Para tokoh milik Masashi Kishimoto
Cerita ini milik Keyikarus
Peringatan:
Cerita ini hanya fiktif belaka.
.
.
.
.
.
"Kita bisa membahas itu pelan-pelan. Pertama-tama, namaku Tsunade. Siapa namamu?"
Sayangnya fokus Sakura bukanlah niat baik Tsunade, melainkan informasi aneh yang didengarnya. Mata lentik gadis itu menyipit menatap tajam wanita didepannya.
"Kau bilang kau tak tahu kota K? Itu bisa diterima. Tapi bagaimana mungkin kau tak tahu negara J?! Itu negara dengan fasilitas termaju di dunia. Sebenarnya seprimitif apa kau ini?" Cibir Sakura. Sepertinya otak tokoh utama ini masih tersimpan rapi di lemari. Benar-benar pemborosan.
Tsunade mengerutkan keningnya sejenak sebelum kembali tersenyum ramah, "Meski aku tak tahu yang ada di planet lain, tapi aku sangat mengenal isi planet ini. Mungkin saja tempat yang kau sebutkan ada di planet lain?"
Sakura tercengang mendengar nada pengertian Tsunade. Gadis itu mendadak merasa dirinya gila. Dia terkekeh pelan, melangkah mundur hingga jatuh terduduk. Diam beberapa detik, Sakura mulai menggunakan otaknya.
Matanya berputar mengamati sekitar. Meski hanya disinari cahaya bulan yang redup, Sakura bisa memastikan jika dia tak mengenal jenis tumbuhan di sini. Sebelumnya entah bagaimana dia bisa mengabaikan pemandangan mencolok ini. Pohon di sini memiliki daun kemerahan layaknya daun maple di musim gugur. Bahkan ada beberapa yang memiliki warna merah muda juga keemasan. Itu bukan bunga, melainkan daun. Kepala Sakura berdenyut nyeri.
"Kau... mungkin benar..." Lirih Sakura. Tiba-tiba matanya terbelalak saat mengingat sesuatu. Gadis itu bangkit dan mencengkeram kedua lengan Tsunade. "Apa di planet ini hewan bisa bicara?"
Tsunade mengernyitkan dahinya mendengar ucapan konyol gadis berkelakuan konyol didepannya.
"Tentu saja mereka berbicara dengan jenisnya." Sahut Tsunade mempertahankan mimik jenakanya. Seolah dia sedang membuat lelucon.
"Tidak. Maksudku binatang berbicara dengan kita. Kau tahu, aku bahkan hampir menjadi atlet lari karna ada semut berbicara padaku..." Sakura terdiam sejenak memijat pelipisnya.
"Tidak... tidak... semut itu bilang akulah yang aneh karna bisa mengerti bahasa mereka. APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!" Raung Sakura frustasi. Gadis itu mondar-mandir dengan wajah pucat. Dia pikir dia sudah terdampar di suatu tempat asing penuh hal aneh.
Sedangkan dihadapannya, Tsunade memasang ekspresi terkejut. Otaknya berputar mengingat sebuah ramalan kuno yang dia dengar sekitar satu dekade lalu. Perlahan raut Tsunade menyendu. Apakah akhirnya saat ini tiba? Dia pikir ramalan itu hanya omong kosong karna bertahun-tahun tak terjadi. Dan sekarang, dihadapannya berdiri sosok yang seperti ramalan ceritakan. Tentunya jika Sakura tak berbohong tentang berbicara dengan binatang.
"Kau!" Tsunade tersentak saat Sakura tiba-tiba menunjuknya dengan wajah serius. Yang pertama terpikir oleh Tsunade adalah gadis ini sama sekali tak memiliki sopan santun. Tapi entah bagaimana Tsunade merasa bisa mentolerirnya. "Tunjukkan padaku cara agar bisa pergi ke planet lain. Saat aku bisa pulang, maka aku akan memberimu banyak hadiah." Sakura masih belum menyerah dengan gagasan 'ingin pulang' nya. Dia pikir jika bukan di planet ini, mungkin saja rumahnya ada di planet lain. Tapi sejujurnya gagasan itu sedikit gila mengingat banyaknya jumlah planet yang ada. Bersyukurlah Sakura jenis orang dengan kelebihan rasa percaya diri dan optimis yang tinggi. Gadis itu bahkan tak menyadari kesulitan memeriksa setiap planet demi menemukan rumahnya. Terbiasa hidup mudah membuat otaknya menyimpulkan segala hal adalah mudah.
Tsunade tak bisa menyembunyikan raut gelinya. Gadis didepannya terlihat bersusah payah mempertahankan kesombongannya di tempat asing.
"Tentu saja. Tapi sebaiknya kita kembali ke rumahku agar bisa berbicara dengan nyaman. Hutan di malam hari sama sekali tidak ramah." Bujuk Tsunade. Yang Sakura tak tahu, ucapan Tsunade benar-benar secara harfiah.
Setelah berpikir beberapa saat, Sakura akhirnya mengangguk. Saat ini dia tak memiliki pilihan lain.
"Siapa namamu?" Tanya Tsunade disela langkahnya memandu Sakura menuju rumahnya.
Sakura berdecak. Biasanya hanya ada dua macam orang setelah mendengar namanya. Pertama adalah munafik penjilat. Dan yang kedua adalah pelaku kriminal yang mencari keuntungan.
"Haruno Sakura." Karna dia sudah terbiasa dengan berbagai macam orang, Sakura tak masalah mengenal satu lagi orang penjilat.
"Nama yang bagus." Tsunade tersenyum tipis tanpa menyadari tatapan meremehkan dibelakangnya. Sakura benar-benar tuan putri yang masih berpikir dunia bergerak sesuai kehendaknya.
Mereka melalui hutan tanpa bicara. Sakura melakukan pengamatan sepanjang langkahnya. Dunia ini benar-benar aneh, dia tak menemui satu pohon pun yang berdaun hijau. Apa mereka tak butuh klorofil untuk berfotosintesis?
Selain itu dia menemui beberapa hewan kecil aneh yang membuatnya tersentak. Hewan itu seharusnya katak seperti yang dilihatnya di TV, tapi ada tambahan sirip seperti ikan dibelakang kepalanya. Juga matanya yang berwarna seperti perak. Tentu saja Sakura menahan diri untuk tidak teriak, dia justru memelototi hewan itu. Menakut-nakuti dan menekankan jika dia bukanlah orang yang mudah ditakut-takuti.
Setelah sekitar sepuluh menit mereka berjalan, pepohonan mulai berkurang. Sepertinya mereka memasuki daerah pemukiman. Kali ini Sakura melihat sulur tumbuhan rambat membentuk pagar tinggi di sisi kanan kirinya. Jika diperhatikan ada pohon-pohon berbatang lurus sebesar betis Sakura yang menjadi penopang tumbuhan rambat itu hingga bisa membentuk oval disetiap celah antara pohon. Benar-benar cantik. Pemandangan itu hanya berlangsung kurang dari tiga puluh langkah hingga mereka menemui gerbang yang lebih cantik lagi. Besar dan megah yang masih terbentuk oleh tumbuhan rambat. Ini seperti tempat tinggal peri. Sakura terpesona.
"Aku datang." Ucap Tsunade. Entah bagaimana setiap Tsunade berbicara suaranya selalu terdengar ceria. Tipe manusia yang membuat Sakura iri dan pasti akan berakhir dengan Sakura tindas hingga suara ceria itu tak tersisa lagi.
Sakura berjengit saat tiba-tiba udara dingin menerpanya. Gadis itu berkedip menatap Tsunade yang menoleh padanya. "Ayo masuk."
Meski banyak hal janggal, itu tak mengejutkan Sakura lagi setelah semut dan tumbuhan aneh. Sakura adalah putri dengan kepercayaan diri kuat. Tidak ada satu hal pun yang benar-benar berhasil menekan mentalnya. Setidaknya sampai saat ini.
Mengikuti langkah Tsunade, Sakura menemukan area seluas halaman rumahnya. Di atasnya berdiri hanya satu bangunan memanjang dan bertingkat tiga. Bentuknya lebih seperti kost-kostan di kawasan menengah kota K. Yang membedakannya, sementara bangunan kost memiliki dinding tembok, bangunan ini justru berdinding batu alami yang dibentuk dan disusun sedemikian rupa. Sebagai tambahan yang tak lagi memukau Sakura, sulur-sulur berdaun emas dengan bunga merah darah merambati dindingnya dibeberapa bagian yang pas.
"Aku tinggal disini bersama dua cucuku dan beberapa pelayan." Tsunade tersenyum menjelaskan.
Sakura hanya mengangguk acuh. Tinggal bersama pelayan bukanlah hal baru bagi Sakura. Dia bahkan memiliki selusin pelayan di rumahnya.
Tsunade membawanya memasuki pintu paling pojok. Sepertinya itu ruang makan. Seorang pelayan menarik satu kursi mempersilahkan Tsunade duduk. Lalu pelayan lainnya melakukan hal yang sama untuk Sakura.
"Ini waktunya makan malam. Kau benar-benar beruntung nak." Komentar Tsunade.
Sebelum Sakura sempat menanggapi, suara berdentum terdengar dari lantai atas. Langkah-langkah kaki nyaring semakin mendekat.
"Nenek!"
Teriakan dua suara cempreng memekakkan telinga Sakura. Gadis itu memelototi dua pria sebayanya yang berlari heboh ke arah Tsunade.
"Hhhh bisakah sedikit tenang?" Gerutu Tsunade.
Sementara itu Sakura harus menelan lagi umpatan yang nyaris terlontar dari mulutnya. Matanya membelalakkan sementara keringat dingin seperti diperas dari tubuhnya.
Dua pria itu memiliki telinga di atas kepala mereka. Bahkan memiliki ekor! Yang berambut coklat ekornya panjang dengan bulu tipis, mirip ekor anjing kampung. Sedangkan yang berambut pirang memiliki dua ekor sekaligus.
"Sakura, ini cucuku. Naruto dan Kiba... errr Sakura?" Tsunade menatap bingung gadis yang sekarang berdiri menghadap tembok.
"Itu bukan hal aneh Sakura. Kau yang aneh. Matamu yang aneh. Dunia ini tidak asing. Kau yang orang asing..." Gumam Sakura berulang-ulang. Gadis itu sepertinya mendadak jadi stres. Rupanya tidak semudah itu baginya beradaptasi dengan dunia aneh tempatnya terdampar.
"Hei... kau baik-baik saja?" Tanya Naruto yang keheranan melihat tingkah Sakura.
Setelah mengelap keringat dingin di dahinya, Sakura berbalik. Dia berusaha keras agar tidak berlari melihat dua makhluk aneh dihadapannya.
Si pirang selain memiliki dua ekor dan telinga di atas kepala, dia juga memiliki garis seperti kumis kucing di pipinya. Matanya berwarna merah cerah. Sedangkan si cokelat hanya memiliki satu ekor dan sepasang telinga dikepalanya, ah juga matanya berwarna oranye seperti matahari.
"Kalian membuatku nyaris pingsan. Lain kali, lepaskan telinga dan ekor kalian jika bertemu denganku." Ketus Sakura.
Dua pria itu tercengang dan saling tatap lalu menatap Tsunade yang hanya mengangkat bahunya acuh.
"Pffft ha ha ha." Tawa nyaring dua pria itu membuat Sakura memelototi mereka. Tuan putri itu sudah menumbuhkan rasa tidak sukanya pada Naruto dan Kiba.
.
.
.
.
.
.
Keyikarus
22 Desember 2017
.
.
.
Up selanjutnya
25 Desember 2017
23.00 pm
