Hari Senin. Banyak sekali murid memenuhi ruangan kantin. Berbaris rapi didepan kasir demi beberapa camilan ringan untuk mengganjal perut. Tenaga mereka terkuras hanya dengan berdiri lima puluh menit di bawah terik sinar matahari. Upacara yang selalu didoakan untuk dihindari.
Tak terkecuali Kim Joonmyeon yang dengan sabar ikut mengantri, tangannya membawa baki berisikan dua bungkus roti, lima gorengan dan satu botol air mineral; menunggu gilirannya di depan kasir untuk membayar makanan ringan yang diambilnya.
Hingga tarikan di seragam lengan kiri Joonmyeon terasa. Cowok itu peka dan langsung menoleh ke sebelah kiri; menemukan adik kelasnya yang paling ia hindari.
Zhang Yixing.
"Ummm… Mas Joonmyeon? Setelah Mas bayar ini di kasir, saya tunggu di meja deket jendela ya, ada yang mau saya omongin."
Ingin sekali Joonmyeon menghindar. Bisa saja ia beralasan setelaah ini ia punya tugas untuk memproyeksikan hasil editan film pendek yang digarapnya bersama kelompok.
Naasnya, tubuh tidak sinkron dengan hati. Kepalanya mengangguk singkat, menyetujui. "Iya. Tunggu aja, sebentar lagi giliran saya, kok."
Zhang Yixing meninggalkan senyum tipis sebelum berlalu menuju meja yang dituju.
Sialan, demi kerang ajaib, maki Joonmyeon dalam hati. Apalagi ini sudah gilirannya membayar semua yang ada di bakinya.
Ingin rasanya kabur. Mengendap-endap, berbaur bersama siswa lain berharap dirinya tersamarkan. Belum sampai pintu keluar, suara cempreng adik kelasnya membahana, bahkan bisa didengar seluruh penghuni kantin.
"MAS JOONMYEON! Kok kabur?!"
Kalau saat ini yang cowok marga Kim ini lakukan hanya: menghela nafas panjang, berdoa supaya cewek itu tidak berlaku aneh. Yang terpenting siapkan mental dan hati.
"Memangnya ada apa?" tanya Joonmyeon ketika dia sudah duduk di hadapan Yixing.
Cewek kelas sebelas itu malah membalik topik pembicaraan. "Wiih, Mas Joonmyeon tahu aja deh saya lagi laper. Minta rotinya satu ya, Mas, hehehehe…" dan tanpa menunggu ijin, tangan kecil itu sudah sigap mengambil roti selai coklat-kacang kesukaan Joonmyeon. Apalagi tadi tinggal satu-satunya.
Catat; kesukaannya dan tinggal satu-satunya.
Dan kini sudah berada di dalam perut cewek sinting ini untuk dicerna.
Sinting… cewek ini sinting, rutuk Joonmyeon sekali lagi dalam hati.
"Oh iya, jadi begini Mas Joonmyeon. Kenapa Mas nggak ikutan Workshop Literature kemarin? Bukannya kata Pak Choi, Mas juga ikutan dan dipilih jadi ketua perwakilan sekolah kita?!"
Ohh… masalah ini toh, Joonmyeon mengangguk-angguk kecil tanda mengerti arah pembicaraan.
"Bukannya udah tiga anak yang ikut; kalau nggak salah kamu, Byun Baekhyun dan Oh Sehun? Pak Choi bilang, kuota-nya cuma cukup tiga anak aja. Saya yang sudah kelas 12 harus ngalah dan kudu fokus ujian."
Mimik gadis itu berubah jadi jengkel. Cepat sekali berubahnya. "Gini ya, Mas. Memang pihak panitia sana ngasih kuota tiga siswa, tapi Pak Choi ngotot minta kuota lima siswa. Pihak panitia setuju dan sialnya Pak Choi nggak bisa dihubungin. Pak Choi ngiranya memang kuota lima siswa ditolak makanya –mungkin– Pak Choi bilang ke Mas Joonmyeon buat nggak ikut. Sialnya pas nyampe sana, saya yang dipilih dadakan buat Ketua Perwakilan dan kena semprot panitia-nya!"
"Lha terus? Bukan salah saya dong. Ini murni salah Pak Choi dan pihak panitianya."
"Memang. Makanya itu, udah terlanjur disetujui kuota lima siswa, makanya saya nyebut nama Mas Joonmyeon buat hadir minggu depan."
"Jadi minggu depan saya harus hadir?!"
"Iya! Sebetulnya acaranya dimulai pukul delapan pagi, tapi buat jaga-jaga aja, kita ngumpul di gerbang sekolah jam tujuh dan berangkat rombongan."
Joonmyeon mengangguk paham. Sembari memakan salah satu gorengan.
"Mas Joon, tolong dong kalau ada orang ngomong, sesekali kek lihat matanya. Rasanya kecewa nih ngomong panjang lebar tapi kayaknya nggak dihargain."
Itu sih karena lo cerewet! Itu sih karena gue aslinya dari dulu begini!, jeritan dalam hati Joonmyeon.
Tapi namanya yang menghargai usaha orang, Joonmyeon tatap manik coklat bening itu selang beberapa detik. "Makasih banget infonya. Dan saya harus ke kelas buat siapin proyeksi. Permisi."
Joonmyeon bangkit membawa nampan. Dia ingin segera pergi dari hadapan adik kelasnya yang sinting ini!
"MAS JOONMYEON!"
Joonmyeon menggeram pelan. Pikirnya, apalagi kali ini. Dia menoleh menatap cewek itu, Yixing yang tengah cengengesan dan menunjukkan dua gorengan yang dibalut tissue.
"Makasih banyak gorengannya ya, Mas! Semoga pahalanya dilipat gandakan!"
Joonmyeon menatap baki makanannya. Oh, gorengannya hilang tiga. Satu barusan ia makan, duanya lagi ia kecolongan dari Zhang Yixing.
Cewek sinting!
"She Make Me Going Crazy!"
Kim Joonmyeon/Suho EXO | Zhang Yixing/Lay!GS EXO
Friendship | Romance | Humor (bagi mereka yang menangkap humor disini ya)
Rated: T+ | Lenght: - ?
#Disclaimer: Hanya meminjam nama. Sepenuhnya mereka milik Tuhan dan keluarga masing-masing. Ide, dan jalan cerita fanfic ini milik ©Hwang0203
Warn: GS!Uke ; WASPADA BAHASA NON BAKU/ BAHASA GAWL ; Indo!AU ; udah aku peringatin ya, pake capslock lho kalo bahasanya aneh, anak gawl, jadi kalo bagi yang dari awal udah gak sreg baca silakan klik tombol close.
Kalo misal ada yang nemu cerpen dengan jalan ceritanya kayak begini, tapi dengan cast yang beda itu jelas kepunyaanku juga.
.
.
Disadur dari kisah nyata dengan sedikit bumbu penyedap.
.
.
I'm really sorry for the sum. Only in prolog is centric!Suho. Forgive me, please.
Chapter I : Taruhannya Cewek Sinting
Namanya Zhang Yixing. Cewek barbar dan cewek urakan. Tapi entah kenapa, otaknya cukup encer juga hingga bisa meraih peringkat tiga pararel untuk kategori kelas Multimedia.
Kenapa Kim Joonmyeon bisa tahu se-detail itu? Karena saat dia kelas sebelas dan Yixing masih kelas sepuluh; mereka berada satu ruangan ujian. Yah, walaupun jarak duduknya terbilang jauh, tapi toh, Joonmyeon tipe yang suka memerhatikan suasana kelas.
Daripada temannya yang lain; Yixing ini paling cepat mengumpulkan lembar jawaban ujian. Seolah Joonmyeon dan Yixing bersaing mewakili angkatan untuk siapa yang lebih dulu cepat mengumpulkan lembar kertas jawaban ujian.
Pernah cowok Kim ini tak sengaja mendengar olokan teman-teman cewek sinting itu kalau ia dan Yixing cocok jika dipasangkan.
'Apaan sih? Lagian Mas Joonmyeon itu introvert tingkat tinggi. Seleranya pasti lebih tinggi. Nggak kayak gue; Ambivert yang kadang diliat bisa jadi Ekstovert dan Introvert.'
Joonmyeon menghela nafas, rupanya cewek itu sadar posisi juga. Hei, walaupun Joonmyeon ini dibilang anak geek yang jarang bisa berteman dekat dengannya –soal tampang bahkan Joonmyeon bisa dijejerkan bersama Wu Yifan yang terkenal itu! Atau Park Chanyeol, temannya yang menjabat Ketua OSIS (Ketos)!
Dan Joonmyeon berdoa, semoga dia nggak pernah bersinggungan dengan cewek sinting itu. Joonmyeon paling anti dengan cewek yang sok ramah, pecicilan dan tidak bisa tenang.
Tidak akan pernah. Yah, walaupun untuk sekarang mereka satu tim untuk acara Wokrshop, tapi cowok Kim ini memastikan bahwa dia tidak dekat-dekat dengan Zhang Yixing.
Semoga saja tidak pernah.
** She Make Me Going Crazy! **
Hari Minggu.
Dan seharusnya mereka berangkat untuk ke gedung dimana workshop-nya diadakan.
Koreksi lagi, harusnya ia sendirian saja.
Bukan dengan Zhang Yixing yang berada di belakang motornya.
Kampret!, maki Joonmyeon dalam hati.
Ia kira, Zhang Yixing akan membawa motor sendiri atau bisa dibonceng Oh Sehun. Tapi nasib sialnya, Oh Sehun lebih dulu menawarkan tumpangan ke Byun Baekhyun selagi mereka menunggu Zhang Yixing datang –yang otomatis dan mau tidak mau Zhang Yixing harus dibonceng Kim Joonmyeon ketika cewek sinting itu datang setelah diantar (alasannya, motornya mogok kemarin dan masih menginap di bengkel).
"Maaf ya, Mas. Harusnya saya tukeran sama Byun Baekhyun saja, ya."
Yah, meskipun sama-sama bermulut besar, tetapi ingatlah Byun Baekhyun itu tipe cewek yang menjunjung tinggi citranya. Mulut boleh berkoar, asal tingkah laku jangan sampai membuat orang menilai dirinya buruk.
Beruntungnya, sesampai di Workshop, Joonmyeon tak harus berurusan dengan Zhang Yixing karena ia ternyata ditaruh di kelompok yang berbeda-beda dari berbagai sekolah.
.
.
Kim Joonmyeon menghela nafasnya ketika waktunya pulang, ia harus kembali berdekatan dengan Yixing. Bukannya ironis, tetapi begitulah yang Joonmyeon rasakan. Ketika seseorang yang tidak kau inginkan, malah terus-terusan berdekatan denganmu.
'Kasihan Ayahnya Yixing, Mas. Jauh-jauh buat jemput doang.' itu yang dilontarkan Byun Baekhyun; cewek yang punya mulut tipe sama dengan Yixing.
"Mas Joon, maaf ya kalau saya lancang. Minta nebeng terus. Habisnya nggak ada angkot deket rumah saya sih,"
"Hm,"
"Marah ya, Mas?"
"Nggak."
Setelahnya hening. Cukup bagus bagi Joonmyeon karena dia tidak sedang ingin bicara apapun. Bahkan ketika motornya sudah mendekati daerah sekolah, sayangnya…
"Mas, boleh mampir ke Masjid dulu? Bentar lagi adzan Maghrib, lho."
Sabar, Joonmyeon. Yang sabar ya kalau sama cewek banyak maunya.
.
.
Mungkin kalau sehabis shalat Maghrib dan Yixing punya inisiatif cari angkot sendiri, Joonmyeon tidak akan masalah. Sayangnya, cewek sinting itu berani sekali bilang,
"Anterin lagi ya? Rumah saya deket kok dari sekolah, saya minta dianter sampe sekolah saja."
Duh, Ya Allah, apalagi sih….
"Soalnya nggak ada angkot dari sini yang jurusannya ke daerah rumah saya."
Sudah cukup! Kesabaran Joonmyeon ada batasnya, Mamah!
Cowok Kim itu memincingkan matanya menatap Yixing.
"Kamu jangan seenaknya ya. Belum tentu yang kamu mintai tolong itu bakal sukarela nolongin kamu."
"… Mas―"
"Oh, mentang-mentang kamu cewek, tempat workshop-nya jauh banget sampe perbatasan Kota, kamu jadiin alasan biar bisa nebeng, biar nggak capek bawa motor dari batas kota sampai ujung kota?!"
" … '
Memang kasar, tapi itulah Kim Joonmyeon. Jangan sekali-kali membuat masalah jika Joonmyeon sudah bersabar. Jangan nilai Joonmyeon mentang-mentang nggak banyak omong jadi nggak bisa ngomong kasar. Ada kalanya kalimat pedang yang keluar bisa menghunus dan menimbulkan sakit hati. Sebelum terjadi, pikir dulu baik-baik.
Sudah banyak teman cewek sekelas Joonmyeon yang merasakan tajamnya perkataan cowok Kim itu. Joonmyeon pikir, persetan setelah ini Yixing bakal marah, atau malah nangis, atau malah berbalik memusuhinya dan mengatainya kakak kelas sialan ―Joonmyeon siap resiko karena itu yang terjadi ke teman-teman sekelasnya.
Joonmyeon, oh, Kim Joonmyeon. Apakah kau lupa pamor seorang Zhang Yixing?
"Wah, pedes juga kalau ngomong; mirip cabe-cabean. Pedesnya udah level berapa, Mas?"
Joonmyeon cuma bisa facepalm.
.
.
xx
.
.
Sekali cewek sinting ya tetep aja cewek sinting.
** She Make Me Going Crazy! **
"Nyebelin-nyebelin-nyebelin! Dasar cowok introvert mulut cabe-cabean!" maki Yixing tak ada habisnya ketika ia bersama para teman-temannya berada di Lab Komputer.
"Udah introvert, udah kayak anti sosial, mana mulutnya cabe-cabean lagi! Cowok macam apaan?!" lagi, sepertinya Yixing tak henti untuk merutuk.
Kita tahu sepertinya siapa yang dibahas oleh Yixing.
"Udahlah." itu suara Baekhyun, cewek marga Byun tiba-tiba muncul dengan sendiri menggeser pintu Lab Komputer dan masuk. Berjalan bak seorang dia Ratu sembari memandang semuanya adalah kelas rendahan (p.s: anggep aja Baek kayak Disgust yang di film Inside Out).
"Kalau perlu diingatkan, siapa yang dulu bilang, 'Gue bakal taklukin cowok introvert itu! Kalo dia luluh sama gue, jalan gue buat pedekate terbuka lebar'. Hayooo~" itu suara cowok, agak cempreng pula. Dan cowok itu baru saja turun dari kegiatannya bermain CoC dan duduk di atas meja Lab.
Cowok itu bernamakan Kim Jongdae, teman sekelas mereka.
"Ya mana gue tahu dia bakal setertutup itu? Padahal waktu gue deketin temennya lho ya keliatannya sama-sama pendiem tapi kan temennya lebih easy going ketimbang Mas Joonmyeon." sangkal Yixing.
"Yahh… resiko lo sih. Gue juga pas ngobrol sama Kak Joonmyeon nggak terlalu dipeduliin. Pertanyaan gue cuma dijawab seadanya." kali ini si cowok berkulit lebih eksotis ketimbang tiga yang lainnya dan fokusnya masih ada di layar laptop dengan tangan masih sibuk dengan tombol-tombol di konsol game.
Yap, Cowok itu Kim Jongin dan ia lebih bersikeras dipanggil Kai (karena dulu ada yang sempat mengira Jongin ini kembarannya Jongdae karena mulai dari marga dan nama tengah mereka mirip.)
Zhang Yixing, Byun Baekhyun, Kim Jongdae dan Kim Jongin ini teman sekelas yang entah sejak kapan mulai dekat. Mungkin mereka pernah satu kelompok tugas hingga terbawa sampai sekarang. Perbedaan karakter yang ada pada diri mereka tidak lantas membuat mereka tidak bisa berteman.
Si supel Byun Baekhyun yang bahkan satu angkatan, kakak kelas dan adik kelas dikenalinya. Jadi jangan heran kalau kalian jalan berkeliling sekolah dengan cewek supel ini, sering ada yang menyapanya.
Si jahil Kim Jongdae yang tingkat kejahilannya sudah tingkat Master. Paling sering membuat guru-guru jengkel dan berakhir meninggakan kelas. Dan terkadang Jongdae berbaur bersama teman sekelas yang lain demi menciptkana huru-hara. Jadi kalau ada keributan di kelas XI-MM 1, maka yang paling diburu para guru lebih dulu adalah Kim Jongdae, baru setelahnya antek-antek cowok muka kotak itu. Jika tidak menemukan hasil, yang terkena apes berikutnya adalah Baekhyun, Yixing dan Jongin.
Jongin itu yang tidak banyak omong, sedikit tertutup dan akan bicara sekenanya. Hampir mirip Joonmyeon tapi bedanya Jongin masih bisa berbaur bersama teman sekelasnya. Gamers dan Otaku walaupun masih level medium.
Terakhir Zhang Yixing. Dia tipe cewek yang nggak banyak mulut, hanya diawal kelas sepuluh saja dia jadi cewek pendiam nan kalem. Selanjutnya dia adalah tipe cerewet bagi yang mengenalnya lebih dekat. Akan bersikap apatis pada orang baru walaupun akhir-akhir ini lebih sering menebalkan kulit wajahnya. Daripada ketiga temannya; dia yang maniak lagu lawas, buku dan film. Satu-satunya yang membuat Yixing kekinian hanya musik Kpop.
"Ya kan? Jangan salahin gue, dong!" Yixing bersikap tinggi karena Jongin membelanya.
Baekhyun memutar maniknya, "So… the next plan lo apa selanjutnya?!"
"Kalo gue minta tolong Mbak Luhan kayaknya nggak deh. Dia kan terkenal mulut embernya nomer dua setelah lo, Baek."
Merasa tersinggung, Baekhyun melemparkan buku tebal yang tergeletak di samping Yixing dan melemparkan ke cewek berlesung pipi. "Sialan lo," makinya singkat.
"Lo deketin aja Park Chanyeol –si Ketos itu. Entar juga lama-lama lo bisa deketan juga sama gebetan lo." kali ini Jongdae tumben-tumbennya memberi nasihat bijak.
"Ide bagus sih. Tapi semenjak insiden itu gue agak sungkan deket lagi sama Mas Chanyeol. Mau senyum sapa aja masih sungkan –kayak gue bikin dosa paling terlarang."
"Wajar sih kan lo nolak dia. Which mean; Park Chanyeol itu Ketos dan soal tampang nggak main-main. Lo cewek bego yang nolak dia." Jongin ikut bersuara meskipun fokusnya masih di layar laptop yang mengeluarkan bunyi tembakan. Masih fokus main game rupanya.
"Lo cewek goblok tahu gak." omel Baekhyun.
"Ciyee... jangan cemberut gitu dong. Kalo gue deketin Mas Chanyeol, ntaran ada yang cemburu ditutup-tutupin lagi. Bisa-bisa nama gue masuk koran sekolah, 'Zhang Yixing Menerima Cinta Park Chanyeol, Byun Baekhyun Bertindak.'."
Jongdae tertawa keras sampai terlentang di lantai Lab. Jongin bahkan sampai melesetkan tembakannya dan membuatnya kalah di satu babak games. Wajah Baekhyun sudah memerah menahan ledakan emosi sekaligus rasa malu ganti menggeletiki sobat ceweknya.
"Sialan lo, banzengg!"
Dulu pernah ada berita menyebar jika Ketos Park Chanyeol mendekati Zhang Yixing. Tapi sayangnya Yixing menolak untuk lebih dari sekedar senior-junior dan hubungan yang semula harmonis sebagai senior-junior mendadak jadi canggung.
"Yaudah terima aja kali cara satu-satunya lo deketin si apatis Joon itu."
Yixing mengerucutkan bibirnya sebal dengan ocehan Jongdae. "Harus ya deketin Mas Joonmyeon?"
Baekhyun memutar kedua manik matanya. "Lo nggak mau usaha deketin doi-nya langsung. Deketin temennya, Park Chanyeol, pernah ada kasus diantara kalian hingga bikin tali silahturahmi jadi renggang. Deketin Mbak Luhan, lo takut mulutnya ember. Ya jalan satu-satunya… lo deketin Kak Joonmyeon."
Cewek marga Zhang ini menatap nyalang tembok didepannya sambil mengepalkan telapak tangan. "Yass… Ini demi doi, maka gue berusaha!"
Semuanya bertepuk tangan. Horee!
Emang sekarang jamannya cowok aja yang bikin pedekate sama cewek? Cewek juga bisa kok pedekate sama cowok asal nggak kentara.
Yosh, berjuanglah Zhang Yixing!
** She Make Me Going Crazy! **
"Arah jam sepuluh. Tuh." Baekhyun menyenggol lengan kanan Yixing hingga pentol bakso yang digayung Yixing melalui sendok kembali meluncur ke mangkok.
Yang disenggol menatap nyalang Baekhyun. "Anjir, udah siap mangap lahap pentol bakso, lo balikin pentolnya ke habitat."
Baekhyun tidak menghiraukan. "Lo lirik arah jam sepuluh dari jendela kelas."
Yixing harus berdiri sejenak untuk melongok ke arah luar jendela. Benar seperti kata Baekhyun. Di arah jam sepuluh memang ada doi. Bahkan cewek urakan itu langsung duduk di tempat dan memasang wajah panik.
"Lha gue harus gimana, coeg?!"
Baekhyun berpikir sebentar. "Ah, lo samperin aja Kak Joonmyeon. Pak Choi kan titip pesen kita kudu ngasih tahu Kak Joonmyeon workshop minggu depan libur."
"Harus gitu ya ngasih tahu si Introvert?!" bahu Yixing lemas dan turun sedikit bersamaan bibirnya yang melengkung ke bawah. Seolah ngasih kode, 'Lo nggak punya ide yang brilliant dikit kek'.
Baekhyun gemes sendiri. Dia ngedorong sahabat ceweknya itu mendekati pintu kelas dan ditatap aneh oleh penghuni kelas mengenai tingkah mereka. Termasuk Jongdae yang berhenti bikin jebakan batman di kursi guru dan Jongin yang nge-pause games-nya.
Cewek Byun itu ngedorong Yixing hingga keluar dari area kelas. "Lo harus ngomong. Gue awasi dari luar sini. Harus ngomong! Kalo nggak, jangan harap pintu kelas ini terbuka buat lo!" dan teganya Baekhyun, dia menutup pintu kelas dan dikunci dari dalam. Begini ternyata ada gunanya dipercaya untuk pegang kunci kelas.
"Yah, Baekhyun! Woi, cewek cabe-cabean!" Yixing menggedor pintu kelas beberapa kali sambil mengobral kata-kata mutiara kekinian. Sedang Baekhyun menahan pintu dari dalam kelas. Jelas saja mengundang rasa penasaran seisi kelas.
"Apaan sih, Baek, sampe Yixing lo usir begitu?" tanya Amber.
"Ah, udah, urusan cewek mah lo nggak perlu tahu."
Amber flat-face. "Lo nggak liat gue pake rok?"
Baekhyun pura-pura kaget. "Astaga! Gue kira lo cowok! Jadi itu celana olahraga ya bukan celana seragam."
Kembali ke Yixing. Cewek itu melirik jam tangannya; tujuh menit lagi bel masuk. Belum lagi Baekhyun seenaknya mengunci pintu kelas. Guru MatPel selanjutnya memberi info beliau bakal telat masuk kelas sekitar lima belas menit karena ada rapat guru antar MatPel. Sedang biasanya Guru Konseling akan berkeliling untuk mencari murid yang bandel tidak masuk kelas walaupun bel masuk sudah berbunyi.
Pasrah. Yixing hanya bisa pasrah.
Dia berkali-kali mondar-mandir merapalkan mantra. Atau sesekali menghentakkan kakinya kesal. Di depan kelasnya, dia menarik nafas berkali-kali.
"Kalo lo berhasil, gue bayar bakso lo dan tambahan tiga mangkok lagi!" seru Jongdae dari dalam kelas, berdiri di depan kaca jendela kelas.
"Kalo lo nggak berhasil, gue bayar bakso lo dan tambahan uang bensin deh seminggu!" ini Jongin.
"Gue beliin sempak kodian deh dari Pasar Kapasan kalo lo berani nyamperin doi!" suara Baekhyun.
"Kalian kira gue ini bahan taruhan? Astagfirullah, nggak baik Mas-nya sekalian." mulai deh ucapan bijak Zhang Yixing. "…tapi gue bakal berhasil, kok. Gue tunggu bakso empat mangkok dari lo, Muka Kotak!"
Empat meter dari kelasnya, ada taman buatan dalam gedung dengan beberapa kursi yang sengaja dibuat untuk murid-murid disini. Dan di bangku taman itu, ada doi dan teman-temannya.
Ayo, ganbatte Zhang Yixing!
Yixing melangkahkan kakinya penuh kepastian hingga tak terasa dirinya berdiri di depan doi dan teman-temannya yang semula asyik di layar tablet menampilkan anime. Kehadiran Yixing membuat mereka kompak berhenti sejenak dan mengalihkan atensi ke Yixing.
"A―anu… Mas Joonmyeon," yang duduk di tengah merasa terpanggil, lantas menganggukkan kepalanya tanda menyahuti.
"I―ituu… anu," duh, Yixing kan jadi gagap jadi pusat perhatian tiga orang sekaligus, mana doi juga ikutan ngelihatin dia. Gugup hati Dedek, Bang.
"Anu apaan?" nah kan yang nyahut si doi. Yixing justru seneng.
Tapi kenapa yang dibahas malah Anu?
"M-Mas Joonmyeon…. udah dikasi tahu Pak Choi informasi-nya?"
"Informasi apa?"
Busett tenang amat intonasinya, pikir Yixing.
"Mi―minggu depan… workshopnya, li―libur sementara. Juga Mas Joonmyeon harus segera setor judul no―novel sejarah ke Pak Choi paling lambat lusa bu―buat dikaji ulang."
Yixing pikir ekspetasi Joonmyeon adalah….
.
'Ah, iya ya. Kalo gitu makasih ya infonya. Untung kamu ngasih tahu.'
.
Ya, ramah dan bersahabat. Yixing berpikir begitu karena mereka sempat menghabiskan waktu bersama dan mungkin Joonmyeon merasa nyaman dengannya. Itu berarti dirinya di mata si doi bakal dapat nilai plus sebagai adik kelas yang perhatian dan suka menabung serta membantu teman yang kesusahan.
Oh, Yixing sayang ―naifnya dirimu.
Karena Kim Joonmyeon terkenal introvert dan jelas saja introvert maka jawabannya jelas pasti―
.
.
.
…. ― "Udah? Segitu aja? Terima kasih infonya. Saya sedang ada urusan lain, silahkan kamu ke kelasmu. Urusan setor judul novel, Pak Choi sudah informasikan ke saya."
.
.
Kretekk!
Rasanya sakit nggak berdarah. Nyutt-nyutt gitu di dada.
.
Yixing yang sadar dari keterpurukannya, "Ya, kalo gitu saya permisi."
.
Tepat setelah ia balik badan dan telinganya menangkap suara si doi yang amat pelan tapi bagaikan Katana yang menghunus ulu hati…
.
― "Jadi dia bolak-balik dan ricuh di depan kelas cuma ngasih tahu kamu itu aja, Myeon?! Dia naksir kamu atau gimana sih?"
"Nggak tahu," itu suara Joonmyeon. "… abisnya dia cewek sinting sih."
.
Shitt. Djantjoek.
Sudah, Xing. Lupakan soal pencitraan diri di hadapan si doi.
.
.
xx
.
.
Yixing menggebrak meja belajarnya ketika kejadian tadi siang terekam jelas dan diulang terus-menerus oleh otaknya. Yixing kan jengah, QaQa. Lalu dia merebahkan tubuhnya di kasur.
Dengan mata yang menyipit menyiratkan dendam kesumat, Yixing pun bertekad.
"Ngatain gue? Lo ngejelekin gue di depan doi?! Karma masih berlaku. Gue doain lo naksir gue!" itu ucapan lantang Yixing.
"Iya-ya! Gue bikin hatinya ditarik ulur terus gue lepas. Sabodo amat pecah berkeping –keping. HAHAHAHA!"
.
.
"Buk, Yixing kenapa sih di kamarnya?"
Sang Nyonya Zhang malah mengendikkan bahunya cuek. "Ah, kumat lagi tuh anak, Pak. Biasa; kalo ada yang bikin dia jengkel sukanya sih begitu. Udah dilanjut aja minum kopinya nggak usah pikirin anak manja itu."
.
.
xx
.
.
"Dia naksir kamu atau gimana sih?" pertanyaan Yifan terekam jelas saat itu. Joonmyeon memandangi punggung Yixing yang menjauh menuju ke kelas.
Entahlah. Dia tidak tahu.
Yixing termasuk cewek yang masuk blacklist; harus dia hindari. Tapi kenyataan cewek itu selalu punya kesempatan untuk membuat Joonmyeon berurusan dengannya.
"Jangan begitu, Myeon. Nanti karma lo suka dia, lho." petuah bijak Luhan.
Joonmyeon mengingat petuah Luhan, tertawa pelan tanpa suara hingga pegangannya ke mug kopi ikut bergoyang menumpahkan isinya sedikit.
"Aku naksir cewek sinting sejenis Zhang Yixing?! Hahahaha! Sampai beneran berarti aku termasuk orang sinting!"
Itu suara Joonmyeon di kamarnya, ditemani suara soundtrack anime menggema di kamarnya yang sedikit temeram karena suasana malam mistis.
** She Make Me Going Crazy! **
Joonmyeon fix mengundurkan diri dari workshop literature. Selain karena ia sedang sibuk-sibuknya mengurus T.A, ia tidak ingin lagi berurusan dengan cewek sinting itu.
Dan alhamdulillah wa syukurillah. Tuhan memang mendengar doa hambaNya yang butuh pertolongan.
Dua minggu belakangan ini memang Joonmyeon tidak berurusan dengan Zhang Yixing. Yah, walaupun sesekali bertemu di perpustakaan dekat Lab (itu tempat nongkrong Yixing cs, ngomong-ngomong), atau di parkiran, atau juga di lorong-lorong dan undakan tangga. Tapi tidak pernah sekalipun mereka menarik diri untuk mulai obrolan.
Tidak saling mengenal.
Joonmyeon cukup waras untuk tidak berurusan dengan cewek sinting.
Sedang Yixing cukup tahu diri untuk tidak memiliki benang apapun dengan cowok introvert yang judes macam Joonmyeon.
.
.
xx
.
.
"Sepatu lo ilang lagi, Joon?" tanya Chanyeol saat mereka udah kelar sama tugas di Lab Komputer. Joonmyeon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa sepatunya punya kaki ya? Bosen ditinggal lama, makanya dia jalan-jalan bentar tapi nggak tahu gue kelarnya jam berapa." celutuk Joonmyeon, garing ah.
Chanyeol berdecak. "Ini udah berkali-kali. Ada yang nggak beres nih." papar si Ketos dengan gayanya sok niruin Sherlock. Chanyeol wajar berkata begitu, wong dia yang sering bantuin Joonmyeon kalau sepatunya lagi jalan-jalan. Bahkan terakhir kali sepatu cowok Kim ini jalan-jalan sampai halaman belakang sekolah!
(―beruntung sepatu Joonmyeon ditemukan tukang kebun sekolah, yang dikira sepatu bekas gak mutu dan mau diloak)
(Padahal harga sepatu Joonmyeon setara dengan uang saku Chanyeol selama 4 bulan penuh)
Kali ini pencarian mereka nggak harus di halaman belakang sekolah. Sepatu Joonmyeon tertata apik di tong sampah.
Djantjoek, siapa sih yang ngisengin sampai keterlaluan begini?, rutuk Joonmyeon.
Baru saja Joonmyeon mengira-ngira siapa pelakunya, sosok cewek sinting bernamakan Zhang Yixing terlihat menuruni tangga yang berada di samping ruang Lab Komputer. Mana sok polos pakai pura-pura nggak liat Joonmyeon.
Andaikan ini dalam animasi, mungkin Yixing terkapar tidak berdaya oleh sinar laser dari mata Joonmyeon.
"Dengan kekuatan sinar laser Bulan, aku akan meng-hukum-mu, ciatt!"
Eh, salah ding.
Resiko sering nonton anime cantik gara-gara adiknya.
.
.
Yixing menghentikan akting tertawanya saat dirasa berada di posisi aman.
"Eh, tadi gimana si introvert itu? Dia ngeliatin gue nggak?" bisik Yixing pada Baekhyun.
Si cewek mungil berbibir tipis –karena keseringan gossip– mengangguk kecil. "Yah, sempet sih. Nyeremin lagi. Untung lo pura-pura nggak liat." kebetulan aja ya, si Baekhyun ngelihat Joonmyeon. Soalnya di sebelah cowok introvert itu ada gebetannya sih; si Ketos Park Chanyeol ulala~
"Huahahaha! Rasain tuh, balesan gue!"
Baekhyun mengerutkan alisnya. "Apa nggak keterlaluan ya? Emang siapa kemarin tuh sampai disembunyiin di halaman belakang?"
"Oh, itu?" Yixing baru konek. "Lo tahu kan siapa otak kriminal." kata Yixing sambil senyum dan naik-turunin alisnya.
"Dih, najis!" Baekhyun menampar pelan pipi Yixing.
Yah, tak perlu ditanyakan lagi. Mungkin dalang dari ide kriminal Yixing siapa lagi kalau bukan Jongdae ―Master of Crap.
"Abis sepatunya terus apalagi yang dijadiin target."
Tiba-tiba Yixing masang senyum angker. Suwer, selama tiga tahun temenan sama Yixing nggak sekalipun Baekhyun ngelihat Yixing berubah jadi Palak super KW.
"Pokoknya ada, deh."
Baekhyun cuma menghela nafas.
.
Tolongin temen Baekkie, Yawlah, kalo misal dia nggak bisa selamat dari si senior.
Say, amen.
** She Make Me Going Crazy! **
Fr: Kai
'Ke kantin kelas 12 deh. Cepetan! Nyesel kalo nggak nyusul gue disini. Bawa Baekhyun gak papa.'
Pesan yang diterima Yixing di jamkos karena memang ujian akhir sudah selesai. Sambil menggerutu, Yixing mengangkat bokongnya dari bangku dan menarik Baekhyun agar segera bangun dari acara 'mari-memoles-makeup-natural-a-la-Baekhyun'.
"Kenapa sih si Temsek itu. Ngerusak acara deh." gerutu Baekhyun kesal.
"Nurut aja deh. Kalo sampe dia ngerjain kita, gue kasih ijin lo buat ngabisin si Temsek."
Sebenarnya cukup risih untuk berada di lingkungan senior hierarki tertinggi. Apalagi letaknya berada di bagian belakang gedung, kan suasananya mendukung banget kalo ada senior sok berkuasa nindas dedek kelas :(
"KAI!" teriak Yixing pas dia ngenalin cowok kulit coklat yang duduk di salah satu bangku panjang kantin. Yixing sama Baekhyun nyamperin. Tapi cewek Zhang itu nggak nyadar kalo…
"Hai,"
―ada si doi juga yang duduk persis di depannya, di sampingnya Jongin.
.
Dugeun. Dugeun. Plis,jantung; kalem sedikit kenapa sih?! Nggak biasa ya liat cogan?!
.
"Ini Zhang Yixing sama Byun Baekhyun. Temen sekelas saya juga, Kak." perjelas Jongin mengenalkannya kepada si doi.
"Salken ya. Gue Wu Yifan. Panggil aja gue Kris." si doi ngasih senyum sejuta watt.
.
Mamah, Iching pamit ya, kayaknya jantung Iching nggak kuat nanggung pesona cogans.
.
Hampir aja Yixing ngeces kalau nggak disikut Baekhyun.
"A-ah," sadar lamunan begonya, Yixing menerima jabat tangan Yifan. "Iya, Kak. Nama Saya Zhang Yixing."
"Wah, kamu punya darah Tionghoa?"
"Begitulah."
Lalu pandangannya beralih kepada Jongin. Seolah tatapan mata itu bilang, 'Gue udah bantuin lo deket sama si doi, siap-siap gue terima tanda jasa dari lo.'
Tak hanya ada mereka berempat, ke-eksis-an Chanyeol sempet dilupakan.
Iya, Park Chanyeol si Ketos yang pernah naksir Yixing. Sialnya Yixing tolak. Sialnya lagi, Baekhyun malah naksir si Ketos ini. Kesialan dari semua kesialan; Chanyeol naksir Yixing padahal sahabat baik Yixing, Baekhyun, juga punya perasaan ke Chanyeol.
Kan kampret.
"Hai, Xing." sapa singkat Chanyeol dan Yixing cuma memulas senyum tipis.
Rupa-rupanya Jongin cukup akrab dengan Yifan dan Chanyeol karena masalah games. Maklum lah, mengaku sebagai gamers serta otaku sejati.
Rasanya seperti mimpi bisa duduk berhadapan sama si doi. Apalagi ngobrolin segala hal mulai dari hal-hal seputar sekolah sampai politik.
"Oh ya, Yixing udah punya pacar belum?" tanya Yifan.
"E-eh?" mata Yixing membulat gede pas ditanyain begitu.
Kalo gue jawab nggak punya, terus dia tiba-tiba bilang 'Jadi pacar gue aja kuy?' kan drama banget.
Oalah, imajinasimu, nduk*.
"Be-belum kak. Emangnya kenapa?"
Yifan sneyum tipis. "Soalnya kamu itu kayaknya cocok banget disandingin sama temenku."
Yixing jadi gondok. Mendadak pucet. Jangan bilang kalau itu Park Chanyeol. Nanti Chanyeol jadi berharap lagi, nanti Baekhyun yang kebetulan menyimak obrolan mereka bakal sakit hati walaupun itu cewek bilang nggak apa-apa.
Atau jangan-jangan….
"Itu lho, Kim Joonmyeon. Kamu tahu nggak, katanya dia ikut workshop literature bareng kamu sama temen-temen kamu?"
―yassalam. Duh Gusti. Inalillahi.
KENAPA HARUS KIM JOONMYEON?!
((nggak usah caplsock gede-gedean kan juga bisa kali, Xing.))
"A-hahahaha. HAHAHA! Aduh, perutku." Yixing malah ketawa. Ngakak. Kenceng pula sampai satu kantin denger semua.
Jongin sama Baekhyun menggeser duduknya berjauhan dari Yixing. Tampang mereka seolah berkata ke publik, "Bukan temen saya. Nggak kenal. Kebetulan aja duduk satu meja."
Sedang Yifan dan Chanyeol agaknya kaget gitu.
Cewek yang keliatan kalem dan bersahaja macam Yixing bisa jadi cewek sinting.
Yifan jadi inget omongannya si Joonmyeon.
.
"...abisnya dia cewek sinting sih."
.
"Aduh, Kak. Sama si Introvert itu? Maaf, terima kasih. Mending aku jadi jomblo seumur hidup." kmentar Yixing setelah selesai dengan acara ketawanya.
Yifan mengangguk singkat. Manik matanya bergulir di memerhatikan objek di belakang punggung Yixing.
"Oh, kalian!" sapa ringan Yifan.
Yixing berbalik, pengen tahu siapa yang idsapa Yifan.
Ouch, the world hate me so much; batin Yixing merana.
Itu Kim Joonmyeon dan Xi Luhan.
Apalagi kayaknya Joonmyeon natap dia tajam gitu. Setajam silet-nya penggosip.
Apa itu cowok denger apa yang barusan Yixing omongin.
Mampus, dah. Tanda-tanda perang dunia ketiga bakal dimulai.
.
.
xx
.
.
"Jadi lo ditolak?" seru Luhan nggak percaya.
Joonmyeon facepalm.
Bisa nggak sih Luhan kalem aja ngomongnya?! Murid-murid yang kebetulan ada di sekitar mereka bakal salah mengartikan. Bisa dijadikan bahan gossip. Joonmyeon nggak mau dia jadi pusat perhatian.
"Yam au gimana lagi. Gue udah bertekad Tugas Akhir gue bakal jadi Film Pendek Dokumenter tentang kegiatan ekstra di sekolah gue. Udah mentok idenya disitu."
Luhan mendesah berat. "Ya gimana lagi. Lo udah coba ke Klub mana aja?"
"OSIS? Tapi kayaknya gue nggak tertarik deh organisasi kesiswaan kek gitu. Apalagi Ketos-nya macam Chanyeol."
Park Chanyeol? Si cowok keren kebetulan jadi Ketos berkat suara cewek-cewek. Nggak heran sih. Yah, walaupun kinerjanya sebagai pemimpin yang bertanggung jawab patut diancungi jempol.
"Sepak Bola? Gue udah bicara sama Doojoon. Kan kalo dijadiin Film Dokumenter kan bakal banyak yang masuk klub Sepak Bola. Tapi dia nolak, takutnya cuma numpang pemes di Klub Sepak Bola dan nggak berlatih serius."
"Basket?" Luhan bergumam. "Ah, tapi kan semenjak Kak Siwon lulus, Basket udah kayak sarang berhantu gitu ya. Yifan juga bilang gitu."
"Ah, gue tahu!" Luhan mendadak mendapatkan ide. "Klub Dance! Klub gue dulu."
Alis Joonmyeon menukik. "Hah? Kok gue baru tahu lo ikut Klub Dance? Emang ada di sekolah kita?"
Luhan merotasikan manik matanya. "Dulu gue ketua klub-nya. Tapi sekarang udah dipegang adik kelas kita. Yuk, gue anterin lo ke ketuanya buat konfirmasi dulu."
Joonmyeon mencegah Luhan untuk menari lengannya. "Eh, tapi nggak apa-apa nih, Han, Klub Dance lo bakal gue jadiin Film Dokumenter?"
"Yakin deh. Soalnya Klub Dance gue cukup minim peminat, siapa tahu setelah lo jadiin Film Dokumenter, bakal banyak yang ngantri masuk Klub. Seenggaknya Klub Dance nggak kayak Klub Basket; setelah ditinggal lulus icon-nya, langsung jadi sarang berhantu."
"Yaudeh deh. Btw, siapa sih Ketua Klub-nya?"
.
.
xx
.
.
"HAI GUYS!" sapa Luhan begitu ngelihat temen-temen dan adik kelasnya ngumpul jadi satu bareng-bareng gini. Kebetulan yang tak disnagka.
"Wupan, haus nih. Bagi minuman lo dong." baru saja duduk di sebelah Yifan, Luhan langsung menyambar gelas es Yifan dan meminumnya sampai habis.
Harusnya Yixing nggak terlalu heran sama kedekatan mantan ketua Klub-nya dengan Yifan. Mereka kan satu kelas, temen deket pula. Cuma si Yixing aja nggak terlalu bergaul sama si mantan Ketua, makanya dia agaknya canggung kalau deket-deket Luhan.
"Hai, Yixing! Jongin! Dan…" Luhan memandnaginya Baekhyun sejenak.
"Baekhyun namanya, han." bukannya Baekhyun sendiri, Chanyeol yang menimpali. Kan Baekhyun jadi salting.
"Ah, Baekhyun. Salken ya."
Joonmyeon mengambil tempat duduk di sebelah Baekhyun. Karena ya satu-satunya tempat duduk kosong disebelah Baekhyun. Ada sih, di sebelah Yixing. Tapi Joonmyeon nggak mau.
Dia itu ceweksintingphobia.
"Kebetulan banget gue ketemu lo disini, Yixing. Ada yang mau gue omongin masalah klub."
Luhan sudah lepas jabatan jadi ketua Klub Dance sekitar tiga bulan yang lalu. Kok malah bawa topik mengenai Klub?!
"Ya, Kak?"
Luhan tertawa, "Gak usah canggung begitu deh. Anggep aja kayak temen sebaya."
"Heh, nenek-nenek nggak usah sok muda ya nyamain umur sama cucunya." Yifan menimpali. Luhan membalas dengan menjambak rambut Yifan.
Interaksi kecil itu sukses membuat Yixing cemburu. Harusnya dia bisa di posisi Luhan.
Alasan kekanakan macam inilah yang membuat Yixing enggan berinteraksi lebih jauh dengan Luhan.
"Joonmyeon ini," Luhan menunjuk Joonmyeon dengan dagunya. "mau bikin Tugas Akhir Film Dokumenter soal kegiatan ekstra. Kebetulan dia mau menyorot Klub kita. Kira-kira lo sebagai ketua nih, lo ngasih ijin nggak?"
Yixing menatap Joonmyeon yang duduk di sebelah Baekhyun. Joonmyeon pura-pura sibuk sama mi goreng yang baru dibelinya di konter kantin.
"Duh, gimana ya, Kak." Yixing mencoba mencari pertolongan ke arah Jongin, sedang cowok itu hanya mengangkat bahu dan tak mau peduli.
Sialan, rutuk Yixing.
"Ayolah, Xing, hum? Kan dengan begini lebih banyak yang tertarik sama Klub Dance. Biar nggak ngulang sejarah Klub Basket. Yayaya?"
"Oy, lo ngejek klub gue." Yifan bersuara.
Kenapa harus Luhan yang mengemis meminta ijin padahal yang perlu itu Joonmyeon?!
"Kenapa harus Kak Luhan?"
"Huh?"
"Yang perlu dengan Klub Dance kan Kak Joonmyeon. Mentang-mentang Kak Luhan yang mantan ketua, kenapa harus Kak Luhan yang minta ijin ke saya? Harusnya kan Kak Joonmyeon sendiri.
Hening. Entah kenapa semuanya terasa mencekam.
Kayak ketemu Voldemort yang mendadak ngeluarin aura hitam-nya.
Joonmyeon mengepalkan tangannya. Dia sudah berusaha sabar ya dari kemarin. Si Yixing ini yang nantang dia. Mentang-mentang cewek dan Joonmyeon nggak ambil pusing dnegan segala tingkah onar si cewek sinting ini.
Dasar cewek sinting!
Joonmyeon menoleh menatap Yixing dan kebetulan juga cewek sinting itu menatapnya tajam.
"Saya udah berusaha sabar ya sama kamu dari kemarin. Dikiranya saya nggak tahu ulah kamu?!"
Yixing pucat. Dan Joonmyeon menampilkan smirk kecil.
Skor satu sama. Hah, rasain!
"Urusan ini antara saya sebagai ketua dan Kak Joonmyeon. Kenapa minta tolong sama Kak Luhan? Oh, saya tahu. Kak Joonmyeon kan introvert kelas kakap. Bahkan gosipnya, Kak Joonmyeon anti-cewek. phobia cewek. Kenapa bisa deket sama Kak Luhan. Kak Joonmyeon naksir Kak Luhan ya?"
Skor berbalik, pemirsahh, menjadi satu-dua untuk Joonmyeon dan Yixing.
Joonmyeon menggebrak meja. Semua yang ada dimeja kaget. Terutama Chanyeol, Yifan dan Luhan. Mereka tahu Joonmyeon dalam mode ngamuk itu nggak baik.
"Terus dikiranya kamu orang penting apa? Baru jadi ketua klub belagu. Dikiranya cuma Klub Dance yang bisa saya jadiin bahan Film Dokumenter?! Banyak kok Klub yang berkualitas yang pengen saya masukin ke Film."
.
.
―Joonmyeon, inget lho. Satu-satunya klub yang berkualitas yang tersisa buatmu jadiin bahan Film Dokumenter ya cuma Klub Dance.
.
.
"Hah? Kedengarannya kok meragukan ya. Ayo buat taruhan!"
Joonmyeon yang cowok sejati, dia nggak bisa ngelawan cewek meskipun dia punya ceweksintingphobia.
"Saya cowok, saya lebih tua dan senior kamu. Saya jelas nggak waras kalau nerima tawaran taruhan konyolmu itu."
"Bilang aja Kak Joonmyeon penakut, cih."
Geram. Kesabaran Joonmyeon udah lowbat.
"Apa sih maumu, Zhang?!"
"Ayo taruhan! Kalau seminggu Kak Joonmyeon dapat Klub buat bahan Film, saya bakal lakuin apa yang Kak Joonmyeon suruh. Tapi kalau seminggu Kak Joonmyeon nggak dapat Klub yang dijadiin bahan film; Kak Joonmyeon boleh mendokumentasikan Klub saya asal dengan syarat –yang bakal saya umumkan kalau beneran Kak Joonmyeon kalah."
.
.
Dia cowok sejati. Tantangan apapun bakal diterima.
.
.
"Deal!"
"Deal!"
Mereka salinglempar tatapan tajam, buat ngasih tahu siapa disini yang pantas memenangkan taruhan konyol yang mereka buat. ((atau lebih tepatnya Yixing yang memaksa))
Taruhan konyol yang disaksikan Chanyeol, Yifan, Luhan, Jongin dan Baekhyun.
"Cewek sinting," desis Joonmyeon.
"Ya, saya emang sinting. Dan saya bisa ngebuat kak Joonmyeon jauh lebih sinting."
.
.
.
xx
.
.
.
Apa sedari tadi kalian tidak sadar dan kasihan kepada si Baekhyun yang posisinya berada di tengah-tengah mereka berdua?
.
.
xx
.
.
|| bersambung ||
(nduk = sebutan untuk anak cewek, Jawa.)
A/N: hai-hai! ugh, nggak nyangka respon kalian bagus. terharu jadinya. lama nggak nulis kirain lupa sama saya, hiks :')
Ini 5k+ words lho yah. menghargai saya sedikit saja dong dengan meninggalkan review baik-baik.
Dann… untuk penjelasan singkatnya ((sengaja saya taruh bagian paling belakang, lol))
1. Joonmyeon pemalu sama lawan jenis, udah disebutkan di spoiler chap awal. Maksudnya disini adalah Joonmyeon nggak terlalu banyak interaksi sama cewek, jadinya dia canggung dan bingung harus ngapain kalau dihadapin sama cewek. Seperti spoiler di awal pas cerita bagian Luhan, Joonmyeon butuh tiga bulan buat deket sama Luhan layaknya temen cowok. Itu bukti kalau Joonmyeon memang canggung dan nggak langsung akrab sama cewek. Tapi bukan berarti Joonmyeon phobia cewek dan bakal keringetan kalo ketemu cewek. Karakter Joonmyeon yang begini ini terinspirasi dari Kakak Kelasku sendiri.
2. Kantin di scene awal sama kantin di scene terakhir beda lho ya. Kantin scene awal itu "Kantin Bersama". bisa dinikmati oleh Guru, Staff, dan seluruh angkatan. Lebih luas daripada kantin individu angkatankek scene akhir. (soalnya sistem kantin sekolah gue begitu).
Anyway, selamat liburan buat kalian yang bisa liburan. Saya malah musti magang di liburan tahun ini, hiks.
So, see ya!
P.S: Maafkan untuk deskripsinya ya. Kadang non-baku, kadang baku. Otak saya lagi konslet.
