Disclaimer © Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Setelah melewati malam dengan tidur nyenyak juga berendam dengan air bunga -mereka tidak memiliki sabun atau sejenisnya, jadi menggunakan taburan banyak bunga di bak mandi untuk berendam- Sakura bersiap menghadapi evaluasinya.

Sakura melangkah beriringan dengan Naruto dan Kiba. Mereka menyusuri lorong panjang dengan banyak ruangan di kanan dan kirinya. Karna mereka murid baru, tentu saja tidak memiliki banyak pengetahuan tentang bangunan luas ini.

Langkah mereka melambat saat melihat kerumunan ramai. Sakura dan Naruto akan melakukan evaluasi awal pada guru yang sama, sedangkan Kiba dengan guru yang berbeda. Sepertinya ini cenderung satu tim dan beberapa tim melakukan evaluasi pada satu guru.

"Aku akan melakukan evaluasi disini." Kiba menatap nama ruangan yang tertera di atas pintu. "Ingat, jangan rusuh." Lanjut Kiba memperingatkan.

Naruto dan Sakura secara kompak memutar bola mata mereka. Kiba hanya bisa menghela nafas dan mengibaskan tangannya malas. Tidak butuh tiga bulan untuk mengetahui jika Sakura dan Naruto memiliki kesamaan yang fatal. Mereka kekanakan. Terkadang... atau kau bisa menyebutnya sedikit sering menjadi impulsif. Ini jelas membuat Kiba khawatir. Naruto kekanak-kanakan, tapi bisa dibatasi selama bersamanya. Tapi bersama Sakura, Kiba sangat berharap mereka tidak membuat banyak kekacauan.

"Memangnya kapan aku merusuh?" Gerutu Sakura. Dia sangat tidak terima fitnah seperti ini.

"Selalu. Sejak kau datang, kau sudah jadi perusuh." Ejek Naruto.

Sakura mengepalkan tinjunya dan menyerang Naruto bertubi-tubi. Gadis itu terus mengumpati Naruto yang berteriak-teriak tak terima dianiaya.

Saat Sakura merasa lelah, tiba-tiba dia sadar dimana mereka berada. Banyak pasang mata menatap mereka dengan aneh. Berdehem memperbaiki penampilannya, Sakura melenggang mencari ruangan evaluasinya seolah tak ada hal aneh yang terjadi. Pengendalian diri seorang putri memang mengesankan.

"Aku bisa cacat bahkan sebelum mencapai level tinggi." Keluh Naruto. Dia sangat menyesal karna tidak bisa membantah perintah neneknya yang didukung Kiba agar dia selalu menjaga Sakura. Memangnya Sakura itu siapa sih? Naruto butuh alasan untuk melakukan hal merepotkan dan merugikan itu. Maksudnya selain karna neneknya dan Kiba.

Mereka menemukan ruangan yang mereka cari. Sakura melihat-lihat orang yang berkumpul. Dia memiringkan kepalanya dengan imut, menatap seseorang yang sepertinya dia kenal. Orang itu berdiri diam menyandar pada dinding, lalu ada seseorang yang menghampirinya namun masih diacuhkan.

Sakura ingat jika mereka adalah Sasuke dan Sai, teman se-timnya. Mmm Sakura tak keberatan satu tim dengan orang-orang berwajah bagus.

"Haruno Sakura? Uzumaki Naruto?" Mereka berdua menoleh saat seseorang menyebutkan nama mereka.

Dia seorang pria dengan lingkaran hitam tebal disekeliling mata. Itu Sabaku Gaara. Si rakun! Sakura perlu bersyukur karna semua teman se-timnya memiliki yang bagus.

"Kita satu tim." Ucap Gaara saat dua orang didepannya tidak bicara.

"Benar. Kau Sabaku Gaara. Senang melihat satu yang normal!" Naruto menjabat tangan Gaara dengan semangat. Dia merasa hidup lagi karna tidak harus berdua dengan Sakura.

"Memiliki tim bukan hal istimewa." Tersinggung, Sakura berucap acuh tak acuh. Dagunya terangkat sombong.

Sakura mulai mengkhawatirkan perjalanannya. Sepertinya dia tak akan menyukai orang-orang yang menjadi teman satu timnya. Mereka tak memandangnya dengan penghargaan. Ini penghinaan!

Sakura melihat Sasuke masuk ke dalam ruangan tempat evaluasi awal berlangsung. Bagus, itu berarti kemungkinan sebentar lagi gilirannya. Sejujurnya dia tidak tahu sistem urutnya. Mereka tidak meneriakkan nomor selanjutnya. Masing-masing hanya masuk seperti mereka tahu jika itu gilirannya.

"Hai, aku Shimura Sai. Kita akan menghabiskan banyak waktu bersama. Ku harap kita bisa bekerja sama." Sai datang dengan senyum acuhnya.

Sakura menatapnya beberapa detik sebelum mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang keluar ruangan. Itu terlalu singkat untuk sebuah evaluasi.

"Sekarang giliranmu. Cepatlah masuk!" Naruto dengan kasar mendorong Sakura.

"Apa? Kau...!" Sakura tak sempat menyelesaikan ucapannya karna tubuhnya terhuyung. Dia terjatuh menabrak seseorang. Dan orang itu adalah Sasuke yang dengan kejam menyingkir tanpa mau menangkapnya. Dia membuat Sakura jatuh ke lantai dan malu!

Sakura menahan erangannya. Dia cepat-cepat berdiri ditengah gelak tawa orang-orang yang ada. Dengan wajah merah padam, Sakura mengacungkan jarinya menunjuk Naruto dan Sasuke dengan ganas.

"Kau! Kalian! Ayahku akan membuat kalian mati dengan menyedihkan!" Jerit Sakura pada Naruto yang memegangi perutnya karna terlalu banyak tertawa dan Sasuke yang masih bertahan dengan wajah acuh tak acuhnya.

"Kalian menyedihkan!" Raung Sakura sekali lagi sebelum masuk ke dalam ruangan.

Dia sangat ingin mencekik Naruto dan Sasuke. Harga dirinya jatuh ke tingkat paling rendah karna dua orang itu. Lagi pula darimana Naruto tau jika itu gilirannya?

Menarik nafas, Sakura berusaha menenangkan dirinya dan menghadapi guru pengujinya. Dia seorang pria tua dengan rambut yang memutih secara keseluruhan. Wajahnya terlihat ramah namun entah kenapa Sakura sangat tak menyukai pandangan matanya. Itu seperti dia ingin menelan Sakura.

"Haruno Sakura. Direkomendasikan oleh penyihir tingkat tinggi, Senju Tsunade. Jadi, apa elemen bawaanmu?"

Sakura menatap pria tua itu sejenak. Dahinya berkerut seolah memikirkan jawabannya dengan serius.

"Saya tidak bawa apa-apa." Sahut Sakura akhirnya. Dia tidak tahu pasti apa yang dimaksud oleh orang tua didepannya.

"Ah, kau seorang ksatria?" Orang tua itu mengamati Sakura dari atas ke bawah. Membuat Sakura sangat tidak nyaman. Lagipula sejak kapan Sakura jadi ksatria? Tentu saja tidak pernah. "Melihat perawakannya, kau akan patah dalam satu gerakan. Bagaimana mungkin kau adalah ksatria?"

Sakura tersinggung mendengar ucapan orang tua itu.

"Tentu saja bukan."

Sakura tersentak saat orang tua itu meletakkan tangannya dimeja dengan bunyi keras. Apa yang salah?

"Bagaimana mungkin kau bukan seorang penyihir juga ksatria? Tidak ada jenis manusia ketiga. Oke, seharusnya Tsunade tidak melakukan kesalahan dengan merekomendasikanmu. Kita lihat hasilnya enam bulan lagi." Orang tua itu melambaikan tangannya mengusir Sakura. Tidak memberi kesempatan bagi Sakura yang sudah membuka mulut untuk bicara.

Dengan cemberut Sakura keluar ruangan. Dia tidak repot-repot membungkuk hormat karna dia memang tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Justru seharusnya orang tua itu berterima kasih karna Sakura bicara dengan sedikit lebih sopan.

Setelah urusan evaluasi awal selesai. Yamato datang menghampiri mereka. Dia memperkenalkan diri dengan amat baik. Memperlihatkan kepribadiannya yang lembut dan menyenangkan.

Yamato adalah penyihir berelemen kayu. Sakura baru tahu ini setelah seniornya itu dengan baik hati menjelaskan jika penyihir hanya bisa menguasai satu elemen utama. Sedangkan elemen lain cenderung tidak sekuat elemen utama. Itupun memiliki batas. Penyihir tingkat rendah hanya bisa menguasai satu elemen utama dan satu elemen tambahan. Penyihir tingkat menengah bisa menguasai satu elemen utama dan dua elemen tambahan. Penyihir tingkat tinggi bisa menguasai satu elemen utama dan tiga elemen tambahan.

Yamato juga menjelaskan pada Sakura jika ksatria juga memiliki tingkatan. Level satu sampai dengan level dua belas. Manusia itu hanya terbagi atas dua hal itu. Tak ada jenis ketiga.

Selanjutnya Yamato menjelaskan jika para murid tidak bisa kehilangan Kir, itu batu pipih yang bisa menyimpan informasi secara sihir. Selain penyimpanan langsung, Kir juga menerima transfer data. Tapi biasanya yang bisa melakukan transfer secara luas hanyalah para guru dengan kemampuan tinggi. Untuk meyakinkan dirinya, Sakura mengusap Kir miliknya. Benar saja, sudah ada informasi baru yang dimasukkan. Terlihat menakjubkan tapi sama sekali tidak bagus. Informasi baru itu adalah hasil evaluasi hari ini. Dan hanya Sakura yang dengan bodohnya memiliki catatan kosong. Bukan seorang penyihir maupun ksatria. Ini menjengkelkan, terlebih Naruto jadi punya hal baru sebagai bahan ejekan.

"Baiklah, cukup penjelasannya. Kalian akan pusing jika menerima informasi tanpa contoh nyata. Jadi kenapa kita tidak memulai petualangan? Guru Kakashi sudah menunggu diluar." Yamato tersenyum manis dan membimbing para juniornya ke tempat Kakashi yang menunggu mereka diluar akademi.

Pria bermasker itu membagikan kantung ajaib. Benda itu mudah dibawa namun memiliki ruang yang cukup luas untuk menampung empat buah mobil. Bagi Sakura ini terlalu ajaib! Gadis itu sulit untuk bersikap biasa meski sudah menjumpai banyak hal aneh. Terlebih bentuknya bisa disesuaikan dengan keinginan masing-masing pemilik. Caranya pun tidak sulit, Sakura hanya perlu menyentuh pin-nya dan membayangkan bentuk yang diinginkan. Sangat menakjubkan. Ini bahkan lebih baik dari benda-benda modern yang dulu Sakura punya.

Sakura Bahkan bisa lebih norak daripada anak-anak alay di dunianya yang dulu. Karna itulah dia mengubah bentuk tas ajaibnya setiap hari.

"Kita akan melakukan kegiatan belajar melalui pengalaman. Satu-satunya yang ku khawatirkan adalah, tidak ada jaminan seratus persen bahwa kalian akan selamat. Jadi, bersikap baiklah."

Sakura yang sedang asik bermain-main dengan tas ajaibnya langsung menggigil mendengar ucapan Kakashi. Itu ancaman. Dia merasa gila karna dengan suka rela melakukan hal yang jelas membahayakan nyawa. Sayangnya disini nyawa bukanlah hal yang terlalu agung.

"Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa harus melakukan hal melelahkan dengan berkeliling benua. Aku akan memberi tahu kalian jika tak ada cara terbaik mengembangkan potensi selain menghadapi rintangan secara langsung. Resiko besar cenderung memiliki hasil yang memuaskan."

Disaat yang lain mendengarkan ceramah Kakashi dengan baik, Sakura justru mengamati sekeliling. Saat ini dia menyadari sesuatu.

"Naruto, kenapa kau tidak menghilangkan ekor dan telingamu seperti si rakun? Aku merasa aneh selalu melihatnya." Celetuk Sakura yang membuat mereka menjadi hening sesaat. Tentu saja itu membingungkan Sakura.

"Jangan melihat padaku!" Seru Naruto marah. Sakura tidak tahu kenapa si pirang itu harus marah hanya karna pertanyaannya.

"Tolong panggil aku Gaara." Dengan malas itu dilontarkan oleh siluman rakun.

Dilain sisi, Sai tertawa kecil yang membuahkan pelototan dari Naruto. Hanya Sasuke yang masih acuh tak acuh.

"Sakura, Orae tidak bisa menyembunyikan telinga dan ekornya." Dengan lembut Yamato menjelaskan. Sakura mengangguk meski tidak paham kenapa Orae tidak bisa menyembunyikan ekor dan telinganya sedangkan siluman bisa.

"Cukup basa-basinya. Kita akan mulai perjalanan kita." Kakashi bertepuk tangan mengubah atmosfir.

.

.

.

.

.

Keyikarus

31 Desember 2017

.

.

Up selanjutnya

3 Januari 2018

23.59