"WOI, Xing!" Jongdae berseru tepat di telinga Yixing. Jadi berdengung. Tapi itu mampu membuat Yixing sadar seketika.

"Dih! Gausah tereak juga bisa kali. Iya gue tahu suara lo cetar. Liat nih, telinga gue sampai basah; iyyuh." Yixing menyambar tissue di bangku kantin tempat mereka duduk.

"Lo ngelamun. Awas kalo ngelamun jorok." Jongin menimpali.

"Sori, gue bukan Dewa Mesumers ke elo."

"Ribut wae," decak Baekhyun. "Tuh!" Baekhyun memaksa kepala Yixing menghadap arah jam dua. Di bangku sana ada Wu Yifan.

Oh, tidak sendirian kok. Tentu bersama si mantan ketua Klub Dance yang cantik dan seorang gamers juga ―Xi Luhan.

Yixing gondok. Momen itu juga yang bikin pikirannya berkelana ke dua tahun sebelumnya.

"Udah tahu. Nggak usah diingetin. Sengaja ya bikin hati gue kretek-kretek?!"

"Emang." kompak mereka bertiga.

"Dih, jahat amat sama cewek cantiq," Yixing menusuk pentol baksonya. "…tapi tenang aja, gais. Gue harap rencana gue bakal mulus."

.

.

Oalah Yixing. Dia kan belum tahu akal bulus jahatnya Joonmyeon.


"She Make Me Going Crazy!"

Kim Joonmyeon/Suho EXO | Zhang Yixing/Lay!GS EXO

Friendship | Romance | Humor (bagi mereka yang menangkap humor disini ya)

Rated: T+ | Lenght: Chaptered

#Disclaimer: Hanya meminjam nama. Sepenuhnya mereka milik Tuhan dan keluarga masing-masing. Ide, dan jalan cerita fanfic ini milik ©Hwang0203

Warn: GS!Uke ; WASPADA BAHASA NON BAKU/ BAHASA GAWL ; Indo!AU ; udah aku peringatin ya, pake capslock lho kalo bahasanya aneh, anak gawl, jadi kalo bagi yang dari awal udah gak sreg baca silakan klik tombol close. HUMOR-NYA RECEH, HUMORNYA NGGAK BANGET.

.

.

Disadur dari kisah nyata dengan banyak bumbu penyedap

P.S: Dibaca saat waktu luang dan tidak dalam kondisi mengantuk. 7k+ words lho.

and please read my footnote. Thx

Recommend Song:

Queen – Crazy Little Thing Called Love

Slow Club - Beginners

.

.


Part IIb : Bukan Mutualisme, tapi Menghancurkan Salah Satunya


Joonmyeon gila. Ah, mungkin sedikit terkontaminasi kesintingan Yixing.

Disinilah cowok bermarga Kim; duduk di salah satu sudut ruang Klub Dance dengan kamera di tangan. Dia mau ngerekam anak-anak latihan tanpa merasa haus diperhatikan. Biar interaksi dan olah gerak mereka alami didepan kamera gitu lho.

Cowok ini melirik ke arah Yixing yang duduk tidak jauh dari Joonmyeon.

"Emang kalian tiap latihan begini ya?"

Yixing yang sadar pertanyaan langsung mengangguk mengiyakan. "Iya, Kak. Jadi kalo tiap ada kompetisi yang mewakili bakal berlatih di sebelah sana." Yixing menunjuk Jongin dan Sehun yang tengah berlatih. "…sisanya bakal belajar disana atau mereka tengah bikin koreo jadi sewaktu-waktu kalau ada kompetisi di waktu dekat mereka punya cadangan."

Joonmyeon mengangguk paham. Padahal Yixing udah berharap banget kalau Joonmyeon bakal ngomongin rencananya PDKT sama Yifan.

"Anoo, Kak Joonmyeon…" Yixing mendadak grogi.

"Apa?"

Yixing masih diam.

Joonmyeon mengerutkan alisnya.

"Zhang…?"

"…."

"Oy, mulutnya bisa di volume dikit?!"

"Galak ih. Anjing aja bisa ramah, situ manusia belum ada disenggol udah nyalak duluan."

"Tadi bilang apa? Yang kenceng dong."

"Nggak," Yixing buru-buru menggeleng. "Tadi ada gajah terbang. Bagus banget. Sayapnya warna-warni."

Joonmyeon menggeleng pelan. Agaknya masih merasa prihatin atas kesintingan Yixing. Daripada ngurusin cewek sinting ini lah mending dia lanjut ngerekam. Tapi sebelum itu, perutnya mendadak lapar. Tenggorokannya ikutan haus.

"Yo, Zhang."

"Ya Kak?"

"Tolong dong ke kantin. Beliin Spaghetti pakai bumbu Curry-nya sedikit aja. Oh, tambahin sayur Lasagna dan Udon tepung goreng dong. Sekalian minumannya Iced Lemon Tea ya."

Yixing gondok. Sumpah ngadepin orang introvert kelas kakap sama sombongnya tingkat overdosis tuh pengen terjunin dia dari lantai 103. Kok kzl ya.

"Kak Joon. Bilang aja mau pesen mi kari kuahnya dikit aja sama selada dan peyek. Minumnya Teh Siri yang rasa lemon kan."

Standing applause! Akhirnya ada yang bisa ngertiin Bahasa holkay. Eh tapi Yixing kan cewek sinting. Ogah lah Joonmyeon yang cerdas, bersahaja dan sejahtera disamain rakjel kismin sinting begitu.

"Buruan deh."

Yixing memiringkan kepalanya sedikit. "Duitnya?"

"Nih, kalo kamu mau beli juga gih beliin juga sama anak-anak klub." dengan santainya Joonmyeon memberikan credit card-nya.

Wow. Warnanya item, bruh.

Entah Yixing yang bego, polos, atau malah keduanya; dia malah balikin kartu itu ke tangan Joonmyeon.

"Kakak gila ya? Bisa-bisa saya disalto sama ibu kantin. Bayar kok pake kartu main TaimZun."

Joonmyeon facepalm. Dia ngerebut kembali kartunya dan menunjukkan secara terang-terangan.

"Kamu tahu kartu kredit gak?"

Yixing berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Tahu. Yang digesek itu kan? Yang akhir bulan bakal ada tagihannya."

"Nah itu udah paham. Jadi tahu dong kartu ini apa?"

"Tahu. Kartu buat main di TaimZun."

Joonmyeon greget. Jadi dia langsung tepokin kartunya ke jidat Yixing. Sampai cewek itu terhuyung sedikit ke belakang.

"Banyak bacot sama kamu. Cepet pergi sana. Ke Warungnya Mak Jah. Bilang aja Joonmyeon yang nyuruh, ntaran juga Mak Jah ngerti. Jangan lupa mintain struk-nya."

Yixing pergi tanpa banyak komentar walaupun bibirnya udah monyong ngucapin sumpah serapah buat kakak kelasnya satu ini.

Yah, setidaknya Joonmyeon bisa sedikit berpikir jernih kalo adik kelasnya yang sinting itu hilang dari pandangannya sejenak.

.

.

Yixing membatin. Maksudnya, masih aja memaki Joonmyeon dalam hati. Selagi nunggu pesanan datang, Yixing duduk di salah satu bangku dan menyeruput susu Ultracusu (mumpung bayarnya pake kartunya Kak Joonmyeon kok).

Matanya jeli menangkap sosok Yifan berdiri tak jauh dari arah barat Kantin Bersama. Kayaknya si doi lagi nyari bangku kosong. Padahal nih ya, banyak kok bangku yang nggak terisi penuh.

Eh tapi sayang isinya cewek semua. Yifan masih sayang nafas kalau duduk di deket para cewek kurang waras (re: fans fanatiknya).

Tentu saja Yixing tak bisa melewatkan kesempatan ini.

"KAK YIFAAANN!" teriaknya membahana. Mana sambil lambai tangan pula; norak ih.

Iya, tahu deh Xing yang pernah juara tiga suara cetar. Gausah pamer begitu di depan doi.

Anehnya, Yifan nggak ngerasa risih. Terutama cewek yang jelas fans-nya si Yifan semuaya memandang iri sekaligus sebal kepada Yixing. Cowok tinggi itu balas lambaian Yixing dan bejalan menuju bangkunya Yixing.

"Tumben lagi di Kantin Bersama, Zhang. Kirain cuma bisa nongkrong di Kantin Angkatanmu aja." Yifan memulai pembicaraan.

"Hehehe, iya. Lagi disuruh Kak Joonmyeon beli makanan, sekalian juga beliin anak-anak yang lain."

Yifan bingung. Dia memperbaiki posisinya agar lebih nyaman.

"Lho, Joonmyeon jadi ngeliput Klub-mu? Bukan Klub PPA?"

Yixing sebenernya juga bingung. Apa Joonmyeon nggak cerita ke temennya yang lain? Tapi toh, sudahlah. Sudah kena ciprat, basah aja sekalian. Jika ini dijadikan rahasia oleh Joonmyeon dan Yixing terlanjur memicu, dibongkar aja sekalian.

"Kak Joonmyeon belum cerita ya, Kak. Mulai dari beberapa hari yang lalu sih, cuma baru ketemu anak Klub yang lain dan mulai liput ini-itu baru hari ini."

"Kok aneh ya?"

Yixing terkekeh. "Mana tahu? Temen Kak Yifan satu itu emang ga jelas."

Yifan tergelak. Yixing juga.

Duh, gini ya rasanya ketawa bareng doi hanya karena ngomongin hal ringan dan remeh-temeh bagi orang lain.

Ah, iya! Mungkin Joonmyeon sengaja nyuruh Yixing ke kantin jam segini. Kan Joonmyeon temennya Yifan. Hafal pasti dong jam berapa aja Yifan sering nongkrong di kantin. Ah, kalo begini mah Yixing rela-rela aja disuruh jadi babu ke kantin tiap hari.

Asyik melamun, Yixing nggak sadar Yifan sekarang tengah mengetik sesuatu di ponsel entah apa. Lalu bunyi notif Laine yang akrab di telinga berbunyi.

"Oh, sori ya, Zhang. Aku harus ke Lab Komputer MM dulu nih."

"Kok buru-buru?" yahh, gak seru. Baru ngobrol bentar udah main pergi aja.

"Iya nih. Luhan tiba-tiba nge-chat minta bantuan di Lab."

Oh, Kak Luhan ya. Udah biasa, Xing. Mereka kan cuma sahabat baik.

Iya. Sahabatan baik yang bisa bikin Yixing meringis iri akibat momen dan interaksi mereka berdua.

"Yuk, Zhang." Yifan melambaikan singkat dan beranjak dari kursinya. Meninggalkan Yixing sendirian dengan atmosfir suram akibat praduga yang tak pasti.

.

.

Selesai meliput dan sembari menunggu makanannya datang, Joonmyeon sempatkan main game dulu. Semalam dia kalah saing level sama Chanyeol dan Yifan. Dia nggak mau kalah dong.

"Permisi, Kak Joonmyeon."

Oh, itu babu barunya datang. Sambil bawa nampan isinya pesanan Joonmyeon. Bagus deh nggak ketukar pesanan sama nasi karak.

"Lama, amat sih. Belinya di Afrika ya?"

"Iya nih. Pesawatnya tadi keabisan bensin. Mampir di POM dulu. Antirnya panjang, jadi lama."

Plis, deh Xing. Tadi Joonmyeon cuma sarkasme biasa. Kenapa ditanggapi? Garing pula, ih.

"Oy, mana kartu sama struknya?"

Yixing merogoh kantungnya dan mengeluarkan barang sesuai perintah Joonmyeon. "Nih, kak."

Joonmyeon melihat angka-angka yang tercetak di struk-nya. Yang tadinya nyaman, tenang dan menikmati makanan justru malah kesedak.

Nggak elit ih, mie-nya balik lagi ke mangkuk. Holkay kok jorok, ewwh

"Ng-nggak salah nih? Abis seratus tiga puluh ribu lebih?"

Yixing malah melongo. "Lho, emang iya?"

Inget ya, sampai turunan kesembilan pun keluarga Joonmyeon nggak bakal miskin. Pelit juga nggak, Joonmyeon sering bagi-bagi rezeki sama kaum dhuafa dalam bentuk traktiran (yang cuma Chanyeol, Yifan dan Luhan aja. Baru kali ini dia bagi-bagi jamaah). Tapi perkiraan Joonmyeon tuh ya, anak Klub Dance nggak lebih dari lima belas orang, seharusya maksimal habis sekitar lima puluh sampai tujuh puluh ribu lah.

"Kan tadi katanya kak Joonmyeon anak Klub juga dibeliin? Makanya tadi saya beliin sesuai seleranya mereka. Tuh," Yixing menunjuk ke arah anak-anak Klub dan Joonmyeon mengikuti arah pandang.

Ternyata nggak cuma anak Klub; mereka ternyata manggil teman-teman mereka yang lain untuk ikut gabung. Apalagi ada beberapa anak yang minta pesanan double. Mumpung ditraktir, alasannya.

Kamvretos.

"HOI! Bilang makasih dong ke yang udah traktir kalian!" seru Yixing.

Lantas semua orang disana (kecuali Joonmyeon dan Yixing) langsung koor mengucapkan terima kasih.

"TERIMA KASIH KAK JOONMYEON YANG GANTENGZ. DA BEST LAH! SERING-SERING TRAKTIR YAH."

Joonmyeon cuma bisa pasrah. Sabar, ini ujian ―ujian dari Tuhan.

"Err… Kak,"

"Apa?!"

Yixing tersenyum kecil. "Makasih Kak Joonmyeon tepatin janji buat bantu saya lebih dekat sama Kak Yifan."

Dengan mulut penuh mie, Joonmyeon bertanya lagi, "Hah? Apa sih gue kok nggak mudeng."

"Tadi saya ketemu Kak Yifan di kantin. Pasti Kak Joonmyeon sengaja ya nyuruh saya ke Kantin bersama buat ketemu sama Kak Yifan –karena tahu jam segitu Kak Yifan pasti nongkrong di kantin."

Mana mungkin! Malah yang ada Joonmyeon berniat ngancurin perasaan Yixing sampai ludes jadi abu. Tapi kalo yang namanya kebetulan, Joonmyeon bisa apa? Toh udah kejadian.

"Oh, bagus deh." Joonmyeon hanya bisa berkomentar singkat.

"Nggak masalah deh jadi babu Kak Joonmyeon kalo ujung-ujungnya bisa deket sama Kak Yifan."

"Oh, bener nih ya? Awas kalo diralat. Beneran gue jadiin babu, lho."

Begonya cewek satu ini langsung mengiayakn. Mana semangat '45 pula. "IYA! Nggak apa-apa."

Dan Yixing melanjutkan acara makannya yang tertunda. Sedang Joonmyeon berdesis lirih.

.

.

"Dasar cewek sinting yang bego dan lugu."


** She Make Me Going Crazy **


Joonmyeon bersorak ketika skor tim bola yang ia mainkan memenangkan pertandingan. Yifan hanya berdecak kesal lalu melempar stik konsolnya ke arah bantal sofa lalu meraih botol cola.

"Gue denger lo ngeliput Klub-nya si Zhang?"

Cowok bermarga Kim yang kini ganti main games di ponsel hanya merespon cuek. "Hah? Emang. Dia ngomong ke lo ya tadi siang di kantin?"

"Hu'um. Zhang aja cerita, masa lo nggak cerita ke gue."

"Ya ampun. Lo kira kita ini grup cewek yang harus tukar informasi sama gossip sana-sini, hah."

Yifan terkekeh, tapi kembali ke mode serius. "Beneran lho gue seriusan; gue ngerasa ada yang aneh aja sama lo. Nggak biasanya lo kek begini."

Dia jengah. Berhenti bermain games dan menyimak obrolan yang dipicu Yifan.

"Dia sendiri yang nawarin beberapa detik sebelum gue mulai kerjasama dengan Klub PPA. Catat ya, Zhang yang maksa."

Ganti Yifan yang mengerut bingung. "Masa iya? Aneh juga sih. Lo aneh, dia sinting. Satu kesatuan yang melengkapi."

"HEH!" Joonmyeon mendaratkan beberapa butir kacang polong ke arah Yifan. Nggak peduli ntar Mamahnya Yifan bakal ngamuk kamar anaknya, Yifan, bakal kotor dan berantakan. Toh, ini kamar Yifan otomatis itu cowok yang bakal kena amuk; bukan Joonmyeon.

"Hoi, mana nih Chanyeol?! Coba lo aja yang nge-chat dia."

"Lo pikun, Fan? Tadi sebelum pulang sekolah kan speaker pengumuman nyuruh anak-anak OSIS rapat. Gue tebak, Chanyeol jam segini pasti masih kejebak di sekolah."

"Yaudah deh. Gue mau manggil Luhan dulu."

Joonmyeon mendesah pelan. Masih lebih untung Yifan yang tahu. Coba kalau Chanyeol yang denger; mungkin Joonmyeon nggak bisa hidup tenang karena diawasi Chanyeol.

Satu lagi; Joonmyeon masih keukeuh sama rencananya.

.

.

Joonmyeon masih ingat saat itu. Kejadian tanding basket berdarah.

Chanyeol yang emosi kalap menyerang Yifan dengan bola basket sampai cowok blasteran itu lebam di sekujur bagian wajah, tangan dan perut (karena tinju). Luhan dan Joonmyeon pun kena imbasnya karena mencoba melerai mereka.

Yifan masih saja tidak melawan serangan Chanyeol. Tidak juga berkata apapun. Dia hanya diam seolah menikmati serangan tersebut. Bahkan ketika Chanyeol menjauh dari mereka seolah Yifan tidak merasa Chanyeol pernah menjadi bagian persahabatan mereka. Tapi ketika Chanyeol berdiri di depan mereka bertiga dan meminta maaf atas kejadian beberapa minggu lalu, Yifan yang pertama kali memeluk Chanyeol.

Joonmyeon menangkap arti pandangan Yifan, seolah-olah dia tahu apa yang menjadi landasan Chanyeol untuk bertindak senekat itu.

Dan semuanya seolah menyimpan rahasia masing-masing walaupun Joonmyeon sudah melihat jelas.


** She Make Me Going Crazy **


Udah seminggu ini dia ngintilin Klub Dance. Dan selama itu pula Yixing jadi cerewet soal rencana Joonmyeon buat ngedeketin dia sama Yifan. Joonmyeon mag ogah. Jadi di aiming-iming Yixing buat jadi babunya.

Jahat sih. Tapi seru aja gitu ngelihat anjing liar dan sinting mendadak jadi anjing jinak.

Perumpaan yang tidak berprike-Yixing-an emang. Awas Joon gue doain lo jodoh sama Yixing.

Maksud Joonmyeon jadiin Yixing buat babu gitu kayak,

.

"Hoi, beliin es teh marimas dong."

"Tapi, Kak… marimas mana ada yang jual teh."

"Gamau tau. Pokoknya harus dapet. Oh, udah nyerah sama Yifan? Yaudah gue nggak bakal kasih id laine-nya."

"SIAP! Laksanakan!"

.

Ting! Laine

Joon_holkay: Cewek sinting. Tolong dong ambilin contoh makalah T.A kelas tiga di perpus.

Xing-err: Kak Joonmyeon kan punya kaki, punya tangan; kok nyuruh saya?

Joon_holkay: Di kelas gue ada Yifan. Mau nolak rejeki?!

Xing-err: Mau makalah yang judulnya apa, Kak? Mau sekalian buku referensi?

.

"Hoi, Zhang!"

"Kenapa lagi, Kak?"

"Bawain tas kamera dong. Berat nih."

"Saya juga capek, Kak. Jangan samain tenaga cewek kek tenaga Kerbau bajak sawah dong."

"Emang saya nggak nyamain. Cuman kamunya aja yang pantes disamain kek Kebo. Bawa nih."

"Emoh."

"Yifan nungguin tas kameranya di depan gerbang."

"Laksanakan, Kapten!"

.

.

Baekhyun melirik sohibnya yang sedang susah payah membawa tas kamera dengan raut khawatir. Ya gimana enggak. Tas yang udah seperempat dari badan Yixing. Isinya kamera recorder yang biasanya dipake kru broadcasting. Gimana kalo Yixing bawanya nggak hati-hati? Sampe jual rumah pun kayaknya nggak sanggup lunasin.

Dari lebih sekedar itu, Baekhyun takut Yixing kena tipu Kak Joonmyeon.

Sinting begitu Yixing masihlah gadis polos, lugu dan naif. Gampang dibegoin dan pikunan. Sifat sinting itu sebagai perisai supaya orang nggak gampang ngemanfaatin dia.

"Sialan lo. Ini sih namanya lo dikerjain sama Kak Joonmyeon." celutuk Jongdae ngebantu Yixing bawa tas kamera.

Yang disindir malah cengengesan. Baekhyun nggak habis pikir. Yixing ini sebenarnya naksir Yifan atau pindah halauan jadi babunya Kak Joonmyeon?!

"Kan gue udah dibantuin juga. Gue dapet id line Kak Yifan–"

"Dan lo gak dapet balasan apapun. Bisa aja itu akun lama-nya karena dia udah ganti yang baru."

"–gue juga sering ketemu sama Kak Yifan."

"Hell. Tukang sapu sekolah aja udah tahu Kak Joonmyeon deket sama Kak Yifan yang ototmatis dimana ada Kak Joonmyeon pasti ada Kak Yifan, Kak Luhan sama Kak Chanyeol."

"Muka Kotak mending puasa bicara dulu ya. Lama-lama tas kamera ini gue sumpelin baru nyaho."

"Ya silahkan. Biaya ganti kamera lo yang tanggung."

"Syieth."

Baekhyun menghela nafas. Yixing emang nggak bisa dikasih tahu.


** She Make Me Going Crazy **


Joonmyeon menggerutu. Kenapa dia bisa bego banget sih tripod-nya ketinggalan di ruang Klub Dance? Untung juga masih sempet keburu, kalo nggak Joonmyeon udah ngerencanain bakal lewat pagar belakang sekolah.

"Assalamualaikum, Pak Nur. Ruangan Klub masih belum dikunci kan?"

"Walaikumsalam. Eh, Nak Joonmyeon. Ruang Klub yang mana dulu nih? Ada yang Bapak kunci ada yang belum sesuai pesanan."

"Ruang Klub Dance Pak."

"Oh," Pak Nur mengangguk-angguk paham. "Tadinya mau Bapak kunci tapi ada cewek yang masih pakai ruangan itu. Emang kenapa toh?"

"Barang saya ada yang ketinggalan disana. Permisi, Pak. Saya cari dulu barangnya."

Cewek sinting mana yang udah hampir malam belum balik dari sekolah? Joonmyeon setengah berlari menuju ruang Klub sambil mikir siapa kira-kira cewek sinting itu.

Begitu ia sampai di ruang Klub, ruangannya cukup gelap. Bahkan Joonmyeon nggak yakin ada kehidupan disini. Ah, sudahlah. Yang penting nyari tripod-nya aja dulu. Seingetnya sih di belakang ruangan, yang biasanya dibuat anak-anak ngumpul kalo selesai latihan.

Baru aja Joonmyeon mau nyari di samping tumpukan majalah, dia denger suara musik. Walaupun dia takut hantu, otaknya lagi positif thinking.

Mana ada hantu yang doyan lagu balad begini ya kan.

Dan kenapa Joonmyeon baru sadar satu lampu di bagian paling depan dekat kaca raksasa itu sedari tadi menyala. Sorotan lampu itu berujung pada sosok cewek yang kelihatannya masih pemansan. Seolah nggak menyadari eksistensi Joonmyeon di bagian paling belakang dan paling gelap.

Lagu tetap berputar. Joonmyeon baru sadar cewek itu Zhang Yixing.

Iya, cewek sinting itu.

Joonmyeon nggak bego amat ya buat ngenalin jenis tari. Ketika tubuh Yixing meliuk, ia tahu itu masuk jenis ballet kontemporer.

.

.

Serius ini bukan Zhang Yixing cewek sinting yang sering Joonmyeon begoin. Sumpah, bukan.

Joonmyeon nampar pipinya secepat kilat.

Hahaha, dia lagi nggak mikir Yixing cantiq sekaligus seksinya elegan kan?!

Sekali lagi Joonmyeon nampar pipinya sampai cap lima jari kelihatan di pipinya yang putih.

.

.

I'm crazy in love, crazy in love.

Salah satu lirik dari lagu Beyonce yang sengaja diaransemen jadi ballad.

Lampu sorot yang hanya menyinari Yixing sebagai pusat perhatian.

Lekuk tubuh indah yang membuat Joonmyeon hampir tidak mempercayai itu adalah Yixing.

.

.

Joonmyeon bukan menikmati keindahan akan apa yang dibawakan Yixing dalam tiap gerak tubuhnya.

Cowok ini seolah merasakan emosi yang ingin disampaikan Yixing. Tubuhnya sedikit gemetar kala Yixing ikut bermain pada ekspresi wajahnya. Seolah Joonmyeon yang berada di posisi itu.

.

.

Manik Joonmyeon terus mengikuti gerak Yixing sampai akhir.

…sampai ketika Yixing menutup emosinya untuk dirinya sendiri.

.

.

Plok! Plok Plok!

.

Yixing menoleh ke belakang dengan kaget. Di ruangan ini hanya dirinya seorang saja. Siapa itu yang berani bertepuk tangan? Apa penampilannya barusan sudah ditonton?

Begitu si orang asing mendekati lampu sorot, barulah Yixing tahu siapa pelakunya.

"Kak Joonmyeon?!"

.

.

xx

.

.

Yixing menghabiskan sisa eskrim di mangkuknya. Barulah Joonmyeon datang dengan dua cup mie ramen, satu botol mini kopi dingin dan satu botol air mineral.

"Makasih, Kak." ucapnya ketika Joonmyeon menyodorkan satu cup ramen dan satu botol air mineral itu untuknya.

"Lagian malem-malem begitu masih di sekolah. Apa orangtuamu nggak khawatir? Minimal ngabarin temen lah"

Eitss. Joonmyeon nggak khawatir lho ya. Dia cuma… ya begini aja deh, Yixing kan cewek, Joonmyeon kan cowok. Dia juga yang terakhir kali ketemu Yixing hari ini. Kalo ada apa-apanya, kan Joonmyeon yang disalahin.

"Udah bilang ke Mamah, katanya oke. Udah biasa lagi aku pulang malam gara-gara latihan efektif. Udah nggak sekali-dua kali ini kok."

Gila ini cewek. Perasaan Joonmyeon baru ngasih cup mie ramen belum ada lima menit, tapi nih cewek langsung tandas.

"Kak Joonmyeon mau pulang sekarang? Naik angkot apa?"

Joonmyeon menggeleng pelan. "Nggak naik angkot."

Yixing manggut-manggut. "Oh, jadi naik bis kota?"

Maunya Joonmyeon sih bantah. Tapi dia jadi inget nasihat Mamah kalo mereka nggak boleh sombong karena mereka beruang. "Iya."

Cewek bermarga Zhang itu bertepuk tangan kecil. "Berarti sama dong ya. Saya kalo mau nyegat angkot juga deket halte. Buruan deh, Kak, angkot terkahir kurang sejam lagi. Saya nggak mau resiko pulang terlalu malem."

Joonmyeon mengerutkan keningnya sebentar.

…siapa sebelumnya merengek mampir ke minimarket dulu buat beli ganjelan perut biar nggak laper?

Rasnaya Joonmyeon nyesel udah nurut apa kata Yixing.

Halte dari minimarket dan sekolah masih berjarak 300 meter lagi. Cukup jauh memang. Apalagi mereka menelusuri pinggiran jalanan jantung kota. Otomatis trotoar jam segini juga ramai pejalan kaki. Entah itu karyawan kantoran yang selesai lembur, atau remaja seusia mereka yang lagi keluyuran, atau juag tujuan nggak jelas selain pulang seperti mereka berdua.

"Kak Joonmyeon," Yixing memanggil setelah perjalanan mereka diselimuti hening.

"Hm?" Joonmyeon menyahut singkat dan cuek. Cuaca Kota Surabaya cukup dingin dan dia sedang memakai jaket tipis.

"Saya pengen tanya, asal jangan diketawain." Joonmyen mendongak melihat Yixing yang berjalan di depannya. Cewek itu berjalan mundur dnegan menghadap Joonmyeon sebagai pusat pandangan. Cewek itu dengan pedenya tanpa menghiraukan tatapan pejalan kaki yang lain yang menganggap tindakan Yixing itu ceroboh.

Entah kena hasut pelet mana, Joonmyeon malah merasa Yixing…

manis?

Apalagi Yixing pakai jaket kebesaran dan tudungnya hampir menutupi separuh kepala cewek itu. Syal tipis yang dikalungkan di leher membuat mulutnya tertutup.

Senyuman yang tersembunyi di balik syal tipis, semburat merah muda di pipi Yixing yang tak sengaja Joonmyeon tangkap, serta angin yang menghunus kulitnya sampai Joonmyeon tak berkutik.

Untuk sesaat biarkan Joonmyeon merasakan kehangatan kasat mata…

…transformasi keindahaan dari sebuah kesederhanaan yang ia anggap bodoh.

Zhang Yixing benar-benar hebat.

Butuh berbulan-bulan membuat Joonmyeon menanamkan pikiran bahwa cewek inilah yang ia rasa pantas menyandang status sinting.

Butuh beminggu-minggu untuknya menaruh bukti bahwa cewek inilah benar-benar definisi sinting.

...yang Joonmyeon akui adalah, hanya butuh beberapa jam mengenal jati diri Yixing di balik imej sinting yang ia sematkan.

…dan terakhir,

―hanya butuh tiga menit melihat keindahan yang mahal di balik gemerlap lampu kota dan keramaian trotoar Kota Surabaya.

.

.

Keindahan yang mahal itu berupa runtuhnya benteng Joonmyeon akan pesona Yixing yang amat jarang cewek itu tunjukkan.

Joonmyeon terlalu sibuk menganggap tingkah cewek ini bar-bar. Kenyataannya adalah pesona Yixing mampu menghangatkannya dalam sekejap.

Seolah angin hangat merengkuh tubuhnya ketika semburat tipis merah muda dan senyum yang tersembunyi di balik syal. Lalu kemudian rengkuhan itu menghilang kala Yixing sudah membalikkan tubuhnya dari Joonmyeon.

.

.

"Kak Joonmyeon?"

Joonmyeon tersadar dari lamunannya. Sadar akan hipnotis dari pesona Zhang Yixing. Sekarang cewek itu memandangnya khawatir.

"Y-ya?"

"Kak Joonmyeon tadi ngelamun. Nggak apa-apa kan?"

"I'm…. okay." jawab singkat Joonmyeon.

"Syukurlah." lagi, bolehkah ia lancang menurunkan syal Yixing agar dia bisa melihat senyum itu dengan sempurna tanpa penghalang apapun?

"Saya kira Kak Joonmyeon kesurupan. Lagian disini rame banget, saya bisa malu barengan sama orang yang kesurupan."

.

DafuQ.

Sekali sinting tetep sinting. Dasar perusak suasana. Asal ngejeplak nggak liat sit-kon dulu.

.

"Eh, Kak, tadi kan mau nanya. Asal jangan ketawa lho ya."

"Iya cepetan. Berasa mau ngomongin wasiat aja deh."

Lagi-lagi semburat merah muda itu muncul malu-malu dibawah cahaya kuning lampu kota.

"Menurut Kak Joonmyeon, aku cocok nggak kalo misal jadi pasangannya Kak Yifan?!"

Upps

…selagi Joonmyeon bermetafora dengan pesona Yixing, ternyata dia lupa sit-kon. Jatuhnya skait ya, Mz?

Cowok pendek ini terhenyak, dia sempat berhenti berjalan beberapa frame selebihnya dia pasang topeng mujarab yang membuat Yixing nggak sadar pergerakan kecil Joonmyeon tadi.

"Kalo kamu sama Yifan yah… mmm… apa ya? Kayak idol sama stylish-nya yang ngintil kesana-kemari."

Joonmyoen kira Yixing bakal marah, atau seenggaknya ngambek a-la cewek sok kawaii jaman sekarang. Taunya Yixing malah ketawa kenceng sampai diliatin ornag-orang yang lewat.

"Hahaha! Iya ya. Mungkin aja begitu. Goblok banget ya saya yang sinting ini ekspetasinya tinggi banget bakal disandingkan sama Kak Yifan."

Cowok ini tersenyum tipis. Sudah belasan atau malah puluhan kali ia menganggap Yixing itu cewek yang beda.

She's truly different from others.

Eaa sok inggris. Mentang-mentang pernah juara Olimpiade Bahasa Inggris sampai ikut Summer Camp di Melbourne dan temenan sama bule disana.

Perjalanan yang memakan waktu dua belas menit ini tidak terasa bahkan ketika Yixing sudah duduk di bangku tunggu halte. Dengan santai cewek itu ngeluarin coklat batangan dari tas-nya dan makan buat dirinya sendiri. Basa-basi dikit kek nawarin Joonmyeon, dia juga yang tadi traktir mie cup ramen sama air mineral.

"Kak Joonmyeon pernah nggak ngerasa kayak aku?"

"Apaan? Jangan ambigu jadi cewek, neng."

Yixing mendengus keras. "Maksudnya ada di posisiku. Naksir seseorang diam-diam dan berusaha buat ungkapin itu semua tapi nggak berani."

Perkataan Yixing membuat Joonmyeon melalang buana ke Irene. Cewek Akuntansi yang dia taksir. Semenjak sibuk urusan T.A ini, Joonmyeon jadi jarang mikirin Irene. Yah, sempat papasan sih beberapa hari yang lalu tapi Joonmyeon cuma ngerasa…

…biasa? Padahal dulu dia tahu kalo naksir Irene, perasaan itu menggebu-gebu.

Atau perasaan biasa yang ia sengaja buat makin besar seperti balon yang isinya hanya udara hampa?

Lalu menunggu seseorang mengacau dengan membawa jarum untuk meletuskan balon.

jangan bilang Yixing yang bawa jarum itu.

"Tuh kan ngelamun lagi?! Mau dibeliin Awawua dulu biar fokus?"

Joonmyeon menggeleng pelan. "Nggak segitunya, plis. Jangan jadi korban iklan, jijik tahu." lalu ia berdehem pelan. "buat pertanyaanmu tadi… yah, emang sih pernah ngerasain. Tapi kok kayaknya sekarang terasa hambar. Terlalu biasa untuk gue jadiin dia sesuatu yang epic buat kisah cinta gue."

Yixing tersenyum lebar. "Semua manusia begitu. Awalnya saja yang menggebu-gebu karena menemukan sesuatu yang jarang dalam keseharian mereka. Tapi begitu tahu, semuanya terasa hambar dan kembali sibuk mencari yang lebih epic. Padahal tanpa sadar dalam keseharian mereka itu sudah ada yang epic –yang tanpa ada komponen itu membuat mereka kalang kabut; yang sederhana tapi bermakna banyak."

Joonmyeon sekali lagi tertegun oleh Yixing. Sedang cewek itu tersenyum lebar menatapnya.

Tak peduli jalanan lalu lalang.

Tak peduli trotoar dekat halte saat itu ramai.

Tak peduli lampu temeram membuat Joonmyeon terkesima oleh Yixing.

Tak peduli pengamen jalanan seberang jalan mengalunkan lagu Crazy Little Thing Called Love yang Joonmyeon dengar samar-samar.

.

.

This thing called love I just can't handle it

This thing called love I must get round to it

I ain't ready

(p.s: kalo punya lagunya, monggo diputer. Pas banget nih)

.

.

"Soundtrack-nya kok begini amat sih." komentar Joonmyeon jauh dari topik yang diomongin Yixing. yang pasti, saat ini cowok bermarga Kim ini lagi mengalihkan perhatiannya sendiri ke dalam situasi tak penting.

"Eh? Nggak kok. Pengamennya bagus malah pilih lagu yang nggak menye-menye dan berkualitas." sepertinya Yixing sadar apa yang jadi topik omongan Joonmyeon.

"Sayangnya aku lebih suka The Beatles sih."

"Kok suka band jaman lawas. Old soul, pfftt.."

"Jangan ngejek kalo kamu juga tahu lagu-lagu lawas ini."

Yixing mingkem nggak berani bantah. Sampai akhirnya angkot tumpangan Yixing mendekat ke arah halte.

"Kak, saya duluan ya. Angkotnya udah dateng tuh." Yixing bangkit membenarkan tas dan jaket miliknya. "jangan lupa lho rencana-nya deketin saya sama Kak Yifan. Kalo bisa sih, tolong minta ke Kak Yifan buat dateng ke kontes Dance Competion minggu depan."

Joonmyeon mengangguk singkat. "Gampang mah. Sana, sopir angkotnya nungguin."

"Duluan, Kak!"

Joonmyeon melihat Yixing setengah berlari ke arah angkot dan membawa tubuh Yixing menjauh dari halte.

.

.

Apa yang ia pikirkan tadi tentang Zhang Yixing –si cewek sinting itu?!

Bukankah ia masih punya tugas suci untuk menghancurkan harapan terbesar Yixing?

Lalu kenapa justru dia sempat terkecoh oleh…

...bolehkah ia menyebutnya pesona Yixing?

.

.

Joonmyeon mengacak rambutnya kasar saking bingungnya. Lalu menyetop taksi yang lewat sekitarnya.

"Apartemen Ciputra, Pak."

Sepanjang perjalanan, Joonmyeon mengamati jalanan kota Surabaya dengan tatapan kosong. Seolah sudah disetel, bayangan Yixing yang tersipu memenuhi benak cowok ini.

Lagu para pengamen jalanan tadi masih terngiang di kepalanya, seolah menjadi soundtrack permanen untuk malam ini. Sebuah soundtrack yang menemani Joonmyeon mengarungi kegundahannya dan sosok cewek sinting bernamakan Zhang Yixing.

.

.

There goes my baby

She knows how to Rock n' roll

She drives me crazy

She gives me hot and cold fever

Then she leaves me in a cool cool sweat

.

.


** She Make Me Going Crazy **


Acara liput-meliput selesai tiga hari yang lalu, hanya tinggal meliput pas acara kompetisi-nya aja. Jadi Joonmyeon mempersiapkan diri untuk Sabtu minggu ini.

Dan itu berarti sudah empat hari semenjak insiden malam hari sepulang sekolah.

Jujur saja, empat hari belakangan itu Joonmyeon sempat kepikiran.

Sangat.

Gimana nggak kalo dia masih kepikiran Yixing sedangkan dia punya misi suci buat ngehancurin Yixing. Kedengarannya dia bego dan jahat dalam waktu bersamaan. Cowok Kim ini mengacaka rambutnya kasar dan dihadiahi tatapan aneh oleh ketiga sahabatnya. Tapi mereka bertiga memilih acuh tak acuh tentang sikap Joonmyeon.

Joonmyeon kalo lagi galau itu nyebelin, dan mereka nggak mau nanggung resiko.

Sampai ketika…

"Yixinge!"

O-oww, syiedh, Luhan.

Kenapa lo manggil sumber kegundahan hati Joonmyeon?!

.

.

Kantin Bersama saat itu cukup sepi. Beruntung bagi Yixing, dia nggak perlu antri panjang demi Mi Kari-nya Mak Jah apalah yang nggak mungkin.

"Yixinge!" seruan itu membuat si pemilik nama terhenti sebentar berjalan ke arah stand Mak Jah. Cewek itu menoleh ke sumber suara dan menemukan kumpulan geng yang menatapnya penuh minat.

Owh, geng-nya si doi. Barusan yang manggil itu Kak Luhan kok, bukan Kak Yifan. Hahaha, yang naksir aja nggak ngarepin banyak hal kok kalian yang baca jadi dag-dig-dur-serr.

Siapa sih yang bakal nolak rejeki? Orang bego abis disalto orang picang kali mah. Yixing dengan senang hati dong bergabung ke bangku si geng-nya doi.

"Iya, Kak Luhan?!" aslinya Yixing mau nyapa Kak Yifan duluan, tapi sungkan ih, yang manggil dia kesini kan Kak Luhan.

"Eh, denger dari Joonmyeon hari Sabtu minggu ini bakal ada dance competion ya?!"

Yixing melirik Joonmyeon yang buang muka sedetik setelah cewek ini megokin kakak kelasnya yang satu itu ngelihatin dia. Yixing mengangguk tanpa sadar memberi jawaban pada pertanyaan Luhan.

"Yeayy! Gue bakal nonton, yang lain juga. Ya kan guys?! Sekalian gitu nemenin Joonmyeon yang juga ntar ngeliput." Luhan menyikut pinggul Yifan dan Joonmyeon yang kebetulan duduk disampingnya.

Yifan menatap sebal Luhan karena dia disikut selagi minum es the sedang Joonmyeon yang tadi berakting cuek malah latah saking kagetnya.

Cewek berdarah Changsa itu melirik ke sisi kanan tempatnya duduk, dimana posisinya Chanyeol sekarang. Kebetulan yang pas, saat itu Chanyeol juga ngelihatin dia. Tapi nggak kayak Joonmyeon yang langsung buang muka; Chanyeol justru senyum yang paling menenangkan selayaknya kakak yang memberi semangat ke adiknya.

"Tenang aja. Kami bakal dateng kok seperti apa kata Luhan. Oke?"

Chanyeol melayangkan kepalannya diudara ke arah Yixing. Cewek itu bingung, melirik ke arah Chanyeol meminta penjelasan. Lagi-lagi si Chanyeol cuma terkekeh sampai akhirnya Yixing mudeng.

Yixing ikut melayangkan kepalannya membentur kepalan Chanyeol. Seperti kebiasaan mereka dulu.

Cewek itu tertawa bersamaan tawa Chanyeol menyusul.

"Yakin nih Kak Chanyeol bakal dateng? Kok meragukan ya?"

"Nih cewek ngeremehin. Awas ya." Chanyeol dengan santai mengacak poni depan Yixing dan membuat cewek itu tertawa makin keras.

Yixing melirik sekali lagi ke arah Chanyeol dan si Ketua OSIS membalasnya dengan senyum yang masih tertahan di wajahnya.

'Makasih.' gerak mulut Yixing tanpa suara.

Samar, Chanyeol mengangguk pelan.

Dia sudah lega. Masalahnya dengan Chanyeol berbulan-bulan ini selesai; dengan cara sederhana tanpa harus mereka adu argumen atau saling mendiamkan seperti beberapa bulan belakangan ini.

"Udah tahu tampil nomor berapa?" pertanyaan Luhan seketika memecahkan suasana antara Yixing dan Chanyeol.

"Udah, Kak." Yixing menjawab mantap. "…acaranya di Gedung xxx, dimulai dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Bakal ada break-lunch sekitar jam 12 siang sampai jam 1 siang. Tim saya dapat urutan nomor 37 jadi… mungkin tampil sekitaran jam 2 siang sampai setengah 3 siang." lapor Yixing lengkap.

Dulu posisi Yixing selain sebagai tim cadangan, dia juga berperan jadi manajer kedua buat ngurus persyaratan lomba dan tetek bengek acara. Jadi dia sudah terbiasa memberikan keterangan rinci ketika Luhan mulai bertanya ini-itu.

Luhan mengangguk puas dengan jawaban Yixing.

"Di Gedung xxx toh. Deket dong sama Taman xxx ya kan?" Luhan berusaha melihat teman-temannya seolah meminta persetujuan dan semuanya mengangguk setuju. "Gue punya ide! Sebelumnya gue tanya lagi nih, pengumuman pemenangnya jam berapa?"

"Jam… lima mungkin? Juri juga kan butuh waktu buat rundingan."

"Sip!" Luhan bertepuk tangan menarik atensi masing-masing. "Kan sore-sore gitu abis Ashar seru juga kan piknik di Taman xxx. Jadi sehabis Yixing cs tampil nih, langsung ke Taman ya. Gue bakal bawa bekal banyak yang gue masak sendiri. Jadi pas makan siang usahakan makannya dikit, anggep aja pengganjal perut."

"Heh, emang lo bisa masak?! Terakhir gue makan nasi goreng buatan lo rasanya ancur. Bikin kue tapi adonannya mirip batu. Yakin situ mau masak?" ocehan Yifan membuat Joonmyeon, Chanyeol serta Yixing agak merinding mendengarnya.

"Yang gak ikut bantu mending bacotannya puasa dulu deh." Luhan menoyor Yifan.

"Yeee… siapa bilang?! Barusan gue mau usul gue bawa roti juga kok."

"Nybelin!" Luhan berkali-kali menepuk pundak Yifan dengan kencang. Chanyeol hanya diam memerhatikan kedua sohibnya. Sedang joonmyeon memilih acuh tak acuh.

Tapi mata dibalik frame kacamata itu mengintai Yixing yang hanyut melihat pertengkaran konyol Yifan dan Luhan.

Dan ketika cewek itu harus berpura-pura tertawa akibat kekonyolan Yifan dan Luhan; Joonmyeon tahu nada dibalik tawa itu palsu.

.

.

… yang ada kegetiran yang dicoba terdengar baik-baik saja.

.

Tapi sedetik kemudian pandangan Yixing dan Joonmyeon bertemu. Cowok itu tidak berusaha untuk mengalihkan, justru makin memandang intens ke manik Yixing.

Lalu Yixing tersenyum tipis, 'aku rapopo kok, Mas.'

Joonmyeon menggerakkan bibirnya tanpa suara.

'Ngedabrus awakmu.' (*kamu bohong)

Tanpa disadari, Chanyeol melihat kedua berinteraksi.

.

.

xx

.

.

Baekhyun melempar komik BoysLove-nya ke lantai ketika Yixing bilang ke dia kalau geng-nya si doi bakal nonton penampilan Yixing dkk.

"Hahanjir cialand. Kenapa lo iyain, sohib bego?! Itu artinya lo bakal lihat film fluffy-romance antara Kak Yifan sama Kak Luhan!" Baekhyun turun dari ranjangnya dan menuju ke tempat Yixing yang sekarang ini duduk di kursi samping meja belajarnya. Cewek Byun itu menjambak rambut Yixing sampai cewek kelahiran Changsa itu mengaduh minta dilepaskan.

"Lo yang xialand. Anarkis pula. Heran gue kenapa bisa gender lo cewek."

"Mati aja sana."

"Iya, gue bakal mati kalo beneran Kak Yifan sama Kak Luhan jadian."

Baekhyun berhenti memaki dan menatap sendu sohibnya. Agak merasa bersalah kenapa dia keluarin kata-kata kasar dan berbuat anarkis. Emang dasar persahabatan mereka lain dari persahabatan cewek manapun.

"Lo yakin emang? Bukannya Yixing yang gue kenal nggak bakal nyerah."

Yixing tertawa pelan. "Gue nggak nyerah kok. Nih buktinya gue berusaha. Ya kalo emang gak bisa diperjuangin lagi buat apa gue buang waktu dan korbanin perasaan."

Sekali lagi Baekhyun mengabaikan komik BoysLove-nya, "…emang lo siap?"

Satu pertanyaan mencelos dari mulut cabe-cabean Baekhyun. Pertanyaan yang masih belum siap dijawab Yixing. Walau begitu, Yixing sudah berusaha kan?

"Siap gak siap, kenyataan emang harus diterima lapang dada."

Feeling Baekhyun nggak enak. Jawaban Yixing agaknya meragukan. Wajah sohibnya itu seolah berkata dia baik-baik aja. Yah, nggak mau memperpanjang urusan lagi, Baekhyun memungut komik BoysLove-nya lagi.

"Girls, gimana belajarnya? Yixing, tante bawain camilan buat kalian yang semangat belajar―"

Mamah Byun masuk kamar anak ceweknya tanpa permisi. Melihat Yixing yang ogah-ogahan serta putrinya, Baekhyun, memegang komik BoysLove-nya.

"Byun…"

"Hehehe, mah, jangan salah paham dulu. Kita abis belajar kok, ini rehat dulu kan ya, Xing?"

"Nggak tante. Baekhyun dari tadi baca komik humu melulu."

"Eh anjir xialand." maki Bakehyun dalam bisikan.

"BYUN BAEKHYUN! Berani ya bohongin Mamah?! "

O-ww, nggak heran lagi darimana Baekhyun dapat suara maha-dahsyat dan sifat sassy-nya itu.


** She Make Me Going Crazy **


Sabtu; hari kompetisi tak terasa sudah tiba. Yixing, Jongin dan Sehun tengah bersiap di backstage buat latihan pemanasan. Sedang Joonmyeon harus berdiri dikerumunan penonton dengan kamera siap merekam (tentu aja seijin dari panitia).

Luhan hilang entah kemana. Yifan yang biasanya lebih nyantol ke Luhan juga nampak tidak peduli, Chanyeol juga malah santai sambil ngeksis di AiGi dan Butuy.

Tapi ketenangan yang indah bagi kaum Adam itu diusik oleh makluk kelebihan pita suara semacam Luhan. Cewek itu mendadak muncul dari arah backstage smabil gandeng cewek lain –entah bisa dibilang cantik sekaligus imut.

"Darimana sih lo? Kabur ilang begitu aja, ntar nangis lagi nyariin emak lo. Gue yang kena semprot Emak sama Bapak lo." omel Yifan menghampiri Luhan yang berdiri sambil cengengesan di depan gue.

"Maaf ya, emang kita kenal?!" balas sengit Luhan.

"Dia tadi kesini sehat wal'afiat kan? Lo yang boncengin nggak abis nabrak apa gitu yang bisa otaknya miring?" tanya Chanyeol.

Yifan yang tadi ke tempat kompetisi lebih dulu bareng Luhan hanya mengendikkan bahunya. "Tadi baik-baik aja sih sebelum dia pagi-pagi amat ke rumah bangunin gue buat duluan kesini."

"Guys, guys! Liat deh Yixing, cantik ya? Awas kalo bilang nggak."

Joonmyeon, Chanyeol dan Yifan serentak melongokkan kepalanya kesana-kemari sampai akhirnya Joonmyeon yang lebih dulu nyadar, "Emang si cewek sinting itu mana sih? Nggak keliatan."

"Oh, btw, siapa tuh cewek? Temen lo?" Chanyeol sedari tadi penasaran dengan cewek yang digandeng Luhan. Kelihatannya familiar, tapi Chanyeol lupa-ingat.

Luhan menghela nafas jengkel dan cewek –yang entah siapa– itu cuma cekikikan.

"Oke, guys, gue kenalin lagi ya. Cewek ini namanya Zhang Yixing. Dan Yixing, dari sebelah kiri ada Yifan, Joonmyeon dan Chanyeol."

"HAH?!" serentak cowok-cowok disana teriak saking kagetnya.

Terutama Joonmyeon dan Chanyeol.

Dan Joonmyeon mengingat sosok Yixing yang di sekolah: rok selutut yang didobeli celana olahraga sampai mencapai betis, rambut dibiarkan kuncir kuda asal-asalan.

Joonmyeon mengingat sosok Yixing yang ditemuinya di ruang Klub dan insiden trotoar-halte itu: Yixing yang membiarkan rmabutnya terurai diterbangkan angin malam, wajahnya yang berusaha menyembunyikan rona merah, dan juga senyum malu-malu yang membuat Joonmyeon terpeleset jatuh karena tidak hati-hati oleh pesona Yixing.

Dan sekarang yang dihadapannya adalah orang yang sama: dengan kaus dengan oversize di bagian bahu yang terekspos sedikit dan… apa-apaan itu makeup dan tatanan rambutnya?!

"Manis sekali."

Sontak Joonmyeon menoleh ke arah Yifan yang ada di sebelah kanannya. Apa yang dia katakan barusan?

Cowok Kim ini melihat sahabatnya yang blasteran itu menatap Yixing penuh arti dan tersenyum lebar. Dia ganti menatap Yixing.

Lagi-lagi pipi cewek sinting itu merona. Lebih terlihat karena pipinya disapau blush-on baby pink. Itu terlihat…imut.

Tampar Joonmyeon, siapapun tolong lakukan.

"Yaiya dong, siapa dulu dong MUA-nya."

Chanyeol mengernyit alisnya. "Lha jadi lo yang dandanin Yixing?! Gue kira cewek abnormal kayak lo ga bisa nyentuh alat make up." hasilnya Chanyeol kena timpuk wedges yang Luhan pakai.

"Kak Yifan,"

"Ya?"

"Makasih pujiannya." Yixing mendadak jadi kemayu gitu. Anteng. Penggambaran cah wadon njawi dhisik (*anak cewek Jawa jaman dulu; tipe kalem bak Putri Keraton) lah pokoknya.

Joonmyeon ngerasa antara mau muntah atau justru marah.

Tunggu dulu―

…. marah? Buat apa?

Cowok Kim ini menggelengkan kepalanya pelan. Sialnya, tatapannya malah ketemu kedua manik Yixing.

Dua mata saling menatap… [*]

Yixing senyum sekilas sebelum dia balik badan buat balik backstage.

.

Tapi Joonmyeon merasa, Yixing telah meninggalkan dirinya bersama angan-angan semu.

Sialan. Semua ini karena balas dendam sialan.

.

.

xx

.

.

Yixing tampil memukau saat gilirannya tampil bersama duo kopi-susu luck-nut itu. Joonmyeon tidak berbohong kalau Yixing memang sangat mempesona di matanya kala itu. Untung aja dia dibantu Chanyeol pas nge-rekam. Jadinya dia nggak salah fokus dan mengabaikan tujuannya disini kan?

Iya, tujuannya kan ngerekam Yixing dkk lagi perform.

Bukan untuk bikin hati cewek sinting itu retak-retak pas tahu gimana kalau Yifan selama ini masih menyimpan hatinya buat Luhan.

Ngomong-ngomong soal Luhan, kemana ya cewek sinting itu seusai Yixing dkk perform? Joonmyeon sabodo amat. Dia lebih milih diskusi sama Chanyeol soal pengambilan gambar tadi. Bahkan sampai Yixing, Sehun dan Jongin ganti kostum dan menemui mereka di café dekat area panggung pun tidak terlihat batang hitung pasangan CLBK itu.

"Coba Laine aja deh mereka." usul Jongin dan Joonmyeon sudah mencoba cara itu. Sial. Boro-boro dibales, di-read aja nggak. Dasar Luhan si cewek jejadian.

"Oy, Joon," tiba-tiba Chanyeol manggil dan nunjukin layar hapenya. "…Yifan sama Luhan udah duluan ke taman buat gelar tikar. Kita disuruh beli minum nih. Yifan yang harusnya bawa minuman malah kelupaan bawa."

Pantes daritadi ilang. CLBK toh ternyata. Joonmyeon mengerang kesal. Dia melirik Yixing yang masih anteng dengan kedua temannya itu.

Bagaimana perasaan cewek itu kalau Yifan dan Luhan punya masa lalu berdua? bagaimana hatinya ketika tahu Yifan dan Luhan masih saling memiliki dan tidak ada celah untuknya?

Joonmyeon sudah menduganya dari dulu, bahkan dari awal.

Pasti sakit sekali. Pasti sakit sampai rasanya dia tidak kuat berjalan sendirian.

Cowok itu menggeleng pelan. Dia harus menyusun perubahan strategi. Bagaiman pun caranya Yixing masih belum bisa dihancurkan. Joonmyeon menundanya, atau malah bisa dibatalkan.

"Kalo gitu lo aja Chan yang beli minumannya bareng Yixing sama Jongin yang bantu lo bawain minuman. Sehun sama gue nyusul duluan kesana. It's okay?"

"Okay."

Joonmyeon sadar tatapan Yixing membunuh dilayangkan kepadanya. Hei, dia yang bakal menyelamatkan hatinya Yixing sebelum dipecah.

"Tapi, Kak Joonmyeon," Jongin menyela. "Ada baiknya Kak Joonmyeon sama Yixing duluan aja. Yixing kan cewek, tenaganya kurang pas kalo buat barang bawaan. Mending Sehun ikut kami aja."

Tenaga cewek apanya, Yixing tuh cewek jejadian yang bisa angkat dua karung beras sekalipun.

Gue gibeng juga ini kulit kacang, batin Joonmyeon kesal.

"Betul tuh. Mending Sehun ikut gue sama Jongin. Biar lo sama Yixing nyusul duluan deh. Kalian juga bisa diskusi soal Film Dokumenter-nya. Gue ingetin, lo punya waktu dua minggu doang lho."

Joonmyeon mengerang kesal. Yixing malah adu high-five sama Jongin.

Perasaan Yixing dipertaruhkan pada keputusannya.

.

.

[np: Slow Club – Beginners (inst.)]

"Emang mereka kemana sih? Banyak orang juga ya yang piknik di taman ini." komentar Yixing saat mereka sudah sampai di taman. Cewek itu celingukan mencari keberadaan Luhan dan Yifan.

Joonmyeon masih sibuk dengan ponselnya. Mencoba menghubungi Yifan ataupun Luhan. Dia harus bisa meminimalisir Yifan sama Luhan cuma berduaan aja bisa terjadi hal yang tidak diinginkan.

Bukan yang rated M lho, guys. Otak kalian aja yang mesyum bisa berpikir sampai kesana.

Baru selesai ke-lima kali dia coba nelpon Yifan, ada notif Laine masuk dari cowok blasteran itu.

.

Fan_gantengz: Gue bakal nyoba balikan sama Luhan. Tolong tahan yg lain nyusul gue. Gue bener-bener butuh bantuan lo.

.

Sialan.

Demi kolornya Yifan galaxy warna pink, double kamrprt sialan.

Djantjoek.

Dia harus cepet-cepet bawa Yixing dari sini sebelum tuh cewek liat pengakuan Yifan ke Luhan―

…. triple kampret. Double djantjoek.

Yixing ilang! Kampret emang Joonmyeon gimana bisa lupa ngawasin Yixing.

Joonmyeon mana peduli sama tas kameranya yang ahrusnya miim goyangan biar lensa kameranya nggak rusak.

Padahal beli kamera itu bisa ngabisin uang jajannya setengah tahun.

Joonmyeon muter ke bagian depan taman dimana banyak keluarga kecil nan bahagia tengah piknik. Dia belum melihat sosok Yixing.

Cowok itu berlari kesana-kesini, mirip film India dimana si cowok nyari cewek yang sengaja sembunyi sambil cengengesan atau nari-nari nggak jelas.

.

.

Sampai akhirnya dia menemukan punggung seorang cewek. Deket kolam belaakang dimana bagian taman sepi pengunjung.

Itu jelas Yixing. Joonmyeon hapal pakaian yang dipakai Yixing.

Tanpa pikir panjang, Joonmyeon berlari ke arah Yixing.

Dia harus ke tempat cewek itu. Karena dari kejauhan dia bisa liat Yifan dan Luhan yang jaraknya masih cukup jauh.

.

.

Joonmyeon langsung menutup kedua telinga Yixing membuat cewek itu tersentak kaget.

"Xing," lirihnya.

Yixing berbalik, kepalanya tertunduk tidak berani menghadap Joonmyeon.

Tanpa dijelaskan pun Joonmyeon amat paham apa yang terjadi.

"Lo bebas nangis. Itu manusawi kok," lirihnya. Terlalu tercekat untuk mengatakan kalimat tadi.

.

Ada apa denganmu, Joonmyeon?

Apa kau baru merasa bersalah?

.

Apakah itu bentuk rasa kasihanmu dan rasa bersalahmu?

Atau penyesalanmu yang paling besar karena melukai perasaan cewek ini yang sebenarnya bukan pelaku atas kejadian yang lalu?

atau penyesalanmu karena sudah menghancurkan hati cewek yang membuatmu tergila-gila dalam seperkian hari?

.

.

Yixing tanpa ragu langsung membenamkan kepalanya di bahu Joonmyeon.

Shit, tinggi mereka tidak jauh beda sih walaupun masih tinggian Joonmyeon.

.

.

Dari kejauhan Joonmyeon melihat Yifan dan Luhan juga slaing berpelukan dengan suara tawa yang kedengaran samar, berbaur dengan isakan Yixing yang teredam di pundaknya.

.

.

Kim Joonmyeon….

…―ini keberhasilanmu.

.

.

Bukankah kau sudah menghancurkan hati cewek sinting ini sesuai rencana? Bukankah terlaksana dengan sukses?

.

.

xx

.

.

xx

.

.

|| bersambung ||

[np: Slow Club – Beginners (instr.)]


A/N: ALOHA~~~ kabare piye?

Maafkan aku, aku tahu ini telat banget, huhuhu. Apalah aku anak sekolahan sehabis magang langsung ngebut materi sama laporan.

Gimana, hayoo~~ tinggal satu chapter lagi, wuhuu~~

[*] Dua mata saling menatap: penggalan lirik lagu "What If" dari EXO

(*) untuk dance yg diperagakan Yixing, harap cek yutub dengan keyword 'Ballet contemporer crazy in love'

So, see ya in next chap!