang sudah menjadi milikku. Terutama kau."
"Aku mengerti." Balas Taehyung lirih. Ia membuka matanya perlahan, mengusap pipinya yang basah dengan kesal. "Selalu meninggalkan jejak aneh di wajahku." Gerutunya sebal.
"Itu hukumanku, baby. Beruntung aku hanya menghukummu seperti itu karena Namjoon-hyung baru saja mengirimiku pesan dengan berbagai ancaman agar aku tidak melakukan hal brengsek padamu karena kau masih memiliki beberapa pemotretan besok."
Taehyung mengerutkan keningnya. "Namjoon-hyung memang yang paling mengertiku."
"Aku tidak mau tahu, kau harus ganti photographer besok."
"Tidak bisa Jungkook, Mingyu-hyung pekerja tetap high cut—"
"Kalau begitu putuskan kontraknya." Potong Jungkook telak. Kedua matanya berkilat menandakan tidak ingin dibantah.
Taehyung melipat bibirnya. "Selalu seenaknya."
"Kesukaanku." Jawab Jungkook tak peduli. "Kau milikku. Yang artinya aku mengontrolmu segalanya."
"Dasar posesif ulung,"
Jungkook tertawa. Taehyung mengatakannya dengan suara yang terdengar sangat imut ditambah dengan ekspresi merajuknya yang menggemaskan.
"Hanya pada kau. Percaya padaku."
"Hell yeah, dan sialnya kenapa aku menyukai sifat posesifmu itu?"
"Sama sepertiku." Satu alis Jungkook terangkat naik. "Karena kau terlalu mencintaiku."
"Terlalu percaya diri." Cibir Taehyung sambil meraih kotak tisu di atas meja untuk mengusap pipinya.
"Aku tidak percaya diri." Jungkook beranjak berdiri. Berjalan ke arah lemari untuk mengambil satu piyama tidur lalu melepaskan satu per satu pakaiannya. "Itu kenyataan."
"Ganti di kamar mandi, Jungkook!"
"Kenapa?" Jungkook terkekeh melihat wajah Taehyung yang tersipu. Berpikir untuk menggoda Taehyung dengan mengancingkan kancing piyamanya pelan sekali.
Taehyung melempar bantal ke arah Jungkook. "Dasar maniak. Ingat sepuluh menit yang lalu kau masih merajuk seperti bayi?"
Jungkook memutar bola matanya. Menangkis bantal yang melayang ke arahnya dengan mudah. "Salahmu." Katanya sebal. Ia melemparkan pakaian kotornya sembarangan di basket dan berjalan mendekat ke arah Taehyung yang masih mendumal kesal. "Mau Whisky?" Tawarnya.
"Lalu aku harus menderita karena kau yang sedang mabuk bukan Jeon Jungkook lagi."
"Hei, aku hanya mengajakmu minum satu gelas kecil Whisky, aku tidak tumbang semudah itu."
"Tapi kau hangover semudah itu!" Taehyung menatap Jungkook tajam. "Ingat liburan kita ke Jeju bulan lalu? Kau memang tidak tumbang dengan cepat, tapi keesokan harinya kau merusak list travel kita karena kau yang tidak berhenti muntah-muntah hanya dengan tiga gelas kecil red wine?"
Jungkook tertawa. Mendudukkan dirinya di samping Taehyung dan menarik pinggang sempit itu mendekat. "Kadar alkohol Whisky tidak setinggi itu."
Taehyung menggeleng. "Tetap tidak. Lagipula aku ada jadwal besok pagi."
"Aku akan mengantarkanmu."
Taehyung mengangguk. "Asal kau berjanji tidak akan menghancurkan apapun di sana. Call?"
"Call."
"Kalau begitu sebaiknya kau makan, aku akan mandi." Taehyung beranjak berdiri. Menatap Jungkook tajam. "Aku benar-benar ingin tidur. Kau mengerti?"
"Iya. Cerewet."
Taehyung berjalan ke kamar mandi masih dengan tertawa. "Hanya padamu, percaya padaku."
.
.
.
Fin.
.
.
.
Author's note:
Repost dr wattpad lol (Yang udah baca boleh banget diabaikan :"D)
Yaampun udh lama ngga update di sini ya /.\ beberapa waktu ini emang agak lebih di aktif di wp, ada beberapa story yg ngga saya publish di ffn, jd bisa main ke wattpad saya; shiinasany kalo mau baca :"D
Ah ya, kalau mau ngobrol, chat atau tagih ff saya yang selelet kura2 updatenya, ke PM aja yaaa, jangan di kotak review yg saya ngga bisa bales, merasa bersalah nih sampe ada yg review berkali-kali dan saya ngga bisa bales, terutama yg log in as guest /.\
I'm appreciate review so much!
Thanks for reading!^^
