Para tokoh milik Masashi Kishimoto

Cerita ini milik Keyikarus

Peringatan:

Cerita ini hanya fiktif belaka.

.

.

.

.

"Cukup basa-basinya. Kita akan mulai perjalanan kita." Kakashi bertepuk tangan mengubah atmosfir.

Mereka berjalan meninggalkan akademi. Meski Sakura menggerutu, dia merasa masih bisa menerima ini. Dua bulan lebih hidup didunia ini dia nyaris terbiasa kemana-mana berjalan kaki. Disini tidak ada kendaraan selain kereta kuda atau kuda itu sendiri.

Meninggalkan akademi mereka melewati sebuah kota yang sudah cukup Sakura kenal. Dua bulan sebelum pendaftaran, Kiba dan Naruto sesekali membawanya ke sini. Tempat tinggal Tsunade bisa dibilang tempat terpencil yang berjarak satu kilo dari kota Jorna ini.

Menurut Orae itu, Jorna adalah kota ketiga terbesar di benua Nungsa. Dan Sakura cukup mengapresiasi kota ini. Dia bahkan tidak sabar melihat kota terbesar nomor satu di Nungsa.

Keluar dari perbatasan kota, mereka melewati padang rumput yang luas. Sebagai orang yang menghabiskan seumur hidup di kota besar seperti kota K, dan nyaris tiga bulan di Jorna, Sakura merasa takjub. Hamparan rumput bercampur ilalang berbeda dengan lautan manusia atau gedung pencakar langit. Pemandangan ini tidak akan menimbulkan kejenuhan. Sakura suka.

Melirik orang-orang yang berjalan didepannya, Sakura diam-diam menyerut bunga-bunga ilalang seiring langkahnya. Orang tersesat yang imut itu dalam suasana hati baik. Setidaknya sebelum mendengar percakapan didepannya.

"Biasanya apa saja yang dilakukan waktu perjalanan seperti ini?" Ini Sai yang bertanya pada Yamato. Sepertinya pria penyihir ini yang paling manusiawi diantara para junior.

"Hal-hal umum. Menghajar penjahat. Terserah itu siluman, Orae atau manusia. Kalau tidak beruntung ya bertemu iblis." Sahut Yamato ringan.

"Bagaimana standar penjahat?" Sakura memutar bola matanya. Gaara ini seperti tidak pernah bertemu penjahat saja.

"Ya seseorang yang melakukan kekerasan dan merugikan orang lain." Ini Naruto yang menyahut. Gaara terdiam sesaat sebelum menyahut.

"Standar itu tak berlaku untuk kami. Sudah hal wajar siluman lemah ditindas oleh siluman yang kuat. Termasuk Orae." Sakura tersedak. Naruto melotot beringas pada Gaara.

"Jadi maksudmu aku lemah?!" Raung Naruto. Orae ini bisa menjadi orang yang paling menyenangkan sekaligus menyebalkan dilain waktu.

"Aku tidak mengatakan hal itu." Gaara mengangkat bahunya acuh.

"Bohong. Kau mengatakan itu dengan jelas." Naruto mendorong Gaara. Ini provokasi. Padahal mereka bahkan belum setengah hari meninggalkan Jorna.

"Cukup. Cukup. Kalian tim. Sebaiknya tidak membesar-besarkan masalah. Naruto, dia tidak mengatakan kau lemah. Dan Gaara, kau belajar ditempat kami, sebaiknya kau mengikuti cara kami." Yamato menengahi.

Gaara dan Naruto diam. Namun jelas ada kilatan ketidakpuasan di mata mereka. Seperti yang sudah dibilang, biar bagaimanapun siluman dan manusia tidak seakur yang terlihat. Sekarang Orae juga termasuk dalam lingkaran bom waktu.

"Kau senior yang bisa diandalkan." Kakashi menepuk-nepuk bahu Yamato. Meski tidak terlihat, namun matanya yang menyipit menandakan pria itu sedang tersenyum. Itu membuat Yamato merasa tidak enak. "Kurang dari sepuluh menit lagi, sekelompok iblis kecil kelaparan akan menghadang. Tolong pimpin para juniornya untuk bertahan hidup."

Tidak menunggu jawaban Yamato, Kakashi langsung menghilang. Sebenarnya guru pembimbing itu hanya bergerak cepat dan mencari tempat aman untuk menyelesaikan novel yang dibacanya.

"Guru! Hmmpf." Panggilan Yamato sia-sia. Yamato sangat menahan diri agar tidak mengumpat. Sejak kecil otaknya sudah dicekoki norma. Mana yang boleh dan tidak boleh selalu dibacanya berulang-ulang hingga muntah. Itu membuat Yamato mengingat segala yang tidak boleh hingga ke dalam darahnya. Dan mengumpat termasuk hal yang tidak boleh dilakukan.

Dia menoleh pada para juniornya, lalu mendesah sebelum bersuara, "bersiaplah, pelajaran pertama akan dimulai."

"Apa maksudnya?" Tanya Sai. Pria ini tak mengecewakan dengan menyuarakan pertanyaan yang ada dikepalanya semua orang.

"Beberapa iblis kecil kelaparan akan datang..."

"Apa? Iblis? Sungguh iblis dengan tanduk dan wajah menyeramkan?" Sakura merasa gugup, semangat tapi juga takut. Tuan putri ini sepertinya menumbuhkan rasa ingin tahu yang cukup tinggi setibanya didunia ini.

"Benar. Hal paling penting adalah bertahan hidup. Jadi seberapapun penasarannya kalian menguji kemampuan, larilah jika para iblis itu mulai mengancam nyawa kalian. Dan untuk yang kemampuannya nol..."

Belum sempat Yamato menjawab, sesosok iblis melompat turun hanya berjarak kurang dari lima meter dari rombongan Sakura. Disusul oleh beberapa iblis kecil lainnya. Meski kata kecil disebut-sebut, kenyataannya tinggi mereka sama dengan Sakura. Hanya dalam ukuran iblis, mereka masih tingkat rendah.

"Waspada!" Teriak Yamato mengingatkan junior-juniornya.

Mendengar itu, Naruto memamerkan jaringan disertai Geraman rendah. Gaara justru terlihat lebih tenang, namun siapapun yang teliti akan melihat kuku-kukunya memanjang. Di sisi satunya, Yamato dan Sai membuat postur santai namun waspada. Mereka penyihir.

Kemana Sasuke dan Sakura?

Gadis konyol itu menggeret Sasuke sedikit menjauh dan bersembunyi direrimbunan semak. Mata bulatnya berkeliaran kesana kemari menghitung jumlah iblis yang baru pertama kali dilihatnya. Mereka berjumlah sembilan. Memiliki sepasang tanduk dan sayap. Wajah mereka ada yang buruk ada yang bagus. Sama seperti manusia, ada yang tampan dan ada yang jelek.

Setelah merasa cukup menatap para iblis dan teman-temannya yang posisinya siap bertempur, Sakura menoleh pada Sasuke.

Pria berwajah seputih porselen itu menatap tangannya yang digenggam Sakura, lalu beralih menatap Sakura.

"Jangan berpikir aku menyukaimu, aku bukan pedofil, oke?!" Pernyataan Sakura ini bukan tanpa alasan. Dari informasi Kir, Sasuke lebih muda dua tahun darinya.

Sasuke menatap Sakura seperti menatap daging busuk. Tapi tuan putri itu sama sekali tak menyadarinya.

"Jangan khawatir, kakak akan melindungimu." Sakura menepuk-nepuk kepala Sasuke seolah dirinya benar-benar seorang kakak yang superior.

"Aku bisa melindungi diriku sendiri." Kalimat pertama yang Sasuke ucapkan selama perjalanan mereka bernada dingin. Sakura bisa merasakan udara disekitarnya menurun.

"Jangan sok kuat. Kemampuanmu sebagai petarung hanya sedikit lebih baik dariku. Lagi pula kau masih kecil. Serahkan iblis itu pada mereka. Kita bersembunyi saja." Sakura berkacak pinggang. Dia yang terbiasa aman dan dilindungi tentu saja lebih memilih bersembunyi. Dan jiwa sok penyelamatnya membuatnya refleks menarik makhluk paling lemah selain dirinya. Oke, oke, Sakura mengaku. Dia hanya ingin punya teman yang sama tidak bergunanya dengan dirinya saat menghadapi iblis.

Sasuke hanya diam memandangi tingkah gadis konyol didepannya. Dia hanya berpikir mungkinkah akan baik-baik saja jika meneruskan perjalanan bersama gadis jenis ini. Memikirkan ini, Sasuke memutuskan mengacuhkan Sakura dan menatap ke pertempuran yang mulai terjadi. Sepertinya anggota termuda ini tidak menyadari kalau secara tidak langsung dia menuruti kemauan Sakura untuk bersembunyi.

Sementara itu Sakura mendengar suara lain, "Manusia menyedihkan. Sama sekali tidak menerapkan asas gotong royong."

Ucapan menusuk itu membuat Sakura menoleh ke sana kemari dengan mata melotot.

"Jangan hiraukan. Manusia memang seperti itu. Cepat kembali, anak-anak butuh makanan ini." Suara lainnya terdengar acuh tak acuh.

Sakura melirik ke arah Sasuke yang tenang. Seharusnya Sasuke juga mendengar ucapan menyebalkan itu. Kecuali...

Sakura mengedarkan pandangannya ke arah bawah, dan menemukan rombongan semut yang berjalan berbaris membawa entah apa. Dia menahan geraman dan niat menginjak-injak semut-semut kurang ajar itu.

Tunggu, Sakura ingat jika sepanjang jalan dia melihat kucing di pasar, burung di pepohonan, juga hewan-hewan lain. Tapi Sakura mendengar suara mereka layaknya mendengar suara binatang. Bukan seperti semut yang berbicara. Sakura melirik Sasuke, dia ingin menanyakan informasi tentang ini. Sayangnya Tsunade sudah berpesan padanya jika sebaiknya tidak ada yang tahu kemampuan Sakura selain mereka.

Disisinya, Sasuke sama sekali tak melewatkan ekspresi Sakura yang berubah-ubah. Tingkah aneh gadis itu yang menoleh ke sana kemari seperti mencari sesuatu lalu menatap sengit deretan semut berjalan juga masuk dalam pengamatan Sasuke. Namun pria berusia empat belas tahun itu tak mengatakan apapun. Justru matanya berkilat seolah memikirkan sesuatu. Hanya sebentar sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada perkelahian di depan sana.

Di area perkelahian, dua orang penyihir, satu Orae dan satu siluman mempertahankan diri dari serangan iblis kelaparan.

Sai menggunakan sihir berelemen anginnya untuk memotong atau menusuk iblis yang menyerangnya. Dia masihlah penyihir tingkat satu yang hanya bisa membentuk udara tajam disekitar tangannya. Tentu saja kemampuan ini bagus, hanya saja cukup melelahkan jika harus mendekati iblis untuk dilukai. Sedangkan para iblis kecil itu memiliki kuku panjang juga mampu mengendalikan energinya sebagai senjata peledak dengan baik.

Di sisi lain Naruto dan Gaara terpaksa bekerja sama menumbangkan satu demi satu iblis dengan cakar dan taring mereka. Sesekali menggunakan energi mereka. Gaara terlihat lebih baik dalam melumpuhkan iblis daripada Naruto.

Sementara itu Yamato tidak bisa tidak mengeluh saat dituntut membunuh iblis dengan cepat. Jika tidak, dia khawatir para juniornya akan kewalahan dan terluka. Terlebih dia tidak melihat Sasuke dan Sakura. Mereka adalah junior dengan kemampuan terlemah di tim ini. Jangan sampai saat Yamato selesai mereka sudah tak bernyawa.

Pemikiran ini membuat Yamato mengerahkan tenaganya. Dia membuat empat peti dari katu tebal. Sekali lagi mengerahkan tenaganya, keempat peti itu terbang memerangkap empat iblis yang tersisa -sebelumnya Sai membunuh Satu, Naruto dan Gaara membunuh dua, dan Yamato membunuh dua- lalu menyusut kuat. Menghancurkan iblis yang berada didalamnya hingga tak tersisa.

.

.

.

.

Keyikarus

3 Januari 2018

.

.

.

Up selanjutnya

6 Januari 2018

23.00