Hello Minna-san. Syl is BACK with sequel of SENPAI..!!

Story Syl yang lain masih buntu, cuman fic ini yang terus muter-muter di kepala Syl. Mungkin karena pemgalaman pribadi *ups. Syl tidak menyangka sama sekali, Fic Syl yang ink banyak yang menikmati, terimakasih atas ripiwnya minna-san. That keeps me alive lol

Copyright : Masashi Kishimoto

Genre : Drama - Hurt/Comfort - Romance - Angst (?) - Lemon/Lime (?) - Yaoi/BL

Pairing : Kakashi x Tenzou (Yamato) dan mungkin AsuIru (?)

Warning : Ini adalah Fic Yaoi/BL, Jika Anda merasa ini bukan tipical fic bacaan Anda, silahkan tekan tombol kembali yang ada, Srlsy.. Don't waste your time here.

And This is SENPAI : Hope after Despair

Kepada Iruka-san :

Hai Iruka-san apa kabarmu ? Aku harap kau baik-baik saja disana. Seperti yang sudah aku janjikan sebelumnya aku akan mengirim surat kepadamu ketika aku ada waktu luang. Aku hanya ingin mengabarkan kepadamu bahwa aku baik-baik saja. Aku mendirikan rumahku sendiri di pinggir desa yang terletak di lingkar luar perbatasan Konoha dan Kiri-Gakure. Ya tempat di mana Kakashi-senpai melakukan itu kepadaku. Seperti yang telah aku ceritakan kepadamu sebelumnya.

Entah mengapa setelah semua yang Kakashi-senpai lakukan, ada sebagian dari hati kecilku ini yang tidak bisa membencinya. Padahal aku tahu jika dia tidak pernah mencintaiku. Hehe maaf aku malah jadi curhat, Iruka-san. Aku sudah jauh lebih baik sekarang, Iruka-san. Aku sangat bersyukur.

O iya, mulai kemarin aku bekerja membantu salah satu warga mencari pasokan untuk kayu di gudangnya. Ia adalah penjual kayu yang sukses di desa ini. Namanya Taiga-san. Aku digaji 50ryo sehari dan akan ditambah jika hasil kayuku memenuhi target. Dia belum tahu saja jika aku adalah shinobi pengguna mokuton haha. Aku selalu mendapat lebih dari 200ryo setiap hari hahaha.

Iruka-san aku tidak sabar menunggu kau menjengukku. Aku kesepian disini. Berkunjunglah kesini dan menginaplah beberapa hari disini. Aku sangat menunggu kehadiranmu, Iruka-san.

Sekian dulu dari aku, semoga harimu menyenangkan. Dan o ya satu lagi. Hati-hati. Jangan sampai kau bernasib sama sepertiku.

Jaa-nee.

Pagi itu, masih di desa Konoha.

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Matahari bahkan sudah tak malu lagi menunjukkan dan meradiasikan hangatnya ke seluruh penjuru bumi. Menandakan hari baru bagi para penghuni bumi untuk memulai aktifitas mereka. Riuh warga desa mulai terdengar. Mulai dari pusat desa hingga ujung-ujungnya. Masyarakat dari segala lapisan menyongsong hari baru mereka dengan semangat.

Namun bukan berarti semua warga desa menyambut hari mereka dengan semangat baru. Di sebuah apartemen di jantung desa konoha. Masih saja ada manusia yang belum juga membuka matanya padahal matahari telah begitu tinggi. Bahkan cahaya kemuning matahari yang menyilaukan masuk melalui jendela kamar pun tidak mengganggu sesi tidur nya di pagi itu.

Rupanya si pemuda berjambang itu belum bangun lantaran seluruh energinya habis ia gunakan dalam 'misi membobol' pasangannya semalam. Bagaimana tidak, ia melakukannya sepanjang malam tanpa henti. Dan ini lah akibatnya. Ia tidak bisa terbangun tepat pada waktunya.

Tidak seperti dia, pacar barunya sekarang ini sudah siap beraktifitas. Bahkan ia sempat membuatkan sarapan untuk pacarnya yang menginap di apartemennya. Semua sudah siap di meja makan. Akan tetapi pacar nya itu tidak segera bangun.

"Orang itu. Sudah kubilang satu ronde saja. Dia memaksa sampai empat ronde. Libido orang itu benar-benar diluar batas kewajaran". Setidaknya itulah yang menjadi kesan pertama Iruka setelah 'kencan pertama' dengan pacar barunya. Asuma Sarutobi.

Jujur saja. Bahkan sampai sekarang ia merasa ini semua hanyalah mimpi. Ia merasa tak percaya bahwa pria tampan perokok yang hanya bisa ia lihat dan ia pandangi selama ini, resmi menjadi pacarnya.

"Zzzzzz" "zzzzzzzz" "zzzzzzzz"

"Asuma-san, Asuma-san bangun".

"Nghhh sebentar lagi Iru-chan".

"Asuma-san sekarang jam 7 pagi. Mau sampai kapan kau tidur seperti ini. Asuma-san bangun".

Merasa tak cukup dengan menggunakan kata-kata. Kali ini Iruka mulai mengguncang badan berotot milik Asuma. Berharap agar tubuh itu bangkit dari kasurnya dan memulai harinya pagi ini.

Namun orang yang dibangunkan tak kunjung membuka matanya.

"Nggh Iru-chan, sebentar lagi. Kumohon".

"Sepertinya ia sudah kebal dengan yang namanya dibangunkan dengan cara keras. Mungkin aku harus melakukannya dengan 'boyfriend style' xixixi"

Iruka mulai menurunkan selimut yang menutupi tubuh Asuma secara perlahan. Sedikit demi sedikit sampai turun setegah badan. Membiarkan perut dan dada nya terkspos sempurna. Sementara itu Asuma hanya menyamankan posisi tubuhnya dan tidak sadar akan apa yang akan dilakukan Iruka.

Iruka meletakkan tangannya dengan sangat lembut di atas perut pacarnya itu. Kemudian mengelusnya ke atas dan kebawah. Tangannya yang satu lagi meraba dada Asuma. Di sentuhnya tonjolan coklat yang ada di sana. Namun lama kelamaan tangan yang ada di perut mulai turun ke 'daerah paling sensitif' di tubuh pria itu. Iruka mendekatkan wajahnya ke telinga Asuma dan menjilat lembut telinga itu.

Asuma yang mendapat perlakuan seperti itu langsung saja bereaksi. Akan tetapi ia masih enggan membuka kedua mata coklatnya itu. Yang ia lakukan hanya mengerang kecil sambil terus menggeliat di atas kasur.

Namun Iruka belum selesai sampai disitu. Ia masih punya sesuatu yang akan langsung membuka mata pria Sarutobi itu seketika.

Iruka berbisik. "Jika kau tak segera bangun. Kau tidak akan dapat 'jatah' dariku selama satu bulan".

Dan benar saja. Tak sampai 2 detik. Pria itu langsung membuka matanya dan segera bangkit dari posisinya. Segera ia menghadap Iruka dengan panik. Takut akan apa yang dikatakan Iruka menjadi kenyataan.

"Baiklah aku bangun, aku bangun. Apapun asal yang tadi. Seharian saja aku sudah tidak kuat menahannya, apalagi sebulan".

"Baiklah kalau begitu cepatlah mandi. Kita akan mengunjungi Yamato hari ini, kau ingat itu kan ?"

"Iya, aku ingat. Kau tidak mengajar hari ini ?"

"Tidak, aku sudah bilang kepada Aoba untuk menggantikanku hari ini. Ku bilang saja hari ini aku ada kepentingan mendadak".

"Yosh Aku akan mandi".

Tanpa malu dan peduli akan Iruka yang belum terbiasa dengan keadaan seperti ini, Asuma langsung saja menyingkap selimut dari tubuhnya. Padahal dia belum mengenakan pakaian sama sekali.

"A-asuma-san, bisakah kau setidaknya mengenakan pakaian dalammu ? A-aku tidak biasa melihat kau seperti ini".

"Ah, mengapa kau tiba-tiba jadi malu begitu, Iruka ? Kau juga melihatnya tadi malam. Bahkan kau juga memasukannya ke dalam mulutmu. Aku heran mengaoa kau masih malu melihatku tanpa busana".

"ITU SAMA SEKALI TIDAK ADA HUBUNGANNYA TAU...!! CEPAT MANDI SEKARANG..!!"

"Ah, baik.. baik.. *sweatdrop". "Dia sudah macam ibu rumah tangga saja hihi". Dalam hatinya Asuma senang karena mulai sekarang ada yang memperhatikan kehidupan sehari-harinya.

"Aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Setelah sarapan, kita akan berangkat".

"Baiklah".

Sementara itu di tempat lain...

"Wuush" "wuush" "wuush"

Seorang shinobi berpakain lengkap khas ANBU sedang melompat meluncur dari satu dahan pohon ke dahan yang lain. Satu persatu pohon ia lewati dengan kecepatan ninja. Ia menuju ke arah timur negara api. Ya, dia mengarah ke Kiri-Gakure. Dari rambutnya yang keperakan orang-orang konoha pasti kebanyakan sudah satu siapa pria di balik topeng itu. Dia adalag Hatake Kakashi. Jonin cerdas namun malas.

Sudah sekitar setengah jam ia meluncur diantara pepohonan. Hari ini dia yang mendapat giliran menjaga Yamato sampai 3 hari kedepan. Ia sendiri bingung mengapa Tsunade menyuruhnya untuk menjalankan misi ini. Padahal secara teori ia sudah pensiun dari ANBU dan menjadi guru pendamping. Akan tetapi ini adalah perintah Hokage dan ia tidak bisa membantahnya.

Ia merasakan perasaan yang campur aduk. Disatu sisi ia senang karena bisa melihat keadaan Yamato secara langsung. Disatu sisi ia tidak senang karena ia harus menemui dan berhadapan dengan Yamato secara langsung setelah kejadian yang terjadi diantara mereka berdua. Di sisi lain ia bingung, apa yang harus ia katakan ketika nanti ia bertemu dengan Yamato.

"Apa yang harus aku lakukan ketika aku bertemu dengannya ya.. sighh aku bingung. Atau mungkin aku menghindar saja darinya. Tugasku hanya mengawasi dan menjaga Yamato apabila terjadi sesuatu. Jika tidak terjadi apa-apa, maka aku tidak harus bertemu dengannya".

Skip time.

Sudah 2 hari sejak ia mengirim surat kepada Iruka. Namun sampai detik ini belum juga ia mendapat balasan darinya. Apa suratnya tidak sampai ? Atau burung hantu itu salah meningirim ? Atau apa ?. Yang jelas sampai saat ini Yamato belum mendapat balasan dan masih terus menunggu balasan dari suratnya.

"Hmmm... mungkin hari ini cukup ini dulu. Mungkin kurang dari 200ryo tapi tidak apa lah. Cukup untuk makan bahkan sampai seminggu kedepan. Makanan di desa ini sangat murah. Jauh berbeda dengan Konoha".

Sebagian dari kayu hasil hari itu sudah Yamato bawa siang tadi. Sekarang tinggal sisa tiga ikat lagi. Dengan mudah tentunya Yamato mengangkat kayu-kayu tersebut dan membawanya ke gudang tempat penyimpanan kayu milik Taiga. Di sepanjang jalan desa banyak orang-orang yang memperhatikannya. Karena memang wajah Yamato belum begitu familiar di mata penduduk desa itu.

"Taiga-san. Ini aku bawa sisanya. Dengan begini jadi 20 ikat untuk hari ini". Kata Yamato sambil menyodorkan kayu bawaannya.

"Wah, banyak sekali ya. Kau memang berbakat sebagai pencari kayu, Yamato. Ini uangmu, aku beri lebih kepadamu karena kau ini pekerja yang sangat rajin". Taiga memberi lebih 50ryo kepada Yamato karena ia menyukai cara kerja Yamato yang cekatan.

"Wah, Arigatou-nee Taiga-san. Baiklah, aku pulang dulu. Hari sudah mulai sore".

"Hei, Yamato. Kau bisa makan malam disini bersamaku. Aku juga hidup sendiri sepertimu. Istriku sudah lama meninggal dan kami belum dikarunian anak sama sekali. Jadi aku hidup sendiri seperti ini. Jika kau mau aku akan masak untuk 2 orang malam ini.

"Ah, tidak perlu. Taiga-san sungguh, tidak perlu repot-repot. Aku akan makan malam dirumahku saja. Terima kasih Taiga-san".

"Baiklah jika kau menolak, tidak apa. Tapi jika suatu saat kau ingin makan malam disini. Pintu rumahku selalu terbuka Yamato. Datanglah kapan saja dan kita bisa makan bersama disini".

"Aku mengerti, Taiga-san sekali lagi terima kasih. Aku pamit dulu. Jaa-nee".

Malam itu, Yamato membeli daging. Malam ini Yamato ingin memasak yakiniku. Entah kenapa ingatan sebelum kejadian itu belakangan ini berputar kembali di kepalanya. Momen dimana Kakashi dan Yamato masih memiliki hubungan yang baik sebagai Senpai-Kohai. Ketika Kakashi menggodanya dan menyebut dirinya sebagai tipe istri idaman Kakashi. Yang bisa melengkapi Kakashi yang malas dan lamban.

"Dan juga wajahmu..."

"Eh, wajahku kenapa senpai ? Ada yang salah dengan wajahku ?"

"Ah, ti-tidak. Tidak jadi".

"Brakkkkk". Tiba-tiba Yamato membanting pisaunya ke lantai.

"No... not with this again..!! Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak jatuh kembali pada lubang yang sama. Aku harus melupakan Kakashi-senpai. Dia yang telah membuatku hidup terasing dan jauh dari tempat kelahiranku seperti sekarang ini..!!"

"Lalu mengapa pula aku harus membuat yakiniku ini ??!!! Dan mengapa pula aku tadi membeli sake..!!! GOD WHAT THE FUCK IS WRONG WITH MEEE...!!! KAU PRIA MURAHAN YAMATO. KAU TIDAK BISA MEMBENCINYA HANYA KARENA DIA TAMPAN. KAU MURAHAN...!! AAAARGH...!!!" Yamato mencaci dirinya sendiri, kemudian mulai memukuli lantai kayu yang ada di rumahnya.

"Buakk... Buaakk" Dengan penuh kekesalan ia terus memukuli lantai itu hingga tangannya berdarah. Cairan berwarna merah pekat itu terus saja mengalir dari kedua tangannya. Bahkan hingga menetes di lantai itu. Nafasnya memburu tak beraturan syarat akan lautan emosi. Matanya begitu tajam menusuk seakan siap menerkam apapun yang menghalangi jalannya.

"Hik hik, sniff". Ya, Yamato kembali menangis. Namun air mata kali ini berbeda dengan air mata ketika pertama kali dia diusir. Air mata kali ini adalah air mata kemarahan dan kekesalan. Ia marah dan kesal terhadap dirinya sendiri yang tidak bisa membenci senpainya bahkan setelah apa yang Ia lakukan terhadap dirinya.

"I am fucking disgusting. I'm worst than a whore". FUCKING DISGUSTING... AAAAAAAAAAAARGHHHHH...!!!!!"

"Bruak... SLAM..."

Tiba-tiba pintu rumah itu terdobrak dari luar. Dan terlihat seseorang berdiri disana dengan wajah khawatir. Seseorang dengan pakaian lengkap ANBU namun topengnya kini ia gantungkan di pinggangnya. Membiarkan wajah bermaskernya terlihat oleh sang pemilik rumah yang sedang terduduk berlutut di tengah ruang tamu.

"Yamato, apa yang terjadi ? Apa musuh menyerangmu ? Mengapa kau berteriak ?"

Tanpa aba-aba Kakashi masuk ke rumah itu. Mendekati Yamato yang sedang berlutut dan tangan nya bersimbah darah. Sementara Yamato masih terdiam kaget tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kakashi menemuinya malam ini. Seakan ia memastika kalau ini mimpi atau bukan, ia memegang kedua tangannya yang terasa sakit. Dan memang kedua tangan itu masih terasa sakit bahkan masih mengeluarkan darah.

"Ah, Yamato. Tangan mu..."

"Plakk". Yamato langsung menepis tangan Kakashi yang hendak melihat luka di tangan Yamato. Ia tidak membiarkan Kakashi menyentuh tubuhnya sedikitpun, sama sekali.

"Sedang apa kau disini. Aku tidak ingin melihat mu lagi, cepat pergi sekarang juga".

"Aku ditugasi oleh Hokage untuk mengawasimu, dan membantumu jika kau dalam bahaya. Aku dengar kau berteriak jadi aku pikir kau dalam bahaya".

"Aku bukan genin, dan aku baik-baik saja. Kau boleh pergi sekarang".

"Yamato..."

"Jangan pernah memanggil namaku lagi".

"Yamato, dengarkan penjelasanku".

"Semuanya sudah jelas dan tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan".

"Twitch". Kesabaran Kakashi sudah habis. Dengan paksa Kakashi mencengkram kedua bahu Yamato. Mencegahnya untuk pergi kemanapun dan memaksnya untuk mendengarkan kalimat yang akan ia sampaikan.

"DENGARKAN AKU YAMATO...!! AKU MINTA MAAF KEPADAMU, APA ITU TIDAK CUKUP...!!!"

Amarah Yamato yang sejak tadi tertahan ia luapkan seluruhnya. Ia tak terima dengan perjataan Kakashi yang seakan meremehkan masalah yang menimpanya ini.

"CUKUP KATAMU ??!!!! APA KAU KIRA HANYA DENGAN MAAF AKAN MENYELESAIKAN SEMUA PERMASALAHAN INI ???!!! APA DENGAN KATA MAAFMU ITU AKAN MENGANGKATKU DARI KETERPURUKAN INI..???!!!!!

Seakan tak mau kalah, Kakashi balik meneriaki Yamato.

"APALAGI YANG HARUS AKU LAKUKAN UNTUK MEMBUAT MU MEMAAFKANKU YAMATO..!!! APA ? Katakan padaku, aku mohon..."

Suara Kakashi yang tadinya meninggi sekarang melunak. Seperti bisikan keputusasaan Kakashi meminta jawaban dari Yamato.

"Aku tidak meminta apapun darimu. Aku hanya butuh pengakuanmu. Tentang malam itu. Aku hanya ingin kau mengakuinya. Itu saja". Jawab Yamato datar.

Sedetik kemudian Yamato menangkap ekspresi ragu dari wajah sang senpai. "Sudah kuduga, kau tidak bisa melakukannya".

Sambil melepas tangan Kakashi dari bahunya, Yamato berdiri dan mendekati pintu keluar rumahnya.

"Keluar"

"Yamato aku mohon"

"Keluar"

Menurut, Kakashi bangkit dari posisinya kemudian berjalan gontai menuju pintu keluar.

Sebelum Yamato menutup pintunya, Kakashi menahan pintu itu dari luar, membukanya kembali sehingga terlihat wajah Yamato olehnya.

Yamato menunggu kalimat terakhir apa yang akan disampaikan oleh Kakashi sebelum ia pergi malam itu.

"Tenzou..." Kakashi kini meraih wajah Yamato yang sangat pas dengan ukuran telapak tangannya.

Ahh nama itu... sudah lama sekali tidak ada yang memanggil dirinya dengan nama itu lagi.

"...maafkan aku, aku..."

"DON'T...!!" Potong Yamato.

Akhirnya air mata itu menetes kembali. Air mata itu terjun bebas jatuh ke tangab Kakashi. Sambil menggeleng dan terisak ia berkata.

"Jangan... Senpai... Jangan kau buat hatiku ini jatuh lagi kepadamu. Jangan... *sniff"

"Ten-chan.."

"Pergi"

"Ten-chan please.."

"KU BILANG PERGI...!!!!"

"YAMATO..!! Ada apa...???"

"Yamato-san, kami disini..."

"A-asuma ? Iruka juga ? Kalian akhirnya datang kemari.

"Siapa itu ?. Tidak mungkin.. Kakashi, sebaiknya kau pergi dari sini, atau kau ku paksa pergi". Ancam Asuma dengan garang.

"Yamato-san kau baik-baik saja ? Tanganmu..."

"Aku baik Iruka-san tak perlu khawatir".

TBC

Blueskylavender : Rasa bersalah atau cinta ya ? Stay tune :v iya banyak typo maaf ya... ngetiknya pake hape... jadi byk yg miss... makasih rpiwnya kiss *

Ara : gada cinta segitiga kok.. karena author ga bisa bikin plot cinta segitiga yg ga pasaran :D

Makasih buat yang udh baca, ngikuti dan ripiw fic ini... di fic ini pasti ada typo jadi syl selalu minta maaf

Hope you enjoy and stay tune for the next chap..

Syl out