Hello Minna-san. Syl is BACK with sequel of SENPAI..!!

Story Syl yang lain masih buntu, cunan fic ini yanh terus muter-muter di kepala Syl. Mungkin karena pemgalaman pribadi *ups. Syl tidak menyangka sama sekali, Fic Syl yang ink banyak yang menikmati, terimakasih atas ripiwnya minna-san. That keeps me alive lol

Copyright Naruto : Masashi Kishimoto

Genre : Drama - Hurt/Comfort - Romance - Angst (?) - Lemon/Lime (?) - Yaoi/BL

Pairing : Kakashi x Tenzou (Yamato) dan mungkin AsuIru (?)

Warning : Ini adalah Fic Yaoi/BL, Jika Anda merasa ini bukan tipical fic bacaan Anda, silahkan tekan tombol kembali yang ada, Srlsy.. Don't waste your time here.

And This is SENPAI : Hope after Despair

Seminggu setelah hari itu.

"Dasar orang tua yang kolot, aku tidak percaya mereka menangguhkannya hingga 1 bulan lamanya. Mereka pikir siapa mereka". Sejak satu jam yang lalu ruang kantor Hokage diramaikan dengan umpatan dan keluh kesah dari sang empunya. Tsunade merasa sangat kesal karena permintaannya untuk merubah peraturan dari Hokage sebelumnya itu ditangguhkan sampai satu bulan lamanya.

"Dan yang lebih menjengkelkan lagi, mereka tidak bisa memastikan apakah keputusanku ini bisa diterima atau tidak. Cih..!! Memang siapa Hokage nya. Mereka duduk santai di rumah mereka minum teh hangat sementara aku memikirkan keadaan rakyatku. Orang-orang tua yang tak tau diuntung".

"Sluuurp". Sambil meminum teh hijau hangat diatas mejanya dia menghela nafas panjang. Sementara seorang wanita disisinya hanya bisa diam tak berbicara sepatah kata pun. Ia mengerti bahwa majikannya itu tidak suka di ganggu ketika sedang kesal.

"Shizune, bagaimana pendapatmu ?".

"Menurutku, seharusnya kita bisa memperkecil waktu penangguhannya, Tsunade-sama. Mengingat desa kita sekarang juga sedang sangat butuh shinobi. Bahkan satu orang pun sangat terasa berharga. Apalagi jonin sekelas Yamato yang memiliki jutsu langka. Bahkan bisa dibilang satu-satunya di dunia ini yang memiliki jurus Mokuton".

"Kau benar, akan tetapi para orang tua itu tetap tidak mendengar alasan yang ku sampaikan. Keputusan mereka menangguhkan permintaan dariku sudah bulat. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku merasa sangat tidak berguna. Kalau boleh jujur. Aku kasihan kepada Yamato. Aku ingin segera membawanya pulang kembali ke Konoha."

"Tsunade-sama sudah melakukan semua yang Anda bisa. Anda tidak perlu terlalu merasa bersalah akan hal ini. Lagipula, Yamato adalah seorang shinobi yang tangguh. Terusir dari desa tidak akan membunuhnya. Dan juga bukankah Anda telah mengirimkan 2 orang ANBU yang selalu menjaganya ?"

"Kau mungkin benar. Mungkin aku yang ingin segera membawanya pulang. Aku hanya tidak tega melihat Yamato dalam keadaan terpuruk seperti itu".

Sang Hokage memutar kursinya. Mengarahkan pandangannya menuju langit yang begitu cerah tanpa awan. Pandangannya melayang ke seluruh penjuru desa. Menikmati pemandangan damai desa Konoha yang selama ini ia jaga dengan sangat baik. "Aku akan membawamu pulang, Yamato. Tunggulah disana".

Sementara itu di jalan-jalan desa Konoha sudah mulai dipadati oleh penduduknya. Aktifitas berlangsung ramai seperti biasa. Hari ini hari libur, jadi banyak warga yang memanfaatkan waktu mereka untuk bersantai. Begitu juga dengan guru Akademi yang satu ini. Ia berjalan-jalan di desa Konoha hanya untuk menikmati suasana desa di pagi yang cerah itu. Menyapa semua orang dengan ramah.

"Hei, Iruka".

Yang dipanggil langsung menoleh ke arah suara. "Asuma-san... hei...". Senyum lebar terkembang di wajah Iruka ketika orang yang disukainya itu memanggil namanya. Seidkit berlari, Iruka menghampiri si pria Sarutobi itu.

"Maa, Kau tidak menabrakku lagi seperti terakhir kali kita bertemu ?" Asuma terkekeh mengingat Iruka yang sempat salah tingkah ketika Ia berlari menabrak Asuma di jalan. Waktu itu ia berlari dengan pikiran yang tidak fokus.

"Ah, Gomen... Asuma-san". Iruka membungkuk

"Sudahlah, tidak perlu sampai seperti itu. Bukankah sudah kubilang aku pernah di tabrak oleh yang lebih besar".

"Cklek..." "pfffffffff"

Asuma mengeluarkan benda yang menjadi favoritnya. Rokok. Dan Iruka tidak suka rokok. (Sama kayak author) Ia benci dengan bau tembakaubyang dibakar itu.

"Uhuk... uhukkk"

"Iruka, kau tidak apa-apa ? Ah, ini pasti karena rokokku ya ? Maaf ya, aku tidak tahu kau benci rokok." Asuma membuang rokoknya ke tanah dan menginjakknya.

"Jadi, hari itu. Aku melihat tangan kananmu sedikit membiru. Apa yang terjadi ? Apa kau terlibat perkelahian dengan seseorang ? Sepertinya bukan tipikal Iruka untuk tiba-tiba berkelahi dengan seseorang. Aku benar bukan ?"

"Hehe, ya kau benar Asuma-san"

"Lalu kau kenapa, aku ingin tahu".

"Eto... A-anoo.. aku... Aku terjatuh ketika sedang latihan, Asuma-san. B-bagaimana kabar Kurenai-san ? Dia baik-baik saja bukan ?"

Exhale "Jika kau tidak ingin mengatakannya kepada ku, itu tidak apa-apa Iruka. Bilang saja jika kau tidak ingin membahasnya. Tapi jangan kau berbohong kepadaku. Kau tahu kan jika aku tidak suka dibohongi".

"I-iya Asuma-san maaf. Aku hanya tidak ingin membahasnya sekarang ini. Maaf".

"Iya sudah, lain kali jangan berbohong lagi. Kau terlalu polos Iruka. Kau tidak cocok untuk berkata bohong kepada orang-orang, kau tahu"

"Plukkk" Tangan besar Asuma mendarat mulus di atas kepala Iruka. Kemudian mengelus sedikit rambut terkucir itu. Tersenyum ramah kepada pemilik surai kecoklatan.

"O ya, Aku dan Kurenai. Aku tidak lagi bersama dengannya. Aku sendiri sekarang". Sambil terkekeh ia berbalik meninggalkan Iruka yang masih mematung di belakang.

"Sampai jumpa, Iruka".

"DEGG"

Mendengar kalimat itu, Iruka hanya bisa mematung. Untuk sesaat ia merasakan seluruh darah terpompa naik ke atas kepalanya. Seakan suara itu terus ada di kepalanya. "Aku dan Kurenai. Aku tidak lagi bersama dengannya. Aku sendiri sekarang".

"Kau tidak cocok untuk berkata bohong kepada orang-orang kau tahu".

"Ah, Iya. Mungkin aku harus... Asuma-san. Tunggu..."

Lingkar luar perbatasan Kiri-Konoha.

"Ehnn... Hmmmmhhh... hoaaaaaaam"

Di sebuah rumah kayu yang merupakan hasil justu itu, nampak sang empunya rumah baru saja bangun dari tidurnya. Matanya mengerjap untuk menyesuaikan dengan cahaya sekitar. Rumah itu sudah terang benderang dengan sinar matahari pagi yang begitu cerah, namun tidak panas menyengat.

"Tidak terasa sudah seminggu. Lebih baik, aku cari pekerjaan di desa terdekat. Aku bosan juga jika harus berburu hewan setiap hari untuk ku makan. Aku tidak boleh terus seperti ini. Aku adalah seorang shinobi dan aku orang yang kuat. Yosh aku akan mencari pekerjaan hari ini."

Ia pergi ke desa terdekat dengan hanya menggunakan kaos panjang hitam ala joninnya itu. Tidak terlalu mencolok. Dan orang-orang tidak akan mengenali jika ia ia adalah seorang shinobi. Sementara ikat kepala berlambang Konoha sudah disita oleh hokage ketika pengusiran seminggu yang lalu.

Di jalan, ia bertemu dengan seorang pria paruh baya. Nampak di wajahnua penuh dengan keringat dan peluh. Ia sedang kesusah mengangkat 4 ikat kayu secara sekaligus. Yamato menghampiri pria itu dan menawarkan bantuan.

"Apa kau mau aku bantu ? Dengan senang hati, aku akan membantumu".

Yamato adalah pemuda yang baik. Ia sangat senang membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan. Dan orang yang sering ia bantu yaitu tidak lain dan dan tidak bukan adalah Kakashi. Senpai malas yang tidak malu untuk merepotkan orang lain.

Orang itu pun menawarkan pekerjaan kepada Yamato untuk membantunya mencari kayu dan mengangkat nya ke gudangnya yang ada di desa. Dia adalah penjual kayu yang lumayan sukses di desa itu.

"Kau mau bekerja padaku ? Akan kubayar 50ryo sehari. Dan jika hasil kayumu melebihi target dalam sehari. Akan ku beri bonus. Bagaimana ?".

"Ah, tentu aku mau. Terimakasih tuan".

"Siapa namamu ?"

"Namaku Ten.. Namaku Yamato".

"Baiklah Yamato. Namaku Taiga (ngarang) kau biaa mulai bekerja besok. Setelah ini kau ikut aku ke gudang kayu di desa. Besok kau bisa langsung bekerja mencari kayu untukku".

"Baiklah, Arigatou Taiga-san".

Back To Konoha.

"Hmm... Jadi begitu, Kakashi. Memang seringkali aku tidak dapat memahami jalan pikirnya. Tapi ini, ini benar-benar diluar dugaan ku. Jadi ini yang menyebabkan Yamato diusir dari Konoha".

"Ya begitulah, tanganku membiru dikarenakan Kakashi mencengkramnya dengan kuat saat aku mendesak nya mengaku jika dia itu adalah seorang gay, sama seperti Yamato".

"Yamato itu orang yang baik. Aku rasa tidak adil mengusirnya dari desa hanya dikarenakan dia gay. Apakah semua jasa dan pengorbanan yang ia lakukan demi desa terhapus begitu saja, karena ia seorang gay ? Aku rasa itu tidak adil".

"Aku juga berfikiran seperti itu, makanya aku turut prihatin dengan Yamato-san. Dia terlihat sangat hancur ketika ia terusir dari desa. Aku bisa melihat itu dari kedua mata Yamato-san. Aku melihat mata yang sam dengan Naruto ketika orang-orang desa menjauhinya dulu. Bahkan lebih sendu dari itu".

"Well, it can't be helped then". Asuma berdiri sembari membenahi pakaiannya.

"Asuma-san kau mau pergi kemana ? Jangan bilang padaku jika kau..."

"Ya, aku akan menemui Kakashi untuk memberinya sedikit pelajaran. Sudah seharusnya ia mengerti dan memahami konsekuensi dari perbuatan yang telah ia lakukan".

"Asuma-san kumohon jangan. Yamato-san memintaku untuk tidak memberitahukannya kepada siapapun. Dan Yamato-san tidak ingin masalahnya diperkeruh dengan berita tentang Kakashi yang menyebar luas. Ia sudah merasa sangat dibenci oleh Kakashi. Yamato-san takut jika berita tentang Kakashi juga tersebar ia akan lebih membenci Yamato-san".

Iruka menarik tangan Asuma. "Kumohon, ini demi Yamato-san".

"Cih..! Apa-apaan Yamato itu. Orang seperti Kakashi pun masih ia lindungi. Kakashi benar-benar tak tahu diri. Baiklah demi Yamato. Bukan demi Kakashi. Walaupun sebenarnya aku berharap Yamato bisa menemukan pria yang lebih baik dibandingkan si malas itu".

"Arigatou Asuma-san"

Tiba-tiba Asuma menarik tangan Iruka yang masih menggenggam tangannya.

"Ayo ikut aku. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, Iruka".

"E-eh.. Asuma-san.. tunggu, aku mau di bawa kemana... ? Asuma-san...!!!".

Malam itu...

Terlihat oleh matanya, pemuda berambut coklat duduk termenung di pojok ruangan. Pemuda itu duduk menghadap tembok, membelakangi dirinya. Dengan segera otaknya mengenali pemuda itu.

"Yamato"

Ia berlari untuk segera menghampiri pemuda itu. Ingin rasanya ia memeluknya. Menumpahkan semua perasaan dan unek-unek yang ia pendam selama ini. Meminta maaf karena telah menghancurkan kehidupan sang pemuda. Kakashi hanya ingin minta maaf. Namun tak perduli seberapa jauh ia berlari. Tangannya tak mampu meraih tubuh sang pemuda.

"Yamato"

Ia merasa tak mampu lagi berlari. Kakinya terasa seperti hampir lepas dari tubuhnya. Namun jarak antara mereka berdua tak kunjung berkurang. Akhirnya ia pun berteriak sekuat tenaga memanggil nama sang pemuda.

"YAMATO"

Tetap ia tidak menoleh dan tidak bergeming dari posisinya. Seakan tak mendengar suara lantang Kakashi yang dari tadi telah lelah meneriakkan namanya.

"Hah.. hah.. hah.. Yama... hah... TENZOUUUUUU...!!!"

GASPPP*

Yamato terkejut dengan apa yang dilihatnya tadi. Apa itu ? Kaka-senpai ? Berteriak memanggilku ? Apa ? Mengapa ? Mau apa lagi dia dengan ku ? Begitulah yang ada di pikiran Yamato saat ini. Begitu kacau. Ingin matanya menangis, tapi segera ia hapus perasaan itu. "Aku adalah shinobi yang kuat".

GASPPP*

"Cuma mimpi. Sekilas nampak sangat nyata".

Tubuh Kakashi di basahi oleh keringat dan peluh. Mimpinya barusan membuat suhu tubuhnya naik sehingga bantal dam sepreinya basah oleh keringatnya sendiri. Apa ini ? Penyesalan ? Mengapa ? Bukankah aku harusnya senang dengan kepergiannya ?

"Ada apa, Kakashi. Suara wanita di sebelahnya membuyarkan lamunan dan pikirannya yang kalut. Wanita itu nampak menggunakam selimut Kakashi untuk menutupi buah dadanya. Pertanda mereka habis melakukan hubungan intim.

"Kau terus memanggil Yamato dalam mimpimu. Ada apa ? Kau mempunyai masalah yang belum terselesaikan dengan Yamato ?" Tanya wanita itu khawatir.

"Tidak. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Tidurlah kembali, Hanare".

"Cupp... cupp" Kakashi mencium bibir wanita yang ia panggil Hanare itu sebelum pergi kembali ke alam tidurnya.

TBC

PHEW jadi juga... terimakasih bagi yang udh mau baca cerita ini. Syl mau jawab sebagian ripiw dari chap 1 ah...

Bluesky Lavender : Aduh... gomen gomen... Maaf bgt atas ketidaknyamanan nya ya... Syl cuna kaya habis ide untuk nggambarin sejauh mana si Kaka nyesel. Emg di chap 1 itu Kaka kya dipersimpangan gt... galau2 gaje.. skali lg maap klo alurnya berantakan *bow

Ara : makasih bebs... ini dilanjutin ko *wink

Trus ada yg ngeflame wkwk pengen eyke jawab... tapi ahh ya sudahlah... eyke dibilang banci taman lawang. Jahara binggow ya kamyu... jengong begindang duong.. ntar yeay eke sumpain punya istri dada tepos mau ??? Wkwkwk...

O iya Syl nanya dong. Ko ripiw kalian ga muncul di fic syl yah? Padahal masuk email pemberitahuan. Ada yang tau kenapa. Mohon senpai beri pencerahan kepada nubi di ffn ini...

Akhir kata.

Syl out.