Hello Minna-san. Syl is BACK with sequel of SENPAI..!!

Story Syl yang lain masih buntu, cunan fic ini yanh terus muter-muter di kepala Syl. Mungkin karena pemgalaman pribadi *ups. Syl tidak menyangka sama sekali, Fic Syl yang ink banyak yang menikmati, terimakasih atas ripiwnya minna-san. That keeps me alive lol

Copyright Naruto : Masashi Kishimoto

Genre : Drama - Hurt/Comfort - Romance - Angst (?) - Lemon/Lime (?) - Yaoi/BL

Pairing : Kakashi x Tenzou (Yamato) dan mungkin AsuIru (?)

Warning : Ini adalah Fic Yaoi/BL, Jika Anda merasa ini bukan tipical fic bacaan Anda, silahkan tekan tombol kembali yang ada, Srlsy.. Don't waste your time here.

AN : Chap ini lebih didominasi AsuIru. Ceritanya agak melebar dari True Story nya. Tapi gpp... biar ga kecepetan alurnya jadi syl bikin kyk gini. Hope you enjoy.

And This is SENPAI : Hope after Despair

"A-asuma-san aku mau di bawa kemana ? Asuma-san kenapa kau tidak menjawabku ? Asuma-san..."

Sejak 10 menit yang lalu Iruka tidak henti-henti nya bertanya kepada pria berjambang yang sedang menariknya itu. Pikirannya sibuk memikirkan tempat seperti apa yang pria Sarutobi itu ingin tunjukkan kepada dirinya. Tak biasanya ia bersikap seperti itu kepada Iruka. Memang, Iruka adalah pemuda yang sangat ramah. Dia bahkan akrab hampir kepada seluruh penduduk desa konoha. Mulai dari rekan shinobi, anak-anak academy dan wali mereka, sampai masyarakat konoha non-shinobi pun ia sangat akrab.

Akan tetapi, perlakuan seperti ini ia belum pernah dapati dari pria yang sangat gemar merokok itu. Dia memang menyukainya. Akan tetapi dia belum pernah memberitahukan tentang hal itu kecuali kepada Yamato. Jadi tidak mungkin Asuma tau tentang hal itu dan berusaha menggodanya. Tidak, Asuma bukan tipe orang yang senang menggoda seperti Kakashi. Lalu ini apa maksudnya ?.

Pikirannya sibuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, perasaan bingung Iruka terkalahkan dengan perasaan gembira yang sekarang sedang menghinggapi dirinya. Dia merasa bagaikan sekuntum bunga yang sedang mekar. Sangat indah dan enak dipandang. Begitu bahagia.

"Aku tidak ingin terlalu berharap dulu. Mungkin saja dia tidak bermaksud sampai kesana. Aku harus menjaga ekspektasi agar tidak kecewa nantinya." Iruka bergumam tidak jelas, membuat pria didepannya berhenti sebentar.

"Huh ? Iruka kau berkata sesuatu ?" Dan itulah reaksi Asuma terhadap gumaman yang tidak jelasnya tadi.

"Ah, ti-tidak Asuma-san. Aku hanya bertanya-tanya sebenarnya kita mau ke..."

"Kita sudah sampai".

Ternyata tempat yang dituju oleh Asuma adalah tempat dimana biasanya dia dan muridnya yaitu Shikamaru sering menghabiskan siang dengan berbaring dan memandangi langit. Jika ada waktu luang biasanya mereka mengobrol disana sampai salah satu dari keduanya ada yang tertidur. Kemudian kembali ketika hari sudah mulai sore.

Disana bisa terlihat jelas pemandangan desa konoha yang indah karena tempat tersebut terletak lebih tinggi dari tempat di sekitarnya. Pohon yang rindang dan angin sepoi-sepoi membuat suasana semakin tentram dan damai. Apalagi tempat itu sangat sepi dan jarang orang melewati tempat itu.

"Asuma-san, tempat apa ini ?".

"Hak...aaahhhh" Tanpa menjawab pertanyaan dari Iruka, Asuma langsung saja merebahkan tubuhnya di tempat favoritnya itu.

"Ini adalah tempat favoritku dan Shikamaru menghabiskan siang bersama. Kami biasanya akan mengobrol disini, sampai salah satu dari kami ada yang tertidur, hihi". Asuma terkekeh mengingat pasti Shikamaru lah yang pertama tertidur. Karena memang rusa malas itu paling nomor satu jika sudah berhadapan dengan yang namanya TIDUR.

"Kemarilah Iruka. Aku ingin kau menikmati keindahan tempat ini bersamaku". Asuma menepuk-nepuk rerumputan disampingnya. Mengisyaratkan kepada Iruka untuk mengambil tempat di sebelahnya.

"B-baiklah"

Iruka kemudian berjalan mendekati Asuma, dan duduk disampingnya. "Disini sejuk. Aku suka tempat ini, Asuma-san".

"Jangan hanya duduk, berbaringlah bersamaku, tempat ini akan jauh lebih indah jika melihatnya sambil berbaring seperti ini. Kau bisa melihat pepohonan yang rindang sambil bisa melihat pemandangan desa konoha. Ini sangat menyenangkan".

"B-begitukah ? Baik aku berbaring".

Tanpa Iruka sadari pria disebelahnya memejamkan matanya sambil tersenyum lembut penuh arti. Entah apa maksudnya. Tapi perasaan di hatinya kini terasa sangat nyaman dan tentram.

Asuma membalikkan badannya membelakangi Iruka. "Ah, sudah lama rasanya aku tidak kesini dengan Shikamaru. Namun dia bilang hari ini ia ada urusan dengan Ayahnya. Jadi aku ajak kau saja kesini untuk menemaniku".

Pandangan sendu tiba-tiba terukir di wajah Iruka. Dia ingin sekali bertanya tentang hubungan pria di sebelahmya itu dengan pacarnya. Atau bisa dibilang mantan pacarnya. Karena tadi pagi ia bilang bahwa ia sudah tidak bersama lagi dengan wanita cantik bermata merah itu.

Mungkin sedikit tidak sopan, tapi apa boleh buat, Iruka sangat penasaran bagaimana bisa pasangan yang menurutnya 'perfect' itu bisa sampai putus dan akhirnya memutuskan untuk berpisah dan mengakhiri hubungan mereka.

Keadaan hening, sampai Iruka membuka suaranya.

"A-ano... A-asuma-san bo-boleh kah alu bertanya kepadamu tentang sesuatu ? Mungkin ini sedikit tidak sopan, tapi..."

Asuma tersenyum di balik badannya.

"Tapi, jika aku boleh tau..."

"Kami berpisah karena memang kami sudah tidak sepaham, Iruka. Aku merasa aku tidak bisa melanjutkan hubungan lagi dengan dia. Dan ya kau boleh mengetahuinya".

"Oh, satu lagi. Aku rasa dia belum hamil. Itu hanya kabar burung saja. Kau mengerti sekarang ?"

Entah mengapa tiba-tiba wajah Iruka menjadi mulai memerah. Jantungnya sealan terpompa sangat keras sehingga semua darahnya naik ke kepalanya.

Asuma pun membalikkan badannya. Kini ia tengah menghadap Iruka yang sedang berbaring terlentang.

"Dan sampai sekarang, aku masih belum memiliki pengganti dirinya". Tambah Asuma.

"Hmmm... Aku pikir, dengan wajah setampan itu. Kau akan mudah mendapatkan wanita yang pas sebagai pengganti Kurenai-san".

Iruka memejamkan matanya sambil tersenyum dengan senyum yang sangat indah. Penuh arti dan sangat lembut, membuat pria di depannya terpana atas keindahan ciptaan Tuhan didepannya itu. Tanpa sadar Asuma memajukan wajahnya mendekati wajah Iruka. Belum sempat Iruka membuka kedua matanya. Dan...

"Cup". Sebuah kecupan singkat namun menyimpan jutaan makna. Iruka kaget dan membuka matanya, yang ia bisa lihat hanyalah wajah tampan seorang Asuma Sarutobi yang sedang menciumnya tepat di bibir.

Tersadar dari hipnotis wajah Iruka. Asuma pun memegang kembali kendali penuh atas pikirannya. Ia langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Iruka. Sesaat ia menoleh kanan dan kiri hanya untuk mengamati. Adakah orang yang secara tidak sengaja melihat mereka berdua yang sedang berciuman. Keduanya pun langsung terduduk setelah ciuman itu berlangsung.

Tanpa disadari oleh Asuma. Iruka menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sangat dalam sampai tidak terlihat sedikitpun bagian dari keindahan ciptaan Tuhan itu.

Asuma yang merasa bersalah segera meminta maad sebesar-besarnya kepada pria yang bermarga Umino di depannya itu.

"Ah, maaf Iruka... aku tak tau apa yang aku pikirkan. Aku sampai melakukan hal yang macam-macam. Tolong maafkan aku". Ia membungkukkan badannya dan meletakkan kedua telapak tangannya di tanah. Tanda permintaan maaf yang sangat dalam.

Namun Iruka masih terlihat enggan untuk menampakan wajahnya.

"I-iruka... aku mohon maafkan aku, aku tidak bermaksud...".

"Katakan, Asuma-san". Masih sambik menunduk, Iruka mengatakan sesuatu yang masih menggantung kepada lawan bicaranya.

"Apa maksudmu, Iruka ?"

Iruka mengangkat kepalanya. Ia menunjukkan ekspresi yang sangat serius.

"Katakan sejujurnya. Apa... Apa Asuma-san menyukaiku ? Maaf jika aku langsung bertanya seperti ini. Akan tetapi, aku tidak mau jika kisahku akan berakhir seperti Yamato. Aku minta kejelasan darimu Asuma-san. Jika kau memang tidak benar memyukaiku dan menurutmu ciuman tadi hanyalah impuls atau apapun itu kau menebutnya. Aku tidak akan pergi lebih jauh".

"A-pa maksudmu 'pergi lebih jauh' ?".

"Ya, itu sudah jelas karena aku menyukaimu, Asuma-san. Entah sejak kapan. Tapi selama ini aku selalu melihatmu dan memperhatikanmu dari kejauhan. Berharap rasa ini akan terbalas suatu saat nanti. Dan sekarang kau menciumku. Tapi aku butuh kepastian darimu ciuman apakah ini".

"Iruka..". Batin Asuma.

"Seperti yang ku bilang tadi Asuma-san. Jika ini hanya sekedar ciuman 'kecelakaan' aku tidak akan lebih jauh menanggapi hal ini dan kita bisa kembali ke pertemanan kita seperti biasa. Tapi, jika memang kau suka padaku... Aku yakin aku bisa membuatmu bahagia, Asuma-san".

"..." Asuma masih terdiam. Menatap Iruka kaget setengah tak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Aku mengerti, Asuma-san. Kau menyukai wanita. Haha bodohnya aku berkata yang tidak-tidak kepadamu. Aku minta maaf Asuma-san". Iruka tertawa getir hanya untuk mencairkan tense yang terjadi diantara mereka sejak tadi.

Namun Asuma masih belum berkata apa-apa. Iruka makin yakin jika orang yang berada di depannya ini sudah tidak ingin melihatnya lagi. Segera Iruka berpamitan kepada Asuma dengan sopan, dan beranjak pergi. Entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Mungkin menangis seharian di apartemennya adalah ide yang bagus.

"Baiklah, aku permisi Asuma-san. Terima kasih telah mengajak ku kesini. Disini indah. Selamat tinggal".

Akan tetapi tanpa diduga tangan besar itu menahan laju Iruka yang hendak meninggalkan dirinya dalam kesendirian. "Memang sudah seperti ini, sekalian saja". Batin Asuma.

"Bagaimana bisa kau sudah membuat hati seorang pria tertarik kepadamu dan kau meninggalkannya begitu saja tanpa bertanggung jawab sedikitpun terhadap pria itu. Kau sudah menawan hatiku dan sekarang kau harus bertanggung jawab atas hal itu".

"Asuma-san ?"

"Yes, I like you, you silly dolphin :D". Menurutmu mengapa aku membawamu ke tempat favoritku bersamaku dan menciummu disini jika aku tidak menyukaimu. Dan siapa bilang pengganti wanita ?. Bukankah aku tadi hanya bikang kalau aku belum punya pengganti ? Pria atau wanita, aku tidak mengatakan tenatng itu sebelumnya".

"Tapi, Asuma-san".

"Shhhh... tidak Iruka. Aku tahu yang kau pikirkan, tapi aku tidak takut dengan peraturan aneh itu. Aku tidak seperti Kakashi. Aku menyukaimu dan aku jujur kepadamu bahwa aku menyukaimu. Aku tidak takut sedikitpun. Jika kita diusir, kita pergi sama-sama". Senyum lebar Asuma sambil mengacungkn jempolnya ke arah dadanya.

"Jadi..."

"Ya Iruka, I'm your man now. Jadi bisakah kau kemari dan kita lanjutkan apa yang tadi sudah kita mulai ?" Lagi-lagi Asuma menepuk rerumputan ditempat itu. Mengisyaratkan kepada Iruka untuk mendekat.

Tanpa berkata apapun Iruka maju mengikuti permintaan pacar barunya sekarang ini. Mendekatkan wajahnya dengan wajah pria didepannya. Untuk melanjutkan apa yang tadi sempat berhenti.

Namun belum sampai bibir mereka bertemu, Iruka dikagetkan dengan burung hantu pengantar surat. Secara tidak sengaja ia mendorong tubuh Asuma dan menyambut burung pengantar surat tersebut.

"Itaiiii... oi Iruka. Kenapa kau tiba-tiba mendorongku ? Eh.. apa itu ? Surat ?" Asuma ikut penasaran dengan apa yang ada di tangan Iruka.

"Iya.. Ahhh... Ini dari Yamato-san". Iruka nampak sangat senang dan bersemangat membuka surat dari Yamato. "Kau bersemangat sekali, dan bahkan kau sampai mendorongku hanya karena surat dari Yamato. Siapa sih yang lebih kau utamakan. Yamato atau pacar mu ini ? Aku mulai cemburu tau -_-".

"Cupp". Sebuah ciuman di pipi Asuma mendarat dengan lembut. "Tentu aku akan mengutamakan pacar baruku yabg sangat tampan ini. Tapi hanya saja aku sudah lama menunggu surat ini. Karena ketika ia diusir aku meminta ia mengirimku surat untuk mengetahui dimana dia berada dan bagaimana keadannya. Dia sempat menginap di apartemen ku sebelum ia diusir".

"Oh, jadi begitu".

"Iya, aku akan mengunjunginya jika aku ada waktu. Kau boleh ikut denganku jika kau mau".

"Tentu. Aku juga ingin melihat bagaimana keadaan Yamato. Aku harap kedatangan kita akan sedikit menghiburnya dari masalah kalut yang membelitnya".

"Oh, dan satu lagi Iruka. Malam ini aku akan menghabiskan malam di tempatmu. Jadi, persiapkan dirimu".

Asuma mendekatkan wajahnya di telinga Iruka kemudian berbisik. "Aku bisa sampai 4 ronde, I-ru-chan"

Dan respon dari Iruka hanya satu kata.

"HENTAIIIIIIII...!!!"

Keesokan harinya. ( Adegan sex ga syl masukin XP )

"Ah, terasa panas... dia benar-benar melakukannya 4 ronde tanpa henti -_-. Aku capek. Mungkin aku tidak mengajar saja hari ini".

"Nggghhh... I-ru-chan..."

Asuma masih pulas tertidur, tepat di samping Iruka. Tanpa mengenakan sehelai pakaian. Tubuh mereka berdua tertutup oleh selimut yang bentukanya sudah tidak beraturan. Iruka menatap pacar barunya penuh arti. "Arigatou, Asuma-san".

Sementara di tempat lain...

"Kakashi, bangun. Bukankah kau bilang kau ada misi hari ini ? Kakashi. Bangun.."

"Nggh... jam berapa ini ?" Ia membuka wajahnya dari dalam selimutnya dan membuka matanya yang berwarna tak sama itu. Melihay sesosok wanita cantik yang tengah membangunkannya saat ini.

"Jam 7 pagi. Aku sudah buatkan sarapan untukmu. Semua ada di meja. Aku akan langsung pergi karena aku ada urusan mendadak. Aku pergi dulu Kakashi. Jangan lupa makan sarapanmu."

"Baiklah, sampai jumpa".

A few bath and breakfast later...

"Nom nom nom". Kakashi mengunyah sarapannya dengan cepat. Ia tak ingin Tsunade marah karena ia terlambat datang ke kantor Hokage. "Hmm.. ternyata sarapan buatan Yamato lebih enak. Lagipula ia selalu bersedia jika ia aku minta membuatkan sarapan untukku. Dia akan datang ke sini pagi-pagi sekali lalu membuatkan sarapan. Kemudian membangunkanku lalu dia pergi lagi. Hihihi". Kakashi terkekeh mengingat kejadian yang lumayan konyol (sekaligus romantis) bersama kohainya itu.

"Yamato, bagaimana keadaamu sekarang ini... Aku.. rindu padamu".

Sarapan selesai dan Kakashi langsung meluncur ke kantor Hokage.

"Tok tok"

"Masuk, Kakashi".

"Yo. Tsunade-sama ada misi apa hari ini ?"

"Tsunade-sama, apa kau yakin akan memberikan misi ini kepada Kakashi, bukankah ia..."

"Diam Sizune. Aku sudah memutuskan".

"B-baikk..."

"Ada apa ini ?" Kakashi menangkap aura aneh di ruangan itu. Segera otak cerdas Kakashi menangkap yang dimaksudkan oleh sang Godaime Hokage. Ia menatap sangsi Tsunade seakan ia mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tsunade yang sudah sadar Kakashi mengetahui misinya kali ini hanya menjawab singkat. Karena jujur ia sedang malas bicara dengan shinobi di depannya ini.

"Ya, Kakashi".

Kakashi terdiam tak percaya dengan apa yang ia dengar dari sang Hokage. Bagaimana bisa ? Bagaimana ia akan melakukannya. Ia merasa tidak mampu. Tsunade menegaskan.

"Kau akan kutugasi untuk menjaga Yamato sampai beberapa hari kedepan. Beberapa ANBU yang sudah mengawasinya sejak terusir telah memberikan informasi keberadaan Yamato".

"Tunggu dulu". Potong Kakashi. "Bukankah harusnya dua orang. Mana rekanku ?"

"Nope. You don't need that. Kau adalah senior ANBU. Kau hebat dan kau digadang-gadang sebagai pengganti Hokage setelah ku. Dan ini hanyalah misi mengawasi Kakashi. Ini misi tingkat B. Kau meminta rekan ?".

"Tapi"

"TIDAK ADA TAPI, PERGI SEKARANG ATAU KAU HARUS BERTARUNG DENGANKU KARENA APA YANG TELAH KAU LAKUKAN".

"Gulp". "Baiklah, aku pergi".

TBC

Seperti yang sudah syl sampailan diatas. Chap ini didominasi AsuIru, yang itu spontan bgt keluar tanpa mikir sama sekali diawal cerita. Maaf ceritanya jadi agak melebar dari true story nya. InsyaAllah tempo tetep syl jaga.

Makasih buat ripiw nya ya...

Di chap depan saksikanlah konflik yang sudah kalian tunggu2 wkwkwk... semoga memenuhi ekspektasi haha

Karena syl baca semua ripiw hampir semua reader pengen Kaka nyesel dulu dan menderita dulu separah2nya baru balikan ama Yama wkwkwk... kita lihat saja nanti. Karena ini true story after all... ga bisa dipaksain end nya harus gimana. :D

Love you all

Syl out.