Tiga hari setelah taruhan itu, Joonmyeon mati-matian nyari Klub yang mau diajak kerjasama. Dia nggak mau kalah dari Yixing –apalagi titelnya sebagai cewek sinting.
Cih, tak sudi Joonmyeon yang waras kalah dari cewek sinting.
"Joon, lo yakin nih sama keputusan lo?" tanya Luhan ketika mereka sengaja kumpul di pinggir lapangan basket.
"Kenapa sih lo iyain tawaran taruhan dari cewek itu. Lo beneran ikutan sinting." komentar Yifan.
"Heh, dia justru yang nantangin! Selama ini guenya udah diem bersabar dengan segala tingkah usilnya –yang nggak gue ngerti kenapa. Dan tempo hari itu batas gue, kesabaran gue udah lowbat." Joonmeon membela dirinya sendiri.
"Lha terus lo gimana dong."
Joonmyeon mendesah pelan sembari menelisik lapangan Basket yang salah dijadikan lapangan bola mentang-mentang Klub Basket kini berhantu.
.
Bener kata Yifan. Dia cowok waras, cowok sejati. Harusnya nggak bakal kepancing sama emosi; apalagi yang mancing cewek sinting.
.
Tapi nasi sudah jadi bubur. Cowok sejati nggak bakal ingkaar janji. Tapi gini nih repotnya, selain Klub Dance, dia nggak tahu harus mikirin Klub apa yang akan ia jadikan bahan Film Dokumenter.
Saat matanya menelisik seluruh lapangan, matanya menangkap satu sosok familiar.
Ah, Bae Joohyun. Nama kerennya sih, Irene.
Teman satu angakatannya dari Kelas Akuntansi. Biasanya cewek Akuntansi yang paling parah soal bergossip dan makeup. Justru cewek Akuntansi satu ini bikin hati Joonmyeon tentram. Dia tipe yang nggak banyak mulut. Bahkan jabatannya jadi Sekretaris kedua si Chanyeol di OSIS.
Cewek tipe kalem yang lemah lembut dan suka menabung. Cewek tipe ideal banget.
Apalagi dia denger Irene itu pecinta alam―
―OH!
"Oh!" Joonmyeon mendadak berseru membuat yang lainnya ikutan kaget.
Joonmyeon tersenyum lebar ke arah temen-temennya.
Senyuman paling misterius dan paling creepy yang temen-temennya tahu.
"Gue sekarang punya inspirasi. Gue tahu Klub apa yang bakal nerima gue."
Luhan, Yifan serta Chanyeol cuma berdoa demi kebaikan Joonmyeon.
.
.
xx
.
.
Yixing mendesah malas ketika Baekhyun nggak berhenti ngoceh ngalor-ngidul soal taruhan dadakan yang ia buat dengan si Introvert.
"Lo tuh ya. Urat malu lo kemana sih?! Di depan si doi, temen-temennya dan lo… Apa?! Taruhan?! Lakar cah wadon edan." (*emang lo cewek gila)
"Udahlah, Baek. Itu spontanitas, oke? Tolong dimaklumi."
"Ya tapi nggak dengan cara bego!" Baekhyun mencak-mencak. Sedang Yixing masih sibuk minum dari botol tumblr-nya dan sesekali menyeka keringatnya.
Tubuhnya capek. Pikirannya capek. hatinya ikutan capek. Baekhyun yang terkenal cerewetnya masyaallah lagi mode PMS dan ceramah non-stop?
Wassalam lah, Zhang Yixing.
"Gue udah capek sama si Introvert itu. Apalagi pas itu ada Kak Luhan. Gue nggak bisa ngontrol, Baek. Tolong ngertiin sedikit walaupun lo nggak setuju sama tindakan gue." Yixing memohon.
Baekhyun menghela nafas. "Oke. Gue sebagai temen bakal ngebiarin ini. Tapia was aja kalo lo berlaku bego lagi."
Yixing mengangguk mengiyakan. Sedang Jongin dan Sehun meminta Yixing untuk cepat-cepat menyelesaikan istirahatnya karena mereka harus kembali berlatih demi kejuaraan dance bulan depan.
"Pokoknya lo tenang aja deh. Gue jamin si Introvert itu kalah. Lo, gue, kita; nggak bakal nanggung malu."
Baekhyun merotasikan maniknya malas. "Terserah lo deh. Jangan libatin gue dalam skenario bego lo."
"Lo sahabat yang baik deh, Baek." sarkasmennya. "Oke, gue kudu pergi latihan dulu. Si duo kopi susu itu ntaran bisa ngamuk."
Baekhyun memandangi sahabat cewek satu-satunya di sekolah ini.
Mereka nggak tahu masa depan bakal gimana. Akhir siapa yang tahu?
"She Make Me Going Crazy!"
Kim Joonmyeon/Suho EXO | Zhang Yixing/Lay!GS EXO
Friendship | Romance | Humor (bagi mereka yang menangkap humor disini ya)
Rated: T+ | Lenght: Chaptered - ?
#Disclaimer: Hanya meminjam nama. Sepenuhnya mereka milik Tuhan dan keluarga masing-masing. Ide, dan jalan cerita fanfic ini milik ©Hwang0203
Warn: GS!Uke ; WASPADA BAHASA NON BAKU/ BAHASA GAWL ; Indo!AU ; udah aku peringatin ya, pake capslock lho kalo bahasanya aneh, anak gawl, jadi kalo bagi yang dari awal udah gak sreg baca silakan klik tombol close.
.
.
Disadur dari kisah nyata dengan sedikit bumbu penyedap.
Part IIa : Bukan Mutualisme, tapi Menghancurkan Salah Satunya
Joonmyeon gugup, Men. Padahal cuma mantengin layar hape yang membuka apps BeBe'm. Tapi satu profil yang bikin dia kalang kabut.
Irene Bae.
Plis jangan tanya darimana Joonmyeon dapat pin-nya Irene. Jangan salahkan the power of stalking. Duh ya begini amat. Padahal kelas mereka hanya berjarak tujuh langkah. Satu angkatan. Pernah satu kelompok pas masa MOS dulu. Tapi sekedar nyapa 'Hai' aja udah berasa nantang tanding Sumo terhebat se-Jepang.
Nekat. Kata Mamah kalau nggak nekat nyoba, mana tahu hasilnya.
.
Joon-rich-Myeon: PING!
Joon-rich-Myeon: Hai, Irene-ssi.
.
Baru sedetik kekirim, Joonmyeon udah gigit bantal kasurnya. Dia takut, kebayang Meme yang sering dia lihat di fanspage kalau cewek pasti balas chat lama kalo bukan gebetannya (–minimal lo seganteng member boyben mungkin berapa frame langsung dibalas).
Hamdallah ya, rejeki anak sholeh. Irene ternyata baik, balas chat kurang dari tiga menit.
Inget, Joon. Mungkin kebetulan dia lagi pegang hape. Jangan ke-ge'er-an dulu, ah.
.
IreneBae_91: Hai juga, Joonmyeon-ssi^^
.
Yaampun pake emot segala. Bantu hambaMu satu ini buat tenangin jantung yang bergejolak cepat. Joonmyeon belum mau mati, dia belum pernah ngerasain malam pertama.
Joonmyeon berasa kek banci pinggir jalan yang ketemu pelanggan borjuis.
Dih, perumpaannya gitu amat.
.
.
Joon-rich-Myeon: Gini nih. Gue tugas T.A, kebetulan tema yg gue ambil ntuh kegiatan Klub di sekolah kita. Kira2 klub PPA (re:Pelajar Pecinta Alam) ngasih ijin gue nggak buat ngeliput kegiatan Klub kalian?
Joon-rich-Myeon: Dan maaf, gue tahu lo bukan Ketua Klub-nya, tapi info kontak yg bs gue hubungin cuma elo.
IreneBae_91: Oh, oke deh. Gue tanya Minho dulu ya. Nanti gue kabarin deh konfirmasi-nya.
Joon-rich-Myeon: Sipp. Makasih banyak ya, sori kalo ngerepotin lo.
IreneBae_91: Ngga kok. Sesama temen satu angkatan kan saling tolong menolong. Apalagi ini urusannya T.A., pasti berat banget ya buat anak MM.
Joon-rich-Myeon: Yah, begitulah.
IreneBae_91: Malem Joonmyeon-ssi. Aku mau off.
Joon-rich-Myeon: Oke. Sekali lagi, makasih ya.
.
.
Dugeun-dugeun. Jantung rasanya ada di arena F1.
Joonmyeon mencak-mencak diatas kasurnya. "AKHIRNYA, MAMAH!"
"JOON, JANGAN LONCAT-LONCAT. KALO LANTAINYA JEBOL, MAMAH SURUH KAMU YANG BENERIN SENDIRI!"
** She Make Me Going Crazy! **
Yixing capek. Yixing lelah, Kakak.
Hari ini ada praktek olahraga. Belum lagi ada presentasi di matpel Ekonomi. Udah gitu latihan intensif buat bulan depan lomba dance yang bergengsi. Tim-nya tidak mungkin melewatkan kesempatan emas untuk bertanding melawan group dance unggulan dari sekolah lain yang tentunya sudah punya nama.
"Ya ampun, nggak kuat lagi deh gue." cewek berdarah Changsa ini tidak langsung menuju parkiran. Melainkan memilih istirahat di Kantin Bersama. Dia benar-benar lesu. Tidak habis pikir gimana Jongin dan Sehun masih latihan lagi sampai dua jam ke depan sedangkan Yixing saja sudah tepar begini.
"Paklik[1] Ashar, saya es teh manisnya satu, yang gelas jumbo." teriak Yixing pada salah satu pemilik stand yang masih buka meski jam sekolah sudah lama usai.
"Siap, Mbak. Latihan sampai jam segini?" tanya Paklik Ashar.
Sudah langganan bagi Bapak tua ini tempatnya didatangi para siswa yang masih belum mau pulang. Entah itu karena ada tugas menumpuk yang tidak bisa dikerjakan di rumah, hanya sekedar malas pulang, atau latihan ekstra seperti Yixing ini.
"Iya, Paklik. Tadinya sih mau latihan sampai jam enam sore. Tapi udah keburu tepar." Yixing curhat. Jarum jam tangannya masih menunjukkan pukul setengah lima. Well, berarti dia sudah dua jam lebih berlatih.
"Hooohh… tadi ada Mas cakep juga masih belum pulang. Mesen mi kuah. Tapi belum diambil daritadi."
Yixing yang awalnya meletakkan kepalanya bersandar di meja kantin lantas mendongak.
"Siapa, Paklik? Tahu nggak dia kelas berapa?"
"Dari badge-nya sih, Paklik liat kelas 12-MM. Nah, panjang umur! Baru diomongin!" Paklik Ashar memasang wajah sumringah melihat objek yang mereka bicarakan sedari tadi.
Yixing menoleh ke belakang dan mendapati seniornya berdiri tepat di belakangnya.
Yawlah. Itu bukan sembarangan senior, melainkan―
"Zhang? Masih disini?"
"Kak Yifan?"
…― si doi. Kesayangannya Yixing, uhukk.
Yifan tersenyum tipis dan mengambil posisi duduk di sebelah Yixing. Dengan sigap, Paklik Ashar meletakkan gelas es teh dan mangkuk mi kuah ke arah mereka. "Monggo. Tapi agak cepet ya, saya juga mau beres-beres persiapan tutup. Kayaknya udah sepi banget." Paklik Ashar mengingatkan dan segera berlalu.
Berdua sama si doi. Satu meja. Aduh, imaji liar Yixing berandai-andai kalau posisi mereka sekarang ini in relationship.
Ngayalmu kejauhan, Xing. Si doi tahu nama lo aja belum genap seminggu.
"Belum pulang? Udah sore banget. Dua jam lagi gerbang mau dikunci."
"Ini juga mau pulang, Kak. Tapi badan masih pegal. Daripada kejadian yang nggak enak pas bawa motor, mending rehat dulu disini."
Sejenak hening. Nggak tahu apalagi yang mereka omongin. Yifan masih sibuk ngunyah mi kuahnya. Sedang Yixing sibuk menenangkan jantungnya.
"Emang Kak Yifan pulang sore banget begini kenapa?"
"Oh, itu?" Yifan menelan kunyahannya dulu. "Minta benerin laptop saya yang bermasalah sama konsultasi tugas T.A. ke Pak Mus. Kamu sendiri?"
Yixing mengulas senyum. "Saya ada lomba dance bulan depan. Jadi, yah… semacam latihan intensif."
"Wah, kayaknya saya kudu nonton dan dukung kamu deh." Yifan terkekeh.
Meskipun giginya agak maju, tapi tetep ganteng kok. Yixing tetap suka.
Bayangin deh posisi lo jadi Yixing. Sore-sore di kantin sekolah. Saling lempar senyum dan bahan obrolan ringan. Aih, masa remaja; kisah-kasih di sekolah.
Baru Yixing punya kesempatan ngobrol lebih jauh dengan Yifan, tapi semua dikacaukan oleh satu suara.
"WUPAANN~~~"
―suara yang Yixing hapal betul. Siapa lagi kalau bukan Xi Luhan?!
"Gue cariin di Lab Komputer sama kelas, taunya lo nge-modusin Yixing disini. Playboy cap gigi tonggos lo, ah!" Luhan baru datang, langsung menepuk keras bahu Yifan sampai si satu-satunya cowok diantara mereka itu tersedak hebat.
"Sialan lo. Untung cewek, temen deket sendiri pula."
Luhan tidak mengindahkan makian Yifan. "Hai, Xing. Abis latihan ya?" tanya Luhan, memilih duduk di sebelah Yixing.
Kalau orang awam yang sekilas melihat mereka, posisinya sudah mirip Ayah-anak-Bunda.
#pukpuk untuk Yixing.
"I-iya, Kak Luhan. Bulan depan kan ada HSDC[2], kami lagi latihan keras biar tahun ini pulang bawa gelar juara."
Luhan manggut-manggut. "Iya, Kakak doain ya. Mentok sekolah kita masuk semi-final, ya. Jadi tugas kamu harus bikin tim dance-mu masuk final! Nggak juara satu juga nggak apa-apa, yang penting udah masuk final!."
Yixing tersenyum sebagai ganti ucapan terima kasih.
"Zhang, kami tinggal duluan nggak apa-apa kan?"
"Eh?" Yixing menatap Yifan. Sedikit kecewa sih waktunya sudah habis. Kapan lagi bisa ngobrol berdua sama gebetan lo tanpa gangguan siapapun?
"Saya musti balik, mau ke toko buku dulu sama nemenin cewek absurd ini―" Yifan menunjuk Luhan tepat di dahi gadis itu. "―nyari DVD film."
"Yang nawarin siapa pas gue mau bilang belum mau pulang dulu buat nyari DVD film."
"Kan nggak baik cewek pualng malem-malem, Lu."
"Ya kan gue jago bela diri. Gue punya semprotan merica. Lo tenang aja."
"Dibilangin ngeyel."
"Biar."
Yixing yang denger obrolan mereka rasanya kok….
…―nyesek ya? Kayak ada bunyi imajinatif kretek-kretek gitu.
Bahkan sampai Paklik Ashar sudah selesai beres-beres, Yixing masih bergeming di tempatnya.
.
.
Kayaknya dia harus mulai strateginya lebih cepat dari perkiraan.
** She Make Me Going Crazy! **
Joonmyeon menyapukan pandangannya di seluruh penjuru wilayah Kantin Bersama. berharap ada gadis yang sedari tadi dicarinya ―dan didambakannya, tentu saja.
"Joonmyeon-ssi!" seruan itu memanggil Joonmyeon.
Nah kan dibilangin juga apa. Rejeki anak sholeh mah begini. Dapet senyuman manis cewek primadona dari kelas Akuntansi.
Joonmyeon melambaikan tangannya singkat sebagai jawaban, lalu berjalan sok fotogenik ala model catwalk. Jangan lupa pasang senyum sejuta watt didepan cewek incarannya beserta teman-temannya. Kan ada pepatah yang bilang; 'Kalo udah dapat restu temennya, jalan buat dapatin hatinya si dia makin terbuka lebar'.
Cowok Kim ini mengambil tempat duduk tepat di depan Irene. "Hai. Lama nunggu ya?" sekedar basa-basi. Walaupun sebenarnya jantungnya Joonmyeon dag-dig-dug-serrr.
"Nggak kok. Kami juga lagi nunggu Minho juga buat bahas tugas T.A lo itu." fyi, Minho itu Ketua Klub PPA.
Beberapa detik mulai terasa kecanggungan mendominasi. Baik Joonmyeon, Irene dan Seohyun –teman Irene– masih belum membuka obrolan sampai Irene memilih mengalah dengan membuka mulutnya lebih dulu.
"So... selagi kita nunggu, bisa jelasin singkat konsep T.A lo?"
"Ah, ya." Joonmyeon gelagapan. Yang tadinya duduk lemes gara-gara duduk bareng si pujaan hati, bikin Joonmyeon bak susu kental manis. Manis lho ya, bukan asin. Kalo salah baca jadi asin, berarti otak anda sekalian saja yang udah kronis tingkat dewa.
"J-ja…jadi gini," niatnya pengen nunjukkin rangkaian bab yang dia susun dan ngejelasin singkat, saking gugupnya tangan Joonmyeon nggak sengaja menyenggol gelas jus milik Irene yang –entah kenapa– posisinya di dekat lengan Joonmyeon.
Sudah dipastikan. Jus itu tumpah mengenai rok Irene.
Untung jadwalnya pakai rok hitam. Seenggaknya noda kotor dari jus nggak terlalu kentara terlihat.
"Ya ampun!" Seohyun, teman Irene, langsung terlonjak dan sigap mengambil tisu serta saputangan.
Joonmyeon gelagapan. Tampangnya mirip Oom yang ketahuan abis grepe-grepe cewek sekolahan.
Duh, Mas. Jaga komuk dong di depan pujaan.
"Ma-maaf, Irene!" Joonmyeon langsung nyambar saputangan, niatnya mau bantu Seohyun juga yang bersihiin noda jus di rok-nya Irene, tapi…
.
"Myeon, biar Seohyun aja yang bantu gue." ujar Irene sambal pasang senyum 'harap maklum'.
.
Joonmyeon bergeming.
Begini-gini Joonmyeon penuh dengan modusan. Yah, gagal deh. Padahal
Cowok berkacamata ini duduk perlahan di bangkunya. Untunglah nggak lama Minho datang. Mari berucap syukur hamdallah, Joonmyeon nggak perlu terjebak suasana canggung yang penuh kesempatan modus.
"Gue lama ya? Haha, sori. Gue ke Ruang Guru duluan buat nemuin Pak Rahmat. Biasa; minta konsultasi buat T.A."
Choi Minho. XII TKJ-2. Cowok yang satu spesies sama Chanyeol dan Yifan. Bikin Joonmyeon minder tinggi badan.
"Lo kenapa, Ren?" heran Minho yang baru datang menemukan Irene dan Seohyun yang masih sibuk bersihin tumpahan jus di rok-nya.
"Ketumpahan jus tadi." jawab singkat Irene. Mata cewek itu melirik singkat ke arah Joonmyeon. Dasarnya emang Joonmyeon nggak biasa ditatap intens begitu sama cewek, alhasil Joonmyeon mengalihkan arah pandangannya. "Gue cabut ke toilet dulu deh. Yuk, Seo." alhasil Irene sama Seohyun ke toilet sebentar. Ya kali mau bersihin rok di depan cowok.
Joonmyeon emang nggak pekaan.
Padahal udah dikode begitu. Seenggaknya ngomong kek, 'Iya tadi gue numpahin jus ke rok-nya Irene. Maaf ya, Ren.'eh malah sok cuek pura-pura tak berdosa.
Sayang, gantengnya a-la boyben tapi cuek banget, gagal paham kode.
Pantes dari masih embrio sampai sekarang statusnya tetep jomblo.
"Joonmyeon-ssi," panggil Minho setelah menghilangnya dua cewek tadi.
"Ya?"
"Bisa jelasin singkat nggak tentang program lo?"
"Ah, iya." Joonmyeon membuka buku notesnya. Menjelaskan rinci tentang poin-poin yang ditulisnya dan menjawab pertanyaan dari Minho. Semua proses presentasi singkat Joonmyeon ke Minho cukup sukses. Bahkan presentasi singkat itu membuat Irene (yang baru kembali ke toilet bareng Seohyun) menyetujui program tersebut.
"Oke, semua program lo jelas dan nggak merugikan kedua belah pihak. Yah, mungkin bisa diterima." final, Minho sudah memutuskan.
Joonmyeon tersenyum lebar. Sempatkan ia melirik Irene yang juga sedang menatapnya dengan senyuman tipis. Mulut cewek itu bergerak tanpa suara, tapi Joonmyeon dengan jelas menangkap maksud Irene; 'Chukkae – Selamat.'
Minho mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, sebagai basa-basi bukti kalau kontrak ini disetujui bersama. Cowok Kim ini dengan senang hati mengulurkan tangannya membalaas jabat tangan sebelum akhirnya seragam bagian lengannya tertarik hingga tak sengaja menepis jabatan tangan Minho.
Semua mata tertuju pada si pelaku.
Dan Joonmyeon bersumpah akan memaki tanpa peduli siapa yang ia lawan dan―
"Maaf, Kak. Saya ada perlu sebentar sama Kak Joonmyeon. Boleh kami ngobrol berdua lebih dulu?"
.
―itu Zhang Yixing.
.
Iya, cewek sinting itu lho. Yang nantangin Joonmyeon.
Ingin rasanya Joonmyeon berteriak djantjoek di depan cewek sinting ini.
.
.
xx
.
.
"Yang bener aja, lo, Xing! Jangan labil sama keputusan lo. Lo yang nantang lo juga yang ngebatalin." oceh Baekhyun saat Yixing terburu-buru menyusuri lorong menuju Kantin Bersama. Sabodo sama ocehannya Baekhyun dan tatapan pensaran murid lainnya.
"Lo dengerin gue nggak sih?!"
"Gue amat menghargai; tapi ini keputusan gue yang ngejalanin jadi bisa bisu sebentar dulu mulutnya? Gue nggak mood denger ocehan!"
Yixing udah merencakan ini sejak dulu. Ia berhasil memancing Joonmyeon dengan umpan yang tidak diduga. Tanpa usaha untuk mendapatkan umpan, Joonmyeon sendiri yang mendekatinya dan Luhan dengan senang hati membeberkan umpan.
Hap! Joonmyeon terpancing dengan umpannya untuk masuk jebakan.
Ia kira hanya menjalani skenario semestinya.
Bahwa Joonmyeon kalah. Dan keinginan Yixing cuma minta bantuan Joonmyeon untuk bisa lebih dekat dengan Yifan. Seenggaknya biarkan Yifan mengenalnya lebih jauh agar tidak terasa canggung jika suatu saat Yixing berani membeberkan perasaannya pada cowok bermarga Wu itu.
Tapi kejadian kemarin sore membuatnya bergerak lebih cepat. Semalaman Yixing memikirkan rencana cadangan. Bahkan dirinya merelakan tidur hanya 3 jam semalam.
Begitu ia sampai di bagian depan Kantin Bersama, matanya menelusuri tiap keberadaan kakak kelasnya satu itu.
Akh! Itu Joonmyeon, si introvert kelas kakap!
Dengan… Choi Minho –si ketua Klub PPA?
Yixing memincingkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa cewek yang duduk di depan si Introvert kelas kakap itu.
Oh! Irene Bae –sekretaris OSIS sekaligus aktivis di Klub PPA!
Yixing memutar otaknya cepat. Ketua klub PPA dan aktivisnya…
Cewek asal Changsa ini sedikit tersentak mengetahui hasil dari analisisnya. Apalagi pas ngelihat Minho menyodorkan jabatannya untuk tanda resmi mereka sudah bekerja sama.
Nggak bisa dibiarin.
"…Xing?! ZHANG YIXING!" Baekhyun berteriak memanggil Yixing yang sudah berlari cepat menuju ke arah meja Joonmyeon dan antek-antek PPA, meninggalkan cewek Byun itu terbengong sendirian di bagian depan Kntin Bersama.
Tolong, jangan dulu!
Grep!
Yixing mengambil nafas sebanyak mungkin ketika tangannya berhasil menghalangi Joonmyeon untuk berjabat tangan dengan Minho.
Ia tahu semua pasang mata di meja tersebut memandangnya heran sekaligus kaget. terutama Joonmyeon yang sudah melotot tak percaya.
"Maaf, Kak. Saya ada perlu sebentar sama Kak Joonmyeon. Boleh kami ngobrol berdua lebih dulu?" Yixing menatap penuh mohon ke arah Minho.
Minho yang masih kaget dengan aksi kecil tapi nekat dari Yixing pun tersadar. Dia mengangguk singkat. "Silakan, kalau kalian pengen ngobrol privasi di meja ini, kami bisa mengungsi di meja lain."
"Nggak usah, Kak. Saya sama Kak Joonmyeon bisa ngobrol di dekat jendela taman."
Yixing menarik lengan Joonmyeon, kode menyuruhnya untuk berdiri dan mengikuti dirinya. Tapi Joonmyeon keukeuh dan keras kepala. Yixing memberikan pelototan paling pedas pun tak menggoyahkan keras kepalanya Joonmyeon.
Sorry not sorry, Yixing harus menendang tulang kering Joonmyeon hingga cowok itu mengaduh kesakitan.
Lagi, beberapa pasnag mata di meja itu menatapnya curiga dan Yixing cuma bisa memberikan senyum sepolos dan semurni mungkin. Dan akhirnya Joonmyeon menyerah. Dia bangkitdari duduknya dan rela ditarik Yixing menjauh dari meja menuju jendela kantin yang berbatasan langsung dengan lapangan parkir.
"Heh! Denger ya," Joonmyeon menghempaskan cengkraman Yixing. Dan menuding Yixing tepat di depan hidungnya.
"… tadi gue baru aja mau kerjasama sama Klub PPA. Beberapa detik yang lalu gue hampir melewati garis finish. Lo pasti nggak terima ya kalo lo kalah dari gue, huh?! Nggak ikhlas?! Nyesel udah bikin taruhan itu?!"
Yixing menelan ludah. Belum ngomong apa-apa udah dituduh begitu.
Dasar cowok narsis, introvert kelas kakap, kepalanya batu pula! Gitu ngejekin Yixing cewek sinting. Justru sekarang ini Joonmyeon jauh keliatan kayak orang yang nggak waras.
"Saya nggak nyesel bikin taruhan itu. Saya juga bisa bersikap fair. Ini dalam keadaan emergency. Jadi saya harus batalin taruhan itu dan nawarin Kak Joonmyeon kontrak kerjasama yang menguntungkan." Yixing membela diri.
"Tunggu…tunggu dulu! Apa lo kata? Batalin?" nada Joonmyeon meninggi di kata akhir kalimat.
"Hahaha!" Joonmyeon tertawa sinis dan berkacak pinggang. "Lihat siapa oknum yang nggak bertanggung jawab. Seenaknya bikin, seenaknya juga batalin. Emang dunia berpusat cuma diri lo aja?!"
Yixing gelagapan, bingung mau ngejelasinnya gimana.
"Bisa nggak sih Kak Joonmyeon biarin saya jelasin dulu alasannya baru saya persilakan Kak Joonmyeon maki saya sepuasnya. Saya emang berlumuran dosa, Kak Joonmyeon yang masih suci."
Joonmyeon mengurut pangkal hidungnya. Duh, masih sempet-sempetnya ngeplesetin lirik lagu.
"Lo nggak tahu sih harga diri gue pas lo nantangin taruhan konyol. Lo cewek ter-sinting yang pernah gue temuin!"
"Saya nawarin kontrak kerjasama. Taruhan batal. Saya bisa bantu Kak Joonmyeon, saya beri ijin meliput Klub Dance. Syaratnya, kak Joonmyeon harus bantu saya."
Joonmyeon terdiam sesaat. "gue harus bantu lo? Nggak, terima kasih. Mending gue milih Klub PPA yang nggak ngasih syarat apapun kecuali keputusan bersama."
"Eits!" Yixing menahan gerakan Joonmyeon untuk berbalik menuju meja ketua Klub PPA.
"Selain ijin meliput Klub, apa yang Kak Joonmyeon mau?"
"Sebutin dulu, syarat apa yang harus gue lakuin. Baru gue pertimbangin."
"Itu…" Yixing menggantungkan perkataannya, matanya melirik sana-sini, menggigit bibir bawahnya cemas sedang otaknya berpikir cepat untuk mencari alasan yang logis.
"…umm, pokoknya, ini menyangkut… Kak Yifan."
Joonmyeon mengerutkan alisnya masih bingung mencerna perkataan Yixing.
Tentang Yifan? Sahabat dekatnya?
"…Yifan? Kenapa sama Yifan?"
Yixing gelagapan. "Oke. Ijin saya dan juga saya bakal ngelakuin apa aja yang kak Joonmyeon mau asalkan nggak merugikan saya atau pihak lain. Deal?!" Yixing mengulurkan tangan sebagai bentuk jabat tangan.
Yifan…? Jangan bilang cewek sinting ini―
.
"Kak Minho, Kak Irene. Mohon maaf sekali kalau saya dibilang lancang. Sebelumnya Kak Joonmyeon minta Klub Dance tapi saya tolak. Saat ini saya butuh banget kerjasama Kak Joonmyeon dan mohon maaf sekali lagi kalau Kak Joonmyeon nggak bisa kerjasama dengan Klub PPA. Ini murni sikap plin-plan saya."
… Joonmyeon belum ngomong setuju atau nggaknya malah Yixing duluan menghadapan ke Minho selagi cowok Kim ini berpikir.
.
Minho, Irene serta Seohyun menatap bingung antara Joonmyeon dan Yixing.
"O-oke deh. Saya maklumi kali ini, tapi untuk berikutnya kami nggak bakal terima tawaran lagi lho." perjelas Minho.
Joonmyeon menggeram tertahan.
Dasar cewek sinting sialan.
"Terima kasih pengertiannya, Kak Minho dan yang lainnya. Saya dan Kak Joonmyeon pamit dulu."
Lagi. Yixing menarik lengan seragam Joonmyeon bermaksud untuk mengikuti langkah cewek itu kemana. Mengabaikan Baekhyun yang juga ikut mengekor di belakang mereka.
Entah dibawa kemana, seingat Joonmyeon lorong timur gedung sekolah diperuntukkan ruang-ruang klub. Sampai ketika Yixing membuka pintu salah satu ruang Klub.
"Semuanya tolong keluar dulu dong. Gue butuh ruangan ini lima belas menit aja." Yixing berseru kepada seisi penghuni ruangan yang didekor memiliki banyak kaca raksasa di keempat dindingnya.
Hingga semuanya sudah keluar dan Yixing mengunci pintu ruangan, dan Joonmyeon sudah bersabar untuk tidak langsung mengamuk di depan cewek sinting ini.
"Mau lo apa sih?" nada suara Joonmyeon rendah, kelihatan sekali dia menahan amarahnya.
"Saya punya permintaan. Ini mengenai Kak Yifan."
"Tolong ngomong tuh yang jelas. Saya bukan tumbuhan Putri Malu yang peka rangsangan."
"Duh," Yixing facepalm. Mukanya merah. Agaknya dia salah ngerti maksud dari kata-kata Joonmyeon.
"Iya, ini tentang Kak Yifan. Saya minta tolong dengan sangat supaya Kak Joonmyeon bantuin saya pedekate ke Kak Yifan."
Pipinya Yixing agak kemerahan pas ngaku ke Joonmyeon. Apalagi maniknya bergerak kesana-kemari nggak mau natap langsung ke Joonmyeon skaing malunya.
Duh, kawaii~~
… dan abis itu Joonmyeon menampar dirinya sendiri secara imajinatif abis memuji Yixing kawaii. Ah, ingat ya repuasinya cewek itu.
Cewek Sinting.
"Jadi lo… naksir Yifan?" kaget Joonmyeon.
Kagetnya telat, sumpah. Soalnya sibuk nampar diri sendiri abis muji Yixing kawaii.
Yixing mengangguk.
"Wu Yifan? Kris Wu? XII MM-2?"
"Iya."
Joonmyeon speechless.
Harusnya dia nggak heran. Sobatnya satu itu kan bak fotomodel yang keluar dari majalah sampul. Perfecto. Apalagi kalau udah tebar pesona, langsung bikin anak gadis bunting di tempat.
Berlebihan. Tapi kenyataannya begitu. Untung aja nggak ada fans labil yang suka neror Yifan kek di sinetron maupun novel atau fanfic.
Jadi alasan Chanyeol patah hati gara-gara cewek sinting ini karena… Yifan?
Chanyeol udah tahu dari awal, begitu? Joonmyeon sekarang tahu pertanyaannya tahun lalu kenapa Yixing menolak Chanyeol dan kemarahan Chanyeol ke Yifan tanpa sebab selama dua bulan.
Alasannya satu: cewek sinting ini.
"Kak Joonmyeon?!" guncangan pelana di lengannya oleh Yixing menyadarkan Joonmyeon kembali ke daratan. Pandangan cemas dan penuh harap dari Yixing adalah momen langka yang dilihatnya dari cewk sassy dan sinting.
Kepala Joonmyeon mendadak berdenyut ngilu.
'Yixing.'
'Yifan.'
'Chanyeol.'
'… Luhan?'
"…. –Joonmyeon?! Kak Joonmyeon nggak apa-apa?"
Joonmyeon bisa saja nolak permintaan Yixing. Persetan sama film Dokumenter; Joonmyeon bisa konsultasi minta ganti tema! Posisinya bener-bener awas kalau dia sampai mengiyakan permintaan konyol Yixing.
Tapi mengingat kejadian tahun lalu dan semuanya berakar pada Yixing, membuat hati Joonmyeon disusupi bisikan jahat Iblis.
.
.
"Oke. Gue mau bantuin lo. Syarat gue bakal menyusul. Pokoknya lo udah mengikat kontrak ke gue. Dan lo nggak bisa bilang ke siapapun kontrak ini."
.
.
Cewek ini; Zhang Yixing.
Cewek sassy. Sinting, udah mendarah daging. Baru-baru ini diketahui lagi sosoknya sebagai biang masalah untuk tahun lalu.
Dan posisi cewek ini bisa jadi bom waktu kalau sampai Yixing melakukan tindakan.
Untungnya, tindakan Yixing terencana. Itu lebih baik daripada spontan.
Sayangnya (―atau sialnya), Yixing membeberkan rencana itu kepada serigala berbulu domba. Seseorang yang tidak bisa membiarkan cewek itu melaksanakan rencananya –atau minimal rencananya tersampaikan pada Sang Tujuan si Gadis Berkeruung Merah.
Sang tujuan si Gadis Berkerudung Merah ― si Nenek yang bisa diterjemahkan sebagai Wu Yifan.
Yixing hanya cewek polos yang mengharpkan bantuan kepada sang Serigala tanpa mengenal seluk beluk hitamnya. Sama seperti gadis Berkerudung Merah yang membeberkan letak rumah Neneknya hingga sang Serigala dapat menyusun rencana keji.
.
.
"Wah, makasih ya, Kak Joonmyeon! Saya bener-bener berterima kasih sama Kak Joonmyeon!"
.
.
Manik itu berkilauan seperti planet Venus di pagi buta. Jiwa Yixing masih putih, mungkin sedikit warna abu-abu dan krem. Tidak Joonmyeon temukan warna hitam. Yixing itu cewek polos yang berlindung pada sifatnya yang sinting sebagai tameng.
.
.
xx
.
.
Dan jika memang sang Serigala melancarkan aksi jahatnya, sudah dipastikan bukan Nenekya yang Gadis Berkerudung Merah temui di pondok sang Nenek; melainkan Serigala yang menyamar sebagai Nenek dan siap membuat Gadis Berkerudung Merah menjerit ngeri.
** She Make Me Going Crazy! **
Joonmyeon berbaring terlentang memandangi langit kamarnya. Pikirannya masih terbayang kejadian siang tadi di sekolah.
Bukan agak merasa bersalah –dia merasa bersalah banget malah.
Tapi salah satu sisi dirinya merasa marah sama cewek sinting itu.
Chanyeol dan Yifan yang berseteru selama dua bulan. Mungkin waktu itu mereka terlihat seperti biasanya –berempat, dengan Luhan. Tapi tidak ada yang tahu telah terjadi ombak.
Luhan dan Joonmyeon hanya jadi penonton. Bahkan waktu tanding basket berdarah di lapangan umum di Taman Apsari. Luhan yang kala itu juga ada di tempat kejadian, tubuhnya ikut terluka akibat mencoba melerai dua anak Adam itu. Joonmyeon pun sama mendapatkan memar dan luka, lebih parah daripada Luhan yang notabene-nya cewek.
Kenapa Chanyeol nggak ngomong aja kalau Yixing lebih milih Yifan ketimbang dirinya?
Kenapa juga Yifan dan Luhan harus dijebak masa lalu dan tidak mau mencoba berdamai?
Kenapa juga Joonmyeon yang menghukum Yixing, menjadikan cewek itu tersangka utama kalau ditilik semuanya juga berkontribusi membuat keadaan semakin runyam?!
Joonmyeon mendesah berat.
Dia bangkit dari rebahannya. Mengambil asal jaket dan memasukkan konsol game, laptop dan perlengkapan untuk gamers lainnya di dalam tasnya.
Tangannya gesit mengambil ponsel yang tergeletak di lantai. Jemarinya lincah mengetuk-ngetuk layar ponsel sebelum menempelkannya didekat telinga.
"... Fan? Mumpung malam Sabtu nih, besok nggak ada ekstra apa-apa. Gue ke rumah lo ya? Tanding games, nginep sekalian."
.
.
xx
.
.
Yixing nggak menyangka semudah itu membujuk Joonmyeon. Dia kira mungkin si Introvert kelas kakap itu bakal ngamuk-ngamuk dan nggak mau kenal Yixing lagi.
Harusnya Yixing bersyukur kan sudah diberi kemudahan seperti itu?!
Tapi tetap aja dia merasa ada yang aneh. Apa Joonmyeon merencanakan sesuatu ya?
Pikiran yang selintas terbesit itu ia buang jauh-jauh. Mana mungkin. Joonmyeon kelihatan banget kok ingin membantunya. Yixing nggak perlu negative thinking begitu.
Dia menghabiskan sisa air di botol tumblr-nya. Kembali bangkit menuju tape recorder. Menekan tombol play dan kembali menari sepanjang malam sampai subuh hadir kembali tak peduli tubuhnya remuk dan keirngatnya sudah mencapai satu ember.
.
.
xx
.
.
|| bersambung ke :
'Part IIb: Bukan Mutualisme, tapi Menghancurkan Salah Satunya' ||
[1] Paklik: Oom / Mamang
[2] HSDC: High School Dance Competion. Ini kontes cuma karangan gue aja.
PPA: Pelajar Pecinta Alam
.
.
A/N: Umm… hai? Aduh, ampun jangan gebukin saya.
Makin kesini humor-nya makin minim. Recehannya malah garing. Abis itu konfliknya kayak sinetron. Huks, emang akunya tukang PHP. Nggak konsisten. Apaan bikin ff selalu melenceng temanya. Otakku emang lagi miring.
Chap II ini emang sengaja aku bagi dua. Soalnya pas ngetik 2/3, words-nya udah nyampe 7k+. Yaudah deh dengan terpaksa aku emang bagi jadi dua aja kalo gitu mah.
Mumpung masih suasana tahun baru nih ya, Happy New Year. Semoga Mommy dan Daddy-nya EXO ini makin banyak moment, makin mesra, makin asdfghjkl, bisa saingan sama ChanBaek mengenai PDA. Say amen.
