Hello Minna-san. Syl is BACK with sequel of SENPAI..!!

Story Syl yang lain masih buntu, cuman fic ini yang terus muter-muter di kepala Syl. Mungkin karena pemgalaman pribadi *ups. Syl tidak menyangka sama sekali, Fic Syl yang ink banyak yang menikmati, terimakasih atas ripiwnya minna-san. That keeps me alive lol

Copyright : Masashi Kishimoto

Genre : Drama - Hurt/Comfort - Romance - Angst (?) - Lemon/Lime (?) - Yaoi/BL

Pairing : Kakashi x Tenzou (Yamato) dan mungkin AsuIru (?)

Warning : Ini adalah Fic Yaoi/BL, Jika Anda merasa ini bukan tipical fic bacaan Anda, silahkan tekan tombol kembali yang ada, Srlsy.. Don't waste your time here.

And This is SENPAI : Hope after Despair

Krik krik krik krik... krik krik krik krik...

Sunyi. Senyap. Malam itu hanya terdengar suara kawanan jangkrik yang menggema di seluruh antero hutan. Menambahkan nuansa sunyi dan tenang malam itu. Waktu untuk mengistirahatkan tubuh dan hati yang begitu lelah menjalani lika liku kehidupan yang sangat rumit ini. Rembulan tak lagi malu untuk menyapa dan menemani waktu tidur penduduk bumi. Seakan ia berkata "tidurlah yang nyenyak, mumpung aku masih disini".

Sinar rembulan yang berwarna putih kekuningan remang remang menerangi areal hutan itu. Tidak terkecuali rumah kayu yang telah menjadi saksi bisu atas pertengkaran atau lebih tepatnya permohonan maaf dari Kakashi untuk Yamato. Aura yang tidak menyenangkan sedang menyelimuti rumah tersebut bersama tiga penghuninya. Semua suara, teriakan, tangisan, amarah dan rasa benci masih terekam segar dalam ingatan masing-masing penghuni rumah kayu tersebut. Membuat tidur mereka sedikit terasa tak nyaman.

Cahaya rembulan masuk ke salah satu jendela kamar disana yang terbuka. Menyingkap tubuh pria berambut coklat itu dari kegelapan. Kedua tangannya terbalut perban yang masih memiliki sedikit bercak merah. Tanda bahwa luka itu masih baru dirawat.

Tidak seperti di kamar yang lain. Mereka menutup jendela kamar mereka. Tunggu dulu, 'mereka' ? Apa mereka berbagi kamar berdua ? Yap. Mereka tidur di satu kamar. Bahkan di satu futon. Bukan karena rumah itu kekurangan futon untuk tamu. Namun mereka lebih suka berbagi kehangatan satu sama lain dengan cara tidur berdekatan.

Mereka tidak melakukan apa yang sudah menjadi 'ritual' tiap malam mereka berdua. Keadaan mereka sedang tidak enak. Akan lebih nyaman jika malam ini mereka berdua tidur nyenyak penuh dengan kehangatan dan romansa di bawah sinar rembulan.

Mereka berdua tidur memeluk satu sama lain. Lebih tepatnya Asuma membiarkan dada bidangnya dijadikan bantal oleh kekasihnya. Membiarkan kekasihnya merangkul tubuh bagian atasnya sementara tangannya merangkul dan mendekap hangat tubuh kekasihnya. Sunyi. Senyap. Tanpa ada suara. Mereka terbang dalam kedamaian mimpi masing-masing.

Namun hal itu tidak didapati pada kamar yang lain. Ia tidak bisa tidur karena memikirkan hal yang barusan terjadi. Futon dan bantalnya basah karena keringat. Nafasnya cepat dan memburu seakan sedang berlari dikejar sesuatu. Salah satu tangannya yang diperban terus bergerak keatas dan kebawah dengan irama yang teratur. Berusaha mendapatkan secuil dari kenikmatan dunia yang biasa dirasakan orang yang sedang melakukan hubungan intim.

Di dalam pikirannya hanya ada satu sosok. Hatake Kakashi. Jonin muda tampan yang sudah mengisi hatinya bahkan sejak sepuluh tahun lalu.

Pikiran Yamato melayang ke kejadian itu...

"Hey lihat, bukankah itu dia ?"

"Dia siapa ?"

"Itu, anak yang menjadi percobaan Orochimaru".

"Sungguh ? Benarkah ?".

"Iya, dia satu-satunya yang berhasil bertahan hidup. Sekarang ia memiliki jurus hokage pertama".

"Jangan-jangan ia akan menjadi penghianat desa seperti Orochimaru".

"Bisa jadi, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya kan".

"HEY KALIAN BERDUA..!!" Apakah sesi gosip kalian berdua sudah selesai ? Kalian masih memiliki banyak tugas untuk dilakukan bukan ?"

"Eh, An-ano Kakashi-senpai, ka-kami.."

"Apa begini kegiatan kalian sekarang huh ? Bergosip ? Lalu apa bedanya kalian shinobi ANBU dengan ibu-ibu yang ada dipasar ?".

"Em... ano... e-etoo"

"Jawab"

"Tidak ada Kakashi-senpai".

"Bagus jika kalian sadar. Sekarang kembali ke tugas kalian masing-masing".

Dan juga kejadian yang itu...

"Minggir Kakashi, ini adalah perintah tuan Danzo".

"Tidak akan, alasan kalian sungguh sangat tidak masuk akal".

"Bailah jika itu yang kau mau. Kami akan membunuhmu dan juga dia sekaligus..!!"

"Kalian mencoba membunuhku saja takkan mampu. Apalagi aku di bantu Yamato. Kalian tak ada harapan. Lebih baik kalian mundur jika kalian sayang dengan nyawa kalian".

"SUDAH CUKUP..!!"

"Suara itu..."

"Tuan Danzo..!! Kami sudah berusaha menjelaskannya kepada Kakashi namun Kakashi menolak".

"Kau, apa kau ingin menghianati ANBU ?"

"Tidak. Aku hanya ingin melindungi Yamato".

Pada hari itu lagi-lagi Kakashi menyelamatkan dirinya. Menyelamatkan dirinya dari mata dan tatapan benci orang-orang terhadap dirinya. Entah mengapa di malam itu ingatan tentang dirinya dan Kakashi yang sudah terkubur lama seperti bangkit kembali menghantui Yamato di malam itu.

"Senpai..."

"If you aksed me why"

"Or, since when"

"I wouldn't even know".

"I've always loved you"

"Me too, I love you too, senpai"

"Senpai, come inside me.."

"Ah, Huge..."

"Pain..."

"Sore..."

"Warm..."

"Joy..."

"Senpai... Senpaiii..."

Namun tubuh itu luntur dan menghilang ketika tangan terperban itu mencoba meraih dan menggapai nya. Meninggalkan Yamato kembali dalam kesendirian nya di kamar itu. Kesadarannya telah kembali penuh. Dilihatnya bagian bawah tubuhnya sudah mengeluarkan cairan putih pekat. Tanda bahwa ia telah selesai melakukan ritualnya itu. Sunyi. Sepi. Tanpa suara. Mata itu menatap sendu lantai kayu yang ia buat sendiri dengan jutsunya. Mencoba memutar kembali rekaman gambar tentang senpainya yang berlutut meminta maaf kepada dirinya beberapa jam yang lalu. Ia merasa seperti ada yang salah. Seperti ada yang mengganjal dan itu sangat terasa tidak menyenangkan.

"Apa aku salah ? Apa ? Dimana salahku ? Aku hanya ingin ia merasa menyesal terhadap apa yang ia telah lakukan. Aku hanya ingin ia berusaha lebih keras lagi untuk bisa mendapatkanku. Apa itu salah ? Apa perlakuanku tadi justru malah membuat dia membenciku dan tidak ingin melihatku lagi selamanya ? Apa yang harus aku lakukan ?. Apa aku harus ke sana dan minta maaf ? Bukan aku yang melakukan kesalahan, tapi dia. Mungkin dia sudah membenciku saat ini, tidak ada manfaatnya lagi memikirkan dia. Mungkin. Ini sudah saatnya mencari pria yang lain dan move on dari Kakashi-senpai".

Tapi, apa perkiraan Yamato terhadap senpainya benar ? Mari kita lihat keluar rumah itu. Terlihat disana seorang pria dengan seragam ANBU masih berlutut tak bergerak satu sentipun dari posisi sebelumnya. Tangannya masih saja menutupi wajahnya. Namun tidak seperti tadi, kali ini Air matanya telah kering. Ia masih ingin menangis namun air mata itu tak lagi mengalir.

Ia merasa sangat marah, dan murka. Namun ia tak tahu harus kepada siapa. Ia berfikir dan berfikir mencari jawaban, namun jalan selalu berakhir ke arah dirinya. Mungkin memang benar, mungkin memang dia lah yang harusnya mendapat murka dan amarah dari dirinya sendiri.

Dia tidak menginginkan apapun. Dia tidak menginginkan siapapun. Yang dia inginkan sekarang ini hanyalah Yamato datang ke hadapannya dan mengulurkan tangannya kepada Kakashi. Menarik dan menyelamatkan Kakashi dari kesendirian hidup yang selama ini menyelimuti jiwa Kakashi.

Ia tidak perduli lagi. Ia tidak peduli apapun yang terjadi, ia harus mendapatkan hati Yamato. Persetan dengan nama baik dan para penduduk desa. Bahkan ia saat ini tidak lagi peduli dengan wanita yang baru kemarin ia setubuhi karena si wanita itu menyatakan perasaannya kepada Kakashi. Ia tidak peduli dengan semua itu. Yang ia mau saat ini adalah Yamato. Hanya Yamato.

"Tap tap tap tap tap tap, cklek"

"Asuma-san, haruskah aku pergi dan menghentikannya ?"

"Ssshhh, tidurlah. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dengan cara mereka sendiri. Mereka bukan anak kecil, Iruka".

"Baiklah jika kau berkata begitu".

Iruka pun menyamankan kepalanya di dada Asuma. Sambil mengecup pelan dada Asuma, iya mengucapkan kata yang belum pernah Asuma dengar sebelumnya dari mulut Iruka.

"I love you, Asuma-san"

Wajahnya tersenyum lembut penuh kebahagiaan mendengar kata itu. Ia mengeratkan pelukannya ke tubuh Iruka dan membalas kalimat itu kepada Iruka.

"Me too, Iru-chan"

Tap tap tap tap tap

Kakashi mendengar ada langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Terdengar seperti langkah kaki orang yang sedang emosi. Kakashi yakin ini pasti Yamato. Kakashi sudah siap menerima apapun yang akan dikatakan atau dilakukan oleh Yamato. Ia sudah siap secara fisik dan mental menerima amarah Yamato yang mungkin ia belum puas menumpahkannya tadi.

Tap tap tap tap tap

Kakashi masih dalam posisi nya dan belum bergerak sama sekali. Ia hanya ingib menunggu. Ia merasa tak lagi sanggup melihat wajah Yamato saat ini. Ia merasa begitu bersalah sampai-sampai ia tak mampu. Ja merasa malu kepada Yamato atas segala apa yang telah ia lakukan kepada pemuda berambut coklat itu.

Tap tap... Suara langkah kaki itu berhenti. Ia berhenti tepat di depan Kakashi yang sedang berlutut. Kakashi sudah bersiap menghadapi semuanya. Bahkan ia sudah siap jika ia menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun. Yaitu terbunuh oleh Yamato di sana, malam itu juga.

"Hugggg..."

Sangat tidak terduga. Yamato ikut berlutut dan memeluk tubuh Kakashi yang sudah gemetar menghadapi dinginnya malam. Meradiasikan hangat dari tubuhnya ke tubuh senpainya yang bahkan ia tidak memakai pakaian yang berlengan. Ia rasakan dingin yang amat sangat ketika kulitnya bersentuhan secara langsung dengan kuliat pria yang sedang berlutut itu.

Kakashi yang kaget langsung membuka wajahnya. Ia tak percaya dengan apa yang ia rasakan sekarang ini. Ia ingin melihat secara langsung siapa orang sudah memeluknya malam itu. Ia ingin memastikan bahwa perkiraan nya tepat.

Mata Kakashi terbelalak kaget ketika ia telah menangkap siapa sosok yang memeluk tubuhnya. Rambut coklat. Kulih putih. Dan aroma ini. Aroma yang begitu ia kenal dan ia hafal.

"Te-tenzou ?". Dengan terbata Kakashi memanggil nama itu. Seakan meminta kepastian atas apa yang terjadi sekarang ini.

"Sniff... sniff... senpai bodoh..!! Sniff.. senpai.. sniff... orang yang paling bodoh sedunia... aku.. sniff benci senpai..."

Yamato menangis tersedu-sedu ketika akhirnya ia mampu menggapai tubuh itu kembali. Mampu memeluk tubuh itu kembali. Dia memukul-mukul bahu kokoh senpainya. Seakan dengan pukulan itu ia menumpahkan dan mengekspresikan seluruh kekesalan, kesedihan, kekecewaan, dan seluruh amarah yang selama ini memenuhi relung hatinya.

"Senpai bodooooooooooh...!!! Sniff... hikss..."

Mulut Kakashi terdiam membisu. Dengan pukulan-pukulan itu seakan ia mengerti dan merasakan apa yang Yamato rasakan. Ia tahu bahwa kata maaf takkan pernah cukup. Sebanyak apapun ia mengucapkannya takkan pernah cukup bagi Yamato. Namun apa salahnya kali ini mencoba lagi untuk mengucapkan kata itu kembali.

Diraihnya belakang kepala Yamato dengan satu tangannya. Membenamkan wajahnya lebih dalam lagi ke bahunya. Memberikan tempat bagi Yamato untuk bersandar dalam tangisnya yang sendu. Ia benci melihat Yamato seperti ini. Ia benci melihat Yamato menangis. Yamato benar. Ia adalah makhluk paling bodoh sedunia.

"Kau benar, aku bodoh. Maafkan aku, Tenzou..." Lirih Kakashi membisikkan kalimat maafnya itu ke telinga Yamato.

"Senpai bodoh... senpai tidak peka... senpai egois... sniff aku benci kau..."

"Ya aku tau, aku tau. Kau boleh membenciku sepuas hatimu, Tenzou. Jika itu bisa membuatmu memaafkanku, bencilah aku Tenzou. Aku rela dibenci olehmu".

"Dan yang lebih membuatku benci padamu adalah... setelah semua ang kau lakukan padaku, mengapa aku tidak bisa berhenti mencintaimu senpai... mengapa... aku benci padamu senpai... aku benci...!!!"

Kakashi pun melepas pelukan Yamato. Menghadapkan wajah Yamato ke wajahnya. Pipi Yamato sudah sangat basah dengan air mata. Hidungnya sangat merah dikarenakan menangis hebat. Nafasnya tak beraturan seperti orang yang sedang cegukan. Dan mata itu terlihat sangat kelam sekelam langit malam tanpa rembulan.

Diraihnya sekali lagi wajah Yamato dengan tangannya. Berharap tak ada lagi perlawanan atau kata-kata menyakitkan yang akan keluar dari mulut si pemuda. Kakashi mengelus pelan wajah tampan itu menggunakan ibu jarinya. Mengusap air mata yang sejak tadi tak henti-hentinya mengalir membasahi wajahnya.

"Ten-chan, aku tau sebanyak apapun aku mengeluarkan kata maaf dari mulutku tak akan cukup bagimu. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk menutup luka di hatimu".

"Sniff, yang aku butuhkan... sniff yang aku inginkan.. sniff sniff, hanyalah kau mencintaiku, senpai... hik menganggapku spesial dan hanya satu-satunya. Dan kau mengakuiku sebagai kekasihmu, hanya itu senpai..."

Perlahan Kakashi menarik wajah Yamato untuk mendekat ke wajahnya. Tak ada perlawanan sedikitpun dari Yamato. Semakin dekat dan semakit dekat hingga dahi dan hidung mereka saling bersentuhan. Mereka memejamkan mata mereka, merasakan hangatnya hembusan nafas masing masing.

"Ten-chan, bolehkah aku ?"

Yamato hanya mengangguk dalam diam. Pertanda bahwa Kakashi dapat melanjutkan apa yang terhenti. Dan..

"Cup"

Satu ciuman sederhana. Hanya sebentar, tidak dalam dan tidak juga erotis. Hanyalah ekspresi seorang anak manusia mencintai anak manusia yang lain.

"Hmmpphh"

Yamato tak kuasa menahan tangisnya. Tangis haru karena mimpinya kini mejadi kenyataan. Pria yang selalu ia impi-impi kan setiap sebelum tidurnya. Pria yang selalu ia kagumi. Pria yang selalu ia cintai. Kini ada dihadapannya menciumnya tepat di bibir dan sedang mengekspresikan cintanya kepada diri Yamato. Yamato merasa dirinya adalah orang yang paling spesial dan beruntung di dunia bisa mendapatkan Kakashi. Begitu banyak wanita yang mengincar Kakashi untuk dijadikan kekasih. Dan Kakashi menyingkirkan mereka semua karena ia telah memiliki dirinya sebagai kekasih.

"SENPAAAAAAAAAAIIIIII... WAAAAAAAAAA...!!!!!!"

Yamato membenamkan wajahnya di dada Kakashi. Menangis sekeras yang ia bisa. Melepaskan semua beban yang ada di pundaknya selama ini. Seakan semua itu hilang begitu saja. Yamato merasa sangat ringan dan lega.

Kakashi menyambut Yamato dengan lengan kekar dan dada bidangnya. Memberikan kehangatannya sebagai seorang pria kepada Yamato.

"Kau bersamaku sekarang Yamato, kau tak perlu menangis lagi. Aku bersamamu.

Setelah beberapa waktu mereka berpelukan, tangis Yamato mulai reda.

"Sekarang, bisakah kita masuk kerumah mu Yamato ? Aku kedinginan disini".

Tanpa berbicara satu patah katapun Yamato langsung menarik tangab Kakashi masuk menuju rumahnya. Ia langsung menarik Kakashi menuju kamarnya.

"Kakashi-senpai. Aku mengantuk. Ayo kita tidur".

"Baiklah, ayo ten-chan. Ayo kita tidur".

TBC

HUWAAAAAAAAAAA...

Syl ngetik ini sambil nangis... beneran deh... huwaaaa ga kuaaat mamaaaaaaaahhhhhh...

Ini masih ada sambungannya loh... hehe jadi jangan seneng dulu... masih ada kemungkinan2 yang bakal terjadi wkwkwkwkwk...

Selalu Syl minta maad kalau ada typo yang membuat tidak nyaman para readers...

Dan terima kasih untuk semua ripiw yang masuk... beneran... makasih banget... ripiw kalian itu yang terus bikin syl untuk semangat nulis...

Sekian dan terimakasih

Syl out.