Chapter 2 : Pertemuan pertama
'DEG'
'SESAK' Kata yang tepat untuk keadaan Itachi saat ini. Perlahan didorongnya Hinata hingga ciuman itu terlepas. Dadanya semakin sakit membuatnya sulit bernafas, kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang ia pun jatuh kelantai, ditatapnya Hinata onyxnya sedikit membulat tatkala Hinata menyeringai kepadanya tanpa ada niatan untuk membatu dirinya.
Tawa keras yang berasal dari Hinata memenuhi ruangan tersebut, matanya terus memandang Itachi dengan benci dan jijik. pandangan itupun tak luput dari Itachi hingga perlahan kegelapan membuat semuanya tak terlihat.
"Semua Uchiha itu Biadab dan pantas mati" ucap Hinata seraya menatap jasad Itachi, dan tanpa ia ketahui seseorang tengah melihat peristiwa yang barusan terjadi.
.
.
.
.
.
LAVENDER BERACUN
Mata itu membola sempurna, tangannya menutup mulut yang terbuka, apakah ini nyata? tidak ini mustahil. Tapi ini memang benar terjadi. Ia melihatnya sendiri suaminya tewas setelah berciuman dengan gadis itu, bahkan gadis itu tertawa lepas melihat jasad Itachi dan disaat yang bersamaan cahaya violet menyinar dikepala gadis itu.
Tadinya setelah ia diusir oleh Itachi, ia memang ingin pergi dari sana namun entah karena apa ia ingin melihat kembali suaminya. Saat tangannya membuka sedikit pintu itu matanya telah disuguhi pemandangan yang menyayat hati, hingga kebingungan melanda dirinya kala Itachi mulai tergeletak tak berdaya.
Dilihatnya gadis itu beranjak pergi, buru-buru ia bersembunyi dibalik semak matanya terus menatap kepergian gadis itu hingga tak terlihat. setelah memastikan benar-benar aman ia melangkahkan kakinya untuk kembali memasuki rumah dan melihat keadaan Itachi.
'Walaupun kau telah menyakitiku aku akan tetap mencintaimu. aku dapat melihat adanya sedikit cinta untukku waktu itu. Aku akan membesarkan anak kita Itachi'
.
.
.
.
.
26 Tahun kemudian
Matahari yang telah muncul diufuk timur menampakan cahaya menyilaukan, nyanyian merdu burung-burung kecil ikut serta mengiringi cerahnya pagi itu, secerah hati gadis indigo. Secangkir teh hangat menemaninya pagi itu, ia pun mendudukan dirinya disofa seraya menonton acara televisi kesukaanya.
'BRAAK' Pintu terbuka dengan tidak elitnya menampakkan seorang gadis bercepol dua.
"Hinataaaaaaaa" Panggilnya seraya memasuki rumah tersebut. kakinya terus melangkah mencari sosok yang ia cari, hingga matanya melihat Hinata yang tengah duduk dengan santainya didepan televisi. Decakan kesal keluar dari mulut gadis bercepol tersebut, matanya menatap garang Hinata. Sedangkan yang ditatap hanya diam tak terlalu peduli.
"Hinata, kenapa kau masih dirumah? kau kan janji akan menemaniku pergi hari ini!" Ucap gadis itu kesal. Hinata melirik sekilas gadis itu, helaan nafas keluar dari mulutnya.
"Aku sedang malas" Jawab Hinata
"Apa? yang benar saja Hinata"
"Tenten aku tidak suka pergi ketempat seperti itu" Tenten itu lah nama gadis bercepol dua yang tengah berdiri memandang Hinata.
"Oh... Baiklah kalau begitu akan kuberikan ini pada Sasori-kun" Ucap tenten seraya menunjukkan selembar foto pada Hinata. mata Hinata membola buru-buru ia berdiri dan meraih foto itu dari Tenten, Namun ia masih kalah cepat dari Tenten.
"Kalau begitu aku pulang dulu Hinata-chan, Semoga harimu menyenangkan" Lanjut Tenten seraya beranjak dari sana.
"E-eh? t-tunggu Tenten" Cegahnya. Hinata mulai panik.
"Nee?"
"Baiklah-baiklah aku akan pergi" Hinata mengalah.
"Oh... Maaf Hinata, aku rasa menemui Sasori-kun jauh lebih menyenangkan saat ini" Ucap Tenten, tidak ada salahnya kan Sekali-kali mengerjai Hinata?
"Tenten apa yang kau katakan? oke oke aku minta maaf, apa yang kau mau aku turuti seharian ini" Hinata pasrah. Apa tadi Tenten tidak salah dengar? apa yang dia minta akan Hinata lakukan seharian ini? kesempatan langka! tanpa membuang waktu Tenten menyetujuinya.
"Benarkah? kalau begitu ayo kita pergi" Ajak Tenten
"Nanti dulu!"
"Kenapa lagi?"
"Aku ganti baju dulu baka"
"Oke aku tunggu" Jawab Tenten mendudukan dirinya disofa dan menyruput teh milik Hinata.
.
.
.
.
.
'Saat ini namamu adalah Sasuke Shimamura, berjanjilah pada Kaa-san jika kau tidak mengatakannya pada siapapun. Bencilah sesuatu yang berhubungan dengan lavender, baik bunga, warna, aroma, bahkan wanita. Kaa-san dan Tou-san berharap banyak padamu Sasuke'
'Ke'
'Uke'
'Suke'
'Sasuke'
'Sasuke'
"SASUKEEE...!"
"Haahh... Haahh" Mata yang semula terpejam kini terbuka sempurna menampakkan mata onyx yang menawan, peluh menetes dipelipisnya nafasnya tersenggal-senggal ditatapnya pemuda yang kini tangah berdiri didepannya.
"Berisik" Ucap Sasuke pada pemuda bersurai merah didepannya. Ia pun kembali menutupi dirinya dengan selimut.
"Hei pantat ayam cepat bangun, tidak sopan jika kau dirumah orang hanya malas-malasan"
"Diamlah Sasori" Sasuke masih enggan untuk bangun. Sasori, pria berwajah baby face dengan rambut berwarna merah yang menawan.
"Hei pikun, hari ini kau ada jumpa fans. kau ingat?"
'SETT' Benar hari ini ada jumpa fans, bagaimana Sasuke bisa lupa? ah ini semua gara-gara managernya, yang seenaknya pergi tanpa bilang-bilang. Sasuke bergegas menuju kamar mandi, iya Harus cepat saat ini.
Pukul 09:30
Keadaan distudio 6 telah ramai oleh penggemar Sasuke Shimamura, baik itu laki-laki maupun perempuan. Beberapa penggemar tampak mengenakan atribut yang berbau Sasuke, baik itu berupa kaos, spanduk, bando dll.
Suara pekikan kian ramai saat Sasuke memasuki studio tersebut. Sebenarnya Sasuke benci saat-saat seperti ini, ini terlalu ramai terlebih butuh perjuangan keras baginya untuk duduk dikursi miliknya. Ia harus bisa menahan colekan, cubitan, tarikan dengan senyum yang terus terpancar diwajahnya. Padahal saat ini ia tengah dikawal oleh tiga orang body guard, lantas bagimana bisa penggemarnya melakukan ini? sungguh mengerikan.
Kelegaan menghampri Sasuke ketika ia telah duduk saat ini, matanya sedikit menyipit ketika flash kamera menimpa dirinya. acara pagi itupun berjalan sebagaimana mestinya, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dapat dijawab oleh Sasuke dengan mudahnya.
Saat ini para fans Sasuke tengah mengantri untuk sekedar minta tanda tangan dan foto bersama, beberapa dari mereka tampak tenang dan sopan, namun ada juga yang berteriak kegirangan seperti halnya gadis cepol ini.
"KYAAA SASUKE-KUN..!" Teriaknya saat dalam antrian. Hinata yang melihat itu hanya menhela nafas pasrah. Pasalnya dia benar-benar bosan saat ini, dia heran apa bagusnya sih si Sasuke-sasuke itu? ya memang dia itu lumayan tampan tapi lihat rambutnya, gaya rambut macam apa itu? pantat ayam?
"Hinata" panggil Tenten membuyarkan lamunan Hinata
"Apa?" Jawab Hinata malas
"Hei kau lesu sekali semangat dikit dong" Ucap Tenten seraya menarik ujung bibir Hinata ke atas,
"Oh Hinata, kau pindah sini" Ucap Tenetn seraya menarik Hinata untuk pindah didepanya.
"E-eh? Kenapa? Aku tidak mau" Tolak Hinata.
"Ehem! Kau masih ingat foto itu kan Hinata?" Ucap Tenten seraya menyeringai.
"Haahh... Baiklah" Hinata pun menuruti Tenten untuk pindah, Namun Tenten menariknya sedikit dan membisikan sesuatu padanya. Hinata diam mendengarkan apa yang dikatakan Tenten, namun tak berselang lama ia melotot kearah Tenten.
"Tidak mau!" Tolak Hinata
"Jangan lupa fotonya Hinata" Acam Tenten.
"Aku tidak peduli!" Kekeh Hinata
"Baiklah kalau begitu ku telfon Sasori saja" Tenten mengeluarkan ponselnya, Hinata sedikit risau sekarang.
"Tenten, kenapa kau memaksaku?" Ucap Hinata
"Ayolah Hinata sekali saja, nanti aku tidak minta apa-apa lagi" bujuk Tenten
"Baiklah, tapi setelah ini foto itu aku ambil" Tawar Hinata
"Siap Bos"
Barisan antrian terus berjalan Hinata sudah hampir sampai didepan Sasuke, tinggal satu orang lagi maka dia akan berhadapan dengan Sasuke. Tanganya bergerak gelisah keringat mulai membasahi pelipisnya. Dilihatnya orang yang berada didepannya kini beranjak pergi dan jadilah ia berada di barisan paling depan.
Ia pun maju selangkah ditatapnya Sasuke yang tengah tersenyum padanya, Ia menyodorkan poster kecil bergambar Sasuke untuk minta ditanda tangani. Sasuke menerima poster tersebut, tangannya dengan lihai menggoreskan pena pada poster tersebut.
"ini" Ucap Sasuke menyodorkan poster tersebut pada Hinata. Hinata mengulurkan tangannya untuk menerima poster tersebut, tak lupa bibirnya terus tersenyum kepada Sasuke.
"Ah! Arigatou" Ucap Hinata namun ia tak kunjung pergi dari sana, hal itupun tak luput dari pandangan Sasuke.
"Ada lagi Nona?" Ucapnya pada Hinata
"Um... Etto... Gomene Sasuke-San" Ucap Hinata seraya membungkukan badan, Sasuke menatapnya heran. Maaf untuk apa?
'SEET'
'CUP'
"Gomen" Ucap Hinata seraya lari menjauh dari sana. Semua orang yang ada disana melihat Hinata dan Sasuke secara bergantian, mereka semua masih terpaku akan kejadian barusan.
Apa itu tadi? bisa-bisanya gadis aneh tadi menciumnya, ya walaupun cuma dihidung. Tapi tetap saja ini kan tempat umum, masih banyak wartawan disini. Dan coba lihat dandanan nya tadi, cih semua serba ungu warna yang paling ia benci, terlebih dengan bunga yang tersemat di kepala wanita tadi 'Bunga Lavender' bunga yang ingin ia musnahkan dari muka bumi ini.
"Ehem..Selanjutnya"
.
.
.
.
.
"Haahh... haahh..."Hinata membungkuk untuk mengatur nafasnya, kakinya mulai lelah ia tak sanggup lagi untuk berlari. Matanya melihat kesana kemari setelah dirasa aman ia pun menghentikan taxi yang lewat. Dia benar-benar lelah saat ini. Masa bodoh dengan Tenten yang masih tertinggal disana yang penting ia bisa sampai rumah secepatnya.
Lucu memang jika mengingat hubungannya dengan Tenten dulu tidaklah bagus. Ia bukanlah orang yang pandai bergaul dan bersosialisasi, namun karna kegigihan Tenten lah yang membuatnya berteman dengan Tenten atau bahkan lebih dari itu. Ia menganggap Tenten layaknya sebagai saudara kandung. Dia tau semua tentang Tenten, dan Tenten tau semua tentang Hinata. Tidak ada yang ia sembuyikan termasuk masa lalunya yang kelam.
Mata Hinata masih terfokus pada pemandangan yang ia lalui dari kaca mobil, hingga kegiatannya terusik ketika hanphone miliknya bergetar. Diambilnya Handphone tersebut sebuah pesan masuk dari Tenten, tanpa fikir panjang ia pun membuka pesan tersebut.
'Kau mesum Hinata'
Perempatan muncul disudut keningnya, apa-apaan pesan ini? Jarinya mengetik pesan balasan untuk Tenten.
'Kau puas sekarang? kau sudah bahagia?' Balas Hinata. Ia memasukan kembali hanphone itu kedalam tas. Ia memilih kembali memandangi keadaan diluar melalui kaca mobil.
Pukul 15:30
Sesampainya dirumah Hinata merebahkan dirinya diatas sofa didepan televisi, bunga lavender diatas kepalanya ia lepaskan dan ia letak kan diatas meja. Matanya hampir terpejam jika saja handphonenya tidak berdering, dilihatnya nama Tenten yang tertera pada layar handphone miliknya. Ia menekan tombol hijau pada layar handphone miliknya.
'Hinata kau marah ya?' Ucap Tenten diseberang sana
"..." Hinata tak menjawab, ia memilih untuk diam.
'Hinata jangan diam saja, bicaralah padaku'
"Kau ingin aku bicara apa?" Ucap Hinata malas.
'Gomene Hinata'
"Hn"
'Gini deh bagaimana jika besok kita ke Hello Kitty cafe? aku yang traktir, mau?' Tawar Tenten
"Oke, kau yang traktir kan?"
'Iya'
"Kalau begitu sampai jumpa besok" Hinatapun memutus sambungan telefon tersebut, Ia melirik jam yang pada pergelangan tangan nya ia pun beranjak untuk membersihkan dirinya.
Digenggamnya cangkir yang berisi coklat panas sesekali iya menyruputnya, rasa manis dan hangat masuk melewati tenggorokannya. Inilah kegiatan rutin Hinata setiap malam, menikmati secangkir coklat panas seraya menonton acara televisi kesukaanya. Jangan ditanya lagi Hinata memang hobi menonton televisi terlebih jika acara sinetron drama nya dimulai, maka ia tak akan jauh-jauh dari televisi.
"Hooaaamm" Hinata menguap, ia sudah ngantuk sekali malam ini tapi ia tidak boleh tidur terlebih dahulu karna sinetronnya belum selesai. Namun apa daya, mata itu perlahan-lahan menyembunyikan manik amesyt milik Hinata hingga manik itu tertutup semprna.
'Bunuh Uchiha... Jangan biarkan Uchiha itu hidup Hinata. Musnahkanlah Uchiha, atau Uchiha yang akan memusnahkanmu hahaha'
"TIDAAAKK"
.
.
.
.
.
To Be Continue
Yuhuu... Aika nongol lagi nih hehehe,
Gimana chapter 2 nya? masih kurang greget ya? maaf otak ini memang terlalu tumpul.
Btw makasih buat temen-temen kemarin yang masih nyempetin diri untuk review, favorite dan follow nya. aku sangat terharu,
Special thanks for
BYE-Chan : Makasih banyak hehehe
Melinda230 : Makasih, btw aku jadi besar kepala nih hehe
Sabaku no Yanie : Tentu ada dong, kan pairnya Sasuhina, itu Sasu udah nongol tp dikit hehe
Dandelion : Makasih atas saran nya lion chan, aku jadi tambah semangat ngetiknya J
See You Next Chap
.
.
.
.
.
.
REVIEW?
