Para tokoh milik Masashi Kishimoto
Cerita ini milik Keyikarus
Peringatan:
Cerita ini hanya fiktif belaka.
.
.
.
.
Pemikiran ini membuat Yamato mengerahkan tenaganya. Dia membuat empat peti dari kayu tebal. Sekali lagi mengerahkan tenaganya, keempat peti itu terbang memerangkap empat iblis yang tersisa -sebelumnya Sai membunuh Satu, Naruto dan Gaara membunuh dua, dan Yamato membunuh dua- lalu menyusut kuat. Menghancurkan iblis yang berada didalamnya hingga tak tersisa.
Yamato dan tiga juniornya menarik nafas lega. Pria tertua itu mengedarkan pandangannya mencari dua juniornya yang lain.
"Sakura! Sasuke!" Panggilannya membuat Sakura merapikan dirinya dan keluar dari persembunyiannya.
Gadis itu mengedarkan pandangannya dengan acuh tak acuh. Menyembunyikan ekspresi malu karna tidak berkontribusi memusnahkan iblis. Lagipula Sakura tak memiliki dendam apapun pada iblis. Dia hanya terkejut. Dan sedikit takut dimakan (Sakura beralasan dalam hati). Ini berita mengerikan, iblis pemakan daging. Dan itu termasuk daging manusia (Sakura beralasan lagi).
Dibelakang Sakura, Sasuke mengikutinya dengan lebih acuh tak acuh.
Melihat ini Yamato menghela nafas lega. Sedangkan Naruto mengerang mencibir dua orang yang hanya bisa bersembunyi.
"Aku senang melihat kalian baik-baik saja." Kakashi muncul secara tiba-tiba. Membuat Yamato menghela nafas. Sedangkan yang lain tak tahu harus berkata apa. Guru ini meninggalkan mereka dengan resiko menjadi daging cincang.
"Kalian bisa istirahat sembari mendengarkan ku. Bagi beberapa orang ini bukan informasi baru, tapi aku tetap akan menjelaskannya. Kalian tahu alasan sebenarnya Sinau menerapkan program belajar melalui pengalaman langsung?" Kakashi menghentikan ucapannya untuk melihat reaksi murid-muridnya. Tiga orang sepertinya malas berpikir karna kelelahan. Namun mereka masih mendengarkan. Satu orang memasang wajah tak tahu apa-apa dan satu orang memasang sikap tak berminat. Ini menyedihkan! Bagaimana bisa dia memiliki lima murid tanpa gairah belajar sedikitpun!
Kakashi berusaha mengabaikan fakta menyakitkan itu dan menjelaskan. "Ini karna murid Sinau bukan hanya manusia, tapi juga Orae dan Siluman. Metode perkembangan kemampuan bertarung penyihir, ksatria, siluman dan Orae berbeda. Persamaannya hanya cara meningkatkan kekuatan spiritual. Karna itu sebelum melanjutkan perjalanan aku akan menjelaskan cara meningkatkan kekuatan spiritual. Yang pertama adalah dengan menyerap inti jiwa. Ini sedikit sulit karna untuk mendapatkannya berarti kita harus membunuh. Terlebih jika inti jiwa itu rusak, maka kekuatannya akan bocor sehingga kita tidak bisa menyerapnya. Cara kedua adalah dengan bermeditasi. Cara ini sedikit lambat namun aman. Dan mempertimbangkam hal itu, maka aku memutuskan kita akan menggunakan dua hari penuh dalam sepekan untuk bermeditasi. Ada pertanyaan?"
Sakura mengangkat tangannya.
"Ya Sakura?" Sahut Kakashi cukup semangat. Setidaknya ada satu orang yang menganggap ini pelajaran penting.
"Bisakah aku membatalkan perjalanan ini?" Pertanyaan Sakura membuat yang lainnya tersentak. Itu sangat aneh. Dan pertama kalinya ada orang sepengecut itu.
Tapi bagi Sakura, ini sangat masuk akal. Dia adalah tuan putri yang selalu hidup dalam kemudahan dan pelayanan. Bagaimana mungkin dia bisa dengan tenang melakukan perjalanan aneh yang sangat berbahaya dan merepotkan!
Sedangkan Kakashi harus mengerutkan keningnya dalam. Bagaimana bisa Tsunade merekomendasikan murid jenis ini? Hanya merusak reputasinya!
Belum sempat Kakashi menjawab, Yamato lebih dulu membuka mulutnya, "Tidak ada yang melakukan seperti itu, Sakura." Ucapnya sabar. Sayangnya dia memberikan kesabarannya pada orang yang salah.
"Kalau begitu aku akan menjadi yang pertama. Coba pikirkan, bagaimana bisa aku melakukan perjalanan yang membahayakan hidupku? Jika aku mati maka aku tidak bisa pulang!" Sakura ngotot.
Melihat situasi yang tidak bagus, Naruto menyeret Sakura menjauh dari yang lain. Dengan geram dia berbisik, "apa yang kau lakukan? Merusak reputasi nenek?"
"Aku hanya lebih menyayangi hidupku daripada reputasi nenekmu!" Balas Sakura. Gadis itu mendesis campuran menahan sakit lengannya yang dicengkeram Naruto dan berbisik.
Mendengar itu, tentu saja Naruto emosi. Sebenarnya gadis macam apa yang dijaga neneknya ini?
"Pokoknya jangan macam-macam. Apapun kesepakatanmu dengan nenek, maka selesaikan itu. Atau aku tidak akan memaafkanmu." Ancam Naruto. Sejujurnya bukan masalah baginya Sakura pergi atau menghilang sekalipun. Tapi dia tak bisa mengabaikan pertanyaan Kiba juga neneknya jika Sakura melakukan itu.
"Kalau begitu, bersumpahlah kau akan menjamin keselamatan ku!" Ucap Sakura memaksa.
Naruto menganga terkejut lalu menggeram jengkel mendengar nada perintah Sakura. Gadis ini semakin menyebalkan. Bagaimana mungkin dia membuat Naruto bersumpah seperti itu untuknya! Di dunia ini sumpah bukan hal yang sepele.
Sebenarnya gadis keras kepala seperti Sakura tak akan begitu saja terpengaruh dengan ancaman Naruto. Hanya saja dia teringat motivasinya sendiri. Jika dia tak menjadi lebih kuat secepatnya, maka dia tidak bisa pergi ke planet lain untuk menemukan rumahnya. Terlebih bagi orang modern sepertinya, sumpah bukan lagi hal sakral dan keramat. Bahkan anak kecil pun dengan mudah mengucapkan sumpah. Yang Sakura tidak tahu, sumpah adalah hal serius di sini.
"Jika kau tak melakukannya. Aku tak akan kemana-mana." Sakura menegaskan saat melihat wajah Naruto mulai merah padam. Ini hanya trik untuk menuntut Naruto jika suatu saat dia dalam bahaya. Sakura tak bisa menahan dirinya untuk menyeringai senang dalam hati. Dia merasa jenius.
Sedangkan Naruto merasa akan mati lebih cepat daripada Kiba. Memikirkan Kiba yang akan membencinya jika membiarkan Sakura berulah, dengan terpaksa Naruto melakukan sumpahnya. Sumpah pertama seumur hidupnya adalah untuk melindungi gadis tak tahu diri! Kurang menyedihkan seperti apa hidupnya.
"Baiklah." Naruto fokus mengumpulkan energinya di ujung telunjuk. "Aku tak bisa melakukan sumpah darah. Tapi bahkan sumpah ringan ini akan memberiku masalah jika aku tak menepatinya. Jadi Sakura, dengan energiku, aku bersumpah akan melindunginya sampai batas kemampuanku."
Sakura merinding melihat Naruto begitu serius. Dalam pikirannya, mengatakan sumpah adalah seringan meludah. Tetapi ini berbeda. Sakura merasa ada tekanan yang mengelilingi dirinya. Sebelum dia bisa membuka mulut untuk bertanya, Naruto sudah meletakkan jari telunjuknya didahi Sakura. Gadis itu mematung merasakan energi mengaliri dirinya. Jujur dia ketakutan.
Disisi lain, orang-orang yang memperhatikan mereka terkejut melihat Naruto melakukan sumpah pada Sakura meski itu sumpah ringan. Setidaknya yang masih memasang wajah acuh tak acuh hanya Sasuke.
"A...apa yang kau lakukan?" Gagap Sakura begitu Naruto selesai.
Naruto hanya mendengus jengkel dan menyeret Sakura kembali ke tim. Dia masih tidak percaya sumpah pertamanya akan begitu tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Meski keheranan, nyatanya tak ada yang membuka mulut untuk bertanya perihal sumpah yang baru saja terjadi. Semua orang pikir, sumpah adalah hal pribadi dengan resiko ditanggung oleh pelaku. Jadi etis jika mereka mengorek-ngorek hal itu.
Setelah menganggap masalah selesai, mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai ke kota kecil.
Yang menyenangkan, para murid tidak lagi memikirkan biaya makan selama perjalanan. Karna semuanya ditanggung akademi. Para orang tua benar-benar harus mengeluarkan uang cukup banyak untuk akademi. Sakura jadi bertanya-tanya tentang pekerjaan Tsunade.
Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di pinggir sungai yang cukup lebar. Kakashi memutuskan jika mereka akan berhenti dan bermeditasi. Tentu saja hanya lima murid baru. Sedangkan Kakashi dan Yamato akan berjaga agar para murid tidak diserang hewan atau apapun.
Kakashi memilih sungai yang lumayan jauh dari keramaian tentu karna tingkat ketenangannya. Dia ingin murid-muridnya benar-benar berkonsentrasi saat bermeditasi. Suara aliran sungai dan hewan kecil di hutan tentu akan membantu mereka mendapatkan ketenangan.
Setelah itu, dia memerintah Yamato sebagai penyihir berelemen kayu agar membuat pondok kecil untuk mereka.
Di awal perjalanannya dulu, saat masih menjadi murid junior, awalnya Yamato merasa senang karna bisa membantu. Sihirnya yang berelemen kayu sangat berguna. Tapi semakin ke sini, Yamato yang penyabar tidak bisa menahan helaan nafas. Bagaimana tidak jika sihirnya disalahgunakan. Ada rumah rusak, Yamato. Ada jembatan rusak, Yamato. Butuh kayu bakar, Yamato. Sungguh itu membuat Yamato ingin menangis!
"Baiklah, kalian bisa memilih tempat bermeditasi yang masih dalam jangkauan ku dan Yamato." Kakashi mengumumkan. Setelahnya dia masuk ke pondok dan berkencan dengan novelnya. Membiarkan Yamato melakukan hal-hal merepotkan sendiri. Seperti mengawasi sekeliling mereka.
Selagi Gaara, Sai, Naruto dan Sasuke pergi mencari tempat, Sakura justru dengan linglung berjalan tak tentu arah. Dia menemukan batu dipinggir sungai yang besar dan lebih tinggi dari tanah disekitarnya. Tentu saja itu menarik bagi orang norak seperti Sakura. Hadis dia menyamankan bokongnya duduk di batu.
Setelah puas memutar kepalanya menatap sekitar. Dahi Sakura mulai berkerut. Apa yang dilakukan saat bermeditasi?
.
.
.
.
.
Keyikarus
Maaf atas keterlambatan.
.
Up selanjutnya
9/10 Januari 2018
