Para tokoh milik Masashi Kishimoto

Cerita ini milik Keyikarus

Peringatan:

Cerita ini hanya fiktif belaka.

.

.

.

.

.

Dan sekarang waktunya mendaftar untuk menjadi murid di akademi Sinau.

Sakura dan dua siluman cucu Tsunade itu berdiri dibarisan yang berbeda. Ini karna Sakura adalah manusia sedangkan dua orang itu siluman. Sebenarnya Orae.

Sakura sedikit memiringkan tubuhnya berusaha melihat ke depan. Mengukur antrian yang ternyata cukup panjang. Ada lebih dari tiga puluh orang didepannya. Gadis itu memanyunkan bibirnya. Melipat tangannya di dada. Saat ini dia ingin mengomel, bagaimana tidak jika ini adalah pertama kalinya dia mengantri! Biasanya dia hanya akan duduk manis di rumah dan sudah terdaftar sebagai siswa. Disini pengaruh ayahnya sama sekali tak berguna!

Setelah nyaris setengah jam mengantri, akhirnya giliran Sakura yang mendaftar. Ini sangat berbeda dengan sistem pendaftaran sekolah di negara J. Di sini tidak butuh syarat yang terlalu rumit. Hanya mengucapkan nama dan kepala keluarga yang merekomendasikan. Tentu saja ini bentuk diskriminasi karna jika yang merekomendasikan bukan orang yang punya nama maka harus menjalani tes bakat. Tapi siapa peduli tentang hal itu, Sakura merasa dirinya cukup beruntung karna direkomendasikan oleh orang yang cukup dikenal.

Setelah pendaftaran yang memastikan status mereka sebagai murid Sinau, mereka dibawa ke sebuah gedung yang luas. Bentuknya sangat mirip dengan kastil yang ada disetiap cerita dongeng.

Sakura berdecih berkali-kali karna kakinya mulai berdenyut. Ini pertama kalinya dia berjalan sangat jauh. Terlebih aula ini penuh sesak yang membuatnya hampir tidak bisa bernafas. Bersyukurlah semua murid ditempatkan di sini sehingga Sakura memiliki orang yang dia kenal.

Saat wajah gadis itu memerah karna tingginya suhu udara dan akan meledak, dua orang yang terlihat seperti guru masuk. Yang seorang adalah wanita dengan rambut Ikal dan seorang lagi adalah pria yang mengenakan masker.

"Selamat bagi kalian yang sudah secara resmi menjadi murid Sinau..." Pembukaan yang diucapkan pria bermasker itu membuat ruangan berisi lebih dari dua ratus siswa menjadi hening.

Setelah mengedarkan pandangannya beberapa saat, pria itu melanjutkan, "...Saya Hatake Kakashi, salah satu pembimbing yang ada di Sinau. Dan di samping Saya Kurenai Yuhi. Dia juga seorang pembimbing." Kakashi menghentikan ucapannya selagi Kurenai membungkuk.

Melihat itu entah kenapa Sakura ingin memutar bola matanya. Dia tidak suka hal bertele-tele seperti ini. Meskipun selalu ditemuinya ditempat tinggalnya dulu. Mengingat bagaimana ayahnya memanjakannya membuat Sakura menghela nafas. Dia sangat merindukan pria yang selalu tersenyum itu.

Sebelum khayalan Sakura melayang jauh, suara Kakashi terdengar lagi. "Tiap pembimbing hanya akan mengawasi lima orang. Tentu saja itu dicampur antara manusia, siluman juga... Orae..." Jeda sebelum kata Orae membuat Sakura mengernyit janggal. Di sebelahnya Kiba dengan baik hati menjelaskan jika Orae sampai sekarang belum diterima dengan baik, entah itu dikalangan manusia ataupun siluman. Bagi Orae yang cukup beruntung memiliki silsilah bagus, tentu akan diperlakukan lebih baik daripada Orae tidak beruntung. Lagi pula jumlah Orae sangat sedikit. Di Jorna mereka hanya tahu empat Orae termasuk mereka.

Selain itu, para penyihir dan siluman memiliki kesepakatan anak-anak siluman bisa belajar di Sinau. Kesepakatan yang baru terjadi sekitar satu dasawarsa ini bertujuan saling mengenal perilaku masing-masing jenis dan berharap bisa hidup berdampingan dengan damai.

Meski begitu, sebenarnya satu percikan api bisa membuat perang antar manusia dan siluman pecah.

Penjelasan Kakashi selanjutnya mengenai penilaian. Sebelum melakukan perjalanan kemampuan mereka akan diperiksa. Lama perjalanan adalah setengah tahun sebelum mereka diharuskan kembali untuk melakukan evaluasi. Jika dalam delapan kali evaluasi hasil mereka sesuai standar maka mereka bisa diluluskan.

Delapan evaluasi itu empat diantaranya evaluasi kegiatan lapangan dan empat evaluasi lainnya adalah evaluasi prestasi.

Evaluasi prestasi ini akan dimulai menjadi asisten pembimbing ditahun ke tiga. Lalu menunjukkan kemampuan menyelesaikan misi di tahun ke empat. Selanjutnya hasilnya akan menentukan lulus atau tidaknya seorang siswa.

Nah dalam prosesnya, bisa saja terjadi kecelakaan yang membuat siswa terluka bahkan tewas. Jadi setiap evaluasi biasanya jumlah murid akan berkurang. Informasi ini membuat Sakura bergidik dan mengerang. Berharap ayahnya akan ada di sini. Melindunginya seperti biasa.

Yang mengagumkan, baik sekolah ditempat tinggalnya dulu dan di sini memiliki tujuan yang sama, yaitu pekerjaan bagus dan penghasilan menjanjikan. Penjelasan jenis pekerjaan bisa seiring berjalannya waktu agar tak memakan durasi.

Selanjutnya pembagian kelompok. Ini bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan cepat. Karna itulah Kakashi dan Kurenai hanya membagikan kepingan batu berwarna putih pada tiap-tiap orang.

Disaat yang lain dengan santai melenggang keluar aula, Sakura justru terpekur menatap benda pipih yang terlihat tak berharga ditangannya.

"Apa ini? Sovenir?"

"Kau bicara apa sih? Ini adalah barang sihir yang sangat umum. Gunanya menyimpan informasi yang dimasukkan oleh orang yang memberinya sihir." Celetuk Naruto. Dia menatap Sakura seolah-olah gadis itu adalah manusia purba. Tentu saja ini membuat tuan putri tersinggung.

"Hentikan tatapanmu itu! Kau pikir benda seperti ini ada gunanya? Sihir apa? Bicaramu seolah-olah ini adalah gadget tercanggih." Cibir Sakura melemparkan batu yang dianggapnya tak berguna itu pada Naruto.

"Kau ini..."

Sebelum Naruto meluapkan kejengkelannya, Kiba meraih batu Sakura dan memberikannya lagi pada gadis itu.

"Ini hanya sihir tingkat rendah, usapkan ibu jarimu dipermukaannya seperti ini dan informasi yang tersimpan akan muncul." Kiba dengan senyum lebar membimbing gerakan tangan Sakura.

Sebelum gadis yang tak menyukai sentuhan itu protes, dia lebih dulu tercengang dengan tulisan yang muncul diatas batu seolah hologram. Sangat menakjubkan.

Di situ tertulis pembimbing dan anggota timnya. Pendamping pembimbing, juga ruangan dan guru yang harus ditemuinya saat evaluasi pertama besok.

Sakura dengan takjub membaca informasi yang tertera. Guru pembimbingnya adalah Kakashi. Oh dia ingat jika ini adalah pria bermasker tadi. Cukup menyenangkan mendapatkan pembimbing orang yang sudah dikenal. Mmm sebenarnya tak dikenal juga tidak masalah karna di situ tertera fotonya juga. Ini bahkan terlihat canggih! Bagaimana mungkin sihir bisa menyerupai teknologi?!

Pendamping pembimbingnya bernama Yamato, dia seorang penyihir.

Lalu dibawah nama Yamato adalah nama-nama orang yang akan menjadi teman seperjalanannya. Yang pertama seorang pria berambut hitam, kulitnya pucat dan memiliki senyum hambar. Dia Shimura Sai, seorang penyihir. Atau kau bisa menyebutnya manusia.

Lalu dibawahnya ada seorang pria lagi, kulitnya putih, tidak sepucat Sai. Matanya hitam pekat dan terlihat sangat tampan. Sayangnya wajahnya tanpa ekspresi dan terlihat tidak ramah. Pria ini memberikan kesan horor pada Sakura. Namanya Uchiha Sasuke, seorang manusia.

Selanjutnya ada... pria lagi. Hei kenapa tidak ada gadis selain dirinya dikelompokkan ini? Ah pria kali ini memiliki lingkaran hitam disekitar matanya. Mata itu juga setengah terbuka, sepertinya sangat mengantuk saat sesi pemotretan. Apa memasukkan gambar dengan sihir juga butuh pemotretan? Sakura tidak tahu. Oh pria ini bernama Sabaku Gaara, siluman rakun. Sakura ingin tertawa sekarang. Temannya seorang rakun!

Lalu... nama selanjutnya membuat Sakura memutar bola matanya malas. Dia Uzumaki Naruto! Orae menyebalkan.

"Oh tidak. Kenapa aku tidak denganmu? Aku harus bertukar dengan seseorang." Keluh Naruto saat mendapati dirinya tidak bersama Kiba.

"Jangan begitu. Ini baguskan? Kau jadi bisa menjaga Sakura." Kiba menepuk bahu Naruto menghibur. Bahkan senyum Orae anjing itu terlihat lebar.

"Ck, aku tak akan melakukan hal merepotkan itu!" Protes Naruto.

"Kau tidak boleh mengabaikan pesan nenek!"

Sakura memilih mengabaikan perdebatan dua Orae itu. Dia mengamati wajah guru yang akan mengevaluasinya besok. Setelah dipikir-pikir, memangnya apa yang bisa Sakura tunjukkan? Dia bukan orang dunia ini, atau planet ini? Entahlah sebutannya apa. Yang jelas Sakura sama sekali tak memiliki keanehan seperti semua orang disini.

"Kiba..." Panggilan Sakura menghentikan perdebatan dua cucu Tsunade itu. "Katakan apa yang harus ku lakukan pada evaluasi besok!" Jelas Sakura sama sekali tak menggunakan kata tanya. Itu membuat dua orang didepannya tak nyaman. Sayangnya si tuan putri tak menyadarinya.

"Kau tahu, aku sama sekali tak menyukaimu!" Naruto bersidekap.

"Kau pikir aku menyukaimu?! Dengar, jika aku bisa kembali pada ayahku, ku jamin kau akan menyesali kekurangajaranmu!"

Kiba dan Naruto tertawa dengan arti berbeda saat mendengar ucapan Sakura. Sementara Naruto meremehkan, Kiba justru merasa tingkah Sakura cukup lucu. Memangnya dimana ada remaja seusia mereka yang masih mengadu pada orang tua?

"Hentikan kalian berdua. Jangan terlalu khawatir Sakura, ini hanya evaluasi melihat bakat. Tidak menuntut sesuatu. Kita bahkan belum mulai belajar, ingat?" Kiba menjelaskan dengan cengiran ceria.

Mendengar itu Sakura mengangguk. Dia lega karna setidaknya kali ini mungkin dia bisa berbaur dengan penduduk lokal.

"Sebenarnya aku tidak mengharapkan sesuatu dari gadis payah sepertimu. Aku yakin jika kau tak memiliki bakat apapun." Ejek Naruto.

"Kalian harus akur dan bertingkah baik. Kalian akan menghabiskan banyak waktu bersama. Ayo." Kiba berjalan mendului dua orang yang masih saling melirik sinis dibelakangnya.

Akademi menyediakan paviliun untuk tempat menginap sebelum melakukan perjalan. Kualitas paviliun akan disesuaikan dengan seberapa uang yang dikeluarkan. Sebenarnya bukan hanya uang, namun boleh juga menggunakan benda berharga lainnya. Yang jelas ini adalah bentuk diskriminasi juga. Sakura tidak tahu kalau akademi di tempat ini lebih parah daripada sekolah ditempatnya dulu. Semua serba diskriminasi tanpa mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat umum. Omong-omong, apa mereka tidak memiliki presiden? Sakura akan menanyakan ini nanti.

Gadis itu harus berterima kasih pada Tsunade karna memberikan paviliun bagus dengan dua kamar untuk mereka. Tentu saja ini membuat Sakura senang karna memiliki kamar pribadi yang bagus lagi selain di rumahnya. Uhm kamarnya di rumah Tsunade hanya seukuran kamar mandi di rumahnya. Tapi setidaknya Tsunade menghiasnya dengan bunga-bunga cantik yang membuat Sakura menahan keluhan. Terutama pelayan yang sangat cakap, itu benar-benar selera Sakura. Dia berusaha melupakan jika mereka adalah kelinci yang terkena sihir.

Setelah melewati malam dengan tidur nyenyak juga berendam dengan air bunga -mereka tidak memiliki sabun atau sejenisnya, jadi menggunakan taburan banyak bunga di bak mandi untuk berendam- Sakura bersiap menghadapi evaluasinya.

.

.

.

.

.

.

Keyikarus

28 Desember 2017

.

.

.

Up selanjutnya

31 Desember 2017

23.00