"TIDAKK" Teriakan Hinata menggema keseisi ruangan. Tubuhnya yang semula berbaring kini telah terduduk, matanya terbuka sepenuhnya, peluh menetes dipelipisnya, dadanya naik turun mengikuti keluar masuknya oksigen dalam tubuhnya.
"Mimpi barusan... Mungkinkah?" Gumamnya. Tangannya yang bergetar menyibak selimut perlahan, ia menuruni ranjangnya dan berjalan cepat menghampiri laci disudut ruangan.
'SREEK' Ditariknya salah satu laci itu dengan sedikit kasar, ia tak percaya akan apa yang tengah dilihatnya saat mungkin? tangannya masih bergetar saat mengambil sesuatu didalam laci itu. Perlahan demi perlahan hingga tampaklah setangkai bunga lavender yang bercahaya kemerahan. Ah ternyata benar, dia melupakan sesuatu.
'Ck Sial' Batin Hinata kesal. Ia pun meletakkan kembali bunga itu kedalam laci, Kakinya kembali berjalan menuju ranjang miliknya, dan hei Hinata baru sadar jika ia tak lagi tidur disofa. Ditatapnya jam diatas nakas yang menunjukan pukul 05:30, Ia mendengus kesal karena tidak bisa melanjutkan tidurnya. Ia pun memutuskan untuk minum coklat panas kesukaannya.
.
Onyx itu menatap bingkai foto yang tengah ia genggam, tangannya mengelus salah satu orang yang berada dalam foto tersebut.
"Kaa-san" Lirihnya, ia terus memandangi sosok perempuan cantik bersurai ungu tersebut.
'Drrtt... Drrtt...' Dering ponsel membuyarkan lamunan Sasuke. Diletakannya kembali bingkai foto tersebut diatas nakas, tangannya pun beralih mengambil ponsel disaku miliknya.
"Ada apa?" Ucapnya datar
'Jadi tidak kita pergi hari ini?' Ucap seseorang diseberang sana
"Hn" Gumam Sasuke
'Iya atau tidak?'
"Iya. Tunggu ditempat biasa jam sembilan"
'No no no aku punya tempat yang lebih bagus'
"Dimana?"
'Nanti kukirimkan alamatnya'
"Baiklah".
.
'Tok... Tok... Tok...' Suara ketukan pintu terdengar dirumah Hinata, namun bukanya ia membukakan pintu ia malah asik sendiri dengan pakaian-pakaian yang ia susun dalam koper.
'Tok... Tok... Tok...' Ketukan itu kembali terdengar dan Hinata tidak peduli akan hal itu.
"Ck kenapa Hinata lama sekali membuka pintunya?" Ucap Tenten kesal hingga akhirnya ia mencoba membuka pintu tersebut.
"Eh?" Tenten terkejut lantaran pintunya tidak terkunci. Seketika Tenten merutuki kebodohannya, biasanya kan ia langsung masuk tanpa perlu repot-repot untuk mengetuknya. Tak ingin berlarut-larut dalam kebodohanya, ia pun memutuskan untuk masuk kedalam. Maniknya menatap setiap sudut ruangan sesekali bibirnya meneriaki nama Hinata, namun tetap tak ada jawaban dari Hinata.
"Pasti dikamar" Gumam Tenten. Kemudian ia bergegas menuju kamar Hinata.
"Eh Hinata?" Ucapnya ketika ia melihat Hinata yang tengah sibuk menyusun pakaiannya kedalam koper.
"Kau mau kemana?" Lanjutnya.
"Pulang" Jawab Hinata singkat.
"Pulang? ini kan rumahmu Hinata"
"Pulang kerumahku yang lama" Ucap Hinata.
"Kenapa kau pindah?" Tanya Tenten penasaran.
"Kenapa katamu?" Hinata memincingkan matanya ke Tenten, "Ini semua gara-gara kau" Lanjutnya.
"Eh? Aku?" Ucap Tenten seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Kau lihat berita tv pagi ini?" Tanya Hinata, Tentenpun hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudah kuduga" Gumam Hinata
"Memang ada apa Hinata?" Tanya Tenten, Hinatapun menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Tenten.
"Pagi ini ada tayangan berita soal Sasuke, Kau ingat kejadian kemarin? saat kau menyuruhku mencium Sasuke? gara-gara hal itu aku dituduh jadi psikopat gila yang meneror Sasuke" Jelas Hinata dengan raut muka sebal.
"Wow Hinata kau jadi artis" Ejek Tenten.
"Artis? kau sangat tahu Tenten, kalau para fans Sasuke itu liar dan akulah yang menjadi sasarannya saat ini" Cicit Hinata
"Jadi ini yang membuatmu pindah?"
"Tidak! bukan karna ini. Ada hal lain yang membuatku lebih takut"
"Apa itu?"
"Jangan searang, lebih baik sekarang kita makan ketempat yang kau janjikan kemarin"
"Baiklah"
.
Saat ini Sasuke tengah fokus menyetir mobil miliknya. Maniknya melirik ponsel yang tergeletak disampingnya, raut muka sebal senantiasa membingkai wajahnya.
"Ck sebenarnya baka Aniki itu niat bertemu atau tidak? sudah jam segini belum juga memberi alamatnya" Gerutu Sasuke.
Tangannya masih sibuk dengan kemudi, maniknya kembali fokus pada jalanan didepan hingga ia melihat toko yang menjadi tujuanya saat ini.
.
Hello kitty cafe adalah tempat favorite Hinata dan Tenten untuk sekedar bersantai ataupun menikmati hidangan yang tersedia di cafe dengan interior serba warna merah muda. Makanan disini pun terbilang enak terlebih dessertnya. Aneka coklat, ice cream, cake, dan banyak lagi membuat orang yang berkunjung betah untuk berlama-lama disini terutama Hinata dan Tenten.
"Jadi Hinata, apa alasan utama yang membuatmu ingin pindah?" Tanya Tenten seraya menyendokan ice cream kemulutnya. Hinata yang mendengar pertanyaan dari Tenten menghentikan pergerakan tangannya untuk menyendok ice cream. Kemudian tangannta terulur untuk mengambil bunga lavender diatas kepalanya.
"Karna ini" Jawab Hinata seraya meletakan bunga lavender tersebut diatas meja. Tenten yang semula asik dengan ice cream nya kini tengah menatap serius Hinata.
"Bukannya kau bilang tugasmu sudah selesai Hinata?" Ucap Tenten"Aku kira juga begitu, namun semalam mimpi itu kembali datang dan setelah sekian lama bunga ini kembali bercahaya kemerahan" jelas Hinata.
"Apakah kau tahu siapa orangnya?"
"Aku sudah berfikir ratusan kali, dan aku yakin Itachi adalah Uchiha terakhir mengingat dia tak memiliki seorang adik" ucap Hinata yakin.
"Hinata, apakah Itachi dulu pernah menikah?"
"Hn, Itachi dulu sudah menikah dengan seseorang, tapi dia belum mempunyai anak"
"Lantas apakah kau yakin jika istri Itachi tidak sedang hamil?"
'DEG'
Seketika Hinata memandang Tenten.
"Kau benar Tenten, kenapa tidak terfikir olehku" ucap Hinata menyadari kelalaiannya.
"Hinata, apakah kau akan membunuh seseorang lagi?" Tanya Tenten seraya menatap Hinata cemas.
"Tentu saja! aku harus menyelesaikan ini semua sebelum terlambat" Jawab Hinata
"Um... Tak bisakah kau lupakan saja masalah ini Hinata? Biarkan dirimu bebas"
"Tidak bisa. Aku sudah berjanji untukmemusnahkan semua Uchiha dimuka bumi ini, karna Uchiha telah merenggut semuanya dariku"."Aku tahu Hinata, tapi itukan sudah lampau, Jalanilah kehidupanmu saat ini. Lagi pula apa yang kau dapat dari semua ini?"
"CUKUP TENTEN" Bentak Hinata seraya menggebrak meja
"Kenapa kau menjadi menyebalkan seperti ini? dengar ya, kau cukup urusi kehidupanmu sendiri, atas dasar hak apa kau mengatur hidupku? aku mau berteman denganmu bukan berarti kau jadi besar kepala seperti ini" Ucap Hinata kesal.
Dengan segera ia mengambil bunga lavender dan ponsel yanf sedari tadi ia taruh dimeja dan memasukannya kedalam paper bag berwarna pun beranjak dari sana namun lengannya ditahan oleh Tenten.
"Hinata tunggu" ucapnya namun tangannya ditepis kasar oleh Hinata hingga terlepas. Ia pergi meninggalkan Tenten, kepalanya menunduk menyembunyikan wajah kesalnya. Kakinya melangkah lebar agar cepat menjauh dari tempat itu, tangan Hinata terulur untuk membuka pintu cafe dan keluar dari cafe tersebut. Namun...
'BRUKK' Setelah keluar dari cafe ia malah menabrak seseorang hingga bawaanya jatuh, ia menunduk mengambil barang miliknya dan meminta maaf kepada orang yang ia tabrak tanpa melihat orangnya dan kembali pergi.
Onyx itu menatap gadis yang pergi menjauh setelah menabrak dirinya, lalu dilihatnya paper bag miliknya yang jatuh ia pun mengambilnya. maniknya kembali menatap gadis yang semakin mengecil dari pandangannya.
"Bukankah dia orang gila yang menciumku?" Gumamnya
.
"Dasar tidak tahu diri" Gerutu Hinata saat dirinya memasuki rumah. Hinata merasa cukup lelah hari ini terlebih setelah perdebatannya dengan Tenten hari ini.
Ia pun merebahkan tubuhnya kekasur empuk miliknya.
"Tunggu!" ucap Hinata seraya mendudukan dirinya.
"Biasanya Tenten akan langsung menelfon jika aku kesal terhadap nya, tapi kenapa ponselku senyap? mungkinkah ponselku mati?" ucapnya. Ia pun mengambil paper bag yang tergeletak disampingnya dan mengambil ponsel miliknya, namun Hinata merasa ada benda aneh yang nyasar ke paper bag miliknya. Ia mencoba mengambil benda itu dan mengangkat setinggi wajahnya, matanya terbelalak lantaran yang ditangannya saat ini adalah
"C-celana dalam pria?"
.
TBC
