Para tokoh milik Masashi Kishimoto
Cerita ini milik Keyikarus
Peringatan:
Cerita ini hanya fiktif belaka.
.
.
.
.
.
"Pffft ha ha ha." Tawa nyaring dua pria itu membuat Sakura memelototi mereka. Tuan putri itu sudah menumbuhkan rasa tidak sukanya pada Naruto dan Kiba.
"Ini..." Naruto memegang dua telinga di atas kepalanya. "... tidak bisa dilepas. Ini juga." Kali ini pria bermata merah itu mengayunkan ekornya. Seolah memamerkan benda berbulu dan menggeliat ke sana kemari itu.
Sementara itu disampingnya, Kiba mengangguk menyetujui sembari ikut menggoyangkan ekor dan telinganya. Sekilas mereka terlihat mirip namun ternyata berbeda.
"A...ah... kalian ini apa?" Lesu Sakura. Dia sudah tak memiliki tenaga untuk histeris lagi. Sejujurnya Sakura ingin meraung mengungkapkan ketidakpercayaannya akan segala hal aneh di tempat ini.
Sementara Naruto dan Kiba memasang wajah linglung menatap Sakura, Tsunade menghela nafas. Tsunade mengabaikan permohonan melalui tatapan mata dari dua cucunya. "Duduklah dulu. Kita bisa membicarakan ini sambil makan malam. Apa kalian tidak lapar?"
"Kami lapar!" Teriak Naruto dan Kiba berbarengan. Dua pria itu dengan semangat duduk di kursinya masing-masing. Menanti dilayani.
Sakura berkedip beberapa kali, dia sangat familiar dengan jenis pelayanan ini. Namun dia sama sekali tidak kekanakan seperti dua pria itu!
"Duduklah Sakura." Ucap Tsunade selagi pelayan melakukan tugas mereka.
Sakura mengangkat dagunya angkuh saat menghempaskan bokongnya dikursi. Gadis itu berpikir jika takdirnya adalah dilayani. Dimanapun.
Tatapan angkuh Sakura meneliti makanan dihadapannya. Oke, itu terlihat normal. Potongan daging, sayuran, buah. Selagi terlihat aman untuk dimakan, Sakura tak masalah.
"Seharusnya ini tak mengejutkanmu lagi setelah pengalaman bicara dengan hewan. Kedua cucuku adalah setengah siluman, atau di sini biasa disebut Orae..." sampai sini Sakura ingin meratap. Dia dulu sangat menentang keberadaan makhluk halus, siluman, vampir dan sebangsanya. Dan sekarang dia bahkan makan malam bersama makhluk itu! Sangat lucu!
Meski seperti itu, Sakura tidak memasang wajah lesu. Dia cenderung berusaha terlihat acuh tak acuh.
"Ya! Aku siluman rubah." Suara cempreng Naruto mengudara.
"Aku siluman anjing." Kiba menyambung. Mereka terlihat sangat bangga dengan identitas itu. Sakura sangat ingin memutar bola matanya.
"Ingat ya, kau tak boleh mengatakan pada siapapun jika kami ini Orae." Kali ini mereka berdua mengacungkan sendok ke arah Sakura dengan wajah serius.
"Berhentilah bertingkah seperti itu. Tanpa dikatakan pun orang-orang akan tahu jika kalian Orae." Gerutu Tsunade sebelum Sakura mengatakan sesuatu. Tapi sebenarnya gadis itu tidak tahu harus merespon bagaimana. Sakura memilih menyumpal mulutnya dengan potongan daging hingga sulit mengunyah.
"Kenyataan ini seperti membunuhku!" Gerutu dua pria Orae itu. Mereka seperti kembar. Tapi Sakura yakin Jika mereka tidak kembar. Rubah dan anjing mungkin mirip, tapi tidak mungkin terlahir dari rahim yang sama. Itu logika si tuan putri. Kenyataannya nyaris tidak ada yang tidak mungkin.
"Lalu..." Sakura menelan makanannya. "Apa nenek siluman?" Tanya Sakura. Dia berusaha menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Tsunade tak bisa menahan tawa kecilnya mendengar panggilan Sakura yang berubah. Apa gadis itu menyamakan umurnya dengan kedua cucunya dan ikut memanggilnya nenek? Entahlah. Tsunade semakin merasa jika tingkah laku gadis itu menggemaskan. Tentu saja dia menyukai Sakura sejak menduga jika Sakura adalah gadis dalam ramalan.
"Sayang sekali mengecewakanmu. Aku manusia." Tsunade menyeka mulutnya menyudahi makan malamnya.
"Ya ya tapi nenek adalah penyihir!" Teriak dua pria kekanakan itu semangat. Mereka benar-benar mudah membanggakan sesuatu.
Melihat tatapan linglung Sakura, Tsunade kembali menjelaskan. "Untuk memudahkanmu, di dunia ini ada tiga jenis makhluk hidup. Jenis pertama adalah manusia yang terbagi menjadi dua yaitu penyihir dan manusia biasa. Jenis kedua adalah binatang yang terdiri dari binatang biasa dan siluman. Lalu jenis ketiga adalah iblis, khusus yang ini adalah minoritas namun kemampuan tempur individunya yang tertinggi." Tsunade menghentikan ucapannya demi melihat Sakura yang ekspresi wajahnya berubah-ubah. Entah apa yang ada dikepala gadis itu.
"Nenek, sedari tadi aku ingin menanyakan ini. Memangnya dia ini dari mana sampai nenek harus menjelaskan hal umum seperti itu?" Ucap Kiba penuh keheranan.
Mendengar ini Sakura mulai ragu harus menjelaskan atau tidak. Jika Tsunade saja tak mengetahui daerah asalnya, apalagi cucu-cucunya. Terlebih lagi jika setiap orang bertanya maka setiap kali itu dia harus menjelaskan, itu sangat merepotkan. Dia adalah Haruno Sakura, Putri kesayangan pemilik Haruno grup yang terbiasa dikenali bahkan sebelum dia memperkenalkan diri. Situasi ini membuatnya sedikit jengkel dan lelah.
"Dia berasal dari planet... ah bukan, ku rasa dia berasal dari dunia lain yang bersebrangan dengan dunia kita. Kalian harus menjaganya baik-baik." Tsunade menjelaskan.
Mendengar ucapannya itu, Naruto cemberut. "Kenapa? Bukannya nenek tahu, aku paling kuat hanya mampu menghadapi siluman kecil. Ini sangat tidak menguntungkan!" Rengek Naruto dengan nada putus asa.
"Jangan melawan nenek!" Kiba menyentil dahi Naruto. Ah ya meski selalu kompak dengan saudaranya, ini adalah perbedaan mereka. Kiba adalah seorang penurut mutlak pada neneknya.
Sebaliknya, Naruto justru lebih menuruti Kiba dibanding neneknya. Meskipun dia tak bisa juga dibilang terlalu membangkang pada neneknya.
"Ku pikir sudah saatnya kalian pergi ke Sinau. Dua bulan lagi penerimaan siswa baru."
"Apa?!" Pekik Naruto dan Kiba. Wajah mereka seperti anak yang disuruh menghapal tanggal dipelajaran sejarah.
Sakura yang sama sekali tak tahu arah pembicaraan mereka memilih diam. Dengan gaya elegan dia menyeka mulutnya, menegakkan punggungnya dan meraih gelas. Dia masih bisa berlagak di tempat asing. Cukup menakjubkan.
Namun, belum juga dia menelan air di mulutnya, gerakan ringan Tsunade melambaikan tangannya membuat Sakura menyembur. Bagaimana tidak jika gerakan itu merubah para pelayan menjadi kelinci-kelinci mungil. Sakura megap-megap seolah kehabisan nafas.
"Aku tak akan mendengarkan alasan apapun. Dan selama dua bulan, kalian harus membawa Sakura berkeliling Jorna. Buat dia terbiasa dengan keadaan dunia ini." Tsunade mengibaskan tangannya mengabaikan pekikan dua cucunya dan semburan Sakura.
"Nenek, aku tak mau melakukan hal yang merepotkan!" Protes Naruto.
"Ku bilang jangan membantah nenek!" Lagi, Kiba menyentil dahi Naruto hingga pria pirang itu mengerang jengkel.
"Tapi Kiba, paling tidak kita harus tahu kenapa kita harus melakukan itu! Memangnya Sakura berasal dari mana?" Naruto makin gencar memprotes.
Kiba menatap neneknya yang sudah menaiki tangga. Tapi sebelum pria berambut cokelat itu bicara, Tsunade melambaikan tangannya sebagai isyarat 'lakukan saja'.
Menghela nafas, Kiba menatap Sakura yang nyawanya seolah melayang. Mata jernih gadis itu tidak fokus. Sepertinya kali ini mentalnya ditindas habis-habisan.
Mengabaikan fakta jika Sakura setengah sadar setengah melayang, Kiba menjejali gadis itu dengan informasi pertama. Yaitu tentang Sinau.
Sinau adalah lembaga pendidikan terkenal di benua Nungsa. Letaknya kebetulan di wilayah Jorna. Sistem pendidikannya adalah mengasah bakat dengan pengalaman. Sederhananya satu guru bertanggung jawab pada lima orang murid dan membawa mereka menjelajahi benua Nungsa sembari mengembangkan kemampuan masing-masing melalui pengalaman lapangan. Karna itu juga penerimaan murid baru dibatasi dua tahun sekali. Biasanya murid akan lulus jika berhasil melalui tes yang diadakan ditahun keempat.
Sebagai informasi tambahan, murid umumnya terdiri dari manusia, penyihir dan siluman. Juga setengah siluman sejak beberapa puluh tahun yang lalu.
Iblis tidak mengikuti lembaga sejenis ini karna kemampuannya akan berkembang seiring pertambahan usia. Kekuatan itu didapatkan melalui keturunan, bukan latihan. Kita bisa abaikan penjelasan bagian ini selagi belum ada objeknya.
Kiba juga menjelaskan informasi dari hal-hal yang sudah dilihat Sakura.
Tsunade adalah seorang penyihir. Setidaknya dia adalah satu-satunya penyihir tingkat tinggi yang berada diluar lembaga pembelajaran. Mungkin akan lebih mudah jika kita menyebutnya akademi. Alasannya sederhana, Tsunade tidak menyukai peraturan. Yang tidak wanita itu katakan pada siapapun adalah bahwa dia tidak menyukai kegiatan mengasuh anak-anak. Tapi mungkin itu sedikit berubah semenjak dia memiliki dua cucu.
Naruto dan Kiba memiliki satu ibu. Naruto lahir dua tahun lebih dulu dibanding Kiba. Ayahnya adalah siluman rubah berekor sembilan bernama Minato. Menurut cerita Tsunade, Minato dimusnahakan oleh sekelompok penyihir karna tidak dapat mengendalikan kekuatannya. Ayah Naruto itu mengamuk dan menyebabkan Jorna nyaris kehilangan populasi kehidupan.
Sedangkan Kiba dilahirkan ditengah kekacauan. Ayahnya adalah siluman anjing pendatang yang merusak Jorna. Sebelum para penyihir mampu mengalahkan kelompok siluman itu, ibu Naruto menjadi tahanan kesayangan pimpinan siluman anjing. Tepat saat Kiba dilahirkan, ibu dan ayahnya meninggal karna serbuan aliansi penyihir. Mereka tanpa sengaja membunuh Putri Tsunade. Jika tidak memandang Tsunade yang seorang penyihir besar, kemungkinan Naruto dan Kiba tidak akan dibiarkan hidup oleh aliansi penyihir benua Nungsa.
Mengenai Kiba yang terlihat seumur Naruto, itu karna keinginan mereka. Bagi pepnyihir tingkat tinggi, siluman dan iblis, mengatur seberapa tua penampakan mereka adalah hal mudah. Jadi penampilan mereka sama sekali tidak berpengaruh pada kekuatan ataupun umur mereka.
Setelah penjelasan panjang lebar tentang banyak hal yang menghabiskan waktu dua bulan, Sakura akhirnya memutuskan satu tujuan yaitu menjadi penyihir tingkat tinggi agar bisa menjelajahi banyak planet hingga menemukan rumahnya. Dia masih belum bosan menjadi putri kesayangan Kizashi. Hal itu tentu saja diputuskan karna dia adalah manusia maka kemungkinan yang ada dia hanya bisa menjadi penyihir.
Dan sekarang waktunya mendaftar untuk menjadi murid di akademi Sinau.
.
.
.
.
.
.
.
Keyikarus
25 Desember 2017
.
.
.
Up selanjutnya
28 Desember 2017
